Anda di halaman 1dari 23

OLEH KELOMPOK 5

Kamaria Anita Badri Nur Angraini Rista Puspita R Aurelia Da SiIva Yasintus Berek Patricia Virginia Siti Ramlah Merlin F. Djami Bale

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR 2014

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Karsinoma lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalah jenis adenokarsinoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut kurang dari 25 % kanker itu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun ( Osteen, 2003 ). Meskipun frekuensi telah menurun secara dramatis selama beberapa dekade terakhir di dunia Barat, kanker ini masih memberikan kontribusi signifikan terhadap kematian secara

keseluruhan. Insiden adenocarcinoma sangat bervariasi tergantung pada wilayah geografis. Insiden tahunan di Jepang diperkirakan 140 kasus per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di dunia Barat insiden ini diperkirakan 10 per 100.000 penduduk. Insiden yang lebih tinggi pada lakilaki daripada perempuan rasio dari 1,5 : 2,5 kelompok-kelompok sosial yang miskin dan orang-orang di atas usia 40 tahun yang diamati. Dan angka kejadian karsinoma lambung (866.000 mortalitas/tahun). (WHO,2008) Selain karsinoma lambung, juga berkembang di masyarakat penyakit karsinoma esophagus, yaitu suatu keganasan yang terjadi pada esofagus. Kanker ini pertama kali di deskripsikan pada abad ke-19 dan pada tahun 1913 reseksi pertama kali sukses dilakukan oleh Frank Torek, pada tahun 1930-an, ashawa di jepang dan marshall di America Serikat berhasil melakukan pembedahan pertama dengan metode transtoraks esofagotomi dengan rekonstruksi (fisichella, 2009). Epidemiologi pada tahun 2000 kanker terbanyak no.8, 412.000 kasus baru pertahun, penyebab kematian nomor 6 dari kematian akibat kanker, 338.000 kematian pertahun. Pada tahun 2002, 462.000 kasus baru, dan 386.000 kematian. (parkin DM, lancet oncol 2001 dan Ca Cancer J Clin 2005).

I.2 Tujuan dan manfaat I.2.1 Tujuan 1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi Lambung 2. Untuk mengetahui pengertian Kanker Lambung 3. Untuk mengetahui Etiologi Kanker Lambung 4. Untuk mengetahui patofisiologi dan WOC Kanker Lambung 5. Untuk mengetahui klasifikasi Kanker Lambung 6. Untuk mengetahui Manifestasi klinis Kanker Lambung 7. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik Kanker Lambung 8. Untuk mengetahui komplikasi Kanker Lambung 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan Kanker Lambung

I.2.2 Manfaat Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit kanker lambung sehingga dapat melakukan pencegahan agar terhindar dari penyakit Kanker Lambung serta menjadi bahan informasi untuk pembaca mengenai penyakit kanker lambung.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Anatomi dan fisiologi Lambung II.1.1 Pengertian Lambung atau gaster merupakan bagian dari saluran yng dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berubungan dengan esophagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diafragma di depan pancreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri. (Syaifuddin, 2003)

II.1.2 Bagian-Bagian Lambung Bagian lambung terdiri dari: 1. Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas 2. Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor 3. Atrum pylorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pylorus 4. Kurvatura minor, terdapat sebelah kanan lambung, terbentang dari osteum kardiak sampai pylorus 5. Kurvatura mayor, lebih panjang daripada kurvatura minor, terbentang dari sisi kiri osteum kardiak melalui fundus ventrikuli menuju kanan sampai ke pylorus inferior, ligamentum

gastrolienalis terbentang dari bagian atas kurvatura mayor sampai ke limpa 6. Osteum kardiak, merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke lambung, pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.

Gambar Bagian bagian Lambung

Susunan lapisan dari dalam dan keluar, terdiri dari : 1. Lapisan selaput lendir, apabila lambung ini dikosongkan, lapisan ini akan berlipat-lipat disebut rugae 2. Lapisan otot melingkar (muskulis aurikularis) 3. Lapisan otot miring (muskulus obliqus) 4. Lapisan otot panjang (muskulus longitudinal) 5. Lapisan jaringan ikat/serosa (peritoneum) Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan. Bila melihat makanan dan mencium bau makanan maka sekresi lambung akan terangsang. Rasa makanan merangsang sekresi lambung karena kerja saraf menimbulkan rangsangan kimiawi yang

menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut sekresi getah lambung. Getah lambung dihalangi oleh system saraf simpatis yang dapat terjadi pada waktu gangguan emosi seperti marah dan rasa takut. (Syaifuddin, 2003)

II.1.3 Fungsi Lambung 1. Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan

makanan oleh peristaltic lambung dan getah lambung 2. Getah cerna lambung yang dihasilkan:

a. Pepsin : memecah putih telur mejadi asam amino (albumin dan pepton) b. Asam garam (HCl) : mengasamkan makanan, sebgai antiseptic dan disinfektan dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin c. Renin : ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein dar kasinogen (kasinogen dan protein susu) d. Lapisan lambung jumlahnya sedikit, memecah lemak menjadi asam lemak merangsang sekresi etah lambung.

II.1.4 Kerja Lambung Lambung mensekresi cairan cairan yang sangat asam dalam berespon atau sebagai antisipasi terhadap pencernaan makanan. Cairan ini, yang dapat mempunyai pH serendah 1, memperoleh keasaman dari asam hidroklorida yang disekresikan oleh kelenjar lambung. Fungsi sekresi asam ini 2 kai lipat. (1) untuk memecah makanan menjadi komponen yang lebih dapat diabsorbsi dan (2) untuk membantu destruksi kebanyakan bakteri pencernaan. Lambung dapat

menghasilkan sekresi kira-kira 2,4 L/hari. Sekresi Lambung juga mengandung enzim pepsin, yang penting untuk memulai pencernaaan protein. Faktor intrinsic juga disekresi oleh mukosa gaster. Senyawa ini berkombinasi dengan vitamin B12 dalam diet, hingga vitamin dapat diabsorbsi didalam ileum. Tidak hanya factor intriksik, menyebabkan vitamin B12 tidak dapat diabsorbsi dan mengakibatkan anemia pernisiosa. Hormon-hormon, neuroregulator, dan regulator local

ditemukan didalam control sekresi gastrik laju sekresi lambung dan mempengaruhi motilitas gaster. Kontraksi Peristaltik di dalam lambung mendorong isi lambung ke arah pylorus. Karena partikel makanan besar tidak dapat melewati

sfingter pylorus, partikel ini diaduk kembali di dalam lambung secara mekanis dicampur dan dihancurkan manjadi partikel lebih kecil. Makanan tetap berada di lambung selama waktu yang bervariasi dari setengah jam sampai beberapa jam, tergantung pada ukuran partikel makanan, komposisi makanan, dan factor lain. Peristaltic di dalam lambung dan kontraksi sfingter pylorus memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus halus pada kecepatan yang memungkinkan absorbsi nutrient efisien. (brunner, suddart.2001)

II.2 Kanker Lambung Kanker lambung merupakan bentuk neoplasma maligna

gastrointestinal. Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua kematian akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991) Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. (Patologi, dr. Achmad Tjarta, 2002) Kanker lambung adalah salah satu penyakit pembunuh manusia dengan jumlah kematian 14.700 setiap tahun.Kanker lambung terjadi pada kurvatura kecil atau antrum lambung dan adenokarsinoma. Factor lain selain makanan tinggi asam yang menyebabkan insiden kanker lambung mencakup Inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria (tidak adanya

hidroklorida). Ulkus lambung, bakteri H, plylori, dan keturunan. (Suzanne C. Smeltzer) Kanker lambung atau tumor malignan perut adalah suatu adeno karsinoma. Kanker ini menyebar ke paru paru, nodus limfe dan hepar. Faktor risiko meliputi gastritis atrofik kronis dengan metaplasia usus anemia pernisiosa, konsumsi alkohol tinggi dan merokok. (Nettina sandra ,pedoman praktik keperawatan)

Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi dilambung, sebagian besar adalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun (Osteen, 2003). Kanker lambung pada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat keempat setelah kanker payudara, kanker serviks dan kanker kolorektal (Christian, 1999).

II.3 Etiologi Kanker Lambung Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi hal- hal sebagai berikut: 1. Faktor predisposisi a. Faktor genetic Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki hubungan genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen E-cadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga anemia pernisiosa dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani, 2003). b. Faktor umur Pada kasus ini ditemukan lebih umum terjadi pada usia 50-70 tahun, tetapi sekitar 5 % pasien kanker lambung berusia kurang dari 35 tahun dan 1 % kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996) 2. Faktor presipitasi a. Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap atau yang diawetkan. Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker lambung. Kandungan garam yang masuk kedalam lambung akan memperlambat

pengosongan lambung sehingga memfasilitasi konversi golongan nitrat menjadi carcinogenic nitrosamines di dalam lambung. Gabungan kondisi terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan komposisi nitrosamines didalam lambung memberi kontribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005). b. Infeksi H.pylori. H.pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus duodenum dan 80% tukak lambung (Fuccio, 2007). Bakteri ini menempel di permukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (Fuccio, 2009). c. Sosioekonomi. Kondisi sosioekonomi yang rendah dilaporkan meningkatkan risiko kanker lambung, namun tidak spesifik. d. Mengonsumsi rokok dan alkohol. Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan dikombinasi dengan konsumsi alkohol kronik akan meningkat risiko kanker lambung (Gonzales, 2003) e. NSAIDs. Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengonsumsi NSAIDs dalam jangkan waktu yang lama dan hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung akan meningkatkan risiko kanker lambung (Houghton, 2006). f. Anemia pernisiosa. Kondisi ini merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor intrinsik sekresi lambung. Kombinasi anemia pernisiosa dengan infeksi H.pylori memberikan kontribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding lambung (Santacrose, 2008).

II.4 Patofisiologi dan WOC Kanker Lambung Karsinoma gaster merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6 % dari semua kematian akibat kanker. Laki-laki lebih sering terserang dan sebagian besar kasus timbul

setelah usia 40 tahun(Sjamsuhidajat , 1997). Penyebab kanker lambung tidak diketahui tetapi dikenal faktor-faktor predisposisi tertentu. Faktor genetik memegang peranan penting, dibuktikan karsinoma lambung lebih sering terjadi pada orang dengan golongan darah A. Selain itu faktor ulkus gaster adalah salah satu faktor pencetus terjadinya karsinoma gaster(Sjamsuhidajat , 1997). Pada stadium awal, karsinoma gaster sering tanpa gejala karena lambung masih dapat berfungsi normal. Gejala biasanya timbul setelah massa tumor cukup membesar sehingga bisa menimbulkan gangguan anoreksia, dan gangguan penyerapan nutrisi di usus sehingga berpengaruh pada penurunan berat badan yang akhirnya menyebabkan kelemahan dan gangguan nutrisi. Bila kerja usus dalam menyerap nutrisi makanan terganggu maka akan berpengaruh pada zat besi yang akan mengalami penurunan yang akhirnya menimbulkan anemia dan hal inilah yang menyebabkan gangguan pada perfusi jaringan penurunan pemenuhan kebutuhan oksigen di otak sehingga efek pusing sering terjadi(Sjamsuhidajat , 1997). Pada stadium lanjut bila sudah metastase ke hepar bisa mengakibatkan hepatomegali. Tumor yang sudah membesar akan menghimpit atau menekan saraf sekitar gaster sehingga impuls saraf akan terganggu, hal inilah yang menyebabkan nyeri tekan epigastrik (Sjamsuhidajat , 1997). Adanya nyeri perut, hepatomegali, asites, teraba massa pada rektum, dan kelenjar limfe supraklavikuler kiri (Limfonodi Virchow) yang membesar menunjukkan penyakit yang lanjut dan sudah menyebar. Bila terdapat ikterus obstruktiva harus dicurigai adanya penyebaran di porta hepatik

(Sjamsuhidajat , 1997). Kasus stadium awal yang masih dapat dibedah untk tujuan kuratif memberikan angka ketahanan hidup 5 tahun sampai 50%. Bila telah ada metastasis ke kelenjar limfe angka tersebut menurun menjadi 10%. Kemoterapi diberikan untuk kasus yang tidak dapat direseksi atau dioperasi tidak radikal. Kombinai sitostatik memberikan perbaikan 30-40% untuk 2-4 bulan (Sjamsuhidajat , 1997).

Pembedahan dilakukan dengan maksud kuratif dan paliatif. Untuk tujuan kuratif dilakukan operasi radikal yaitu gastrektomi (subtotal atau total) dengan mengangkat kelejar limfe regional dan organ lain yang terkena. Sedangkan untuk tujuan paliatif hanya dilakukan pengangkatan tumor yang perforasi atau berdarah (Sjamsuhidajat , 1997).

II.5 Klasifikasi Kanker Lambung Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Berdasarkan hasil pemeriksaan radiolog dapat dibagi atas: 1. Tipe I (pritrured type) Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi. 2. Tipe II (superficial type) Dapat dibagi atas 3 sub tipe. a. Tipe II.a. (Elevated type) Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar. b. Tipe II.b. (Flat type) Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa. c. Tipe II.c. (Depressed type) Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan. 3. Tipe III. (Excavated type) Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti tipe II c dan tipe III atau tipe III dan tipe II c, dan tipe II a dan tipe II c.

Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas : 1. Bormann I Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular. 2. Bormann II Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik. 3. Bormann III Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difusi pada seluruh mukosa. 4. Bormann IV Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

II.6 Manifestasi klinis Kanker Lambung Gejala awal dari kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dikurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ganguan fungsi lambung. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dyspepsia, penurunan berat badan, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah (Harnawati, 200, KMB). Gejala klinis yang ditemui antara lain : a. Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakan defisiensi Fe mungkin merupakan keluhan utama karsinoma gaster yang paling umum. b. Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis lanjut.

c. Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar lambung. d. Disfagia e. Nausea f. Kelemahan g. Hematemesis h. Regurgitasi i. Mudah kenyang j. Asites perut membesar k. Kram abdomen l. Darah yang nyata atau samar dalam tinja m. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan (Davey, 2005)

II.7 Pemeriksaan diagnostik Kanker Lambung 1. Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologi yang sering digunakan jenis penyakit ini adalah endoskopi, endoskopi merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik untuk mendiagnosa karsinoma gaster. Endoskopi dengan resolusi tinggi dapat mendeteksi perubahan ringan pada warna, relief arsitektur dan permukaan mukosa gaster yang mengarah pada karsinoma dini gaster (Lumongga, 2008). Pemeriksaan radiologi dengan menggunakan barium enema masih digunakan di Jepang sebagai protokol untuk skrinning, bila kemudian dijumpai kelainan selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi (Lumongga, 2008). 2. Pemeriksaan sitologi Pemeriksaan sitologi pada gaster dilakukan melalui sitologi brushing. Pada keadaan normal, tampak kelompok sel-sel epitel superfisial yang reguler memben tuk gambaran seperti honey comb. Sel-sel ini mempunyai

inti yang bulat dengan kromatin inti yang tersebar merata (Lumongga, 2008). Pada keadaan gastritis, sel tampak lebih kuboidal dengan sitoplasma yang sedikit dan inti sedikit membesar.Pada karsinoma, sel-sel menjadi tersebar ataupun sedikit berkelompok yang irreguler, inti sel membesarn hiperkromatin dan mempunyai anak inti yang multipel atau pun giant nukleus (Lumongga, 2008). Pemeriksaan sitologi brushing ini jika dilakukan dengan benar, mempunyai nilai keakuratan sampai 85% tetapi bila pemeriksaan ini dilanjutkan dengan biopsi lambung maka nilai keakuratannya dapat mencapai 96% (Lumongga, 2008). 3. Pemeriksaan makroskopis Secara makroskopis ukuran karsinoma dini pada lambung ini terbagi atas dua golongan, yaitu tumor dengan ukuran < 5 mm, disebut dengan minute dan tumor dengan ukuran 6 10 mm disebut dengan small (Lumongga, 2008). Lokasi tumor pada karsinoma lambung ini adalah pylorus dan antrum (50-60%), curvatura minor (40%), cardia (25%), curvatura mayor (12%). Paling banyak terjadi karsinoma lambung pada daerah daerah curvatura minor bagian antropyloric (Lumongga, 2008). 4. Pemeriksaan laboratorium Anemia (30%) dan tes darah positif pada feses dapat ditemukan akibat perlukaan pada dinding lambung. LED meningkat. Fractional test meal ada aklorhidria pada 2/3 kasus kanker lambung. Elektrolit darah dan tes fungsi hati kemungkinan metastase ke hati (Hamsafir, 2010). 5. Radiologi a. Foto thorax : dipakai untuk melihat metastase Paru. b. Barium Meal Double-contrastadditional defect, iregularitas mukosa tumor primer atau penyebaran tumor ke esofagus/ duodenum. c. Ultrasonografi abdomen untuk mendeteksi metastase hati.

d. CT scan atau MRI pada thorax, abdomen, dan pelvis lihat ekstensi tumor transmural, invasi keorgan dan jaringan sekitar, metastasis kelenjar, asites.Untuk menilai proses penyebaran tumor seperti : menilai keterlibatan serosa, pembesaran KGB dan metastase ke hati dan ovarium 6. CT Staging pada karsinoma lambung a. Stage I : Massa intra luminal tanpa penebalan dinding. b. Stage II : Penebalan dinding lebih dari 1 cm. c. Stage III : Invasi langsung ke struktur sekitarnya. d. Stage IV : Penyakit telah bermetastase. 7. Endoskopi dan Biopsi a. Sebagai Gold Standar pemeriksaan malignitas gaster. b. Ultrasound Endoskopi kedalaman infiltrasi tumor dan melihat pembesaran limfa selika dan perigastrik (> 5mm).

Gambar 1. Endoskopi Lambung

Gambar 2.Infiltrasi Karsinoma gaster

Gambar 3. Karsinoma gaster pada fundus gaster

Gambar 4. Karsinoma gaster pada antrum gaster

Gambar 5. Karsinoma gaster yang menyebabkan obstruksi antrum gaster

II.8 Komplikasi Kanker Lambung a. Perforasi Dapat terjadi perforasi akuta dan perforasi kronika 1. Perforasi akut AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang terbuka dari karsinoma ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi dari kanker yang letaknya di kurvatura minor, diantrium dekat

pylorus. Biasanya mempunyai gejala-gejala yang mirip demean perforasi dari ulkus peptikum. Perforasi ini sering dijumpai pada pria. 2. Perforasi kronika Perforasi yang terjadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh omentum atau bersifat penetrasi. Biasanya lebih jarang dijumpai jika dibandingkan dengan komplikasi dari ulkus benigna. Penetrasi mungkin dijumpai antara lapisan omentun gastrohepatik atau dilapisan bawah dari hati.Yang sering terjadi yaitu perforasi dan tertutup oleh pancreas. Dengan terjadinya penetrasi maka akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrohepatik, gastroenterik dan gastrokolik fistula. b. Hematemesis Hematemesis yang masif dan melena terjadi 5 % dari karsinoma ventrikuli yang gejala-gejalanya mirip seperti pada perdarahan massif maka banyak darah yang hilang sehingga timbullah anemia hipokromik. c. Obstruksi Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah-muntah. d. Adhesi Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut.

II.9 Penatalaksanaan Kanker Lambung Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya.Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang tidak dapat dieksisi secara bedah penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor. Bila gastrektomi subtotal radikal dilakukan, punting ambung

dianastomosisikan pada jejunum, seperti pada gastrektomi ulkus. Bila gastrektomi total dilakukan kontinuitas gastrointestinal diperbaiki dengan

anastomosis diantara ujung esophagus dan jejunum. Bila ada metastasis pada organ vital lain, seperti hepar, pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal. Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi dan disfagia. Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan control lanjut terhadap penyakit atau paliasi. Obat kemoterapi yang sering digunakan mencakup kombinasi 5-fluorourasil (5FU), Adriamycin, dan mitomycin-C. Radiasi dapat digunakan untuk paliasi pada kanker lambung. ( brunner& suddart, 2001)

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan 1. Kanker Lambung atau dikenal sebagai Gastric cancer adalah jenis penyakit kanker yang terjadi di perut, berasal dari sel epitel dinding perut dan dapat terjadi diberbagai bagian perut (daerah antral pylorus paling banyak, diikuti oleh daerah fundic lambung kardia, Lambung sedikit lebih kecil), invasi ke dalam dan berbagai bagian. 2. Etiologi kanker lambung meliputi factor genetic, factor umur, konsumsi makanan yang diasinkan, diasap atau yang diawetkan, Infeksi H.pylori. mengonsumsi rokok dan alcohol, NSAIDs, dan anemia pernisiosa. 3. Cara mendiagnosa kanker lambunng meliputi Gastroskopi, Biopsi dan Tes pencitraan lambung. 4. Pengobatan kanker lambung antara lain pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.

III.2 Saran Pembuatan makalah ini adalah salah satu bentuk pembelajaran yang sangat baik untuk dijadikan sebagai sumber informasi khususnya kepada mahasiswa demi peningkatan derajat kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Pertanyaan dan Jawaban : 1. Nensi Obat-obat sintesis yang berfungsi menghambat bahkan menyembuhkan kanker lambung ! Jawab :

2. Safia Labala Apakah ulkus peptikum kronik dapat menyebabkan kanker lambung? Jawab : Ulkus peptikum kronik dapat menyebabkan kanker lambung, salah satu penyebab terjadinya kanker lambung adalah infeksi oleh Helicobacter pylori. Peradangan dinding lambung yang berlangsung terus menerus ini dapat menyebabkan kanker lambung. Gastritis kronik dapat menyebabkan kanker lambung, tahapannya dimulai dari : a. Gastritis kronik Proses infiltrasi sel-sel radang yang terjadi pada lamina propria dan daerah intra epitelial terutama terdiri atas sel-sel radang kronik, yaitu limfosit dan sel plasma. b. Atropi gastritis kronik Sel-sel radang kronik menyebar lebih dalam disertai dengan distorsi dan destruksi sel kelenjar mukosa lebih nyata. Atrofi gastritis kronik dianggap merupakan stadium akhir gastritis kronik. Pada saat itu struktur kelenjar menghilang dan terpisah satu sama lain secara nyata dengan jaringan ikat, sedangkan sebukan sel-sel radang juga menurun. Mukosa menjadi sangat tipis sehingga pembuluh darah dapat terlihat saat pemeriksaan endoskopi.

c. Metaplasia intestinal Suatu perubahan histologis kelenjar-kelenjar mukosa lambung menjadi kelenjar-kelenjar mukosa usus halus yang mengandung sel goblet. Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi secara menyeluruh pada hampir seluruh segmen lambung, tetapi dapat pula hanya merupakan bercak-bercak pada beberapa bagian lambung. d. Dysplasia Displasia adalah merujuk kepada pembentukan dan perkembangan sel secara tidak beraturan. Pada tahap ini sel- sel pada dinding lambung berkembang secara tidak menentu dan akhirnya menyebabkan kanker lambung.

3. Sri Yolandari Bagaimana penanganan kanker lambung pada setiap stadiumnya? Jawab : Seperti kita ketahui, penyebab kanker lambung diantaranya yaitu ulkus lambung yang kronik dan infeksi bakteri Helicobacter pylori, pada tahap ini, pasien diberikan obat-obat yang dapat mengatasi ulkus lambung dan bakteri Helicobacter pylori (kombinasi antibiotic dengan obat golongan penghambat pompa proton). Jika ulkus peptik tidak mengalami perubahan, maka dilakukan diagnosa dengan gastroskopi, biopsi atau CT-scan seperti yang telah dijelaskan. Dari pemerikasaan ini bisa diketahui apakah pasien tersebut positif kanker lambung atau tidak dan bagaimana penyebarannya. Jika positif, pada umumnya dilakukan pembedahan terhadap sel kanker agar tidak menginvasi jaringan disekitarnya. Setelah pembedahan, radioterapi dapat diaplikasikan bersamaan dengan kemoterapi untuk membunuh sisa-sisa kanker yang berukuran kecil, yang tidak terlihat maupun tidak dapat diangkat saat dilakukan pembedahan. Pada pasien dengan kanker lambung stadium lanjut, radioterapi sangat berguna untuk menghilangkan penghalang dalam lambung, sedangkan kemoterapi,

menggunakan obat-obatan dapat membantu membunuh sel kanker dan menyusutkan ukuran tumor.