Anda di halaman 1dari 10

JTM Vol. XVIII No.

3/2011


119
OPTIMASI ALOKASI INJEKSI GAS PADA SISTEM MULTIWELL
GAS LIFT

Ardhi H. Lumban Gaol
1
, Pudjo Sukarno
1
Sari
Masalah optimasi pada sistem gas lift telah menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan dalam studi pengangkatan
buatan. Sistem gas lift terdiri dari beberapa sumur gas lift yang memiliki dua buah manifold untuk produksi dan injeksi
gas. Tujuan utama dari studi optimasi ini adalah menentukan laju injeksi gasyang optimum untuk setiap sumur
sehingga produksi minyak total menjadi maksimal. Laju alir injeksi gasdibatasi oleh jumlah maksimum gas injeksi
yang tersedia dan laju produksi cairan dibatasi oleh kapasitas separator. Laju produksi minyak merupakan fungsi
nonlinear dari laju injeksi gas, dimana tidak diketahui secara eksplisit. Berhubungan dengan masalah yang kompleks
ini, sebuah metode yang berpatokan pada gas lift performance curve dibentuk untuk memecahkan masalah optimasi
ini. Pendekatan yang dilakukan cukup fleksibel dan memberikan prediksi tidak kalah baiknya dari pendekatan yang
telah ada.

Kata kunci: gas lift, gas lift performance curve, laju injeksi gas, laju produksi liquid

Abstract
Optimization problems in gas lift sistem has been an interested topic in artificial lift study. The gas liftsistem consists of
a cluster of gas lift wells which are coupled with a production manifold and with a gasinjection manifold. The main
goal is to identify optimum gas injection rate for each well such thatmaximizing total oil production rate. Total gas rate
for injection is constrained by maximum availability andtotal liquid production is constrained by separator capacity.
Oil production rate is a nonlinear function ofgas injection rate, which is unknown explicitly. Considering complexity of
the problem, a simple methodthat based on gas lift performance curve is developed to solve the optimization problem.
The approach isalso flexible and also gives a prediction as well as the other existing approach.

Keywords: gas lift, gas lift performance curve, gas injection rate, liquid production rate

1) Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Jl. Ganesa No. 10
Bandung 40132, Telp.: +62-22-2504955,Fax.: +62-22-2504955, Email:ardhi.lumbangaol@gmail.com
I. PENDAHULUAN
Reservoir membutuhkan daya untuk mengalirkan
fluida reservoir hidrokarbon dari reservoir ke
permukaan dan mengalirkannya dari kepala sumur
hingga peralatan permukaan seperti separator dan
stock tank melalui flowline. Produksi minyak dari
suatu sumur akan turun seiring dengan berjalannya
waktu produksi suatu sumur dan pada suatu saat
akan berujung pada keadaan produksi yang tidak
ekonomis lagi. Hal ini terjadi karena tekanan
reservoir yang menjadi energi utama dalam proses
pengangkatan minyak akan turun seiring dengan
berjalannya waktu produksi hingga tidak cukup
kuat lagi untuk mengangkat minyak ke permukaan.
Pada kondisi ini, dibutuhkan suatu metode
pengangkatan buatan yang lazim dikenal sebagai
artificial liftmethod.

Salah satu metode pengangkatan buatan ini adalah
injeksi gas ke dalam tubing yang dikenal dengan
gas lift. Tujuan penggunaan gas lift adalah
meningkatkan produksi sumur dengan mengurangi
gradien tekanan aliran dalam tubing dengan
menambah jumlah gas dalam tubing atau
membentuk kolom gas dalam tubing yang akan
mendorong kolom fluida di dalam tubing.

Kuantitas gas yang diinjeksikan sedapat mungkin
membentuk pola aliran bubbly flow di dalam tubing
(Gambar 1), pola injeksi gas yang berlebih
mengakibatkan alirangas mendahului aliran minyak
di dalam tubing atau slippage. Optimasi injeksi gas
dilakukan denganmempertimbangkan kemampuan
lapisan produktif, kemampuan penampungan
produksi di lapangan, gas yang tersedia untuk
diinjeksikan serta kemampuan sarana injeksi di
permukaan dan di bawah permukaan. Alokasi
injeksi gas yang optimum menjadi sebuah masalah
yang sangat diperhatikan karena produksi minyak
dari suatu sumur bukanlah fungsi yang linear dari
jumlah gas yang diinjeksikan. Skema dari suatu
lapangan minyak yang menggunakan sistem gas lift
pada sumur-sumurnya ditunjukkan oleh Gambar 2.
Produksi liquid sebagai fungsi non-linier dari
injeksi gas pada setiap sumur yang menggunakan
sistem gas lift dapat ditentukan secara implicit dari
gas performance model. Model matematis pada
kasus ini dapat dinyatakan sebagai dua buah
parameter dari persamaan diferensial non-linier:



yang menggambarkan kondisi steady flow (minyak
dan gas) di dalam tubing, dengan tekanan kepala
sumur:



dan tekanan alir dasar sumur:


(1)
(2)
(3)
Ardhi H. Lumban Gaol, Pudjo Sukarno

TMNo.4/2009


120

Gambar 1. Pola aliran dalam tubing


Gambar 2. Multiwell gas lift sistem

II. MODEL MATEMATIS SISTEM SUMUR
TUNGGAL
Injeksi gas dilakukan pada suatu titik pada tubing
sesuai dengan penentuan letak titik injeksi yang
paling optimum. Titik injeksi diasumsikan
berada dekat dengan dasar sumur atau zona
perforasi dan fluida reservoir hanya terdiri atas
fasa cair (minyak dan air). Model matematis ini
diturunkan mulai dari hukum kekekalan
energimekanik:


dengan kondisi awal:
(5)

dimana,


merupakan kehilangan tekanan akibat gravitasi,
friksi, dan akselerasi dari aliran fluida di dalam
pipa. Densitas campuran kecepatan alir
, dan faktor gesekan f merupakan
fungsi dari tekanan P.

Kecepatan superfisial cairan dan gas dinyatakan
dengan:

dengan luas tubing:

Persamaan kekekalan massa dapat diubah:

Reservoir satu fasa cairan dengan kondisi aliran
steady state dinyatakan dalam hukum Darcy:


Jika:

Maka persamaan kekekalan massa dapat
disederhanakan lagi:


dimana:

(4)
(6)
(7)
(8)
(10)
(9)
(11)
(12)
Optimasi Alokasi Injeksi Gas Pada Sistem Multiwell Gas Lift

121
Solusi model kemampuan injeksi gas untuk
sistem sumur tunggal dihasilkan dari nilai
bataspada persamaan (1) (3), dimana ruas
kanannyadigantikan oleh ruas kanan dari
persamaan (11).

Produksi cairan sebagai fungsi dari injeksi gas:

dapat ditentukan secara implisit dari model
gaslift dan kurva yang dihasilkan disebut Gas
Lift Performance Curve.

III. MODEL SISTEM MULTIWELL GAS
LIFT
Pada kebanyakan kasus, suatu lapangan
memproduksikan minyak dengan sejumlah
sumur yang menggunakan sistem gas lift.
Diasumsikan bahwa posisi separator sangat dekat
dengan manifold sehingga perbedaan tekanan
antara separator dan manifold dapat diabaikan,
jika jumlah sumur dinyatakan dengan N:



Model untuk sistem multiwell gas lift ini
merupakan perluasan dari model sistem gas lif
tsumur tunggal. Persamaan (13)
merepresentasikan aliran gas dan cairan pada
pipa horizontal pada sumur ke-k. Solusi yang
dihasilkan untuk model aliran di pipa horizontal
adalah:

Solusi untuk model aliran di tubing adalah:

Produksi cairan sebagai fungsi dari injeksi gas:


IV. OPTIMASI INJEKSI GAS LIFT
Masalah yang dihadapi dalam optimasi
injeksigas lift adalah cara mendapatkan produksi
minyak yang maksimum. Keterbatasan jumlah
gas untuk diinjeksikan ke dalam tubing dan
kapasitas separator untuk menampung fluida
produksi menjadi hal yang harus
dipertimbangkan.

Dengan asumsi fluida yang terproduksi
darireservoir terdiri dari minyak dan air:


Untuk mendapatkan produksi minyak yang
maksimum:


Dengan keterbatasan jumlah gas yang
dapatdiinjeksikan maka:


Pada keadaan dimana jumlah gas yang dimiliki
untuk injeksi

cukup besar maka injeksi gas


dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil
produksi minyak yang maksimum. Ketika jumlah
gas yang tersedia tidak cukup maka gas yang
tersedia untuk injeksi harus dialokasikan secara
optimal ke setiap sumur yang menggunakan
sistem gas lift.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa
separator memiliki kapasitas maksimum baik
dalam proses pemisahannya maupun volume
separator itu sendiri. Injeksi gas yang tidak
optimum dapat menyebabkan produksi cairan
dari reservoir tidak tertampung di separator. Pada
kondisi tersebut injeksi gas harus dialokasikan
sedemikian rupa sehingga produksi cairan yang
dihasilkan sama atau kurang dari kapasitas
separator:



Optimasi injeksi gas dengan batasan-batasan
tersebut dapat dipecahkan dengan penggunaan
skema numerik seperti Genetic Algorithm yang
diaplikasikan menjadi sebuah perhitungan
komputer.

V. OPTIMASI ALOKASI INJEKSI GAS
(GAS TERBATAS)
Gas Lift Performance Curve (GLPC)
menunjukkan hubungan antara laju produksi
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
Ardhi H. Lumban Gaol, Pudjo Sukarno

TMNo.4/2009


122
sumur terhadap perubahan jumlah injeksi gas.
GLPC suatu sumur yang menggunakan injeksi
gas sebagai artificial lift menunjukkan jumlah
injeksi gas yang paling optimum akan
menghasilkan laju produksi yang maksimum
(Gambar 3). Metode yang digunakan untuk
menentukan alokasi injeksi gas yang optimum ini
dikenal dengan metode equal slope.


Gambar 3. Kemiringan kurva pada GLPC

Pada GLPC, kemiringan kurva atau slope
menunjukkan derajat perubahan laju produksi
dengan penambahan injeksi gas (

)
dimana ketika nilai slope sama dengan nol
menyatakan bahwa injeksi gas menghasilkan laju
produksi yang maksimum (Gambar 4).


Gambar 4. Gas lift performance curve

Untuk dua sumur gas lift, maka harga slope yang
sama pada tiap GLPC menyatakan perbandingan
antara laju produksi dan injeksi gas yang sama
sehingga untuk setiap harga slope yang sama
pada dua sumur yang berbeda maka laju injeksi
gas dan produksi cairan dapat dijumlahkan.

Prosedur yang dilakukan untuk alokasi injeksi
gas dengan ketersediaan jumlah gas terbatas
(Gambar 5).

1. Bentuk gas lift performance curve dari tiap
sumur. GLPC dapat dibentuk dengan
menggunakan simulator.
2. Gas lift performance curve yang telah ada
dipartisi menjadi bagianbagian kecil dan
tiap bagian ditentukan harga kemiringannya.
3. Plot nilai slope dengan laju injeksi gas untuk
tiap sumur.
4. Untuk tiap harga slope yang sama, maka laju
injeksi gas dapat dijumlahkan antara sumur
yang satu dengan yang lainnya sehingga
menghasilkan laju injeksi total.
5. Plot slope dengan laju injeksi total. Kurva ini
dikenal dengan sebutan Master Plot. Nilai
slope sam adengan nol pada kurva ini
menyatakan laju injeksi gas total yang
menghasilkan laju produksi maksimum
seluruh sumur.
6. Master plot digunakan untuk menentukan
slope pada kondisi jumlah gas maksimum
yang dapat diinjeksikan.
7. Harga slope yang menyatakan jumlah gas
maksimum yang tersedia digunakan untuk
masingmasing sumur dengan menggunakan
plot slope dengan laju injeksi gas untuk setiap
sumur.
8. Laju produksi untuk tiap sumur ditentukan
menggunakan gas lift performance curve
dengan laju injeksi gas yang telah
dialokasikan sebelumnya.


Gambar 5. Prosedur alokasi injeksi gas pada
kondisi Limited Gas Injection


VI. OPTIMASI ALOKASI INJEKSI GAS
(KAPASITAS SEPARATOR TERBATAS)
Optimasi injeksi gas dengan batasan kapasitas
separator dikembangkan dari teknik optimasi
injeksi gas dimana jumlah gas yang tersedia
untuk diinjeksikan terbatas. Prinsip yang sama
diterapkan untuk menentukan besar laju injeksi
gas yang mampu menghasilkan laju produksi
maksimum dengan yakni penggunaan slope dari
Optimasi Alokasi Injeksi Gas Pada Sistem Multiwell Gas Lift

123
gas lift performance curve dimana dengan harga
slope yang sama maka besar injeksi gas dari tiap
sumur dapat dijumlahkan sehingga akan
menghasilkan nilai laju injeksi gas total yang
dibutuhkan untuk mencapai laju produksi yang
diinginkan yang dalam batasannya adalah
kapasitas separator dalam mengalirkan atau
memisahkan fluida setiap kurun waktu tertentu
yang biasa dinyatakan dalam satuan STB/day.

Prosedur yang dilakukan untuk alokasi injeksi
gas dengan batasan kapasitas separator (Gambar
6):
1. Bentuk gas lift performance curve dari tiap
sumur. GLPC dapat dibentuk dengan
menggunakan simulator.
2. Untuk setiap sumur dicari hubungan atau
fungsi antara besar laju injeksi gas dengan
laju produksinya.
3. Gas lift performance curve yang telah ada
dipartisi menjadi bagianbagian kecil dan
tiap bagian ditentukan harga kemiringannya,
4. Plot nilai slope dengan laju injeksi gas untuk
tiap sumur.
5. Untuk tiap harga slope yang sama, maka laju
injeksi gas dapat dijumlahkan antara sumur
yang satu dengan yang lainnya sehingga
menghasilkan laju injeksi total.
6. Plot slope dengan laju injeksi gas total.Kurva
ini dikenal dengan sebutan MasterPlot. Nilai
slope sama dengan nol padakurva ini
menyatakan laju injeksi gas totalyang
menghasilkan laju produksi maksimum
seluruh sumur.
7. Master plot digunakan untuk menentukan
slope pada kondisi jumlah gas yang akan
diinjeksikan agar laju produksi yang
dihasilkan tidak melebihi kapasitas
maksimum separator.
8. Laju produksi untuk tiap nilai slope yang
berbeda dapat ditentukan dengan
menggunakan hubungan antara laju injeksi
gas dengan laju produksi.
9. Untuk tiap harga slope yang sama, maka laju
produksi dapat dijumlahkan antara sumur
yang satu dengan yang lainnya sehingga
menghasilkan laju produksi total.
10. Plot antara laju produksi total dengan laju
injeksi gas total, kurva ini merupakan kunci
utama dalam menentukan alokasi injeksi gas
untuk tiap sumur dimana kurva ini
menggambarkan gas lift performance curve
untuk seluruh sumur dalam suatu lapangan
yang menggunakan sistem sumur gas lift.
11. Laju injeksi gas total ditentukan dari kurva
antara laju produksi total dengan laju injeksi
total dengan batasan laju produksi cairan total
adalah kapasitas maksimum separator.
12. Master plot digunakan untuk menentukan
harga slope pada nilai laju injeksi gas total
yang telah ditentukan sebelumnya.
13. Alokasi injeksi ditentukan dari kurva antara
slope dengan laju injeksi gas pada tiap sumur.
14. Laju produksi untuk tiap sumur dapat
ditentukan dengan menggunakan gas lift
performance curve atau dengan
menggunakan fungsi antara laju injeksi gas
dengan laju produksi yang telah didapatkan
sebelumnya.


Gambar 6. Prosedur alokasi injeksi gas pada
kondisi Limited Separator Capacity

VII. CONTOH KASUS
Suatu lapangan minyak memiliki lima buah
sumur yang beroperasi dengan menggunakan
sistem gas lift. Data yang ada (Tabel 1)
menunjukkan bahwa setiap sumur memiliki nilai
parameter yang berbeda seperti kedalaman
sumur, tekanan reservoir, properti fluida,
temperatur, ukuran tubing, panjang flowline, dan
ukuran flowline.

Hasil perhitungan komputasi untuk kasus
kapasitas separator yang tidak terbatas dan
jumlah gas injeksi terbatas yang berbasis skema
numerik yakni Genetic Algorithm (Tabel 2)
dibandingkan dengan hasil perhitungan dengan
prosedur yang telah dibuat (Tabel 3).


Ardhi H. Lumban Gaol, Pudjo Sukarno

TMNo.4/2009


124
Tabel 1. Field data


Tabel 3.Hasil perhitungan numerik \\\\

menggunakanlgorithm dan equal slope dengan
Tabel 3.Hasil perhitungan numerik menggunakan
genetic algorithm dan equal slope dengan
kapasitas separator terbatas.
Separator Capacity = 7000 STBD
Tabel 2.Hasil perhitungan numerik menggunakan genetic algorithm dan equal slope dengan kapasitas
separator tidak terbatas dan jumlah gas injeksi terbatas
Optimasi Alokasi Injeksi Gas Pada Sistem Multiwell Gas Lift



125
Hasil perhitungan komputasi untuk kasus
kapasitas separator terbatas dan jumlah gas
injeksi yang tidak terbatas yang berbasis skema
numerik yakni genetic algorithm dibandingkan
dengan hasil perhitungan dengan prosedur yang
telah dibuat.

VIII. DISKUSI DAN PEMBAHASAN
Keterbatasan data di lapangan seringkali menjadi
masalah dalam penentuan alokasi injeksi gasyang
paling optimum untuk tiap sumur yang
menggunakan sistem injeksi gas untuk
mendukung proses produksi minyak dari
reservoir ke permukaan dimana proses alokasi
injeksi gas ini seringkali terbentur oleh masalah
lain seperti keterbatasan jumlah gas untuk injeksi
dan keterbatasan kapasitas separator.

Studi yangdilakukan ini bertujuan untuk
menemukan solusi terhadap permasalahan
tersebut dimana hasil dari studi ini menunjukkan
bahwa hanya dengan menggunakan suatu
hubungan antara laju injeksi gas dengan laju
produksi minyak maka perhitungan untuk
menentukan laju injeksi dan laju produksi yang
optimum setiap sumur pada suatu lapangan yang
menggunakan sistem gas lift dapat dilakukan.
Metode lain yang telah dikembangkan
sebelumnya yakni perhitungan komputasi
berbasis genetic algorithm digunakan sebagai
pembanding untuk prosedur yang telah
dikembangkan dalam studi ini.

Prosedur perhitungan yang dibentuk berbasis
pada konsep dimana penjumlahan laju injeksi
gasdan laju produksi minyak dari seluruh
sumurdapat dilakukan ketika pengaruh dari
perubahan laju injeksi gas terhadap perubahan
laju produksi minyak dari suatu sumur sama
dengan sumur lainnya atau dengan kata lain
kemiringan kurva yang terbentuk antara laju
injeksi gas dengan laju produksi minyak sama
antara sumur yang satu dengan sumur yang lain.

Pada contoh kasus yang ada, suatu lapangan
memiliki lima buah sumur yang menggunakan
sistem gas lift dimana setiap sumurnya memiliki
properti yang berbeda seperti tekanan reservoir,
water cut, gas liquid ratio, kedalaman, ukuran
tubing, ukuran flowline, panjang flowline, dan
productivity index. Setiap parameter tersebut
akan mempengaruhi fenomena aliran dan hasil
produksi yang berbeda. Pada kasus yang
dipelajari, suatu lapangan memiliki lima buah
sumur yang menggunakan sistem gas lift dimana
dari kelima sumur tersebut terbedaan harga
kedalaman, panjang flowline, water cut, ukuran
tubing, gas liquid ratio, productivity index, dan
tekanan reservoir.

Pada dasarnya, alokasi injeksi gas yang optimum
didapat jika injeksi gas dilakukan berdasarkan
prioritas dimana sumur-sumur yang memiliki
produktifitas tinggi dalam menghasilkan minyak
mendapat porsi injeksi gas yang lebih besar
daripada sumur-sumur yang memiliki
produktifitas rendah. Produktifitas suatu sumur
dibandingkan dengan sumur lain dalam
memproduksikan minyak sangat bergantung
pada parameter yang telah disebutkan
sebelumnya. Untuk mengetahui parameter yang
paling berpengaruh terhadap produksi minyak
suatu sumur maka dilakukan sensitivity study.

Hasil sensitivity study yang dilakukan terhadap
sumur-5 yaitu dengan membandingkan besar
perubahan laju produksi yang terjadi akibat
perubahan beberapa parameter yang telah
disebutkan di atas menunjukkan bahwa
perubahan water cut paling berpengaruh pada
besarnya laju produksi minyak.

Sensitivity study dilakukan pada perubahan
ukuran tubing yang memiliki pengaruh besar
terhadap gas lift performance curve. Dari hasil
sensitivity study tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa besarnya water cut dari tiap
sumur harus sangat dipertimbangkan dalam
optimasi injeksi gas atau dengan kata lain bahwa
sumur dengan nilai watercut yang kecil
seharusnya mendapat porsi laju injeksi gas yang
lebih besar daripada sumur dengan nilai water
cut yang lebih besar dengan harapan mendapat
produksi minyak yang lebihbesar.

Hasil perhitungan dari studi ini tidak jauh
berbeda dengan hasil perhitungan dengan
menggunakan genetic algorithm terutama untuk
laju produksi minyak. Lain halnya dengan laju
injeksi gas untuk masing-masing sumur, terdapat
perbedaan yang besar terutama jika terdapat
batasan-batasan pada proses injeksi gas seperti
ketersediaan jumlah gas untuk injeksi dan
batasan lain seperti kapasitas separator (Tabel 2
dan Tabel 3). Perbedaan yang ada pada dasarnya
diakibatkan oleh perbedaan metode dalam
penentuan gas lift performance curve diaman
dalam studi ini untuk menentukan GLPC
digunakan simulator sedangkan pada alokasi
injeksi gas menggunakan genetic algorithm
digunakan metode shooting method.

Perbedaan hasil perhitungan yang paling besar
terjadi pada kasus dimana jumlah gas yang dapat
digunakan untuk injeksi terbatas (Gambar 7
sampai 12).
Ardhi H. Lumban Gaol, Pudjo Sukarno

TMNo.4/2009


126

Gambar 7. Alokasi gas tiap sumur dengan
unlimited gas availability


Gambar 8. Produksi minyak tiap sumur dengan
unlimited gas availability

Gambar 9. Alokasi gas tiap sumur dengan gas
availability = 10 MMSCFD

Gambar 10. Produksi minyak tiap sumur dengan
gas availability = 10 MMSCFD


Gambar 11. Alokasi gas tiap sumur dengan gas
availability = 5 MMSCFD


Gambar 12. Produksi minyak tiap sumur dengan
gas availability = 5 MMSCFD





Optimasi Alokasi Injeksi Gas Pada Sistem Multiwell Gas Lift

127
Hasil perhitungan menggunakan prosedur yang
telah dikembangkan mampu mengalokasikan gas
sesuai dengan teori dimana laju injeksi gas untuk
sumur-sumur yang memiliki water cut tinggi
lebih kecil daripada sumur lain yang memiliki
water cut lebih rendah. Jika merunut kembali
pada data sumur yang ada, sumur-3 merupakan
sumur yang memiliki water cut yang paling besar
dan ukuran tubing paling kecil di antara sumur
lainnya. Oleh karena itu, hasil perhitungan yang
didapat menunjukkan bahwa sumur-3 mendapat
porsi laju injeksi gas yang paling kecil
dibandingkan dengan sumur lainnya.

Pada beberapa kasus, injeksi gas tidak perlu
dilakukan lagi ke dalam tubing seperti pada
keadaan terbatasnya jumlah gas untuk injeksi.
Pada kondisi tersebut, injeksi gas sebaiknya
diprioritaskan pada sumur yang lebih produktif
dalam menyumbang produksi minyak. Kasus
seperti ini ditunjukkan oleh hasil perhitungan
yang telah dilakukan (Tabel 2) dimana pada
sumur-3 yang memiliki nilai water cut tertinggi,
tidak dilakukan injeksi gas karena gas yang
tersedia yaitu sebesar 1 MMSCFD dialokasikan
untuk sumur lain yang lebih produktif. Sumur-3
masih dapat mengalir karena gas liquid ratio dari
reservoir masih mampu mendukung produksi
sumur ini.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN
9.1 Kesimpulan
Dari studi yang telah dilakukan dapat diambil
beberapa kesimpulan:
1. Penentuan gas lift performance curve
sangat berpengaruh pada optimasi alokasi
gas lift.
2. Hasil sensitivity study menunjukkan bahwa
water cut merupakan properti fluida yang
paling berpengaruh terhadap penentuan gas
lift performance curve.
3. Alokasi laju injeksi gas yang optimum
dilakukan dengan mempertimbangkan
harga water cut.
4. Prosedur yang dikembangkan telah mampu
mempertimbangkan besaran water cut
dalam aplikasinya.
5. Prosedur yang dikembangkan dapat
digunakan untuk optimasi injeksi gas pada
multiwell gas lift sistem dengan batasan gas
availability dan limited separator capacity.

9.2 Saran
Saran-saran untuk studi lanjut adalah:
1. Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai
penggunaan prosedur yang telah
dikembangkan untuk alokasi injeksi gas
pada sistem sumur gas lift dengan
konfigurasi sumur yang memiliki inklinasi,
commingle well, tapered tubing,
penggunaan choke, dan diameter gas lift
valve port.
2. Perlu dilakukan studi lanjut mengenai
pengembangan artificial lift menggunakan
sistem gas lift dan pompa secara
bersamaan.
3. Prosedur yang telah dibuat perlu
dikembangkan lagi dengan melakukan
peramalan gas lift performance curve agar
alokasi injeksi gas yang optimum dapat
dilakukan ketika terjadi penurunan tekanan
reservoir.

DAFTAR PUSTAKA
1. Brill, J.P., and Mukherjee, H., 1999.
Multiphase Flow in Wells. Texas:
Richardson.
2. Guo, B., Ghalambor, A., and Lyons, W.C.,
1997. Petroleum Production Engineering.
Lafayette: Elsevier Science & Technology
Books.
3. Nishikori, N., Redrer, R. A., Doty, D. R.,
andSchmidt, Z., 1989. An Improved Method
for Gas Lift Allocation Optimization, SPE
Paper 19711.
4. Sukarno, P., Sidarto, K. A., and, Dewi,S.,
2006. New Approach on Gas Lift Wells
Optimization withLimited Available Gas
Injected, Proc. of IATMI 2006-09, Jakarta.

DAFTAR ISTILAH
D = Diameter pipa (tubing), in [m]
f = Faktor gesekan, dimensionless
g
c
= Gaya gravitasi, ft/s
2
[m/s
2
]
g = Akselerasi, ft/s
2
[m/s
2
]
J = Productivity Index, stbd/psi[m
3
/s.Pa]
L = Panjang tubing, ft [m]
P = Tekanan pada pipa produksi, psi [Pa]
P

= Tekanan reservoir, psi [Pa]


P
wh
= Tekanan kepala sumur, psi [Pa]
q
g
= Laju injeksi gas, scfd [m
3
/s]
q
I
= Laju produksi cairan, stbd [m
3
/s]
q
o
=Laju produksi minyak, stbd [m
3
/s]
q
gu
=Laju injeksi gas yang tersedia,
scfd[m
3
/s]
T =Suhu sepanjang pipa produksi,
0
F [
0
K]
u
m
= Laju alir campuran, ft/s [m/s]
WC = Water Cut
WOR = Water Oil Ratio
Z = Fakor kompresibilitas gas,
dimensionless
y
g
= Spesifik gravity gas, dimensionless
y
w
= Spesifik gravity air, dimensionless
p
I
= Densitas cairan, lbm/ft
3
[kg/m
3
]
p
g
= Densitas gas, lbm/ft
3
[kg/m
3
]
p
m
= Densitas campuran, lbm/ft
3
[kg/m
3
]
GA = Genetic Algorithm



Ardhi H. Lumban Gaol, Pudjo Sukarno

TMNo.4/2009


128