Anda di halaman 1dari 16

MAGISTER MANAJEMEN UGM

PLTU BATUBARA:
Antara Solusi Krisis Listrik dengan Isu Pencemaran Lingkungan
Studi kasus pada PT PLN (Persero) Unit Pembangkitan Jawa Bali

GALIH HONGGO BASKORO

24 Oktober 2013

Paper ini dibuat dalam pemenuhan terhadap mata kuliah General Business Environment Magister Manajemen UGM dalam topik Natural Environment.

General Business Environment

BAB I PENDAHULUAN

Proyek Percepatan PLTU 10.000 MW1 Permintaan akan energi listrik di Indonesia yang semakin meningkat, rata-rata 9% per tahun, menuntut adanya solusi yang menjamin ketersediaan energi listrik Indonesia salah satunya melalui program percepatan pembangunan PLTU210.000 MW tahap I. Program tersebut diinisiasi oleh Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2006 yang menugaskan kepada PT PLN (Persero) untuk melakukan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batubara. Dalam program tersebut dibangun 35 unit pembangkit dengan total kapasitas 10.000 MW, 10 unit pembangkit di antaranya dibangun di Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (JAMALI) sebagaimana

ditunjukkan dalam tabel berikut[1]. Tabel 1.1. Sepuluh Proyek PLTU dalam Sistem JAMALI

Selain penugasan Pemerintah yang tertuang dalam Perpres nomor 71 Tahun 2006, Pemerintah juga memberikan jaminan atas kewajiban pembayaran hutang PT

1 2

Proyek 10.000 MW juga biasa disebut dengan Fast Track Program Phase 1 (FTP-1). Istilah PLTU dalam tulisan ini merujuk kepada Pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.

Natural Environment

General Business Environment

PLN (Persero) kepada kreditor yang menyalurkan dananya dalam proyek ini melalui Perpress Nomor 86 Tahun 2006 [2]. Program FTP-1 selain untuk mengimbangi meningkatnya permintaan energi listrik, juga diharapkan untuk dapat menggantikan pembangkit dengan berbahan bakar minyak menjadi batubara, atau disebut dengan diversifikasi energi.Proses diversifikasi pembangkit batubara tersebut menurut Ali Herman Ibrahim juga akan mengurangi konsumsi BBM hingga maksimum hanya 5 persen sehingga memiliki dua keuntungan yaitu (1) Pembangunan infrastruktur kelistrikan yang memungkinkan PLN memenuhi permintaan listrik yang tumbuh, dan (2) Upaya menekan subsidi pemerintah yang disebabkan oleh naiknya harga BBM [3]. PLTU berbahan bakar batubara masih akan mendominasi penyediaan energi listrik Indonesia, selain karena lebih ekonomis, terutama saat dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar minyak dan gas, batubara juga merupakan sumber pasokan energi utama Indonesia yang ditunjukkan oleh target bauran pasokan energi tahun 2030 sebesar 51% [4]. Hal ini juga terjadi di Amerika, di mana menurut data EIA (Energy Information Administration) tahun 2011 bahwa 93% penggunaan batubara adalah untuk membangkitkan listrik, dan 42% pembangkit listrik di Amerika menggunakan batubara sebagai bahan bakar primernya, walaupun trend penggunaan batubara mengalami sedikit penurunan akibat adanya regulasi terkait polusi udara dan menurunnya harga gas bumi [5]. Di Indonesia, total sumber daya batubara sebesar 105 miliar Ton dengan cadangan sebesar 21 miliar Ton pada tahun 2011 serta trend peningkatan pada produksi batubara sejak 2004 hingga 2011 [6]. Hal ini mengukuhkan penggunaan batubara pada tahun-tahun ke depan akan semakin ditingkatkan, baik pada kegiatan eksplorasinya maupun secara khusus sebagai sumber energi primer bagi pembangkit listrik.

Isu Pencemaran PLTU Batubara Menurut data Kementerian Negara Lingkungan Hidup, kualitas lingkungan hidup di Indonesia cenderung menurun bahkan tanpa intervensi akselerasi

Natural Environment

General Business Environment

pembangunan apapun [7].Lebih lagi selain memberikan manfaat positif bagi pengembangan infrastruktur Indonesia, PLTU berbahan bakar batubara juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan seperti polusi udara, pencemaran air tanah, serta pencemaran laut dan pantai.Selain itu dampak negatif bagi lingkungan tidak hanya mengenai daerah sekeliling pembangkit listrik namun juga tempat asal batubara tersebut dieksplorasi, di mana terjadi deforestasi yang mengancam kelestarian hutan. Greenpeace mencatat beberapa dampak negatif batubara bagi lingkungan pada setiap langkah pemrosesan batubara, yang dibagi atas:[8] Penambangan batubara o Bencana banjir, yang diakibatkan oleh adanya deforestasi. o Rusaknya lahan pertanian akibat pencemaran limbah pertambangan. o Tercemarnya sungai yang menjadi sumber ait bagi penduduk. o Timbulnya penyakit yang terkait pernapasan pada penduduk di sekeliling tambang, seperti ISPA, asma, bronchitis, dan radang paruparu akibat debu batubara. o Bekas lubang galian batubara menjadi Drainase Tambang Asam (Acid Mine Drainage) Penggunaan batubara pada pembangkit listrik o Sumber pengemisi polutan seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida yang mengakibatkan pencemarean udara dan dapat menimbulkan hujan asam. o Penyakit terkait pernapasan pada penduduk sekeliling pembangkit listrik. o PLTU sebagai sumber emisi merkuri, di mana PLTU batubara berkapasitas 100 MW dapat mengemisi kurang lebih 11,34 kg merkuri setiap tahunnya. Merkuri merupakan logam yang sangat berbahaya dan tidak memiliki fungsi biokimia/ nutrisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak berat serta kelainan mental, gangguan

Natural Environment

General Business Environment

motorik dan emosi, bahkan kematian apabila paparannya mencapai system syaraf manusia [9].

Natural Environment

General Business Environment

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

Latar Belakang dan Sejarah PT PLN (Persero) Unit Pembangkitan Jawa Bali, selanjutnya disebut PLN UPJB, yang berdiri sejak Juli 2011 merupakan salah satu unit bisnis PT PLN (Persero) yang dibangun dalam rangka peningkatan efektivitas dan efisiensi pengendalian operasi dan pemeliharaan serta untuk peningkatan kinerja dan percapaian target produksi pembangkit di Jawa-Bali khususnya Program Percepatan Pembangunan Pembangkit 10.000 MW. PLN UPJB melingkupi Sektor Pembangkitan Cilegon, Sektor Pengendalian Pembangkitan I (yang mengelola aset PLTU Suralaya Unit 8, PLTU Labuan, dan PLTU Lontar), Sektor Pengendalian Pembangkitan II (yang mengelola aset PLTU Palabuan Ratu, PLTU Indramayu, dan PLTU Adipala), Sektor Pengendalian Pembangkitan III(yang mengelola aset PLTU Rembang, PLTU Tanjung Awar-awar, PLTU Pacitan dan PLTU Paiton Unit 9), dan Sektor Pengendalian Pembangkitan IV (yang mengelola aset PLTGU Muara Karang Blok 2, PLTGU Tanjung Priok Blok 3, dan PLTGU Muara Tawar Blok 5). Grafik 1.1 berikut menunjukkan wilayah kerja PLN UPJB dalam Sistem Jawa Madura Bali (JAMALI)[10].

Natural Environment

General Business Environment

PLTGU Cilegon
2x238,5 + 1x262,4 MW

PLTGU M. Karang #2
2x250,0 + 3x78,58 MW

PLTU Lontar
3x315 MW

PLTGU Tj. Priok #3


2x238,5 + 1x262,4 MW

PLTGU M. Tawar #5 PLTU Suralaya #8


1x625 MW 1x160,0 + 1x75,0 MW

PLTU Indramayu
3x330 MW
SURALAYA BO JANEGARA CILEGO N
CLG ON

PLTU Tanjung Awar Awar


2x350 MW

PLTU Rembang
M. TAW AR
RG DLK

PLTU Paiton #9
1x660 MW

T.NAGA

KEMBANGAN
BLRJ A

2x330 MW
INDRAMAYU
SKMDI PBRAN
CKPAY PW KTA SBAN G ARJ W N PDLRG DAG O U BRN G HRG LS

BANTEN

CAW ANG GANDU L

BEKASI CIBATU CIBINO NG


KSBRU

MEN ES

RKBTG

I NDM Y
J TBRG

T. JATI

DEPO K
BG BRU

BU N AR P SALAK P

CIRATA
CN J U R

SRAGI
BRBES BBKA N

. JATENG
KBSEN W LER I KLN G U

JPARA

PATI

RBAN G DW I MA BLORA TU BAN SMN EP

PRATU

LBSTU
P U BRU G

SAGULING
CG RL G

RCKEK CKSKA

MANDIRANCAN
MLBN G

KRPYK

TBROK

KU DU S

KNGAN

BANDUNG SELATAN
SN TSA

KMJ N G

DRJAT P
G ARU T

CAMI S
SMDRA

BN J AR

MNAN G

G RU N G KBSE N DI EN G MRI CA W SOBO RW AL O G BON G KBMEN CLCAP

PW RD I

GRESIK
CEPU
BJ G R O BABA T

BKLAN PMKSN

UNGARA N
MJ N G O J AJ AR

TASIKMALAYA

KDMB O SRG E N

LNGAN
N G BN G

G LTMR

SPAN G

N G AW I

KRIAN
MKRTO SBLT BN G I N L

PLTU Labuan
2x300 MW

W ALI N
MDARI PW RJ O W ATE S BN TU L KN TU G

PMPEK

PEDAN

PALU R W N SR I W N G I RI

KTSN O MN RJ O

N G ORO

GRATI
G N DI N G PBLG O STBD O BDW SO BW N G I

BNGI L
BN RAN SKLN G

ADIPALA

PAITO N

KEDIRI
KBAG N SMAN U KBAG N W LN G I KKTES

PAKI S

LMJNG
TN G U L

J MBER

PMRON

GLNU K
N G AR A G TEN G AN TRI

BTRTI AMPLA

KAPAL

G N YAR

N SDU A

PLTU Palabuhan Ratu


3x350 MW

PLTU Adipala
1x660 MW

PLTU Pacitan 2x315 MW

Keterangan: Dikelola Sendiri Dikelola Oleh UBOH Dikelola Oleh UBJOM

Grafik 1.1. Wilayah Kerja PLN UPJB Tujuan Perusahaan Dalam rangka peningkatan kinerja dan percapaian target produksi pembangkit di Jawa-Bali khususnya Program Percepatan Pembangunan Pembangkit 10.000 MW, sebagai Asset Manager3, PLN UPJB mengelola sistem asetnya dengan tujuan optimalisasi risiko, biaya dan kinerja dengan pola pengusahaan sebagaimana Grafik 2.2[10].

PLN UPJB sebagai Manajer Aset atas Unit Pembangkit 10.000 MW, dengan Operator Aset yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali (Anak Perusahaan PT PLN (Persero)).

Natural Environment

General Business Environment

Grafik 1.2. Pola Pengelolaan Aset PLTU FTP1 JAMALI Visi dan Misi Perusahaan Visi: Menjadi Perusahaan Pengelola Asset Pembangkit Terbaik di Indonesia pada Tahun 2015. Makna Visi: Menjadi perusahaan pengelola aset pembangkit mengandung pengertian bahwa PLN UPJB melakukan usaha pengelolaan khusus untuk aset pembangkit listrik, baik berupa PLTU, PLTGU maupun jenis pembangkit lain. Pengelola dimaksud adalah sebagai Aset Manajer yang bertanggung jawab terhadap optimalisasi risiko, biaya, dan kinerja atas aset pembangkit. Terbaik di Indonesia pada Tahun 2015 mengandung pengertian yaitu proses pengelolaan PLN UPJB dijadikan standar bagi pengelola aset pembangkit di PLN maupun sebagai benchmark perusahaan lain di Indonesia. Unit pembangkit yang telah dikelola selama 2 (dua) tahun oleh UPJB akan mencapai o Kinerja operasi: di atas rata-rata NERC; o Risk Eksposure: above average.

Natural Environment

General Business Environment

Misi: Bertindak sebagai asset manager yang bertanggung jawab terhadap pengendalian operasi dan pemeliharaan pembangkit secara optimal, efektif dan efisien, serta memastikan keamanan pasokan bahan bakar, agar dapat menjadi pembangkit yang andal, produktif, dan ramah lingkungan dengan mengacu kepada standar kinerja yang telah ditetapkan. Makna Misi: Bertindak sebagai asset manager mengandung pengertian bahwa peran PLN UPJB yaitu sebagai pengelola sistem aset yang berada di antara Asset Owner yang berperan sebagai penentu kebijakan strategis dan Service Provider/ Asset Operator yang berperan dalam menjalankan kegiatan O&M. Pengendalian pembangkit secara optimal, efektif, dan efisien mengandung pengertian bahwa PLN UPJB melakukan pengelolaan sistem aset dengan melakukan optimasi risiko, biaya dan kinerja yang bertujuan untuk menjaga ketersediaan energi listrik Sistem JAMALI dan menghasilkan energi listrik yang murah. Memastikan keamanan pasokan bahan bakar mengandung pengertian UPJB akan mengelola ketersediaan dan kualitas pasokan energi primer untuk memenuhi kegiatan operasional aset pembangkit, yaitu: o Batubara: tersedia 15 (lima belas) hinga 25 (dua puluh lima) hari operasi. Menjadikan pembangkit yang andal, produktif, dan ramah lingkungan dengan mengacu kepada standar yang ditetapkan mengandung pengertian bahwa dalam menjalankan kegiatan operasionalnya UPJB menggunakan standar-standar internasional seperti ISO 9001:2008, 14001:2004, SMK3, dan PAS 55 selain menggunakan standar internal yaitu SPLN.

Natural Environment

General Business Environment

BAB III ANALISA PELUANG DAN TANTANGAN

Sebagai asset manager atas sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar batubara (PLTU 10.000 MW), PLN UPJB akan mendapatkan dampak bisnis dari sisi Lingkungan Alam sebagaimana berikut. Peluang Adanya aturan dan ketentuan yang jelas dari Pemerintah mengenai ambang batas pencemaran lingkungan, baik udara, air, maupun terkait pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), sehingga PLN UPJB dapat melakukan pemantauan dan evaluasi secara rutin berdasarkan aturan dan ketentuan tersebut. Adanya program peringkat kinerja perusahaan (PROPER) dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang dapat memberikan guidline dan target yang jelas dalam penyusunan roadmap pengelolaan lingkungan hidup atas asset-aset fisik PLN UPJB. Tersedianya cadangan batubara berkalori rendah yang cukup di Indonesia untuk kepastian kegiatan operasional penyediaan tenaga listrik PLTU batubara. Ancaman Kurangnya peran serta PLN UPJB dalam memastikan bahwa pemasok/ supplier batubara mentaati aturan dan ketentuan pemerintah tentang pengelolaan lingkungan hidup, atau tidak berperingkat merah/ hitam dalam PROPER Kementerian Lingkungan Hidup. Hal ini dikarenakan tidak adanya regulasi Domestic Market Obligation yang diterapkan Pemerintah atas jualbeli batubara di pasar Indonesia. Kecenderungan supplier dalam meng-eksport
9

Natural Environment

General Business Environment

batubara ke luar negeri masih sangat tinggi. Sehingga PLN UPJB belum tentu mendapatkan pasokan batubara di tengah melimpahnya cadangan batubara berkalori rendah di Indonesia. Adanya kemungkinan kerusakan peralatan pembangkit listrik, sehingga dapat memungkinkan adanya limbah buangan (air dan/ atau udara)ataupun getaran dan kebisingan yang melebihi batas baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Masih terdapatnya pekerjaan konstruksi di beberapa lokasi unit pembangkit sehingga memungkinkan terjadinya kebisingan. Adanya sanksi administrasi atau bahkan pelarangan kegiatan operasional dari Kementerian Lingkungan Hidup Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan apabila terbukti adanya pelanggaran aturan pengelolaan Lingkungan Hidup oleh unit pembangkit. Hal ini akan merugikan PLN UPJB, dari keharusan melakukan investasi tambahan dalam pengelolaan limbah B3 hingga kehilangan kesempatan produksi listrik akibat ditutupnya unit pembangkit listrik. Demonstrasi oleh masyarakat sekitar akibat pencemaran lingkungan sekitar unit pembangkit, yang dapat berakibat terganggunya mobilisasi tenaga kerja ke dalam PLTU atau bahkan berakibat berhentinya operasional unit pembangkit.

10

Natural Environment

General Business Environment

BAB IV IMPLIKASI TERHADAP BISNIS

Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Untuk memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positif terhadap lingkungan, PLN UPJB menerapkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 [11]. PLN UPJB juga berkewajiban dalam memenuhi berbagai ketentuan dari pemerintah sebagai berikut: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 39/MENLH/II1996 tentang Jenis Usaha ayau kegiatan yang wajib Amdal. Keputusan Kepala Bapedal RI No 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 51/MENLH/10/1995 tentang Limbah Cair bagi Kegiatan Industri. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 49/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 49/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Getaran. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 50/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebauan.

11

Natural Environment

General Business Environment

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 45 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

Peraturan Pemerintah RI No 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 08 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah dan/ Atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal.

Menurut Suratmo, Amdal dilakukan atas dua alas an yaitu: (1) Amdal harus dilakukan untuk proyek yang dibangun karena Undang-undang dan Peraturan Pemerintah menghendaki demikian; atau (2) Amdal harus dilakukan agar kualitas lingkunan tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan. Di mana point kedua merupakan jawaban yang paling ideal dilakukan atas diterapkannya Amdal oleh suatu perusahaan, dalam hal ini PLN UPJB [12]. Dalam rangka memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positif atas kegiatan pengoperasian pembangkit listrik berbahan bakar batubara, PLN UPJB perlu melakukan upaya-upaya sebagaimana berikut: Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), yang terdiri atas aspek: o Penurunan Kualitas Air Laut, o Gangguan pada Biota Laut (Aquatic Biota), o Penurunan Kualitas Udara, dan o Peningkatan Kebisingan. Pelaksanaan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), yang terdiri atas aspek:

12

Natural Environment

General Business Environment

o Penurunan Kualitas Air Laut, o Gangguan pada Biota Laut (Aquatic Biota), o Penurunan Kualitas Udara, o Peningkatan Kebisingan, o Air Sumur Penduduk/ Kualitas Air Tanah, o Air Permukaan Sungai, o Air Limbah WWTP (Waste Water Treatment Plant), o Air Buangan Condenser, o Air Buangan Desalinasi, o Air Buangan dari Oil Catcher, dan o Dampak Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Kesehatan. Evaluasi Tingkat Kritis, yang merupakan evaluasi terhadap potensi risiko di mana suatu kondisi akan melebihi baku mutu atau standar lainnya. Evaluasi Ketaatan, yang merupakan evaluasi terhadap tingkat kepatuhan untuk memenuhi berbagai ketentuan yang terdapat dalam izin lingkungan atau pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup (RKL-RPL). Pelaksanaan Program Partisipasi Pemberdayaan Lingkungan yang berorientasi pada Community Development (ComDev), sehingga akan menciptakan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara mandiri.

Program PenilaianPeringkatKinerja Perusahaan (PROPER) Selain menerapkan Analisis Mengenai Dampal Lingkungan, serta pelaksanaan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup secara periodik, PLN UPJB juga perlu mengejar bendera emas dari program penilaian peringkat kinerja perusahaan yang diassess setiap tahun oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

13

Natural Environment

General Business Environment

Proper merupakan salah satu upaya Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong penataan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrument informasi. Dilakukan melalui berbagai kegiatan yang diarahkan untuk: (1) Mendorong perusahaan untuk mentaati peraturan perundang-undangan melalui insentif dan disinsentif, dan (2) mendorong perusahaan yang sudah baik kinerja lingkungannya untuk menerapkan produk bersih [13]. Melalui proper kinerja lingkungan perusahaan diukur menggunakan warna, mulai dari emas yang merupakan predikat terbaik, hijau, biru, merah, hingga yang terburuk berwarna hitam.Secara berkelanjutan, PLN UPJB perlu mendorong seluruh pembangkit listrik-nya untuk mendapatkan criteria tertinggi dalam pemeringkat Proper. Sehingga selain menunjukkan tingkat kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar, namun juga akan memperoleh citra yang positif di mata masyarakat dan ajang unjuk gigi terhadap perusahaanperusahaan lain di Indonesia.

14

Natural Environment

General Business Environment

DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia. 2006. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2006 tentang Penugasan Kepada PT PLN (Persero) Untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Yang Menggunakan Batubara. 2. Republik Indonesia. 2006. Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2006 tentang Pemberian Jaminan Pemerintah Untuk Pecepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Yang Menggunakan Batubara. 3. Ibrahim, Ali Herman. 2008. General Check-Up Kelistrikan Nasional. Mediaplus Network. 4. Pusat Data & Informasi ESDM. 2010.Indonesia Energy Outlook 2010. 5. Campbell, Richard J.. 2013. Prospect for Coal in Electric Power and Industry. Congressional Research Service. 6. Kementerian ESDM. 2012. Statistik Batubara Tahun 2011. 7. Kementrerian Negara Lingkungan Hidup. 2013. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012: Pilar Lingkungan Hidup Indonesia. 8. Greenpeace Asia Tenggara. 2010. Laporan tentang Batubara Mematikan. 9. National Wildlife Federation. 1999. Clean the Rain, Clean the Lakes: Mercury in Rain is Polluting the Great Lakes. 10. PT PLN (Persero) UPJB. 2013. Rencana Jangka Panjang Perusahaan 20132017. 11. Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisi Mengenai Dampak Lingkungan. 12. Suratmo, F. Gunarwan. 2004. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gajah Mada University Press. 13. Kementrerian Negara Lingkungan Hidup. 2013. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012: Pilar Lingkungan Hidup Indonesia.

15

Natural Environment