Anda di halaman 1dari 16

MODUL PERKULIAHAN

Manajemen Perpajakan
Pokok Bahasan : Mampu memahami, menjelaskan, menganalisa dan menerapkan perencanaan pajak untuk PPh Badan

Universitas Mercu Buana Meruya


Fakultas
Ekonomi dan Bisnis

Program Studi
Strata Satu Akuntansi

Tatap Muka

Kode MK
84061

Disusun Oleh
Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

11

Abstract
Perencanaan Pajak untuk PPh Badan merupakan salah satu alat manajer dalam rangka meminimalkan beban pajak dengan tidak melanggar undangundang yang meliputi beberapa alternative.

Kompetensi
Mahasiswa mampu menjelaskan dan menganalis perencanaan pajak untuk PPh Badan, penilaian alternatif/dasar pembukuan , pemilihan metode penyusutan dan methode persediaan.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Tax Planning Dalam Rangka Mengeffisiensikan PPh Badan Strategi yang telah diuraikan dalam rangka mengeffisiensikan PPh Badan dengan menerapkan tax planning yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan. Masing-masing perusahaan mempunyai karakter masalah yang berbeda-beda sesuai nature of business perusahaan tersebut, sehingga dalam melakukan perencanaan pajak tidak boleh menggeneralisasi permasalahan, tapi fleksibel mengikuti alurnya dengan focus kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan Wajib Pajak dalam mengeffisiensikan pembayaran PPh Badan anatara lain : 1. Memilih system pembukuan yang tepat 2. Memilih metode penyusutan aktiva tetap dan amortisasi aktiva tidak berwujud. 3. Memilih metode penilaian persediaan 4. Pemilihan pemberian kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura atau cash 5. Memilih metode Penghitungan Penghasilan dan Biaya(stelselvsstelsel kas).

1. Memilih Penghitungan Penghasilan dan Biaya (stelsel akrul vs stelsel kas) Wajib pajak badan dan wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan.Pembukuan diselenggarakan dengan taat asas dan dengan stelsel akrual(accrual basis) atau stelsel kas(cash basis). Menurut stelsel akrual,penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu

terutang. Jadi tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya itu dibayar secara tunai. Termasuk dalam pengertian stelsel akrual adalah pengakuan penghasilan berdasarkan metode prosentase tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai dalam bidang konstruksi dan metode lain yang dipakai dalam bidang usaha tertentu seperti build operate and transfer (BOT) dan real estate. Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang mewah menganut prinsip akrual, artinya terutangnya pajak terjadi pada saat penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak messkipun pembayaran atas penyerahan tersebut belum diterima atau belum sepenuhnya diterima atau pada saat impor Barang Kena Pajak. Menurut stelsel kas, penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan apabila benar-benar telah diterima secara tunai dalam suatu periode tertentu, serta biaya baru dianggap sebagai biaya

apabila benar-benar telah dibayar secara tunai dalam satu periode tertentu.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan jasa, misalnya transportasi , hiburan ,dan restoran ,yang tenggang waktu antara penyerahan jasa dan penerimaan pembayarannya tidak berlangsung lama. Penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan dapat juga dinamakan stelsel campuran. Oleh karena itu ,untuk penghitungan Paja Penghasilan dengan memakai stelsel kas harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seuruh penjualan, baik tunai maupun yang bukan. Dalam menghtung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan. 2. Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat diamortisasi, biayabiaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi. 3. Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas.

Apabila dibandingkan antara stelsel akrual dan stelsel kas, menurut versi perpajakan, dalam hal biaya administrasi dan umum pada basis akrual dibebankan pada saat timbulnya kewajiban, sedangkan pada basis kas biaya tersebut baru dilaporkan pada saat terjadinya pembayaran.Dari segi strategi perpajakan, lebih menguntungkan memilih basis akrual dari pada basis kas.

Analisis Perbandingan Pembukuan dan Pencatatan Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. Pengecualian diberikan pada Wajib pajak orang pribadi; 1. Yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas sesuai dengan ketentuan peraturan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto; dan 2. Wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

Semua wajib pajak badan dan bentuk usaha tetap diwajibkan menyelenggarakan pembukuan, kecuali bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas dengan jumlah peredaran butto tertentu tidak diwajibkan untuk menyelenggarakan pembukuan.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Untuk memberikan kemudahan dalam menghitung besarnya penghasilan neto bagi Wajib orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto tertentu, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan norma perhitungan. Pencatatan itu terdiri atas data yang dikumpulkan seca teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan atau penghasilan bruto yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenal pajak yang besifat final, dengan criteria sebagai berikut : a. Bagi wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan pekerjaan bebas, pencatatan meliputi : Peredaran atau penerimaan bruto dan penerimaan penghasilan lainnya. b. Bagi Wajib pajakorang pribadi yang semata-mata menerima penghasilan dari luar usaha dan pekerjaan bebas, pencatatannya hanya mengenai : Penghasilan bruto, pengurang, dan

penghasilan neto yang merupakan objek Pajak Penghasilan. c. Pencatatan meliputi pula penghasilan yang bukan objek pajak dan atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

2. Pemilihan metode penyusutan aktiva tetap dan amortisasi atas aktiva tidak berwujud Metode penyusutan aktiva tetap diatur dalam PSAK No. 16 . Berbeda dengan akuntansi komersial yang memperbolehkan perusahaan menggunakan metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun,method jumlah unit, method penyusutan aset dipilih berdasarkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset, maka untuk tujuan perpajakan, perusahaan hanya boleh memilih metode garis lurus atau metode saldo menurun. Sesuai Pasal 11 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 yang diubah terakhir dengan Undangundang No. 36 Tahun 2008 mengenai Pajak Penghasilan, di mana metode penyusutan yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan ini, dilakukan dengan : a. Metode garis lurus atau straight-line method: Metode ini menghasilkan pembebanan yang tetap selama masa umur manfaat aset jika nilai residunya tidak berubah; atau b. Metode saldo menurun atau declining balance method Metode ini menghasilkan pembebanan yang menurun selama masa umur manfaat dengan cara menerapkan tariff penyusutan atas nilai sisa buku. Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat asas. Untuk harta berwujud bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus. Harta berwujud selain bangunan dapat disusutkan dengan metode garis lurus atau metode saldo menurun. Dalam hal wajib pajak memilih menggunakan metode saldo menurun, nilai sisa buku pada akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus.
13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Masing-masing metode penyusutan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya dan pilihan penggunaannya tergantung pada kepentingan pemakainya (users). Misalnya untuk kepentingan pemegang saham (dividen), lebih cenderung menggunakan metode penyusutan garis lurus karena akan lebih menguntungkan wajib pajak dari segi labakomersialnya. Dibandingkan dengan dengan metode garis lurus, metode saldo menurun akan menghasilkan beban penyusutan lebih besar pada tahun awal pembelian atau perolehan aktiva tetap dan kemudian makin menurun pada tahun-tahun berikutnya (walaupun pada akhir umur ekonomis aktiva tersebut jumlah akumulasi penyusutan kedua metode tersebut akan sama) sehingga perolehan profit ada tahun pertama akan lebih rendah. Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah future value atas penyusutan fiskalnya, yang akan menghasilkan hasil yang berbeda. 3. Memilih metode penilaian persediaan Sesuai Pasal 10 ayat (6) Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 yang diubah terakhir kali dengan Undang-undang No.36 Tahun 2008 mengenai Pajak Penghasilan, di mana metode penilaian persediaan yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan sebagai berikut : Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga perolehan Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang didapat pertama (FIFO). Penggunaan method penilaian persediaan harus dilakukan secara taat asas dan masing-masing metode penilaian persediaan memiliki kelebihan dankekurangannya dan pilihan penggunaanya tegantung pada kepentingan dari pemakainya. (User). Misalnya, untuk kepentingan pemegang saham (dividen), perusahaan lebih cenderung

menggunakan metode penilaian persediaan FIFO karena akan lebih menguntungkan bagi wajib pajak dari segi laba komersialnya, sedangkan metode rata-rata akan menghasilkan beban harga pokok lebih besar. Dalam analisis berikut ini kita akan melihat perbandingan kedua metode tersebut, harga pokok barang yang dijual atau dipakai bagaimana untung ruginya penggunaan kedua metode tersebut ditinjau dari perspektif perpajakan.

Analisis ke dua metode terlihat sebagai berikut : Rekapitulasi (FIFO)


13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Unit Saldo Awal Pembelian Jumlah barang yang tersedia untuk dijual Penjualan Saldo akhir 500 1.900 2.400 2.000 400

Jumlah (Rp) 400.000,00 3.250.000,00 3.650.000,00 2.850.000,00 800.000,00

Rekapitulasi ( rata-rata) Saldo Awal Pembelian Jumlah barang yang tersedia untuk dijual Penjualan Saldo akhir

Unit 500 1.900 2.400 2.000 400

Jumlah (Rp) 400.000,00 3.250.000,00 3.650.000,00 2.929.184,00 720.816,00

Berdasarkan analisis pada table di atas dapat ditarik kesimpulan : 1. Penggunaan metode FIFO akan menghasilkan harga pokok penjualan yang lebih kecil dibandingkan dengan metode rata-rata. Karena laba kena pajak (profit after tax) nya adalah lebih besar, maka beban PPh badan akan menjadi lebih besar. 2. Penggunaan metode rata-rata akan menghasilkan hargapokok penjualan atau pemakaian yang lebih besar dibandingkan dengan method FIFO, sehingga karena laba kena pajak (profit after tax) nya adalah lebih kecil, maka beban PPh badan akan menjadi lebih kecil. 3. Dalam situasi di mana terdapat kecenderungan harga barang semakin naik(tingkat inflasi tinggi), maka metode rata-rata adalah lebih tepat digunakan.

Pemilihan pemberian kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura atau cash Strategi utama efisiensi PPh badan yang berkaitan dengan biaya kesejahteraan karyawan sangat tergantung dari kondisi perusahaan, begitupun pemberian natura dan kenikmatan untuk kesejahteraan karyawan tidak cocok dalam kondisi sebagai berikut : 1. Pada perusahaan yang sedang menderita kerugian Di sisi perusahaan atau peber kerja, pemberian natura atau kenikmatan sebagai tunjangan hanya akan memperbesar pembayaran PPh Pasal 21, sementara PPh badan tetap nihil, sehingga cara ini tidak efisien dan efektif bagi perusahaan. 2. Pada perusahaan yang dikenakan PPh badan secara final

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Di sisi perusahaan atau pemberi kerja, biaya-biaya pemberian natura tersebut tidak mempengaruhi besarnya PPh badan karena PPh badan final dihitung dari persentase atas penghasilan bruto sebelum dikurangi dengan biaya-biaya.

Pemberian dalam natura kepada karyawan,misalnya pemberian sembako atau sembako sebagai pengganti gaji-uang tunai harus dimasukkan sebagai penambah penghasilan karyawan yang bersangkutan,shingga penambah penghasilan karyawan yang

bersangkutan, sehingga menambah beban PPh Pasal 21 bai perusahaan. Karena itu harus dimaksimalkan pemberian kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatan yang bukan objek PPh Pasal 21 dengan tujuan meminimalkan pembayaran PPh Pasal 21 karyawan. Contoh pemberian penyediaaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai( Pasal 9 ayat 1e UU PPh) dan penyediaan bus antar jemput pegawai (Per-51/PJ/2009).

Terdapat banyak cara untuk mengoptimalkan kesejahteraan karyawan, dengan memanfaatkan peluang efisiensi beban pajak yang berkaitan dengan pengeluaran biaya sebagai berikut : 1. PPh Pasal 21 karyawan Piihan terhadap metode PPh Pasal 21 karyawan dapat berupa : Bila beban PPh Pasal 21 sepenuhnya menjadi tanggungan karyawan, perusahaan dalam hal ini hanya sebagai perantara pemotong PPh Pasal 21. Bila karyawan diberi tunjangan PPh Pasal 21, tunjangan ini tercantum dalam slip pegawai dan SPT PPh Pasal 21 karyawan (form 1720), sehingga tunjangan tersebut dikenai PPh (taxable), dank arena itu boleh dibebankan sebagai biaya(deductible). Dalam laporan laba rugi perusahaan akan terlihat biaya tunjangan PPh Pasal 21. Bila PPh Pasal 21 ditanggung oleh perusahaan, bukan sebagai tunjangan PPh Pasal 21, dan karena itu merupakan kenikmatan (benefit in kind) dan tidak boleh dibebankan

sebagai biaya. Dalam laporan laba rugi perusahaan akan akan terlihat biaya PPh Pasal 21 terpisah dari gaji dan tunjangan karyawan lainnya.

2. Pengobatan/kesehatan karyawan Terdapat beberapa cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam memberikan fasilitas pengobatan untuk kesejahteraan karyawan. a. Reimbursement kwitansi biaya medical dari dokter/klinik/rumah sakit. Cara ini banyak dilakukan oleh perusahaan menengah ke bawah dan tertuang dalam kontrak kerja, di mana karyawannya diperkenankan berobat ke rumah sakit/klinik/dokter
13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

dengan membayar terlebih dahulu, kemudian oleh perusahaan akan diberikan penggantian(reimbursement) sesuai bukti asli atas nama karyawan qq perusahaan yang bersangkutan. Perlakuan perpajakannya: Pengeluaran semacam ini merupakan bagian dari penghasilan karyawan yang bersangkutan karena diterima secara tunai dari perusahaan,boleh dibiayakan(deductible) tetapi harus ditambahkan sebagai

penghasilan karyawan dalam SPT PPh Pasal 21. b. Karyawan diberi tunjangan pengobatan atau kesehatan(medical allowance) setiap bulan, sakit maupun tidak sakit. Perlakuan perpajakannya : Pengeluaran semacam ini merupakan bagian dari penghasilan karyawab yang bersangkutan yang diterima secara teratur, boleh dibiayakan (deductible) tetapi harus ditambahkan sebagai penghasilan karyawan dalam SPT PPh pasal 21. c. Karyawan berobat di rumah sakit/klinik/dokter langganan dan pengambilan obat dari apotik langganan. Cara ini banyak dilakukan oleh perusahaan oleh perusahaan menengah keatas ke atas dan tertuang dalam kontrak kerja,di mana karyawannnya diperkenankan berobat ke rumah sakit/klinik/dokter yang ditunjuk. Perlakuan perpajakannya : Pengeluaran semacam ini merupakan natura atau kenikmatan (benefit inkinds) dan tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan. d. Perusahaan mendirikan rumah sakit/klinik berikut dokter. Cara ini banyak dilakukan oleh perusahaan besar dan tertuang dalam kontrak kerja, di mana karyawannya diperkenankan berobat ke rumah sakit/klinik perusahaan. Perlakuan perpajakannya: Pengeluaran semacam ini merupakan natura atau kenikmatan(benefit in kinds) dan tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan.

Pembayaran premi asuransi untuk pegawai. Bila perusahaan semakin maju, akan semakin besar juga alokasi dana pembiayaan perusahaan yang diberikan untuk peningkatan kesejahteraan karyawannya dalam bentuk asuransi di samping tabungan hari tua.Asuransi yang diberian dapat berupa asuransi yang diberikan dapat berupa asuransi kesehatan,asuransi dwiguna,asuransi jiwa,asuransi kematian,asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi bea siswa.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Sesuai Pasal 6 ayat(1) a UU PPh No. 36 Tahun 2008 pembayaran premi asuransi oleh pemberi kerja untuk kepentingan pegawainya bolehdibebankan sebagai biaya perusahaan(deductible), tetapi bagi pegawai yang bersangkutan premi tersebut merupakan penghasilan (taxable).

Iuran Pensiun dan Iuran JHT/THT yang dibayar oleh perusahaan. Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh PPh Pasal 21 berupa iuran pension yang dibayarkan kepada dana pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan hari tua kepada badan penyelenggara tunjangan haritua atau badan penyelenggara jaminan social tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja (Peraturan Dirjen Pajak No. 31/PJ/2009 dan Pasal 6 UU PPh NO. 36 Tahun 2008). IUran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan boleh dibebankan sebagai biaya, sedangkan iuran yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya tidak atau belum disahkan oleh Menteri Keuangan tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

5. Perumahan untuk karyawan Ada beberapa alternative fasilitas perumahan yang diberikan oleh perusahaan kesejahteraan karyawannya. a. Penempatan pada rumah dinas yang dibuat atau dibeli oleh perusahaan. b. Penempatan rumah dinas yang disewa oleh perusahaan. c. Perusahaan memberikan penggantian sewa rumah dinas yang dibayar oleh karyawan, penggantian ini dimasukkan kedalam tunjangan perumahan bagi pegawai. d. Perusahaan memberikan tunjangan perumahan kepada karyawan. untuk

Perlakuan Perpajakan Dasar acuannya adalah Pasal 4(3) huruf d jo Pasal 9 ayat(1) huruf d UU Nomor 7 Than 1983 yang telah diubah dengan terakhir kalinya dengan UU No. 36 tahun 2008 tenatang Pajak Penghasilan sebagai berikut : Pembayaran untuk pekerjaan atau jasa dalam bentuk natura kepada karyawan tidak dapat dipotongkan sebagai biaya perusahaan dalam menghitung penghasilan kena pajak dari perusahaan yang bersangkutan, sedangkan bagi karyawan yang menerima pemberian tersebut tidak merupakan penghasilan.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Sebaliknya bilamana diberikan dalam bentuk uang, maka apaa yang diterima oleh karyawan yang bersangkutan merupakan penghasilan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan merupakan biaya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas dan mengacu ke Surat Dirjen Pajak No.S1215/PJ.23/1984 yang ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. 42/PJ.23/1984, maka : Alternatif 1 dan 2 termasuk dalam criteria pemberian natura atau kenikmatan sehingga biayabiaya terkait seperti biaya eksploitasi atau pemeliharaan ,biaya sewa,tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Agar tidak dapat dikatagorikan sebagai natura atau kenikmatan, kepada karyawan yang

menempati rumah dinas diberikan tunjangan perumahan yang dimasukkan ke dalam daftar upah/gaji karyawan.Besarnya tunjangan ini tidak boleh lebih kecil dari biaya eksploitasi dan penyusutan rumah tersebut.Dengan demikian hanya penyusutannya dapat dibebankan sebagai biaya. Pengeluaran pada alternative 3 dan 4 ini, boleh dibiayakan(deductible),tetapi tunjangan eksploitasi rumah dan biaya

perumahan harus dicatat dan dilaporkan sebagai unsure penghasilan bagi karyawan dan dicantumkan dalam daftar upah atau gaji karyawan. Biaya sewa rumah yang dibayarkan kepada karyawan merupakan penghasilan

karyawan,sedang bagi perusahaan merupakan biaya yang dapat diperhitungkan di dalam perhitungan Penghasilan Kena Pajak.

6. Transportasi untuk karyawan Dasar pengaturannya adalah Surat Dirjen Pajak No. S-1215/PJ.23/1984 yang ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. 42/PJ.23/1984, dengan menyatakan bahwa masalah transportasi secara keseluruhan telah diatur dalam surat Direktur Pajak kepada Menteri Tenaga kerja R.I. tanggal 7 Juni 1984 nomor S-336/PJ.23/1984, yang intinya adalah sebagai berikut : a. Biaya eksploitasi kendaraan antar jemput karyawan merupakan biaya perusahaan dan bukan merupakan penghasilan. b. Seluruh biaya eksploitasi dan depresiasi untuk kendaraan perusahaan yang dikuasai atau dipegang oleh karyawan tertentu atau dibawa pulang setelah jam keja merupakan penghasilan karena merupakan kenikmatan. c. Tunjangan transport yang diberikan kepada karyawan untuk keperluan pergi dan pulang kantor merupakan penghasilan bagi karyawan dan biaya bagi perusahaan.

13

10

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

d. Biaya dalam rangka menjalankan tugas perusahaan, misalnya berupa biaya transport, hotel, dan sebagainya merupakan biaya perusahaan dan bukan penghasilan karyawan, sepanjang jumlahnya tidak mengandung unsure-unsur pengeluaran untuk keperluan pribadi.

Transportasi karyawan dari rumah ke tempat kerja dapat diberikan 1. Antar jemput dengan mobil perusahaan Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaran bus,minibus, atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput para pegawai, dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan bus,minibus, atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk antar jemput para pegawai, dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan dalam tahun pajak yang bersangkutan. Diberikan kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan peusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya (KEP Dirjen Pajak No. KEP220/PJ./2002 tentang Perlakuan PPh atas biaya pemakaian telephon seluler dan kendaraan perusahaan serta Sura Drjen Pajak No.S-1215/PJ.23/1984 dan Peraturan

Dirjen Pajak No. PER-51/PJ./2009 dan UU PPh No. 36/2008, penjelasan pasal 9 ayat 1 huruf e); Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar dapat dibebankan sbagai biya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui penyusutan aktiva tetap kelompok II. Atas biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin kendaraan yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya pemeliharaan atau perbaikan rutin dalam tahun pajak yang bersangkutan.

3. Karyawan yang diberi tunjangan transport, tunjangan transport ini boleh dibebankan sebagai biaya ,tetapi tunjangan tersebut merupakan penghasilan karyawan yang dikenakan PPh Pasal 21 dan biaya bagi perusahaan.

13

11

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Pakaian seragam untuk karyawan Cara lainnya untuk mengoptimalkan kesejahteraan karyawan adalah melalui pemberian dalam bentuk natura dan kenikmatan,seperti pakaian seragam untuk karyawan tertentu, yang bisa dibiayakan. Kriteria yang disyaratkan oleh fiskus mengenai pemberian natura atau kenikmatan (termasuk pakaian seragam) ini adalah sebagai berikut : 1. Pemberian natura atau kenikmatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan bagi pegawai yang menerimanya adalah : a. Pemberian atau penyediaaan makanan dan atau minuman bagi seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut. c. Pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena dafat pekerjaan tersebut mengharuskannya, meliputi pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja,pakaian seragam petugas keamanan(satpam).Pengertian keharusan dalam pelaksanaan

pekerjaan berkaitan dengan keamanan atau keselamatan pekerja yang diwajibkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau pemerintah daerah setempat( Peraturan Dirjen Pajak No. PER-51/PJ./2009). Perjalanan Dinas Karyawan Biaya dalam rangka menjalankan tugas perusahaan, misalnya biaya tiket pesawat, hotel, transportasi, dan sebagainya merupakan biaya perusahaan dan bukan penghasilan karyawan, sepanjang jumlahnya tidak mengandung unsur-unsur untuk keperluan pribadi (Surat Dirjen Pajak No.S-1215/PJ-23/1984 yang ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. 42/PJ.23/1984).

Namun dalam praktik, ada pemberian uang saku(travelling Allowance) yang di dalamnya terdapat komponen biaya perjalanan dinas, dank arena pemberian ini dibiayakan secara tunai sebagai uang saku, maka pemberian tersebut dikatagorikan sebagai penghasilan bagi karyawan yang bersangkutan. Bila perusahaan menginginkan agar travelling allowance tersebut dapat dibiayakan(deductible) dalam laporan keuangan fiskal perusahaan, maka travelling allowance tersebut harus dimasukkan

13

12

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

dalam SPT PPh Pasal 21(form 1721-A1 atas nama karyawan yang bersangkutan sebagai unsur tambahan penghasilan yang dekenakan PPh Pasal 21. Misalkan PT.XXX membayar biaya perjalanan dinas Tuan Badu dalam tahun 2011 sebesar Rp 14 juta, yang terdiri dari : Tiket pesawat Hotel Transportasi (Taxi) Travelling allowance Total 40.000.000 50.000.000 20.000.000 30.000.000 140.000.000

Untuk biaya tiket pesawat,hotel,dan transportasi(taksi) bisa dibiayakan berdasarkan kwitansi resmi yang diterima, namun untuk travelling allowance masih harus iertanyakan bagaimana tax planning yang terbaik bagi perusahaan.

9. Bonus dan Jasa produksi Ada beberapa trik yang harus diperhatikan dalam pemberian bonus dan gratifikasi, tantieme dan jasa produksi kepada komisaris, direksi, atau pegawai sebagai berikut : 1. Dalam pemberian bonus dan gratifikasi , tantiem dan jasa produksi tersebut, bisa diperlakukan sebagai biaya perusahaan (deductible), bilaman dibebankan dalam biaya tahun

berjalan.Namun bila dibebankan ke pos laba ditahan(retained earning), tidak bisa merupakan biaya perusahaan. 2. Tantieme merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada direksi dan komisaris dari pemegang saham yang didasarkan pada prosentase tertentu dari laba perusahaan setelah kena pajak, tidak dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak dan bagi penerimanya merupakan penghasilan dan dikenakan PPh Pasal 21. 3. Untuk keperluan perencanaan pajak, harus dihindari pembayaran gaji, bonus.gratifikasi jasa produksi yang melebihi kewajaran kepada pemegang saham yang juga menjadi

komisaris,direksi,atau pegawai karena pembayaran tersebut merupakan dividend an tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan, sehingga dipotong PPh Pasal 25/26. 10. Pemberian natura di daerah tertentu dan atau terpencil Pemberian natura atau kenikmatan di daerah tertentu/terpencil, diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 83/PMK.03/2009 dan Peraturan Dirjen Pajak No. 51?PJ./2009. 1. Pengertian daerah terentu atau terpencil
13

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

a. Daerah yang secara ekonomis mempunyai potensi yang layak dikembangkan tetapi keadaan prasarana ekonomi pada umumnya kurang memadai dan sulit dijangkau oleh transportasi umum, baik melalui darat,laut maupun udara,sehungga untuk mengubah potensi ekonomi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi yang nyata,penanaman modal menanggung resiko yang cukup tinggi dan masa pengembalian yang relative panjang. b. Termasuk daerah perairan laut dengan kedalaman lebih dari 50 m yang di dasar lautnya memiliki cadangan mineral. 2. Pemberian natura atau kenikmatan yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah : a. Pemberian atau penyediaan makanan dan atau minuman bagi seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, meliputi : Pemberian makanan dan atau minuman yang disediakan oleh pemberi kerja di tempat kerja. Pemberian kupon makanan dan atau minuman bagi pegawai yang karena sifat pekerjaannya tidak dapat memanfaatkan pemberian, meliputi pegawai bagian pemasaran,bagian transportasi, dan dinas luar lainnya. b. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah tertentu dalam rangka menunjang kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut.

Penggantian atau imbalan adalah sarana dan fasilitas di lokasi kerja untuk : Tempat tinggal,termasuk perumahan pegawai dan keluarganya. Pelayanan kesehatan. Pendidikan bagi pegawai dan keluarganya Peribadatan Pengangkutan bagi pegawai dan keluarganya. Olahraga bagi pegawai dan keluarganya ini tidak termasuk golf,power boating,pacuan kuda,dan terbang laying, sepanjang sarana dan fasilitas tersebut tidak tersedia, sehingga pemberi kerja harus menyediakan sendiri. c. Pemberian natura atau kenikmatan yang merupakan keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya, meliputi: pakaian dan peralatan untuk keselamatan kerja,pakaian

seragam petugas keamanan(satpam), sarana antar jemput pegawai, serta penginapan untuk awak kapal, dan yang sejenisnya.

13

14

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

3. Pengeluaran perusahaan dalam bentuk natura di atas bukan merupakan penghasilan karyawan. 4. Penetapan daerah tertentu diberikan untuk jangka waktu 5 tahun, yang berlaku sejak tahun pajak diterbitkannya keputusan dan dapat diperpanjang 1 kali. Jangka waktu perpanjangan adalah 5 tahun. 5. Permohonan keputusan tentang penerapan dearah tertentu/terpencil diajukan kepada Kantor Wilayah DJP yang membawahi KPP tempat Wajib Pajak yang bersangkutan terdaftar

13

15

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Daftar Pustaka : 1. Chairil Anwar Pohan, 2013, Manajemen Perpajakan,Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2. Erly Suandi, 2011, Perencanaan Pajak, Penerbit Salemba Empat (ES) 3. Muhammad Zain, 2007, Penerbit Salemba Empat (MZ). 4. Primandita F, dkk, 2009, Kompilasi UU pajak, Penerbit Salemba Empat (PF)

13

16

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id