Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk memberikan respons tertentu. Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Ginjal sebagai salah satu alat eksresi yang penting pada manusia berfungsi antara lain :

Mengekskresikan zat-zat yang merugikan bagi tubuh, antara lain : 1. urea, asam urat, amoniak, creatinin 2. garam anorganik 3. bacteri dan juga obat-obatan

Mengekskresikan gula kelebihan gula dalam darah. Membantu keseimbangan air dalam tubuh, yaitu mem-pertahankan tekanan osmotik ektraseluler .

Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseim-bangan asam basa darah. Mekanisme kerja obat depresansia secara umum mendepresi sistem syaraf

pusat sebagian atau seluruhnya, atau bekerja secara spesifik pada satu atau lebih pusat otak. Sedangkan yang termasuk dalam golongan obat sedatif hipnotik ialah obat yang menyebabkan depresi ringan (sedatif) sampai terjadi efek tidur (hipnotik). Kerja obat-obat ansiolitik dan hipnotik ini mengikat GABA ke reseptornya pada membran sel akan membuka saluran klorida, meningkatkan efek konduksi

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

klorida. Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah menurunkan potensi postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan

pembentukan kerja potensial. Depresan adalah senyawa yang dapat mendepres atau menekan sistem tubuh. Akibat penurunan aktivitas fungsional dari SSP adalah menurunnya beberapa organ tubuh. Depresan SSP ini menekan pusat kesadaran rasa nyeri, denyut jantung dan pernafasan. Obat depresan otot yang digunakan pada percobaan kali ini adalah diazepam. Diazepam ini digunakan sebagai obat depresan pada penderita gangguan jiwa. Stimulan SSP adalah obat stimulan yang mempercepat proses fisik dan mental. Obat Stimulan SSP adalah obat perangsang yang meningkatkan aktivitas didaerah-daerah tertentu dari otak. Obat ini digunakan untuk meningkatkan keterjagaan pada pasien narkolepsi dari jatuh tertidur. Narkolepsi adalah gangguan yang menyebabkan orang jatuh tertidur pada siang hari. Obat ini juga digunakan untuk mengobati gejala-gejala perilaku yang berhubungan dengan attention deficit hyperactivity disorder. Walaupun tampaknya bertentangan dengan memberikan pasien dengan obat-obatan yang ADHD stimulan, obat-obat ini sering efektif dalam mengobati gejala impulsif, kurangnya perhatian, dan hiperaktif, yang merupakan ciri-ciri gangguan ini.Cara yang tepat stimulan SSP bekerja dalam mengobati narkolepsi dan ADHD yang tidak dipahami. Obatobatan 'mekanisme aksi muncul untuk melibatkan kegiatan peningkatan dua neurotransmitter di otak, norepinefrin dan dopamin. Pada percobaan ini digunakan Strignin sebagai obat stimulan SSPnya. I.2 Tujuan Mempelajari rute eksresi obat. Memahami faktor yang mempengaruhi eksresi obat. Mempelajari salah satu gejala keracunan oleh obat. Memahami penanganan keracunan yang bersifat simptomatis.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

I.3 Hipotesis Sulfadiazin dan Na Bikarbonat akan dieksresi melalui ginjal, pada pemberian sulfadiazin akan memberikan efek positif sedangkan pemberian Na Bikarbonat memberikan efek negatif. Mencit yang diperlakukan dengan penyuntikan diazepam dan strignin memberikan efek antagonis dimana ketika strignin disuntikan kemudian setelah penambahan diazepam, efek stimulan dari strignin akan lebih lama atau melemah karena kerja obat strignin dihambat oleh obat diazepam. Semakin kecil konsentrasi suatu zat aktif yang digunakan maka onset dan durasi yang ditimbulkannya akan berlangsung agak lama, karena konsentrasi zat yang terlalu sedikit.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi adalah sebagai berikut. 1. Defekasi : yaitu proses pengeluaran sisa pencernaan makanan yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam jaringan. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidak diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus. 2. Ekskresi : yaitu pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh. 3. Sekresi : yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya mengandun genzim. 4. Eliminasi : yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus). Fungsi Sistem Ekskresi 1. Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari dalam tubuh. 2. Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh (osmoregulasi). 3. Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal (termoregulasi). 4. Homeostasis. Alat-alat eksresi pada manusia

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

Ginjal (ren) manusia berjumlah sepasang, terletak di rongga perut sebelah kanan depan dan kiri depan ruas-ruas tulang belakang bagian pinggang. Ginjal kanan lebih rendah dari pada ginjal kiri karena di atas ginjal kanan terdapat hati. Ginjal berbentuk seperti biji ercis dengan panjang sekitar 10 cm dan berat sekitar 200 gram. Ginjal yang dibelah secara membujur akan memperlihatkan bagianbagian korteks yang merupakan lapisan luar. Medula (sumsum ginjal), dan pelvis (rongga ginjal). Di bagian korteks terdapat jutaan alat penyaring yang disebut nefron. Setiap nefron terdiri atas badan Malpighi dan tubulus kontortus. Badan Malpighi terdiri atas kapsula (simpai) Bowman Dan glomerulus. Glomrerulus merupakan anyaman pembuluh kapiler. Kapsula Bowman berbentuk mangkuk yang mengelilingi glomerulus. Tubulus kontortus terdiri atas tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal. Dan tubulus kontortus kolektivus. Di antara tubuIus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distal terdapat gelung /lengkung Henle pars ascenden (naik) dan pars descenden (turun).

Penamaan beberapa bagian ginjal mengambil nama ahli yang berjasa dalam penelitian ginjal. Kapsula Bowman mengambil nama William Bowman (l816 1892). Seorang ahli bedah yang merupakan perintis di bidang saluran kentih yang mengidentifikasi kapsula tersebut. Lengkung Henle meugambil nama Jacob Henle (1809-1885), seorang ahli anatomi berkebangsaan Jerman yang mendeskripsikan lengkung di dalam ginjal tersebut. Glomerulus di identifikasi oleh seorang ahli mikroanatomi berkebangsaan ltalia bernama Marcerllo Malpighi (1628 - 1694). Ginjal merupakan alat pengeluaran sisa metabolisme dalam bentuk urine yang di dalamnya mengandung air, amoniak (NH3), ureum, asam urat dan garam mineral tertentu. Penderita diabetes miletus urine mengandung glukosa. Fungsi ginjal Ginjal merupakan alat ekskresi penting yang mempunyai beberapa fungsi, antara lain menyaring darah sehingga menghasilkan urine; mengekskresikan zatzat yang membahayakan tubuh. misalnya protein-protein asing yang masuk ke dalam tubuh, urea, asam urat. dan bermacam -macam garam; mengekskresikan zat-zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya kadar gula darah yang melebihi

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

normal;

mempertahankan

tekanan

osmosis

cairan

ekstraseluler;

dan

mempertahankan keseimbangan asam dan basa. Mengekskresikan zat-zat yang merugikan bagi tubuh, antara lain : 1. urea, asam urat, amoniak, creatinin 2. garam anorganik 3. bacteri dan juga obat-obatan

Mengekskresikan gula kelebihan gula dalam darah Membantu keseimbangan air dalam tubuh, yaitu mem-pertahankan tekanan osmotik ektraseluler

Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseim-bangan asam basa darah.

Anatomi ginjal, meliputi : Lapisan luar (korteks/ kulit ginjal) yang mengandung kurang lebih 1 juta nefron. Tiap nefron terdiri atas badan malpighi (badan renalis) yang tersusun dari kapsula bowman dan glomerulus. Lapisan dalam (medula/ sumsum ginja) yang terdiri atas tubulus kontorti yan gbermuara pada tonjolan papila di ruang (pelvis renalis). Tubulus kontorti terdiri atas tubulus kontorti proksimal dan tubulus kontorti distal.

Proses pembentukan urin : Terdapat 3 proses penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urine, yaitu : 1. Filtrasi (penyaringan) : kapsula bowman dari badan malpighi menyaring darah dalam glomerus yang mengandung air, garm, gula, urea dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomerus (urine primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat yang masih berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misal glukosa, asm amino dan garam-garam. 2. Reabsorbsi (penyerapan kembali) : dalam tubulus kontortus proksimal zat dalam urine primer yang masih berguna akan direabsorbsi yang dihasilkan filtrat tubulus (urine sekunder) dengan kadar urea yang tinggi.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

3. Ekskesi (pengeluaran) : dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak digunakan dan terjadi reabsornsi aktif ion Na+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Di tempat sudah terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis. Dari kedua ginjal, urin dialirkan oleh pembuluh ureter ke kandung urin (vesika urinaria) kemudian urin terbentuk melalui proses penyaringan yang terjadi di badan malpighi. Di dalam badan malpighi, kapsul bowman mengelilingi glomerus. Penyaringan dilakukan pada darah dalam glomerulus yang mengandung garam, gula, urea, air dan sebagainya. Di dalam tubulus kontortus proksimal, zat-zat urin primer (filtrat glomerulus) yang berguna diserap kembali. Sehingga dihasilkan filtrat tubulus (urine sekunder). Pada tubulus kontortus distal terjadi penyerapan kembali terhadap Na+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+.Maka urin yang sesungguhya telah terbentuk disalurkan ke pelvis renalis melalui tubulus kolektivus. Volume urin dikeluarkan bergantung pada: 1. Jumlah air yang kita minum 2. Hormon antidieuretika (ADH) yaitu hormon yang dihasilkan oleh hifoses posterior. 3. Banyaknya garam yang dikeluarkan 4. Stimulus saraf renalis yang menyebabkan penyempitan duktus aferen.

Hal yang perlu diperhatikan meliputi :


Dalam keadaan normal urine tidak mengandung glukosa dan protein. Diabetes melitus terjadi karena adanya glukosa dalam urine yang disebabkan kekurangan hormon insulin.

Banyak urin yang dikeluarkan tergantung dari banyaknya air yang diminum dan kadar ADH.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

Stimulan sistem syaraf pusat kerjanya meningkatkan norepinefrin dan dopamin dalam dua cara yang berbeda. Pertama, stimulan SSP meningkatkan pelepasan norepinefrin dan dopamin dari sel-sel otak. Kedua, stimulan SSP mungkin juga menghambat mekanisme yang biasanya mengakhiri tindakan neurotransmiter ini. Sebagai hasil dari kegiatan ganda sistem syaraf pusat stimulan, norepinefrin dan dopamin telah meningkatkan efek di berbagai daerah di otak. Beberapa area otak yang terlibat mengendalikan dengan kegiatan motorik. Hal ini diyakini bahwa stimulan SSP mengembalikan keseimbangan yang tepat oleh neurotransmiter, yang mengurangi gejala dan fitur yang terkait dengan narkolepsi dan ADHD. Meskipun tindakan yang dimaksudkan sistem syaraf pusat stimulan berada di otak, tindakannya juga dapat mempengaruhi norepinefrin di bagian lain dari tubuh. Hal ini dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan seperti peningkatan tekanan darah dan aritmia jantung karena reaksi norepinefrin pada sistem kardiovaskular. Efek terapeutik dari stimulan sistem syaraf pusat biasanya terlihat dalam 24 jam pertama sejak mengkonsumsi obat. Jika efek tidak terlihat, dosis stimulan SSP dapat perlahan-lahan meningkat pada interval mingguan. Perangsang SSP harus selalu digunakan pada dosis terendah yang efektif untuk meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan. Di dalam sistem syaraf, dapat dibedakan 2 penggolongan fungsional utama. Bagian otonom yang sebagian besar bebas sehingga akibatnya tidak dipengaruhi secara langsung oleh kendali kesadaran, aliran darah ke berbagai organ pencernaan, pembuangan dan lain-lain yang penting untuk kehidupan. Bagian sistem syaraf utama lainnya adalah bagian somatik, yang sebagian besar tidak otonom dan berhubungan dengan fungsi yang sadar seperti gerak tubuh maupun pernapasan dan sikap tubuh. Di antara sel-sel syaraf dengan sel efektornya biasanya isyarat lebih dihantarkan oleh zat kimia dari pada impuls listrik. Hantaran kimiawi ini terjadi melaui pelepasan sejumlah kecil senyawa transmiter dari ujung saraf ke daerah sinaps.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

Diazepam : Valium, Stesolid, Mentalium Di samping khasiat anksiolitis, relaksasi otot dan hipnotiknya, senyawa benzodiazepin ini (1961) juga berdaya antikonvulsi. Berdasarkan khasiat ini, diazepam digunakan pada epilepsi dan dalam bentuk injeksi i.v. terhadap status epilepticus. Pada penggunaan oral dan dalam klisma (retiole), resorpsinya baik dan cepat tetapi dalam bentuk suppositoria lambat dan tidak sempurna. K.l. 97-99% diikat pada protein plasma. Di dalam hati diazepam dibiotransformasi menjadi antara lain Ndesmetilidiazepam yang juga aktif dengan plasma-t1/2 panjang, antara 40120 jam. Plasma-t1/2 diazepam sendiri berkisar antara 20-54 jam. Toleransi dapat terjadi terhadap efek antikonvulsinya, sama seperti efek hipnotiknya. Efek sampingnya adalah lazim untuk kelompok benzodiazepim, yakni mengantuk, termenung-menung, pusing dan kelemahan otot. Dosis : 2-4 dd 2-10 mg dan i.v. 5-10 mg dengan perlan-lahan (1-2 menir), bila perlu diulang estela 30 menit; pada anak-anak 2-5 mg. Pada status epilepticus dewasa dan anak di atas usia 5 tahun 10 mg (retiole); pada anak-anak di bawah 5 tahun 5 mg sekali. Pada konvulsi demam; anak-anak 0,25 0,5 mg/kg berat badan (rectiole), bayi dan anak-anak di bawah 5 tahun 5 mg, setelah 5 tahun 10 mg, juga secara prevent pada demam (tinggi). Benzodiazepines yang memiliki efek yang lebih menenangkan, seperti estazolam (ProSom), dapat diresepkan untuk pengobatan jangka pendek dari gangguan tidur. Mereka mempengaruhi neurotransmitter aminobutyric

gamma-asam (GABA). Neurotransmitor kimia otak yang memfasilitasi komunikasi antara sel-sel otak. GABA bekerja dengan menurunkan aktivitas otak. Walaupun kelas berbeda CNS depressants bekerja dengan cara yang unik, pada akhirnya itu adalah kemampuan mereka untuk meningkatkan aktivitas GABA yang menghasilkan mengantuk atau efek menenangkan. Walaupun efek yang menguntungkan ini untuk orang yang menderita dari kecemasan atau gangguan tidur, barbiturat dan benzodiazepin dapat kecanduan dan harus digunakan hanya sebagai diresepkan. CNS depressants tidak boleh digabungkan dengan obat atau zat yang menyebabkan kantuk, termasuk rasa sakit resep obat-obatan, beberapa over-

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

the-counter dingin dan alergi obat, atau alkohol. Jika digabungkan, mereka dapat memperlambat pernapasan, atau lambat baik hati dan pernapasan, yang dapat berakibat fatal. Berkepanjangan menghentikan penggunaan dosis tinggi dapat menyebabkan depresi SSP untuk penarikan. Karena mereka bekerja dengan memperlambat brain. Aktivitas, potensi konsekuensi dari penyalahgunaan adalah bahwa ketika seseorang berhenti mengambil depresan SSP. Aktivitas dapat rebound ke titik yang kejang dapat terjadi. Seseorang berpikir tentang mereka mengakhiri penggunaan depresan SSP, atau yang telah berhenti dan penderitaan penarikan, harus berbicara dengan seorang dokter dan mencari perawatan medis.

Striknin Striknin tidak bermanfaat untuk terapi, tetapi untuk menjelaskan fisiologi dan farmakologi susunan saraf,obat ini menduduki tempat utama diantara obat yang bekerja secara sentral. Striknin bekerja dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap transmiter penghambatan yaitu glisin di daerah penghambatan pascasinaps, dimana glisin juga bertindak sebagai transmiter penghambat pascasinaps yang terletak pada pusat yanng lebih tinggi di SSP. Striknin menyebabkan perangsangan pada semua bagian SSP. Obat ini merupakan obat konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada hewan coba konvulsi ini berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak. Gambaran konvulsi oleh striknin ini berbeda dengan konvulsi oleh obat yang merangsang langsung neuron pusat. Sifat khas lainnya dari kejang striknin ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan dan perabaan. Konvulsi seperti ini juga terjadi pada hewan yang hanya mempunyai medula spinalis. Striknin ternyata juga merangsang medula spinalis secara langsung. Atas dasar ini efek striknin dianggap berdasarkan kerjanya pada medula spinalis dan konvulsinya disebut konvulsi spinal.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

10

Medula oblongota hanya dipengaruhi striknin pada dosis yang menimbulkan hipereksitabilitas seluruh SSP. Striknin tidak langsung mempengaruhi sistem kardiovaskuler, tetapi bila terjadi konvulsi akan terjadi perubahan tekanan darah berdasarkan efek sentral striknin pada pusat vasomotor. Bertambahnya tonus otot rangka juga berdasarkan efek sentral striknin. Pada hewan coba dan manusia tidak terbukti adanya stimulasi saluran cerna. Striknin digunakan sebagai perangsang nafsu makan secara irasional berdasarkan rasanya yang pahit. Striknin mudah diserap dari saluran cerna dan tempat suntikan, segera meninggalkan sirkulasi masuk ke jaringan. Kadar striknin di SSP tidak lebih daripada di jaringan lain. Striknin segera di metabolisme oleh enzim mikrosom sel hati dan4 diekskresi melalui urin. Ekskresi lengkap dalam waktu 10 jam, sebagian dalam bentuk asal. Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku otot muka dan leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat. Pada stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi, akhirnya terjadi konvulsi tetanik. Pada stadium ini badan berada dalam sikap hiperekstensi (opistotonus), sehingga hanya occiput dan tumit saja yang menyentuh alas tidur. Semua otot lurik dalam keadaan kontraksi penuh. Napas terhenti karena kontraksi otot diafragma, dada dan perut. Episode kejang ini terjadi berulang; frekuensi dan hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan sensorik. Kontraksi otot ini menimbulkan nyeri hebat, dan pesien takut mati dalam serangan berikutnya. Kematian biasanya disebabkan oleh paralisis batang otak karena hipoksia akibat gangguan napas. Kombinasi dari adanya gangguan napas dan kontraksi otot yang hebat dapat menimbulkan asidosis respirasi maupun asidosis metabolik hebat; yang terakhir ini mungkin akibat adanya peningkatan kadar laktat dalam plasma. Obat yang penting untuk mengatasi hal ini ialah diazepam 10 mg IV, sebab diazepam dapat melawan kejang tanpa menimbulkan potensial terhadap depresi post ictal,seperti yang umum terjadi pada penggunaan barbiturat atau obat penekan ssp non-selektif lain. Kadang-kadang

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

11

diperlukan

tindakan

anastesia

atau

pemberian

obat

penghambat

neuromuskular pada keracunan yang hebat. Pengobatan keracunan striknin ialah mencegah terjadinya kejang dan membantu pernapasan. Intubasi pernapasan endotrakeal berguna untuk memperbaiki pernapasan. Dapat pula diberikan obat golongan kurariform untuk mengurangi derajat kontraksi otot. Bilas lambung dikerjakan bila diduga masih ada striknin dalam lambung yang belum diserap. Untuk bilas lambung digunakan larutan KMnO4 0,5 atau campuran yodium tingtur dan air (1:250) atau larutan asam tanat. Pada perawatan ini harus dihindarkan adanya rangsangan sensorik.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

12

BAB III METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan a. Eksresi Alat yang digunakan : Kertas saring Sonde lambung Gelas piala Pengukur waktu (stopwatch) Bahan yang digunakan : Hewan coba tikus Larutan sulfadiazin Larutan Na Bikarbonat Aquadest Larutan HCl 4%

b. Keracunan Striknin Alat yang digunakan : Pengukur waktu (stopwatch) Spuit Bahan yang digunakan : Hewan coba mencit Larutan striknin Larutan diazepam

III.2 Cara Kerja a. Eksresi Diamati kondisi biologis hewan coba. Dipuasakan hewan coba selama 24 jam. Diberikan sulfadiazin atau Na Bikarbonat setara dengan 2gr/50kg bb.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

13

Diberikan aquadest peroral setara dengan 2 gelas air/50kg bb (1 gelas air = 250 cc). Dibasahi kertas saring dengan HCl 4%. Diteteskan urin dan saliva pada kertas saring. Warna kuning atau jingga pada kertas yang telah dibasahi HCl 4% positif mengandung sulfonamid.

b. Keracunan Striknin Diamati kondisi biologis hewan coba. Disuntikkan Nitras Striknin secara subkutan pada mencit. Amati kondisi mencit meliputi : Kepekaan refleks oleh suara dan sentuhan Timbulnya konvulsi-konvulsi (penyebaran, simetri tidaknya,

ekstensia/fleksia, klenik tetanik) Kondisi umum dari hewan antara konvulsi Hubungan konvulsi dan stimulasi yang sekonyong-konyong Respirasi sebelum selama dan sesudah konvulsi. Saat terjadinya konvulsi, disuntikkan diazepam secara ip. Amati setiap 5 menit sifat-sifat atau gerakan yang hilang.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

14

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Data Pengamatan a. Eksresi Perhitungan dosis sulfadiazin : Diketahui Berat Badan Hewan : 100,3 g Dosis zat aktif : 2 g/50 kg BB

Konsentrasi zat aktif : 1% =

Dosis untuk hewan : ~ Dosis Zat Aktif ~ = 100,3 g = 0,004012 g Konsentrasi (zat aktif yang dibutuhkan) : ~ = 100 ml

= 0,4012 ml ~ 0,4 ml

Air : 500 ml/50 kg BB x Air (x ml) = = 1,003 ml ~ 1 ml

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

15

Tabel Data biologi hewan coba kelompok 9 (zat aktif : sulfadiazin) Pengamatan Berat badan Frekwensi Jantung Laju Nafas Refleks Tonus Otot Kesadaran Rasa Nyeri Gejala Lain : Salivasi Urinasi Devekasi Tabel pengamatan eksresi Sulfadiazin Kelompok 1 + 3 + 5 7 + 9 + Keterangan : = ada urinasi/salivasi + = berwarna kuning/jingga (hasil positif) (-) = tidak ada warna (hasil negatif) + + + + Pengamatan Urin Saliva t (menit) U = 10 S = 27 U = 27,49 S = 15,52 U = 4,6 S = 30 U = 21 S = 17 U = 29 S = 20 10 8 6 4 2 Kelompok NaHCO3 Pengamatan Urin Saliva t (waktu) U = 32,46 S = 10,05 U = 35 S = 10 U = 40 S=6 U = 32,28 S = 12,45 U = 37 S=5 Normal 100,3 g 112 184 +++ +++ +++ +++ + + -

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

16

b. Keracunan Striknin Dosis nitras striknin : BB mencit Dosis = 43,5 g = 0,75 mg/kg BB = 0,00075 g/kg BB

Konsentrasi = 0,01% = 0,01 gr/100 ml Perhitungan dosis = 0,00075 g/1000 g x 43,5 g = 0,000032625 g Konsentrasi : x = 100 ml

= 0,32625 ml ~ 0,33 ml

Dosis diazepam : BB mencit Dosis = 43,5 g = 5 mg/kg BB = 0,005 g/kg BB

Konsentrasi = 1% = 10 mg/20 ml = 0,01 g/20 ml Perhitungan dosis = 0,005 g/1000 g x 43,5 g = 0,0002175 g Konsentrasi : x = = 0,435 ml Tabel Data biologi hewan coba kelompok 9 (zat aktif : sulfadiazin) Pengamatan Berat badan Frekwensi Jantung Laju Nafas Refleks Tonus Otot Kesadaran Rasa Nyeri Gejala Lain : Salivasi Urinasi Devekasi Konvulsi Normal 43,5 g 200 160 +++ +++ +++ +++ + 06:57 menit 20 ml

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

17

Waktu terjadinya konvulsi (kejang) pada menit ke 06,57 menit. Onset pada menit ke 35,35 menit. Durasi = (35,35 menit 06,57 menit) = 28,63 menit. Sifat : Aspontan Gerakan : kronik, asemetris IV.2 Pembahasan a. Eksresi Pada praktikum kali ini kelompok kami melakukan percobaan Farmakologi 1 dengan judul percobaan eksresi. Pada percobaan kali ini kami menggunakan hewan coba satu ekor tikus putih yang telah dipuasakan selama 24 jam, tikus perlu dipuasakan karena untuk menghilangkan makanan dan sisa makanan yang ada di dalam lambung karena akan menggangu dalam pengecekan ekskresi pada lambung tikus. Oleh karena itu lambung tikus harus dikosongkan terlebih dahulu. Perlakuan pertama yang dilakukan yaitu diamati kondisi biologis hewan coba lalu diberikan sulfadiazin atau Na Bikarbonat setara dengan 2gr/50kg bb yaitu 0,4012 ml ~ 0,4 ml, kemudian diberikan aquadest peroral setara dengan 2 gelas air/50kg bb (1 gelas air = 250 cc). 1,003 ml ~ 1 ml0,4012 ml ~ 0,4 ml.Selanjutnya, diteteskan urin dan saliva pada kertas saring yang telah dibasahi dengan HCl 4%. Dari 10 kelompok data yang dikumpulkan terjadi variasi waktu eksresi dan urinasi dari hewan coba, pada kelompok 1, kelompok 3, kelompok 7 dan kelompok 9 menggunakan kristal sulfadiazin mendapatkan hasil positif mengandung sulfonamid dengan mengasilkan warna kuning pada kertas saring yang telah dibasahi dengan HCL 4%. Hal ini disebabkan sulfadiazin memang merupakan golongan obat sulfonamid. Sedangkan, pada kelompok 5 yang menggunakan kristal sufadiazin menghasilkan hasil negatif tidak mengandung sulfonamid pada kertas saring yang telah dibasahi HCL 4%. Hal ini dapat dipengaruhi beberapa macam faktor yaitu : dari ketidaktelitian pemasukan sulfadiazin secara peroral yang menyebabkan larutan tumpah atau tidak masuk seluruhnya, terlalu kecilnya dosis zat aktif dan aquadest yang diberikan, kerusakan pada system ADME hewan coba (tikus putih) / kematian hewan coba.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

18

Pada kelompok 2, kelompok 4, kelompok 6, kelompok 8 dan kelompok 10 yang menggunakan kristal natrium bikarbonat menghasilkan hasil negatif tidak mengandung sulfonamid pada kertas saring yang telah dibasahi HCL 4%. Hal ini disebabkan natrium bikarbonat memang bukan merupakan golongan obat sulfonamid sehingga tidak menimbulkan warna kuning atau jingga ketika urin di uji dengan kertas yang mengandung HCL 4% b. Keracunan Striknin Pada percobaan mengenai keracunan strinin digunakan dua jenis obat yaitu striknin (sebagai stimulan) dan diazepam (sebagai depresan). Pertama-tama mencit disuntikkan striknin secara subcutan dalam jumlah yang telah ditentukan dalam perhitungan dosis yaitu 0,33 ml, dimana striknin bekerja dengan cara mengadakan antagomisme kompetitif terhadap transmiter penghambat, yaitu glisin didaerah penghambatan pasca sinap sehinga menyebabkan perangangan pada SSP. Obat ini merupakan konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas bersifat stimulan/ peningkatan, sehingga pada hasil percobaan di hasilkan peningkatan denyut jantung, laju respirasi dan timbulnya konvulsi (kejang) dengan gerakan kronik dan asimetris pada menit 06:57 menit. Pada tahap selanjutnya yaitu penyuntikan diazepam secara intra peritoneal ketika mencit mengalami konvulsi, apabila penanganan ini terlambat akan menyebabkan kematian pada mencit karena. Penyuntikan diazepam ini dimaksudkan sebagai depresan SSP dimana sifat dari obat ini tidak mengurangi rasa nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran, dan pada dosis kecil dapat meningkatkan reaksi terhadap rangsangan nyeri. Menurut Melva Louisa (2007), obat yang penting untuk mengatasi gejala keracunan striknin ialah diazepam 10mg IV, sebab diazepam dapat melawan kejang tanpa menimbulkan potensiasi terhadap depresi post ictal. Kadang-kadang diperlukan tindakan anastesi atau pemberian obat penghambat neuromuskular pada keracunan yang hebat. Onset didapat pada menit ke 35:35 menit, sehingga durasi efek obat diazepam yang ditimbulkan untuk mencit mulai mencapai kesadaran kembali atau kembali ke keadaan nomal yaitu pada menit 28,63 menit.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

19

BAB V KESIMPULAN

sulfadiazin merupakan golongan obat sulfonamid, sehingga hasilnya positif mengasilkan warna kuning atau jingga pada kertas saring yang telah dibasahi dengan HCL 4%.

Natrium bikarbonat bukan merupakan golongan obat sulfonamid, sehingga hasilnya negatif tidak mengasilkan warna kuning atau jingga pada kertas saring yang telah dibasahi dengan HCL 4%.

diazepam merupakan golongan obat yang bersifat depressan,sehingga menyebabkan penurunan aktivitas motorik pada mencit. Strignin merupakan lawan dari diazepam dan bersifat stimulant dengan meningkatkan aktivitas motorik pada mencit Onset pada menit ke 35,35 menit. Durasi = (35,35 menit 06,57 menit) = 28,63 menit

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

20

DAFTAR PUSTAKA

Drh. Mien R., M.Sc.,Ph.D.,dkk. 2013. Panduan Praktikum Farmakologi I. FMIPA Universitas pakuan. Bogor. Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Gaya Baru. Jakarta. Katzumg, B.G. 1989. Farmakologi Dasar Edisi kedua. Hipokrates. Jakarta. Setiabudy, Rianto. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Siswandono. 1995. Kimia Medisinal. Air Langga University Press. Surabaya.

Laporan Praktikum Farmakologi II Eksresi dan Keracunan Strychnin

21