Anda di halaman 1dari 3

RESENSI BUKU FIKSI

Judul Buku : Di Bawah Lindungan Kabah Penulis : Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrulloh Penerbit : PT. Bulan Bintang Cetakan : XIV, 1979 Tebal : 80 Halaman Kategori : Fiksi

Biografi Penulis Haji Abdul Malik Karim Amrulloh atau lebih dikenal dengan nama Profesor Doktor HAMKA merupakan sastrawan Indonesia sekaligus aktivis dibidang politik. Novel Di Bawah Lindungan Kabah merupakan novel beliau yang ke 13, yang terbit pertama kali pada tahun 1938 dan diterbitkan oleh PT. Bulan Bintang dengan ketebalan buku 80 halaman. Sinopsis Hamid merupakan seorang anak yatim yang tinggal bersama ibunya di kota Padang dalam sebuah rumah yang lebih layak disebut gubug. Beberapa bulan kemudian, rumah besar disebelah rumah Hamid yang sebelumnya kosong sekarang dihuni oleh Engku Haji Jafar bersama istrinya Mak Asiah dan anak perempuannya Zainab. Karena iba dengan keadaan Hamid dan Ibunya, istri Haji Jafar yaitu Mak Asiah berniat membantu Hamid. Haji Jafar pun menyekolahkan Hamid bersama putrinya Zainab yang dianggap Hamid sebagai adiknya. Setelah lulus sekolah, Hamid menyadari bahwa ia mencintai Zainab begitu sebaliknya. Namun keduanya saling menyimpan perasaannya. Karena Hamid tahu, meskipun ia mengatakannya pasti akan sia-sia. Dia tidak sederajat dengan Zainab. Begitu pula Zainab. Ia menyadari kedudukan keluarganya dalam masyarakat. Sehingga ia tidak mengungkapkan perasaannya kepada Hamid. Suatu hari Haji Jafar meninggal dunia. Hamid dan ibunya tidak sering lagi ke rumah Almarhum Haji Jafar. Tak lama kemudian, Ibu Hamid sakit-sakitan dan beberapa hari kemudian ibunda Hamid meninggal. Hamid begitu terpukul dengan semua cobaan itu. Hamidpun menjadi sebatang kara. Apalagi ketika Mak Asiah meminta bantuannya untuk meluluhkan hati Zainab agar mau dinikahkan dengan kemenakan Haji Jafar. Hamid putus asa dan meninggalkan kota Padang. Hingga akhirnya ia sampai di tanah suci Mekkah. Disana Hamid dapat melupakan Zainab beserta segala penderitaannya selama berada di Padang dengan berserah diri kepada Allah. Tiba-tiba datanglah Saleh, teman karibnya sewaktu mereka masih sekolah. Dia membawa kabar mengenai Zainab dari istrinya, bahwa Zainab mencintai Hamid dan sekarang Zainab sedang sakit-sakitan karena penderitaan yang disebabkan oleh perasaan

yang telah lama dipendamnya. Dan juga ternyata Zainab tidak jadi dinikahkan dengan kemenakan Almarhum ayahnya. Ketika datang surat Zainab kepadanya datang bersamaan bersama surat dari Rosna, Hamid begitu senang karena ia tahu bahwa Zainab memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi kebahagiaannya telah terlambat. Pada saat ia akan mengerjakan tawaf, datang surat dari Rosna istri Saleh yang mengabarkan bahwa Zainab telah wafat. Tak lama kemudian setelah mengerjakan tawaf dan berdoa, Hamid pun menyusul Zainab. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di bawah lindungan kabah. Pada hari itu juga jenazahnya dimakamkan di perkuburan Maala yang masyhur. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik a. Tema : Novel ini mengangkat tema Percintaan. b. Latar : 1. Waktu : Sekitar tahun 1927. Dapat dilihat dalam bab bagian 1 yang berjudul Mekah Pada Tahun 1927 2. Suasana : Novel ini banyak mengandung suanan duka. Seperti halnya saat Hamid tahu bahwa ia tak akan bisa bermain main lagi dengan Zainab setelah lulus sekolah. Lalu ketika kematian Haji Jafar yang disusul ibunda Hamid. Juga kedukaan Hamid saat tahu bahwa Zainab akan dinikahkah dengan kemenakan dari Haji Jafar. Serta penderitaan Zainab yang memikirkan Hamid pergi bertahun-tahun tanpa kabar berita. 3. Tempat : Latar tempat dalam novel ini berada di tanah suci Mekkah, padang Arafah, Madinah, Mina, Jeddah. Terdapat juga latar yang bertempat di tanah air yaitu di Padang, Padang Panjang, Jambi, Pantai Pesisir Arau dan Medan. c. Alur : Maju dan Mundur. Di dalam novel diceritakan kejadian-kejadian yang telah berlalu dan berlanjut kembali ke masa depan. d. Sudut Pandang : Menggunakan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. e. Tokoh-tokoh : 1. Hamid : Pemuda yang berbudi luhur, sopan, pintar, rendah hati dan taat dalam beragama. Ia merupakan anak yatim dari keluarga miskin. Ia diangkat menjadi anak asuh oleh Engku Haji Jafar. 2. Ibu Hamid : Wanita yang gigih berjuang membesarkan Hamid walaupun hanya sendirian. Beliau juga merupakan wanita yang baik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat menyayangi Hamid sampai akhir hayatnya. 3. Haji Jafar : Saudagar kaya raya yang Baik Hati dan Dermawan. Beliau merupakan ayah asuh dari Hamid. Beliau pulalah yang menyekolahkan Hamid. 4. Emak Asiah : Istri Engku Haji Jafar. Wanita yang berhati mullia. Baik hati terhadap siapa saja. 5. Zainab : Anak perempuan Engku Haji Jafar dan Mak Asiah. Berteman dengan Hamid sejak kecil. Selalu bersama hingga tamat sekolah. Ia merupakan wanita yang baik hatinya, sopan dan ramah. 6. Saleh : Sahabat karib Hamid semasa sekolah.Ia merupakan sosok pria yang baik hati dan taat beragama. Suami Rosna. 7. Rosna : Sahabat karib Zainab. Sosok wanita baik hati dan taat beragama. f. Gaya bahasa dan penulisan : Dalam novel ini digunakan bahasa melayu.

g. Amanat : 1. Segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. 2. Sebagai manusia kita boleh saja merencanakan sesuatu, berusaha sebisa mungkin mewujudkannya. Namun tetap saja Allah lah yang menentukannya. 3. Cinta itu merupakan hal yang tulus dan suci. Karena merupakan anugrah dari Allah SWT. Komentar Kelebihan : Alur dalam novel ini dapat membawa perasaan pembaca ke dalam keadaan yang dialami Hamid dan Zainab Kekurangan : Bahasa yang digunakan merupakan percampuran antara Melayu, Indonesia dan Minangkabau. Sehingga sedikit sulit untuk dipahami. Kesimpulan Novel ini sangat layak untuk dibaca. Karena mengandung amanat yang sangat mendidik, misalnya kita harus memiliki kesabaran dalam memecahkan masalah dan tidak mudah putus asa. Novel ini layak dibaca oleh kalangan remaja sampai dewasa, karena mengisahkan romantisme dan kesabaran tingkat tinggi yang sampai-sampai pembaca dapat menitihkan air mata.