Anda di halaman 1dari 3

MANAJEMEN LUKA BAKAR Luka bakar adalah suatu kondisi kerusakan jaringan yang dapat diakibatkan oleh trauma

panas, kimia, listrik, cahaya matahari, ataupun radiasi nuklir.1 Klasifikasi: Luka bakar diklasifikasikan dalam tiga derajat kerusakan, yaitu:

Klasifikasi I

Jaringan yang rusak Epidermis - Sakit

Klinis

Tes Jarum Pin Waktu Sembuh prick Nyeri 7 hari

Hasil Normal

- Merah - Kering Sebagian dermis,Sakit folikel, rambutmerah/kuning, dan kelenjarbasah, bula keringat utuh

II Dangkal

Nyeri atau normal

7 14 hari

Normal, berbintik

pucat,

II Dalam

Hanya kelenjarSakit keringat yangmerah/kuning, utuh basah, bula

Tidak begitu nyeri

14 31 hari

Pucat, depigmentasi, rata, mengkilat, rambut (-), sikatriks, hipertropi

Tidak sakit, putih,Tidak nyeri 21 hariSikatriks, coklat, hitam, persekun-dam hipertropi kering Luas luka bakar dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan tubuh. Untuk menghitung secara cepat dipakai Rule of Nines dari Wallace. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda.2,3 Pada keadaan darurat dapat digunakan cara cepat yaitu dengan menggunakan luas telapak tangan penderita. Prinsipnya yaitu luas telapak tangan = 1% luas permukaan tubuh.

III

Dermis seluruhnya

Rule of Nines Area luka bakar Seluruh kepala(muka dan belakang) dan leher Dada Perut Ekstremitas atas (kiri dan kanan) Punggung dan bokong Paha dan betis (kiri dan kanan) Perineum dan genitalia Total Tata Laksana Evaluasi ini meliputi jalan napas, pertukaran udara dan stabilitas sirkulasi. Selain itu juga harus diketahui mekanisme terjadinya luka bakar, ada tidaknya gangguan inhalasi, luka bakar pada kornea dan intoksikasi karbon monoksida. Beratnya luka bakar ditentukan dengan menilai derajat serta luas luka bakar.4 Langkah-langkah pertolongan pertama: 1). Tidak panik 2). Mengurangi berat luka bakar dengan cara memadamkan api atau benda panas(pakaian penderita dilepaskan) dan pindahkan penderita ke tempat yang aman. Jika luka bakar disebabkan oleh listrik, padamkan kontak listrik. Jika dikarenakan trauma bahan kimia, irigasi area yang terkena.1 Selimuti tubuh penderita dengan selimut atau kain bersih jika luka bakar cukup luas. 3). Lakukan primary survey5 1. A (Airway) : Sumbatan jalan nafas dapat terjadi akibat cedera inhalasi. Tanda yang mungkin ada yaitu kesulitan bernafas atau suara nafas yang berbunyi (stridor hoarness), edema mukosa mulut dan jalan nafas, ditemukan sisa-sisa pembakaran di hidung atau mulut dan luka bakar mengenai muka atau leher. Cedera ini harus segera ditangani karena angka kematiannya sangat tinggi. 2. B (Breathing) : Ekspansi rongga dada dapat terhambat karena nyeri atau eskar yang melingkar di dada. 3. C (Circulation) : Keluarnya cairan dari pembuluh darah terjadi karena hiperpermeabilitas pembuluh darah. Hal ini juga menjadi penyebab terjadinyaacute lung injury akibat edema paru.1 Bila disertai syok (suplai darah ke jaringan kurang), tindakannya adalah atasi syok lalu lanjutkan resusitasi cairan. Persentase(dalam persen) 9 9 9 2x9 2x9 4x9 1 100

4. D (Disability) : Status neurologis penderita. 4). Resusitasi cairan Pemasangan infus dilakukan untuk mencegah syok. Pada penderita dewasa, resusitasi cairan dapat diberikan pada luka bakar derajat 2 atau 3 yang mengenai > 20% luas permukaan tubuh. Sedangkan untuk anak-anak, resusitasi cairan dapat diberikan jika > 15%, dan pada bayi > 10%.10 Rumus Parkland dapat digunakan sebagai panduan resusitasi cairan pada 24 jam pertama, yaitu 4 mL/kgBB/persen luka bakar solusio Ringer Laktat. Setengah dari jumlah tersebut diberikan pada 8 jam pertama, dan sisanya diberikan untuk 16 jam berikutnya.1 5). Evaluasi urine output Keluaran urin harus tetap dinilai sebagai evaluasi perfusi ginjal dan keseimbangan cairan. Keluaran urin pada dewasa harus dipertahankan antara 0,5-1 mL/kgBB/jam.1 6). Pemasangan NGT(nasogastric tube) Pemasangan NGT dapat diberikan pada penderita dengan luas luka bakar > 20% untuk mencegah terjadinya distensi lambung dan muntah. 1
7). Mencegah infeksi

Luka bakar sebaiknya jangan diberi bahan-bahan yang kotor dan sukar larut dalam air seperti mentega, kecap, telur atau bahan yang lengket misalnya kapas. Luka ditutup dengan kain bersih. Jika ada bula, jangan dipecahkan karena merupakan pelindung sementara sebelum dilakukan perawatan luka di rumah sakit. 8). Pengiriman penderita ke rumah sakit sesegera mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan:1 1. Semua terapi pengobatan diberikan secara intravena selama masa resusitasi 2. Kadar natrium harus tetap dimonitor untuk menghindari terjadinya hiponatremia 3. Transfusi sel darah merah diindikasikan jika kadar hematokrit <> 4. Insulin dapat diberikan jika glukosa serum > 200 mg/dL 5. H2 blocker dan antasida dapat diberikan agar pH lambung tetap pada kisaran 7

Referensi: 1. Jagminas L. Burn Management. Available from: http://www.springerlink.com/content/j8n43741k7777320/fulltext.pdf 2. Lund C, Browder N. The Estimation of Areas of Burns. Surg Gynecol Obstet 1944;79:352-8. 3. Baxter CR. Management of Burn Wound. Dermatol Clin 1993;11:709-14. 4. Hospital and prehospital resources for optimal care of patients with burn injury: guidelines for development and operation of burn centers. American Burn Association. J Burn Care Rehabil 1990;11:98-104. 5. Dr. I Nyoman Putu Riasa, SpBP. Memahami Luka Bakar, Penanggung Jawab Medis Unit Luka Bakar RS Sanglah, Denpasar, Bali.