Anda di halaman 1dari 15

TEORI BELAJAR MENURUT JEROME BRUNER uhmmm,,,baiklah,,kali ini saya akan mencoba membahas mengenai ""Teori Belajar Menurut

Jerome Bruner". Saya mengumpulkan informasi mengenai sebenarnya dalam rangka memenuhi tugas BDP yang pada semester lalu baru saya tempuh bersama dengan ade tingkat *saya tlat menempuhnya :( Jadi,,inilah hasilnya :

Jerome Bruner

Teori belajar Bruner dikenal dengan tiga tahapan belajarnya yaitu, enaktif, ikonik dan simbolik. Pada dasarnya setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa yang ada di dalam lingkungannya dapat menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa yang dialaminya. Sebelumnya, hanya untuk informasi bahwa Jerome Bruner lahir di New York tahun l915. Bruner
seorang profesor psikologi di Harvard University 1952-1972 dan di Oxford University 1972-1980. la menghabiskan waktunya di New York University School of Law dan New School For Social Research di New York City. Lebih 45 tahun Bruner menekuni psikologi kognitif sebagai suatu alternatif teori behavioristik dalam psikologi sejak pertengahan abad 20. Pendekatan kognitif Bruner menjadikan reformasi pendidikan di Amerika Serikat dan juga di Inggris. Selain sebagai psikolog, ia juga termasuk Dewan Penasehat Presiden bidang sains pada masa Pesiden Jhon F. Kennedy dan Jhonson serta banyak menerima penghargaan dan kehormatan termasuk International Baldan Prize, medali emas CIBA untuk riset dari Asosiasi Psikologi Amerika.

Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar dan berfikir. Dalam mempelajarai manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Pandangan terhadap belajar

yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu, didasarkan pada dua prinsip, yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model mengenai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu. Menurut Bruner dalam proses belajar ada tiga tahap, yaitu:

1. Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru dimana dalam setiap pelajaran diperoleh sejumlah informasi yang berfungsi sebagai penambahan pengetahuan yang lama, memperluas dan memperdalam dan kemungkinan informasi yang baru bertentangan dengan informasi yang lama. 2. Tahap tansformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk yang baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, yaitu informasi harus dianalisis dan ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konsetual agar dapat digunakan dalam hal lebih luas. 3. Tahap evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil transformasi pada tahap ke dua benar atau tidak. Evaluasi kemudian dinilai sehingga diketahui mana-mana pengetahuan yang diperoleh dan transformasi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.

Kajian Bruner menekankan perkembangan kognitif. Ia menekankan cara-cara manusia berinteraksi dalam alam sekitar dan menggambarkan pengalaman secara mendalam. Menurut Bruner, perkembangan kognitif juga melalui tiga tahapan yang ditentukan cara melihat lingkungan, yaitu enaktif (0-2 tahun), ikonik (2-4 tahun), dan simbolik (5-7 tahun).

1. Tahap enaktif (0-2 tahun), seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya dalam memahami dunia sekitarnya, anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan dan sebagainya. 2. Tahap ikonik (2-4 tahun), seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya, anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komperasi)

3. Tahap simbolik (5-7 tahun), seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang seseorang dalam proses pemikirannya, semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi sistem enaktif dan ikonik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu bukti masih diperlukannya sistem enaktif dan ekonik dalam proses belajar.
Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda. Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Misalnya sebuah segitiga tidak menyatakan konsep kesegitigaan. Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan dari pada objek-objek, memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinankemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial. Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini, tentang pelajaran penggunaan timbangan. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan prinsip-prinsip timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. Bayangan timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen.

BRUNER-PENGASAS TEORI KOGNITIF

Seymour Jerome Bruner

Seymour Jerome Bruner telah dilahirkan di New York pada 1 Oktober 1915. Insan yang lebih dikenali sebagai J.Bruner ini merupakan bapa kepada teori psikologi kognitif. Anak kepada Herman dan Rose (Glickmann) Bruner, telah dilahirkan buta dan tidak dapat melihat setelah dijangkiti katarak sewaktu beliau masih bayi. Bruner bersekolah di sekolah umum, lulus dari sekolah tinggi pada tahun 1933, dan masuk Duke University di mana ia mengambil jurusan psikologi, mendapat gelaran AB pada tahun 1937. Bruner kemudian mengejar kajian pascasarjana di Harvard University, menerima MA pada 1939 dan Ph.D. pada tahun 1941. Semasa Perang Dunia II, beliau berkhidmat di bawah Jeneral Eisenhower di Perang Psikologis Divisi Markas Tertinggi Bersekutu Expeditionary Force Eropah. Beliau memainkan peranan yang penting dalam perancangan Projek Medison, suatu kurikulum matematik moden di Amerika Syarikat.

Antara pencapaian yang telah diperolehi oleh berliau adalah seperti, BA, Duke University, 1937, PhD, Harvard, 1941 (psikologi), Profesor psikologi di Harvard (1952-1972), Profesor psikologi di Oxford (19721980), CIBA Pingat Emas, 1974, untuk "kajian khas dan asli", Balzan Prize pada tahun 1987 untuk "sumbangan untuk memahami fikiran manusia" serta Fellow, American Academy of Arts and Sciences.

MAKLUMAT TEORI

Jerome Bruner telah banyak menghasilkan penulisan dalam bidang teori-teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Kebanyakkan hasil penyelidikan beliau, terutama bukunya yang berjudul The Process of Education, telah menjadi bahan rujukan yang penting dalam menggubal kurikulum matematik moden di kebanyakkan negara.

Bruner telah mengembangkan teori pembelajaran konstruktivis, di mana, antara lain, beliau telah menggambarkan proses pembelajaran, situasi yang berbeza dari perwakilan dan karakteristik teori Arahan. Bruner telah mengambil banyak karya Jean Piaget.

BELAJAR

Belajar pada dasarnya adalah kategori yang terjadi untuk memudahkan interaksi dengan realiti dan memudahkan tindakan. Kategori tersebut berkait rapat dengan proses seperti pemilihan maklumat, generasi proposal, fasilitasi, proses membuat keputusan dan pembinaan dan ujian hipotesis. Murid yang belajar berinteraksi dengan realiti menetapkan kemasukkan yang sesuai dengan kategori mereka sendiri. Di mana mereka akan menentukan kategori konsep yang berbeza.

Hal ini kerana ini kerana belajar adalah sebuah proses aktif dari persatuan dan pembinaan. Konsekuensi lain merupakan struktur pengetahuan para pelajar yang sebelumnya (model mental mereka dan skim), merupakan faktor penting dalam belajar. Ini memberi makna kepada organisma untuk menimba pengalaman dan membolehkannya untuk membentuk suatu media seperti peraturan ini:

a) menentukan sifat-sifat penting dari para ahlinya, termasuk komponen esensialnya.

b) menggambarkan bagaimana mereka harus diintegrasikan komponen penting.

c) menentukan batas-batas toleransi atribut yang lain untuk ahli termasuk ke kategori.

Bruner membezakan dua proses yang berkaitan dengan kategori: pembentukan konsep (mempelajari konsep yang berbeza) dan konsep Tingkat (mengenalpasti sifat yang menentukan kategori). Bruner berpendapat bahawa pembentukan konsep merupakan proses yang terjadi lebih semua daripada konsep pada orang 0-14 tahun, sementara konsep konsep Tingkat pembentukan berlaku bukan dari usia 15 tahun.

Menurut Bruner (1973), konsep boleh di kelaskan kepada tiga kategori, iaitu konsep konjuntif, konsep disjuntif dan konsep hubungan.

Konsep konjuntif-Merujuk kepada konsep yang mempunyai beberapa atribut yang tergabung dan tidak boleh dipisahkan ataupun dikurangkan. Apabila atribut ini diketepikan, maka, konsep tersebut menjadi kurang lengkap. Konsep disjuntif-Merujuk kepada atribut-atribut yang tergabung di dalam konsep ini boleh digunakan dalam satu situasi ataupun situasi yang lain. Konsep hubungan-Merujuk kepada kepada hubungan khas antara satu sama lain yang wujud diantara antribut-antribut tersebut. Kebanyakkan hubungan ini biasanaya terdiri daripada antribut-antribut yang mengandungi masa dan ruang. Bruner berpendapat, fungsi konsep utama adalah menyusun maklumat kepada sifat-sifat umum bagi sesuatu kumpulan objek atau idea, dengan bertujuan memudahkan pengurusan agar lebih ringkas, mudah difahami, mempelajari serta mengingati. Bahasa ialah perwakilan penting dalam perkembangan kognitif manusia. Beliau mempercayai manusia mula menggunakan tindakan sebagai usaha memahami alam sekitar, dan apabila tindakan tidak mencukupi, ia akan bertukar kepada penggunaan gamabar atau perwakilan simbol di mana bahasa memainkan peranan.

ASPEK TEORI PEMBELAJARAN


Bruner berpendapat bahawa setiap mempertimbangkan empat aspek berikut: 1) kecenderungan terhadap pembelajaran 2) bagaimana pengetahuan boleh ditetapkan sehingga yang terbaik untuk diinternalisasi oleh pelajar 3) urutan paling efektif dalam menyajikan bahan bantu mengajar 4) Sifat dari hadiah dan ganjaran. teori Arahan harus

IMPLIKASI TERHADAP PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN Berikut adalah implikasi dari teori Bruner dalam pendidikan: a) Teorem pembelajaran Matematik Dalam mengenal pasti faktor-faktor yang terlibat Bruner dan Kenny (pembantunya) telah membuat pemerhatian di dalam kelas Matematik. Hasilnya mereka telah Berjaya membina empat teorem pembelajaran seperti berikut: Teorem Pembinaan Merupakan cara paling berkesan bagi seorang pelajar mempelajari konsep, prinsip atau hukum matematik. Caranya dengan membina perwakilan untuk konsep, prinsip mahupun Matematik tersebut. Para pelajar perlulah menjalankan aktiviti-aktiviti konkrit agar mereka lebih memahami. untuk adalah hukum sendiri

Teorem Tatatanda Tatatanda Matematik ini perlulah mengikut tahap perkembangan kognitif pelajar itu sendiri. Ianya perlulah bermula dari mudah ke sukar mengikut tahap pemikiran pelajar pada waktu itu. Teorem Kontras dan Variasi Operasi ini terjadi apabila terdapat prosedur perkenalan perwakilan abstrak daripada perwakilan konkrit. Konsep Matematik kebanyakkannya tidak memberikan makna kepada pelajar jika mereka tidak dapat membezakan konsep yang lain. Konsep nombor ganjil dan nombor genap perlu dijelaskan dengan membandingkan sifat-sifat yang berbeza dalam kedua-dua jenis nombor tersebut. Teorem Perhubungan Konsep, prinsip dan kemahiran Matematik adalah saling berkaitan dengan kemahiran yang lain. Di dalam proses pembelajaran, guru perlu bijak mengaitkan konsep-konsep, prinsip-prinsip atau kemahiran yang baru kepada pelajar.

b) Strategi pengajaran dan pembelajaran Matematik

Seseorang murid belajar dengan cara menemui strukturkonsep-konsep yang dipelajari. Oleh yang demikian, Bruner berpendapat kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciriciri persamaan dan perbezaan. Selain itu, pengajaran adalah berdasarkan rangsangan murid tersebut terhadap pengetahuan sedia

ada mereka. Beliau turut mengatakan bahawa pembelajaran Matematik akan menjadi lebih mudah dengan penggunaan symbol untuk mewakili konsep-konsep yang berbentuk abstrak.

c) Prinsip-prinsip pengajaran-pembelajaran

Melalui buku tulisan Bruner (1966) yang berjudul Toward a Theory of Instruction, beliau menghuraikan empat prinsip pengajaranpembelajaran berlandaskan teori yang dikemukakan oleh beliau sendiri.

Prinsip motivasi

Bruner mempercayai bahawa kanak-kanak yang baru masuk sekolah mempunyai dua jenis motivasi diri, iaitu intrinsik ingin tahu dan dorongan mencapai kecekapan. Intrinsik ingin tahu adalah satu motivasi yang mendorong minat kanak-kanak terhadap benda di sekeliling mereka. Manakala, dorongan untuk mencapai kecekapan diri adalah aktiviti yang menggerakkan mereka untuk mencuba secara rela hati dengan menyempurnakannya sendiri disamping saling bersaing sesame mereka.

Prinsip struktur

Prinsip struktur memberikeutamaan terhadap isi pelajaran yang sesuai dengan bentuk pengajaran, dan apa jenis bentuk pengajaran yang sesuai digunakan kepada murid itu sendiri. Bruner mencadangkan, penggunaan prinsip pengajaran daripada konkrit kepada abstrak.

Prinsip sekuen

Mengikut Bruner, prinsip ini boleh dibahagikan kepada dua, iaitu prinsip sekuen yang pertama (prinsip kesediaan). Di mana pada peringkat ini guru perlu menggunakan set induksi untuk menimbulkan motivasi yang berterusan kepada murid agar aktiviti pembelajaran akan menjadi lebih mudah dan berkesan. Prinsip seterusnya adalah prinsip sekuen yang kedua. Prinsip ini adalah penggunaan dan perlaksanaan kaedah dan teknik mengajar. Kaedah dan teknik mengajar perlulah seimbang dengan perkembangan kognitif murid pada waktu itu. Secara tidak langsung, ianya dapat mempertingkatkan daya keupayaan mental kanak-kanak. Prinsip sekuen ini dapat menghubungkaitkan pengalaman baru dengan pengalaman lama serta keberkesanan pembelajaran dapat ditingkatkan.

Prinsip peneguhan

Bruner mencadangkan penggunaan kaedah inkuiri-penemuan sebagai strategi pengajaran-pembelajaran untuk member kesempatan kepada kanak-kanak membuat kajian sendiri, agar mereka akan memperolehi kepuasan daripada dapatan kajiannya, demi menghasilkan peneguhan positif yang diharapkan.

d) Pembelajaran inkuiri-penemuan (Discovery Learning)

Kaedah ini digunakan untuk aktiviti pengajaran dan pembelajaran di peringkat sekolah. Sehubungan dengan itu, guru perlulah mengatur situasi pembelajaran untuk pelajar mereka dalam mengenal pasti masalah yang ditimbulkan, memahami dan menganalisisnya serta berusaha mencari alternatif jawapan sendiri.

e) Pembelajaran konsep hukum dan prinsip melalui pendekatan induktif

Pendekatan induktif melibatkan aktiviti mengumpul dan mentafsir maklumat, kemudian membuat generalisasi atau kesimpulan.

Penggunaan kaedah ini memerlukan guru memberikan beberapa contoh yang khusus tetapi mengandungi satu prinsip yang sama. Melalui contoh-contoh inilah, murid dibimbing memikir, mengkaji, mengenal pasti dan mentafsir maklumat yang terkandung di dalam contoh-contoh tersebut. Sejerus itu, mereka mampu membuat kesimpulan sendiri mengenai topik tersebut.

ANALISIS SWOT

Analisis SWOT adalah sebuah kaedah perancangan strategik yang digunakan untuk menilai Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman yang terlibat secara langsung atau tidak langsung di dalam sesuatu teori yang dikemukakan. Bertujuan untuk mengenalpasti faktor-faktor dalaman dan luaran yang menguntungkan dan tidak menguntungkan untuk mencapai tujuan tersebut.

Oleh yang demikian, analisis kesimpulan yang boleh didapati dalam teori Bruner ini adalah terdapat kelebihan dan kelemahan yang tidak dapat dielakkan. Kebaikan yang dapat ditonjolkan adalah ianya lebih berpusatkan kepada murid. Di mana teori ini memerlukan murid berfikir secara kritikal dalam menerima proses pengajaran dan pembelajaran. Selain daripada itu, ianya dapat membantu murid-murid untuk melihat dari pelbaga perspektif yang berbeza, murid dapat menganalisis perbezaan dan persamaan yang telah dipelajari.

Manakala, kelemahan yang tidak dapat dielakkan adalah, murid hanya akan mengunakan kehendak dan emosi dalam memastikan mereka mencapai objektif pelajaran tersebut. Tetapi, jika dilihat dari segi peluang, murid-murid akan belajar mempunyai pendirian dan keyakinan pada diri sendiri. Selain, ianya tidak menyekat pengetahuan murid tersebut. Ancaman yang mungkin dihadapi adalah, apabila tenaga pengajar melebih-lebihkan murid yang lebih menonjol berbanding murid-murid yang lain. Maka, tanpa disedari wujud satu suasana bias di kalangan murid-murid.

Menyedari akan kelebihan, kekurangan, peluang dan ancaman dari teori ini, guru perlu bersikap proaktif dan kreatif dalam mengaplikasikannya di dalam pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Agar dapat mewujudkan suasana yang harmoni di kalangan muridmurid.