Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS (DM)

DISUSUN OLEH: NUR ENDAH LARASATI P17420211033 3A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES SEMARANG PRODI KEPERAWATAN SEMARANG 2013

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELLITUS


A. PENGERTIAN Diabetes Melitus adalah gangguan yang melibatkan metabolisme karbohidrat primer dan ditandai dengan defisiensi (relatif/absolute) dari hormon insulin. (Dona L. Wong, 2003) Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai dengan berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Mansjoer, Arif, 2002) Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002). Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002). Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik kronis yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia karena defisiensi insulin atau ketidakadekutan penggunaan insulin. (Engram , 2005)

B. KLASIFIKASI Klasifikasi yang ditentukan oleh National Diabetes Data Group of The National Institutes of Health, sebagai berikut : 1. Diabetes Melitus tipe I atau IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Melitus ) atau tipe juvenil Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk mempertahankan hidup. Diabetes melitus tipe I juga disebut juvenile onset, karena kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun. Pada tipe ini terjadi destruksi sel beta pankreas dan menjurus ke defisiensi insulin absolut. Mereka cenderung mengalami komplikasi metabolik akut berupa ketosis dan ketoasidosis. 2. Diabetes Melitus tipe II atau NIDDM ( Non Insulin Dependent Diabetes melitus) Dikenal dengan maturity concept, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolut melainkan relatif oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi

insulin. Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada kecenderungan familiar. NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang beredar dalam darah namun tetap memiliki reseptor insulin dan fungsi post reseptor yang tidak efektif. 3. Gestational Diabetes Disebut juga DMG atau diabetes melitus gestational. Yaitu intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan, dimana meningkatnya hormon hormon pertumbuhan dan meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang mengurangi keefektifitasan insulin. 4. Intoleransi glukosa Berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu., yaitu hiperglikemi yang terjadi karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat obatan, dan bahan kimia. Kelainan reseptor insulin dan sindrome genetik tertentu. Umumnya obat obatan yang mencetuskan terjadinya hiperglikemia antara lain : diuretik furosemid ( lasik ), dan thiazide, glukotikoid, epinefrin, dilantin, dan asam nikotinat ( Long, 2006 ).

C. ETIOLOGI 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. Obesitas c. Riwayat keluarga

D. PATOFISIOLOGI Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler, hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan, akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buahbuahan. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price,2006).

E. MANIFESTASI KLINIK 1. Gejala klasik pada DM adalah : a. Poliuri ( banyak buang air kecil ), frekuensi buang air kecil meningkat termasuk pada malam hari. b. Polidipsi ( banyak minum ), rasa haus meningkat. c. Polifagi ( banyak makan ), rasa lapar meningkat. 2. Gejala lain yang dirasakan penderita a. Kelemahan atau rasa lemah sepanjang hari. b. Keletihan. c. Penglihatan atau pandangan kabur. d. Pada keadaan ketoasidosis akan menyebabkan mual, muntah dan kesadaran. 3. Tanda yang bisa diamati pada penderita DM adalah : a. Kehilangan berat badan. b. Luka, goresan lama sembuh. c. Kaki kesemutan, mati rasa. d. Infeksi kulit. penurunan

F. KOMPLIKASI Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik. (Smeltzer, 2002) 1. Komplikasi Akut, Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka pendek dari glukosa darah. a. Diabetik Ketoasedosis ( DKA ) Ketoasedosis diabatik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalananpenyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. b. Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN) Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada KHHN.

c. Hypoglikemia Hypoglikemia ( Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi aklau kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit.

2. Komplikasi kronik Umumnya terjadi 10 sampai 15 tahun setelah awitan. a. Mikrovaskuler 1) Penyakit Ginjal Salah satu akibat utama dari perubahan perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urin. 2) Penyakit Mata (Katarak) Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. Keluhan penglihan kabur tidak selalui disebabkan retinopati. Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjanganyang

menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa. 3) Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom, Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan perubahan perubahan metabolik lain dalam sintesa atau funsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf. b. Makrovaskuler 1) Penyakit Jantung Koroner Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke 2) Pembuluh darah kaki Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf saraf sensorik, keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang

menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celah celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel sel kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah daerah yang tekena trauma.

Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain: a) Grade 0 b) Grade I c) Grade II : tidak ada luka : kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit : kerusakan kulit mencapai otot dan tulang

d) Grade III : terjadi abses e) Grade IV : gangren pada kaki bagian distal f) Grade V
: gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal

3) Pembuluh darah otak Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah keotak menurun.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Doengoes, dkk. (2003) pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan pada penderita penyakit diabetes mellitus antara lain : 1. Pemeriksaan darah, yang meliputi: a. Glukosa darah biasanya meningkat antara 100-200 mg/dl atau lebih. Nilai normalnya: GDP 70-100 mg/dl. GD2 JPP < 140 mg/dl. b. Aseton plasma atau keton, positif secara mencolok. Normalnya nagatif. c. Asam lemak bebas. Kadar lipid dan kolesterol meningkat. Nilai normalnya : 4501000 mg /100ml. d. Osmolalitas serum meningkat, tetapi biasnya kurang dari 330 mOsm/lt. Nilai normalnya 500-850 mOsm/lt. e. Elektrolit Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun. (Normal : 135-145 mEq/lt). Kalium : Normal atau peningkatan semu (perpindahan seluler), akan menurun. (Normal: 3,5-5,0 mEq/lt). Fosfor : Lebih sering menurun. (Normal 1,7-2,6 mEq/lt). selanjutnya

f. Hemoglobin glikosilat, kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir. ( Normal : P 1318 gr/dl ; W 12-16 gr/dl ). g. Gas darah arteri, biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 ( asidosis metabolik ) dengan kompensasi alkalosis respiratorik. (Normal : pH 7,257,45). h. Trombosit darah, Ht mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis,

hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stress atau infeksi. (Normal : 150400 ribu/lt). i. Ureum/kreatinin mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/ penurunan fungsi ginjal). Nilai normalnya : 110-150 mg/mnt. j. Amilase darah mungkin meningkat, yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut sebagai penyebab dari diabetes ketoasidosis (DKA). (Normal : 80-180 unit/100ml) k. Insulin darah mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada (tipe I) atau normal sampai tinggi (tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi insulin dalam penggunaannya (endogen atau eksogen ). l. Pemeriksaan fungsi tiroid. Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat

meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.

2. Pemeriksaan urin, yang meliputi : a. Urin Gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat. Normal : Bj : 1,003-1,030 b. Kultur dan sensitivitas Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi pernapasan dan infeksi pada luka.

H. PENATALAKSANAAN Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien. Ada lima konponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu: 1. Diet Syarat diet DM hendaknya dapat: a. Memperbaiki kesehatan umum penderita b. Mengarahkan pada berat badan normal c. Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda d. Mempertahankan kadar KGD normal e. Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik f. Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita. g. Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM, adalah: a. Jumlah sesuai kebutuhan b. Jadwal diet ketat c. Jenis: boleh dimakan/tidak Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya. a. Diit DM I b. Diit DM II c. Diit DM III d. Diit DM IV e. Diit DM V f. Diit DM VI : : : : : : 1100 kalori 1300 kalori 1500 kalori 1700 kalori 1900 kalori 2100 kalori 2300 kalori 2500 kalori

g. Diit DM VII : h. Diit DM VIII :

Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus. Diabetes remaja, atau diabetes komplikasi.

Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu: JI : Jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah. J II : Jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya. J III : Jenis makanan yang manis harus dihindari Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of relative body weight (BBR= berat badan normal) dengan rumus: BB (Kg) BBR = TB (cm) 100 Kurus (underweight) a. Kurus (underweight) : b. Normal (ideal) : BBR < 90 % BBR 90 110 % BBR > 110 % BBR > 120 % BBR 120 130 % BBR 130 140 % BBR 140 200 % BBR > 200 % X 100 %

c. Gemuk (overweight) : d. Obesitas, apabila 1) Obesitas ringan 2) Obesitas sedang 3) Obesitas berat 4) Morbid : : : : :

Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah: a. Kurus : BB X 40 60 kalori sehari BB X 30 kalori sehari BB X 20 kalori sehari BB X 10-15 kalori sehari

b. Normal : c. Gemuk : d. Obesitas :

2. Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah: a. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila dikerjakan setiap 1 jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya.

b. Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore c. Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen d. Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein e. Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang pembentukan glikogen baru f. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.

3. Penyuluhan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV, kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.

4. Obat a. Tablet OAD (Oral Antidiabetes) Mekanisme kerja sulfanilurea 1) Kerja OAD tingkat prereseptor : pankreatik, ekstra pancreas 2) Kerja OAD tingkat reseptor Mekanisme kerja Biguanida Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu: 1) Biguanida pada tingkat prereseptor a) Menghambat absorpsi karbohidrat b) Menghambat glukoneogenesis di hati c) Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin 2) Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin 3) Biguanida pada tingkat pascareseptor : mempunyai efek intraseluler b. Insulin 1) Indikasi penggunaan insulin a) DM tipe I b) DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD c) DM kehamilan ekstra pankreatik

d) DM dan gangguan faal hati yang berat e) DM dan infeksi akut (selulitis, gangren) f) DM dan TBC paru akut g) DM dan koma lain pada DM h) DM operasi i) DM patah tulang j) DM dan underweight k) DM dan penyakit Graves 2) Beberapa cara pemberian insulin a) Suntikan insulin subkutan Insulin reguler mencapai puncak kerjanya pada 1-4 jam, sesudah suntikan subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung pada beberapa factor antara lain: (1) Lokasi suntikan Ada 3 tempat suntikan yang sering dipakai yaitu dinding perut, lengan, dan paha. Dalam memindahkan suntikan (lokasi) janganlah dilakukan setiap hari tetapi lakukan rotasi tempat suntikan setiap 14 hari, agar tidak memberi perubahan kecepatan absorpsi setiap hari. (2) Pengaruh latihan pada absorpsi insulin Latihan akan mempercepat absorbsi apabila dilaksanakan dalam waktu 30 menit setelah suntikan insulin karena itu pergerakan otot yang berarti, hendaklah dilaksanakan 30 menit setelah suntikan. (3) Pemijatan (Masage) Pemijatan juga akan mempercepat absorpsi insulin. (4) Suhu Suhu kulit tempat suntikan (termasuk mandi uap) akan mempercepat absorpsi insulin. (5) Dalamnya suntikan Makin dalam suntikan makin cepat puncak kerja insulin dicapai. Ini berarti suntikan intramuskuler akan lebih cepat efeknya daripada subcutan.

(6) Konsentrasi insulin Apabila konsentrasi insulin berkisar 40 100 U/ml, tidak terdapat perbedaan absorpsi. Tetapi apabila terdapat penurunan dari u 100 ke u 10 maka efek insulin dipercepat. b) Suntikan intramuskular dan intravena Suntikan intramuskular dapat digunakan pada koma diabetik atau pada kasus-kasus dengan degradasi tempat suntikan subkutan. Sedangkan suntikan intravena dosis rendah digunakan untuk terapi koma diabetik.

5. Cangkok pancreas Pendekatan terbaru untuk cangkok pancreas adalah segmental dari donor hidup saudara kembar identik (Tjokroprawiro, 2005).

PATHWAY
Defisiensi Insulin

glukagon

penurunan pemakaian glukosa oleh sel

glukoneogenesis

hiperglikemia

lemak

protein BUN Nitrogen urine

glycosuria

ketogenesis

Osmotic Diuresis
Kekurangan volume cairan

ketonemia Mual muntah pH

Dehidrasi

Hemokonsentrasi

Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh

Asidosis

Trombosis

Koma Kematian

Aterosklerosis

Makrovaskuler

Mikrovaskuler

Retina Jantung Serebral Ekstremitas Retinopati diabetik Ggn. Penglihatan

Ginjal

Nefropati

Miokard Infark

Stroke

Gangren

Kerusakan Integritas Kulit

Gagal Ginjal

Resiko Injury

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN 1. Menurut Doengoes, dkk. (2003), fokus pengkajian pada klien dengan DM meliputi sebagai berikut : Pengkajian data dasar yang meliputi a. Aktivitas / istirahat Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur atau berjalan. Tanda : Takikardia dan takipneu padan keadaan istirahat atau dengan aktivitas. b. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat hipertensi; IM akut, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama. Tanda : Takikardia, perubahan tekanan darah postural; hipertensi, nadi yang menurun / tak ada, disritmia, krekels, kulit panas, kering dan kemerahan; bola mata cekung. c. Integritas ego Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi. Tanda d. Eliminasi Gejala : Poliuria, nokturia, rasa nyeri atau terbakar, kesulitan berkemih (infeksi ), infeksi saluran kencing (ISK) baru atau berulang, nyeri tekan abdomen, diare. Tanda : Urin encer, pucat, kuning; poliuri, urin berkabut, bau busuk (infeksi), abdomen keras, asites. e. Makanan atau cairan Gejala : Hilang nafsu makan, mual atau muntah, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari atau minggu, haus. Tanda : Kulit kering atau bersisik, turgor jelek, kekakuan atau distensi abdomen, muntah, pembesaran tiroid, bau halitosis atau manis, bau buah (napas aseton). : Ansietas, peka rangsang.

f. Neurosensori Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesia, gangguan penglihatan. Tanda : Disorientasi, mengantuk, letargi, koma ( tahap lanjut ), gangguan memori ( baru, masa lalu ), aktivitas kejang ( tahap lanjut ). g. Nyeri atau ketidaknyamanan Gejala Tanda : Abdomen yang tegang atau nyeri ( sedang atau berat ). : Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.

h. Pernapasan Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa sputum purulen ( tergantung adanya infeksi atau tidak ). Tanda : Lapar udara, batuk, dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi pernapasan. i. Keamanan Gejala Tanda : Kulit kering, gatal; ulkus kulit. : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan umum, parestesia. j. Seksualitas Gejala : Rabas vagina ( cenderung infeksi ), masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita. k. Penyuluhan atau pembelajaran Gejala : Faktor risiko keluarga, DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat, penggunaan obat seperti steroid, diuretik ( tiazid ); dilantin atau fenorbarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah), mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. l. Pertimbangan rencana pemulangan Mungkin memerlukan dalam pengaturan diet, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.

2. Selain menurut Doengoes diatas, terdapat data yang harus dikaji dari pasien dengan DM, antara lain: (Donna L. Wong : 2003) a. Riwayat penyakit, terutama yang berhubungan dengan penyakit yang berbahaya. b. Riwayat keluarga Terutama yang berkaitan dengan anggota keluarga lain yang menderita diabetes melitus. c. Riwayat Kesehatan Terutama yang berhubungan dengan penurunan berat badan, frekuensi minum dan berkemih. Peningkatan nafsu makan, penururan tingkat kesadaran, perubahan perilaku dan manifestasi dari diabetes melitus tergantung insulin, sebagai berikut: 1) Polifagi 2) Poliuria 3) Polidipsi

Hal-hal lain yang perlu dikaji: 1) Kaji hiperglikemia dan hipoglikemia 2) Satus hidrasi 3) Tanda dan gejala ketoasidosis, nyeri abdomen, mual muntah, pernapasan kusmaul menurunnya kesadaran. 4) Kaji tingkat pengetahuan 5) Mekanisme koping 6) Kaji nafsu makan 7) Status berat badan 8) Frekuensi berkemih 9) Fatigue 10) Irirtabel

d. Pemeriksaan Laboratorium 1) Glikosuria Diketahui dari uji reduksi yang dilakukan dengan bermacam-macam reagensia seperti benedict, clinitest, dan sebagainya. 2) Hiperglikemia Pemeriksaan kadar gula darah puasa. Gula darah puasa meningkat dapat berkisar antara 8-20 mmol/L (130-800 mg%) atau lebih tergantung beratnya

keadaan penyakit. Biasanya diatas 14 mmol/L dan sesudah makan, gula darah meningkat lebih tinggi dibandingkan anak normal dan penurunan kadar ke kadar sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. 3) Ketonuria 4) Kolestrol dapat meningkat Normalnya di bawah 5,5 mmol/L. Tidak selalu nilainya paralel dengan gula darah, tetapi kadar kolestrol darah yang tetap tinggi (yaitu diatas 10 mmol/L) menunjukkan prognosis jangka panjangnya buruk karena komplikasi seperti oterosklerosis lebih sering terjadi. 5) Gangguan keseimbangan cairan elektrolit, PaCO2 menurun, pH merendah. Bila penyakit berat maka bisa terjadi asidosis metabolik dan perubahan biokimiawi karena dehidrasinya.

e. Pemeriksaan fisik Menurut Doengoes, dkk (2003), pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan: poliuri/ banyak kencing (normal : kuramg lebih 1500 ml), polidipsi/ banyak minum, polifagia/ banyak makan, kelemahan otot, berat badan menurun, kelaianan kulit : gatal, bisul-bisul, kelainan ginekologis : keputihan, pruritus pada vagina, luka tidak sembuh-sembuh, peningkatan angka infeksi, impotensi pada pria.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia: intake makanan yang tidak adekuat 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif 3. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 5. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder

C. INTERVENSI Dx Keperawatan Dx I: Ketidakseimbang Perencanaan Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Setelah dilakukan Intervensi (NIC) tindakan NIC: Nutrition Management status nutrisi dan Nama & TT

No

keperawatan selama 3x24 jam a. Kaji kebutuhan nutrisi

an nutrisi kurang diharapkan dari tubuh berhubungan dengan anoreksia: intake yang adekuat makanan tidak Indicator

kebiasaan makan. R: Untuk mengetahui dan

kebutuhan pasien adekuat dengan indikator : NOC : Nutritional status : food and Fluid Intake

tentang

keadaan

kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan awal akhir 5 tindakan dan pengaturan diet yang adekuat. b. Anjurkan pasien untuk

- tidak terjadi 1 penurunan berat badan - mual muntah berkurang - porsi makan 2 yang disediakan habis dan 2

mematuhi diet yang telah 5 diprogramkan. c. R: diet 5 Kepatuhan terhadap dapat mencegah terjadinya

komplikasi hipoglikemia/ hiperglikemia.

d. Identifikasi perubahan pola makan. R: Mengetahui apakah

pasien telah melaksanakan

Indicator skala: 1 Tidak pernah menunjukkan 2 Jarang 3 Kadang-kadang 4 Sering menunjukkan 5 Selalu menunjukkan

program ditetapkan.

diet

yang

e. Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk

pemberian insulin dan diet diabetik. R: Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah diet dapat penurunan

menurun,pemberian yang sesuai

mempercepat

gula darah dan mencegah komplikasi.

Dx II: Kekurangan volume

Setelah

dilakukan

tindakan NIC: Fluid Manajement

keperawatan selama 3x24 jam a. Monitor tanda-tanda cairan diharapkan volume cairan pasien terpenuhi dengan indicator: NOC : Fluid Balance dehidrasi R: Mengetahui kondiasi dan menentukan langkah selanjutnya. cairan indikator - Klien awal dapat 1 akhir 5 b. Monitor intake dan output. R: Mengetahui keseimbangan cairan tubuh. c. Berikan cairan sesuai kebutuhan dan yang ada 2 5 dipergunakan. R: Mencegah terjadinya dehidrasi.

berhubungan dengan kehilangan volume aktif

menjaga keseimbanga n cairan serta elektrolit - Tidak

tanda-tanda dehidrasi.

Indicator skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan

Dx III: Nyeri berhubungan dengan injuri biologi

NOC : Pain Control Akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam agen diharapkan nyeri dapat teratasi dengan indikator : indikator - Melaporkan nyeri berkurang - Frekuensi nyeri berkurang - Ekspresi wajah rileks 1 5 2 5 awal 1 akhir 5

NIC : Pain Management a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi) R: Mengetahui lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi nyeri. b. Berikan tindakan kenyamanan dasar R: Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian. c. Dorong penggunaan

Keterangan skala : 1 = tidak pernah menunjukkan 2 = jarang 3 = kadang-kadang 4 = sering menunjukkan 5 = selalu menunjukkan

keterampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, sentuhan terapeutik) R: Memungkinkan pasien berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol nyeri d. Kolaborasikan dengan tim medis untuk memberikan

analgesik sesuai dengan indikasi. R: Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker,meskipun respon individual berbeda-beda.

Dx IV: Kerusakan integritas berhubungan dengan gangren ekstrimitas.

Setelah

dilakukan

tindakan NIC: Pressure Management

keperawatan selama 3x24 jam a. Kaji luas dan keadaan luka kulit diharapkan turgor kulit membaik dengan indicator; serta proses penyembuhan. R: Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan membantu Indicator - Luka membaik - Perfusi jaringan baik 3 5 Skala awal 3 Skala akhir 5 menentukan selanjutnya. b. Rawat luka dengan baik dan benar : membersihkan luka secara abseptik R: merawat luka dengan teknik aseptik, dapat akan dalam tindakan

adanya NOC : Tissue Integrity : Skin pada and Mucous Membranes

menjaga kontaminasi luka Indicator skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan

granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi. c. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan pemeriksaan kultur pus gula darah

pemberian anti biotik.

R:

insulin kadar

akan gula

menurunkan

darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, kadar gula

pemeriksaan darahuntuk

mengetahui

perkembangan penyakit.

Dx V: Resiko

Setelah

dilakukan

tindakan NIC: Infection Control

infeksi keperawatan selama 3x24 jam a. Kaji adanya tanda-tanda diharapkan resiko infeksi tidak tidak terjadi dengan indicator; NOC: Risk Control Indicator - Klien bebas dari dan infeksi - Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi. - Menunjukkan perilaku hidup sehat 2 5 2 5 tanda gejala Skala awal 2 Skala akhir 5 penyebaran infeksi pada luka. Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan

berhubungan dengan adekuat pertahanan sekunder

tindakan selanjutnya. b. Anjurkan kepada pasien

dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri

selama perawatan. Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman. c. Lakukan perawatan luka secara aseptik. Rasional : untuk mencegah kontaminasi luka dan

penyebaran infeksi.

Indicator skala: 1. Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan

d. Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan ditetapkan. Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga yang

memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi. e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian

antibiotika dan insulin. Rasional : Antibiotika

dapat menbunuh kuman, pemberian menurunkan dalam insulin kadar akan gula

darah

sehingga

proses penyembuhan.

D. EVALUASI Hal-hal yang diharapkan antara lain: 1. Tidak terjadi penurunan berat badan 2. Klien dapat menjaga keseimbangan cairan serta elektrolit 3. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. 4. Nyeri berkurang 5. Luka membaik 6. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 7. Klien mampu menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol 3, Edisi 8. Jakarta: EGC

Doengoes, M.E, dkk. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Long, B.C. 2006. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Alih Bahasa, Yayasan Ikatan Alumni pendidikan Keperawatan Padjadjaran. Bandung: YPKAI

Mansjoer, Arif, dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 5 Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius

Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Prince A Sylvia. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses penyakit, Edisi empat. Jakarta: EGC.

Tjokroprawiro, A.. 2005. Diabetes Mellitus, Klasifikasi, Diagnosis dan Terapi,Edisi 3. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.