Anda di halaman 1dari 13

1

POSTPARTUM BLUES (Karya tulis ilmiah)

OLEH: Rika Sundari 201207115

AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG 2013/2014

KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah tentang postpartum blues dengan baik sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita pelajari kembali pada kesempatan yang lain untuk kepentingan proses belajar kita terutama dalam bidang PSIKOLOGI KEBIDANAN. Bersama ini saya juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya tugas ini. Semoga segala yang telah saya kerjakan merupakan bimbingan yang lurus dari Yang Maha Kuasa. Dalam penyusunan tugas ini tentu jauh dari sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran sangat saya harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan tugas ini dan untuk pelajaran bagi kita semua dalam pembuatan tugas-tugas yang lain di masa mendatang. Semoga dengan adanya tugas ini kita dapat belajar bersama demi kemajuan kita dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Bandar Lampung,30 Desember 2013

penyusun

I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Pengalaman menjadi orang tua khususnya menjadi seorang ibu tidaklah

selalu merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi setiap wanita atau pasangan suami istri. Realisasi tanggung jawab sebagai seorang ibu setelah melahirkan bayi sering kali menimbulkan konflik dalam diri seorang wanita dan merupakan faktor pemicu munculnya gangguan emosi, intelektual, dan tingkah laku pada seorang wanita.(Dewi;2013) Perubahan psikologis selama masa nifas tidak terlepas dari meningkatnya kesehatan ibu. Seorang ibu yang baru melahirkan pada umumnya di gambarkan tampak gembira, penuh cinta kasih, dan sangat tenang. Tetapi apakah semua ibu memiliki perasaan yang sama? Sebenarnya, tidak semua ibu menunjukkan gambaran emosi yang sama seperti perasaan sedih, cemas, bahkan depresi, salah satu perubahan psikis yang umum terjadi selama masa nifas yaitu postpartum blues.(pieter;2010 hal 252) Dewasa ini post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu petama setelh persalinan dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi deprsi/sedih, menangis, mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri , gangguan tidur dan gangguan nafsu makan . Gejala-gejala ini muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari . Namun pada beberapa kasus gejala-gejala tersebut terus bertahan dan baru menghilang setelah beberapa hari, minggu atau bulan kemudian bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa fase-fase perubahan psikologi pada ibu pasca partum? 2. Apa itu post partum blues? 3. Apa factor penyebab post partum blues? 4. Apa gejala-gejala post partum blues?

1.3 TUJUAN Agar kita sebagai seorang calon bidan dapat : 1. 2. 3. 4. Mengetahui fase-fase perubahan psikologi pada ibu pasca partum Mengetahui apa itu post partum blues Mengetahui factor penyebab post partum blues Mengetahui gejala-gejala post partum blues

1.4 MANFAAT Manfaat kita sebagai seorang calon bidan untuk mempelajari mengenai post partum blues ini, yaitu : karena kita sebagai seorang calon bidan yang tentunya akan selalu berhadapan dengan wanita sepanjang daur kehidupannya pastinya harus bisa memberikan asuhan pada wanita sepanjang daur kehidupannya. Apalagi masalah post partum blues adalah masalah yang di hadapi oleh wanita pasca persalinan dengan kita mempelajari post partum blues tentunya kita bisa mencegah agar hal tersebut tidak di hadapi oleh ibu pasca persalinan. Dan bagi ibu yang sudah terkena gejala post partum blues hendaknya kita sebagai seorang tenaga kesehatan harus mencegah agar tidak sampai pada tahap selanjutnya yaitu pada yang lebih parah lagi.

II PEMBAHASAN
2.1 Gambaran Umum

Masa nifas (puerperium) dimulai sejak kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan saat sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu(42 hari) setelah itu.(dewi;2013 hal 1) Pengawasan dan asuhan post partum masa nifas sangat diperlukan yang tujuannya adalah menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis, melaksanakan sekrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, menyusui, pemberian immunisasi pada saat bayi sehat, memberikan pelayanan KB. Reaksi emosional yang biasanya muncul pada perempuan di masa nifas pasca melahirkan yaitu: 1. maternity blues atau post partum blues 2. Psikois pasca persalinan 3. Depresi pasca persalinan.

2.2 fase-fase perubahan psikologi pada ibu pasca partum Seorang ibu yang berada pada periode pascapartum mengalami banyak perubahan baik perubahan fisik maupun psikologi. Perubahan psikologi pascapartum pada seorang ibu yang baru melahirkan terbagi dalam tiga fase:

taking in dimana pada fase ini ibu ingin merawat dirinya sendiri, banyak bertanya dan bercerita tentang pengalamannya selama persalinan yang berlangsung 1 sampai 2 hari.

taking hold dimana pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Fase ini berlangsung 3-10 hari.

fase letting-go dimana ibu sudah dapat menyesuaikan diri,merawat diri dan bayinya,serta kepercayaan dirinya sudah meningkat(menerima tanggung jawab). Fase ini berlangsung 10 hari seteah

melahirkan.(dewi;2013) Perubahan tersebut merupakan perubahan psikologi yang normal terjadi pada seorang ibu yang baru melahirkan

2.3 Pengertian postpartum blues


Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Postpartum blues dapat

terjadi sejak hari pertama pascapersalinan atau pada saat fase taking in, cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca persalinan. Postpartum blues merupakan gangguan suasana hati pascapersalinan yang bisa berdampak pada perkembangan anak karena stres dan sikap ibu yang tidak tulus terusmenerus bisa membuat bayi tumbuh menjadi anak yang mudah menangis, cenderung rewel, pencemas, pemurungdan mudah sakit. Keadaan ini sering disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan yang bila tidak segera diatasi bisa berlanjut pada depresi pascapartum yang biasanya terjadi pada bulan pertama setelah persalinan. Saat ini postpartum blues yang sering juga disebut maternity blues atau baby blues diketahui sebagai suatu sindrom gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan. 2.4 Faktor Penyebab Postpartum Blues Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain: 1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estradiol.

Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi. 2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas. 3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan. 4. Latar belakang psikososial ibu 5. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya. Ada beberapa hal yang menyebabkan post partum blues, diantaranya : 1. Lingkungan melahirkan yang dirasakan kurang nyaman oleh si ibu. 2. Kurangnya dukungan dari keluarga maupun suami. 3. Sejarah keluarga atau pribadi yang mengalami gangguan psikologis. 4. Hubungan sex yang kurang menyenangkan setelah melahirkan 5. Tidak ada perhatian dari suami maupun keluarga 6. Tidak mempunyai pengalaman menjadi orang tua dimasa kanak-kanak atau remaja. Misalnya tidak mempunyai saudara kandung untuk dirawat. 7. Takut tidak menarik lagi bagi suaminya 8. Kelelahan, kurang tidur 9. Cemas terhadap kemampuan merawat bayinya 10. Kekecewaan emosional (hamil,salin) 11. Rasa sakit pada masa nifas awal 2.5 Gejala-Gejala postpartum Blues

Gejala gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. Gejala tersebut biasanya muncul pada hari ke-3 atau 6 hari setelah melahirkan. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya, yaitu : sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia, tidak sabar, penakut,

tidak mau makan, tidak mau bicara, sakit kepala sering berganti mood, mudah tersinggung ( iritabilitas), merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan, tidak bergairah, tidak percaya diri, khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati, tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan, merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja dilahirkan, merasa tidak menyayangi bayinya, insomnia yang berlebihan. Gejala gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun jika masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression.

2.6 Penatalaksanaan/ Cara Mengatasi PostPartum Blues

Penanganan gangguan mental pasca-salin (tribudiyantiwr; 2012) pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momenmomen lainya. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat, dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan, dapat diberikan

pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya. Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi, membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku, emosional, intelektual, sosial dan psikologis secara bersamasama, dengan melibatkan lingkungannya, yaitu: suami, keluarga dan juga teman dekatnya. Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu : pendekatan komunikasi terapeutik Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : 1. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi 2. Dapat memahami dirinya 3. Dapat mendukung tindakan konstruktif.

10

Tujuan lain dari komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologis saat persalinan, (Dahro; 2012 ) antara lain: i. Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran selama proses persalina, ii. iii. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, Membantu memengaruhi oarng lain, lingkungan fisik, dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.

Kegiatan komunikasi terapeutik antara lain: Menjalin hubungan yang mengenakan(rapor) dengan klien, Kehadiran, Mendengarkan, Sentuhan dan pendampingan klien yang bersalin, Memberi informasi tentang kemajuan persalinan, Memandu persalinan dengan memandu instruksi khusus tentang bernapas, rileksasi, dan posisis tubuh, Mengadakan kontak fisik dengan klien, Memberikan pujian, Memberikan ucapan selamat pada klien atas kehadiran anaknya dan menyatakan ikut berbahagia. Peningkatan dukungan mental/ dukungan keluarga Beberapa cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga (Dahro;2012) diantaranya : 1. Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu dll. 2. Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi kesibukan merawat bayi

11

3. Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya 4. Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir 5. Memperbanyak dukungan dari suami 6. Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan 7. Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan 8. Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu 9. mengganti suasana, dengan bersosialisasi 10. Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya Ada beberapa hal yang layak dilakukan untuk memperlakukan ibu yang baru melahirkan sampai dengan 40 hari setelah melahirkan. Disatu sisi sang ibu senang dan bahagia telah melahirkan dengan selamat, di sisi lain ibu masih memiliki beban sisa-sisa kotoran yang masih melekat berkaitan dengan situasi baru melahirkan. Dalam situasi itu, ibu yang baru melahirkan juga mendapat beban baru yaitu menjaga luka, masih meraskan sakit didaerah alat reproduksinya, perubahan fisik yang berbeda dari sebelumnya, khawatir ASI tidak keluar, canggung untuk menyusui, belum bisa nyenyak tidur,dan sebagainya. Pada proses persalinan,terapi komunikasi diberikan agar dapat membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu memengaruhi oarang lain, lingkungan fisik, dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.(Dahro;2012 hal 84)

12

III PENUTUP
3.1 Kesimpulan Baby blues atau postpartum blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman setelah persalinan, yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi, atau pun dengan dirinya sendiri. Banyak faktor diduga berperan pada sindrom ini, antara lain adalah faktor hormonal, faktor demografik yaitu umur dan paritas, pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan, takut kehilangan bayi, dan latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan. Penanganan gangguan mental postpartum pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya. Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Dengan bantuan dari teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi 4.2. SARAN Dengan pembuatan karya tulis ini diharapkan mahasiswa bisa memahami konsep dasar postpartum blues. Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya. Diharapkan mahasiswa dapat membagi informasi ini kepada masyarakat dan dapat mempraktekkan ilmunya saat prakteklinik nantinya.

13

DAFTAR PUSTAKA
Dahro, Ahmad.2012. Hal 84. Psikologi kebidanan: Analisis Perilaku Wanita untuk Kesehatan. Jakarta; Salemba medika. Dewi, Vivian Nanny Lia dan Tri Sunarsih.2013. Asuhan kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta; salemba medika. Pieter, Herrizan dan Namora Lumongga lubis.2010. Pengantar Psikologi untuk Kebidanan. Jakarta; Kencana Prenada Media Group. Situs web http://tribudiyantiwr.blogspot.com/2012/04/makalah-post-partum-blues_25.html di unduh tanggal 21 desember 2013 pukul 19.45 wib http://ainicahayamata.wordpress.com/2011/03/30/postpartum-blues/ tanggal 21 desember 2013 pukul 19.30 wib di unduh