Anda di halaman 1dari 29

Ns. Siswanto, S.

Kep BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup kedunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. ( Rustam Muchtar, 1998 ). Ukuran keberhasilan suatu pelayanan kesehatan tercermin dari penurunan angka kematian ibu (Maternity Mortality Rate) sampai pada batas angka terendah yang dapat dicapai sesuai dengan kondisi dan situasi setempat serta waktu. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal karena berbagai sebab. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda persalinan (Manuaba, 1998). Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam bidang kesehatan yang berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi korioamnionitis sampai sepsis, serta menyebabkan infeksi pada ibu yang menyebabkan meningkatnya morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi (Prawirohardjo, 2002). Ketuban pecah dini kemungkinan besar menimbulkan risiko tinggi infeksi dan bahaya kompresi tali pusat, maka dalam penatalaksanaan perawatannya dianjurkan untuk pemantauan ibu maupun janin dengan ketat (Achadiat,1995) KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif . Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup. Asuhan keperawatan KPD 1

Ns. Siswanto, S.Kep Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru. Protokol pengelolaan yang optimal harus memprtimbangkan 2 hal tersebut di atas dan faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD, tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun pada ibu.

1.2. TUJUAN PENULISAN Mampu mengaplikasikan ilmu kebidanan kepada ibu Intra partum.

1.2.1. TUJUAN UMUM Untuk mengetahui tentang inrapartum dan dapat mengaplikasikannya di tengah masyarakat tempat bertugas nanti.

1.2.2. TUJUAN KHUSUS 1. Untuk mengetahui pengertian intrapartum 2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan intrapartum 3. Untuk mengetahui tindakan medis pada pasien intapartum

1.3. MANFAAT

1. Bagi rawat inap Agar lebih bisa meningkatkan kwalitas pelayanannya khususnya pada ibu intra partum. Asuhan keperawatan KPD 2

Ns. Siswanto, S.Kep

2. Peneliti Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam penelitian serta

menerapkan ilimu yang telah didapat selama studi, khususnya metodologi penelitian dalam rangka menganalisa masalah maternitas khususnya tentang intra partum normal.

3. Instalasi pendidikan Sebagai bahan wacana diperpustakaan dan refrensi awal penelitian selanjutnya bagi perpustakaan di instalasi pendidikan.

4. Bagi masyarakat Agar masyarakat terutama bagi para ibu dapat menambah pengetahuannya tentang intra partum normal.

Asuhan keperawatan KPD

Ns. Siswanto, S.Kep BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1. DEVENISI

Ketuban pecah dini atau intrapartum adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2001). Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu apabila pembukaan pada primipara kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm (mohtar,1998).

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan di tunggu satu jam belum di mulainya tanda persalinan (manuaba,2001). Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. (saifudin,2002). Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.ketuban pecah dini di sebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uteri atau kedua faktor tersebut.berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina servik (sarwono prawiroharjop,2002). Adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 ).

Prinsip dasar : Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khoriokarsinoma sampai sepsis, yang meningkatkaan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktjor tersebut.

Asuhan keperawatan KPD

Ns. Siswanto, S.Kep Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan. (Sarwono Prawirohardjo, 2002).

2.2. Insedensi Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10 % dari semua kehamilan. Hal yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %, sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur. KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat komplek, bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS.

2.3. Etiologi Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:

1. Infeksi Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. 2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage). 3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma

Asuhan keperawatan KPD

Ns. Siswanto, S.Kep yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. 4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah. 5. Keadaan sosial ekonomi 6. Faktor lain 6.1. Faktor golonngan darah 6.2. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban. 6.3. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu. 6.4. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum. 6.5. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm 1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%) 2. riwayat persalinan preterm sebelumnya 3. perdarahan pervaginam 4. pH vagina di atas 4.5 5. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban. 6. flora vagina abnormal 7. fibronectin > 50 ng/ml 8. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm 9. Inkompetensi serviks (leher rahim) 10. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih) 11. Riwayat KPD sebelumya 12. Trauma 13. servix tipis / kurang dari 39 mm, Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu 14. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis

Faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus preterm 1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik Asuhan keperawatan KPD 6

Ns. Siswanto, S.Kep 2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, Ketuban Pecah pada usia kehamilan preterm. 3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin. 4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik. 5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia. 6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik

Menurut Taylor menyelidiki bahwa ada hubungan dengan hal-hal berikut : Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim ini. Selaput ketuban terlalu tipis ( kelainan ketuban ) Infeksi ( amnionitis atau korioamnionitis ) Factor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi, disproporsi, cervix incompetent dan lain-lain. Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi ), dimana ketuban dipecahkan terlalu dini.

2.4. Tanda dan gejala Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

Asuhan keperawatan KPD

Ns. Siswanto, S.Kep 2.5. Anatomi fisiologi Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dan plasma dalam jumlah setara. Elemen- elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Plasma terdiri dari 900 air dan 100 elektrolit, gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat-zat gizi misalnya gula asam amino, lemak, koleesterol, dan vitamin. Protein dalam darah misalnya albumin dan imuno globilin ikut menyusun plasma.

1) Pembentukan Sel Darah Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit di bentuk di hati dan limfa pada sumsum tulang belakang. Proses pembentukan sel-sel darah disebut hematopoiesis.

2) Sel Darah Merah Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis. Fosforilasi oksidatif sel atau pembentuk hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil dari paru-paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Sel darah matang di keluarkan dari sumsum tulang dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disentegrasi dan mati. Sel darah di gambarkan berdasaran ukuran dan jumlah hemoglobin yang terdapat di dalam sel : - Nermositik : sel yang ukurannya normal - Nermokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal - Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil - Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar - Hipokromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu sedikit - Hiperkromik : sel yang sejumlah Hbnya terlalu banyak

3) Hemoglobin Hemoglobin terdiri dari bahan yang mengandung besi yang disebut hem (heme) dan protein globulin. Terdapat sekitar 300 molekul hemoglobin dalam setiap sel darah merah. Hemoglobin dalam darah dapat mengikat oksigen secara partial atau total.

Asuhan keperawatan KPD

Ns. Siswanto, S.Kep 4) Pemecahan Sel Darah Merah Apabila sel darah merah mulai berdisentegasi pada akhir masa hidupnya, sel tersebut mengeluarkan hemoglobinnya kedalam sirkulasi. Hemoglobin diuraikan hati dan limfa. Molekul globulin diubah menjadi asam-asam amino. Besi dismpan dihati dan lmfa sampai di gunakan kembali oleh tubuh. Sisa molekul lainnya diubah menjadi bilirubin, yang kemudian dieksresikan melalui tinja atau urin.

2.6. Patofisiologis Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion. Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam. Manfaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang diakibatkan oleh lingkungannya di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa membuat janin bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain dari air ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa kematangan paruparu janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan sebagainya. Caranya yaitu dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu. Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut : Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh Asuhan keperawatan KPD 9

Ns. Siswanto, S.Kep sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

Patofisiologi Pada infeksi intrapartum : 1) ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar. 2) infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion. 3) mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal). 4) tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.

2.7. Diagnosa Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :

1. Anamnesa Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluanya cairan tersebut tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.

2. Inspeksi Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas. Asuhan keperawatan KPD 10

Ns. Siswanto, S.Kep 3. Pemeriksaan dengan spekulum. pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.

4. Pemeriksaan dalam Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.

5. Pemeriksaan Penunjang 5.1. Pemeriksaan laboraturium Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning. 5.1.a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu. 51.b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.

5.2. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion.

Asuhan keperawatan KPD

11

Ns. Siswanto, S.Kep Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sedehana.

Tabel : Diagnosis Gejala & Tanda Selalu Ada Gejala & Tanda Selalu Ada Ketuban pecah tiba-tiba Keluar cairan ketuban Cairan tampak di introitus Tidak ada his dalam 1 jam Riwayat keluarnya cairan Cairan vagina berbau Demam / menggigil Nyeri perut Uterus nyeri Denyut jantung janin cepat Perdarahan per vagina sedikit Cairan vagina berbau Tidak ada riwayat ketuban pecah Gatal Keputihan Nyeri perut Disuria Nyeri perut Cairan vagina berdarah Gerak janin berkurang Perdarahan banyak Cairan berupa darahlendir Pembukaan & pendataran serviks Ada his Awal persalinan aterm atau preterm Perdarahan antepartum Vaginitis / servisitis Amnionitis Ketuban pecah dini Diagnosis Kemungkinan

Diagnosis infeksi intrapartum febris di atas 38 C (kepustakaan lain 37.8 C) ibu takikardia (>100 denyut per menit) fetal takikardia (>160 denyut per menit) nyeri abdomen, nyeri tekan uterus cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)

Asuhan keperawatan KPD

12

Ns. Siswanto, S.Kep pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.

2.8. Komplikasi 1. Tali pusat menumbung 2. Prematuritas, persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm. 3. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis. 4. infeksi maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterine, korioamnionitis (demam >380C, takikardi, leukositosis, nyeri uterus, cairan vagina berbau busuk atau bernanah, DJJ meningkat), endometritis 5. penekanan tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang), trauma pada waktu lahir dan Premature. 6. komplikasi infeksi intrapartum komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.

2.9. Penatalaksanaan Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS, dan kalau menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek prognosis janin. Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih Asuhan keperawatan KPD 13

Ns. Siswanto, S.Kep biasanya paru- paru sudah matang, chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan sebab utama meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan, infeksi janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau lamanya perode laten.

1. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (> 37 Minggu) Beberpa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi dan komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode latent = L.P = lag period. Makin muda umur kehamilan makin memanjang L.P-nya. Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan dengan sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah.bila dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan,dan bila gagal dilakukan bedah caesar. Pemberian antibiotik profilaksis dapat menurunkan infeksi pada ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan dengan pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam. Beberapa penulis meyarankan bersikap aktif (induksi persalinan) segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat periode laten durasi KPD dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma obstetrik karena partus tindakan dapat dikurangi. Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan

komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang fatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin kepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan mempehatikan bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya < 5, dilakukan pematangan servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria. Asuhan keperawatan KPD 14

Ns. Siswanto, S.Kep 2. Penatalaksanaan KPD pada kehamilan preterm (< 37 minggu) Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaanya bersifat koservatif disertai pemberian antibiotik yang adekuat sebagai profilaksi Penderita perlu dirawat di rumah sakit,ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu, obat-obatan uteronelaksen atau tocolitic agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan. Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan pemberian kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya pematangan paru, jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang umur kehamilan. Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin terjadi intoksikasi. Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan bedan sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan, tidakan bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi intrauterin tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat janin, partus tak maju, dll. Selain komplikasi-kompilkasi yang dapat terjadi akibat tindakan aktif. Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabakan komplikasi yang berbahaya, maka perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga dikatan pengolahan konservatif adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi intrauterin. Sikap konservatif meliputi pemeriksaan leokosit darah tepi setiap hari, pem,eriksaan tanda-tanda vital terutama temperatur setiap 4 jam, pengawasan denyut jamtung janin, pemberian antibiotik mulai saat diagnosis ditegakkan dan selanjutnya stiap 6 jam. Pemberian kortikosteroid antenatal pada preterm KPD telah dilaporkan secara pasti dapat menurunkan kejadian RDS.(8) The National Institutes of Health (NIH) telah merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada preterm KPD pada kehamilan 30Asuhan keperawatan KPD 15

Ns. Siswanto, S.Kep 32 minggu yang tidak ada infeksi intramanion. Sedian terdiri atas betametason 2 dosis masing-masing 12 mg i.m tiap 24 jam atau dexametason 4 dosis masing-masing 6 mg tiap 12 jam.

Asuhan keperawatan KPD

16

Ns. Siswanto, S.Kep BAB III TINJAWAN KASUS

3.1. PENGKAJIAN UMUM

1. Biodata Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat HPHTt Penanggung jawab Nama Usia Jenis Kelamin Islam Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. T : 31 tahun : Laki-laki : Islam : D3 Akutansi : Karyawan : Jl. Purwo pasar lima : Ny. S : 26 tahun : Perempuan : Islam : SMA : Wiraswasta : Jl. Purwo pasar lima : 16 Januari 2009

2. Keluhan utama : pasien mengatakan nyeri pada bangian abdomen.

3. Riwayat kesehatan Pasien mengatakan nyeri pada bagian abdomen setelah melahirkan anaknya. Pasien mengatakan sering merasa kesakitan saat beraktivitas seperti ke toilet. Pasien mengatakan belum pernah mondok di rumah sakit. Tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, DM (Diabetes Mellitus), Hipertensi dan Asma. Didalam anggota keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit keturunan maupun alergi. Pasien menarche pada usia 14 tahun, lama haid 7 hari, warna haid merah segar, siklus haid 28 hari, jumlah pembalut 1 pembalut dalam 1 hari, dan tidak ada keluhan. Menikah pada waktu usia 20 tahun, lama pernikahan sudah 6 tahun, pernikahan yang Asuhan keperawatan KPD 17

Ns. Siswanto, S.Kep pertama, memiliki 1 anak. G1P1A0, melahirkan pd tanggal 9 Oktober 2010, tidak mengalami komplikasi/penyulit, melahirkan dengan normal, di tolong oleh Bidan dengan melahirkan seorang bayi laki-laki dengan BB 1800 gram dengan keadaan kurang sehat. Pasien mengatakan pernah KB.

4. Pola pemenuhan kebutuhan sehari hari : a. Nutrisi Pasien mengatakan makan 3 kali sehari dan memperbanyak sayuran hijau, pasien mengatakan lebih banyak makan sayuran dan buah-buahan, pasien mengatakan minum 7-8 gelas perhari dan diselingi minum kopi, pasien mengatakan tidak ada keluhan. b. Eliminasi Pasien mengatakan selama hamil BAK lebih sering terutama pada trimester ke 3 yaitu 5-6 kali dalam sehari, setelah melahirkan pasien mengatakan BAK 3-4 kali dalam sehari, dan pasien mengatakan BAB 1 kali dalam sehari, pasien mengatakan tidak ada keluhan. c. Istirahat Selama hamil pasien mengatakan tidur selama 7-8 jam pada malam hari dan tidak pernah tidur siang karena bekerja, setelah melahirkan pasien mengatakan tidur selama 7-8 jam pada malam hari dan sering terbangun untuk menyusui bayinya, jika ada waktu senggang pasien lebih sering membaca buku, pasien mengatakan tidak ada keluhan. d. Aktifitas Selama hamil pasien mengatakan selama hamil masih bekerja tapi dengan hati-hati dan tidak terlalu capek, setelah melahirkan pasien mengatakan untuk sementara cuti dari pekerjaannya dulu dan mengurangi kegiatannya dan juga tidak banyak bergerak karena merasa kesakitan, pasien mengatakan masih takut untuk bergerak karena masih merasakan nyeri pada bagian abdomen. e Hygiene Pasien mengatakan selama hamil dan setelah melahirkan mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali sehari, keramas 2 kali dalam 2 hari dan ganti pakaian 2 kali sehari, pasien mengatakan tidak ada keluhan. f. Riwayat psikologis dan spiritual

Asuhan keperawatan KPD

18

Ns. Siswanto, S.Kep Pasien mengatakan sedih dengan kelahiran anak pertamanya dengan

prematur, pasien mengatakan jika keluarganya sangat senang sekali dengan kelahiran anak pertamanya ini, pasien beragama islam dan rajin menunaikan sholat 5 waktu dan rajin berdoa. g. Riwayat sosial budaya Pasien mengatakan hubungan dengan keluarganya cukup harmonis, pasien mengatakan hubungan dengan tetangganya cukup baik, pasien mengatakan selama masa nifas dilarang mertuanya untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu. h. Pengetahuan ibu Pasien mengatakan selama masa nifas harus memperbanyak makan sayuran hijau seperti daun katub untuk memperlancar pangeluaran ASI, pasien mengatakan ASI sangat baik untuk bayinya, untuk pertumbuhan dan perkembangan bayinya dan juga untuk kekebalan tubuh bayinya, pasien mengatakan sedikit paham tentang makanan untuk bayinya, pasien mengatakan akan memberikan ASI eksklusif bagi bayinya selama beberapa bulan kedepan dan jika sudah mulai bekerja akan tetap memberikan ASI eksklusif tapi diselingi dengan susu formula, pasien mengatakan dalam perawatan bayinya masih dibantu oleh keluarganya.

5. Pemeriksaan fisik a. Hasil tanda-tanda vital Keadaan umum pasien baik, kesadaran pasien composmentis, status emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 kali/menit, respirasi 20 kali/menit, suhu 37 C, berat badan 60 kg, tinggi badan 160 cm. b. Keadaan umum Kepala mesochepal tidak ada benjolan, rambut hitam lurus, muka simetris bersih, mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, hidung simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret, telinga simetris, bersih, pendengaran baik, mulut mukosa lembab, gigi bersih, leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroyd, bagian dada pada jantung inspeksi ictus kordis tidak tampak, palpasi ictus cordis tidak tampak, perkusi redup, auskultasi regular, pada paru-paru inspeksi pengembangan dada kanan kiri sama, palpasi tidak terdapat nyeri tekan, perkusi sonor, auskultasi vesikuler, mamae putting Asuhan keperawatan KPD 19

Ns. Siswanto, S.Kep susu menonjol, aerola hiperpigmentasi, ASI dapat keluar, payudara lunak tidak bengkak, abdomen inspeksi terdapat linea nigra, tidak ada nyeri tekan, palpasi tinggi fundus uteri 3 jari dibawah pusat, kontraksi kuat, perkusi tympani, genetalia lochea sangoelenta, warna merah kecoklatan, jumlah pembalut 2 kali dalam 1 hari, ekstremitas atas bawah dapat berfungsi dengan baik tidak ada oedema, tidak ada varises, perenium dan anus terdapat 1 jahitan pada perenium, keadaan luka kering, tidak ada tanda radang. c. Pemeriksaan penunjang Tidak ada pemeriksaan laboratorim yang menunjang. d. Obat-obatan yang sudah didapat Amoxcilliin 500 mg 3 kali 1 tablet, sf 3 kali 1 tablet, antalgin 500 mg 3 kali 1 tablet.

3.2. DATA FOKUS

1. Data subyektif : Pasien mengatakan nyeri pada bagian abdomen, pasien mengatakan nyeri saat bergerak pada luka jahitan, pasien mengatakan skala nyeri 5. 2. Data obyektif : Pasien tampak menahan nyeri, pasien tampak berhati-hati ketika bergerak, pasien menggeleng saat di tanya, tanda-tanda vital tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 37C, respirasi 80 kali/menit, nadi 20 kali/manit.

3.3.. ANALISA DATA PASIEN

1. Data subyektif pasien mengatakan nyeri pada bagian, pasien mengatakan skala nyeri 5, etiologi : adanya luka insisi perineum, problem : resiko tinggi infeksi. 2. Data subyektif pasien mengatakan nyeri saat beraktivitas, data obyektif pasien tampak menahan nyeri, skala nyeri 5, etiologi : inkontinuitas jaringan, problem : gangguan rasa nyaman.

Asuhan keperawatan KPD

20

Ns. Siswanto, S.Kep 3.4. PRIORITAS MASALAH

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/ episiotomy. 2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan.

3.5. RENCANA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi infeksi b/d adanya luka insisi perineum/episiotomy. Kriteria Hasil : infeksi tidak terjadi dengan criteria hasil luka insisi perineum membaik, tidak ada tanda-tanda infeksi.

Intervensi : - observasi tanda-tanda infeksi - jaga kebersihan sekitar luka - kolaborasi dalam pemberian analgetik.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d inkontinuitas jaringan. Kriteria Hasil : nyeri berkurang dengan criteria hasil pasien tampak rileks, skala nyeri 1 : Intervensi : - monitor tanda-tanda vital - kaji tingkatan nyeri - ajarkan teknik relaksasi - beritahu penyebab nyeri - beri posisi yang nyaman - kolaborasi pemberian analgetik. pasien mengatakan nyeri berkurang.

Asuhan keperawatan KPD

21

Ns. Siswanto, S.Kep 3.5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN pada tanggal 21 Otober 2010 dengan diagnose Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy implementasi yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien mengatakan mau diperiksa, respon obyektif tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 37C, respirasi 20 kali/menit, nadi 80 kali/menit, kemudian mengkaji tanda-tanda infeksi dengan respon subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan, respon obyektif keadaan luka kering, terdapat 1 jahitan, pada tanggal 12 Oktober 2010 dengan diagnose Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy implementasi yang dilakukan mengkaji tanda-tanda vital dengan respon subyektif pasien mengatakan mau diperiksa, respon obyektif tekanan darah 120/70 mmHg, suhu 36,8C, respirasi 22 kali/menit, nadi 80 kali/menit, kemudian menjaga kebersihan sekitar luka dengan respon pasien mengatakan nyeri berkurang, respon obyektif luka kering, kemudian melakukan perawatan luka dengan respon subyektif pasien mengatakan mau dilakukan perawatan luka, respon obyektif luka kering, untuk diagnose yang ke 2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan implementasi yang dilakukan memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin istirahat dengan nyaman, respon obyektif pasien tampak nyaman, kemudian mengkaji tingkatan nyeri respon subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang, respon obyektif skala nyeri 1, dan pada tanggal 13 Oktober 2010 dengan diagnose Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan implementasi yang dilakukan mengkaji tingkatan nyeri den gan respon subyektif pasien mengatakan skala nyeri 1, respon obyektif skala nyeri 1, kemudian mengajarkan atau memberikan posisi yang nyaman dengan respon subyektif pasien mengatakan ingin istirahat lebih nyaman, respon obyektif pasien tampak rileks.

3.6. EVALUASI Pada tanggal 11 Oktober 2010 untuk diagnose yang pertama Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy dengan hasil evaluasi subyek pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan, obyektif luka kering, skala nyeri 4, assesement masalah belum teratasi, planning intervensi dilanjuutkan, Asuhan keperawatan KPD 22

Ns. Siswanto, S.Kep pada tanggal 13 Oktober 2010 dengan diagnoasa yang pertama Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perinenum/episiotomy dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang, obyektif luka kering, assesement masalah teratasi, planning intervensi dihentikan , pada diagnose yang ke 2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang, obyektif skala nyeri 2, assesement masalah teratasi sebagian, planning intervensi dilanjutkan, kemudian pada tanggal 15 Oktober 2010 dengan diagnose yang ke 2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan dengan hasil evaluasi subyektif pasien mengatakan nyeri berkurang, obyektif skala nyeri 1, assesement masalah teratasi, planning intervensi dihentikan.

Asuhan keperawatan KPD

23

Ns. Siswanto, S.Kep BAB IV PEMBAHASAN

4.1. TAHAP PENGKAJIAN

Pada pembahasan laporan ini penulis melakukan pengkajian menggunakan metode wawancara dan pengamatan/observasi. Kekuatan dari metode wawancara adalah dapat dilakukan tanpa bantuan alat apapun. Dilakukan secara langsung. Kelemahannya jika dalam perbincangan tidak terarah akan membutuhkan waktu yang lama. Kekuatan metode pengamatan adalah kriteria yang diamati jelas. Kelemahan membutuhkan jangka waktu yang lama.

4.2. DIAGNOSA

1. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul dalam kasus adalah :

a. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perinium/ episiotomy. Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu beresiko terserang agen oportunistik atau patogenik (virus, jamur, bakteri, protozoa dan parasit) dari beberapa sumber baik dari dalam maupun dari luar tubuh (Carpenito, 2000). Resiko infeksi adalah peningkatan resiko untuk terinvasi oleh organism pathogen (Nanda, 2006). Resiko infeksi adalah suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organism patogenik (Wilkinson, edisi 7).Resiko tinggi infeksi dapat ditegakkan bila ada kata mendukung yaitu kemerahan pada kulit sekitar luka, nyeri, oedema eksudat, peningkatan suhu, nadi dan sel darah putih (Doenges, 2000). Diagnosa tersebut ditegakkan karena didapatkan data subyektif, pasien mengatakan ada luka yang dijahit pada perineum. Data obyektif yaitu terdapat 1 jahitan, keadaan luka kering. Suhu tubuh 36,8 C. Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa pertama. Karena bila perawatan luka pasien tidak menggunakan teknik aseptik yang benar dan kondisi daya tahan tubuh yang kurang baik, maka akan terjadi infeksi ( Doenges, 2000). b. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. Asuhan keperawatan KPD 24

Ns. Siswanto, S.Kep Nyeri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perasaan yang tidak nyaman dan berespon terhadap stimulus yang berbahaya (Carpenito, 2000). Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari 6 bulan (Wilkinson, edisi 7). Nyeri adalah pengalaman emosional atau sensori yang tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara actual atau potensial atau menunjukkan adanya kerusakan : serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan (Nanda, 2006). Nyeri ditegakkan bila ada data yang mendukung yaitu melaporkan nyeri insisi, kram, nyeri tekan pada abdomen, perilaku melindungi, wajah kemerahan (Doenges, 2000). Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data-data yang mendukung yaitu data subyektif pasien mengatakan nyeri pada luka jahitan saat bergerak. Data obyektif, pasien tampak menahan nyeri saat bergerak, skala nyeri 4. Penulis memprioritaskan masalah ini menjadi diagnosa kedua karena berdasarkan keluhan yang dirasakan pasien saat itu dan apabila masalah tersebut tidak segera diatasi akan menimbulkan ketidaknyamanan pasien, mengganggu aktivitas klien dan apabila rasa nyeri sudah ditransmisikan oleh syaraf ke otak, maka akan terjadi nyeri hebat dan bisa menyebabkan syok neuroginik.

4.3. INTERVENSI

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy dengan rencana tindakan : monitor vital sign dengan rasional jika ditemukan peningkatan suhu, nadi, diduga terjadi infeksi (Doenges, 2000). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dengan rasional membantu mencegah dan menghalangi penyebaran infeksi dan membantu proses penyembuhan luka (Doenges, 2000). Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan dengan rasional menurunkan kontaminasi silang (Doenges, 2000). Anjurkan untuk menjaga kebersihan luka dan rasional lingkungan yang lembab merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, bakteri dapat berpindah melalui aliran kapiler ke luka insisi (Doenges, 2000). Kolaborasi pemberian antibiotik dengan Asuhan keperawatan KPD 25

Ns. Siswanto, S.Kep rasional dapat mencegah infeksi dan penyebaran kejaringan sekitar aliran darah asalkan baik cara dan dosis sesuai dengan keadaan klien (Doenges, 2000). Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya suhu tubuh, denyut jantung, pembuangan, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, lesi kulit, keletihan dan malaise) (Wilkinson, edisi 7). Informasikan untuk menjaga hygiene pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi (Wilkinson, edisi 7). Ajarkan pasien cara mencuci tangan yang benar (Wilkinson, edisi 7). Berikan terapi antibiotic bila diperlukan (Wilkinson, edisi 7 ).

2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan dengan rencana tindakan : kaji karakteristik, lokasi intensitas dan skala nyeri dengan rasional membantu dalam mengidentifikasi derajat kenyamanan dan kebutuhan untuk keefektifan analgesik (Doenges, 2000). Berikan informasi mengenai penyebab nyeri dengan rasional untuk meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges, 2000). Atur posisi klien senyaman mungkin denganrasional memperlancar peredaran darah serta menurunkan nyeri (Doenges, 2000). Ajarkan teknik relaksasi dengan teknik nafas dalam bila nyeri muncul dengan rasional keadaan rileks meningkatkan kesenganan pasien (Doenges, 2000). Pemberian analgesic (Wilkinson, edisi 7). Penatalaksanaan nyeri : meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyaman yang dapat diterima oleh pasien (Wilkinson, edisi 7).

4.4. IMPLEMENTASI

1. Resiko tinggi infeksi berhungan dengan adanya luka insisi perineum/episiotomy. Tindakan yang dilakukan adalah monitoring tanda-tanda vital rasionalnya jika ditemukan adanya peningkatan suhu, nadi, diduga terjadi infeksi (Doenges, 2000). Melakukan perawatan luka rasional dapat membantu penyembuhan atau penurunan resiko terjadinya infeksi (Doenges, 2000). Kekuatan pasien mau mengikuti : anjuran perawat untuk menjaga lukanya agar tetap kering. Kelemahannya bisa terjadi cross infeksi, biaya akan meningkat karena perawatan bertambah.

Asuhan keperawatan KPD

26

Ns. Siswanto, S.Kep 2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. Tindakan yang dilakukan adalah observasi tanda-tanda vital rasional pada kebanyakan pasien yang mengalami nyeri menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat (Doenges, 2000). Memberitahu pasien penyebab nyeri rasional untuk meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi rasa nyeri (Doenges, 2000). Memberikan posisi yang nyaman rasional memperlancar peredaran darah serta menurunkan nyeri (Doenges, 2000). Menganjurkan pasien untuk tarik nafas dalam jika nyeri menurunkan ketegangan emosional dan dapat meningkatkan perasaan kontrol sebagai mekanisme koping pasien (Doenges, 2000). Kekuatan dari pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik karena adanya keterlibatan pasien yang kooperatif dan mematuhi anjuran tim kesehatan. Kelemhannya pasien kurang yakin tindakan tersebut dapat mengatasi nyeri karena disebabkan nyeri masih timbul.

4.5. EVALUASI

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka insisi perineum/episiotomy. Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang, luka kering, tidak ada pus, masalah teratasi dan tindakan dihentikan.

2. Nyeri berhubungan dengan inkontinuitas jaringan. Evaluasi yang ditemukan : pasien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 1, pasien tampak tenang nyaman. Masalah teratasi dan rencana tindakan dihentikan.

Asuhan keperawatan KPD

27

Ns. Siswanto, S.Kep BAB V PENUTUP 5.1. KESIMPULAN Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup kedunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. ( Rustam

Muchtar, 1998 ). Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm. Penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah: Infeksi, Servik yang inkompetensia, Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus), misalnya (trauma, hidramnion, gemelli), Kelainan letak, Keadaan sosial ekonomi, dan factor lain

5.2. SARAN

Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan study kasus mengenai intrapartum adalah : 1. Kepada masyarakat umumnya dan kepada pasien intrapartum dan keluarga khususnya agar selalu memeriksakan kondisi bayi dan kondisi ibunya setelah melahirkan agar tidak terjadi kondisi kritis. 2. Kepada tenaga kesehatan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya agar pasien mendapatkan kepuasan terhadap pelayanan yang telah diberikan.

Asuhan keperawatan KPD

28

Ns. Siswanto, S.Kep DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Jual. 2000. Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa Monica Sster, S.Kp. Jakarta:EGC. Carpenito, Lynda Jual. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Alih Bahasa Yasmin Asih. Edisi 10. Jakarta:EGC. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Alih Bahasa I Made Kariasi, S.Kp. Ni Made Sumawarti, S.Kp. Jakarta:EGC. Oxorn, Harry. 2003. Patofiologi dan Fisiologi Persalinan Human Labor and Birth. Alih Bahasa Dr Mohammad Hakimi, Ph. D. Jakarta:Yayasan Essentia Medica. Catatan marsinta Maternitas.

Asuhan keperawatan KPD

29

Anda mungkin juga menyukai