Anda di halaman 1dari 38

OBAT ANTIJAMUR 1.

PENDAHULUAN Insiden dan keparahan infeksi jamur pada manusia telah meningkat secara dramatis beberapa tahun terakhir ini, yang terutama disebabkan oleh kemajuan-kemajuan dalam pembedahan, pengobatan kanker, dan pengelolaan keadaan kritis yang disertai dengan peningkatan penggunaan antimikroba berspektrum luas, serta epidemic HIV. Perubahanperubahan ini telah meningkatkan jumlah pasien yang terancam resiko infeksi jamur. Candida albicans telah menjadi organism aling umum keempat yang telah diisolasi dari kultur darah di Amerika Serikat. rganism-organisme baru dan tidak la!im saaat ini ditemukan seiring bertambahnya penalaman kita dengan perjalanan pasien imunocompromised ini. "ebih jauh lagi, sebagian besar jamur sepenuhnya kebal terhadap obat antibakteri kon#ensional. Infeksi jamur pada kulit, rambut dan kuku adalah masalah infeksi yang umum ditemui sehari-hari. Infeksi jamur sering disebut mikosis, dapat dibagi menjadi mikosis superfisialis, mikosis subkutan dan mikosis sistemik. $ikosis superfisialis biasanya menyerang kulit, rambut, dan kuku. $ikosis subkutan menyerang otot dan jaringan ikat diba%ah kulit, sedangkan mikosis sistemik melibatkan organ tubuh baik secara primer maupun oportunistik. Penelitian mengenai obat antijamur saat ini telah mengalami perkembangan pesat. &lasifikasi obat antijamur berdasarkan cara penggunaannya dibagi atas obat antijamur topikal dan sistemik. Penggunaan obat antijamur topikal diindikasikan pada infeksi jamur dengan area yang terbatas dan pasien yang memiliki kontraindikasi penggunaan antijamur sistemik. Antijamur sistemik diberikan pada mikosis superfisialis, mikosis subkutan dan sistemik. Sedangkan bila berdasarkan tempat kerja, obat antijamur saat ini dibagi menjadi empat golongan utama yaitu polien, a!ol, alilamin dan ekinokandin. 'erdapat juga obat antijamur yang tidak termasuk kelompok di atas seperti flusitosin, griseoful#in dan sebagian obat antijamur topikal lainnya. (eberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam memberikan terapi infeksi jamur adalah luas dan derajat keparahan infeksi, lokasi yang terserang jamur, kondisi komorbiditas, potensi kemungkinan interaksi obat, biaya dan akses untuk mendapatkan obat antijamur serta kemudahan pemakaian obat.

2. ANTI JAMUR UNTUK INFEKSI SISTEMIK 2.1 AMFOTERISIN B

Asal dan kimia. Amfoterisin A dan ( merupakan hasil fermentasi Streptomyces nodosus. Sembilan puluh delapan persen campuran ini terdiri dari amfoterisin ( yang mempunyai akti#itas antijamur. &ristal seperti jarum atau prisma ber%arna kuning jingga, tidak berbau dan tidak berasa ini merupakan antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak tahan suhu diatas )*+, tetapi dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu -+,. Akti itas anti !am"# Amfoterisin ( menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang. Akti#itas anti jamur nyata pada pH .,/-*,01 berkurang pada pH yang lebih rendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dan sensiti#itas jamur yang dipengaruhi. 2engan kadar /,)-3,/ 4g5m" antibiotik ini dapat menchambat akti#itas Histoplasma capsulaium, Cryptococcus neoformans, Coccidioides immitis, dan beberapa spesies Candida, Tondopsis glabrata, Rhodotorula, Blastomyces dermatitidis, Paracoccidioides braziliensis, beberapa spesies Aspergillus, Sporotrichum schenckii, icrosporum audiouini dan spesies Trichophyton! Secara in "itro bila rifampisin atau minosiklin diberikan bersama amfoterisin ( terjadi sinergisme terhadap beberapa jamur tertentu. M$kanism$ K$#!a. Amfoterisin ( berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehingga terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. (akteri, #irus dan riketsia tidak dipengaruhi oleh antibiotik ini karena jasad renik ini tidak mempunyai gugus sterol pada membran selnya. Pengikatan kolesterol pada sel he%an dan manusia oleh antibiotic ini diduga merupakan salah satu penyebab efek
2

toksiknya. 6esistensi terhadap amfoterisin ( ini mungkin disebabkan terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel. Fa#mak%kin$tik. Amfoterisin ( diserap kurang baik disaluran gastrointestinal. leh karenanya, amfotirisin ( efektif hanya terhadap jamur didalam usus disaluran ini dan tidak dapat digunakan untuk penanganan penyakit sistemik. Injeksi intra#ena amfoterisin ( sebesar /,. mg5kg5hari menghasilkan kadar dalam darah rata-rata sebesar /,)-3 4g5m" dan lebih dari 7/8 terikat oleh protein-protein serum. Sementara sebagian besar obat dimetabolisme, sebagian amfoterisin ( diekskresikan dengan lambat melalui urin dalam beberapa hari. 9aktu paruh serum berkisar 30 hari. &erusakan hati, ginjal dan dialysis hanya mempunyai sedikit dampak terhadap konsentrasi obat, karena itu tidak diperlukan penyesuaian dosis. bat ini disebarkan secara luas kedalam jaringan-jaringan, namun hanya :-)8 kadar darah yang mencapai cairan serebrospinal, sehingga terkadang dibutuhkan terapi intratekal untuk jenis-jenis tertentu meningitis jamur. E&$k Sam'in(. Infuse ampoterisisn ( seringkali menimbulkan kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan fungsi ginjal. 0/8 pasien yang mendapat dosis a%al secara IV akan mengalami demam dan menggigil. &eadaan ini hampir selalu terjadi pada penyuntikan ampfoterisin (, tapi akan berkurang pada pemberian berikutnya. 6eaksi ini akan dapat ditekan dengan memberikan hidrokortison :0-0/ mg dan dengan antipiretik serta antihistamin sebelumnya. ;lebitis dapat dikurangi dengan menambahkan heparin 3/// unit kedalam infuse. (elum ada data yang jelas tentang efek amfoterisin ( terhadap efek hepatotoksisk. Penurunan fungsi ginjal dapat terjadi pada lebih dari </8 pasien yang diobati dengan amfoterisin (. keadaan ini akan kembali normal bila terapi dihentikan tetapi pada kebanyakan pasien yang mendapat dosis penuh mengalami penurunan infiltrasi glomerulus menetap. 2erajat kerusakan yang terjadi tergantung pada jumlah amfoterisin ( yang diterima, bukan dari kadar kreatinin darah. $eskipun demikian, peningkatan kadar kreatininsampai ),0 mg5m" merupakan tanda perlunya pengurangan dosis amfoterisin (. untuk mencegah timbulnya uremia. Asidosis tubuler ringan, dan hipokalemia sering dijumpai dan keadaan ini dapat diatasi
3

dengan pemberian kalium. =fek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila pemberian amfoterisin ( diberikan bersama flusitosin. Anemia normositik normokromik hampir selalu ditemukanpada pemakaian jangka panjang. Indikasi. amfoterisin ( sebagai antibiotika berspektrum lebar yang bersifat fungisidal dapat digunakan sebagai obat pilihan untuk hampir semua infeksi jamur yang mengancam kehidupan. (iasanya diberikan sebagai terapi a%al untuk untuk infeksi jamur yang serius dan selanjutnya diganti dengan salah satu a!ole baru untuk pengobatan lama ataupencegahan kekambuhan. seperti bat ini digunakan untuk pengobatan infeksi jamur parakoksidioidomikosis, aspergilosis, koksidioidomikosis,

kromoblastomikosis dan kandidiosis. $ungkin juga efektif terhadap maduromikosis >misetoma? dan mukomikosis >fikomikosis?. Amfoterisin ( merupakan obat terpilih untuk blastomikosis selain hidroksistilbamidin yang cukup efektif untuk sebagian besar pasiendengan lesi kulit yang tidak progresif. 'oksisitas hidroksistilbalamin diduga lebih rendah daripada amfoterisin (. histoplasmosis, kriptokokosis, sistemik juga responsi#e terhadap obat ini, demikian pula leismaniasis mukokutan, yang disebabkan oleh #eishmania braziliensis! 'etesan topical amfoterisin (efektif untuk korneal dan keratitis mikotik. @ntuk endoftalmitis, obat jamur ini harus disuntikkan harus disuntikan secara intraorbital. Pasien yang diobati dengan amfoterisin ( harus dira%at dirumah sakit, karena diperlukan penga%asan yang ketat selama pemberian obat. @rinalisis, gambaran darah dan kimia darah seperti kalium, ureum, magnesium serta kreatinin plasma perludilakukan terutama menjelang tercapainya dosis optimal. (ila perlu pemeriksaan laboratorium ini diulang :-) kali seminggu, dan bila terjadi insufisiensi ginjal sebaiknya pengobatan ini dihentikan sampai fungsi ginjal kembali normal. D%sis &ebanyakan pasien dengan infeksi mikosis dalam diberikan dosis 3-: gr amfoterisin ( deoksikolat selama .-3/ minggu. rang de%asa dengan fungsi ginjal yang normal diberikan dosis /,.-3,/ mg5kg ((. Sebelum pemberian obat, terlebih dahulu dites dengan dosis 3 mg amfoterisin ( di dalam 0/ ml cairan deAtrose dan diberikan selama 3-: jam >anak-anak dengan berat badan kurang dari )/ kg diberikan dosis /,0
4

mg? kemudian diobser#asi dan dimonitor suhu, denyut jantung dan tekanan darah setiap )/ menit oleh karena pada beberapa pasien dapat timbul reaksi hipotensi berat atau reaksi anafilaksis. 2osis obat dapat ditingkatkan B 3mg5kg((, tetapi tidak melebihi 0/ mg. Setelah : minggu pengobatan, konsentrasi di dalam darah akan stabil dan kadar obat di jaringan makin bertambah dan memungkinkan obat diberikan pada inter#al -< atau *: jam. Pemberian liposomal amfoterisin ( biasanya dimulai dengan dosis 3,/ mg5kg (( dapat ditingkatkan menjadi ),/-0,/ mg.kg(( atau lebih. ;ormula ini harus diberikan intra#ena dalam %aktu : jam, jika ditoleransi baik maka %aktu pemberian dapat dipersingkat menjadi 3 jam. bat ini berikan pada indi#idu selama ) bulan dengan dosis kumulatif 30 g tanpa efek samping toksik yang signifikan. 2osis yang dianjurkan adalah ) mg5kb((5hari. 2osis yang direkomendasikan untuk pemberian amfoterisin ( lipid kompleks yaitu 0 mg5kg(( dan diberikan intra#ena dengan rata-rata :,0 mg5kb((5jam. efek samping toksik yang signifikan. 2osis a%al amfoterisin ( dispersi koloid yaitu 3,/ mg5kg(( diberikan intra#ena dengan rata-rata 3 mg5kg((5jam menjadi ),/--,/ mg5kg((. Int$#aksi O)at. Amfoterisin ( dapat menambah efek nefrotoksik obat lain seperti antibiotik aminoglikosida, siklosporin, antineoplastik tertentu sehingga kombinasi obat tersebut harus hati-hati. &ombinasi obat amfoterisin ( dengan kortikosteroid dan digitalis glikosid dapat menimbulkan hipokalemi. dan jika dibutuhkan dosis dapat ditingkatkan bat ini pernah diberikan pada indi#idu dengan dosis bat ini pernah diberikan pada indi#idu selama 33 bulan dengan dosis kumulatif 0/ g tanpa

kumulatif ) g tanpa efek samping toksik yang signifikan.

2.2 FLUSITOSIN

Asal dan Kimia. ;lusitosin >0-fluorositosinC 0;,? merupakan antijamur sintetik yang berasal dari fluorinasi pirimidin, dan mempunyai persamaan struktur dengan fluorourasil dan floksuridin. bat ini berbentuk kristal putih tidak berbau, sedikit larut dalam air tapi mudah larut dalam alkohol. Akti itas Anti!am"#. Spektrum antijamur flusitosin agak sempit. bat ini efektif untuk pengobatan kriptokokosis, kandidiasis, kromomikosis, torulopsis dan aspergilosis. Cryptococcus dan Candida dapat menjadi resisten selama pengobatan dengan flusitosin. =mpat puluh sampai 0/8 Candida sudah resisten sejak semula pada kadar 3// 4g5m" flusitosin. Infeksi saluran kemih bagian ba%ah oleh Candida yang sensitif dapat diobati dengan flusitosin saja karena kadar obat ini dalam urin sangat tinggi. $n "itro pemberian flusitosin bersama amfoterisin ( akan menghasilkan efek supraaditif terhadap C! neoformans, C! tropicalis dan C! albicans yang sensitif. M$kanism$ K$#!a. ;lusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan 6DA setelah mengalami deaminasi menjadi 0fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan Iangsung sintesis 2DA oleh metabolit fluorourasil. &eadaan ini tidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubah menjadi fluorourasil. Fa#mak%kin$tik. Pemberian flusitosin secara oral absorpsinya cepat dan hampir sempurna. &onsentrasi plasma puncak pada orang de%asa dengan fungsi ginjal normal sekitar */-</ 4g5ml, tercapai dalam %aktu 3-: jam setelah pemberian dosis )*,0 mg5kg. Sekitar </8 pemberian dosis dieksresikan di urin tanpa mengalami perubahanC konsentrasi di urin ://-0// 4g5ml. 9aktu paruh )-. jam pada orang normal. Pada pasien gagal ginjal, %aktu paruh lebih lama selama :// jam. &onsentrasi flusitosin di ,S; sekitar .087/8 secara simultan sama dengan di dalam plasma. ;lusitosin juga ditemukan dalam humour a%ueus.
6

D%sis. Pada orang de%asa dengan fungsi ginjal yang normal, pemberian flusitosin dia%ali dengan dosis 3// mg5kg (( perhari, dibagi dalam - dosis dengan inter#al . jam namun jika terdapat gangguan ginjal pemberian flusitosin dia%ali dengan dosis :0 mg5kg((. E&$k Sam'in(. =fek samping yang sering dijumpai yaitu mual,muntah dan diare. 'rombositopenia dan leukopenia dapat terjadi jika konsentrasi obat di dalam darah meninggi, menetap >B3// mg5"? dan dapat juga dijumpai jika obat dihentikan. Peninggian kadar transaminase dapat juga dijumpai pada beberapa pasien tetapi dapat kembali normal setelah obat dihentikan. Int$#aksi O)at. &erja flusitosin dapat dihambat secara kompetitif oleh sitarabin >sitosin arabinosid? sehingga pemberian flusitosin bersama sitarabin merupakan kontraindikasi, karena efek myelosupresif dan hepatotoksik flusitosin dapat bertambah jika diberikan bersama dengan imunosupresif atau sitotoksik. Pemberian !idofudin bersama flusitosin harus hati-hati oleh karena dapat menimbulkan efek myelosupresif. &ombinasi amfoterisin ( dan flusitosin mempunyai efek sinergis terhadap Candida sp dan Cryptococcus neoformans namun efek nefrotoksik Amfoterisin ( dapat berkurang ketika flusitosin dieksresi. Indikasi. untuk infeksi sistemik flusitosin kurang toksik daripada amfoterisin ( dan obat ini dapat diberikan per oral, tapi cepat menjadi resisten. Candida$ dan infeksi kromoblastomikosis. @ntuk lehsebab itu pemakaian infeksi lain biasanya tunggal fluositosin hanya untuk infeksi Criptococcus neoformans, beberapa spesies dikombinasikan dengan amfoterisin ( misalnya untuk meningitis oleh Criptococcus 3//-30/ mg5kg((5hari flusitosin dikombinasikan dengan /,) mg5kg((5hari amfoterisin (. kombinasi ini merupakan obat terpilih untuk infeksi dengan kromoblastomikosisC dapat juga dikombinasikan dengan itrakona!ol. 2.* IMIDA+OL DAN TRIA+OL

2iperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 37--, antijamur a!ol berperanan penting dalam penatalaksanaan infeksi jamur. &elompok a!ol dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan jumlah nitrogen pada cincin a!ol. &elompok imida!ol >ketokona!ol, mikona!ol, dan klotrima!ol? terdiri dari dua nitrogen dan kelompok tria!ol >itrakona!ol, flukona!ol, #arikona!ol, dan posakona!ol? mengandung tiga nitrogen. &edua kelompok ini memiliki spektrum dan mekanisme aksi yang sama. 'ria!ol dimetabolisme lebih lambat dan efek samping yang sedikit dibandingkan imida!ol, karena keuntungan itulah para peneliti berusaha mengembangkan golongan tria!ol daripada imida!ol. M$kanism$ k$#!a %)at (%l%n(an a,%l

$ekanisme biosintesis ergosterol dan mekanisme kerja berberapa obat antijamur terhadap biosintesis ergosterol

Pada umumnya golongan a!ol bekerja menghambat biosintesis ergosterol yang merupakan sterol utama untuk mempertahankan integritas membran sel jamur. (ekerja dengan cara menginhibisi en!im sitokrom P &'(, C)*&)+)demethylase yang bertanggung ja%ab merubah lanosterol menjadi ergosterol, hal ini mengakibatkan dinding sel jamur menjadi permeabel dan terjadi penghancuran jamur. 2.*.1 K$t%k%na,%l
8

&etokona!ol diperkenalkan tahun 37*/ merupakan antijamur golongan imida!ol pertama yang diberikan secara oral. &etokona!ol tidak lagi digunakan sebagai lini pertama untuk pengobatan infeksi dermatofitosis atau kandidiasis.

Struktur kimia ketokona!ol

Akti itas s'$-t#"m. &etokona!ol mempunyai spektrum yang luas dan efektif terhadap Blastomyces dermatitidis, Candida species, Coccidiodes immitis, Histoplasma capsulatum, alasezzia furfur, Paracoccidiodes brasiliensis . &etokona!ol juga efektif terhadap dermatofit tetapi tidak efektif terhadap Aspergillus spesies dan ,ygomycetes. Fa#mak%kin$tik. Absorpsi peroral tiap indi#idu ber#ariasi.Setelah pemberian peroral dosis ://,-//, dan <// mg, konsentrasi puncak plasma sekitar -, <, :/ 4g5ml. 9aktu paruh tergantung dari peningkatan dosis sekitar *-< jam pada dosis <// mg. &onsentrasi !at aktif dalam urin sangat rendah. 2i dalam darah, <-8 ketokona!ol terikat dalam plasma proteinC 308 terikat pada eritrositC dan 38 dalam bentuk bebas. &etokona!ol mencapai keratinosit secara efisien, dan konsentrasi pada cairan di #agina sama dengan di plasma. &onsentrasi dalam cairan serebrospinal >,S;? pada pasien meningitis jamur kurang dari 38 dari total konsentrasi obat di plasma. Pemberian bersama dengan obat yang menginduksi en!im mikrosomal hepatik seperti rifampisin, dan isonia!id, dapat menurunkan 0/8 absorpsi
9

ketokona!ol. &onsentrasi ketokona!ol dapat meningkat dalam plasma apabila diberikan bersama dengan siklosporin, mida!olam, tria!olam, indina#ir, dan fen itoin karena obat tersebut dimetabolisme oleh en!im sitokrom p -0/ ,EP)A-.< $akanan dapat menurunkan konsentrasi ketokona!ol dalam serum, maka preparat ini lebih baik diberikan dalam kondisi perut kosong. D%sis. 2osis ketokona!ol yang diberikan pada de%asa -// mg5hari sedangkan dosis untuk anak-anak ),)-.,. mg5kg(( dosis tunggal. "ama pengobatan untuk tinea korporis dan tinea kruris selama :-- minggu, 0 hari untuk kandida #ul#o#aginitis, : minggu untuk kandida esofagitis, tinea #ersikolor selama 03/ hari, .-3: bulan untuk mikosis dalam. E&$k Sam'in( Anoreksia, mual dan muntah merupakan efek samping yang sering dijumpai terjadi pada :/8 pasien yang mendapat dosis -// mg5hari. Pemberian pada saat menjelang tidur atau dalam dosis terbagi dapat mengatasi keadaan ini. Alergi dapat terjadi pada -8 pasien, dan gatal tanpa rash terjadi sekitar :8 pada pasien yang diterapi ketokona!ol. &etokona!ol dapat menginhibisi biosintesis steroid, seperti halnya pada jamur. Peninggian transaminase sementara dapat terjadi pada 0-3/8 pasien. @ntuk pengobatan jangka %aktu yang lama, dianjurkan dilakukan pemeriksaan fungsi hati. Hepatitis drug induced dapat terjadi pada beberapa hari pemberian terapi atau dapat terjadi berbulan-bulan setelah pemberian terapi ketokona!ol. &etokona!ol dosis tinggi >B<// mg5hari? dapat menghambat human adrenal synthetase dan testicular steroid yang dapat menimbulkan alopesia, ginekomastia dan impoten. Int$#aksi O)at

10

&onsentrasi

serum

ketokona!ol

dapat

menurun

pada

pasien

yang

mengkonsumsi obat yang menurunkan sekresi asam lambung antasida, antikolinergik dan H: antagonis sehingga sebaiknya obat ini diberikan setelah : jam pemberian ketokona!ol. &etokona!ol dapat memperpanjang %aktu paruh terfenadin, astemi!ol dan cisaprid sehingga tidak diberikan bersamaan dan juga dapat menimbulkan efek samping kardio#askuler seperti pemanjangan F-' inter#al dan torsade de pointes. &etokona!ol juga dapat memperpanjang %aktu paruh dari mida!olam dan tria!olam dan dapat meningkatkan kadar siklosporin dan konsentrasi serum dari %arfarin. Pemberian ketokona!ol dan rifampisin secara bersamaaam dapat menurunkan efektifitas kedua obat. 2.*.2 It#ak%na,%l Itrakona!ol diperkenalkan pada tahun 377: merupakan sintesis deri#at tria!ol. 2igunakan sebagai lini pertama untuk infeksi yang disebabkan Candida dan spesies nondermatofita lainnya.

Struktur Itrakona!ol

Akti itas s'$-t#"m Itrakona!ol mempunyai aktifitas spektrum yang luas terhadap Aspergillosis sp!, Blastomyces dermatidis, Candida sp!, Cossidiodes immitis, Cryptococcus neoformans, Histoplasma capsulatum, brasiliensis, Scedosporium alassezia furfur, Paracoccidiodes dan Sporothrischenckii! apiospermum

Itrakona!ol juga efektif terhadap dematiaceous mould dan dermatofita tetapi tidak efektif terhadap ,ygomycetes! Fa#mak%kin$tik
11

&onsentrasi itrakona!ol di dalam serum dipengaruhi oleh makanan dan asam lambung. Absorpsi itrakona!ol tidak begitu sempurna pada saluran gastrointestinal >008? tetapi absorpsi tersebut dapat ditingkatkan jika itrakona!ol dikonsumsi bersama makanan. Pemberian oral dengan dosis tunggal 3// mg, konsentrasi puncak plasma akan mencapai /,3-/,: mg5" dalam %aktu :-- jam. Itrakona!ol didistribusikan ke kulit melalui difusi pasif dari plasma menuju keratinosit dimana obat melekat di keratin. Itrakona!ol dapat ditemukan dalam keringat sampai :- jam setelah pemberian dosis a%al. =ksresi terbanyak itrakona!ol melalui sebum. Sejumlah kecil itrakona!ol didistribusikan kembali dari kulit dan ke plasma, selanjutnya itrakona!ol dieliminasi melalui stratum korneum. &urang dari /,/)8 dari dosis itrakona!ol akan dieksresi di urin tanpa mengalami perubahan tetapi lebih dari 3<8 akan dibuang melalui feces tanpa mengalami perubahan. Itrakona!ol dimetabolisme di hati oleh sistem en!im hepatik sitokrom P--0/. &ebanyakan metabolit yang tidak aktif akan dieksresi oleh empedu dan urin. $etabolit utamanya yaitu hidroksitrakona!ol yang merupakan suatu bioaktif. Itrakona!ol masih ditemukan pada stratum korneum selama )-- minggu setelah penghentian terapi. Pada model in #i#o, efek terapi itrakona!ol pada stratum korneum masih ada untuk :-) minggu setelah terapi dihentikan. D%sis Itrakona!ol dosis kontinyu sama efektif dengan dosis pulse. Pada onikomikosis kuku tangan, pulse terapi diberikan selama : bulan, sedangkan onikomikosis kuku kaki selama ) bulan. Itrakona!ol merupakan obat kategori ,, sehingga tidak direkomendasikan untuk %anita hamil dan menyusui, karena dieksresikan di air susu. Itrakona!ol tersedia juga dalam bentuk kapsul 3// mg. (entuk kapsul diberikan dalam kondisi lambung penuh untuk absorpsi maksimal, karena cyclode-trin yang terdapat dalam bentuk ini sering menimbulkan keluhan gastrointestinal.
12

6ejimen dosis itrakona!ol nikomikosis 2e%asa &uku tangan 1 :// mg :Asehari 3 minggu5bulan , : dosis pulse &uku kaki 1 :// mg5hariA3: minggu Atau :// mg :Asehari A 3minggu5bulan, ) dosis pulse :0/ mg5hari A :-< minggu Anak-anak &uku tangan 1 0 mg5kg5hari A 3 minggu5bulan, : dosis pulsea &uku kaki 1 0 mg5kg5hari A 3 minggu5bulan, ) dosis pulse

'inea kapitis

'inea korporis, tinea kruris, tinea pedis Pitiriasis #ersikolor

:// mg :AsehariA3 minggu :// mg5hari A 0-* hari, untuk pencegahan rekuren dengan :// mg :Asehari dosis tunggal5bulan

Infeksi Trichophyton 1 0 mg5kg5hari A :-- minggu Infeksi $ikrosporum 1 0 mg5kg5hari A --< minggu 2osis berdasarkan berat A 3-minggu 'idak ada penelitian

2osis pediatrik berdasarkan berat badan 1 3// mg5hari >30-)/ mg?, 3// mg5hari dapat diganti dengan :// mg5hari >)/--/ kg?, ://mg5hari >B 0/ kg?

E&$k sam'in( =fek samping yang sering dijumpai adalah masalah gastrointestinal seperti mual, nyeri abdomen dan konstipasi. =fek samping lain seperti sakit kepala, pruritus, dan ruam alergi. Penelitian efek samping itrakona!ol oleh Sharkey dkk., tahun 3773 terhadap 3<7 pasien yang mendapat dosis 0/--// mg per hari, melaporkan bah%a mual dan muntah >3/8?, hipertrigliseridemia >78? hipokalemia >.8?, peningkatan serum aminotransferase >08?, rash >:8? dan efek samping lain >)78?. 2itemukannya hipokalemia pada pasien yang menerima dosis itrakona!ol .// mg perhari yang dikombinasi dengan pemberian jangka panjang Amfoterisin (. =fek samping lain meliputi insufisiensi adrenal, edema tungkai ba%ah, hipertensi, dan pada satu pasien mengalami rhabdomyolisis. 2osis di atas -// mg perhari tidak direkomendasikan untuk pemberian jangka panjang. Int$#aksi %)at
13

Absorpsi itrakona!ol akan berkurang jika diberikan bersama dengan obat yang dapat menurunkan sekresi asam lambung seperti antasida, H: antagonis, omepra!ol dan lansopra!ol. Itrakona!ol merupakan suatu inhibitor dari sistem hepatik sitokrom P -0/)A- sehingga pemberian bersama obat lain yang metabolismenya melalui sistem tersebut dapat meningkatkan konsentrasi a!ol. Itrakona!ol dapat memperpanjang dari %aktu paruh paruh obat terfenadin, astemi!ol, mida!olam, tria!olam, lo#astatin, sim#astatin, cisaprid, pimo!id, Guinidin. Itrakona!ol juga dapat meningkatkan konsentrasi serum digoksin, siklosporin takrolimus, dan %arfarin. 2.*.* Fl"k%na,%l ;lukona!ol merupakan suatu hidrofilik dari sintetik tria!ol, terdapat dalam bentuk oral dan parenteral. 2itemukan pada tahun 37<: dan diperkenalkan pertama kali di =ropa lalu di Amerika Serikat. (ersifat fungistatik dan efektif mela%an yeast >kecuali Candida krusei?. M$kanism$ k$#!a ;lukona!ol mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan tria!ol lain yaitu merupakan suatu inhibitor poten terhadap biosintesis ergosterol, bekerja dengan menghambat sistem en!im sitokrom P)&'( *&)+)demethylase dan bersifat fungistatik.

Struktur ;lukona!ol

Akti&itas s'$kt#"m $enurut ;2A flukona!ol efektif untuk mengatasi kandidiasis oral atau esophageal, criptococcal meningitis dan pada penelitian lain dinyatakan efektif pada sporotrikosis >limfokutaneus dan #isceral?. Fa#nak%kin$tik
14

Absorpsi paling baik >B7/8? setelah makan dan keadaan perut terisi dan tidak tergantung dari keasaman lambung. ;lukona!ol memiliki %aktu paruh :0-)/ jam, dan mencapai kadar tetap setelah pemberian sekali sehari selama * hari. ;lukona!ol berikatan lemah pada protein plasma dan sekitar 7/8 obat bersirkulasi bebas di dalam plasma. Sekitar </8 obat dieksresikan melalui urin, : 8 feses, dan 33 8 dalam bentuk metabolit di urin. &adar flukona!ol di dalam ,S;, sali#a, jaringan #agina, sputum, kulit dilaporkan sebanding dengan konsentrasi dalam plasma. Hangguan farmakokinetik flukona!ol berupa penurunan plasma klirens ditemukan pada pasien dengan sirosis dan gagal ginjal. Pada bayi di ba%ah ) bulan , flukona!ol klirens lebih cepat dibandingkan pada orang de%asa. D%sis ;lukona!ol digunakan sebagai lini pertama terapi kandidiasis mukotan. 0 Pada pediatrik digunakan untuk terapi tinea kapitis yang disebabkan Tinea tonsurans dengan dosis . mg5kg5hr selama :/ hari, dan 0 mg5kg5hr selama )/ hari. 'etapi diberikan lebih lama pada infeksi ycoplasma canis. ;lukona!ol tersedia sediaan tablet 0/ mg, 3// mg, 30/ mg, dan ://mgC sediaan oral solusio 3/ mg5ml dan -/ mg5ml dan dalam bentuk sediaan intra#ena. 2irekomendasikan pada anak-anak I. bulan. Penggunaan untuk orang de%asa dan kandidiasis #agina adalah 30/ mg dosis tunggal. Pada kandidiasis #ul#o#aginal rekuren 30/ mg tiap minggu selama . bulan atau lebih. 'inea pedis dengan 30/ mg tiap minggu selama )-- minggu, dengan *08 perbaikan pada minggu ke--. Pada terapi onikomikosis, terbinafin :0/ mg sehari selama 3: minggu lebih utama dibandingkan flukona!ol 30/ mg tiap minggu selama :- minggu. Pada pitiriasis #ersikolor digunakan -// mg dosis tunggal. Pada suatu penelitian open label randomized meneliti pitiriasis #ersikolor yang diterapi dengan -// mg flukona!ol dosis tunggal dibandingkan dengan -// mg itrakona!ol, ternyata flukona!ol lebih efektif dibandingkan itrakona!ol dengan dosis sama. ;lukona!ol ditoleransi baik oleh geriatrik kecuali dengan gangguan ginjal. bat ini termasuk kategori ,, sehingga tidak direkomendasikan untuk %anita hamil dan menyusui. E&$k sam'in( =fek samping yang sering adalah masalah gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, nyeri abdomen dan juga sakit kepala. Selain itu
15

hipersensiti#itas, agranulositosis, sindroma Ste#ens Johnsons, hepatotoksik, trombositopenia dan efek pada sistem saraf pusat. Int$#aksi %)at ;lukona!ol dapat meningkatkan efek atau kadar dari obat astemi!ol, amitriptilin, kafein, siklosporin, fenitoin, sulfonylurea, terfenadin, teofilin, %arfarin, simetidin, hidroklortia!id dan !idofudin. Pemberian bersama flukona!ol dengan cisapride ataupun terfenadin merupakan kontraindikasi oleh karena dapat menimbulkan disritmia jantung yang serius dan torsade de pointes. ;lukona!ol juga dapat berinteraksi dengan tolbutamid, glipi!id yang menimbulkan efek hipoglikemia. &adar atau efek flukona!ol dapat menurun jika diberikan bersama karbama!epin, isonia!id, fenobarbital, rifabutin dan rifampisin. 2.*.. /%#ik%na,%l Varikona!ol merupakan tria!ol generasi kedua berupa turunan flukona!ol dan tersedia dalam bentuk oral maupun parenteral. $erupakan deri#at flukona!ol.3-

*. Struktur #arikona!ol

M$kanism$ k$#!a Varikona!ol merupakan inhibitor poten terhadap biosintesis ergosterol, bekerja pada en!im sitokrom p--0/, lanosterol 3--K- demethylase. Hal ini menyebabkan berkurangnya ergosterol dan penumpukan methilat sterols yang mengakibatkan rusaknya struktur dan fungsi membran jamur. Akti&itas s'$kt#"m
16

Varikona!ol mempunyai spektrum yang luas terhadap Aspergillus sp!, Blastomyces dermatitidis, Candida sp, Candida spp flukonazol resistant!, Cryptococcus neoforams, .usarium sp!, Histoplasma capsulatum, dan Scedosporium apospermum. 'idak efektif terhadap ,ygomycetes. Fa#nak%kin$tik Vorikona!ol tersedia dalam bentuk tablet dan sediaan intra#ena >dalam bahan pemba%a sulfobutyl betade- sodium? dengan pemberian dua kali sehari. (ioa#ailabilabilitas oral #orikona!ol sebesar 7.8 dan 0.8 terikat dengan protein. Asam lambung dapat menghambat absorpsi #orikona!ol. &onsentrasi maksimal pada plasma terjadi dua jam setelah pemberian oral. Vorikona!ol dapat mencapai cairan serebrospinal dengan konsentrasi 3-) Lg5ml dengan %aktu paruh enam jam dalam darah. D%sis Pemberian pada kandidiasis esofageal dimulai dengan dosis oral :// mg setiap 3: jam untuk berat badan B -/ kg dan 3// mg setiap 3: jam untuk berat badan I -/ kg. @ntuk aspergilosis in#asif dan penyakit jamur, lainnya yang disebabkan Scedosporium asiospermum dan .ussarium spp, direkomendasikan loading dose . mg5kg IV setiap 3: jam untuk :- jam pertama, diikuti dengan dosis pemeliharaan - mg5kg(( setiap 3: jam dengan pemberian intra#ena atau :// mg setiap 3: jam per oral. E&$k sam'in( Vorikona!ol dapat ditoleransi baik oleh manusia. =fek toksik #orikona!ol yang sering ditemukan adalah gangguan penglihatan transien >)/8?. $eski dapat ditoleransi dengan baik, pada 3/-308 kasus ditemukan adanya abnormalitas fungsi hepar sehingga dalam pemberian #orikona!ol perlu dilakukan monitor fungsi hepar. Vorikona!ol bersifat teratogenik pada he%an dan kontraindikasi pada %anita hamil. Int$#aksi %)at Absorpsi #arikona!ol tidak mengalami penurunan jika diberikan bersama dengan obat lain seperti simetidin, ranitidin yang berfungsi mengurangi sekresi asam lambung. Varikona!ol kurang poten sebagai inhibitor sistem en!im human hepatik sitokrom P --0/- )A- dibandingkan itrakona!ol ataupun ketokona!ol, namun #arikona!ol dapat meningkatkan konsentrasi serum terfenadin, astemi!ol,
17

cisaprid, pimo!id, %arfarin, tolbutamid, glipi!id dan Guinidin. Varikona!ol dapat menurunkan konsentrasi serum siklosporin dan takrolimus. *.1.1 P%sak%na,%l Posakona!ol merupakan kelompok tria!ol generasi dua, memiliki struktur kimia serupa dengan itrakona!ol namun mengganti cincin klorin dan cincin furan dengan cincin dioksolan. Posakona!ol menghambat jamur dengan inhibisi en!im lanosterol *&)demethylase. 2eplesi ergosterol menyebabkan akumulasi prekursor metilasi sterol menyebabkan inhibisi pertumbuhan dinding sel jamur, kematian sel jamur.

Struktur kimia posakona!ol

Akti itas s'$kt#"m Posakona!ol memiliki kemampuan antijamur terluas saat ini. 'idak ditemukan resistensi silang posakona!ol dengan flukona!ol. Posakona!ol merupakan satu-satunya golongan a!ol yang dapat menghambat jamur golongan ,ygomycetes. Posakona!ol juga dapat digunakan dalam pengobatan aspergilosis dan fusariosis. D%sis Posakona!ol hanya tersedia dalam bentuk suspensi oral, dapat diberikan dengan rentang dosis 0/-<// mg. Pemberian a%al posakona!ol dibagi menjadi empat dosis guna mencapai le#el plasma adekuat. Pemberian posakona!ol dapat juga diberikan dua kali sehari pada keadaan tidak membahayakan ji%a. Absorbsi posakona!ol lebih baik bila diberikan bersama dengan makanan atau suplemen nutrisi. 2.. KELOMPOK ANTIJAMUR EKINOKANDIN 2...1 Kas'%&"n(in &aspofungin merupakan deri#at semi sintetik dari pneumo-candin (/ yang merupakan fermentasi lipopeptida jamur /larea lozoyensis! &aspofungin
18

efektif mela%an jamur yang resisten terhadap flukona!ol. $emiliki efektifitas sangat baik dan lebih aman diberikan pada infeksi Candida. Pada a%al ://3, kaspofungin mendapat persetujuan ;2A untuk terapi esofagitis dan orofaringeal kandida.) Penelitian $ora-2uarte et al! menunjukkan bah%a kaspofungin memiliki efektifitas serupa dengan A$( kon#ensional untuk penatalaksanaan kandidiasis mukosa dan sistemik namun kaspofungin dapat ditoleransi dengan lebih baik oleh tubuh.),.,3/,30 kaspofungin juga telah disetujui penggunaannya dalam aspergilosis in#asif yang gagal diterapi dengan terapi A$( atau #orikona!ol. $onitoring ketat penggunaan caspofungin diperlukan dalam terapi fungemia akibat C! parapsilosis untuk menghindari terjadi fungemia resisten. M$kanism$ k$#!a &aspofungin menghambat sintesis M->3,)?-2-glukan yang merupakan komponen dinding sel jamur.

Struktur &aspofungin

Akti&itas s'$-t#"m &aspofungin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas. &aspofungin efektif terhadap Aspergillus fumigates, Aspergillus fla"us dan Aspergillus terreus! &aspofungin mempunyai aktifitas yang berubah-ubah terhadap Coccidioides immitis, Histoplasma capsulatum dan dermatiaceous molds. &aspofungin juga efektif terhadap sebagian besar Candida sp!, dengan efek fungisidal yang tinggi, tetapi dengan Candida parpsilosis dan Candida krusei kurang efektif, dan resisten terhadap Cryptococcus neoformans.
19

Fa#mak%kin$tik Pemberian kaspofungin secara parenteral setelah 3 jam dengan dosis */ mg akan dicapai konsentrasi serum sebanyak :/ mg5". &urang dari 3/8 dosis obat akan menetap di dalam darah setelah pemberian ).--< jam dan lebih dari 7.8 akan berikatan dengan protein. Sebagian besar obat akan didistribusikan ke dalam jaringan >N 7:8 dari dosis? dengan konsentrasi yang tertinggi dijumpai pada hepar. Sekitar 38 dari dosis akan dieksresi tanpa ada perubahan melalui urin. &aspofungin dimetabolisme di hepar dan metabolit yang tidak aktif akan dibuang melalui empedu >)08? dan urin >-/8?. D%sis Pada pasien aspergilosis, dosis yang dianjurkan */ mg pada hari pertama dan 0/ mg5hari untuk hari selanjutnya. Setiap dosis harus diberikan intra#ena melalui infus dalam periode 3 jam. Pasien dengan kerusakan hepar sedang, direkomendasikan dosis kaspofungin diturunkan menjadi )0 mg. E&$k sam'in( =fek samping yang sering dijumpai yaitu demam, adanya ruam kulit, mual, muntah. Int$#aksi %)at Pemberian kaspofungin bersama siklosporin transaminase :-) kali lipat dari batas normal. 2...2 Mika&"n(in Pada tahun ://0, mikafungin disetujui ;2A untuk terapi esofagitis kandida pada pasien HIV. dapat meningkatkan

D%sis Pettengell et al. melaporkan pemberian mikafungin 0/-3// mg5hari menyebabkan respon total atau parsial pada )0 dari ). pasien kandidiasis esophagus >7*,:8? dan insiden efek simpang hanya :,<8 >3 dari ). pasien?. $ikafungin juga bermanfaat untuk terapi aspergilosis in#asif. Penelitian juga telah dilakukan untuk membandingkan efektifitas mikafungin dengan flukona!ol sebagai antijamur profilaksis pada <<: pasien yang menjalani transplantasi stem sel hemopoietik. $ikafungin diberikan 0/
20

mg5hari atau flukona!ol -// mg5hari secara acak selama enam minggu. Hasil penelitian menunjukkan respon mikafungin sebagai antijamur profilaksis lebih baik dibanding flukona!ol ></8 dibanding *).08C p O /./:0?. Hasil ini konsisten terhadap semua subgroup termasuk anak dan orang tua, pasien dengan netropenia persisten dan resipien transplantasi alogenik dan autolog. 2...* Anind"la&"n(in Anindulafungin merupakan kelompok ekinokandin yang telah disetujui ;2A tahun ://. untuk penatalaksanaan kandidiasis esophagus, peritonitis dan abses intraabdomen disebabkan kandida. D%sis Suatu penelitian terhadap 3:) pasien kandidiasis in#asif diacak untuk menerima sediaan 0/, *0, atau 3// mg anindulafungin sekali sehari. &riteria efikasi primer yang dinilai adalah tingkat respon klinis dan mikrobiologik pada populasi saat pengamatan lanjut dan dua minggu setelah selesai terapi. Saat pengamatan lanjut, nilai keberhasilan terapi adalah *:8, <08, dan <)8 pada kelompok 0/, *0, dan 3// mg. Pada saat akhir terapi, nilai keberhasilan adalah <-8, 7/8, dan <78. Anindulafungin juga memiliki kemampuan menghambat aspergilus dan kandida yang resisten terhadap kelompok a!ol dan A$(. Anindulafungin tidak dimetabolisme di hati dan tidak dieliminasi melalui urin. bat ini tidak memiliki interaksi dengan en!im sitokrom P-0/. &arena itu, penggunaan anindulafungin tidak memerlukan penyesuaian dosis pada pasien insufisien renal atau hepar, juga pada pasien yang menggunakan obat lain.

2.0 KELOMPOK ANTIJAMUR ALILAMIN T$#)ina&in 'erbinafin merupakan antijamur sintetik golongan alilamin yang dapat diberikan secara oral. bat ini terutama bersifat fungisidal dan sangat aktif mela%an dermatofit, tetapi kurang terhadap mold, dimorphic fungi dan yeast. Pertama kali ditemukan pada tahun 37<), digunakan di =ropa sejak tahun 3773 dan di Amerika Serikat pada tahun 377..

21

Struktur kimia terbinafin

M$kanism$ k$#!a 'erbinafin menghambat kerja en!im s%ualene epo-idase >en!im yang berfungsi sebagai katalis untuk merubah sGualene-:,) epoAide? pada membran sel jamur sehingga menghambat sintesis ergosterol >merupakan komponen sterol yang utama pada membran plasma sel jamur?. 'erbinafin menyebabkan Hal ini mengakibatkan berkurangnya ergosterol yang berfungsi untuk mempertahankan pertumbuhan membran sel jamur sehingga pertumbuhan akan berhenti >efek fungistatik? dan dengan adanya penumpukan sGualene yang banyak di dalam sel jamur dalam bentuk endapan lemak sehingga menimbulkan kerusakan pada membran sel jamur >efek fungisidal?. Akti&itas s'$-t#"m 'erbinafin merupakan anti jamur yang berspektrum luas. =fektif terhadap dermatofit yang bersifat fungisidal dan fungistatik untuk Candida albican, s tetapi bersifat fungisidal terhadap Candida parapsilosis! 'erbinafin juga efektif terhadap Aspergillosis sp!, Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum, Sporothri- schen-kii dan beberapa dermatiaceous moulds! Fa#mak%kin$tik 'erbinafin diabsorpsi di traktus gastrointestinal, mencapai konsentrasi puncak di serum berkisar /,<-3,0 mg5" setelah pemberian : jam dengan :0/ mg dosis tunggal. Pemberian bersama makanan tidak mempengaruhi absorpsi obat. 'erbinafin bersifat lipofilik dan keratofilik, terdistribusi secara luas pada dermis, epidermis, jaringan lemak dan kuku. &onsentrasi plasma terbinafin terbagi dalam tiga fase dimana %aktu paruh terbinafin yang terdistribusi di dalam plasma yaitu 3,3 jamC eliminasi %aktu paruh 3. sampai 3// jam setelah pemberian :0/ mg dosis tunggalC setelah - minggu pengobatan dengan dosis :0/ mg5hari %aktu paruh rata-rata :: hari. 2i dalam dermis-epidermis, rambut, dan kuku eliminasi %aktu paruh rata-rata :--:< hari. 'erbinafin dapat mencapai stratum korneum, pertama kali melalui sebum kemudian bergabung dengan basal keratinosit dan selanjutnya berdifusi ke
22

dermis-epidermis, tetapi terbinafin tidak terdeteksi di dalam kelenjar keringat ekrin. 'erbinafin yang diberikan secara oral akan menetap di dalam kulit dengam konsentrasi di atas $I, untuk dermatofit selama :-) minggu setelah pengobatan dihentikan. 'erbinafin dapat terdeteksi pada bagian distal nail plate dalam %aktu 3 minggu setelah pengobatan dan kadar obat yang efektif dicapai setelah - minggu pengobatan. 'erbinafin tetap akan dijumpai di dalam kuku untuk jangka %aktu yang lama setelah pengobatan dihentikan. 'erbinafin dimetabolisme di hepar dan metabolit tidak aktif akan dieksresi melalui urin sebanyak */8 dan melalui feces sebanyak :/8. D%sis Pada onikomikosis kuku tangan dan kaki de%asa yang disebabkan dermatofita, pemberian terbinafin kontinyu lebih efektif daripada itrakona!ol dosis pulse. ral terbinafin efektif untuk pengobatan dermatofitosis pada kulit dan kuku. 2osis terbinafin oral untuk de%asa yaitu :0/ mg5hari, tetapi pada pasien dengan gangguan hepar atau fungsi ginjal >kreatinin klirens I 0/ ml5menit atau konsentrasi serum kreatinin B )// 4mol5ml? dosis harus diberikan setengah dari dosis tersebut. Pengobatan tinea pedis selama : minggu, tinea korporis dan kruris selama 3-: minggu, sedangkan infeksi pada kuku tangan selama ) bulan dan kuku kaki selama . bulan atau lebih.
'erbinafin dosis rejimen nikomikosis 'inea kapitis 2e%asa &uku tangan 1 :0/ mg5hr A . minggu &uku kaki 1 :0/ mg5hr A 3: minggu :0/ mg5hr A :-< minggu Anak-anak )-. mg5khg5hr A .-3: minggua Infeksi Trichophyton 1 )-. mg5kg5hr A :-- minggua Infeksi icrosporum 1 )-. mg5kg5hr A .-< minggua )-. mg5kg5hr A 3-: minggu

'inea korporis, :0/ mg5hr A 3-: minggu tinea kruris b 'inea pedis :0/ mg5hr A : minggu >mokasin? b 2ermatitis :0/ mg5hr A --. minggu seboroik a 2osis anak berdasarkan berat badan 1 .:,0 mg5hr >3/-:/ kg?, 3:0 mg5hr >:/--/ kg?, :0/ mg5hr >B-/ kg?. ,atatan 1 tingkat kesembuhan tinggi dicapai dengan dosis -,0 mg5hr atau lebih. b 'idak ada penelitian.

E&$k sam'in(
23

=fek samping pada gastrointestinal seperti diare, dispepsia, dan nyeri abdomen. 'erbinafin tidak direkomendasikan untuk pasien dengan penyakit hepar kronik atau aktif. Int$#aksi %)at &onsentrasi terbinafin akan menurun jika diberikan bersama rifampisin. Damun kadar dalam darah dapat meningkat apabila diberikan bersama simetidin yang merupakan suatu inhibitor sitokrim P--0/. *. PEN1OBATAN INFEKSI JAMUR SISTEMIK Infeksi oleh jamur patogen yang terinhalasi dapat sembuh spontan. Histoplasmosis, koksidioidomikosis, blastomikosis dan kriptokokosis pada paru yang sehat tidak membutuhkan pengobatan. &emoterapi baru dibutuhkan bila ditemukan pneumonia yang berat, infeksi cenderung menjadi kronis, atau bila disangsikan terjadi penyebaran atau adanya risiko penyakit akan menjadi lebih parah. Pasien AI2S atau pasien penyakit imunosupresi lain biasanya membutuhkan kemoterapi untuk mengatasi pneumonia karena jamur atau oleh sebab lain. As'$#(il%sis In#asi aspergilosis paru sering terjadi pada pasien penyakit imunosupresi yang berat dan.tidak memberi respons yang memuaskan terhadap pengobatan dengan antijamur. bat pilihan adalah amfoterisin ( IV dengan dosis /,0-3,/ mg5kg(( setiap hari dalam infus lambat. @ntuk infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai dua kalinya. (ila penyakit progresif, dosis obat dapat ditingkatkan. Blast%mik%sis bat terpilih untuk kasus ini adalah ketokona!ol per oral -// mg sehari selama . - 3: bulan. Itrakona!ol juga efektif dengan dosis :// - -// mg sekali sehari pada beberapa kasus. Amfoterisin ( dicadangkan untuk pasien yang tidak dapat menerima ketokona!ol, infeksinya sangat progresif atau infeksi menyerang SSP. 2osis yang dianjurkan /,- mg5kg((5hari selama 3/ minggu. &adangkala dibutuhkan tindakan operatif untuk mengalirkan nanah dari sekitar lesi.
24

Kandidiasis &ateterisasi ataupun manipulasi instrument lain dapat memperburuk kandidiasis. (ila in#asi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup dengan amfoterisin ( 0/ 4g5m" dalam air steril selama 0 - * hari. (ila ada kelainan parenkim ginjal, pasien harus diobati dengan amfoterisin ( IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lain. K%ksidi%mik%sis 2itemukannya ka#itas tunggal di paru atau adanya infiltrasi fibroka#itas yang tidak responsif terkadap kemoterapi merupakan ciri yang khas dari penyakit kronis koksidioidomikosisC yang membutuhkan tindakan reseksi. (ila terdapat penyebaran ekstrapulmonar, amfoterisin ( IV bermanfaat untuk penyakit berat ini, juga pada pasien dengan penyakit imunosupresi dan AI2S. &etokona!ol diberikan untuk terapi supresi jangka panjang terhadap lesi kulit, tulang dan jaringan lunak pada pasien dengan fungsi imunologik normal. Hasil serupa juga dapat dicapai dengan pemberian itrakona!ol ://--// mg sekali sehari. @ntuk meningitis yang disebabkan oleh Coccidioides obat terpilih ialah amfoterisin ( yang diberikan secara intratekal. K#i't%k%k%sis bat terpilih adalah amfoterisin ( IV dengan dosis /,--/,0 mgtkg((5hari. Pengobatan dilanjutkan sampai hasil pemeriksaan kultur negatif. Penambahan flusitosin dapat mengurangi pemakaian amfoterisin ( menjadi /,) mg5kg53)(. 2i samping penyebarannya yang lebih baik ke dalam jaringan sakit, flusitosin diduga bekerja aditif terhadap amfoterisin sehingga dosis amfoterisin ( dapat dikurangi dan dapat mengurangi terjadinya resistensi terhadap flusitosin. ;lukona!ol banyak digunakan untuk terapi supresi pada pasien AI2S. Hist%'lasm%sis Pasien dengan histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan ketokona!ol -// mg per hari selama .-3: bulan. Itrakona!ol ://--// mg sekali
25

sehari juga cukup efektif. Amfoterisin ( IV juga dapat. diberikan selama 3/ minggu. @ntuk mencegah kekambuhan penyebaran histoplasmosis pada pasien AI2S yang sudah diobati dengan ketokona!ol dapat ditambahkan pemberian amfoterisin ( IV sekali seminggu. M"k%#mik%sis Amfoterisin ( merupakan obat pilihan untuk mukormikosis paru kronis. $ukor-

mikosis kraniofasial juga diberikan amfoterisin ( IV di samping melakukan debridement dan kontrol diabetes melitus yang sering menyertainya. Pa#ak%ksidi%id%mik%sis &etokona!ol -// mg per hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama .-3: bulan. Pada keadaan yang berat dapat ditambahkan amfoterisin (.

.. ANTI JAMUR UNTUK DERMATOFIT DAN MUKOKUTAN ..1 1RISEOFUL/IN Hriseoful#in merupakan antibiotik antijamur yang berasal dari spesies Penicillium mold. Pertama kali diteliti digunakan sebagai antijamur pada tumbuhan dan kemudian diperkenalkan untuk pengobatan infeksi dermatofita pada he%an. Hriseoful#in digunakan sejak tahun 370< untuk pengobatan infeksi dermatofita pada manusia. Hriseoful#in merupakan obat anti jamur yang pertama diberikan secara oral untuk pengobatan dermatofitosis.

M$kanism$ k$#!a Hriseoful#in merupakan obat antijamur yang bersifat fungistatik, berikatan dengan protein mikrotubular dan menghambat mitosis sel jamur sehingga tetap dalam fase metafase.
26

Akti&itas s'$-t#"m Hriseoful#in mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas hanya untuk spesies 0pidermophyton flocossum, icrosporum sp!, dan Trichophyton sp!, yang merupakan penyebab infeksi jamur pada kulit, rambut kuku. Hriseoful#in tidak efektif terhadap kandidiasis kutaneus dan pitiriasis #ersikolor. Fa#mak%kin$tik Pemberian griseoful#in secara oral dengan dosis /,0-3 gr akan menghasilkan konsentrasi puncak di plasma sebanyak 3 mikrogram5ml dalam %aktu - jam. Hriseoful#in mempunyai %aktu paruh di dalam plasma lebih kurang 3 hari dan sekitar 0/8 dari dosis oral dapat dideteksi di dalam urin dalam %aktu 0 hari dan kebanyakan dalam bentuk metabolit. Hriseoful#in sangat sedikit diabsorpsi dalam keadaan perut kosong. $engkonsumsi griseoful#in bersama dengan makanan berkadar lemak tinggi dapat meningkatkan absorpsi mengakibatkan kadar griseoful#in dalam serum akan lebih tinggi. &etika diabsorpsi, griseoful#in pertama kali akan berikatan dengan serum albumin dan distribusi di jaringan ditentukan dengan konsentrasi bebas. Selanjutnya menyebar melalui cairan transepidermal dan keringat serta akan dideposit di sel prekursor keratin kulit >stratum korneum?, selanjutnya terjadi ikatan yang kuat dan menetap. "apisan keratin yang terinfeksi akan digantikan dengan lapisan keratin baru yang lebih resisten terhadap serangan jamur. Pemberian griseoful#in secara oral akan mencapai stratum korneum setelah --< jam. Hriseoful#in dimetabolisme di hepar menjadi .-dismethil griseoful#in dan akan dieksresikan melalui urin. =liminasi %aktu paruh 7-:3 jam dan kurang dari 38 dari dosis akan dijumpai pada urin tanpa perubahan bentuk. D%sis Hriseoful#in terdiri atas : bentuk yaitu microsize >mikrochryristallin1 dan ultramicrosize >ultramicrochrystallin?. (entuk ultramicrosize penyerapannya pada saluran pencernaan 3,0 kali dibandingkan dengan bentuk microsize Pada saat ini, griseoful#in lebih sering digunakan untuk pengobatan tinea kapitis. 'inea kapitis lebih sering dijumpai pada anak-anak disebabkan oleh Trychopyton tonsurans. 2osis pada anak-anak :/-:0 mg5kg5hari > mikrosize?, atau 30-:/ mg5kg5hari >ultrasize? selama .-< minggu. 2osis griseoful#in >pemberian secara oral? yaitu de%asa 0//-3/// mg5 hari >microsize? dosis tunggal atau terbagi dan ))/-)*0 mg5hari >ultramicrosize? dosis
27

tunggal atau terbagi. 3/ "ama pengobatan untuk tinea korporis dan kruris selama :- minggu, untuk tinea kapitis paling sedikit selama --. minggu, untuk tinea pedis selama --< minggu dan untuk tinea unguium selama )-. bulan. E&$k sam'in( =fek samping griseoful#in biasanya ringan berupa sakit kepala, mual, muntah, dan nyeri abdomen. 'imbulnya reaksi urtikaria dan erupsi kulit dapat terjadi pada sebagian pasien. Int$#aksi %)at Absorpsi griseoful#in menurun jika diberikan bersama dengan fenobarbital, namun efek ini dapat diatasi dengan cara mengkonsumsi griseofil#in bersama makanan. Hriseoful#in juga dapat menurunkan efektifitas %arfarin. &egagalan kontrasepsi juga ditemukan pada pasien yang mengkonsumsi griseoful#in bersasma dengan penggunaan kontrasepsi oral. ..2 IMIDA+OL DAN TRIA+OL Anti jamur golongan imida!ol mempunyai spectrum yang luas. &arena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda. &etokona!ol yang juga termasuk golongan imida!ol telah dibahas pada pembicaraan mengenai antijamur untuk infeksi sistemik, juga itrakona!ol >golongan tria!ol?. 6esistensi terhadap imida!ol dan tria!ol sangat jarang terjadi dari jamurpenyebab dermatofitosis, tetapi dari jamur kandida paling sering terjadi M$kanism$ k$#!a 6elatif berspektrum luas, bersifat fungistatik dan bekerja dengan cara menghambat pembentukan *& 2 +)sterol demethylase, suatu en!im sitokrom P-0/ >,EP?. Hal ini mengganggu biosintesis ergosterol membran sitoplasma jamur dan menyebabkan akumulasi 3- P K- metilsterol. $etilsterol merusak rantai fosfolipid sehingga mengganggu fungsi en!im pada membran jamur seperti A'P ase dan en!im pada sistem transpor elektron. $ekanisme ini yang mengakibatkan efek pertumbuhan jamur terhambat. ..2.1 Mik%na,%l

28

$ikona!ol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis #ersikolor, serta kandidiasis oral, kutaneus dan genital. $ikona!ol cepat berpenetrasi pada stratum korneum dan bertahan lebih dari - hari setelah pengolesan. &urang dari 38 diabsorpsi dalam darah. Absorpsi kurang dari 3,)8 di #agina. Pengobatan kandidiasis #aginalis diberikan dosis :// selama * hari atau 3// mg selama 3- hari yang dimasukkan ke dalam #agina. Pengobatan kandidiasis oral, diberikan oral gel >:0 mg? - kali sehari. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan mikona!ol krim :8, dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama :-minggu dan dioleskan : kali sehari. =fek samping pemakaian topikal #agina adalah rasa terbakar, gatal atau iritasi *8 kadang-kadang terjadi kram di daerah pel#is >/,:8?, sakit kepala, urtika, atau skin rash. Iritasi, rasa terbakar dan maserasi jarang terjadi pada pemakaian kutaneus. $ikona!ol aman digunakan pada %anita hamil, meskipun beberapa ahli menghindari pemakaian pada kehamilan trimester pertama.

..2.2 Kl%t#ima,%l

&lotrima!ol dapat digunakan untuk pengobatan dermatifitosis, kandidiasis oral, kutaneus dan genital. @ntuk pengobatan oral kandidiasis, diberikan
29

oral troches >3/ mg? 0 kali sehari selama : minggu atau lebih. @ntuk pengobatan kandidiasis #aginalis diberikan dosis 0// mg pada hari ke-3, :// mg hari ke-:, atau 3// mg hari ke-. yang dimasukkan ke dalam #agina. @ntuk pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan krim klotrima!ol 38 dosis dan lamanya pengobatan tergantung kondisi pasien, biasanya diberikan selama :-- minggu dan dioleskan : kali sehari. ..2.* Ek%na,%l

=kona!ol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis oral, kutaneus dan genital. @ntuk pengobatan kandidiasis #aginalis diberikan dosis 30/ mg yang dimasukkan ke dalam #agina selama ) hari berurut-turut. @ntuk pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan ekona!ol krim 3 8, dosis dan lamanya tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama :-- minggu dan dioleskan : kali sehari. =kona!ol penetrasi dengan cepat di stratum korneum. &urang dari 38 diabsorpsi ke dalam darah. Sekitar )8 pasien mengalami eritema lokal, sensasi terbakar, tersengat, atau gatal. ..2.. K$t%k%na,%l &etokona!ol mempunyai ikatan yang kuat dengan keratin dan mencapai keratin dalam %aktu : jam melalui kelenjar keringat ekrin. Penghantaran akan menjadi lebih lambat ketika mencapai lapisan basal epidermis dalam %aktu )-- minggu. &onsentrasi ketokona!ol masih tetap dijumpai, minimal 3/ hari setelah obat dihentikan. &etokona!ol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis, pitiriasis #ersikolor, kutaneus kandidiasis dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan krim ketokona!ol 38, dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya diberikan selama :-- minggu dan dioleskan sekali sehari sedangkan pengobatan dermatitis seboroik dioleskan : kali sehari. Pengobatan pitiriasis #ersikolor menggunakan ketokona!ol :8 dalam bentuk shampoo sebanyak : kali seminggu selama < minggu.
30

..2.0 S"lk%na,%l Sulkona!ol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis kutaneus. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan sulkona!ol krim 38. 2osis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien, biasanya untuk pengobatan tinea korporis , tinea kruris ataupun pitiriasis #ersikolor dioleskan 3 atau : kali sehari selama ) minggu dan untuk tinea pedis dioleskan : kali sehari selama - minggu. ..2.2 T$#k%na,%l 'erkona!ol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan kandidiasis kutaneus dan genital. Pengobatan kandidiasis #aginalis yang disebabkan Candida albicans, digunakan terkona!ol krim #agina /,-8 >:/ gr terkona!ol? yang dimasukkan ke dalam #agina menggunakan aplikator sebelum %aktu tidur, 3 kali sehari selama ) hari berturut-turut dan #aginal supositoria dengan dosis </ mg terkona!ol, dimasukkan ke dalam #agina, 3 kali sehari sebelum %aktu tidur selama ) hari berturut-turut. ..2.3 Ti%k%na,%l 'iokona!ol digunakan untuk pengobatan dermatofitosis serta kandidiasis kutaneus dan genital. @ntuk pengobatan kandidiasis #aginalis diberikan dosis tunggal sebanyak )// mg dimasukkan ke dalam #agina. @ntuk infeksi pada kulit digunakan tiokona!ol krim 38, dosis dan lamanya pengobatan tergantung kondisi pasien, biasanya untuk pengobatan tinea korporis dan kandidiasis kutaneus biasanya diberikan selama :-- minggu dan dioleskan : kali sehari. @ntuk tinea pedis dioleskan : kali sehari selama . minggu, untuk tinea kruris dioleskan : kali sehari selama : minggu dan untuk pitirisis #ersikolor dioleskan : kali sehari selama 3-- minggu ..2.4 S$#tak%na,%l Sertakona!ol dapat digunakan untuk pengobatan dermatofitosis dan candida sp, digunakan sertakona!ol krim :8, dioleskan 3-: kali sehari selama minggu. ..* TOLNAFTAT DAN TOLSIKLAT ..*.1 T%lna&tat 'olnaftat adalah suatu tiokartamat yang efektif untuk sebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida.
31

'olnaftat tersedia dalam bentuk krim, gel, bubuk, cairan aerosol atau larutan topical dengan kadar 38. 2igunakan local :-) kali sehari. 6asa gatal akan hilang dalam :--*: jam. "esi interdigital oleh jamur yang rentan dapat sembuh antara *-:3 hari. Pada lesi dengan hyperkeratosis, tolnaftat sebaiknya diberikan bergantian dengan salep asam salisilat 3/8. ..*.2 T%lsiklat 'olsiklat merupakan antijamur topical yang diturunkan dari tiokarbamat. Damun karena spektrumnya yang sempit, antijamur ini tidak banyak digunakan lagi. ... NISTATIN Asal dan kimia Distatin merupakan suatu antibiotik polien yang dihasilkan oleh Streptomyces noursei. bat yang berupa bubuk %ama kuning kemerahan ini bersifat higroskopis, berbau khas, sukar larut dalam kloroform dan eter. "arutannya mudah terurai dalam air atau plasma. Sekalipun nistatin mempunyai struktur kimia dan mekanisme kerja mirip dengan amfoterisin (, nistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik. Distatin tidak diserap melalui saluran cema, kulit maupun #agina. Akti itas anti!am"# Distatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap bakteri, proto!oa dan #irus.

M$kanism$ k$#!a Distatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. Akti#itas antijamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol pada membran sel jamur atau ragi terutama sekali ergosterol. Akibat terbentuknya ikatan antara sterol dengan antibiotik ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil. Candida albicans hampir tidak memperlihatkan resistensti terhadap nistatin, tetapi C! tropicalis,! C! guillermondi dan ,. stellatiodes mulai resisten. bahkan sekaligus menjadi tidak sensitif terhadap amfoterisin (. namun resistensi ini biasanya tidak terjadi in "i"o!
32

Pengobatan kandidiasis kutis dapat digunakan nistatin topikal pada kulit atau membrane mukosa >rongga mulut, #agina?. Distatin biasanya tidak bersifat toksik tetapi kadang-kadabng dapat timbul mual, muntah dan diare jika diberikan dengan dosis tinggi. @ntuk pengobatan kandidiasis #aginalis diberikan 3 atau : "aginal suppossitoria >3//./// setiap unitnya? yang diberikan selama kurang lebih 3- hari. ..0 ANTI JAMUR TOPIKAL LAINN5A ..0.1 Asam )$n,%at$ dan asam salisilat 6sal$' Whitefield 7 &ombinasi asam ben!oate dan asam salisilat dalam perbandingan :13 >biasanya .8 dan )8? ini dikenal sebagai salep 3hitfield! Pada tahun 37*/, Arthur 9hitefield membuat preparat salep yang mengandung 3:8 asam ben!oate dan .8 asam salisilat. Asam ben!oat bekerja sebagai fungistatik, dan asam salisilat sebagai keratolitik sehingga menyebabkan deskuamasi keratin yang mengandung jamur. Preparat ini sering menyebabkan iritasi khususnya jika dipakai pada permukaan kulit yang luas. Selain itu absorpsi secara sistemik dapat terjadi, dan menyebabkan toksisitas asam salisilat, khususnya pada pasien yang mengalami gagal ginjal. 2igunakan untuk mengatasi tinea pedis, dan tinea kruris. ..0.2 Asam "nd$sil$nat Asam undesilenat bersifat fungistatik, dapat juga bersifat fungisidal apabila terpapar lama dengan konsentrasi yang tinggi pada agen jamur. 'ersedia dalam bentuk salep, krim, bedak spray po3der, sabun, dan cairan. Salap asam undesilenat mengandung 08 asam undesilenat dan :/8 !inc undesilenat. Qinc bersifat astringent yang menekan inflamasi. Preparat ini digunakan untuk mengatasi dermatomikosis, khususnya tinea pedis. =fektifitas masih lebih rendah dari imida!ol, haloprogin atau tolnaftat. Preparat ini juga dapat digunakan pada ruam popok, dan tinea kruris. ..0.* Hal%'#%(in

33

Haloprogin merupakan halogenated phenolic, efektif untuk pengobatan tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis dan pitiriasis #ersikolor, dengan konsentrasi 38 dioleskan : kali sehari selama :-- minggu. 4.5.4 Castellanis paint Castellani4s paint 5carbol fuchsin paint1 memiliki aktifitas antijamur dan antibacterial. 2igunakan sebagai terapi tinea pedis, dermatitis seboroik, tinea imbrikata.=fek sampingnya adalah iritasi dan reaksi toksik terhadap fenol. ..0.0 Tim%l 'imol adalah antiseptik yang larut dalam alkohol efektif dalam bentuk tingtur untuk mengobati onikolisis. 'imol bekerja sebagai antiseptik membunuh organisme pada saat alkohol menguap. 'idak tersedia preparat komersilC ahli farmakologi mencampur :--8 timol ke dalam larutan dasar seperti etanol 708 dan mengendap di dasar botol. Pemakaiannya jari ditegakkan #ertikal lalu diteteskan solusio sampai menyentuh hiponikium, gaya gra#itasi dan tekanan permukaan secara cepat mendistribusikan timol ke bagian terdalam dari ruang subungual. Penggunaan timol beresiko iritasi, dan memiliki bau yang tidak menyenangkan. ..0.2 Am%#%l&in Amorolfin merupakan phenylpropylpiperidine. (ekerja dengan cara menghambat biosintesis ergosterol jamur. Aktifitas spektrumnya luas, dapat digunakan untuk pengobatan tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis dan onikomikosis. @ntuk infeksi jamur pada kulit amorolfin dioleskan satu kali sehari selama :-) minggu sedangkan untuk tinea pedis selama . bulan. Amorolfin 08 nail lac%uaer diberikan sebagai monoterapi pada onikomikosis ringan tanpa adanya keterlibatan matriks. 2iberikan satu atau dua kali seminggu selama .-3: bulan. Pemakaian amorolfin 08 pada pengobatan jamur memiliki angka kesembuhan ./-*.8 dengan pemakaian satu atau dua kali seminggu. &uku tangan dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama . bulan sedangkan kuku kaki harus digunakan selama 7-3: bulan ..0.3 Sikl%'i#%ks %lamin

34

Siklopiroks olamin adalah antijamur sintetik hydro-ypyridone, bersifat fungisidal, sporisida dan memiliki penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Siklopiroks efektif untuk pengobatan tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis, onikomikosis, kandidiasis kutaneus dan pitiriasis #ersikolor. @ntuk pengobatan infeksi jamur pada kulit harus dioleskan : kali sehari selama :-- minggu sedangkan untuk pengobatan onikomikosis digunakan siklopiroks nail lac%uer <8. Setelah dioleskan pada permukaan kuku yang sakit, larutan tersebut akan mengering dalam %aktu )/--0 detik, !at aktif akan segera dibebaskan dari pemba%a berdifusi menembus lapisan lempeng kuku hingga ke dasar kuku >nail bed? dalam beberapa jam sudah mencapai kedalaman /,- mm dan secara penuh akan dicapai setelah :---< jam pemakaian. &adar obat akan mencapai kadar fungisida dalam %aktu * hari sebesar /,<7 N/,:0 mikrogram tiap milligram material kuku. &adar obat akan meningkat terus hingga )/--0 hari setelah pemakaian dan selanjutnya konsentrasi akan menetap yakni sebesar 0/ kali konsentrasi obat minimal yang berefek fungisidal. &onsentrasi obat yang berefek fungisidal ditemukan di setiap lapisan kuku. Sebelum pemakaian cat kuku siklopiroks, terlebih dahulu bagian kuku yang terinfeksi diangkat atau dibuang, kuku yang tersisa dibuat kasar kemudian dioleskan membentuk lapisan tipis. 2ilakukan setiap : hari sekali selama bulan pertama, setiap ) hari sekali pada bulan kedua dan seminggu sekali pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan. Pemakaian cat kuku dianjurkan tidak lebih dari . bulan. ..0.4 T$#)ina&in 'erbinafin merupakan suatu derifat alilamin sintetik denan struktur mirip naftitin. bat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis, terutama onikomikosisC dan digunakan juga secara topical untuk dermatofitosis. 'erbinafin topical tersedia dalam bentuk krim 38 dan gel 38. 'erbinafin topical digunakan untuk pengobatan tinea kruris dan korporis yang diberikan 3-: kali sehari selama 3-: minggu. 4.5.9 Alumunium Chloride
35

Alumunium Chloride )/8 memiliki efikasi mirip dengan Castellani4s paint pada terapi tinea pedis. ..0.18 1$ntian /i%l$t Hentian #iolet adalah triphenylmethane 5rosaniline1 dye! Produk yang dipasarkan mengandung -8 tetramethyl dan pentamethyl congeners campuran ini membentuk kristal #iolet. Solusio gentian #iolet dengan konsentrasi /,0-:8 digunakan pada infeksi jamur mukosa. Hentian #iolet memiliki efek antijamur dan antibacterial. 4.5.11 Potassium Permanganat Potassium permanganat tidak memiliki aktifitas antijamur. Pada pengenceran 310/// sering digunakan untuk meredakan inflamasi akibat kandidiasi intertriginosa. 4.5.12 Selenium Sulphide "osio :,08 selenium sulphide untuk terapi pitiriasis #ersikolor dan dermatitis seboroik. Pengguinaan losio selama 3/ menit satu kali sehari selama pemakaian * hari, tidak terjadi absorpsi perkutaneus yang signifikan. Selenium sulphide 6,'7 dalam bentuk sampo dapat menyebabkan iritasi pada kulit kepala atau perubahan %arna rambut. "osio selenium sulphide juga digunakan sebagai sampo pada tinea kapitis yang telah diberikan terapi oral griseoful#in. 4.5.13 Zin P!rithione ,inc pyrithione adalah antijamur dan antibakteri yang digunakan mengatasi pitiriasis sika. Sampo zinc pyrithione 38 efektif pada terapi pitiriasis #ersikolor yang dioleskan setiap hari selama : minggu. ..0.1. Sodium "hiosulfate dan Sali !li A id Solusio :08 sodium thiosulfate dikombinasi dengan 38 salicylic acid tersedia preparat komersial dan digunakan pada tinea #ersikolor. 4.5.15 Proph!len #l! ol Prophylen glycol >0/8 dalam air? telah digunakan untuk mengatasi pitiriasis #ersikolor. Prophylen glycol &)87 sebagai agen keratolitik, yang secara in #itro bersifat fungistatik terhadap alassezia furfur kompleks >bentuk dari Pityrosporum spp?. Solusio propylene glycol-urea- asam laktat juga telah digunakan untuk onikomikosis.
36

DAFTAR PUSTAKA

3.

Verma S, Heffernan $2. Superficial .ungal $nfection9 :ermatophytosis, onychomycosis, Tinea ;igra, Piedra. In1 9olff &, Holdsmith "A, &at! SI, Hilchrest (S, Paller AS, "effel 2J. eds. ;it!patricksRs 2ermatology in Heneral $edicine. *th ed. De% Eork1 $c Hra%Hill.://<.p 3</*-3<:3.

:. 2epartemen ;armakologi dan 'erapeutik ;&@I. farmakologi dan terapi edisi '!Jakarta1 (alai Penerbit ;&@I.://* ). &at!ung H(, Julius 2J1 &at!ung (H, penyunting. Basic and clinical pharmacology. =disi ke-.. San ;ransisco1 Prentice-Hall International IncorporationC 3770.
37

-.

Hay 6J. :eep .ungal $nfections. In1 9olff &, Holdsmith "A, &at! SI, Hilchrest (S, Paller AS, "effel 2J. eds. ;it!patricksRs 2ermatology in Heneral $edicine. * th ed. De% Eork1 $c Hra%-Hill.://<.p 3<)3-3<-High 9A, ;it!patrick J=. Topical Antifungal Agents. In1 9olff &, Holdsmith "A, &at! SI, Hilchrest (S, Paller AS, "effel 2J. eds. ;it!patricksRs 2ermatology in Heneral $edicine. * th ed. De% Eork1 $c Hra%-Hill.://<.p :33.-:3:3 Ashley =S et.al. Pharmacology of systemic antifungal agents. ,linical Infectious 2isease 2 ://.C-) >Suppl 3?1:<-)7. Hubbins P , Anaissie =J. Antifungal therapy. In1 Anaissie =J, $cHinn $6, Pfaller. ,linical $ycology. :nd =d. ,hina1 =lse#ier. ://7. p3.3-37. QhaoS, ,alderone 6A. Antifungals currently used in the treatment of in"asi"e fungal disease. In1 ,alderone 6A, ,ihlar 6". =ds. ;ungal pathogenesis principles and clinical applications. @SAC $ycology Vol 3-. ://:C p 007-0*nye%u ,, Heitman J. <ni%ue Aplications of ;o"el Antifungal :rug Combinations . AntiInfecti#e Agents in $edicinal ,hemistry ://*C .1 )-30

0.

.. *. <.

7.

3/. "esher J. 9oody ,$,. Antimicrobial drugs. In1(olognia J" Jorri!o J", 6apini 6P, et al. =ds. 2ermatology :th =d, $osby =lse#ier, ://<. 33. 6ubin AI, (agheri (, Scher 6&. Si- ;o"el Antimycotics. Am J ,lin 2ermatol ://:C )>:?1 *3-<3 3:. 9u JJ, Pang &6, Huang 2(, 'rying S&. Therapy of Systemic .ungal $nfections. 2ermatologic
'herapy ://-C 3*1 0):P0)<

3). $arr &A. 0mpirical Antifungal Therapy 2 ;e3 =ptions, ;e3 Tradeoffs . D =ngl J $ed ://:C )-.>-?1 :*<-:</ 3-. 'orres HA, Hachem 6E, ,hemaly 6;, &onto#iannis 2P, 6aad II. Posaconazole9 A Broad) Spectrum Triazole Antifungal. #ancet $nfect :is ://0C 01 **0P<0 30. 6ay A, Anand S. Recent trends in antifungal therapy9focus on systemic mycoses . Indian J ,hest 2is Allied Sci :///C-:1)0*-)..

38