Anda di halaman 1dari 36

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan merupakan hasil dari usaha manusia untuk tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, insaf, mengerti, dan pandai (Salam, 2003). Menurut N t atm dj (knowledge) adalah hasil tahu (2003), pengetahuan

dari manusia !ang sekedar

menja"ab pertan!aan #What$. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah terhadap suatu rang melakukan penginderaan

bjek tertentu. Penginderaan, pen%iuman, rasa, dan

raba. Pengatahuan atau k gnitif merupakan d main !ang sangat penting dalam membentuk tindakan sese rang (overt behavior). Menurut &l m dan Skinner pengetahuan adalah kemampuan sese rang untuk mengungkapkan kembali apa !ang diketahuin!a dalam bentuk bukti ja"aban baik lisan atau tulisan, bukti atau tulisan tersebut merupakan suatu reaksi dari suatu stimulasi !ang berupa pertan!aan baik lisan atau tulisan (N t atm dj , 2003).

2. 'ateg ri Pengetahuan

Menurut (rikunt !aitu * a. &aik

(200)), pengetahuan dibagi dalam 3 kateg ri,

* &ila sub!ek mampu menja"ab dengan benar +),100- dari seluruh pertan!aan

b. .ukup

* &ila sub!ek mampu menja"ab dengan benar /) , +/- dari seluruh pertan!aan

%. 'urang

* &ila sub!ek mampu menja"ab dengan benar 00 , //- dari seluruh pertan!aan

Menurut N t atm dj

(2003) pengetahuan !ang ter%akup dalam

d main k gnitif mempun!ai ) tingkatan, !aitu* a. 1ahu (Know) 1ahu diartikan sebagai mengingat suatu materi !ang telah dipelajari sebelumn!a. 1ermasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali ( recall) sesuatu !ang spesifik dari seluruh bahan !ang dipelajari atau rangsangan !ang telah diterima. 2leh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat

pengetahuan !ang paling rendah. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan se%ara benar tentang dapat menginterpretasikan bjek !ang diketahui dan tersebut se%ara benar.

materi

2rang telah faham terhadap

bjek atau materi harus dapat

menjelaskan, men!ebutkan % nt h, men!impulkan, meramalkan, dan sebagain!a terhadap bjek !ang dipelajari. %. (plikasi (Aplication) (plikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi !ang telah dipelajari pada situasi atau k ndisi real (sebenarn!a). d. (nalisis (nalisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu masih didalam bjek ke dalam beberapa k mp nen, tetapi satu struktur rganisasi, dan masih ada pada suatu

kaitann!a satu sama lain. Menunjukkan

kemampuan untuk meletakkan atau men!ambungkan beberapa bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan !ang baru, dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk men!usun suatu

f rmulasi baru dari f rmulasi,f rmulasi !ang ada. e. 34aluasi &erkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau bjek.

3. 5akt r !ang mempengaruhi pengetahuan Menurut N t atm dj , 2003. Pengetahuan dapat dipengaruhi leh beberapa fakt r adalah* a. Pengalaman Pengalaman dapat dari apa !ang pernah dialami sendiri maupun pengalaman rang lain !ang diketahuin!a. Se rang aksept r '& suntik telah merasakan sendiri pengaruh k ntrasepsi '& suntik dengan segenap suka dan dukan!a. 6ika aksept r tersebut bertemu dengan se rang aksept r 7mplant saat % ntr l di &PS maka mereka akan saling ber%erita tentang suka duka selama mereka menjadi aksept r. 8isini terjadi saling tukar pengalaman dan kedua aksept r tersebut saling memberi dan menerima pengetahuan berdasar pengalaman masing,masing. b. S si ,&uda!a Perilaku n rmal, kebiasaan, nilai,nilai, dan penggunaan sumber,sumber di dalam suatu mas!arakat akan menghasilkan suatu p la hidup !ang pada umumn!a disebut kebuda!aan. 'ebuda!aan ini terbentuk dalam "aktu !ang lama sebagai akibat dari kehidupan suatu mas!arakat bersama. 8i suatu mas!arakat memiliki keper%a!aan bah"a ban!ak anak ban!ak rejeki, maka akan sulit bagi mereka untuk menerima inf rmasi mengenai k ntrasepsi. %. 'e!akinan 'e!akinan dapat diperleh se%ara turun temurun tanpa adan!a pembuktian atau diper leh dari pengalaman !ang telah dimilikin!a dan terbukti benar setelah teruji leh "aktu dan kejadian !ang berulang,ulang. Se rang aksept r baru dengan mantap ia memilih alat k ntrsepsi 7mplant ia !akin karena ibu

dan keluargan!a adalah pengguna 7mplant. 'e!akinan aksept r baru ini makin mantap setelah memper leh inf rmasi 7mplant saat k nsultasi dengan tenaga kesehatan !ang memasang 7mplann!a. d. 5asilitas Media %etak maupun elektr nik serta buku,buku merupakan fasilitas sumber inf rmasi !ang dapat meningkatkan pengetahuan mas!arakat. &an!ak tersedia inf rmasi dan ibu,ibu dapat memper leh inf rmasi sesuai kebutuhann!a. 'emajuan tekn l gi inf rmasi dan k munikasi akan memungkinkan setiap rang memper leh inf rmasi se%ara %epat, tepat, dan akurat. 2rang dapat berhubungan k nsultan ahli melalui radi , tele4isi, majalah, dan lain,lain. 'aitann!a dengan k ntrasepsi, pengetahuan merupakan fakt r sangat penting karena berdampak luas pada perilaku pengguna keputusan alat k ntrasepsi (aksept r) alat k ntrasepsi dalam !ang menetapkan digunakan.

terhadap

'emantapan aksept r dengan met de !ang dipilihn!a, ketahanan aksept r dalam menghadapi masalah,masalah (efek samping) !ang dialamin!a serta kemampuan adaptasin!a B. Pengertian Pasangan Usia Subur Pasangan suami istri !ang pada saat ini hidup bersama, baik bertempat tinggal resmi dalam satu rumah ataupun tidak, dimana umur istrin!a antara 1/ tahun sampai dengan 00 tahun. &atasan umur !ang digunakan disini adalah 1/ sampai 00 tahun dan bukan 1/90: tahun. ;al

ini

tidak

berarti

berbeda

dengan

perhitungan

fertilitas

!ang

menggunakan batasan 1/90:, tetapi dalam kegiatan keluarga beren%ana mereka !ang berada pada kel mp k 0/90: bukan merupakan sasaran keluarga beren%ana lagi. ;al ini dilatarbelakangi leh pemikiran bah"a mereka !ang berada pada kel mp k umur 0/90: tahun, kemungkinan untuk melahirkan lagi sudah sangat ke%il sekali (<ir suhardj , 2000). Pasangan usia subur !aitu pasangan !ang "anitan!a berusia antara 1/,0: tahun, 'arena kel mp k ini merupakan pasangan !ang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan. P=S diharapkan se%ara bertahap menjadi peserta '& !ang aktif lestari sehingga memberi efek langsung penurunan fertilisasi (Suratun, 200>).
Pasangan usia subur !aitu pasangan !ang istrin!a berumur 1/,0: tahun atau pasangan suami,istri berumur kurang dari 1/ tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari /0 tahun tetapi masih haid (datang bulan) (&''&N, 200:).

C. Kontrasepsi 1. Pengertian ' ntrasepsi 7stilah k ntrasepsi berasal dari kata k ntra dan k nsepsi. ' ntra berarti #mela"an$ atau #men%egah$, sedangkan k nsepsi adalah pertemuan antara sel telur !ang matang dengan sperma !ang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari k ntrasepsi adalah menghindari?men%egah terjadin!a kehamilan sebagai akibat adan!a pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. =ntuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan k ntrasepsi, maka !ang membutuhkan k ntrasepsi adalah pasangan !ang aktif melakukan hubungan seks

dan kedua,duan!a memiliki kesuburan n rmal namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 200>). ' ntrasepsi adalah upa!a untuk men%egah terjadin!a kehamilan. =pa!a itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan k ntrasepsi merupakan 4ariabel !ang mempengaruhi fertilitas (Pra"ir hardj , 200/) . 2. 1ujuan ' ntrasepsi a. =ntuk menunda kehamilan atau kesuburan b. =ntuk menjarang kehamilan %. =ntuk men%egah kehamilan atau kesuburan Menurut ;artant (2003, pp.30,31) pela!anan k ntrasepsi diupa!akan untuk menurunkan angka kelahiran !ang bermakna. @una men%apai tujuan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan mengkateg rikan tiga fase untuk men%apai sasaran ,!aitu * a. 5ase menunda kehamilan bagi P=S dengan usia istri kurang dari 20 tahun dengan menggunakan k ntrasepsi pil ral, k nd m, 7=8 mini. b. 5ase menjarangkan kehamilan bagi P=S dengan usia istri antara 20 9 30 ? 3/ tahun merupakan peri de usia paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 rang dan jarak antara kelahiran adalah 2 9 0 tahun, dengan menggunakan k ntrasepsi 7=8 sebagai pilihan utama. %. 5ase menghentikan ? mengakhiri kehamilan ? kesuburan peri de umur di atas 20 9 3/ tahun, sebaikn!a mengakhiri kesuburan setelah mempun!ai 2 rang anak pilihan utama adalah k ntrasepsi mantap

3. Sasaran ' ntrasepsi a. Pasangan usia subur (P=S) b. 7bu !ang sudah mempun!ai anak %. 7bu !ang mempun!ai resik tinggi terhadap kehamilan.

>

0. Met de ' ntrasepsi Menurut ;artant (2000), %ara atau met de k ntrasepsi dapat dibagi menjadi * a. Met de sederhana 1). 1anpa alat a). '& alamiah (1) Met de kalender (2gin 'naus) (2) Met de suhu badan basal (1ermal) (3) Met de lendir ser4ik (&illings) (0) Met de Simpt ,1ermal b). . itus 7nteruptus 2). 8engan alat a). Mekanis (&arrier) (1) ' nd m Pria (2) &arrier 7ntra 4aginal 8iafragma 'ap ser4ik (.er4i%al .ap) Sp ns (Sp nge)

' nd m <anita

b). 'imia"i (Spermisida) (1) Aaginal .ream (2) Aaginal Supp sit ria b. Met de m dern 1). ' ntrasepsi h rm nal a). Pil ral b). 7njeksi %). Sub %utis (implant) 2). 7ntra =terine 8e4i%es (7=8?('8B) 3). ' ntrasepsi mantap?steril (M2<?M2P)

/. .iri,%iri ' ntrasepsi Menurut ;artant (2000) satu k ntrasepsi !ang ideal meliput * a. 8a!a guna, dalam arti jika digunakan sesuai dengan aturan akan dapat men%egah kehamilan b. (man, artin!a tidak akan menimbulkan k mplkasi berat jika digunakan %. Murah d. Mudah didapat e. 1idak memerlukan m ti4asi terus,menerus

10

f. 3fek samping minimal

). S!arat,s!arat suatu met de k ntrasepsi Menurut ;artant (2000), s!arat 9s!arat !ang harus dipenuhi leh suatu met de k ntrasepsi !ang baik adalah * a. (man?tidak berbaha!a b. 8apat diandalkan %. Sederhana d. Murah e. 8apat diterima leh rang ban!ak f. Pemakaian jangka lama(% ntinusti n rate tinggi)

+. jenis,jenis k ntrasepsi berdasarkan lama efektifitasn!a a. M'6P (Met de k ntrasepsi jangka panjang) b. N n M'6P (N n Met de ' ntrasepsi 6angka Panjang), !ang termasuk dalam kateg ri ini adalah k nd m, pil, suntik, dan met de,met de lain selain met de !ang termasuk dalam M'6P.

8. Met de k ntrasepsi jangka panjang

11

Met de ' ntrasepsi jangka panjang !ang disingkat M'6P adalah met de !ang dikenal efektif karena dapat memberikan perlindungan dari risik kehamilan untuk jangka "aktu sampai sepuluh tahun !ang terdiri dari met de perasi "anita (M2<), met de perasi pria (M2P), alat k ntrasepsi dalam rahim (akdr) dan implant atau dikenal atau !ang dikenal dengan susuk kb merupakan alat k ntrasepsi ba"ah kulit (akbk) dengan masa berlaku 3 (tiga) tahun. Met de k ntrasepsi jangka panjang terdiri dari * 1. 7=8 a. Pengertian (lat k ntrasepsi dalam rahim (akdr) atau lebih dikenal dengan istilah 7=8 (intra uterine de4i%e) 7=8 adalah salah satu alat '&?k ntrasepsi !ang dipasang leh d kter atau bidan terlatih didalam rahim "anita pasangan usia subur. 2leh karena itu met de ini disebut juga dengan alat k ntrasepsi dalam rahim (('8B) (&''&N,2000). b. 6enis,jenis k ntrasepsi 7=8 Menurut jenisn!a 7=8, dibagi 3 t!pe, !aitu * 1). 1erbuat dari plasti% (Cippes C p atau baja anti karat). 2). Mengandung tembaga, !aitu .u1 3>0 (, .u1 200., Multi l ad, dan N2A( 1. 3). Mengandung h rm n Ster id seperti Progestaset !ang mengandung Progesteron dan Levonoval !ang mengandung Levonogestrel. B''&N menggunakan .u1 3>0 ( sebagai standar !ang dibuat leh P1 'imia 5arma (Manuaba, 1::>). %. .ara kerja Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi sebelum 4um men%apai kavum uteri, men%egah sperma dan 4um bertemu, memungkinkan untuk men%egah implantasi telur dalam uterus. d. 'euntungan dan kerugian 'euntungan 7=8 sebagai k ntrasepsi efektifitasn!a tinggi, 7=8 dapat efektif segera setelah pemasangan, met de jangka panjang (10 tahun pr teksi dari .u1 3>0 ( dan tidak perlu ganti), sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat,ingat,

12

tidak mempengaruhi kualitas dan 4 lume (ir Susu 7bu (&''&N, 2003). 'erugian 7=8 dapat menimbulkan efek samping (perubahan siklus haid (umumn!a pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan ban!ak, perdarahan (spotting) antar menstruasi, saat haid lebih sakit, se%ret 4agina lebih ban!ak), tidak men%egah 7nfeksi Menular Seksual (7MS) termasuk ;7A?(78S, pemasangan dan pen%abutan 7=8 harus dilakukan leh tenaga kesehatan !ang terlatih (Pra"ir hardj , 2002). (efekti4itasn!a :2,:0-) dan tidak perlu diingat setiap hari seperti haln!a pil. 8apat dipakai untuk > tahun . 'egagalan rata, rata 0.>e. 7ndikasi Prinsip pemasangan adalah menempatkan 7=8 setinggi mungkin dalam r ngga rahim (%a4um uteri). Saat pemasangan !ang paling baik, saat mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak (00 hari pas%a bersalin D akhir haid). Pemasangan 7=8 dapat dilakukan leh d kter atau bidan !ang terlatih. Pemeriksaan berkala harus dilakukan setelah pemasangan 1 minggu, lalu setiap bulan selama 3 bulan berikutn!a. Pemeriksaan selanjutn!a dilakukan setiap ) bulan. f. ' ntraindikasi 7=8 tidak b leh dipakai leh * 1). <anita !ang belum pernah melahirkan. 2). (dan!a perkiraan hamil. 3). 'elainan alat kandungan bagian dalam (perdarahan di alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, kanker rahim). 0). Perdarahan 4agina !ang tidak diketahui. /). Sedang menderita infeksi alat genital (4aginitis, ser4isitis). )). 3 bulan terakhir ab rtus septik. +). 'elainan ba"aan uterus !ang abn rmal. >). (da tum r jinak rahim !ang dapat mempengaruhi ka4um uteri. :). Pen!akit tr f blas !ang ganas. 10). 8iketahui menderita 1&. pel4ik. 11). 'anker alat genital. 12). =kuran r ngga rahim kurang dari / %m. 2. 7mplant a. Pengertian

13

(lat k ntrasepsi ba"ah kulit (('&') atau lebih dikenal dengan istilah susuk kb (implant) adalah alat k ntrasepsi berbentuk kapsul !ang ditanam di ba"ah kulit. 3fektif digunakan untuk men%egah kehamilan sampai dengan 3 hingga / tahun, tergantung jenisn!a. (man bagi hamper semua "anita !ang menggunakan, namun harus segera dilepas apabila sudah habis batas penggunaan b. 'euntungan 1). Sekali pasang untuk / tahun 2). 1idak mempengaruhi pr uks si 3). 1idak mempengaruhi tekanan darah 0). Pemeriksaan panggul sebelum pemakaian tidak diperlukan /). &aik untuk "anita !ang tidak ingin pun!a anak lagi, tetapi belum mantap tubekt mi )). &aik untuk "anita !ang ingin met de praktis +). 1inggal di daerah terpen%il >). 1idak kha"atir jika tidak haid %. ' ntraindikasi 1). ;amil atau disangka hamil 2). Perdarahan per4aginam !ang tidak diketahui pen!ebabn!a 3). 1um r?keganasan 0). Pen!akit jantung, ken%ing manis, darah tinggi d. 3fek samping* 1). 'adang,kadang pada saat pemasangan akan terasa n!eri 2). ;aid tidak teratur, sakit kepala, kadang,kadang terjadi anemia karena perdarahan kr nis 3. 1ubekt mi a. Pengertian 1ubekt mi 1ubekt mi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur "anita !ang mengakibatkan "anita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. 6enis k ntrasepsi ini bersifat permanen, karena dilakukan pen!umbatan pada saluran telur "anita !ang dilakukan dengan %ara diikat, ataupun dip t ng. (Pr 4era"ati,2010).

10

1ubekt mi

adalah

pr sedur

bedah

sukarela

untuk

menghentikan fertilitas (kesuburan) se rang perempuan !ang dilakukan dengan %ara eksisi atau menghambat tuba fall pi !ang memba"a 4um dari 4arium ke uterus. 1indakan ini men%egah 4um dibuahi leh sperma di tuba fall pi. (34erett,200>). 6adi dasar dari M2< ini adalah meng kulasi tubafall pi sehingga spermat E a dan 4um tidak dapat bertemu (;anafi, 2000, p.203). Pr gram M2< sendiri dibagi menjadi 2 !aitu diantaran!a* 1). Pr gram rumah sakit a). Pelaksanaan M2< pas%a perasi ?pas%a melahirkan b). Mempun!ai pen!aki t ginek l gi 2). Beguler* M2< dapat dilakukan pada masa inter4al b. 6enis,jenis M2< 1). Minilap rat mi Minilap rat mi adalah sterilisasi tuba !ang dilakukan melalui suatu insisi suprapubik ke%il dengan panjang biasan!a 3,/ %m. Minilapar t mi merupakan met de sterilisasi "anita !ang paling sering dilakukan di seluruh dunia karena keamanan!a, kesederhanaann!a, dan kemudahan adaptasin!a terhadap lingkungan bedah (Sper ff, 8arne!, hlm.3/+). 'euntungan minilapar t mi dapat dikerjakan leh setiap tenaga medis !ang memiliki dasar,dasar ilmu bedah dan ketrampilan bedah, han!a memerlukan alat,alat !ang sederhana dan tidak mahal terutama alat,alat bedah standar,

1/

k mplikasi umumn!a han!a k mplikasi min r dan dapat dilakukan segera setelah melahirnakn (;artant , 2000, hlm.2/1) 'erugian minilapar t mi !aitu "aktu perasi sedikit

lebih lama dibandiingan dengan lapar sk pi !ang rata,rata memerlukan 10,20 menit, sukar pada "anita !ang sangat gemuk bila ada perlekatan,perlekatan pel4is atau pernah mengalami perasi pel4is, perasi ini meninggalkan bekas luka parut ke%il !ang masih dapat terlihat, rasa sakit abd men !ang singkat karena luka insisi terjadi pada /0"anita, angka kejadian infeksi luka dibandingkan dengan lapar sk pi. 2). Capar sk pi Capar sk pi adalah suatu pemeriksaan end sk pik dari bagian dalam r ngga perit neum dengan alat lapar sk p !ang dimasukkan melalui dinding anteri r abd men. (hartant , 2000, hlm.2/2) 'euntungan lapar sk pi !aitu k mplikasi rendah dan pelaksanaann!a %epat (rata,rata /,1/ menit), insisi ke%il sehingga luka parut sedikit sekali, dapat dipakai juga untuk diagn sti% maupun terapi, kurang men!ebabkan rasa sakit bila dibandingkan dengan mini lapar t mi, sangat berguna bila jumlah %al n aksept r ban!ak. 'erugian lapar sk pi risik k mplikasi dapat serius (bila terjadi), lebih sukar dipelajari, memerlukan keahlian dan keterampilan dalam bedah abd men, harga peralatann!a perasi lebih tinggi

1)

mahal dan memerlukan pera"atan !ang teliti, tidak dianjurkan untuk digunakan segera p st,partum (;artant , 2000, hlm.2/>). %. 7ndikasi 8engan sifatn!a !ang permanen, sterilisasi han!a % % k untuk pasangan !ang tidak menginginkan anak lagi. See%ara lebih luas, indikasi sterilisasi dapat dibagi lima ma%am !aitu * 1) 7ndikasi Medis Fang termasuk indikasi medis adalah pen!akit !ang berat?kr nik seperti jantung, ginjal, paru,paru, dan pen!akit kr nik lainn!a. 1etapi tidak semua pen!akit tersebut merupakan indikasi, han!a !ang membaha!akan keselamatan 7bu kalau ia mengandung merupakan indikasi sterilisasi. 2) 7ndikasi 2bstetris 7ndikasi bstetris adalah keadaan di mana risik kehamilan berikutn!a meningkat meskipun se%ara medis tidak menunjukkan kelainan apa,apa, termasuk ke dalam indikasi bstetri% adalah multiparitas (ban!ak anak), apalagi dengan usia !ang relati4e lanjut (missal grandemultigra4ida, !akni paritas lima atau lebih dengan umur 3/ tahun atau lebih), sesi sesarea dua kali atau lebih dan lain,lain. 3) 7ndikasi @enetik 7ndikasi hem philia. 0) 7ndikasi ' ntrasepsi 7ndikasi k ntrasepsi adalah indikasi !ang murni ingin menghentikan (mengakhiri) kesuburan, artin!a pasangan tersebut genetik adalah pen!akit herediter !ang membaha!akan kesehatan dan keselamatan anak, seperti

1+

tidak menginginkan anak lagi meskipun tidak terdapat keadaan lain !ang membaha!akan keselamatan 7bu seandain!a ia hamil. /) 7ndikasi 3k n mis 7ndikasi ek n mis artin!a pasangan suami istri menginginkan sterilisasi karena merasa beban ek n mi keluarga menjadi terlalu berat dengan bertambahn!a anak dalam keluarga tersebut (Sis" sudarm , 200+, hlm./2,/3). d. ' nta indikasi ' ntra indikasi k ntrasepsi mantap pada "anita adalah masalah hubungan, ketidaksetujuan terhadap pasangan, dan keadaan sakit atau perasi dari salah satu disabilitas !ang dapat

meningkatkan resik pada perasi (34erett, 200>, hlm.2/3). e. 'euntungan M2< Sterilisasi "anita adalah bentuk k ntrasepsi !ang sangat efektif dengan angka kegagalan 1,/ per 1000 kasus !ang berarti efektifitasn!a ::,0,::,>- per 100 "anita pertahun, keefektifann!a ter%apai begitu perasi selesai dikerjakan. 1ubekt mi merupakan %ara '& jangka panjang !ang tidak memerlukan tindakan ulang artin!a %ukup sekali dikerjakan, meskipun k ntap harus ditempuh melalui sebuah perasi met de ini merupakan %ara !ang paling aman, bebas dari efek samping asal semua pr sedur dan pers!aratan perasi terpenuhi. Sebagaimana %ara '& lainn!a k ntap bersifat praktis artin!a tidak membutuhkan kunjungan ulang !ang terjad"al, dan tidak mengganggu hubungan seksual. Met de ini bebas dari efek samping h rm nal sebagaimana pil, '& suntik maupun susuk. ' ntap tidak mengganggu hubungan seksual, tidak pula menurunkan libid . Sekarang sterilisasi merupakan tindakan perasi

1>

ke%il di mana klien han!a memerlukan istirahat beberapa jam sebelum ia bisa meninggalkan tempat pela!anan dan dapat dikerjakan di lapangan dengan memanfaatkan kamar puskesmas (Sis" sudarm , (n"ar, 200+, hlm./1,/2). f. 'eterbatasan 1ubekt mi 1). ;arus dipertimbangkan sifat permanen met de k ntrasepsi ini (tidak dapat dipulihkan kembali), ke%uali dengan perasi rekanalisasi, maka sebelum tindakan perlu pertimbangan matang dari pasangan sehingga klien (aksept r) tidak men!esal dikemudian hari. 2). Besik k mplikasi ke%il (meningkat apabila digunakan anestesi umum). 3). (dan!a rasa sakit atau ketidakn!amanan dalam jangka pendek setelah tindakan. 0). 8ilakukan leh d kter !ang terlatih (dibutuhkan d kter spesialis bedah untuk pr ses lapar sk pi). /). 1idak melindungi diri dari 7MS, termasuk ;7A atau (78S ( Suji!atini, (rum, 200:, hlm.1)0) g. Fang 8apat Menjalani 1ubekt mi 1). =sia 7bu G 2) sampai 0) tahun, memiliki paritas G2. 2). Fakin telah mempun!ai besar keluarga !ang sesuai dengan kehendakn!a sehingga klien tidak men!esal dikemudian hari. 3). Pada kehamilan!a akan menimbulkan resik serius. 0). Pada saat pas%apersalinan dan pas%akeguguran. /). Paham dan se%ara sukarela setuju dengan pr sedur ini (Saifuddin, 200), hlm.M',>3). kesehatan !ang perasi di

1:

h. Fang 1idak 8apat Menjalani 1ubekt mi 1). ;amil atau di%urigai hamil 2). Perdarahan melalui 4agina !ang belum terjelaskan pen!ebabn!a. 3). 7nfeksi sistematik atau pel4i% akut !ang belum sembuh atau masih dik ntr l. 0). 1idak b leh menjalani pr ses pembedahan. /). &elum mantap?kurang pasti dengan keinginan!a untuk fertilitas dimasa mendatang. )). &elum memberikan persetujuan tertulis (pinem, 200:, hlm.2:3). i. ' mplikasi 1ubekt mi dan Penanganann!a Menurut S!aifuddin (2010), k mplikasi dan penanganan tubekt mi meliputi * 1). 7nfeksi luka (pabila terlihat infeksi luka bati dengan antibi ti%, bila terdapat abses lakukan drainase dan bati seperti !ang terindikasi. 2). 8emam pas%a perasi (G 3> %), bati infeksi berdasarkan apa !ang ditemukan. 3). Cuka pada kandung kemih, intestinal Menga%u ke tingkat asuhan !ang tepat, apabila kandung kemih atau usus luka dan diketahui se"aktu perasi, lakukan reparasi primer, apabila ditemukan pas%a perasi,dirujuk kerumah sakit !ang tepat bila perlu. 0). ;emat ma (Subkutan) @unakan pa%ks !ang hangat dan lembab ditempat tersebut. (mati hal ini biasann!a akan berhenti dengan berjalann!a "aktu tetapi dapat membutuhkan drainase bila ekstensif.

20

/). 3mb li gas !ang diakibatkan lapar sk pi (jukan ke tingkat asuhan !!ang tepat dan mulailah resusitasi intensif, termasuk %ara intra4ena, resusitasi kardi dan tindakan penunjang kehidupan lainn!a. )). Basa sakit pada l kasi pembedahan Pastikan adan!a infeksi, atau abses dan bati berdasarkan apa !ang ditemukan. +). Perdarahan superfi%ial (tepi,tepi kulit atau subkutan) Meng ntr l perdarahan dan ditemukan. j. 3fek samping 1ubekt mi Menurut ;artant (2000) k ntap "anita tidak menimbulkan efek samping jangka panjang !ang jelek. Selama paling sedikit dua dasa"arsa terakhir ini, timbul perdebatan mengenai efek samping jangka panjang bila memang ada dari k ntap "anita. Pers alan efek samping jangka panjang k ntap "anita meliputi empat hal, !aitu * 1. Perubahan,perubahan h rm nal 2. P la haid 3. Pr blem ginek l gis 0. Pr blem psik l gis k. S!arat,s!arat Penggunaan 1ubekt mi &eberapa s!arat menurut Pr 4era"ati (2010), hal !ang perlu diperhatikan ketika akan menggunakan k ntrasepsi tubekt mi adalah* bati berdasarkan apa !ang pulm nar!

21

1). =sia lebih dari 2) tahun 2). 6umlah anak (paritas) minimal adalah 2 dengan umur anak terke%il lebih dari 2 tahun 3). Fakin telah mempun!ai besar keluarga !ang sesuai dengan keinginann!a dan pasangann!a. 0). Pada kehamilah akan menimbulkan risik kesehatan !ang serius /). Pas%a persalinan dan atau pas%a keguguran )). Paham dan se%ara sukarela setuju dengan pr sedur pelaksanaan.

Pasien mempun!ai hak untuk berubah pikiran setiap "aktu sebelum pelaksanaan pr sedur ini, erta inf rmed % nsent f rm harus ditandatangani leh pasien sebelum pr sedur dilaksanakan.

l. <aktu Pelaksanaan!a Menurut Suratun (200>), "aktu pelaksanaan tubekt mi, !aitu* 1). 8apat dilakukan setiap saat selama klien tidak hamil, apabila ingin melakukan pr sedur ini klien disarankan memakai k nd m pada siklus menstruasi sebelum dilakukan pr sedur untuk memastikan tidak ada sperma didalam tuba fall pii !ang dapat membuahi sebuah 4um !ang dilepaskan sesaat setelah pembedahan !ang kemudian mengakibatkan kehamilan ekt pik. 2). ;ari ke ) sampai ke 13 dari siklus menstruasi (fase pr liferasi). 3). Pas%apersalinan (0> jam pertama atau setelah ) minggu, jika ingin dilakukan diluar "aktu tersebut, klien sudah di imunisasi

22

(1etanus 1 H id), dan mendapat lindungan antibi tik maka tubekt mi dapat dilaksanakan leh perat r !ang berpengalaman. 0). Pas%a keguguran segera atau dalam + hari pertama, selama tidak ditemukan k mplikasi infeksi pel4is.

m. Persiapan pra, peratif M2< Menurut Saifuddin (2010), persiapan pra, peratif M2< !aitu* 1). 6elaskan se%ara lengkap mengenai tindakan tubekt mi termasuk mekanisme. 2). Pen%egahan kehamilan !ang dihasilkan dan efek samping !ang mungkin terjadi 3). &erikan nasihat untuk pera"atan luka bedah, kemana minta pert l ngan bila terjadi kelainan atau keluhan sebelum "aktu % ntr l. 0). &erikan nasihat tentang %ara mengguunakan bat !ang diberikan sesudah tindakan pembedahan. /). (njurkan pasien pua%a sebelum perasi atau tidak makan dan minum sekurang,kurangn!a 2 jam sebelum perasi. )). 8atang ke klini dengan diantar angg ta keluarga atau ditemani rang de"asa. +). Bambut pubis !ang %ukup panjang antisepti%. di gunting pendek dan

dibersihkan dengan sabun dan air serta dilanjutkan dengan %airan

23

>). 1idak memakai perhiasan dan tidak memakai k smetik seperti pemerah bibir, pemerah pipi, kutek, dan lain,lain. :). Menghubungi petugas setiban!a di klinik.

n. Pera"atan dan pemeriksaan Pas%a 2perasi Pera"atan dan pemeriksaan pas%a perasi menurut Suratun (200>), !aitu * 1). Setelah tindakan pembedahan pasien dira"at di ruang pemulihan selama kurang lebih 0,) jam. 2). &ila dilakukan anstesi l %al, pemindahan pasien dari meja perasi ke kereta d r ng dan dari kereta d r ng ke tempat tidurndi ruang pemilihan dilakukan leh 2 rang pera"at dengan mendekatkan kereta d r ng ke meja perasi atau tempat tidur. (ksept r leh 3,0 rang. diminta untuk menggeserkan badann!a, bila pasien memper leh anastesi umum pemindahan pasien dilakukan

3). Selama di ruang pemulihan pasien diamati dan dinilai * a). Nadi, tekanan darah, pernafasan tiap 1/ menit partama, tiap 30 menit pada 1 jam kedua dan selanjutn!a tiap jam hingga pasien pulang. b). Basa n!eri !ang timbul !ang mungkin emerlukan peng batan analgetik %). Perdarahan dari luka dan kemaluann!a. d). Suhu badan pasien

20

0). 8ua jam setelah tindakan dengan anastesi l %al pasien diiEinkan minum dan makan, karena rasa mengantuk telah hilang. /). 8ua jam setelah tindakan dengan l kan pasien diiEinkan duduk dan dilatih berjalan dengan ditemanin keluargan!a apabila pasien tidak psuing.

0. ' ntrasepsi Aasekt mi a. Pengertian Aasekt mi adalah pr sedur klinik untuk menghentikan kapasitas repr duksi pria dengan jalan melakukan fertilisasi (pen!atuan dengan 2003). Menurut M %htar (1::>) 4asekt mi (sterilisasi pria) adalah tindakan mem t ng dan menutup saluran mani (4asdeferens) !ang men!alurkan sel mani (sperma) keluar dari pusat pr duksin!a di testis. Aasekt mi merupakan suatu met de k ntrasepsi peratif min r pada pria !ang sangat aman, sederhana dan sangat efektif. ;asil penelitian menunjukkan bah"a tidak ada efek buruk pada pria terhadap kegairahan seksual, kemampuan ereksi atau ejakulasi setelah menjalani perasi (;artant , 2000). klusi 4as deferens sehingga alur transp rtasi sperma terhambat dan pr ses 4um) tidak terjadi (saifuddin,

b. .ara kerja?teknik 4asekt mi (M2P) (da dua %ara kerja?teknik sterilisasi 4asekt mi !aitu *

2/

1) 1eknik 4asekt mi standar 1eknik ini ada 10 langkah, diantaran!a !aitu * a) .elana dibuka dan baringkan pasien dengan p sisi terlentang. b) 8aerah kulit skr tum, penis, supra pubis dan bagian dalam bingkai dalam pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan %airan !ang tidak merangsang seperti larutan betadin 0,+/- atau larutan kl rheksidin (hibis%rub) 0atau asam pikrat 2-. &ila ada bulu perlu di%ukur terlebih dahulu, sebaikn!a dilakukan leh pasien sendiri sebelum berangkat ke klinik. %) 1utuplah daerah !ang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skr tum dit nj lkan keluar. d) 1epat di linea mediana diatas 4as deferens, kulit skr tum diberi anastesi (Pr kain atau Cid kain atau N 4 kain atau Iil kain 1,2-) 0,/ ml, lalu jarum diteruskan masuk dan di daerah distal serta pr ksimal 4as deferens di dep nir lagi masing,masing 0,/ ml. e) 'ulit skr tum diiris l ngitudinal 1 sampai 2 %m, tepat diatas 4as deferens !ang telah dit nj lkan ke permukaan kulit. f) Setelah kulit dibuka, 4asdeferens dipegang dengan klem, disiangi sampai tampak 4as deferens mengkilat seperti mutiara, perdarahan dira"at dengan %ermat. Sebaikn!a ditambah lagi bat anastesi kedalam fasia 4as deferens

2)

dan baru kemudian fasia disa!at l ngitudinal sepanjang 0,/ %m. =sahakan tepi sa!atan rata (dapat di%apai jika pisau %ukup tajam) hingga memudahkan penjahitan kembali. Setelah fasia 4as deferens dibuka terlihat 4as deferens !ang ber"arna putih mengkilat seperti mutiara. Selanjutn!a 4as deferens dan fasian!a dibebaskan dengan gunting halus berujung run%ing. g) 6epitkan 4as deferens dengan klem pada dua tempat dengan jarak 1 , 2 %m dan ikat dengan benang kedua ujungn!a. Setelah diikat jangan dip t ng dulu. 1ariklah benang !ang mengkilat kedua ujung 4as deferens tersebut untuk melihat kalau ada perdarahan !ang tersembun!i. 6epitan han!a pada titik perdarahan, jangan terlalu ban!ak karena dapat menjepit pembuluh darah lain seperti arteri testikularis atau defernsialis !ang berakibat kematian testis itu sendiri. h) P t nglah diantara dua ikatan tersebut sepanjang 1 %m. @unakan benang sutra n 00,0 atau 1 untuk mengikat 4as deferens tersebut. 7katan tidak b leh terlalu l nggar tetapi juga jangan terlalu keras karena dapat mem t ng 4as deferens. i) =ntuk men%egah rekanalisasi sp ntan !ang dianjurkan adalah dengan melakukan interp sisi 4as deferens, !akni menjahit kembali fasia !ang terluka sedemikian rupa, 4as deferens bagian distal (sebelah ureteral dibenamkan dalam fasia dan 4as deferens bagian pr ksimal (sebelah testis) terletak diluar fasia. .ara ini akan men%egah timbuln!a kemungkinan rekanalisasi.

2+

j) Cakukanlah tindakan diatas (langkah ) , :) untuk 4as deferens kanan dan kiri, dan setelah selesai, tutuplah kulit dengan 1 , 2 jahitan plain %atgut n .00,0 kemudian ra"at luka perasi sebagaimana mestin!a, tutup dengan kasa steril dan diplester (Saifuddin, 2003). 2) 1eknik Aasekt mi 1anpa Pisau a) .elana dibuka dan baringkan pasien dalam p sisi terlentang. b) Bambut di daerah skr tum di %ukur sampai bersih. %) Penis di plester ke dinding perut. d) 8aerah kulit skr tum, penis, supra pubis, dan bagian dalam pangkal paha kiri kanan dibersihkan dengan %airan !ang tidak merangsang seperti larutan betadin 0,+/-, atau larutan kl rheksidin (hibis%rub) 0-. e) 1utuplah daerah !ang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril berlubang pada tempat skr tum dit nj lkan keluar. f) 1epat di linea mediana di atas 4as deferens, kulit skr tum diberi anastesi l kal (Pr kain atau Cid kain atau N 4 kain atau Iil kain 1,2-) 0,/ ml, lalu jarum diteruskan masuk sejajar 4as deferens searah distal, kemudian di dep nir lagi masing,masing 3 , 0 ml, pr sedur ini dilakukan sebelah kanan dan kiri. g) Aas deferens dengan kulit skr tum !ang ditegangkan di fiksasi di dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah

2>

skr tum. 'emudian klem direbahkan keba"ah sehingga 4as deferens mengarah ke ba"ah kulit. h) 'emudian tusuk bagian !ang paling men nj l dari 4as deferens, tepat di sebelah distal lingkaran klem dengan sebelah ujung klem diseksi dengan membentuk sudut J 0/ derajat. Se"aktu menusuk 4as deferens sebaikn!a sampai kena 4asdeferens, kemudian klem diseksi ditarik, tutupkan ujung,ujung klem dan dalam keadaan tertutup ujung klem dimasukkan kembali dalam l bang tusukan, searah jalann!a 4as deferens. i) Benggangkan ujung , ujung klem pelan , pelan. Semua lapisan jaringan dari kulit sampai dinding 4as deferens akan dapat dipisahkan dalam satu gerakan. Setelah itu dinding 4as deferens !ang telah telanjang dapat terlihat. j) 8engan ujung klem diseksi menghadap ke ba"ah , tusukkan salah satu ujung klem ke dinding 4as deferens dan ujunng klem diputar menurut arah jarum jam, sehingga ujung klem menghadap keatas. =jung klem pelan,pelan dirapatkan dan pegang dinding anteri r 4as deferens. Cepaskan klem fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang 4asdefrens !ang telah terbuka. Pegang dan fiksasi 4as deferens !ang sudah telanjang dengan klem fiksasi lalu lepaskan klem diseksi. k) Pada tempat 4as deferens !ang melengkung, jaringan sekitarn!a dipisahkan pelan,pelan keba"ah dengan klem diseksi. 'alau lubang telah %ukup luas, lalu klem diseksi dimasukkan ke lubang tersebut. 'emudian buka ujung, ujung klem pelan,pelan paralel dengan arah 4as deferens

2:

!ang diangkat. 8iperlukan kira,kira 2 %m 4as deferens !ang bebas. Aas deferens di %rush se%ara lunak dengan klem diseksi, sebelum dilakukan ligasi dengan benang sutra 3 , 0. l) 8iantara dua ligasi kira,kira 1 , 1,/ %m 4as deferens dip t ng dan diangkat. &enang pada putung distal sementara tidak di p t ng. ' ntr l perdarahan dan kembalikan putung,putung 4as deferens dalam skr tum. m) 1arik pelan,pelan benang pada putung !ang distal. Pegang se%ara halus fasia 4as deferens dengan klem diseksi dan tutup lubang fasia dengan mengikat sedemikian rupa sehingga putung bagian epididimis tertutup dan putung distal ada di luar fasia. (pabila tidak ada perdarahan pada keadaan 4as deferens tidak tegang, maka benang !ang terakhir dapat dip t ng dan 4as deferens dikembalikan dalam skr tum. n) Cakukan tindakan di atas ( langkah + 9 13 ) untuk 4as deferens sebelah !ang lain, melalui luka di garis tengah !ang sama, kalau tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu di jahit han!a di pr ksimalkan dengan band aid atau tens plas (Saifuddin, 2003). 3) ;al !ang harus dilakukan setelah menjalani perasi* a) 7stirahat se%ukupn!a dan selama + hari setelah sebaikn!a tidak bekerja berat. b) &ekas luka harus bersih dan tetap kering selama + hari. %) Minum bat !ang diberikan leh d kter sesuai aturan. perasi

30

d) <alaupun sudah diperb lehkan berhubungan intim dengan istri?pasangan setelah + hari tindakan perasi, namun pasangan tersebut masih harus memakai alat k ntrasepsi lain selama kurang lebih 3 bulan. &agi pria, kira,kira pada 10,12 kali persenggamaan setelah perasi, dianjurkan memakai k nd m. ;al ini dimaksudkan untuk men%egah kehamilan akibat sisa,sisa sperma !ang terdapat dalam %airan mani. Sementara pasangann!a menggunakan met de lain !ang % % k. Setelah 4asekt mi, air mani tetap ada, tetapi tidak lagi mengandung bibit. 7ni karena 4asekt mi tidak sama dengan pengebirian. e) 6angan lupa memeriksa ulang ke d kter 1 minggu, 3 bulan, dan 1 tahun setelah perasi (;artant , 2000).

%. 7ndikasi ' ntrasepsi Medis 2perasi Pria (M2P) Aasekt mi merupakan upa!a untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi repr duksi merupakan an%aman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangann!a serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga (Saifuddin, 2003). Pada dasarn!a indikasi untuk melakukan 4asekt mi ialah bah"a pasangan suami,istri tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bah"a tindakan k ntrasepsi dilakukan pada dirin!a (Pra"ir hardj , 1:::). (dapun indikasi pemakaian k ntrasepsi 4asekt mi antara lain * 1) Pasangan !ang sudah tidak ingin menambah jumlah anak.

31

2) 7stri !ang terg l ng sebagai kel mp k !ang beresik tinggi untuk hamil atau untuk suami !ang istrin!a tidak dapat dilakukan minilapar t mi atau lapar sk pi. 3) (kibat usia atau kesehatan, pihak istri termasuk resik untuk hamil 0) Pasangan !ang telah gagal dengan k ntrasespi lain (Saifuddin, 1::)).

d. ' ntra 7ndikasi ' ntrasepsi Medis 2perasi Pria (M2P) Menurut ;artant (2000) ada beberapa k ntra indikasi dari

k ntrasepsi mantap pria?4asekt mi !aitu * 1) 7nfeksi kulit l kal, misaln!a S%abies. 2) 7nfeksi traktus genitalia. 3) 'elainan skr tum dan sekitarn!a seperti 4ari% %ele, h!dr %ele besar, filariasis, hernia inguinalis, luka parut bekas hernia, skr tum !ang sangat tebal. 0) Pen!akit sistemik seperti pen!akit,pen!akit perdarahan, diabetes mellitus, dan pen!akit jantung k r ner !ang baru. /) Bi"a!at perka"inan, psik l gis atau seksual !ang tidak stabil. perasi

e. 'euntungan ' ntrasepsi Medis 2perasi Pria (M2P) 'euntungan 4asekt mi antara lain* 1) 3fektif.

32

2) (man, m rbiditas rendah dan hampir tidak ada m rtalitas. 3) Sederhana. 0) .epat, han!a memerlukan "aktu /,10 menit. /) Men!enangkan bagi aksept r karena memerlukan anestesi l kal saja. )) &ia!a rendah. +) Se%ara kultural, sangat dianjurkan di negara,negara dimana "anita merasa malu untuk ditangani 2000). Menurut M %htar (1::>), keuntungan 4asekt mi ada beberapa anatara lain * 1) 1eknik perasi ke%il !ang sederhana dapat dikerjakan kapan dan dimana saja 2) ' mplikasi !ang dijumpai sedikit dan ringan. 3) ;asil !ang diper leh (efekti4itas) hampir 100-. 0) &ia!a murah dan terjangkau leh mas!arakat. /) &ila pasangan suami istri ingin mendapatkan keturunan lagi, kedua ujung 4asdeferens disambung kembali ( perasi rekanalisasi). f. 'erugian ' ntrasepsi Medis 2perasi Pria (M2P) (da beberapa kerugian dari penggunaan k ntrasepsi 4asekt mi, !aitu* leh d kter pria atau kurang tersedia d kter "anita dan paramedis "anita (;anafi,

33

1) 8iperlukan suatu tindakan peratif. 2) 'adang,kadang men!ebabkan k mplikasi seperti perdarahan atau infeksi. 3) ' ntap,pria belum memberikan perlindungan t tal sampai semua spermat E a, !ang sudah ada didalam sistem repr duksi distal dari tempat klusi 4as deferens dikeluarkan. 0) Pr blem psik l gis !ang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin bertambah parah setelah tindakan men!angkut sistem repr duksi pria (;anafi, 2000). peratif !ang

g. 3fek Samping?' mplikasi Aasekt mi (M2P) (da beberapa efek samping !ang mungkin terjadi pada pria setelah perasi antara lain* 1) Beaksi (lergi (nastesi Beaksi ini terjadi karena adan!a reaksi hipersensitif?alergi karena masukn!a larutan anastesi l kal ke dalam sirkulasi darah atau pemberian anastesi l kal !ang melebihi d sis. Penanggulangan dan peng batann!a adalah dengan

' munikasi 7nf rmasi 3dukasi ('73) untuk menjelaskan sebab terjadin!a. Beaksi ini dapat terjadi pada saat dilakukan anastesi dan pada setiap tindakan perasi baik perasi besar atau ke%il. 2leh karena itu perlu diterangkan sebelum dilakukan perasi dan klien harus mengerti semua resik perasi tersebut. Setelah itu klien di"ajibkan untuk menandatangani inf rmed % nsent. 2) Perdarahan

30

&iasan!a terjadi perdarahan pada luka insisi di tempat perasi, dan perdarahan dalam skr tum. Pen!ebab terjadin!a perdarahan tersebut karena terp t ngn!a pembuluh darah di daerah saluran mani dan atau daerah insisi. Penanggulangann!a saat perasi. 3) ;emat ma ;emat ma ditandai dengan adan!a bengkak kebiruan pada luka insisi kulit skr tum. ;al ini disebabkan karena pe%ahn!a pembuluh darah kapiler. Penanggulangann!a dilakukan dengan tindakan medis !aitu memberikan k mpres hangat, beri pen!angga skr tum. &ila perlu dapat diberikan salep anti hemat ma. 0) 7nfeksi @ejala?keluhan apabila terjadi infeksi !aitu adan!a tanda, tanda infeksi seperti panas, n!eri, bengkak, merah dan bernanah pada luka insisi pada kulit skr tum. Pen!ebab infeksi ini karena tidak dipenuhin!a standar sterilisasi peralatan, standar pen%egahan infeksi dan kurang sempurnan!a teknik pera"atan pas%a perasi. /) @ranul ma Sperma @ranul ma sperma !aitu adan!a benj lan ken!al !ang kadang disertai rasa n!eri di dalam skr tum. Pen!ebabn!a adalah keluarn!a spermat E a dari saluran dan masuk ke dalam jaringan sebagai akibat tidak sempurnan!a ikatan 4as deferens. perdarahan dihentikan dengan

penekanan pada pembuluh darah !ang luka apabila terjadi pada

3/

(pabila granul ma sperma ke%il akan di abs rpsi sp ntan se%ara sempurna. &ila granul ma besar rujuk ke BS untuk dilakukan eksisi sperma granul ma dan mengikat kembali 4as deferens, namun biasan!a akan sembuh sendiri. Basa n!eri dapat diatasi dengan pemberian analgetik.

)) @angguan Psikis Meningkatn!a gairah seksual (libid ) dan menurunn!a kemampuan ereksi (imp tensi) merupakan keluhan !ang sering dialami leh pria setelah perasi. 'emungkinan besar disebabkan leh gangguan psik l gis (baik !angmeningkat

libid n!a ataupun !ang imp tensi), karena se%ara bi l gis pada 4asekt mi pr duksi test ter n tidak terganggu sehingga libid (nafsu seksual) tetap ada. Penanggulangan dari efek samping ini tidak perlu dilakukan tindakan medis, namun perlu dilakukan psik terapi. Pada penelitian di 6akarta terhadap 000 pria !ang telah dilakukan 4asekt mi, dilap rkan /0- gairah seksualn!a bertambah, 00tidak merasakan perubahan, +- tidak memperhatikan dan han!a 3- !ang menurun gairah seksualn!a (83P'3S B7, 2000).

Gambaran Ting at Pengetahuan Ibu !engenai Kontrasepsi Jang a Pan"ang IU# Pengetahuan mengenai jenis alat dan bat k ntrasepsi, efek samping, k ntraindikasi, kelebihan, dan kekurangan sangat diperlukan agar para pemakai alat k ntrasepsi dapat menggunakan alat k ntrasepsi !ang berbasis pada rasi nal, efekti4itas, efisien. 8alam arti mas!arakat mempun!ai pengetahuan !ang baik mengenai alat k ntrasepsi sehingga memiliki kebebasan untuk memilih alat k ntrasepsi !ang akan digunakan, alat k ntrasepsi

a.

3)

!ang digunakan adalah alat k ntrasepsi !ang memiliki da!a guna !ang lebih dari 3 tahun pemakaiann!a, dipasang han!a 1 kali pemasangan, serta tingkat pengembalian kesuburan relatif %epat. Pengetahuan dapat dipengaruhi leh fakt r pengalaman, s si , buda!a, ke!akinan, dan fasilitas. (da beberapa kemungkinan kurang berhasiln!a pr gram '& diantaran!a dipengaruhi leh tingkat pengetahuan ibu dan fakt r pendukung lainn!a. =ntuk mempun!ai sikap !ang p sitif tentang '& diperlukan pengetahuan !ang baik, demikian sebalikn!a bila pengetahuan kurang maka kepatuhan menjalani pr gram '& berkurang (N t atm j ,2003). 'arena pengetahuan merupakan d main !ang sangat penting dalam membentuk perilaku sese rang