Anda di halaman 1dari 8

Peraturan Internal Rumah Sakit dan Staf Medis (Hospital Bylaws dan Medical Staff Bylaws) Tujuan Instruksional

Umum 1) Menjelaskan pentingnya keberadaan Peraturan Internal Rumah Sakit (PIRS, Hospital Bylaws) dan Peraturan Internal Sta Medis (PISM, Medical Staff Bylaws) !) Menjelaskan peranan tiga pilar utama (tiga tungku sejerangan) di rumah sakit ") Menjelaskan pentingnya men#apai good governance dalam pengelolaan rumah sakit $) Meran#ang PIRS dan PISM se#ara taylors made Tujuan instruktional khusus 1) %eputusan Menteri %esehatan RI &o' ((!)Menkes)S%)*I)!++! !) %eputusan Menteri %esehatan RI &o',"1)Menkes-S%)I*)!++. ") %erangka dasar dalam menyusun PIRS dan PISM $) /ungsi PIRS dan PISM Pokok 0ahasan 1) Pengertian 0yla1s !) Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws) ") Peraturan Internal Sta Medis (Medical Staff Bylaws) $) Meran#ang PIRS dan PISM

Peraturan Internal Rumah Sakit dan Staf Medis (Hospital Bylaws dan Medical Staff Bylaws) Perkembangan baru tentang perlunya berbagai peraturan dan ketentuan hukum yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit pada masa kini adalah mengenai Hospital Bylaws (203) dan Medical Staff Bylaws (MS03)' %edua peraturan ini telah dilansir sejak a1al abad ke !1 oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (P4RSI) dalam Seminar &asioanal I* dan 2ospital 45po 6I* di 7akarta tahun !++1, kemudian diperkuat dengan diterbitkannya %eputusan Menteri %esehatan RI &o' ((!)Menkes)S%)*I)!++! tenytang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit ( Hospital Bylaws) serat %eputusan Menteri %esehatn RI &o',"1)Menkes)S%)I*)!++. tentang Pedoman Peraturan Internal Sta Medis (Medical Staff Bylaws) di rumah sakit' Pada masa sekarang peraturan seperti ini diperlukan karena RS sudah berobah dari tempat pelayanan sosial menjadi pelayanan sosio8ekonomis yang memerlukan manajemen yang rumit' 9iperlukan banyak tenaga kesehatan maupun tenaga lainnya, peralatan dan sistem yang dapat menunjang pengelolaan dan kelan#aran pelayanan kesehatan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi' :palagi dihadapkan dengan masyarakat

yang #enderung menuntut dokter maupun rumah sakit untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang makin baik' %ita harus membedakannya dengan 2ukum Rumah Sakit karena yang ini adalah ketentuan hukum yang dikeluarkan pemerintah yang bersi at umum dan berhubungan dengan pemeliharaan dan pelayanan kesehatan, sementara 203 dan MS03 dibuat rin#i oleh dan untuk keperluan rumah sakit yang bersangkutan (tailor made)' 9apat dikatakan 203 dan MS03 adalah perpanjangan tangan hukum untuk kepentingan internal rumah sakit sendiri' Pada masa sekarang ketentuan dan peraturan hukum ini diperlukan sebagai bahan rujukan dalam menyelesaikan masalah internal di rumah sakit itu sendiri' Itu tidak sekadar dalam hubungan dokter dan pasien tetapi jauh lebih luas yaitu kerangka hukum dan lingkup hubungan hukum di suatu rumah sakit' 9alam hal akreditasi yang dilakukan pemerintah terhadap rumah sakit, maka isi dari 203 dan MS03 ini akan menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam menilai kejelasan dari peraturan serta prosedur yang dibuat oleh rumah sakit itu sendiri' 2ilman (!++$) sebagai %etua P4RSI menyatakan ; 8 Tanpa 203, %ode 4tik Rumah Sakit Seluruh Indonesia tidak punya arti 8 Tanpa 203, rumah sakit sangat ra1an terhadap kon lik, dan ra1an terhadap kolusi, koneksi dan nepotisme (%%&) 8 Tanpa 203, kon lik yang terjadi di RS akan sulit diselesaikan dan sulit di#egah 8 Tanpa 203, rumah sakit ditentukan oleh <siapa yang kuat=, Pemilik, 9irektur atau para dokter 8 0elum dimilikinya 203,bukan berarti tidak dapat berbuat apa8apa, jadikan >aturan intern< yang ada sebagai modal a1al) sebagao embrio dari 203 untuk setiap kali disempurnakan 8 203 diperlukan guna menjamin rumah sakit sebagai lembaga pro esi yang selfgovernance dan guna tegaknya 1iba1a'

Pengertian Bylaws' 9isebut Bylaws karena produk hukum itu merupakan perpanjangan ketentuan hukum yang ada dari pemerintah pusat maupun daerah yang dibuat oleh organisasi atau badan hukum, termasuk rumah sakit' 0eberapa pengertian dari kepustakaan dijelaskan bah1a bylaw atau bye-law adalah ; 8 ''' to govern internal function or practice within that group, ''''''' 8 ? for its internal governance 8 ? A rule adopted by organisation (as a club or municipality) chiefly for the government of its members and regulation of its affair 8 ! laws" rules" regulation manifestoes" orders and constitution of cooperation" for governing their members 8 ! #he medical staff organisation shall purpose and adopt bylaws" rules and regialtion for its internal governance which shall effective when approved by Board #his bylaws shall create an effective administrative unit to discharge the function and responsibilities asssign to the medical staff by the Board

9engan demikian 203 dan MS03 berisi ketentuan hukum dan peraturan8peraturan yang dibuat dengan sistematis oleh rumah sakit, mengatur semua manajemen dalam suatu rumah sakit itu sendiri' 9alam bahasa Indonesia dapat diartiakkan 203 dan MS03 sebagai Peraturan 9asar atau Peraturan Internal Rumah Sakit dan Peraturan 9asar atau Peraturan Internal Sta Medis Peraturan Internal Rumah Sakit (PIRS, Hospital Bylaws) 9alam rangka pelaksanaan good governance ( pengelolaan yang baik, mekanisme kendali suatu badan usaha terhadap unsur8unsurnya agar berperilaku se#ara adekuat) untuk memelihara eksistensi badan usaha tersebut baik dalam korporasi maupun pelayanan klinis di rumah sakit diperlukan adanya peraturan yang jelas tentang peran, tugas, ke1ajiban, ke1enangan, tanggung ja1ab dan hubungan kerja dari berbagai pihak terkait dalam terselenggaranya pelayanan kesehatan di rumah sakit' 9i antara demikian banyak pihak terkait dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti dokter, pera1at, karya1an, penyandang dana, pasien, manajerial, rekanan dan lain8lain, ada " badan atau pilar utama yang memerlukan pengaturan hubungan yang jelas sehingga keberadaan RS dalam pelayanan kesehatan dapat berjalan aman dan bermutu' %etiga badan tersebut adalah; pemilik (yang di1akili oleh badan pengampu atau 1ali amanah), pimpinan atau badan eksekuti dan sta medis' %etiga pilar utama ini dapat diibaratkan sebagai tripartit, tritunggal atau tiga tungku sejerangan dalam hadirnya rumah sakit dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat' %etiganya merupakan satuan ungsional yang berbeda tugas dan tanggung ja1ab, tetapi harus berkerjasama se#ara integrati dalam shared accountability' Tidak satupun dari ketiga kekuasaan ini dapat berjalan jika tidak didukung oleh dua yang lain' Ini merupakan #iri khas rumah sakit yang berbeda dengan institusi atau organisasi yang lain' Pemilik rumah sakit atau yang me1akili pemilik sebagai 1ali amanah atau badan pengampu mempunyai otoritas pemanduan' Pimpinan,direksi atau badan eksekuti mempunyai ungsi sebagai motor penggerak sedangkan sta medis adalah pelaku utama (core business) yang saat ini jumlah dan jenis spesialisasinya semakin bertambah dan berkembang' Supaya masing8masing pihak dapat memahami peran, tugas, 1e1enang dan tanggung ja1ab maka perlu dibuat dan disusun dalam satu peraturan yang jelas' Untuk dapat merealisasikan penyusunan Peraturan 9asar atau Peraturan Internal Rumah Sakit oleh setiap rumah sakit, maka Menteri %esehatan menerbitkan pedoman yaitu Surat %eputusan Menteri %esehatan RI' &o' ((!) Men%es) S%) *I)!++! tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws)' 9i dalam surat keputusan ini terdapat juga tentang penyusunan Medical Staff Bylaws %emudian surat keputusan ini disempurnakan dengan menerbitkan lagi %eputusan Menteri %esehatan RI &o' ,"1) Men%es) S%) I*)!++. tentang Pedoman Peraturan Sta Medis (Medical Staff Bylaws) se#ara khusus' 9ari akta yang terlihat, pemilik dapat dari &egara atau dari s1asta' Pemilik dari &egara yang dapat berbentuk perusahaan jabatan (perjan) atau non perjan, 0adan Usaha Milik &egara (0UM&), 0adan Usaha Milik 9aerah (0UM9) atau 0adan 2ukum Milik &asional atau milik 9aerah' Pemilik s1asta bisa dari pemodal (PT, koperasi, pribadi, keluarga) dan bisa bukan pemodal (dari perkumpulan atau yayasan)' 9ari ka#amata ini dapat dipahami bila pemilik perlu di1akili oleh suatu badan pengampu atau 1ali amanah' 9engan demikian ketiga pilar tersebut adalah 0adan Pengampu, Pimpinan)

9ireksi)4ksekuti dan Sta Medis' Perlu diatur tentang #orporate leadership antara 0adan Pengampu dengan 9ireksi, clinical leadership antara 9ireksi dengan %omite Medis)Sta Medis /ungsional' %erjasama yang baik di antara ke tiga badan ini dapat melahirkan corporate governance melalui kebijakan 9ireksi dan clinical governance melalui %omite medik dalam komunitas sta medik' 2arus dipahami bah1a dalam hubungan ketiga pilar ini, pengampu adalah penanggung8 ja1ab tertinggi dalam bidang hukum dan peraturan yang diterbitkan dan disetujui oleh Pemilik' %erangka dasar yang perlu diatur dan dijelaskan adalah tentang ; 1' %ontitusi korporasi (:9, :RT dari PT) @ayasan, aset rumah sakit dan lain8lain) !' Peraturan perundang8undangan tentang rumah sakit (Hospital law) "' %ebijakan %esehatan Pemerintahan setempat (%ebijakan 9inas %esehatan) $' Hospital Bylaws (Peraturan Internal Rumah Sakit, Statuta) .' %ebijakan) Peraturan Penyelenggaraan Rumah Sakit ( Standard $perating %rocedure pada setiap bagian atau pelayanan, &ob description dan lain8lain) ,' :turan 2ukum Umum (%U2Perdata, %U2P, Undang8undang Tenaga %erja) Samsi 7a#obalis dalam %roposal Model Hospital Bylaws untuk rumah sakit di Indonesia dalam pandangannya tentang >Rumah Sakit 9ari Pendekatan Manajemen Strategis< seperti yang dikutip oleh 2erkutanto dalam Pelatihan Peningkatan %eterampilan Medikolegal di rumah sakit tahun !++$ di RS'2':dam Malik menjelaskan perlunya Pemilik mempunyai Aisi tentang keberadaan rumah sakit, disertai tujuan dan nilai utama yang didukung oleh analisis situasi baik eksternal, internal dan trend pelayanan kesehatan sesuai perkembangan' 0adan Pengampu yang dapat merumuskannya dalam misi dan tujuan keberadaan rumah sakit disertai dengan strategi dan kebijakan yang perlu ditempuh' Rumusan ini harus dapat di implementasikan se#ara strategis oleh 9ireksi dan Sta klinis dalam program8program yang perlu dilaksanakan serta anggaran yang diperlukan' 2asil dari kejasama ini perlu dipantau dan dia1asi 0adan Penga1as berdasarkan hasil pelaksanaan semua kebijakan dan pelayanan yang telah dilaksanakan melalui eAaluasi dan bila perlu mengoreksi kesalahan atau kekeliruan yang mungkin terjadi' 9engan demikian inti dan esensi dari 203 adalah mengatur pembagian tugas, ke1ajiban dan 1e1enang se#ara jelas, tegas dan proporsional antara ketiga komponen tersebut, pedoman bagi rumah sakit dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan dapat mengeliminir setiap #elah kon lik kepentingan yang dapat terjadi' 9engan demikian dapat dikatakan 203 ber ungsi sebagai 1) :#uan untuk Pemilik rumah sakit dalam melakukan penga1asan !) :#uan untuk 9irektur dalam mengelola rumah sakit ") :#uan untuk 9irektur dalam menyusun kebijakan operasional $) Sarana untuk menjamin e ekti itas, e isiensi dan mutu pelayanan .) Sarana perlindungan hukum bagi semua pihak yang terkait dengan rumah sakit ,) :#uan dalam menyelesaikan kon lik di rumah sakit :dalah keliru kalau mengasumsikan 203 adalah peraturan tehnis operasional, Standard $perating %rocedure dan peraturan8peraturan dari 9ireksi rumah sakit

Peraturan Internal Staf Medis ( PISM, Medical Staff Bylaws)' Pada dasarnya Peraturan Internal Sta Medis tergolong kedalam 203, namun karena bagian ini memerlukan pengaturan dan kejelasan tersendiri, maka dalam penyusunan dipisah dari 203' 9engan demikian 203 hanya mengatur tentang komponen administrati (:dministrative Bylaws) yang mengatur pembagian tugas, ke1ajiban, 1e1enang dan tanggung ja1ab antara Pemilik, BoAernment 0ody (Majelis Cali :manah) dan pimpinan atau direksi rumah sakit' Pemisahan ini perlu dilakukan karena sta medis mempunyai #iri sendiri di rumah sakit' Sta medis adalah pengelola #ore bussines di rumah sakit' 0erbeda dengan tenaga kesehatan lainnya yang bekerja di rumah sakit yang terikat dengan jam dinas dan jam kerja yang diatur sesuai dengan jad1al dinasnya dan peraturan kepega1aian, dokter memiliki kemandirian dan kebebasan pro esi dalam mengambil keputusan klinis pada pasien sesuai standar pro esi, kompetensi dan standar pelayanan medis' Sta medis pada aktanya tidak terikat dengan satu unit kerja saja, bisa berpindah tempat lebih dari saru unit kerja seperti di Poliklinik, ra1at jalan, ra1at inapdan mungkin melakukan operasi di unit lain, sehingga peraturan kepega1aian rumah sakit tidak dapat diterapkan seluruhnya untuk sta medis' Dleh karena itu perlu ada peraturan tersendiri yang dapat mengatur sta medis se#ara internal' Untuk menjaga mutu pelayanan dan tanggung ja1ab medis, maka sta pro esi diharapkan dapat melakukan sel goAerning, sel #ontrolling dan sel dis#iplining' Setiap sta medis di rumah sakit harus menyadari bah1a praktek di rumah sakit berbeda dengan praktek pribadi di rumah sebab dokter, dokter gigi,dokter (dan dokter gigi) spesialis mempunyai otonomi kolekti dan mempertanggung8ja1abkan pelayanan ke pimpinan le1at %omite Medik Dleh karena itu setiap dokter harus mentaati semua prosedur dan standar pelayanan yang berlaku' 9alam Peraturan Internal Sta Medis diatur tentang 1) &ama dan tujuan pengorganisasian sta medis !) %eanggotaan sta medis ") %ategori sta medis ; dokter tetap, tamu, konsultan, sta pengajar, residen serta pengaturan 1e1enag dan tanggung ja1ab $) Pelayanan medik .) %omite medik ,) Pengaturan mengenai jasa medis () Mekanisme reAie1 dan reAisi E) Pengaturan yang terkait dengan ke1ajiban dokter dalam mengisi Rekam Medis, Persetujuan Tindakan Medik dan lain8lain' Merancang PIRS dan PISM Bu1andi mengemukakan kita tida dapat meniru begitu saja PIRS dan PISM Aersi Indonesia dengan men#ontoh apa yang telah disusun dan dirumuskan di luar negeri karena perbedaan latar belakang sejarah, sosial budaya, kebiasaan dan pertimbangan hukum' %ita harus mempunyai peraturan di bidang perumah sakitan yang sesuai dan selaras dengansosial budaya kita sendiri' 9alam bukunya Merangkai Hospital Bylaws < Rumah

Sakit :nda< dengan Aersi Indonesia (!++$) mengemukakan salah satu #ontoh yang dapat digunakan' 9alam garis besar susunan PIRS adalah sebagai berikut ; 1' :nggaran 9asar (:9) !' :nggaran Rumah Tangga (:RT) "' Peraturan Rumah Sakit 8 0idang Medik 8 0idang Umum $' Surat %eputusan' .' Pengumuman 9i Indonesia dibuat berjenjang demikian agr penyusun menyadari dari a1al agar peraturan lebih rendah yang disusun tidak bertentangan dengan yang lebih tinggi, misalnya yang terdapat dalam :9':9 yang dibuat dengan akte notaris disahkan oleh 9epartemen %ehakiman dan diumumkan dalam 3embaran &egara' :RT memuat garis8garis besar dan peraturan dasar yang penting8penting saja yang berhubungan dengan tugas manajemen sehari8hari meliputi ; *isi dan misi, struktur organisasi, kebijakan8kebijakan strategis, urutanjenjang peraturan dasar di RS, hubungan antara pemilik dan direktur rumah sakit (direksi), hak dan ke1ajiabn, batas ke1enangan dan tanggung ja1ab direktur, rapat berkala, kedudukan dan ungsi komite medik, masa jbatan direktur dan lain8lain' Peraturan rumah sakit adalah peraturan8peraturan yang dibuat berdasrkan kebijakan yang telah ditentukan menyangkut manajemen rumah sakit' Untuk yang bersi at strategis biasanya ditentukan oleh direktur dan sta , seperti standar prosedur tetap di setiap pelayanan kesehatan di rumah sakit, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, komite medik, hubungan dengn tenaga medis, panitia etik kedokteran dan lain8lain 9alam Aersi yang dikemukakan dalam Pedoman 203 dan MS03 yang dikeluarkan oleh 9epartemen %esehatan RI, 9irektorat 7enderal Pelayanan Medik, 9irektorat Pelayanan Medik dan Bigi Bigi Spesialistik (!++!) disusun lebih rin#i dengan susunan 1' &ama, tujuan dan iloso i rumah sakit !' Pengaturan tentang BoAerning 0ody "' Pengorganisaian $' Mekanisme Penga1asan .' 9irektur rumah sakit ,' Mekanisme reAie1 dan reAisi (' Tujuan dan ungsi MS03 E' %eanggotaan, kategori sta medis F' Pelayanan medik meliputi ; jenis, mekanisme, tugas dan tanggung ja1ab, peran pengampu dan residen 1+' Upaya peningkatan mutu ; #lini#al risk manajemen, audit medis, monitoring dan eAaluasi mutu pelayanan, mekanisme penga1asan dll 11' %omite medik 1!' 7asa medis 1"' 9an lain8lain

9alam menyusus tentu masing8masing rumah sakit dapat mengembangkan sesuai denganpola dan kebutuhan masing8masing rumah sakit' Makin besar dan kompleks organisasi, sarana pelayanan rumah sakit dan sesuai dengan Aisi, misi rumah sakit tentu semakin dibutuhkan peraturan yang lebih luas' %epustakaan' 1' Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws), 9epartemen %esehatan RI, 9irektorat 7enderal Pelayanan Medik, 9irektorat Pelayanan Medik dan Bigi Spesialistik, !++! !' Bu1andi 7, Merangkai Hospital By 'aws < Rumah Sakit :nda= dengan Aersi Indonesia, /akultas %edokteran UI,'!++$' "' Bu1andi 7, 2ospital 3a1 (4merging do#trines G 7urispruden#e), /akultas %edokteran UI, !++!' $' Sampurna 0, 2ospital 0y83a1s, disampaikan pada ; Seminar &asional I* dan 2ospital 45po 6I* Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Inbdonesia, 7akarta &oA' !++1' .' Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws) RSUP' 2' :dam Malik Medan'

3angkah8langkah penyusunan 203 dan MS03

0agian ini perlu dikemukakan, karena ternyata tidak mudah untuk membuat dan menyusun peraturan internal' %arena kedua produk hukum internal ini dibuat dan berlaku hanya di RS yang bersangkutan (tailor made), maka semua komponen yang berada di RS tersebut harus dilibatkan' 3angkah8langkah tersebut paling tidak meliputi ; 1) Pembentukan Tim Penyusun, 1akil81akil dari semua komponen yang terkait !) Pertemuan Tim Penyusun untuk menyampaikan tujuan dan isi kedua peraturan' ") Melakukan legal audit $) Penyusunan dra t 203 dan MS03 .) Pembahasan dra t ,) Penyempurnaan dra t () Sosialisasi E) Monitoring dan 4Aaluasi 3angkah8langkah yang disusun diatas hanyalah sebagai gambaran umum saja, tentu perlu disesuaikandengan kebutuhan RS setempat'

Anda mungkin juga menyukai