Anda di halaman 1dari 3

1

Spektroskopi Impedansi Kulit Manusia


A. Labib Fardany F1106065445 Departemen Fisika,Universitas Indonesia
Abstrak Impedansi adalah salah satu karakteristik elektronik pada materi yang dapat diketahui secara eksperimen. Begitu juga sel tubuh manusia, khususnya kulit, juga memiliki impedansi. Teknik yang digunakan untuk mengetahui impedansi kulit adalah dengan mengalirkan sinyal listrik pada permukaan kulit kemudian menangkapnya menggunakan elektroda. Nilai impedansi didapatkan dengan cara mengolah sinyal keluaran dan sinyal masukan menggunakan algoritma dan perhitungan yang tertanam dalam sistem instrumentasi. Sistem memiliki komponen utama yaitu sebuah IC AD5933 sebagai pusat pengolah sinyal dan sebuah mikrokontroler untuk mengontrol kerja sistem dan komunikasi data. Karena impedansi merupakan fungsi dari frekuensi, data diambil berdasarkan frekuensi yang berbeda-beda dalam rentang 5 kHz 95 kHz. Data pengukuran kemudian ditampilkan pada komputer dalam bentuk spektroskopi impedansi. Kata Kunci Spektroskopi AD5933, Frekuensi, Impedansi, Kulit,

Gambar 1. Rangkaian listrik ekivalen untuk sel. Cm adalah kapasitansi membran lapisan ganda, Rm adalah resistansi kebocoran dari kapasitor, Ri adalah resistansi larutan di dalam sel, dan Re adalah resistansi larutan di luar sel.

I. PENDAHULUAN

EMUA jaringan biologis memiliki sifat kelistrikan, begitu juga dengan tubuh manusia. Beberapa sifat kelistrikan pada jaringan biologis diantaranya resistansi, konduktansi, permitivitas, dan kapasitansi. Setiap proses biologis juga merupakan proses elektrik dan sehat atau sakit berhubungan dengan arus bio-elektrik dalam tubuh kita (Pekar, 1997). Dengan adanya sifat kelistrikan ini, tubuh manusia dapat diasumsikan sebagai campuran dari berbagai konduktor yang terdistribusi dengan karakteristik kelistrikan yang berbeda. Namun tidak seperti konduktor logam, konduksi listrik pada jaringan biologi adalah aliran ion. Hadirnya medan listrik pada jaringan, membuat arus konduksi Ic mengalir. Arus ini berhubungan dengan kandungan ion dan pergerakan ion pada jaringan tertentu. Faktor-faktor ini diekspresikan sebagai konduktivitas jaringan (). Sedangkan resistivitas jaringan (R) tidak lain adalah 1/. Jaringan tersusun atas sel. Setiap sel penyusun organ makhluk hidup dibungkus dengan membran semipermeabel (hanya melewatkan beberapa ion tertentu saja) yang tersusun atas molekulmolekul lipida berlapis ganda (bilayer lipids) dan proteinprotein. Karena secara fisik membran pembungkus ini merupakan lapisan ganda, maka secara elektronik membran bersifat seperti kapasitor keping sejajar yang mempunyai nilai impedansi dalam bentuk reaktansi kapasitif. Keberadaan

protein pada membran membuat membran mempunyai sifat semipermeabel dan menyebabkan kebocoran pada kapasito r. Gambar 1 memperlihatkan rangkaian RC ekivalen untuk sistem sel (rangkaian MaxwellWagner). Rangkaian RC MaxwellWagner nilai impedansinya merupakan fungsi dari frekuensi. Dari sini muncul fenomena dispersi impedansi pada frekuensi. Yang membuat impedansi menjadi fungsi dari frekuensi yaitu karena adanya sifat kapasitif yang menimbulkan reaktansi sebesar . Terlihat pada grafik pada gambar 2 bahwa semakin besar frekuensi maka impedansi semakin kecil karena adanya faktor

Gambar 2. Dispersi impedansi sebagai fungsi dari frekuensi

2 1/f. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa membran sel biologis (ketebalan 5-10 nm) memiliki kapasitansi listrik 0.51.3 uF/cm2 dan memiliki resistivitas 102-105 ohm/cm2 (Chen Hao, 2007). II. METODE Impedasi darah diukur dengan cukup presisi menggunakan IC AD5933. IC ini dapat mengirimkan sinyal listrik AC yang diberikan pada objek dan kemudian ditangkap kembali setelah melewati objek tersebut. Sinyal yang diberikan frekuensinya dibuat bervariasi dari 5 kHz sampai 95 kHz. Di dalam IC ada sistem untuk membandingkan sinyal yang ditangkap dengan sinyal yang dikeluarkan mula-mula. Perbedaan sinyalnya dikonversi menjadi nilai resistansi (R) dan reaktansi (I). Tentu saja nilai I dan R yang didapatkan belum pasti benar karena harus dikalibrasi terlebih dahuu sebelumnya. Tanpa rangkaian tambahan, IC ini dapat mengukur impedansi antara 1 k hingga 10 M. Karena kisaran ini masih terlalu besar untuk ukuran impedasi sel, maka digunakan rangkaian eksternal agar bisa mengukur impedansi yang nilainya lebih kecil dari kisaran nilai tersebut dan cocok dengan impedasi sel. Gambar 3 memperlihatkan diagram blok rangkaian eksternal yang digunakan. Pada rangkaian eksternal terdapat VCCS (Voltage Controlled Currenst Source) yang memiliki 2 output sumber arus, positif dan negatif. Pengaturan seperti ini diperlukan untuk mengkur floating impedance yang berarti tidak diukur berdasarkan acuan ground. Eksperimen ini menggunakan VCCS berupa Howloand Current Source termodifikasi yang dapat menginjeksi arus AC positif dan negatif sebesar 350 A. Dengan menggunakan sumber arus yang konstan, maka tegangan akan bervariasi bergantung pada impedansi objek. Tegangan objek diperkuat oleh instrumentation amplifier kemudian disalurkan ke kaki input AD5933. Karena impedansi juga fungsi dari frekuensi, diperlukan juga pengamatan tentang hubungan tersebut. Maka frekuensi sinyal divariasikan dari 5 kHz sampai 95 kHz (berdasarkan referensi untuk pengukuran bioimpedance). Dalam eksperimen ini objek / tissue under study (TUS) yang digunakan adalah kulit pada lengan bagian bawah yang diberi elektroda ECG. Sinyal dari objek yang ditangkap oleh AD5933 diproses secara digital menggunakan sistem DFT (discrete fourier

Rangkaian Eksternal

AD5933 Eval Board

Gambar 4. Metode pengambilan data impedansi kulit

transform) sehingga dapat diambil nilai resistansi R dan reaktansi I dari objek. Proses ini dilakukan secara berulangulang dengan frekuensi yang berbeda-beda dari rentang 5 kHz sampai 9 kHz, sehingga didapat data R dan I secara array dalam register AD5933. Data resistansi dan reaktansi pada AD5933 kemudian dikirim ke mikrokontroler untuk menghitung impedansi berdasarkan frekuensinya dan mengirim data frekuensi, resistansi, reaktansi, dan impedansi ke komputer. Di komputer data tersebut ditampilkan dalam bentuk grafik (spektroskopi impedansi).

III. HASIL Data yang didapat dari AD5933 eval board adalah tabel yang berisi frekuensi sweep, resistansi R, reaktansi I dan impedansi Z. Spektrum impedansi merupakan hasil plot dari nilai R dan I yang ditampilkan pada gambar 5.

Gambar 3. Diagram blok rangkaian eksternal untuk mengukur impedansi biologis

Gambar 6. Spektrum impedansi kulit (plot R dan I)

3 Eksperimen menggunakan frekuensi sweep 900 Hz dengan frekuensi awal 5 kHz dan frekuensi akhir 95 kHz. Dalam range frekuensi ini diperoleh kurva I vs R yang melengkung ke atas. V. KESIMPULAN Hasil eksperimen pengukran impedansi kulit memiliki kemiripan dengan teori rangkaian Maxwell-Wagner untuk rangkaian ekuivalen sel. Hal ini dikarenakan spektrum impedansi kulit menunjukkan gejala kapasitansi dan reaktansi yang lebih dominan daripada induktansi dan memiliki bentuk kurva yang melengkung ke atas. Maka dari itu rangkaia 2R1C dapat dianggap sebagai rangkaian ekuivalen yang pas untuk memodelkan impedansi kulit manusia khususnya di lengan bawah.

IV. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil spektrum impedansi yang didapat, hampir semua reaktansi bernilai negatif. Hal ini menandakan adanya gejala kapasitif pada kulit yaitu pengaruh membran sel kulit. Gejala induktansi terlihat sangat tidak dominan karena reaktansi yang positif hanya terlihat sedikit pada grafik yaitu pada saat frekuensi tinggi saja. Hal ini sesuai dengan teori rangkaian RC ekivalen untuk sistem sel (rangkaian MaxwellWagner) seperti yang telah dijelaskan di atas. Grafik yang sedikit mirip bisa didapatkan dengan mengukur spektroskopi rangkaian 2R1C dengan Rs (series resistence) 68 ohm, Rp (parallel resistance) 130 ohm, dan kapasitor C 100 nF. Frekuensi sweep dilakukan dalam rentang 5 kHz sampai 100 kHz. Pada kulit, nilai R bervariasi antara 10 ohm sampai 140 ohm dan nilai I bervariasi antara -6 ohm sampai -43 ohm. Sedangkan rangkaian rangkaian 2R1C nilai R bervariasi antara 70 ohm sampai 175 ohm dan nilai I bervariasi antara -15 ohm sampai -63 ohm. Perbandingan nilai-nilai tersebut sedikit mendekati, mungkin bisa dicari nilai R dan C yang lebih akurat lagi untuk dapat menggambarkan rangkaian ekuivalen dari sel-sel kulit, namun sudah terlihat sangat jelas bahwa rangkaian 2R1C dapat dikatakan sebagai rangkaian ekuivalen dari sel kulit, khususnya pada lengan bawah.
R1 68

REFERENSI
1. Hao, Chen., Yan, Feng., Ding, Lin., Xue, Yadong., Ju, Huangxian. 2007. A Self-assembled Monolayer Based Electrochemical Immunosensor for Detection of Leukemia K562 Cells. Science Direct. Electrochemistry Communications 9 Dean, D.A., Ramanathan, T., Machado, D., Sundararajan, R., 2008. Electrical Impedance Spectroscopy Study of Biological Tissues. J Electrostat Seoane, Fernando., Ferreira, Javier., Jose Sanchez, Juan., Bragos, Ramon. 2008. An Analog Front-End Enables Electrical Impedance Spectroscopy System On-Chip for Biomedical Applications. IOP Science Analog Devices, AD5933 Data Sheet

2.

3.

4.

C1 100nF

R2 130

A. Labib Fardany Faisal, lahir di Pamekasan 13 April 1993. Anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Fisika semester 2. Sebelumnya, menimba ilmu di SMAN 3 Pamekasan.

Gambar 7. Rangkaian 2R1C ekuivalen dan spektrum impedansi impedansinya