Anda di halaman 1dari 4

Hiperkolesterolemia adalah suatu keadaan tingginya konsentrasi kolesterol dalam darah.

Menurut Grundy (1991), ada tiga tingkatan kolesterol dalam serum manusia, yaitu kolesterol serum normal dengan kolesterol total < 200 mg/dL, kolesterol borderline (BHC) dengan

kolesterol total 200-239 mg/dL dan kolesterol serum tinggi. Kolesterol serum tinggi pada manusia dapat menyebabkan kondisi hiperkolesterolemia sedang (240-289 mg/dL) dan hiperkolesterolemia berat (> 290 mg/dL). Pramono (1989) melaporkan bahwa konsentrasi kolesterol normal tikus berkisar antara 40-130 mg/dL. Hiperkolesterolemia dapat terjadi akibat penurunan laju katabolisme LDL dan pengayaan LDL dengan ester kolesterol. Konsentrasi kolesterol manusia akan tetap tinggi walaupun tanpa konsumsi makanan dari luar, hal ini disebabkan adanya kelainan yang terjadi pada spesies manusia (species defect) (Grundy 1991). Penyebabnya adalah hanya sekitar 30-40% kolesterol yang diubah menjadi asam empedu sehingga konsentrasi kolesterol darah tetap tinggi Faktor lain yang menyebabkan hiperkolesterolemia adalah konsumsi makanan tinggi kolesterol dan asam lemak jenuh serta kondisi menopause pada wanita. Tingginya konsentrasi kolesterol disebabkan juga oleh kondisi hiperlipidemia, yaitu suatu keadaan meningkatnya konsentrasi lipid darah yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi triasilgliserol darah, konsentrasi LDL serta konsentrasi kolesterol. Hiperkolesterolemia dapat dibuat pada beberapa hewan dengan menambahkan lemak dan kolesterol dalam makanannya yang disebut dengan induksi eksogen. Hiperkolesterolemia dapat juga dibuat secara endogen melalui pemberian propiltiourasil (PTU) (Gambar 1). Propiltiourasil merupakan zat antitiroid yang mampu meningkatkan konsentrasi kolesterol darah secara endogen dengan merusak kelenjar tiroid. Propiltiourasil akan menimbulkan hipotiroidisme yang dihubungkan dengan peningkatan

konsentrasi LDL plasma akibat penurunan katabolisme LDL. Penyebabnya yaitu pada kondisi

hipotiroid terjadi penurunan sintesis dan ekspresi reseptor LDL di hati, sehingga LDL banyak beredar di plasma dan menjadi penyebab hiperkolesterolemia (Salter et al., 1991). Lipoprotein adalah alat transport serum untuk lipid dan trigliserid. Ada enam kelompok lipoprotein, yang berbeda dalam hal kandungan lipid dan protein. Fungsi transport dan mekanisme penghantaran lemak. Lipoprotein ini dinamakan menurut ukuran dan berat jenisnya, kilomikron dan sisa kilomikron membawa lipid yang diabsorpsi melalui usu ( jalur eksogen). Empat lipoprotein lain membentuk jalur transport endogen yang menghantarkan kolesterol dan trigliserid yang disekresikan oleh hati. Empat lipoprotein dari jalur endogen adalah lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL), lipoprotein densitas sedang (IDL) lipoprotein densitas rendah (LDL) dan lipoprotein densitas tinggi (HDL). Konsentrasi LDL yang tinggi pada hiperkolesterolemia akan menyebabkan aterosklerosis sehingga hiperkolesterolemia dikatakan sebagai faktor resiko dari aterosklerosis. Aterosklerosis adalah penyakit dengan penimbunan plak pada intima arteri karena akumulasi ester kolesterol (Cotran et al., 1999). Penimbunan plak akan menyebabkan penyempitan intima arteri sehingga pembuluh darah tidak lagi berbentuk bulat dan luas penampangnya mengecil. Dengan kondisi ini, pembuluh darah tidak lagi elastis sehingga aliran darah menjadi tidak lancar maka aterosklerosis dapat menimbulkan penyakit jantung koroner dan pendarahan otak (Pratanu 1995).Hiperlipidemia sering dibagi menjadi hyperlipidemia primer (genetic) dan hyperlipidemia sekunder. Hiperlipidemia sekunder adalah sisa dari gangguan metabolik seperti diabetes mellitus, sindrom nefrotik, uremia, sirosis bilier atau hipotiroidisme. Hiperlipidemia sekunder juga dapat disebabkan oleh konsumsi alcohol atau kontrasepsi oral oelh pasien yang secara ginetik mempunyai predisposisi hipertrigliseridema

Hiperlipidemia (hiperkoleterolemia) merupakan penyebab utama meningkatnya resiko aterogenesis. Baik gangguan genetik maupun makanan kaya lemak jenuh dan kolesterol merupakan penyebab meningkatnya kadar lipid pada populasi AS dan banyak negara maju lainnya di seluruh dunia.

Lipid peroksida yang berlimpah juga mendorong proses asterosklerosis melalui oksidasi LDL yang dirangsang oleh radikal bebas. Proses modifikasi oksidatif LDL melibatkan semua komponennya termasuk fosfolipid, asam lemak, kolesterol dan apolipoprotein. LDL yang teroksidasi ini tidak akan dikenali lagi oleh reseptor LDL namun akan dikenali oleh reseptor scavenger dari makrofag. Hal ini menyebabkan terbentuknya sel busa yang terjadi karena akumulasi ester kolesterol dari LDL pada makrofag (Stryer 1995).

Koleterol (yunani Chole= empedu, stereos = padat) adalah zat alamiah dengan sifat fisik serupa lemak tetapi berumus steroid (OOP) Statistik menunjukan pentingnya mengidentifikasi dan menanggulangi faktor resiko CHD. Faktor resiko utama yang diketahui adalah LDL yang tinggi, HDL yang rendah, merokok, hipertensi, DM tipe 2, usia lanjut, riwayat CHD prematur pada keluarga. Kesimpulan dari banyak penelitian menunjukan bahwa terapi dengan obat hipolipidemia bermanfaat untuk pasien CHD (coronary heart disease) dengan kadar awal LDL > 100 mg/dl dan bahwa tujuan pengobatan pasien CHD adalah menurunkan LDL hingga < 100 mg/dl (goodman & gilman 2008) Karena pengobatan untuk mencegah oksidasi LDL belum dikenal luas, maka senyawa antioksidan pencegah oksidasi LDL merupakan target utama pencarian obat antiaterosklerotik (Libby, 2002). Salah satu sumber senyawa antioksidan adalah obat herbal dengan kandungan

senyawa polifenol yang tinggi. Konsumsi senyawa fenolik secara epidemiologi terbukti memiliki hubungan yang terbalik dengan angka morbiditas dan mortalitas akibat PJK (Hertog et al., 1993, Knekt et al., 1996). Konsumsi minuman kaya polifenol oleh subyek sehat dalam waktu singkat akan meningkatkan status antioksidan serum dan kemampuan serum untuk melemahkan akumulasi kolesterol makrofag (Rosenblat, 2010). Polifenol juga meringankan plak aterosklerosis pada mencit ApoE_/_geneknockout dengan cara menurunkan inflamasi, meningkatkan ketersediaan NO, dan menginduksi heme oxygenase-1 (Loke et al., 2010) disebabkan oleh kemampuan senyawa antiradikal bebas dalam jumlah yang cukup tinggi di dalamnya. Aktivitas antioksidan dan antiradikal bebas bermanfaat untuk melindungi sel dari berbagai keadaan fisiologik maupun patologik (Bucki et al., 2003). Salah satu tanaman yang mengandung senyawa polifenol adalah Salam. Salam mengandung tanin, flavonoid, saponin, triterpen, polifenol, alkaloid dan minyak atsiri (Sudarsono dkk., 2002).
``