Anda di halaman 1dari 29

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang padat penduduk, dari survei CIA World Factbook 2004 Indonesia menempati urutan ke-4 negara yang paling banyak penduduknya di dunia yaitu 241.452.952. Indonesia juga merupakan nergara kepulauan yang terdiri atas beberapa pulau yang dipisahkan oleh lautan, sehingga persebaran penduduk tidak merata antara pulau yang satu dengan yang lain. Dengan tingginya jumlah penduduk di Indonesia dan penyebaran yang tidak merata muncul berbagai masalah di antaranya masalah kesehatan salah satunya AKI (Angka Kematian Ibu) yang masih tinggi, dari hasil survei SDKI 2007 AKI di Indonesia adalah 228 per 100 ribu kelahiran hidup yang masih jauh dari target MDGs 2015 yaitu 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Walaupun AKI menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun, namun angka tersebut masih tinggi di Asia dan masih jauh dari target. Salah satu program pemerintah untuk menurunkan AKI di Indonesia adalah dengan membatasi jumlah anak dan mengatur jaran kelahiran anak dengan program KB (Keluarga Berencana). Program KB memiliki tujuan selain untuk membatasi angka pertubuhan penduduk yang pesat juga menurunkan angka morbiditas ibu dan bayi terutama pada ibu dengan usia non reproduktif yang bila hamil akan meningkatkan resiko saat hamil dan bersalin serta memungkinkan terjadinya kelainan kromosom pada janin yang dilahirkan dengan kelainan. Program KB di Indonesia dijalankan dengan cara kontrasepsi yaitu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya tersebut dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Namun sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal, karena idealnya suatu kontrasepsi dilihat dari daya guna, aman, murah, estetik, mudah didapat, tidak memerlukan motivasi terus-menerus, dan efek samping minimal. Sejak diberlakukan KB di Indonesia dan sejak berkembangnya kontrasepsi di Indonesia, penggunaan kontrasepsi masih dalam taraf belum memuaskan. Sampai saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang enggan menggunakan kontrasepsi dengan alasan takut dan efek samping yang merugikan dan lebih memprihatinkan lagi banyak masyarakat yang tidak tau apa itu kontrasepsi dan jenisnya terutama masyarakat di daerah terpencil dan dengan pendidikan rendah.
1

Saat ini kontrasepsi telah mengalami evolusi yang cukup signifikan dari segi jenis, daya guna, efek samping, efektivitas, dan efisiensinya. Dengan mengenal lebih dalam mengenai apa itu kontrasepsi, efek samping, dan cara penggunaannya diharapkan kontrasepsi dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat selain untuk kesejahteraan keluarga juga untuk mendukung keberhasilan program pemerintah. Kontrasepsi dilihat dari jenisnya ada yang hormonl dan non hormonal. Kontrasepsi hormonal berisi satu atau lebih hormonal untuk menekan terjadinya masa subur pada wanita, sedangkan kontrasepsi non hormonal merupakan metode kontrasepsi yang cara kerjanya bukan melibatkan hormonal karena tidak berisi hormon di dalamnya. Kedua metode kontrasepsi ini masing-masing memiliki kelebihan dan efek samping yang berbeda yang juga memberikan efek yang berbeda pula pada masing-masing pengguna. Kontrasepsi hormonal merupakan metode kontrasepsi dengan melibatkan hormon di dalamnya sehingga hormon tersebut akan mempengaruhi siklus menstruasi pada wanita akseptor KB hormonal, tujuannya adalah untuk mengubah situasi hormonal dalam tubuh sehingga tidak terjadi pembuahan atau kehamilan. Kontrasepsi hormonal terdiri atas beberapa jenis dengan isi hormon, efektivitas, kelebihan, kekurangan, dan efek samping yang berbeda bila digunakan. Namun, pada akseptor KB tidak semua mengalami efek samping yang ada sehingga bisa aman digunakan sebagai metode kontrasepsi untuk menunda atau mengatur jarak kehamilan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI Kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan setelah hubungan seksual dengan menghambat sperma mencapai ovum matang (metode yang mencegah ovulasi) atau dengan mencegah ovum yang telah dibuahi tertanam pada endometrium (mekanisme yang menyebabkan lingkungan uterus tidak cocok untuk ovum yang telah dibuahi). Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang menggunakan kombinasi estrogen dan progesteron sintetik atau hanya progestin saja. Estrogen menekan Follicle stimulating Hormone (FSH) dan mencegah perkembangan folikel dominan. Estrogen juga menstabilkan bagian dasar endometrium dan memperkuat kerja progestin. Progestin menekan peningkatan Leutenizing Hormone (LH) sehingga menekan terjadinya ovulasi. Progestin juga menyebabkan penebalan lendir serviks sehingga mempersulit perjalanan sperma, progestin juga membuat dinding endometrium atrofi sehingga mempersulit terjadinya implantasi.

2.2

JENIS KONTRASEPSI HORMONAL

2.2.1 Kontrasepsi Kombinasi (Hormon Estrogen dan Progesteron) 1. Pil Kombinasi 1) Jenis (1) Monofasik Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Contoh: microgynon

Gambar 2.1 Pil Kombinasi Microgynon

Komposisi 21 tablet masing-masing mengandung 0.15 mg Levonorgestrel dan 0.03 mg Etinilestradiol serta 7 tablet plasebo. Dosis dan Cara Pemakaian Satu tablet diminum tiap hari selama 28 hari berturut-turut. Kemasan berikutnya dimulai setelah tablet pada kemasan sebelumnya habis. Tidak menggunakan kontrasepsi hormon sebelumnya (pada bulan yang lalu). Pemakaian tablet harus dimulai pada hari ke-1 dari siklus alami wanita (yaitu hari pertama menstruasi) dimulai dari bidang biru dari kemasan dan pilih tablet sesuai dengan harinya (seperti "Sen" untuk Senin). Mulai pada hari ke 2-5 diperbotehkan, akan tetapi selama siklus pertama dianjurkan untuk menggunakan metoda pencegahan tambahan selama 7 hari pertama minum tablet. Pemakaian selanjutnya Jika kemasan pertama Microgynon telah habis, mulailah kemasan yang baru tanpa terputus pada hari berikutnya, sekali lagi pilih tablet pada bidang biru sesuai dengan hari pada saat itu. (2) Bifasik Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin dalam dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Contoh: Climen 28

Gambar 2.2 Pil Kombinasi Climen 28 Komposisi Terdiri dari 16 tablet putih berisi estradiol valerate 2 mg dan 12 tablet pink berisi estradiol valerate 2 mg dan cyproterone acetate 1 mg.

Cara pemakaian Minumkan tablet putih satu kali sehari selama 16 hari dilanjutkan dengan tablet pink satu kali sehari hingga habis. (3) Trifasik Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin dalam 3 dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Contoh: TRINORDIOL*-28

Gambar 2.3 Pil Kombinasi Trinordiol 28 Komposisi Tiap kemasan Trinordiol*-28 berisi 28 tablet. Tablet-tablet ini disusun dalam kemasan menurut urutan sebagai berikut: 6 tablet kuning tua dari 0.03 mg etinilestradiol dan 0.05 mg levonorgestrel, 5 tablet putih dari 0.04 mg etinilestradiol dan 0.075 mg levonorgestrel, 10 tablet kuning dari 0.03 mg etinilestradiol dan 0.125 mg levonorgestrel, 7 tablet innert merah dari 31.835 mg laktosa. Dosis dan Cara Pemakaian Satu tablet sehari untuk 28 hari berturut-turut dalam urutan yang tepat seperti diuraikan di atas. Tablet-tablet diminum terus menerus tanpa dihentikan. Segera setelah satu kemasan habis, mulailah dengan kemasan yang baru dan diminum seperti diuraikan di atas. Dianjurkan tablet Trinordiol*-28 diminum setiap hari pada waktu yang sama, sebaiknya setelah makan atau pada waktu mau tidur. Bila pemakai merasa mual, sebaiknya tablet diminum dengan susu. Sikluspertama: Selama pemakaian siklus pertama, pasien dianjurkan meminum satu tablet setiap hari selama 28 hari berturut-turut, dimulai dari hari pertama

dari siklus haid (hari kesatu datangnya haid adalah hari pertama). Perdarahan akan terjadi sebelum tablet Trinordiol*-28terakhir diminum. Siklus-siklus Berikutnya: Pemakai hendaknya segera mulai kemasan berikutnya walaupun perdarahan masih berlangsung. Tiap 28 hari penggunaan Trinordiol*-28 dimulai pada hari yang samaseperti pada pemakaian pertama kalinya pada bagian foil berwarna merah dan mengikuti jadual yang sama. Meskipun terjadinya kehamilan sangat kecilbila tablet digunakan sesuai petunjuk bila perdarahan tidak terjadi setelah tablet terakhir diminum, kemungkinan hamil harus dipertimbangkan.

Bila pasien tidak menuruti cara penggunaan yang tertera (lupa satu atau lebih tablet atau mulai minum tablet yang terlupa pada hari terlambat daripada seharusnya) kemungkinan hamil harus dipertimbangkan pada saat tidak terjadi haid dan dilakukan cara-cara dianostik yang tepat sebelum pengobatan dilanjutkan.Bila pasien telah mengikuti petunjuk pengobatan dan telah minum tablet dua siklus berturut-turut tidak terjadi haid, tidak terjadinya kehamilan harus benar-benar dipastikan oleh dokter atau petugas kesehatan yang ditunjuk sebelum penggunaan tablet kontrasepsinya dilanjutkan. Tablet-tablet yang Terlupa Diminum Pemakai harus diinstruksikan untuk meminum tablet yang terlupa secepatnya setelah teringat. Bila dua tablet berturut-turut terlupakan, keduanya harus diminum setelah teringat. Tablet berikutnya harus diminum pada waktu yang sama. Tiap saat pasien terlupakan satu atau dua tablet , ia harus juga mnggunakan cara kontraseptiva tambahan non steroidal (misalnya cara mekanis) sampai ia telah meminum satu tablet tiap hari untuk 7 hari berturut-turut. Bila tiga tablet berturut-turut selain tablet berwarna merah terlupakan, semua pengobatan harus dihentikan dan sisa obat harus dibuang. Siklus tablet yang baru harus dimulai pada hari kedelapan setelah tablet terakhir diminum dan suatu kontraseptiva tambahan non steroidal (misalnya cara mekanis) sampai ia telah meminum satu tablet tiap hari untuk 14 hari berturut-turut.

2) Cara kerja Secara umum pil kombinasi berkerja dengan cara menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui sperma, dan Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi ovum akan tergenggu. 3) Manfaat Memiliki efektifitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas

tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan). Risiko terhadap kesehatan sangat kecil. Tidak mengganggu hubungan seksual. Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid. Dapat digunakan jangka panjang, selama perempuan masih ingin menggunakannya. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause. Mudah dihentikan setiap saat. Kesuburan segera kembali setelah pengunaan pil dihentikan. Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenore, akne. 4) Keterbatasan Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya tiap hari. Mual terutama pada 3 bulan pertama. Perdarahan bercak atau perdarahan sela terutama 3 bulan pertama. Pusing dan nyeri payudara. Berat badan naik sedikit tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat badan justru memilki dampak positif. Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI). Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati sehingga keinginan untuk melakukan hubungan seksual berkurang.

Dapat meningkatkan tekanan darah dan terensi cairan, sehingga risiko stroke dan gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada perempuan usia >35 tahun dan merokok perlu hati-hati. Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual) HBV, HIV/AIDS 5) Yang dapat menggunakan Pil kombinasi Pada prinsipnya hampir semua ibu boleh menggunakan pil kombinasi, seperti: Usia reproduksi. Telah memiliki anak ataupun yang belum. Gemuk atau kurus. Setelah melahirkan dan tidak menyusui. Pasca keguguran. Anemia karena haid berlebihan. Nyeri haid hebat. Siklus haid tidak teratur. Riwayat kehamilan ektopik. Kelainan payudara jinak. DM tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata dan saraf. Penyakit tiroid, radang panggual, endometriosis atau tumor ovarium jinak. Menderita TB kecuali yang sedang menggunakan rifampisin. Varises vena. 6) Yang tidak boleh menggunakan Pil kombinasi: Hamil atau dicurigai hamil. Menyusui eksklusif. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya. Penyakit hati akut. Perokok dengan usia >35 th. Riwayat penyakit jantung, stroke, hipertensi > 180/110 mmHg. Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau DM > 20th. Kanker payudara atau yang dicurigai kanker payudara. Migrain dan gejala neurologis fokal (epilepsi/ riwayat epilepsi). Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.

7) Waktu mulai menggunakan pil kombinasi Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil. Hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid. Boleh menggunakan pada hari ke-8 haid, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari 8 sampai hari 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut. Setelah melahirkan: 6 bulan pemberian ASI eksklusif; setelah 3 bulan dan tidak menyusui; pascakeguguran segera atau dalam waktu 7 hari). 2. Suntikan Kombinasi Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali, dan 50 mg Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi IM. Sangat efektif 0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan. Contoh: Cyclofen dan Cyclogeston yang berisi 25 mg Depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat diberikan IM

Gambar 2.4 Suntikan Kombinasi Cylofem dan Cyclogeston 1) Cara kerja Secara umum menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks, atrofi endometrium, dan Menghambat transportasi ovum lewat tuba. 2) Keuntungan Kontrasepsi Resiko terhadap kesehatan kecil Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri Tidak diperlukan pemeriksaan dalam Jangka panjang Efek samping sangat kecil

10

Lien tidak perlu menyimpan obat suntik

3) Keuntungan Nonkontrasepsi Mengurangi jumlah perdarahan Mengurangi nyeri saat haid Mencegah anemia Mencegah terjadinya kanker ovarium dan kanker endometrium Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium Mencegah terjadinya kehamilan ektopik Melindungi klien dari penyakit radang panggul Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada wanita perimenopause

4) Keterbatasan Terjadi perubahan pada pola haid, haid tidak teratur perdarahan bercak/ spotting, perdarahan sela sampai 10 hari Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan ini akan hilang seteah suntikan kedua atau ketiga Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30 hari untuk mendapatkan suntikan Efektivitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obat epilepsi (Fenintoin dan Barbiturat) atau obat tuberkulosis (Rifampisisn) Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru dan otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, seperti Hepatitis B virus, HIV Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian 5) Yang Boleh Menggunakan Usia reproduksi Telah memiliki atau yang belum memiliki Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas tinggi Menyusui ASI pascapersalinan > 6 bulan Pascapersalinan dan tidak menyusui Anemia Nyeri haid hebat

11

Haid teratur Riwayat kehamilan ektopik Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

6) Yang Tidak Boleh Menggunakan Hamil atau diduga hamil Menyusui di bawah 6 minggu pascapersalinan Perdarahan pervaginam yang belum jelas sebabnya Penyakit hati akut (virus hepatitis) Usia > 35th yang merokok Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>180/110 mmHg) Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis > 20 tahun Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala aatau migrain Keganasan pada payudara

7) Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid, tidak diperlukan kontrasepsi hambatan. Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari/menggunakan kontrasepsi lain selama 7 hari Bila klien tidak haid, suntikan pertama tidak dapat diberikan setiap saat. Asal saja dapat dipastikan ibu tersebut tidak hamil. Klien tersebut tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari lamanya atau menggunakan metode kontrasepsi lain selama masa waktu 7 hari. Bila pasca persalinan 6 bulan, menyusui serta belum haid, suntikan pertama dapat diberikan, asal saja dapat dipastikan tidak hamil Bila pasca persalinan > 6 bulan, menyusui serta telah mendapatkan haid, maka suntikan pertama diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7 Bila pasca persalinan < 6 bulan dan menyusui jangan diberikan suntikan kombinasi Bila pasca persalinan 3 minggu dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberikan Pasca keguguran, suntikan kombinasi dapat segera diberikan atau dalam

12

Bila ibu mengganti metode kontrasepsi dari kontrasepsi hormonal ke kontrasepsi kombinasi, selama penggunaan kontrasepsi sebelumnya benar. Suntikan kombinasi dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid

Suntikan kombinasi dapat diberikan sesuai dengan jadwal kontrasepsi sebelumnya. Tidak perlu metode kontrasepsi lain. Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal

Jika dari kontrasepsi non hormonal, maka suntikan pertama dapat segera diberikan asal ibu tidak hamil. Tanpa menunggu datang haid. Bila pemberian pada hari 1-7 siklus haid, tanpa menggunakan metode kontrasepsi lain. Bila sebelumnya menggunakan AKDR maka suntika pertama diberikan pada hari 1-7 siklus haid, cabut segera AKDR.

8) Cara Penggunaan Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan IM (Intra Muskular) dalam. Klien diminta datang setiap 4 minggu. Suntikan ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal, dengan kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7 hari dari jadwal yang telah ditentukan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain untuk 7 hari. 2. Kontrasepsi Progistin 1) Kontrasepsi Oral Progistin (Mini pil) Kontrasepsi minipil adalah pil KB yang hanya mengandung progesteron dalam dosis rendah. Mini pil juga disebut pil menyusui dengan dosis yang digunakan 0,03 0,05 mg per tablet. (1) Jenis Mini Pil Kemasan dengan isi 35 pil : 300 g levonorgestrel atau 350 g norethindrone Kemasan 28-pil: 75 g norgestrel

Contoh: Micrinor, NOR-QD, noriday, norod mengandung 0,35 mg noretidron Microval, noregeston, microlut mengandung 0,03 mg levonogestrel Ourette, noegest mengandung 0,5 mg norgestrel

13

Exluton mengandung o,5 mg linestrenol Femulen mengandung 0,5 mg etinodial diassetat

Gambar 2.5 Mini Pil Microlut

Gambar 2.6 Mini Pil Exluton

(2) Cara Kerja Mini Pil Menekan sekersi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu

(3) Efektivitas Sangat efektif (98,5%). Pada penggunaan minipil jangan sampai terlupa satu-dua tablet karena akibatnya kemungkinan terjadi kehamilan sangat besar. Penggunaan obat-obat mukolitik asetilsistein bersamaan dengan minipil perlu dihindari karena dapat meningkatkan penetrasi sperma. Dalam menggunakan minipil sebaiknya jangan sampai ada tablet yang lupa, tablet digunakan pada jam yang sama, senggama sebaiknya dilakukan 3-20 jam setelah penggunaan minipil. (4) Keuntungan Kontrasepsi Sangat efektif bila digunakan secara benar Tidak mengganggu hubungan seksual Tidak mempengaruhi ASI Kesuburan cepat kembali Nyaman dan mudah digunakan Sedikit efek samping

14

Dapat dihentikan setiap saat Tidak mengandung estrogen

(5) Keuntungan Nonkontrasepsi Mengurangi nyeri haid Mengurangi jumlah darah haid Menurunkan tingkat anemia Mencegah kanker endometrium Melindungi dari penyakit radang panggul Tidak meningkatkan pembekuan darah Dapat diberikan pada penderita endometriosis Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala, dan depresi Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom (sakit kepala, perut kembung, nyeri payudara, nyeri betis, lekas marah) Aman diberikan kepada penderita kencing manis yang belum mengalami komplikasi karena sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat (6) Keterbatasan Hampir 30-60% mengalami gangguan haid. Peningkatan/penurunan berat badan. Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama. Bila lupa satu pil saja maka kegagalan menjadi lebih besar. Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis atau jerawat. Resiko kehamilan ektopik tinggi (4 dari 100 kehamilan), tetapi resiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan mini pil Efektivitasnya menjadi lebih rendah bila digunakan bersamaan dengan obat OAT (rifampisin) dan obat epilepsi (fenitoin, barbiturat). Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual HIV/AIDS

(7) Yang boleh Menggunakan Usia reproduksi Telah memiliki atau belum memiliki anak

15

Menginginkan metode kontrasepsi efektif selama menyusui Pascapersalinan dan tidak menyusui Pascakeguguran Perokok segala usia Mempunyai darah tinggi (selama < 180/110 mmHg) atau masalah pembekuan darah Tidak boleh menggunakan estrogen

(8) Yang Tidak Boleh Menggunakan Hamil atau yang diduga hamil Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid Menggunakan obat untuk tuberkulosis (Rifampisin) atau obat untuk epilepsi (Fenintoin dan Barbiturat)) Kanker payudara atau riwayat kanker payudara Sering lupa menggunakan pil Menderita mioma uterus Riwayat stroke

(9) Waktu Mulai Menggunakan Mini Pil


Mulai hari petama sampai hari ke-5 siklus haid. Tidak dierlukan

pencegahan dengan kontrasepsi lain


Dapat diunakan setiap saat asal saja tidak terjai kehamilan. Bila

menggunakannya hari ke-5 siklus haid jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan kontrasepsi lain selama 2 hari saja
Bila klien amenorhoe, minipil dapat digunakan setiap saat, asal saja

diyakini tidak hamil. jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan kontrasepsi lain selama 2 hari saja
Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan

tidak haid, minipil dapat dimulai setiap saat. Bila menyusui penuh tidak memerlukan metode kontrasepsi tambahan.
Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan klien telah mendapat

haid minipil dapat dimulai pada hari ke1-5 siklus haid.


Minipil dapat diberikan segera pasca keguguran.

16 Bila sebelumnya klien menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan

ingin menggantinya dengan minipil, minipil dapat segera diberikan, bila saja kontrasepsi sebelumnya digunaan dengan benar atau ibu sedang tidak hamil. Tidak perlu menunggu sampai datangnya haid berikutnya.
Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, minipil

diberikan pada jadwal suntkan yang berikutnya. Tidak diperlukan metode kontrasepsi lain.
Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi nonhormonal dan

ibu tersebut ingin menggantinya dengan minipil, minipil diberikan pada hari ke1-5 siklus haid dan tidak memerlukan metode kontrasepsi lain.
Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR (termasuk yang

menggunakan hormon), minipil dapat diberikan pada heri ke 1-5 sikus haid. Dilakukan pengangkatan AKDR.
(10) Instruksi kepada klien

Minum minipil setiap hari paa saat yang sama Minum pil pertama pada hari perama haid Bila klien muntah pada waktu 2 jam setelah mengunakan pil, minumlah pil yang lain. Atau gunakan metoda kontrasepsi yang lain bila klien berniat melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya.

Bila klien menggunakan pil terlambat lebih dari 3 jam, minumlah pil tersebut beitu klien ingat.gunaan metode oelindung selama 48 jam.

Bila klien lupa 1 aau 2 pil minumlah segera pil yang terlupa tersebutsesegera klien ingat dan gunaan metoda pelindung sampai akhir bulan.

Walaupun klien belum haid, mulailah paket baru setelah paketterakhir habis. Bila haid klien teratur setiap bulan dan kemudian kehilangan satu siklus atau bila mersa hamil temui petugas klinik klien untuk memeriksa uji kehamilan

17 (11) Informasi yang perlu disampaikan

Terjadinya perubahan pola haid. Hal ini sering ditemui, biasanya pada atau 3 bulan pertama. Perubahan tersebut biasanya sementara dan tidak sampai mengganggu kesehatan

Kadang-kadang dapat timbul efek samping berupa peningkatan BB, sakit kepala ringan, dan nyeri payudara. Semua efek samping ini tidak berbahaya dan biasanya hilang dengan sendirinya.

Obat-obatan tertentu seperti obat tuberkulosis dan beberapa obat epilepsi dapat mengurangi efektifitas minipil. Dan minipil tidak mencagah IMS maupun HIV/AIDS. Bila pasangan memiliki risiko perlu menggunakan kondom.

2) Kontrasepsi Suntikan Progistin Kontrasepsi suntik progestin adalah kontrasepsi yang diberikan secara suntikan IM (Intra Muscular) dengan jangka waktu pemberian 3 bulan sekali yang hanya berisi hormon progesteron. (1) Jenis Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) Mengandung 150mg DMPA yang diberikan tiap 3 bulan dengan cara disuntik secara IM. Depo provera atau depo medroxy progesterone asetat adalah satu sintesa progestin yang mempunyai efek seperti progesterone asli dari tubuh wanita. Obat ini dicoba pada tahun 1958 untuk mengobati abortus habitualis dan endometriosis ternyata pada pengobatan abortus habitualis seringkali terjadi kemandulan setelah kehamilan berakhir. Depo provera sebagai obat kontrasepsi suntikan ternyata cukup manjur dan aman dalam pelayanan keluarga berencana. Depo Noristerat Enantat (Depo Noristerat) yang mengandung 200 mg noretindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik IM.

18

Gambar 2.7 Suntikan Progestin Depo Provera dan Depo Noristerat (2) Cara Kerja Mencegah ovulasi, kadar progestin tinggi sehingga menghambat lonjakan luteinizing hormone (LH) secara efektif sehingga tidak terjadi ovulasi. Kadar follicle-stimulating hormone (FSH) dan LH menurun dan tidak terjadi lonjakan LH (LH Surge). Menghambat perkembangan folikel dan mencegah ovulasi. Progestogen

menurunkan frekuensi pelepasan (FSH) dan (LH) . Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, mengalami penebalan mukus serviks yang mengganggu penetrasi sperma. Perubahan perubahan siklus yang normal pada lendir serviks. Secret dari serviks tetap dalam keadaan di bawah pengaruh progesteron hingga menyulitkan penetrasi spermatozoa. Membuat endometrium menjadi kurang layak atau baik untuk implantasi dari ovum yang telah di buahi, yaitu mempengaruhi perubahan-perubahan menjelang stadium sekresi, yang diperlukan sebagai persiapan endometrium untuk memungkinkan nidasi dari ovum yang telah di buahi. Menghambat transportasi gamet dan tuba, mungkin mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba fallopi atau memberikan perubahan terhadap kecepatan transportasi ovum (telur) melalui tuba.

19

(3) Efektivitas Suntikan progestin memiliki efektivitas 0,3 kehamilan per

100perempuan, asal penyuntikan dilakukan secara teratur sesuai jadwalyang telah ditentukan (4) Keuntungan

Tidak mengganggu hubungan seksual Tidak mengandung estrogen, sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah

Dapat digunakan sebagai metode jangka panjang Tidak mempengaruhi produksi ASI Klien tidak perlu menyimpan obat suntik Dapat digunakan oleh perempuan usia >35 tahun sampai perimenopause

Mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara Mencegah penyebab penyakit radang panggul Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)

(5) Keterbatasan

Sering ditemukan gangguan haid seperti :


Siklus haid yang memendek atau memanjang Perdarahan yang banyak atau sedikit Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting) Tidak haid sama sekali

Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan (klien harus kembali untuk mendapatkan suntikan ulang)

Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya Penambahan berat badan merupakan efek samping tersering Tidak melindungi diri dari PMS atau HIV/AIDS Terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian Terlambatnya pemulihan kesuburan bukan karena kerusakan /kelainan pada organ genetalia melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan

Terjadinya perubahan pada lipid serum dalam penggunaan jangka panjang

20

Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (densitas)

Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, jerawat

(6) Yang Dapat Menggunakan Suntikan Progestin

Hamil/diduga hamil (resiko cacat pada janin 7 per 100.000 kelahiran)

Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorhea

Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara Diabetes Mellitus disertai komplikasi

(7) Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Progestin Hamil/diduga hamil (resiko cacat pada janin 7 per 100.000 kelahiran) Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorhea Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara Diabetes Mellitus disertai komplikasi

(8) Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Progestin

Mulai

suntikan

pertama

pada hari

1-7

siklus

haid (Tidak

memerlukan kontrasepsi tambahan)

Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke-7 siklus haid(Jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari / menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari)

Bila klien tidak haid (amenhorea), suntikan dapat digunakan setiap saat, asal diyakini tidak hamil (Jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari / menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja)

Bila kontrasepsi

sebelumnya adalah kontrasepsi

hormonal

lain

(contoh: pil,AKBK,dll) dan ingin menggantinya dengan suntikan

21

progestin. Suntikan progestin dapat segera diberikan (Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang).

Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan hormonal lain, dan ingin menggantinya dengan suntikan progestin. Suntikan dapat diberikan sesuai jadwal suntikan ulang kontrasepsi

sebelumnya (Tidak diperlukan metode kontrasepsi tambahan)

Bila kontrasepsi

sebelumnya adalah kontrasepsi

nonhormonal

(contoh:IUD,kondom,alami,dll) dan ingin menggantinya dengan suntikan progestin. Suntikan progestin dapat segera diberikan, bila kontrasepsi sebelumnya digunakan dengan benar atau ibu tersebut sedang tidak hamil. (Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang).

Bila suntikan progestin diberikan pada hari ke 1-7 siklus haid (Tidak memerlukan metode kontrasepsi lain

(9) Cara Penggunaan Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara suntikan Intra Muskular dalam (IM). (Apabila suntikan diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja segera dan kurang efektif) Suntikan diberikan setiap 90 hari Pemberian suntikan turut diberikan setiap noristerat untuk 3 8 minggu, injeksi berturutke-5 sampai

mulai injeksi

seterusnya, diberikan setiap 12 minggu Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas yang

dibasahialkohol 60-90 %. Biarkan kulit kering sebelum disuntik. Kocok dengan baik dan hindarkan terjadinya gelembung-

gelembung udara Kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan Bila terdapat endapan putih pada dasar ampul, upayakan

menghilangkannya dengan dihangatkan (10) Informasi Lain Yang Perlu Disampaikan

22

Pemberian kontrasepsi suntikan sering menimbulkan gangguan haid (amenorhea), biasanya bersifat sementara dan sedikit sekali mengganggu kesehatan

Efek samping seperti peningkatan berat badan, sakit kepala dan nyeri payudara, tidak berbahaya dan cepat hilang Karena kembalinya kesuburan terlambat, penjelasan perlu

diberikan pada ibu usia muda yang ingin menunda kehamilan atau bagi ibu yang merencanakan kehamilan dalam waktu dekat Setelah suntikan dihentikan, haid tidak segera datang(umumnya

sekitar 3-6 bulan haid baru datang), bila tidak, segera konsultasi ke dokter/klinik untuk mengetahui penyebabnya Bila klien tidak dapat kembali pada jadwal yang telahditentukan, suntikan dapat diberikan lebih awal dari jadwal suntikan. Dapat juga diberikan setelah jadwal suntikan (Jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja) Apabila klien lupa jadwal suntikan, suntikan dapat segera diberikan, asal ibu diyakini tidak hamil (Jangan melakukan hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja)

3) Kontrasepsi Implan Progistin Implan adalah metode kontrasepsi yang hanya mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis rendah, reversible untuk wanita (speroff, 2005). (1) Jenis Implan Norplant Terdiri dari 6 batang silastis lembut berongga dengan panjang 3,4 cm dengan diameter 2,4 mm yang diisi dengan 36 mg levonogestrel dan lama kerjanya 5 tahun.

23

Gambar 2.8 Norplan

Implanon Terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang di isi dengan 68 mg 3- keto- desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.

Gambar 2.9 Implanon Jadena Terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg levonogestrel dan lama kerja 3 tahun.

Gambar 2.10 Jadena

24

(2) Cara Kerja


Lendir servik menjadi kental Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi Mengurangi transportasi sperma Menekan ovulasi

(3) Efektivitas Implant merupakan kontrasepsi yang paling tinggi daya guna nya. Kegagalan adalah 0,3 per 100 wanita. (4) Keuntungan kontrasepsi Daya guna tinggi Perlindungan jangka panjang Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan Tidak memerlukan pemeriksaan dalam Bebas dari pengaruh estrogen Tidak menggangu kegiatan senggama Tidak menggangu ASI Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan (5) Keuntungan Nonkontrasepsi Mengurtangi nyeri haid Mengurangi jumlah darah haid Mengurangi/ memperbaiki anemia Mencegah terjadinya kanker endometrium Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul Menurunkan angka kejadian endometriosis

(6) Keterbatasan Pada kebanyakan klien menyebabkan perubahan pola haid beerupa perdarahan bercak/ spotting, hipermenorhea, amenorhea Nyeri kepala Peningkatan/ penurunan berat badan Nyeri payudara

25

Perasaan mual Pening/ pusing kepala Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness) Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi) Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi sesuai dengan keinginan, harus pergi ke tenaga kesehatan terlatih untuk pencabutan

Efektivitasnya menjadi lebih rendah bila digunakan bersamaan dengan obat OAT (rifampisin) dan obat epilepsi (fenitoin, barbiturat)

Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi (1,3 per 100.000 wanita per tahun)

(7) Yang Boleh Menggunakan Implan Usia reproduksi Telah memiliki anak Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi Pasca persalinan tidak menyusui Pasca keguguran Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi Riwayat kehamilan ektopik Tekanan darah <180/ 110 mmhg, dengan maslah pembekuan darah. Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen. Sering lupa menggunakan pil

(8) Yang Tidak Boleh Menggunakan Implan Hamil atau diduga hamil Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya

26

Benjolan/ kanker payudara atau riwayat kanker payudara Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi Mioma uterus dan kanker payudara Gangguan toleransi glukosa

(9) Waktu Mulai Menggunakan Implan Setiap saat selama siklus haid hari ke-2 sampai hari ke-7. Tidak diperlukan metode kontrasepsi tambahan. Insersi dapat dilakukan setiap saat,asal diyakini tidak terjadi kehamilan. Bila di insersi setelah hari ke-7 siklus haid,klien jangan melakukan hubungan seksual,atau gunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. Bila klien tidak haid, Insersi dapat dilakukan setiap saat,asal diyakini tidak terjadi kehamilan, jangan melakukan hubungan seksual,atau gunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. Bila menyusui 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan, Insersi dapat dilakukan setiap saat. Bila menyusui penuh klien tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi lain. Bila setelah 6 minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali, Insersi dapat dilakukan setiap saat, tetapi jangan melakukan hubungan seksual,atau gunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. Bila klien menggunakan kontrasepsi hormonal dan ingin

menggantinya dengan implant, Insersi dapat dilakukan setiap saat,asal diyakini tidak terjadi kehamilan, atau klien menggunakan kontrasepsi terdahulu dengan benar Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan,implant dapat diberikan pada saat jadwal kontrasepsi suntikan tersebut. Tidak diperlukan metode kontrasepsi lain. Bila kontrasepsi sebelumnya adalah kontrasepsi nonhormonal (kecuali AKDR),dan klien ingin menggantinya dengan implant, Insersi dapat dilakukan setiap saat,asal diyakini tidak terjadi kehamilan.Tidak perlu menunggu hingga datangnya haid berikutnya Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR, Implant dapat diinsersikan pada hari ke-7 dan klien jangan melakukan hubungan

27

seksual selama 7 hari atau gunakan metode kontrasepsi lain untuk 7 hari saja. AKDR segera dicabut. Pasca keguguran implant dapat segera diinsersikan.

28

BAB 3 PENUTUP

3.1

SIMPULAN Metode kontrasepsi merupakan cara untuk mencegah terjadinya kehamilan menekan yang dapat menekan laju pertumbuhan penduduk yang sangat pesat di Indonesia. Dengan mengikuti program KB secara tidak langsung masyarakat ikut serta dalam mewujudkan program pemerintah dalam MDGs yaitu menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dengan berkembangnya kontrasepsi muncullah berbagai jenis metode dan alat kontrasepsi dengan tujuan yang sama yaitu mencegah terjadinya kehamilan. Salah satu metode kontrasepsi adalah kontrasepsi hormonal yaitu kontrasepsi yang berisikan hormon kombinasi estrogen dan progerteron atau progesteron saja dalam bentuk pi, suntikan, bahkan implan progestin. Metode kontrasepsi hormonal mencegah kehamilan dengan cara mencegah terjadinya folikel dominan, menekan terjadinya ovulasi, mengentalkan lendir serviks, dan atrofi endometrium sehingga mekanisme kerja itulah yang memungkinkan tidak terjadinya fertilisasi sehingga tidak terjadi kehamilan. Kontrasepsi hormonal memiliki efektivitas yang tinggi bila digunakan dengan benar. Masing-masing kontrasepsi hormonal juga memiliki kelebihan dan kelemahan atau efek samping, tetapi bila klien calon akseptor KB melakukan KIE terlebih dahulu sebelum memakai sehingga mendapatkan metode kontrasepsi yang sesuai dan tepat maka akan mengurangi terjadinya efek samping.

28

29

DAFTAR PUSTAKA

Safuddin AB, Affandi, Biran, et al. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Speroff, Leon, Fritz, March A. Clinical Gynecologic Endocrinology And infertility 8th Ed. Lippincott William And Wilkins

29