Anda di halaman 1dari 8

Laksatif. A.

Definisi Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu.1 Frekuensi defekasi/buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB.2 Orang yang frekuensi defekasi/BAB-nya kurang dari normal belum tentu menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan. Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh 3, misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme). Sasaran Terapi Konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan Terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. Strategi Terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun non-farmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/olah raga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan manusia

ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/BAB meningkat.3 Sedangkan terapi farmakologis adalah dengan menggunakan pencahar. Pencahar adalah
obat yang digunakan untuk memudahkan pelintasan dan pengeluaran tinja dari kolon dan rektum.4 Selain konstipasi, pencahar juga dipergunakan untuk pasien dengan resiko

perdarahan (haemorhoid), angina pectoris, prosedur pembedahan dan radiologi, setelah terapi antelmentik.

B. Klasifikasi Laksatif/pencahar digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit.3 Obat pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu: 1. Pencahar rangsang 2. Pencahar garam dan pencahar osmotik 3. Pencahar pembentuk masa 4. Pencahar Emolien C. Mekanisme kerja 1. Pencahar Rangsang. Pencahar rangsang (stimulant cathartics) merangsang mukosa, saraf intramural atau otot polos usus sehingga meningkatkan peristaltis dan sekresi lender usus. Pencahar rangsang dapat menghambat Na+, K+-ATPase yang mungkin merupakan sebagian dari kerjanya sebagai pencahar. Banyak diantara pencahar rangsang juga meningkatkan sistesis prostaglandin dan siklik AMP, dan kerja ini meningkatkan sekresi air dan elektrolit.5 Ada 3 golongan pencahar rangsang adalah minyak jarak, difenilmetan dan antrakinon (tidak digunakan lagi karena sifat karsinogeniknya). a. Minyak jarak (Castrol Oil-oleum Ricini) Mekanisme Kerja

Minyak jarak dimetabolisme dalam saluran cerna menjadi asam risinoleat yang merangsang proses sekresi, mengurangi absorpsi glukosa dan meningkatkan motilitas saluran cerna terutama usus halus. Efek pencahar terlihat setelah 3 jam.6 Farmakokinetik Indikasi. Konstipasi Kontra Indikasi. Mual, muntah, spasme, kolik abdomen (apendisitis, obstruksi usus)5 Interaksi Obat. Efek Samping. Kolik, confusion, denyut nadi tak teratur, dehidrasi dengan gangguan elektrolit, karena banyak pilihan obat lain yang lebih aman, maka tidak banyak digunakan lagi Perhatian penggunaan. Bentuk sediaan obat. Minyak. Dosis. Dewasa 15-60 ml, Anak 5-15 ml. Perhatian Dianjurkan untuk diberikan pada pagi hari waktu perut kosong. Dosis lebih besar tidak menambah efek pencahar.

b. Difenilmetan Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein. Senyawa-senyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan.7 Mekanisme Kerja. Bekerja langsung di usus dengan meningkatkan aktivitas motor; mengiritasi plexus intramural kolon, menstimuli PG, cAMP, sintesa vasoactif polipeptida.8,9 Farmakokinetik

A: sedikit diabsorbsi, Onset 6-8 jam (oral), 15-60 menit (recal) D: tractus gastrointestinal M: menjadi metabolit aktif desacetyl bis (p-hy-droxyphenyl)piridyl-2-methane oleh enzim dari bakteri dan usus. E: terutama melalui feses dan yang terabsorbsi melalui urine Indikasi Semua bentuk konstipasi, gangguan perirenal yang bisa menyebabkan konstipasi seperti hemoroid, sebelum dan sesudah operasi, persiapan barium enema, proctosigmoidoskopi Interaksi obat Diuretik, Adreno-kortikosteroid, antasid, susu, obat lain yg meningkatkan pH lambung Efek Samping Rasa tidak nyaman di perut, kram, nyeri abdomen, diare, mual, reaksi alergi, termasuk reaksi anafilaksis Perhatian Penggunaan Kehamilan, laktasi, anak < 4 tahun, hindari penggunaan bersama susu atau antasid Bentuk Sediaan Obat Tablet 5 mg (Bicolax,Laxamex) Supp dewasa 10 mg(Dulcolax), Supp anak 5 mg (Dulcolax) Dosis untuk konstipasi per oral Dewasa 5-15 mg/hari, anak 3-12 tahun 5-10 mg atau 0,3 mg/kg saat akan tidur atau setelah sarapan, per rektal dewasa 10 mg untuk menginduksi pergerakan usus, anak 2-11 tahun 5-10 mg sebagai dosis tunggal, < 2 tahun 5 mg, untuk orang tua 5-10 mg/hari.8,9

2. Pencahar Garam dan Pencahar Osmotik Contoh obat dari golongan ini ialah garam magnesium, garam natrium dan laktulosa. Peristaltic meningkat disebabkan pengaruh tidak langsung karena daya osmotiknya. Air ditarik ke lumen usus dan tinja menjadi lembek setelah 3-6 jam.5 a. MgSO4 (garam Epsom, garam Inggris)8,9 Mekanisme kerja Meningkatkan sekresi cairan di usus, menurunkan pelepasan acethylcholine pada neuromuscular junction, memperlambat kecepatan impuls SA node, dan memperpanjang waktu konduksi

Farmakokinetik Diabsorbsi melalui usus kira-kira 20 %, di eksresi melalui ginjal Indikasi Konstipasi dan defekasi yang ireguler Interaksi Obat Allopurinol, cefpodoxime, atenolol, tetracycline, INH,

ketoconazole, ofloxacin, penisilin akan menurunkan efektivitas obat-obatan di atas, menurunkan konsentrasi Aspirin. Efek Samping Hipermagnesaemi, depresi reflex tendon dan pernapasan, mual, muntah, diare, kemerahan di kulit, drowsines, confusion, pandangan menjadi 2, hipotensi, bradikardia, coma, dan cardiact arrest Perhatian Hipersensitif, Gagal ginjal, Hipermagnesia, Appendisitis Bentuk Sediaan Obat Suspensi 400 mg/5 ml (Laxasium) Dosis: Dewasa 2-4 sendok teh saat akan tidur atau bangun pagi, anak 6-11 tahun 1-2 sendok the b. Laktulosa8,9 Mekanisme kerja Meningkatkan tekanan osmotik dan kandungan air dalam feses, menahan amoniak di kolon dan menurunkan konsentrasi serum amoniak Farmakokinetik A: sedikit diabsorbsi, tdk memiliki efek sampai kolon D: ke traktus gastrointestinal M: oleh bakteri saccharolytic E: mll feses dan urine dlm bentuk utuh Indikasi Konstipasi kronik Kontra Indikasi Galaktosemia, obstruksi intestinal Interaksi Obat respon diganggu oleh obat anti infeksi, Efek Samping Kembung, kram, mual, muntah, diare, kehilangan cairan, hipokalemia, hipernatremia Perhatian Penggunaan Kehamilan, DM, dan penggunaan jangka panjang Bentuk Sediaan Obat Sirup 10 g/15 ml (Dulcolactol), 3, 35 g/5 ml (Duphalac), 110 ml (Laxadilac), 120 ml & 200 ml (Lactulax) Dosis konstipasi: per oral Dewasa 15-30 ml (10-20 gr)1x/hr hingga 60 ml (40 gr) sehari, Anak 7,5 ml (5 gr) per hari setelah sarapan

3. Pencahar pembentuk massa Pencahar penambahvolume mencakup koloid hidrofilik (berasal dari buah-buahan dan sayur-sayuran yang tak tecernakan). Obat ini membentuk jeli di dalam usus besar, menyebabkan retensi air dan distensi intestinal, dengan demikian meningkatkan aktivitas peristaltic. Contoh obat pencahar pembentuk massa adalah Psylium. Psylium5,8,9 Mekanisme kerja Adsorbsi cairan di usus , meningkatkan masa feses, merangsang peristaltik, dan menurunkan waktu transit di GIT Farmakokinetik A: umumnya tdk diabsorbsi Onset 12-24 jam D: traktus gastrointestinal M: tidak mengalami metabolisme E: mll feses dan yg terabsorbsi mll urine dlm bentuk utuh Indikasi Manajemen konstipasi kronikdan irritable bowel syndrome, adjuvant terapi konstipasi penyakit divertikular, Kontra Indikasi Impaksi feses, obstruksi intestinal Interaksi Obat Digoksin, Fe, Antikoagulan Efek Samping Reaksi alergi, anorexia, kembung, kram, konstipasi, obstruksi esophageal atau usus, flatulen, mual, muntah Bentuk Sediaan Obat Sachet-bubuk Dosis: Dewasa 1/2-1 sachet/1-3x/hr Anak > 6 th 1/4-1/2 sachet/1-3x/hr, Bubuk dicampur 200ml air

4. Pencahar Emolien Obat yang termasuk golongan ini memudahkan defekasi dengan jalan melunakkan tinja tanpa merangsang peristaltis usus, baik langsung maupun tidak langsung. a. Dioktilnatrium sulfosuksinat5

Mekanisme Kerja. Menurunkan tegangan permukaan, sehingga mempermudah penetrasi air dan lemak ke dalam masa tinja, tinja menjadi lunak setelah 24-48 jam. Farmakokinetik. Ekskresi melalui tinja Indikasi. Konstipasi Efek samping. Muntah dan diare Bentuk sediaan obat. Tablet 50-300 mg, suspense 4mg/ml, Dosis. Anak 10-40 mg.hari, dewasa 50-500 mg/hari b. Parafin cair5 Mekanisme kerja. Mengurangi reabsorpsi air dari tinja, sehingga tinja melunak Farmakokinetik. Tidak dicerna, hanya sedikit diabsordsi, eksresi melalui tinja Indikasi konstipasi Efek samping. Hipoprotrombinemia, pruritus Interaksi obat. Mengganggu absorpsi zat-zat larut lemak Dosis. Dewasa 15-30 ml/hari

DAFTAR PUSTAKA
1. Arif, A., Sjamsudin, U., 1995, Obat Lokal dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, hal. 509, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

2. McQuaid, K.R, 2006, E-book: Current Medical Diagnosis & Treatment:Allimentary Tract, 45th Edition, p.541-544, McGraw-Hill, United States of America

3. Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. (editors), 2005, Pharmacotherapy: A Phatophysiologic Approach, 6th Edition, p.684-689, McGraw-Hill, United States of America.

4. Sanjoyo,

Raden.

2011.

Obat

(Biomedik

Farmakologi).

Online

(http://yoyoke.web.ugm.ac.id) diakses tanggal 27 Mei 2011


5. Estuningtyas, Ari. Arif, Azalis. 2007. Obat Lokal : Farmakologi dan Terapi Edisi 5,hal 525-531: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 6. Sukandar, Elin Y dkk. 2008. Gangguan Pencernaan : ISO Farmakoterapi.hal 372-378. PT. ISFI. Jakarta 7. Gangarosa, L.M., Seibert, D.G., 2003, E-book: Modern Pharmacology With Clinical Application, 6th Edition, p.474-476

8. MIMS, 2009. MIMS edisi Bahasa Indonesia, volume 10. Penerbit PT Bhuana ilmu popular (kelompok Gramedia). Jakarta. 9. Sweetman SC, ed. Electrolytes. 2005. In: Martindale: The Complete Drug Reference. 34th ed. London: Pharmaceutical Press.