Anda di halaman 1dari 77

ANALISIS PERMINTAAN KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA

PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk. CABANG SOLO

PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk. CABANG SOLO Skripsi Diajukan Sebagai Kelengkapan dan Syarat Untuk
Skripsi
Skripsi

Diajukan Sebagai Kelengkapan dan Syarat Untuk Menyelesaikan Program Sarjana Pada Program Strata Satu (S1) Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

ULIN WULANDARI F 0109102

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2013

ABSTRAKSI

ANALISIS PERMINTAAN KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT.

BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk. CABANG SOLO

Oleh : Ulin Wulandari F 0109102
Oleh :
Ulin Wulandari
F 0109102

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variabel independen seperti PDRB per kapita, variabel nilai tukar (kurs), dan variabel tingkat suku bunga terhadap permintaan KPR bersubsidi (FLPP) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Solo.

Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) dengan periode tahun 1991 2011 yang mana data tersebut bersifat data sekunder. Data tersebut bersumber dari BTN Cabang Solo, website Bank Indonesia dan BPS Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu PDRB per kapita dan suku bunga mempengaruhi secara signifikan terhadap permintaan kredit subsidi BTN Cabang Solo. Sedangkan variabel nilai tukar (kurs) tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap permintaan kredit subsidi BTN Cabang Solo.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa saran dapat diajukan antara lain : bank lebih selektif dalam pemberian kredit, dan masyarakat hendaknya lebih bijaksana dalam menggunakan pendapatannya untuk kredit.

Kata Kunci : permintaan KPR BTN, PDRB per kapita, nilai tukar (kurs), suku bunga,

Ordinary Least Square (OLS).

ABSTRAKSI

ANALISIS PERMINTAAN KREDIT KEPEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT.

BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) Tbk. CABANG SOLO

Oleh : Ulin Wulandari F 0109102
Oleh :
Ulin Wulandari
F 0109102

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variabel independen seperti PDRB per kapita, variabel nilai tukar (kurs), dan variabel tingkat suku bunga terhadap permintaan KPR bersubsidi (FLPP) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Solo.

Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) dengan periode tahun 1991 2011 yang mana data tersebut bersifat data sekunder. Data tersebut bersumber dari BTN Cabang Solo, website Bank Indonesia dan BPS Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu PDRB per kapita dan suku bunga mempengaruhi secara signifikan terhadap permintaan kredit subsidi BTN Cabang Solo. Sedangkan variabel nilai tukar (kurs) tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap permintaan kredit subsidi BTN Cabang Solo.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa saran dapat diajukan antara lain :

masyarakat hendaknya meningkatkan pendapatan , dan pemerintah hendaknya lebih meningkatkan subsidi suku bunga KPR FLPP.

Kata Kunci : permintaan KPR BTN, PDRB per kapita, nilai tukar (kurs), suku bunga,

Ordinary Least Square (OLS).

MOTTO

“Dan

bahwa

manusia

hanya

memperoleh

apa

yang

telah

diusahakannya,

dan

sesungguhnya

usahanya

itu

kelak

akan

dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balsan

diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balsan kepadanya

dengan balasan yang paling sempurna, dan sesungguhnya kepada

Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu) dan sesungguhnya

Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (Q.S An-

Najm : 39-43)

Ketika terjadi sebuah masalah lebih baik segera memperbaikinya dengan

mencari solusi bersama daripada saling menyalahkan.

Dalam setiap kisah sukses, anda akan menemukan seseorang yang telah

mengambil keputusan dengan berani.

Bersyukurlah jika kamu sudah di titik terendah dalam

hidup, karena tidak ada pilihan lain selain menuju titik

tertinggi (Mario Teguh).

PERSEMBAHAN

   

Karya kecilku ini ku persembahkan untuk :

Orang tua ku, bapak dan ibu tercinta.

Kakak-kakak dan semua keponakan ku tersayang

Sahabat “rumpik” dan semua teman EP’09

Sahabat “Rt 01”

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Syukur

Alhamdulillah

penulis

panjatkan

kehadirat

Allah

SWT

yang

telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, dengan bimbingan, kasih sayang, dan pertolongan-

Nya

penulis

dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul

Analisis Permintaan Kredit

skripsi dengan judul “ Analisis Permintaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Pada PT. Bank Tabungan Negara

Kepemilikan Rumah (KPR) Pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang

Solo”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

Universitas Sebelas Maret.

Persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan hingga terselesaikannya penyusunan skripsi

ini tidak terlepas dari peran dan bantuan berbagai pihak baik secara moril maupun materiil.

Tiada yang dapat melukiskan kebahagiaan penulis selain rasa syukur yang mendalam. Oleh

karena itu, dengan kerendahan hati dan ketulusan yang mendalam penulis menghaturkan

terima kasih kepada :

1. Allah SWT, yang telah banyak memberikan nikmat dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Orang tua dan keluarga yang senantiasa mendoakan dan mendukung serta menyemangati

penulis selama proses menyelesaikan skripsi ini.

3. Dr. Wisnu Untoro, M.S, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

4. Drs. Supriyono, M.Si, selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Izza Mafruhah, SE, M.Si, selaku sekertaris jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas

Ekonomi Univeristas Sebelas Maret.

6. Heri Sulistyo Jati N, SE, MSE dan Yogi Pasca Pratama, SE, ME selaku pembimbing yang

dengan arif dan bijak telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing

dan memberikan masukan yang berarti dalam penyusunan skripsi ini.

7.

Seluruh Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas

Maret Surakarta beserta seluruh staff dan karyawan yang telah memberikan bimbingan,

arahan dan pelayanan kepada penulis.

8. Seluruh staff dan karyawan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Solo yang

telah membantu memperoleh data untuk penelitian ini.

9. Upik, clara, mimeng, dea, sukma, dan ceria untuk cinta dan kasih sayangnya untuk selalu

menyemangati dan mendoakan penulis. Longlast for our friendship ♥

dan mendoakan penulis. Longlast for our friendship ♥ 10. Nicky, delima, novi, umi intan, dan laras

10. Nicky, delima, novi, umi intan, dan laras jarak tidak memutuskan semangat dan doa

kalian buat penulis, keep our friendship forever ♥

11. Teman-teman EP’09 ,kru HMJ EP serta adik tingkat yang selalu menyemangati dan

mendoakan selama proses menyelesaikan skripsi in.

12. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.

Semoga kebaikan dan ketulusan hati kalian pihak-pihak yang telah membantun

mendapatkan balasan dari Allah SWT. Pnulis menyadari bahwa tulisan ini masih banyak

kekurangan, oleh karena itu kritik serta saran pembaca sangat penulis harapkan. Penulis

berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang membacanya.

Surakarta,

Juli 2013

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i

ABSTRAK …………………………………………………………………

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………

iii

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. iv

A. B. Perumusan Masalah … C. Tujuan Penelitian ………
A.
B. Perumusan Masalah …
C. Tujuan Penelitian ………

MOTTO ……………………………………………………………………… v

vi

vii

ix

xi

xii

PERSEMBAHAN …………………………………………………………

KATA PENGANTAR ……………………………………………………

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah …………………………………. 1

…………………….…………….7

7

D. Manfaat Penelitian ………………………………………. 8

……………………………….

BAB II TELAAH PUSTAKA

A. Teori Permintaan ………………………………………… 9

B. Kredit ………………………………

………………….

14

C. PDRB Per Kapita …………………………

…………

22

D. Nilai Tukar Rupiah (Kurs) …………………

…………

25

E. Tingkat Suku Bunga …………………………

………

27

F. Penelitian Terdahulu ……………………………………. 30

G. Kerangka Pemikiran ……………

……………………

32

H. Hipotesa Penelitian ……………………………………

32

BAB III

METODE PENELITIAN

B. Ruang Lingkup Penelitian ………………….……………34

C. Jenis dan Sumber Data ………………………….……….35

D. Metode Pengumpuulan Data ……………………….…

35

E. Definisi Operasional Variabel ……………………

……

36

F. Metode Analisa Data ……………………………….…

37

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A.

Gambaran Umum KPR Subsidi (FLPPP) BTN Cabang Solo ……………………………………… 46

B. C. KESIMPULAN DAN SARAN A. B.
B.
C.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
B.

Analisis Data dan Pembahasan ……………………

……49

Interpretasi Ekonomi ……………………….……………59

BAB V

Kesimpulan ………………………………………………61

62

Saran ……………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

TABEL

HALAMAN

1.1 Total Penyaluran Kredit Bank BTN ……………………………

4

1.2

4.1

Total Penyaluran Kredit Bersubsidi Bank BTN ………………… 5

Data Jumlah Permintaan KPR FLPP (Subsidi) …………………. 50

PT. Bank Tabungan Negara Cabang Solo,

PDRB Per Kapita, Kurs dan Suku Bunga

Tahun 1991 2011

PDRB Per Kapita, Kurs dan Suku Bunga Tahun 1991 – 2011 51 54 4.2 Hasil Regresi

51

54

4.2 Hasil Regresi Log Linier Berganda ……………………………

4.3 Hasil uji t ………………………………………………………

4.4 Hasil Uji Multikolinieritas dengan Pendekatan Korelasi ………. 56

4.5 Hasil BG-Test …………………………………………………… 56

4.6 Hasil Uji White …………………………………………………

58

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN 2.1 Kurva Permintaan ………………………………………… …. 11 2.2 Kurva Pergeseran
GAMBAR
HALAMAN
2.1
Kurva Permintaan …………………………………………
….
11
2.2
Kurva Pergeseran Permintaan …………………………………. 11
2.3
Kurva Pertambahan Permintaan ………………………………
24
2.4
Kurva Elastisitas Permintaan …………………………………
29
Terhadap Pengaruh Subsidi Pemerintah
2.5
Kurva Elastisitas Permintaan Terhadap Pengaruh ………….… 30
Subsidi Pemerintah yang Lebih Besar
3.1
Daerah Kritis Uji F ……………………………………………… 40
3.2
Daerah Kritis Uji t ……………………………………………
41

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Di era globalisasi sekarang ini perubahan laju pembangunan terus mengalami

peningkatan. Khususnya Indonesia yang merupakan negara berkembang, di mana segala upaya dilakukan untuk meningkatkan
peningkatan. Khususnya Indonesia yang merupakan negara berkembang, di mana
segala upaya dilakukan untuk meningkatkan pemerataan pembangunan. Tujuan dari
pembangunan nasional adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang
adil dan makmur di segala aspek kehidupan. Salah satu dari upaya pemerintah dalam
meningkatkan
pemerataan
pembangunan
adalah
dengan
mengusahakan
dalam
memenuhi kebutuhan pokok manusia.
Kebutuhan manusia sendiri dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kebutuhan
primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer merupakan
kebutuhan
yang
harus
dipenuhi
karena
kebutuhan
pokok
berguna
untuk
melangsungkan
kehidupan.
Kebutuhan
primer
sendiri
meliputi
kebutuhan
akan

sandang, pangan dan papan. Kedua kebutuhan sekunder, kebutuhan ini timbul setelah

kebutuhan primer terpenuhi dan sebagai penunjang untuk memelihara kelangsungan

kehidupan. Contoh kebutuhan sekunder meliputi pendidikan, kesehatan, pariwisata

dan rekreasi. Dan

yang ketiga kebutuhan tersier, kebutuhan tersier merupakan

kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi dengan

baik. Kebutuhan tersier adalah kebutuhan akan barang-barang mewah atau bersifat

hiburan (kesenangan belaka). Contoh kebutuhan tersier meliputi mobil , perhiasan,

barang-barang

elektronik,

telepon

genggam,

dan

lain-lain.

Dengan

semakin

banyaknya penduduk, maka semakin banyak pula kebutuhan yang diperlukan untuk

melangsungkan kehidupan.

Rumah (papan) merupakan salah satu dari tiga kebutuhan primer selain

sandang (pakaian) dan pangan. Dalam perkembangannya, rumah saat ini juga dapat

dijadikan sebagai alternatif investasi yang menarik dengan harapan capital gain yang

dapat dinikmati di masa depan. Rumah juga menjadi identitas sosial bagi seseorang,

jika seseorang itu memiliki rumah mewah menandakan bahwa pemiliknya adalah

seseorang

seseorang

apabila

dari

dengan kemampuan ekonomi tinggi, begitu pula memiliki rumah sederhana menandakan bahwa
dengan
kemampuan
ekonomi
tinggi,
begitu
pula
memiliki
rumah
sederhana
menandakan
bahwa

sebaliknya

orang

tersebut

kalangan kelas menengah ke bawah. Jenis rumah saat ini juga semakin beragam, ada

rumah

jenis rumah modern seperti kondominium dan apartemen adapula jenis

sederhana seperti rumah biasa dan rumah susun. Menurut Arafat (2006), menyatakan

bahwa sektor perumahan dapat diandalkan sebagai motor penggerak putaran roda

perekonomian nasional.

Negara pun mengatur tentang rumah dalam Undang-undang No. 4 tahun 1992

pasal 5 ayat (1)

tentang perumahan dan pemukiman yang berbunyi “setiap warga

negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki

rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur”. Seseorang

dapat

memiliki

atau

menempati

rumah

dengan

cara

membangun

sendiri

atau

menyewa, membeli secara tunai atau angsuran, hibah atau dengan cara lain yang telah

diatur dalam perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan

undang-undang

tersebut,

pembelian

rumah

dapat

dilakukan

dengan dua cara, yaitu secara tunai maupun kredit. Pembelian rumah secara tunai

dapat dilakukan apabila pembeli tersebut memiliki uang dengan jumlah yang sama

dengan harga rumah tersebut. Namun bagi pembeli yang memiliki jumlah uang yang

lebih rendah dibanding dengan harga rumah, pembelian rumah dapat dilakukan secara

angsuran (kredit). Dengan adanya alternatif kredit perumahan pun banyak diminati

oleh kalangan masyarakat dengan penghasilan rendah.

Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, salah satu cara

pemerintah dalam membantu masyarakat dari golongan menengah ke bawah adalah

dengan memberikan kredit melalui bank. Dalam hal ini peran bank dalam mendukung

kegiatan perekonomian sangat besar. Bank berupaya untuk mendorong kegiatan

sangat besar. Bank berupaya untuk mendorong kegiatan perekonomian dengan menyediakan fasilitas kredit yang

perekonomian dengan menyediakan fasilitas kredit yang dibutuhkan serta terjangkau

bagi masyarakat. Salah satu kredit yang ditawarkan bank untuk masyarakat adalah

kredit sektor konsumsi.

Penyaluran kredit perbankan pada sektor konsumsi masyarakat mengalami

peningkatan yang drastis setelah krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu. Krisis ekonomi

tersebut menyebabkan banyaknya perusahaan-perusahaan besar bangkrut sehingga

mulai

kredit pada bank

yang terserap sistem korporasi semakin sedikit. Bank

menyadari bahwa adanya peluang pada pasar konsumsi masyarakat yang semakin

besar dengan risiko yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pemberian kredit pada

perusahaan besar.

Pada kenyataannya di sektor konsumsi terdapat beberapa jenis kredit yang

dibiayai oleh bank, salah satunya sektor perumahan melalui kredit pemilikan rumah

(KPR). Hal ini menjadi peluang bagi bank untuk melakukan pemasaran KPR untuk

masyarakat yang tidak mampu dalam melakukan pembelian rumah secara tunai.

Peningkatan pemberian KPR perbankan dikarenakan banyaknya masyarakat yang

membutuhkan rumah.

Sejak tahun 1976 Bank Tabungan Negara (BTN) ditunjuk oleh pemerintah

sebagai bank pertama yang menyalurkan kredit perumahan kepada masyarakat. Pada

awalnya BTN hanya menyalurkan kredit perumahan bersubsidi di mana dananya

dibiayai langsung oleh pemerintah dengan pemberian tingkat suku bunga rendah.

Seiring berjalannya waktu, sekarang BTN dapat menyalurkan berbagai fasilitas kredit

perumahan.

Pada Tabel 1.1 dapat dilihat dari laporan tahunan tahun 2012 PT. Bank

Tabungan Negara (Persero) menunjukkan perkembangan penyaluran kredit di mana

dari tahun 2008-2012 jumlah unit maupun dana kredit terus mengalami peningkatan.

jumlah unit maupun dana kredit terus mengalami peningkatan. Tabel 1.1 Total Penyaluran Kredit Bank BTN Sumber

Tabel 1.1 Total Penyaluran Kredit Bank BTN

peningkatan. Tabel 1.1 Total Penyaluran Kredit Bank BTN Sumber : Laporan Tahunan Tahun 2012 PT. Bank

Sumber : Laporan Tahunan Tahun 2012 PT. Bank Tabungan Negara (Persero).

PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk merupakan bank yang berfokus

pada bisnis perumahan dengan perbandingan 75 : 25 di mana 75% adalah perumahan

dan

25%

non

perumahan.

KPR

ini

diperuntukkan

bagi

masyarakat

kalangan

menengah ke bawah yang belum memiliki rumah huni dan berpenghasilan kurang

dari Rp 3.500.000, 00.

KPR subsidi merupakan produk kredit perumahan pertama yang dikeluarkan

oleh BTN, layanan ini telah disalurkan sejak tahun 1976 dan mengalami peningkatan

hingga

kini.

Dapat

dilihat

pada

Tabel

1.2

untuk

lima

tahun

terakhir

tingkat

perkembangan KPR subsidi tersalurkan kepada masyarakat dengan stabil. Meskipun

terjadi penurunan pada tahun 2010 dan 2012, penurunan tersebut tidak drastis jika

dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Tabel 1.2 Total Penyaluran KPR Bersubsidi Bank BTN

Tabel 1.2 Total Penyaluran KPR Bersubsidi Bank BTN Menteri Perumahan Rakyat No. 27 tahun 2012 rumah
Menteri Perumahan Rakyat No. 27 tahun 2012 rumah sejahtera bagi
Menteri
Perumahan
Rakyat
No.
27
tahun
2012
rumah
sejahtera
bagi

Sumber : Laporan Tahunan Tahun 2012 PT. Bank Tabungan Negara (Persero).

Pada tanggal 1 Oktober 2010, pemerintah memperkenalkan skema baru bagi

KPR subsidi, yaitu Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) melalui

Peraturan

pengadaan

tentang

perumahan melalui kredit/pembiayaan pemilikan rumah sejahtera dengan dukungan

Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Tujuan dari FLPP adalah untuk

berpenghasilan

mendukung kredit/pembiayaan

masyarakat

rendah (MBR).

Menurut Awang Firdaus (1997), permintaan rumah dipengaruhi oleh faktor-

faktor

di

kemudahan

antaranya

adalah

lokasi

pendanaan,

fasilitas

dan

atau

pertumbuhan

penduduk,

pendapatan,

sarana

umum,

harga

pasar

rumah,

selera

konsumen serta peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Pananggian

(2004), setelah meneliti selama 3 dekade hasil penelitiannya menunjukan terdapat

hubungan

yang

saling

mempengaruhi

antara

tingkat

suku

bunga

bank,

angka

penjualan rumah, dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan penelitian antara tingkat

suku bunga bank, angka penjualan rumah yang didasari oleh beberapa penelitian

permintaan rumah periode tahun 1977 sampai dengan 1995 dengan variasi harga,

Produk

Domestik

Regional

Bruto

(PDRB)

per

kapita,

jumlah

rumah

tahun

sebelumnya, tingkat suku bunga, dan jumlah penduduk usia kawin. Hasilnya adalah

variasi harga, PDRB per kapita, jumlah rumah tahun sebelumnya berpengaruh,

sedangkan variasi suku bunga dan jumlah penduduk usia kawin tidak berpengaruh.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, pengaruh terhadap permintaan akan

kredit perumahan dapat di bagi menjadi dua faktor, yaitu faktor mikro maupun faktor

penduduk dan lain-lain. Sedangkan menurut bunga, nilai tukar (kurs), jumlah ekspor dan mengenani permintaan
penduduk
dan
lain-lain.
Sedangkan
menurut
bunga,
nilai
tukar
(kurs),
jumlah
ekspor
dan
mengenani
permintaan
akan
kredit

makro. Dari segi mikro, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan akan kredit

meliputi selera konsumen, harga pasar rumah, pelayanan nasabah, angka penjualan

rumah,

makro,

jumlah

kacamata

permintaan akan kredit perumahan dapat dipengaruhi oleh inflasi, PDRB per kapita,

tingkat

Dengan

suku

lain-lain.

mengetahui pengaruh dari kedua faktor tersebut dapat membantu dalam perencanaan

strategis perbankan untuk menghadapi perubahan perekonomian. Dalam penelitian ini

fokus

yang

pembahasannya

perumahan

dipengaruhi oleh faktor makro.

Dengan berfokus pada salah satu jenis kredit pada sektor konsumsi, yaitu KPR

subsidi (FLPP) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Cabang Solo. Penulis

tertarik untuk menganalisa permintaan akan KPR subsidi karena kredit ini merupakan

produk kredit perumahan pertama yang ditawarkan oleh BTN dan melihat dari

perkembangan kredit ini terus mengalami peningkatan dari tahun 1976 hingga kini.

Dengan mencari pengaruh faktor makro yang terkait dengan penelitian, penulis ingin

mengetahui faktor mana yang dominan dalam meningkatkan permintaan kredit

bersubsidi. Maka penulis memilih judul penelitian “Analisis Permintaan Kredit

Kepemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Cabang Solo”.

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh PDRB per kapita masyarakat terhadap permintaan Kredit

Pemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Solo.

pengaruh tingkat suku bunga bank terhadap
pengaruh
tingkat
suku
bunga
bank
terhadap

2. Bagaimana pengaruh nilai tukar (kurs)

terhadap permintaan Kredit Pemilikan

Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo.

3.

Bagaimana

permintaan

Kredit

Pemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Solo.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yang dapat dinyatakan seperti berikut :

1. Untuk mengetahui pengaruh PDRB per kapita masyarakat terhadap permintaan

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero)

Cabang Solo.

2. Untuk

mengetahui

pengaruh

nilai

tukar

(kurs)

terhadap

permintaan

Kredit

Pemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Solo.

3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat suku bunga bank terhadap permintaan Kredit

Pemilikan Rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Solo.

D.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini diharapkan dapat

memberikan

bukti empiris maupun sebagai

literatur tambahan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan KPR

oleh masyarakat. Selain itu, penelitian ini dapat memacu penelitian yang lebih

baik mengenai permintaan KPR oleh masyarakat di Solo.

lebih baik mengenai permintaan KPR oleh masyarakat di Solo. 2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan

2. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemerintah

daerah sebagai pemegang kebijaksanaan untuk ditindaklanjuti lebih mendalam.

3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang

membutuhkan.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

A. Teori Permintaan

1. Konsep dan Pengertian

TELAAH PUSTAKA A. Teori Permintaan 1. Konsep dan Pengertian Teori permintaan terhadap suatu barang atau output

Teori permintaan terhadap suatu barang atau output yang menerangkan

bagaimana konsumen sebagai seorang pembeli meminta suatu barang yang

tersedia di pasar. Untuk meminta atau membeli barang tersebut, tentunya

konsumen harus memiliki pendapatan dan di sisi lain barang yang akan dibeli

juga dihadapkan pada barang pengganti dengan berbagai tingkat harga jual

tertentu.

Fungsi permintaan dapat disajikan sebagai berikut (Sumanjaya, 2009):

Dimana :

Qd

=

jumlah permintaan terhadap suatu barang (q)

Pq

=

harga barang (q)/unit

Terjadinya perubahan permintaan terhadap suatu barang disebabkan

oleh perubahan beberapa faktor, bisa dari faktor utama (harga barang itu

sendiri) maupun faktor lainnya sebagai pendukung. Adapun faktor-faktor

lainnya yang meliputi antara lain (Sumanjaya, 2009):

Pq

=

harga barang (q) itu sendiri

Y

=

pendapatan konsumen yang siap dibelanjakan

Py

=

harga barang (y) yang dapat mensubtitusi barang (x)

T

=

taste (selera konsumen)

C

=

jumlah konsumen

Ed

=

expected (harapan konsumen)

Faktor-faktor di atas adalah yang mempengaruhi permintaan yang

kemudian mengubah fungsi permintaan menjadi :

yang kemudian mengubah fungsi permintaan menjadi : 2. Hukum Permintaan Secara sederhana, hukum permintaan

2. Hukum Permintaan

Secara sederhana, hukum permintaan dapat tinggi apabila harga, cateris paribus (faktor lain tetap rendah”.
Secara
sederhana,
hukum
permintaan
dapat
tinggi
apabila
harga,
cateris
paribus
(faktor
lain
tetap
rendah”. (Sukirno, 1998).
Semakin
tinggi
harga
dari
suatu
barang
maka
permintaan akan jumlah (kuantitas) barang
paribus),
seperti
pendapatan
masyarakat,
jumlah

dirumuskan

sebagai

berikut : “kuantitas (jumlah) yang di minta per unit waktu menjadi semakin

sama),

semakin

semakin

sedikit

tersebut. Sebaliknya, semakin

rendah harga dari suatu barang maka semakin banyak permintaan akan jumlah

(kuantitas) barang tersebut, di mana faktor-faktor lain dianggap tetap (cateris

selera

penduduk,

masyarakat, tidak ada barang subtitusi dan tidak ada ramalan harga untuk

masa mendatang (Lipsey, 1998).

Kurva permintaan merupakan tempat di mana masing-masing titik

menggambarkan tingkat maksimum pembelian pada harga tertentu, dengan

cateris

paribus

(keadaan

lainnya

tetap).

Jadi

kurva

permintaan

dapat

dikatakan sebagai garis pembatas. Kurva permintaan juga memperlihatkan

harga maksimum yang akan dibayar pada bermacam-macam kuantitas, per

unit waktu (Samuelson dan Nodrhaus, 1993). Kurva permintaan itu bersifat

kontinyu (continuous).

P

P D O q/t Gambar-2.1 Kurva Permintaan P D D” D’ Pada Gambar-2.1 Kurva permintaan di
D O q/t Gambar-2.1 Kurva Permintaan P
D
O q/t
Gambar-2.1 Kurva Permintaan
P
D
D

D”

D’

Pada Gambar-2.1 Kurva permintaan di atas dapat disimpulkan bahwa

jumlah barang yang diminta oleh konsumen berubah secara berlawanan arah

dengan perubahan harga, dengan asumsi pendapatan dan harga-harga barang

lain tetap.

O q/t Gambar-2.2 Kurva Pergeseran Permintaan

Gambar-2.2 memperlihatkan suatu hal yang sangat penting, yaitu

apabila satu atau beberapa kondisi dari cateris paribus berubah, maka kurva

permintaan

akan

bergeser

(kecuali

apabila

perubahan

beberapa

kondisi

tersebut saling mengimbangi; tetapi hal ini tidak mungkin akan terjadi). Hal

ini

dinamakan

kurva

perubahan

permintaan

(change

pergeseran permintaan (shift in demand).

3. Elastisitas Permintaan

in

demand)

atau

Elastisitas harga permintaan atau sering juga disebut elastisitas harga

merupakan alat ukur kuantitatif yang menunjukkan sampai di mana pengaruh

perubahan suatu harga terhadap perubahan suatu permintaan. Definisi yang

Nilai perbandingan di antara prosentase Koefisien elastisitas permintaan dapat
Nilai
perbandingan
di
antara
prosentase
Koefisien
elastisitas
permintaan
dapat

tepat dari elastisitas permintaan adalah prosentase perubahan dalam kuantitas

yang diminta dibagi dengan prosentase perubahan dalam harga (Samuelson

dan Nordhaus, 2003).

perubahan

barang

yang

diminta dengan prosentase perubahan harga dinamakan koefisien elastisitas

sebagai

permintaan.

dirumuskan

berikut:

elastisitas sebagai permintaan. dirumuskan berikut: Koefisien elastisitas permintaan atau Ed adalah suatu

Koefisien elastisitas permintaan atau Ed adalah suatu angka penunjuk yang

menggambarkan

seberapa

besar

perubahan

jumlah

barang

yang

diminta

apabila dibandingkan dengan perubahan harga.

Koefisien elastisitas harga dari suatu barang akan berbeda satu sama

lain,

atau

ini

menandakan

kepekaan

suatu

barang

terhadap

perubahan

harganya. Apabila kepekaan sebuah barang terhadap harganya tinggi, dapat

dikatakan bahwa barang tersebut memiliki nilai koefisien elastisitas dari

permintaan bersifat “elastis” maka berarti kuantitas atas barang yang diminta

tersebut

peka terhadap

perubahan

harganya sangat

tinggi.

Apabila

nilai

koefisien elastisitas dari suatu barang itu rendah (antara nol dan satu) maka

disebut “inelastis” yang berarti kuantitas barang yang diminta kurang peka

terhadap perubahan harganya.

Adapun jenis-jenis elastisitas permintaan berdasarkan nilai koefisien

elastisitas permintaannya (Samuelson dan Nordhaus, 2003) :

a. Ed = 0, koefisien elastisitas bersifat “inelastis sempurna” atau permintaan

dengan elastisitas nol, yaitu keadaan di mana kuantitas barang diminta

sama sekali tidak peka terhadap perubahan harga. persen perubahan dalam kuantitas barang yang diminta. perubahan
sama sekali tidak peka terhadap perubahan harga.
persen perubahan dalam kuantitas barang yang diminta.
perubahan satu persen terhadap kuantitas barang.
yang diminta.

b. Ed < 1, koefisien elastisitas permintaan bersifat “inelastis” yaitu apabila

perubahan satu persen dalam harga menghasilkan kurang daripada satu

c. Ed = 1, koefisien elastisitas permintaan berifat “elastis uniter (unitary)”,

terjadi apabila perubahan satu persen pada harga akan menghasilkan

d. Ed > 1, koefisien elastisitas bersifat “elastis” yaitu apabila prosentase

perubahan harga lebih besar dari prosentase perubahan jumlah barang

e. Ed = ∞, koefisien elastisitas permintaan bersifat “elastis sempurna” yaitu

keadaan di mana sebuah perubahan kecil dalam harga akan berpengaruh

sangat besar terhadap perubahan jumlah barang yang diminta.

Ada

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi

elastisitas

permintaan

sehingga

menimbulkan

perbedaan

dalam

elastisitas

barang. Yang terpenting adalah :

permintaan

berbagai

a.

Tingkat kemampuan barang subtitusi untuk menggantikan barang yang

bersangkutan

b. Persentasi pendapatan yang akan dibelanjakan untuk membeli barang

tersebut

c. Jangka waktu di mana permintaan itu di analisis

B. Kredit

1. Konsep dan Pengertian

Pengertian kredit adalah kemampuan untuk
Pengertian
kredit
adalah
kemampuan
untuk

melaksanakan

suatu

pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu perjanjian, di mana

pembayaran akan dilaksanakan pada jangka waktu yang telah disepakati

(Astiko, 1996).

Kredit adalah uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasarkan kesepakatan atau perjanjian antara bank dengan pihak peminjam

yang berkewajiban untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu yang telah

disepakati dengan pengenaan bunga (Surat Edaran Direksi PT Bank Tabungan

Negara (Persero) Tbk:2008).

Pengertian kredit yang lebih mapan diatur untuk kegiatan perbankan

Indonesia yang telah ditetapkan dalam :

1)

Undang-Undang Pokok Perbankan No. 14 tahun 1967, “Bank merupakan

lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah memberikan kredit dan

jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang”. Sedangkan

lembaga

keuangan

adalah

semua

badan

yang

melalui

kegiatan-

kegiatannya di bidang keuangan, menarik uang dari dan menyalurkannya

kepada masyarakat.

 

2)

Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 menyebutkan bahwa Kredit

adalah penyedia uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu

persetujuan atau pihak yang mewajibkan, pihak peminjam untuk melunasi

hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan jumlah uang,

3)

imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998, “kredit adalah penyediaan

uang

dan

tagihan

yang

dapat

dipersamakan

dengan

itu

berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak

2.

jaminan pengaman, pihak peminjam (debitur)
jaminan
pengaman,
pihak
peminjam
(debitur)

jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

lain yang mewajibkan pihak penjamin untuk melunasi utangnya setelah

Dalam praktek sehari-hari pinjaman kredit dinyatakan dalam bentuk

perjanjian tertulis baik di bawah tangan maupun secara sah (materiil). Dan

akan

memenuhi

sebagai

kewajiban dan menyerahkan jaminan baik bersifat berwujud maupun tidak

berwujud.

Tujuan dan Fungsi Kredit

Tujuan kredit mencakup ruang lingkup yang luas. Ada dua tujuan

pokok dari kredit yang saling berkaitan, yaitu :

a. Profitability, bertujuan untuk mendapatkan hasil dari kredit berupa

laba atau keuntungan yang diperoleh dari pengenaan bunga.

b. Safety, adalah keamanan dari fasilitas yang diberikan harus benar-

benar terjamin dan terjaga agar profitability dapat tercapai tanpa

hambatan yang berarti.

Sedangkan

fungsi

kredit

adalah

menyalurkan

dana-dana

yang

dibutuhkan

oleh

masyarakat.

Bank

memegang

peranan

penting

selaku

lembaga keuangan yang membantu pemerintah dalam mencapai kemakmuran

masyarakat. Sebagai lembaga pemberi kredit, maka pengertian bank dan

kredit tidak dapat dipisahkan, karena :

a. Kegiatan utama dari bank adalah perkreditan

b. Keberhasilan suatu bank sebagian besar tergantung dari usaha

perkreditannya.

Fungsi

kredit

dalam

kehidupan

perekonomian,

perdagangan

dan

keuangan secara garis besar adalah sebagai berikut :

a. Kredit dapat meningkatkan utility (daya guna) dari modal/uang Artinya bahwa para pengusaha kecil dapat
a.
Kredit dapat meningkatkan utility (daya guna) dari modal/uang
Artinya bahwa para pengusaha kecil dapat menikmati kredit bank
untuk memberi kesempatan untuk berusaha dan mengembangkan
usahanya.
b.
Kredit dapat meningkatkan utility (daya guna) dari suatu barang
Dengan bantuan kredit bank tersebut maka pengusaha kecil dapat
memproduksi bahan mentah menjadi bahan jadi, meningkatkan
daya guna dari barang tersebut.
c.
Kredit sebagai alat stabilitas ekonomi

Dalam menghadapi keadaan perekonomian yang tidak stabil, maka

kredit dapat digunakan sebagai alat stabilitas ekonomi, misalnya

dalam

usaha

pengendalian

inflasi,

meningkatkan

ekspor

serta

untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

d. Kredit sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional

Bantuan kredit digunakan para pengusaha untuk memperbesar

volume produksinya. Peningkatan produksi nantinya diharapkan

dapat meningkatkan laba atau profit. Bila laba secara kumulatif

terus dikembangkan dan berlangsung terus menerus, akibatnya

pendapatan akan terus meningkat.

3. Manfaat Kredit

Dalam memberikan fasilitas perkreditan yang dipasarkan oleh bank-

bank komersial, terdapat berbagai pihak yang menerima/merasakan secara

langsung maupun tidak langsung dari manfaat perkreditan. Piha-pihak yang

menerima secara langsung, yaitu :

1)

a. Bunga kredit (interest margin)
a. Bunga kredit (interest margin)

Pihak bank yang bertindak sebagai kreditur

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai perantara keuangan, bank akan

memperoleh manfaat antara lain :

Pendapatan bank dari bunga kredit merupakan selisih antara

bunga kredit yang diterima oleh bank dari debitur yang telah

dikurangi dengan biaya untuk menghimpun dana dari nasabah

dan dikurangi juga dari biaya-biaya overhead dalam mengelola

kredit tersebut. Pendapatan bersih yang diperoleh dari bunga

kredit tersebut sering disebut interest margin atau spread.

b. Menjaga solvabilitas usahanya.

c. Dengan pemberian kredit dapat juga memasarkan jasa-jasa

perbankan lainnya.

d. Pemberian kredit dapat digunakan untuk mempertahankan dan

mengembangkan usaha bank.

e. Pemberian

perbankan.

kredit

untuk

menguasai

pasar

dalam

industri

2)

f. Mengembangkan

perbankan.

kemampuan

karyawannya

Pihak nasabah yang bertindak sebagai debitur.

dalam

industri

Manfaatnya sebagai alat pemenuhan kebutuhan faktor produksi modal.

Selain itu ada beberapa manfaat lain dari kredit bagi debitur, antara lain :

a. Relatif

mudah

diperoleh

apabila

usahanya

benar-benar

fleksibel. b. Saat ini telah tersedia lembaga yang kuat di masyarakat yaitu perbankan. c. Keamanan
fleksibel.
b.
Saat ini telah tersedia lembaga yang kuat di masyarakat yaitu
perbankan.
c.
Keamanan rahasia keuangan debitur akan terlindungi karena
adanya pengaturan tentang rahasia bank.
d.
Dengan adanya fasilitas kredit bank maka para pengusaha
untuk mengembangkan dan memperluas usahanya.
e.
Dengan memperoleh fasilitas kredit dari bank, debitur juga
dapat memperoleh manfaat lain, yaitu : transfer, letter of credit
(L/C), bank garansi, konsultasi pasar, manajemen keuangan,

teknis yuridis, serta kemungkinan kerjasama dengan debitur

lain.

4. Prinsip-Prinsip Kredit

Untuk

mendapatkan

kredit

harus

melalui

tata

aturan

yang

telah

ditetapkan

oleh

pihak

bank/lembaga

keuangan

yang

bertindak

sebagai

kreditur. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan perkreditan dapat berjalan dengan

baik dan aman. Prinsip-prinsip tersebut terkenal dengan 6C, yaitu :

1)

Character (kepribadian/watak)

Character

adalah tabiat serta kemauan dari pemohon untuk memenuhi

kewajiban yang telah disepakati dalam perjanjian. Yang perlu diteliti

dalam hal ini adalah sifat, kebiasaan, kepribadian, gaya hidup dan keadaan

2)

3)

4)

keluarga.

Capacity (kemampuan)

waktu yang telah disepakati dalam perjanjian kredit. Capital (modal) Capital adalah modal yang dimiliki oleh
waktu yang telah disepakati dalam perjanjian kredit.
Capital (modal)
Capital
adalah
modal
yang
dimiliki
oleh
calon
mengajukan permohonan kredit pada bank.
Collateral (jaminan)

Capacity adalah kesanggupan pemohon untuk melunasi kewajiban dari

kegiatan yang ditinjau dengan kredit dari bank. Yang dimaksud dengan

penilaian kredit oleh bank adalah menilai seberapa sanggup pemohon

dengan hasil usahanya untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan jangka

debitur

pada

saat

Collateral adalah barang-barang yang diserahkan pada bank oleh debitur

sebagai

jaminan

pengaman

atas

kredit

yang

diminta.

Barang-barang

jaminan tersebut diperlukan untuk meminimalkan risiko kredit.

5)

Condition of Economic (kondisi ekonomi)

Condition of Economic adalah situasi dan kondisi, sosial, ekonomi, budaya

dan lainnya yang mempengaruhi keadaan perekonomian seseorang pada

satu kurun waktu tertentu yang dapat mempengaruhi kelancaran usaha dari

pengusaha yang memperoleh kredit.

6)

Constrain (batasan atau hambatan)

Constrain adalah penilaian debitur dipengaruhi oleh hambatan yang tidak

memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu usaha di suatu tempat.

Disamping prinsip 6C di atas, ada beberapa prinsip kredit lain yang

disebut 4P, yaitu :

1)

2)

3)

Personality

keadaan keluarga (kelengkapan anggota keluarga), (pergaulan dalam masyarakat serta bagaimana sekitar terhadap
keadaan
keluarga
(kelengkapan
anggota
keluarga),
(pergaulan
dalam
masyarakat
serta bagaimana
sekitar terhadap calon debitur tersebut).
Purpose
Payment

Penilaian bank terhadap kepribadian debitur seperti riwayat hidup, hobi,

sosial

standing

masyarakat

tanggapan

Dalam menilai calon debitur, bank mencari data tentang tujuan atau

keperluan penggunaan kredit, apakah tujuan penggunaan kredit tersebut

sesuai dengan line of busuness kredit bank yang bersangkutan.

Untuk mengetahui kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman.

Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan prospek kelancaran penjualan dan

pendapatan dari usaha debitur sehingga dapat diperkirakan kemampuan

pengembalian pinjaman ditinjau dari hasil tersebut.

4)

Prospect

Merupakan harapan debitur akan usahanya di masa depan. Hal ini dapat

diketahui dari perkembangan usaha debitur selama beberapa bulan atau

tahun, perkembangan keadaan ekonomi, kekuatan keuangan perusahaan

yang dilihat dari earning power (kekuatan pendapatan/keuntungan) di

masa lalu dan perkiraan untuk masa yang akan datang.

5.

Unsur-Unsur Kredit

Berdasarkan fasilitas kredit, unsur-unsur kredit dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :

1)

Kepercayaan,

merupakan

keyakinan

pemberi

kredit

bahwa

jasa

atau

barang yang diberikan kepada peminjam akan dikembalikan sesuai dengan

2)

3)

4)

5)

jangka waktu yang telah disepakati.

mengembalikan pinjaman kepada pihak peminjam. belah pihak. secara tepat.
mengembalikan
pinjaman
kepada
pihak
peminjam.
belah pihak.
secara tepat.

Kesepakatan, suatu ikrar yang dituangkan dalam bentuk perjanjian yang

ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu debitur dan kreditur dimana

di dalamnya juga diatur tentang hak dan kewajiban keduanya.

Jangka waktu, lamanya waktu yang dibutuhkan oleh peminjam untuk

Di

dalam

kredit

dibedakan antara prestasi (pembayaran barang/jasa) dengan kontra prestasi

(penyerahan/jasa) dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh kedua

Jumlah, jumlah minimum dan maksimum pengambilan kredit harus diatur

Risiko, tidak ada kredit yang tanpa risiko maka dari itu bank berupaya

untuk mengurangi risiko terebut. Guna berjaga-jaga apabila debitur tidak

dapat melunasi kreditnya tepat waktu, debitur harus menyerahkan agunan

sebagai penutup risiko. Besarnya penutup risiko biasanya tidak kurang

dari 30% di atas maksimum kredit yang merupakan agunan tambahan, di

luar agunan pokok yang merupakan kegiatan jasa/barang yang dibiayai.

6. Jenis-Jenis Kredit

Secara garis besar, jenis kredit dapat dibagi menjadi tiga golongan

menurut penggunaannya sebagai berikut :

1)

Kredit

modal

kerja

(KMK)

adalah

kredit

yang

digunakan

untuk

membiayai kebutuhan modal kerja nasabah. Contoh kredit modal kerja

digunakan untuk membeli bahan baku, membayar gaji karyawan atau bisa

yang lainnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan.

2)

Kredit investasi, adalah kredit yang digunakan untuk pengadaan barang

modal jangka panjang untuk kegiatan usaha nasabah.

C.

3)

Kredit konsumsi, adalah kredit yang digunakan dalam rangka pengadaan

barang atau jasa dengan tujuan konsumsi dan bukan sebagai pengadaan

barang modal dalam kegiatan usaha nasabah. Penggunaan kredit ini

misalnya untuk membeli rumah, mobil, dan barang-barang konsumsi

untuk membeli rumah, mobil, dan barang-barang konsumsi lainnya. PDRB Per Kapita 1. Tinjauan PDRB Per Kapita

lainnya.

PDRB Per Kapita

1.

Tinjauan PDRB Per Kapita

Pendapatan dapat diartikan sebagai penghasilan yang diperoleh dari

jasa-jasa produksi yang dihasilkan pada suatu waktu tertentu. Pendapatan

nasional adalah jumlah yang diperoleh dari pendapatan faktor-faktor produksi

yang digunakan dalam memproduksi barang dan jasa dalam periode tahun

tertentu. Pendapatan per kapita (per capita income) adalah pendapatan rata-

rata penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, biasanya dalam kurun

waktu satu tahun. Pendapatan per kapita dapat diperoleh dari pendapatan

nasional pada tahun tertentu yang dibagi dengan jumlah penduduk yang

terdapat dalam suatu daerah pada tahun tersebut. Pendapatan per kapita juga

merefleksikan PDRB per kapita suatu wilayah.

Konsep pendapatan nasional yang sering digunakan untuk menghitung

pendapatan per kapita pada umumnya adalah Pendapatan Domestik Bruto

(PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Dengan demikian, pendapatan per

kapita suatu negara dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai

2.

berikut :

1)

dihitung dengan menggunakan rumus sebagai 2. berikut : 1) ……… (4) 2) suatu wilayah. Tinggi rendahnya

………

(4)

2) suatu wilayah. Tinggi rendahnya
2)
suatu
wilayah.
Tinggi
rendahnya

pendapatan

(4) 2) suatu wilayah. Tinggi rendahnya pendapatan (5) ……… Pendapatan nasional pada dasarnya merupakan

(5)

………

Pendapatan nasional pada dasarnya merupakan jumlah dari pendapatan

nasional

akan

masyarakat

mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan per kapita suatu wilayah. Akan

tetapi, banyak sedikitnya jumlah penduduk juga akan mempengaruhi jumlah

pendapatan per kapita suatu wilayah.

Hubungan PDRB Per Kapita dengan Permintaan KPR

PDRB per kapita suatu daerah mencerminkan pendapatan rata-rata

yang diperoleh oleh masyarakat daerah tersebut dalam setahun. Pendapatan

merupakan elemen penting dalam penerimaan jumlah kredit yang diminta, hal

ini

dikarenakan

dengan

melihat

pendapatan

calon

debitur

bank

dapat

mengukur kemampuan calon debitur tersebut dalam pengembalian kredit. dan

hal ini juga dapat mengurangi risiko dalam pengembalian kredit.

Hal ini diperkuat dengan teori mikro ekonomi Sukirno (1998), jika

terjadi perubahan permintaan akan mempengaruhi keadaan keseimbangan.

Dalam kasus Gambra-2.3, dijelaskan bahwa kurva permintaan bergeser dari

DD menjadi D 1 D 1 (kurva permintaan bergeser ke kanan) dan berarti telah

terjadi

pertambahan

permintaan.

Pergeseran

ini

menyebabkan

keadaan

keseimbangan berpindah dari E menjadi E 1 . Perpindahan ini menunjukkan

bahwa kenaikan pendapatan menyebabkan permintaan meningkat dari Q 1 ke

Q 2 dan pendapatan masyarakat bertambah dari Y 1 ke Y 2.

Y (Pendapatan)

D 1 S D E 1 E D 1 S D
D 1
S
D
E 1
E
D 1
S
D

Y 2

Y 1

Q 1 Q 2 Gambar-2.3 Kurva Pertambahan Permintaan permintaan. Di sini terdapat hubungan yang
Q 1
Q 2
Gambar-2.3 Kurva Pertambahan Permintaan
permintaan.
Di
sini
terdapat
hubungan
yang

Q (Jumlah

Berdasarkan kurva di atas dapat pula dibuat kesimpulan apabila terjadi

pengurangan permintaan (kurva permintaan bergeser ke kiri) maka akan

menyebabkan pendapatan turun dan jumlah permintaan akan KPR subsidi

akan berkurang.

Untuk kebanyakan barang kenaikan pendapatan akan menyebabkan

searah

di

antara

kenaikan

perubahan pendapatan dan perubahan permintaan, dengan demikian elastisitas

pendapatannya adalah positif. Barang-barang yang elastisitas pendapatannya

bersifat positif dinamakan barang normal.

Menurut penelitian Junaidi (2006), hubungan antara PDRB per kapita

dengan permintaan kredit berpengaruh positif, dengan diproxy PDRB harga

berlaku menunjukkan bahwa semakin meningkat PDRB per kapita suatu

daerah maka permintaan kredit perbankan akan semakin tinggi.

D.

Nilai Tukar Rupiah (Kurs)

1. Tinjauan Nilai Tukar (Kurs)

Seperti halnya dengan pembentukan harga-harga dalam ekonomi yang

ditentukan karena adanya interaksi antara pembeli dan penjual, maka kurs pun

ditentukan oleh interaksi antara rumah tangga, perusahaan, dan lembaga-

lembaga keuangan yang membeli dan menjual valuta asing (valas) untuk

keperluan dalam interaksi internasional.

asing (valas) untuk keperluan dalam interaksi internasional. Nilai tukar (kurs) adalah suatu nilai yang menunjukkan

Nilai tukar (kurs) adalah suatu nilai yang menunjukkan jumlah mata

uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapat satu unit mata uang asing

(Sukirno, 1998). Nilai berbagai mata uang asing berbeda dalam suatu waktu

tertentu, dan nilai dari mata uang asing tersebut akan mengalami perubahan

dari waktu ke waktu.

Menurut Salvator (1997) mendefinisikan nilai tukar sebagai harga

mata uang domestik. Sedangkan menurut Krugman (1994), nilai tukar atau

kurs

(Exchange Rate) adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang

lainnya.

Penentuan

nilai

mata

uang

asing

dapat

dilakukan

dengan

dua

pendekatan, yaitu (Sukirno, 1998):

1)

Melalui pasar bebas

Kurs valuta asing yang ditentukan melalui pasar bebas tergantung

kepada permintaan dan penawaran mata uang asing. Permintaan valuta

asing menggambarkan tentang besarnya jumlah suatu valuta asing

yang ingin diperoleh penduduk suatu negara. Sedangkan penawaran

valuta asing adalah keinginan penduduk suatu negara untuk membeli

mata uang asing (negara lain).

2)

Ditetapkan oleh pemerintah (kurs tetap)

Pemerintah dapat melakukan campur tangan dalam menentukan kurs

valuta asing. Kurs pertukaran yang dilakukan oleh pemerintah ini akan

dipertahankan untuk jangka waktu panjang. Kurs yang ditetapkan oleh

pemerintah dinamakan kurs tetap.

2. Hubungan Kurs dengan Permintaan KPR

dinamakan kurs tetap. 2. Hubungan Kurs dengan Permintaan KPR Apabila dalam suatu negara terjadi perubahan jumlah

Apabila dalam suatu negara terjadi perubahan jumlah permintaan dan

penawaran di pasar uang domestik sehingga menyebabkan perubahan dalam

aliran modal masuk (capital inflows) di luar negeri, hal ini menyebabkan

terjadinya perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap mata

uang asing dalam pasar valuta asing (Madura, 2006).

Menurut Harmanta dan Ekananda (2005), bahwa pengaruh nilai tukar

rupiah terhadap USD memiliki hubungan yang negatif terhadap permintaan

kredit. Ini berarti dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD yang

mencerminkan keadaan perekonomian yang tidak menentu (uncertainty) dapat

meningkatkan resiko berusaha yang akan direspon oleh para pengusaha

dengan menurunkan permintaan kreditnya.

Antara kurs dengan permintaan KPR memiliki hubungan negatif yang

berarti bahwa semakin tinggi nilai tukar rupiah terhadap dollar USA, maka

permintaan kredit akan menurun. Untuk kondisi perekonomian yang tidak

menentu seperti saat ini dengan keadaan kurs yang semakin meningkat akan

direspon oleh pengusaha dengan meningkatnya risiko dalam berusaha dan

menurunkan permintaan kredit.

E. Tingkat Suku Bunga

1. Tinjauan Suku Bunga Bank

Secara historis suku bunga hampir sama tuanya dengan peradaban

manusia. Hal ini diungkapkan oleh Kidwell (1993) dalam Puspapranoto

(2004)

yang

menyatakan

bahwa

ribuan

tahun

yang

lalu

orang

telah

meminjamkan

barang kepada orang lain dan mereka
barang
kepada
orang
lain
dan
mereka

kadang-kadang

menerima semacam kompensasi atas jasa yang telah diberikan. Kompensasi

tersebut disebut sewa, yakni harga dari meminjamkan harta kepada orang lain.

Menurut Kasmir (2002) mengartikan bunga bank sebagai balas jasa

yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah

yang membeli atau menjual produknya. Bunga bank juga dapat diartikan

sebagai harga yang harus dibayar oleh nasabah apabila mendapat pinjaman

dari bank, atau harga yang harus dibayar oleh bank kepada nasabah sebagai

balas jasa atas simpanan.

Sedangkan menurut Miller (1993) dalam Supranoto mengartikan bunga

bank adalah sejumlah dana yang dinilai dalam bentuk uang yang diterima oleh

peminjam (kreditur), sedangkan suku bunga adalah rasio dari bunga terhadap

jumlah

pinjaman.

Menurut

Lipsey

(1995)

mendefinisikan

suku

bunga

merupakan harga yang harus dibayar untuk meminjam uang selama periode

tertentu dan dinyatakan dalam persentase uang yang akan dipinjam”.

Lain

halnya

dengan

Widayatsari

dan

Anthony

(2009)

yang

menyatakan bahwa tingkat bunga adalah harga yang harus dibayarkan apabila

terjadi pertukaran antara satu rupiah sekarang dengan satu rupiah di masa

yang akan datang.

Bunga merupakan balas jasa yang diterima oleh pihak peminjam (unit

surplus) dari pihak yang meminjam (unit deficit) sebagai akibat dari uang

yang dipinjam sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak. Umumnya tingkat

bunga tersebut menunjukkan tingkat bunga dalam satu tahun.

2. Hubungan Suku Bunga dengan Permintaan KPR

Dalam pasar bebas permintaan dan penawaran akan menentukan

menimbulkan inflasi), atau sangat Untuk menghindari hal tersebut
menimbulkan
inflasi),
atau
sangat
Untuk
menghindari
hal
tersebut

mempengaruhi

pemerintah

tingkat suku bunga yang berlaku di pasar. Ada kalanya pemerintah merasa

bahwa harga yang ditetapkan oleh pasar bebas terlalu tinggi dan menimbulkan

implikasi yang buruk kepada kegaiatan ekonomi secara keseluruhan (misalnya

kesejahteraan

melaksanakan

dapat

masyarakat.

kebijakan suku bunga maksimum untuk kredit perumahan bersubsidi.

Salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah untuk menstabilkan

suku bunga kredit FLPP dan untuk membantu meringankan beban calon

debitur MBR adalah dengan melakukan subsidi dengan suku bunga rendah.

Subsidi adalah pemberian pemerintah kepada para produsen dengan maksud

untuk meringankan beban pengeluaran ongkos produksi yang mereka lakukan.

Dalam hal ini produsen adalah pihak bank.

r (bunga) D S Subsidi r E 1 S 1 r 2 E 1 D
r (bunga)
D S
Subsidi
r
E
1
S 1
r
2
E 1
D
S
S 1
Q 1
Q 2

Q (Jumlah barang)

Gambar-2.4 Kurva Elastisitas Permintaan Terhadap Pengaruh Subsidi Pemerintah Penjelasan untuk Gambar-2.4, dimisalkan
Gambar-2.4 Kurva Elastisitas Permintaan Terhadap Pengaruh Subsidi
Pemerintah
Penjelasan untuk Gambar-2.4, dimisalkan bahwa sebelum adanya
subsidi pemerintah keseimbangan adalah di E maka suku bunga adalah r 1 dan
jumlah permintaan kredit yang diminta adalah Q 1 . Dengan adanya subsidi
pemerintah akan menggeser kurva penawaran dari SS ke S 1 S 1 dan titik
keseimbangan bergeser menjadi E 1 . Gambar-2.4 menunjukkan bahwa subsidi
menyebabkan suku bunga turun dari r 1 menjadi r 2 , dan jumlah kuantitas
permintaan kredit naik dari Q 1 menjadi Q 2 .
r (bunga)
D S
Subsidi
S 1
r 1
E
r 2
E 1
S
D
S 1
Q (Jumlah
Q 1
Q 2

Gambar-2.5 Kurva Elastisitas Permintaan Terhadap Pengaruh Subsidi

Pemerintah yang Lebih Besar

Untuk Gambar-2.5, dengan selisih antara r 1 dengan r 2 yang semakin

besar makan dapat dilihat dengan adanya subsidi pemerintah akan menggeser

kurva penawaran dari SS ke S 1 S 1 lebih lebar dan titik keseimbangan bergeser

ke E 1 . Gambar-2.5 menunjukkan bahwa kenaikan tingkat suku bunga pasar

akan meningkatkan jumlah subsidi dan jumlah permintaan kredit.

F.

Dengan

demikian

kesimpulan

yang

subsidi pemerintah adalah :

dapat

dibuat

dengan

adanya

1)

Semakin elastis permintaan, maka semakin besar bahagian dari subsidi

yang akan diperoleh oleh bank.

2) Semakin elastis permintaan, maka semakin jumlah kuantitas permintaan kredit yang ditawarkan. dengan judul
2)
Semakin
elastis
permintaan,
maka
semakin
jumlah kuantitas permintaan kredit yang ditawarkan.
dengan
judul
“Analisis
Faktor-Faktor
yang
(responden).
Alat
analsisi
yang
digunakan

adalah

banyak

pertambahan

Penelitian Terdahulu

1. Arlina Nurbaity Lubis dan Ganjang Arihta Ginting (2008) mengadakan

Mempengaruhi

penelitian

Keputusan Permintaan Kredit Pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang

kepada 73

linier

Medan” dengan menganalisis data primer dengan metode survey

debitur

regresi

berganda, hasil analsis dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat suku

bunga (X 1 ) menunjukkan hasil positif terhadap keputusan permintaan KPR (Y)

dengan koefisien regresi sebesar 0,019 dan pelayanan nasabah (X 2 ) juga

mempengaruhi secara positif terhadap keputusan permintaan KPR (Y) dengan

koefisien regresi 0,366. Kedua variabel tingkat suku bunga (X 1 ) dan pelayanan

nasabah (X 2 ) secara serempak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

keputusan pengambilan kredit KPR pada PT. BTN cabang Medan.

2. Penelitian Paulina Putri A. Hutagalung (2011) berjudul “Analisis Elastisitas

Permintaan Terhadap Kredit Konsumsi di Sumatera Utara”. Penelitian ini

menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil analisis dari

penelitian

ini

menunjukkan

bahwa

koefisien

determinasi

(R 2 )

sebesar

0,957899 yang artinya bahwa suku bunga kredit konsumsi, PDRB per kapita

dan

kurs

rupiah

berpengaruh

terhadap

permintaan

kredit

konsumsi

di

Sumatera Uatara sebesar 95,78 persen sedangkan sisanya 4,22 persen dapat

dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.

Tingkat suku bunga kredit konsumsi mempunyai pengaruh negatif terhadap

3.

permintaan kredit konsumsi di Sumatera Utara yang berarti tidak signifikan

secara positif terhadap permintaan terhadap permintaan kredit konsumsi di dan kurs rupiah terhadap dollar
secara
positif
terhadap
permintaan
terhadap
permintaan
kredit
konsumsi
di
dan
kurs
rupiah
terhadap
dollar
secara

dan besarnya koefisien sebesar -0,607670. Sedangkan PDRB per kapita

konsumsi

di

mempengaruhi

kredit

Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 99 persen atau α = 1% dan besarnya

koefisien sebesar 1,881370. Kurs rupiah terhadap dollar mempengaruhi secara

Utara

yang

negatif

Sumatera

signifikan dengan tingat kepercayaan 90 persen atau α = 10% dan besarnya

koefisien sebesar -0,792538. Secara serempak tingkat suku bunga, PDRB per

signifikan

kapita,

statistik

mempengaruhi permintaan kredit konsumsi di Sumatera Utara.

Irfah (2005) dengan judul “Analisis Permintaan Kredit Perumahan Rumah

(KPR) oleh Masyarakat pada Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Medan”. Metode yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil analisis

data menunjukan bahwa variabel harga rumah dan suku bunga berpengaruh

negatif

secara

signifikan

terhadap

jumlah

permintaan

KPR

Paket

A.

Sedangkan

variabel

pendapatan

per

kapita

berpengaruh

positif

secara

signifikan

terhadap

jumlah

permintaan

KPR

paket

A

dengan

tingkat

kepercayaan sebesar 99%. Dari koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0,987

berari bahwa ketiga variabel bebas tersebut dapat menjelaskan pengaruhnya

terhadap rentabilitas sebesar 98,7% dan sisanya sebesar 1,3% dijelaskan oleh

faktor lain yang tidak dimasukan dalam model regresi permintaan KPR.

G. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dijelaskan dengan menggunakan

gambar sebagai berikut :

PDRB Per Kapita Nilai Tukar Rupiah (Kurs) Permintaan KPR pada PT. (Persero) Bank Tabungan Negara
PDRB Per Kapita
Nilai Tukar Rupiah (Kurs)
Permintaan KPR pada PT.
(Persero) Bank Tabungan
Negara (BTN) Cabang Solo
Tingkat Suku Bunga Bank
serta
berhubungan
dengan
ilmu
pengetahuan
yang
ada.
Hipotesis

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang baik harus mempertimbangkan semua faktafakta yang relevan

merupakan

kesimpulan sementara tentang hubungan fenomena yang diangkat pada penelitian ini.

Berdasarkan telaah pustaka yang telah dijabarkan sebelumnya untuk setiap variabel

dalam penelitian ini, dapat ditarik hipotesis yang digunakan pada penelitian ini

sebagai berikut :

1)

Diduga variabel PDRB per kapita (X 1 ) berpengaruh positif dan

signifikan

terhadap permintaan KPR (Qx) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero)

Cabang Solo.

2)

Diduga variabel nilai tukar rupiah (kurs) (X 2 ) berpengaruh negatif dan tidak

signifikan terhadap permintaan KPR (Qx) pada PT. Bank Tabungan Negara

(Persero) Cabang Solo.

3)

Diduga variabel tingkat suku bunga (X 3 ) berpengaruh positif dan signifikan

permintaan KPR (Qx) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo.

(X 3 ) berpengaruh positif dan signifikan permintaan KPR (Qx) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero)

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini metode dapat diartikan sebagai cara untuk memperoleh,

mengumpulkan dan menganalisis suatu data untuk mendapatkan kesimpulan yang

sesuai. Oleh sebab itu, suatu penelitian pasti akan menggunakan langkah-langkah

dan kronologis dalam penelitiannya. Hal ini melakukan penelitian sangat diperlukan
dan
kronologis
dalam
penelitiannya.
Hal
ini
melakukan
penelitian
sangat
diperlukan

metodologis

dimaksudkan

untuk

memperoleh data secara lengkap serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

kesesuaian

antara

lokasi

A. Lokasi Penelitian

Dalam

dengan keperluan penelitian. Penulis melakukan penelitian pada PT. Bank Tabungan

Negara (Persero) Tbk. Cabang Solo yang beralamatkan di Jl. Slamet Riyadi No. 282

Solo Jawa Tengah 57141, nomer telepon (0271) 726930 dan Kantor BPS Kota

Surakarta.

B. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini mencakup permintaan kredit kepemilikan

rumah (KPR) pada PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo. Banyaknya

layanan jasa perkreditan yang di tawarkan oleh BTN, penulis lebih berfokus untuk

menganalisis permintaan akan kredit subsidi (FLPP). Penelitian ini

mencari data

sekunder dengan meneliti variabel jumlah permintaan KPR subsidi (FLPP) serta

variabel-variabel makro antara seperti PDRB per kapita, nilai tukar (kurs) dan suku

bunga. Objek penelitiannya adalah Bank Tabungan Negara, BPS Kota Surakarta, dan

website Bank Indonesia.

C. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder, yaitu data yang telah

tersedia dan dikumpulkan secara langsung dengan menggunakan jenis data dalam

bentuk runtun waktu (time series) pada kurun waktu 21 tahun (1991 2011) dan

series) pada kurun waktu 21 tahun (1991 – 2011) dan bersifat kuantitatif yaitu dalam bentuk angka-angka.

bersifat kuantitatif yaitu dalam bentuk angka-angka. Data sekunder ini diperoleh dari

bagian perkreditan PT. Bank Tabungan Negara (Persero) cabang Solo, BPS Kota

Surakarta, Bank Indonesia (www.bi.go.id) dan studi pustaka yang digunakan dalam

mencari landasan teori ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini. Data yang

digunakan dalam penelitian ini meliputi :

1)

Data jumlah permintaan KPR subsidi (FLPP) BTN Cabang Solo mulai dari

tahun 1991-2011.

2)

3)

Data PDRB per kapita berdasarkan harga berlaku mulai dari tahun 1991-2011.

Data nilai tukar rupiah, yaitu kurs tengah rupiah terhadap dollar USA mulai

dari tahun 1991-2011.

4)

Data tingkat suku bunga kredit subsidi (FLPP) BTN Cabang Solo mulai dari

tahun 1991-2011.

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan

data dalam

penelitian

ini

beberapa metode antara lain :

1. Metode Pengamatan

dilakukan

dengan

menggunakan

Metode ini merupakan teknik pengumpulan data dengan mengamati secara

langsung variabel-variabel yang berkaitan dengan penelitian skripsi.

2. Metode Kepustakaan

Merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari

buku-buku, majalah, dokumen, brosur-brosur, serta sumber-sumber lain yang

E.

berhubungan

dengan

permintaan

KPR

di

PT.

Bank

Tabungan

Negara

(Persero) Cabang Solo dan BPS Kota Surakarta.

Negara (Persero) Cabang Solo dan BPS Kota Surakarta. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Terikat

Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Terikat (Dependent)

Varibel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat

karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel

terikat (dependent) adalah permintaan kredit subsidi (FLPP). Permintaan

kredit subsidi merupakan jumlah keseluruhan dana kredit yang disalurkan

oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo setelah dikurangi

oleh biaya-biaya administrasi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa permintaan

kredit yang dimaksudkan adalah jumlah dana bersih yang dikeluarkan oleh

BTN untuk KPR subsidi (FLPP).

2. Variabel Bebas (Independent)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab

terjadinya variabel terikat. Dalam penelitian ini variabel independent-nya

adalah :

1) Tingkat PDRB Per Kapita

Tingkat PDRB per kapita adalah pendapatan rata-rata tiap tahun

masyarakat Solo. Merupakan hasil dari pembagian antara jumlah

PDRB dengan jumlah keseluruhan penduduk Surakarta. Dalam hal ini

PDRB per kapita dinyatakan dalam satuan milyar rupiah.

2) Tingkat Nilai Tukar (Kurs)

Nilai tukar adalah harga mata uang suatu negara yang dinyatakan

dalam mata uang negara lain. Dalam penelitian ini menggunakan nilai

F.

tengah pada akhir periode (tahunan). 3) Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga adalah suku bunga
tengah pada akhir periode (tahunan).
3) Tingkat Suku Bunga
Tingkat
suku
bunga
adalah
suku
bunga
yang
Suku bunga disini dinyatakan dalam bentuk persen.

kurs rupiah terhadap dollar USA yang dinyatakan atas dasar kurs

ditetapkan

oleh

pemerintah berdasarkan Peraturan Kementerian Perumahan Rakyat.

Metode Analisis Data

Dalam menganalisis permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) digunakan

suatu model permintaan. Metode analisis yang digunakan adalah Ordinary Least

Square (OLS), serta bentuk fungsi terpilih adalah linier dan logaritma. Sebuah model

yang baik menggunakan metode kuadrat terkecil sederhana atau Ordinary Least

Square (OLS), yang harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Memiliki nilai rata-rata kesalahan pengganggu atau error term nol

2. Tidak terdapat gangguan korelasi sosial (serial correlation) dari error term.

3. Varian error term seragam satu dengan yang lainnya (homoscedasticity)

4. Kovarian antar error term adalah nol.

5. Tidak terdapat kolonier ganda (multicollinearity) antar variabel bebas.

Bentuk

ini

memiliki

interpretasi

di

mana

koefisien

dari

masing-masing

variabel

penjelas

merupakan

koefisien

elasisitas.

Untuk

itu

dilakukan

analisa

pengaruh parsial dari masing-masing faktor yang berpengaruh. Pengaruh parsial dapat

diketahui melalui analisa regresi linier berganda sebagai berikut :

Model regresi linier berganda adalah sebagai berikut :

: Model regresi linier berganda adalah sebagai berikut : Secara sistematis dari fungsi di atas dapat
Secara sistematis dari fungsi di atas dapat diturunkan model persamaan sebagai berikut : Dimana :
Secara sistematis dari fungsi di atas dapat diturunkan model persamaan
sebagai berikut :
Dimana :
=
konstanta
Qx
= Permintaan KPR
X
= PDRB per kapita
1
X
= Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar USA
2
X
= Tingkat suku bunga
3
=
Koefisien regresi
USA 2 X = Tingkat suku bunga 3 = Koefisien regresi = error term 1. Uji

= error term

1. Uji Statistika

1)

Koefisien Determinasi (R 2 )

Nilai R 2 untuk mengetahui berapa persen variasi variabel

dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen. Uji ini bertujuan

untuk mengetahui tingkat ketepatan yang paling baik dalam analisis

regresi, yang ditunjukkan oleh besarnya koefisien daterminasi (R 2 )

antara nol dan satu (0<R 2 <1). Jika koefisien determinan 0, artinya

variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen, atau

dengan kata lain model tersebut tidak menjelaskan sedikitpun variasi

dalam variabel terikat. Sedangkan jika koefisien determinan mendekati

1,

artinya

variabel

independen

semakin

mempengaruhi

variabel

dependen, atau dengan kata lain model dikatakan lebih baik apabila

koefisien determinasinya mendekati nilai 1.

2) Uji F (Uji Secara Bersama-sama)

Uji F ini merupakan pengujian bersama-sama independen yang dilakukan untuk melihat pengaruh signifikan.
Uji
F
ini
merupakan
pengujian
bersama-sama
independen
yang
dilakukan
untuk
melihat
pengaruh
signifikan.
Langkah-langkah
pengujian
adalah
sebagai
(Gujarati, 1995) :
a.
Menentukan Hipotesis
a) H 0 :  1 = 2
= 3 = 4 = 0
Berarti
semua
variabel
independen
secara
berpengaruh terhadap variabel dependen.
b) H a :  1
 2  3  4  0

variabel

variabel

independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen secara

berikut

individu

tidak

Berarti semua variabel independen secara individu berpengaruh

terhadap variabel dependen.

b. Melakukan penghitungan nilai F sebagai berikut:

a) Nilai F tabel = F α;k-1;n-k

Keterangan:

N = jumlah sampel/data K = banyaknya parameter R 2  K  1 
N
= jumlah sampel/data
K
= banyaknya parameter
R
2
K
1
b) Nilai F hitung =
1
R
2
.N
K

(3)

(4)

Keterangan:

R

2 = koefisien determinan

N = jumlah observasi atau sampel

K = banyaknya variabel

c. Kriteria pengujian

Gambar-3.1 Daerah Kritis Uji F.

Ho diterima Ho ditolak F (; K-1; N-K) d. Kesimpulan a) Apabila nilai F hitung
Ho diterima
Ho ditolak
F (; K-1; N-K)
d.
Kesimpulan
a)
Apabila nilai F hitung < F tabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya
variabel
independen
secara
bersama-sama
tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen secara signifikan.
b)
Apabila nilai F hitung > F tabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya
variabel
independen
secara
bersama-sama
mampu

mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

3)

Uji t (Uji Parsial)

Uji t ini merupakan merupakan pengujian variabel-variabel

independen secara individu, dilakukan untuk mengetahui seberapa

jauh

pengaruh

masing-masing

variabel

independen

dalam

mempengaruhi perubahan variabel dependen, dengan beranggapan

variabel

independen

lain

tetap

atau

konstan.

Langkah-langkah

pengujian t test adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995) :

a. Menentukan Hipotesisnya

a) Ho : 1 = 0

Berarti

suatu

variabel

independen

secara

individu

tidak

berpengaruh terhadap variabel dependen.

b) Ha : 1 0

Berarti suatu variabel independen secara individu berpengaruh

terhadap variabel dependen.

b. Melakukan penghitungan nilai t sebagai berikut: a) Nilai t tabel = t α/2 ;n
b.
Melakukan penghitungan nilai t sebagai berikut:
a) Nilai t tabel = t α/2 ;n – k
Keterangan:
= derajat signifikansi
n
= jumlah sampel (banyaknya observasi)
k
= banyaknya parameter
i
b) Se 
Nilai t hitung =
i
Keterangan:
i
= koefisien regresi

Se (i)

c. Kriteria pengujian

= standard error koefisien regresi

(5)

(6)

Gambar-3.2 Daerah Kritis Uji t. Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima
Gambar-3.2 Daerah Kritis Uji t.
Ho ditolak
Ho ditolak
Ho diterima
koefisien regresi (5) (6) Gambar-3.2 Daerah Kritis Uji t. Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima 2.
koefisien regresi (5) (6) Gambar-3.2 Daerah Kritis Uji t. Ho ditolak Ho ditolak Ho diterima 2.

1)

Uji Multikolineritas

Multikolinearitas timbul karena satu atau lebih variabel yang

menjelaskan merupakan kombinasi linear yang pasti atau mendekati

pasti dari variabel yang menjelaskan lainnya. Multikolinearitas adalah

salah

satu

asumsi

model

klasik

yang

menjelaskan

ada

tidaknya

hubungan antara beberapa atau semua variabel independen dalam

model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar koefisien tidak dapat diukur dengan ketepatan tinggi. model
model
tersebut
memiliki
kesalahan
standar
yang
besar
koefisien tidak dapat diukur dengan ketepatan tinggi.
model regresi adalah sebagai berikut:
a. Nilai
variabel
independen
banyak
yang
tidak
mempengaruhi variabel independen.

model regresi. Jika dalam model terdapat multikolinearitas, maka

sehingga

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam

yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi

empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel

signifikan

b. Menganalisis matrik korelasi variabel variabel independen.

Jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi

(umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi

adanya multikolinearitas. Tidak adanya korelasi yang tinggi

antar

variabel

independen

tidak

berarti

bebas

dari

multikolinearitas. Multikolinearitas dapat disebabkan karena

adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.

c. Multikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan

lawannya variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini

menunjukkan

setiap

variabel

independen

manakah

yang

dijelaskan

oleh

variabel

independen

lainnya.

Dalam

pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi

variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel

independen

lainnya.

Tolerance

mengukur

variabilitas

variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh

variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah

multikolinearitas adalah nilai tolerance dengan nilai VIF . Uji Autokorelasi
multikolinearitas adalah nilai tolerance
dengan nilai VIF
.
Uji Autokorelasi

2)

sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF=1/Tolerance).

Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

atau sama

cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya atau sama Uji multikolinearitas pada penelitian ini dilakukan uji

Uji multikolinearitas pada penelitian ini dilakukan uji regresi

dengan menggunakan pendekatan korelasi parsial yang disarankan

oleh Farrar dan Gruber (1967), yaitu dengan membandingkan nilai R 2 a

(koefisien determinasi regresi awal) dengan hasil nilai R 2 (koefisien

determinasi) yang diperoleh dari pengujian korelasi parsial.

Autokorelasi adalah suatu keadaan dimana kesalahan variabel

pengganggu pada suatu periode tertentu berkorelasi dengan kesalahan

pengganggu periode lain. Asumsi ini untuk menegaskan bahwa nilai

variabel dependen hanya diterangkan (secara sistematis) oleh variabel

independen dan bukan oleh variabel gangguan (Gujarati, 1995).

Autokorelasi adalah sebuah kasus khusus dari korelasi. Jika

korelasi

menunjukkan

hubungan

antara

dua

atau

lebih

variabel-

variabel yang berbeda, maka autokorelasi menunjukkan hubungan

antara

nilainilai

yang

berurutan

(Sumodiningrat, 2004).

dari

variabel

yang

sama

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada

tidaknya

autokorelasi

yaitu,

uji

d

Durbin-Watson,

uji

Lagrange

Multiplier (LM Test), uji Breusch-Godfrey, uji ARCH dan uji Run

Test. Uji Breusch-Godfrey menjadi pilihan untuk menentukan ada

tidaknya autokorelasi pada penelitian ini. a. residualnya (u t ) b. c. Hitung Chi-Square dengan
tidaknya autokorelasi pada penelitian ini.
a.
residualnya (u t )
b.
c.
Hitung
Chi-Square
dengan
df
p,
menolak
dengan 0.

Berikut penentuan hipotesis pengujian Breusch-Godfrey :

Estimasi persamaan regresi dengan OLS, dapatkan nilai

Regresi u t terhadap variabel bebas dan u t-i

u t-p

jika lebih besar dari nilai tabel

hipotesa

bahwa

setidaknya ada satu koefisien autokorelasi yang berbeda

3)

Uji Heteroskedastisitas

Asumsi

dari

model

regresi

linier

klasik

adalah

kesalahan

pengganggu mempunyai varians yang sama. Apabila asumsi tersebut

tidak

terpenuhi

maka

akan

terjadi

heteroskedastisitas

yaitu

suatu

keadaan dimana varians dari kesalahan pengganggu tidak sama untuk

semua

nilai

variabel

bebas

atau

varians

tidak

konstan.

Terdapat

beberapa

metode

yang

dapat

digunakan

untuk

mendeteksi

heteroskedastisitas dalam model empiris yaitu uji Park, uji Glejser, uji

White,

dan

uji

Breusch-Pagan-Godfrey.

Pada

penelitian

ini

akan

menggunakan

uji

heterokedastisitas.

White

untuk

mendeteksi

terjadi

atau

tidaknya

Dalam uji white diasumsikan model yang diuji adalah :

Jika :

Dalam uji white diasumsikan model yang diuji adalah : Jika : ……. (7) a) Obs*R 2

……. (7)

a) Obs*R 2 > χ 2 maka model tersebut terjadi heteroskedastisitas.

b)
b)

Obs*R 2 < χ 2 maka model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum KPR Subsidi (FLPP) BTN Cabang Solo

Berikut ini merupakan gambaran umum Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)

ini merupakan gambaran umum Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sederhana sehat (KPRSh) bagi MBR. Dana subsidi (FLPP)

sederhana

sehat

(KPRSh)

bagi

MBR.

Dana

subsidi (FLPP) yang ditawarkan oleh PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang

Solo :

1.

KPR BTN Sejahtera FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan)

KPR FLPP adalah kredit kepemilikan rumah program kerjasama

dengan Kementerian Perumahan Rakyat dengan suku bunga rendah dan

cicilan ringan dan tetap sepanjang jangka waktu kredit, terdiri atas KPR

Sejahtera Tapak untuk pembelian rumah tapak dan KPR Sejahtera Susun

untuk pembelian rumah susun.

rumah

Dana FLPP bertujuan untuk mendukung kredit/pembiayaan pemilikan

digabungkan

FLPP

(blended)

dengan

dana

Bank

Pelaksana

dengan

proporsi

tertentu

untuk

menerbitkan KPR Sejahtera dengan suku bunga kredit/marjin pembiayaan

yang terjangkau dan tetap sepanjang masa kredit/pembiayaan. Pengelolaan

dana program FLPP dari satuan kerja (Satker) BLU-Kemenpera kepada Bank

Pelaksana

dilakukan

dengan

menggunakan

pola

excutting

melalui

pola

penyaluran dengan risiko ketidaktagihan dana FLPP ditanggung oleh Bank

Pelaksana.

2.

Karakterisitik Calon Debitur KPR FLPP

Berdasarkan Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No. 27 Tahun 2012,

kelompok sasaran untuk KPR FLPP adalah masyarakat berpenghasilan rendah,

yang

selanjutnya

disebut

(MBR),

adalah

masyarakat

yang

mempunyai

keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapatkan dukungan pemerintah untuk

memperoleh

rumah.

Penghasilan

MBR

yang

dimaksud

adalah

yang

berpenghasilan tetap maupun tidak tetap mulai dari Rp. 3.500.000,00 dan paling

maupun tidak tetap mulai dari Rp. 3.500.000,00 dan paling banyak Rp. 5.500.000,00. Penghasilan untuk masyarakat

banyak Rp. 5.500.000,00.

Penghasilan untuk masyarakat berpenghasilan tetap adalah gaji/upah

pokok pemohon per bulan, yang dimaksud dengan berpenghasilan tetap adalah

seseorang yang bekerja sebagai PNS dan TNI/Polri yang karena keperluan dinas

dipindahkan ke kota lain, dikecualikan dari ketentuan belum memiliki rumah

yang perolehannya melalui kredit/pembiayaan perumahan bersubsidi atau tidak

bersubsidi

Sedangkan untuk masyarakat berpenghasilan tidak tetap adalah

hasil usaha rata-rata per bulan dalam setahun yang dimiliki oleh pemohon.

Analisa atas kelayakan dan kemampuan dalam mengangsur pemohon KPR

FLPP diserahkan kepada Bank Pelaksana.

3. Ketentuan dan Syarat Pemohon KPR FLPP

1)

Ketentuan

a. Suku bunga (2012) 7,25% fixed sepanjang jangka waktu kredit

b. Maksimal kredit : 80% dari taksasi agunan

c. Jangka waktu sangat flexible s.d 15 tahun

d. Penjual perorangan dilampiri denah lokasi

2)

Persyaratan

a. Syarat umum :

a) WNI dan berdomisili di Indonesia

b) Telah berusia 21 tahun atau telah menikah

c) Belum pernah memiliki rumah/hunian

d) Belum pernah menerima subsidi perumahan

e) Termasuk

dalam

kategori

Masyarakat

Berpenghasilan

Rendah

(MBR) yang memiliki pekerjaan dan berpenghasilan tetap sebagai

pegawai tetap/wiraswasta/profesional dengan minimal 1 tahun f) KPR Sejahtera Susun. Syarat khusus : a)
pegawai
tetap/wiraswasta/profesional
dengan
minimal 1 tahun
f)
KPR Sejahtera Susun.
Syarat khusus :
a) Karyawan/Pegawai tetap

b.

masa

kerja/usaha

Memiliki penghasilan pokok minimal Rp 3,5 juta per bulan untuk

KPR Sejahtera Tapak dan maksimal Rp 5,5 juta per bulan untuk

(a). Mengisi form permohonan KS (tapak atau susun)

(b). Fotocopy identitas diri (KTP, kartu keluarga, surat nikah)

(c). Fotocopy identitas kerja (kartu pegawai, NIP, slip gaji,

keterangan instansi)

(d). Fotocopy tabungan BATARA

(e). NPWP/SPPT Pasal 21

b) Wiraswasta/Pegawai tidak tetap

(a). Mengisi form permohonan KS (tapak atau susun)

(b). Fotocopy identitas diri (KTP, kartu keluarga, surat nikah)

(c). Fotocopy tabungan BATARA

(d). SIUP/TDP/NPWP

(e). Akta pendirian perusahaan/Anggaran Dasar Perusahaan

(f). Neraca laba/rugi/ kwitansi penjualan

(g).

SPT

tahunan/surat

keterangan

penghasilan

tidak

tetap

minimal dari kepala desa.

B. Analisis Data dan Pembahasan

1. Deskripsi Data

1) setelah dikurangi biaya-biaya operasional.
1)
setelah dikurangi biaya-biaya operasional.

Dalam penelitian ini data yang digunakan jenis data sekunder yang

dikumpulkan berdasarkan

runtun waktu (time series) dalam bentuk data

tahunan selama kurun waktu 21 tahun (1991 2011). Data tersebut diperoleh

dari PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Cabang Solo, Badan Pusat Statistik

(BPS) Kota Surakarta, dan website Bank Indonesia.

Adapun variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Jumlah permintaan KPR subsidi (FLPP) yang merupakan jumlah

dana KPR subsidi (FLPP) yang disalurkan BTN selama setahun

2)

PDRB

Per

Kapita

adalah

pendapatan

rata-rata

tiap

tahun

masyarakat Surakarta. Merupakan hasil dari pembagian antara

jumlah PDRB dan jumlah keseluruhan penduduk Surakarta. Dalam

hal ini pendapatan per kapita dinyatakan dalam satuan milyar

rupiah.

3)

Nilai Tukar (Kurs) adalah harga mata uang suatu negara yang

dinyatakan dalam mata uang negara lain. Dalam penelitian ini

menggunakan

nilai

kurs

rupiah

terhadap

dollar

USA

yang

dinyatakan atas dasar kurs tengah pada akhir periode (tahunan).

4)

Suku Bunga adalah suku bunga yang ditetapkan oleh pemerintah

berdasarkan

Peraturan

Kementerian

Perumahan

Rakyat.

Suku

bunga disini dinyatakan dalam bentuk persen (%).

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah jumlah permintaan KPR

subsidi (FLPP) BTN Cabang Solo, sedangkan variabel bebas dalam penelitian

ini adalah PDRB per kapita, nilai tukar (kurs) dan suku bunga bank. Tabel 4.1

kapita, nilai tukar (kurs) dan suku bunga bank. Tabel 4.1 di bawah ini menunjukkan data yang

di bawah ini menunjukkan data yang akan di olah dalam penelitian ini:

Tabel 4.1 Data Jumlah Permintaan KPR FLPP (Subsidi) PT. Bank Tabungan Negara Cabang Solo, PDRB Per Kapita, Kurs dan Suku Bunga Tahun 1991 2011

Tahun Jumlah Permintaan KPR FLPP (subsidi) BTN Cabang Solo (dalam Rupiah) PDRB per Kapita (Jutaan
Tahun
Jumlah Permintaan
KPR FLPP (subsidi)
BTN Cabang Solo
(dalam Rupiah)
PDRB per Kapita
(Jutaan Rupiah)
Kurs