Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SENSORI PERSEPSI: HALUSINASI

A. PENGERTIAN Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, ataupun penghiduan, merasakan sensasi yang sebenarnya tidak ada. (Keliat, 2012: 109). Halusinasi merupakan keadaan persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak terjadi dalam realitas. (Videback, 2008: 362)

B. ETIOLOGI Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi terdiri ata faktor predisposisi dan faktor presipitasi, antara lain: 1. Faktor Predisposisi a. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut: 1. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. 2. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. 3. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
1

b. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. c. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

2. Faktor Presipitasi a. Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. b. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. c. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

C. TANDA DAN GEJALA Menurut Stuart dan Sundeen (2007), seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu: Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara. Gerakan mata abnormal. Respon verbal yang lambat. Diam.
2

Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah. Penyempitan kemampuan konsenstrasi. Dipenuhi dengan pengalaman sensori. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Berkeringat banyak. Tremor. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk. Perilaku menyerang teror seperti panik. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi. Menarik diri atau katatonik. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

D. JENIS HALUSINASI Menurut Stuart (2007) halusinasi terdiri dari tujuh jenis, antara lain: 1. Pendengaran Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.

2. Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster. 3. Penghidu Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya baubauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia. 4. Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses. 5. Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. 6. Cenestetik Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine. 7. Kinistetik Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

E. FASE HALUSINASI Halusinasi yang dialami oleh klien bisa berbeda intensitas dan keparahannya. Stuart (2007), membagi fase halusinasi dalam 4 fase berdasarkan tingkat ansietas yang dialami dan kemampuan klien mengendalikan dirinya. Semakin berat fase halusinasi, klien semakin berat mengalami ansietas dan makin dikendalikan oleh halusinasinya. Fase halusinasi 1 Fase 1 : Comforting- Klien ansietas sedang, tingkat emosi Karakteristik 2 mengalami seperti Perilaku pasien 3 keadaan Menyeringai atau tertawa ansietas, yang tidak sesuai,

secara kesepian, rasa bersalah, dan menggerakkan bibir tanpa

umum, bersifat

halusinasi takut serta mencoba untuk menimbulkan berfokus pikiran pada untuk penenangan pergerakan mata

suara, yang

menyenangkan

mengurangi cepat, respon verbal yang

ansietas. Individu mengetahui lambat, diam dan dipenuhi bahwa pikiran dan pengalaman oleh sensori tersebut yang dapat sesuatu yang

dialaminya mengasyikkan. dikendalikan

jika ansietasnya bias diatasi (Non psikotik) Fase Condemningansietas II: Pengalaman sensori bersifat Peningkatan sistem syaraf menjijikkan dan menakutkan, otonom tingkat klien mulai lepas kendali dan menunjukkan mencoba yang ansietas,

berat, secara umum, mungkin halusinasi menjijikkan

untuk seperti peningkatan nadi,

menjadi menjauhkan dirinya dengan pernafasan, dan tekanan sumber yang dipersepsikan. darah; Klien mungkin merasa malu kemampuan karena pengalaman sensorinya dipenuhi penyempitan konsentrasi, dengan

dan menarik diri dari orang pengalaman sensori dan lain. (Psikotik ringan) kehilangan membedakan kemampuan antara

halusinasi dengan realita. Fase III: Klien berhenti menghentikan Cenderung perlawanan mengikuti

Controlling-ansietas tingkat

terhadap petunjuk yang diberikan daripada kesukaran dengan rentang

berat, halusinasi dan menyerah pada halusinasinya tersebut. Isi menolaknya,

pengalaman sensori halusinasi menjadi berkuasa

halusinasi menjadi menarik, berhubungan dapat Klien berupa mungkin jika tersebut permohonan. orang lain,

mengalarni perhatian hanya beberapa pengalaman detik atau menit, adanya berakhir. tanda-tanda fisik ansietas berat: berkeringat, tremor,

kesepian sensori (Psikotik)

tidak mampu mengikuti petunjuk. 1 Fase IV: Conquering Panik, halusinasi 2 3

Pengalaman sensori menjadi Perilaku menyerang-teror

umumnya mengancam dan menakutkan seperti panik, berpotensi menjadi jika klien tidak mengikuti kuat Halusinasi melakukan bunuh

lebih rumit, melebur perintah. dalam halusinasinya

bisa diri atau membunuh orang

berlangsung dalam beberapa lain, Aktivitas fisik yang jam atau hari jika tidak ada merefleksikan intervensi terapeutik. (Psikotik Berat) isi

halusinasi seperti amuk, agitasi, menarik diri, atau katatonia, tidak mampu berespon terhadap

perintah yang kompleks, tidak mampu berespon

terhadap lebih dari satu orang.

F. RENTAN RESPON

Adaptif

Maladaptif

Persepsi Akurat

Ilusi

Halusinasi

Persepsi akurat adalah penerimaan pesan yang disadari oleh indra perasaan, dimana dapat membedakan objek yang satu dengan yang lain dan mengenai kualitasnya menurut berbagai sensasi yang dihasilkan.

Ilusi adalah penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi karena rangsangan panca indera.

Halusinasi adalah persepsi yang salah, meskipun tidak ada stimulus tetapi klien
merasakannya.

G. MEKANISME KOPING 1. Regresi : menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menaggulangi ansietas. 2. Proyeksi : keinginan yang tidak ditoleransi, mencurahkan emosi pada orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi) 3. Mengisolasi diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber stressor. Sedangkan reaksi psikologis individu menunjukkan perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan.

H. MEKANISME KONTROL Ada 4 cara mengendalikan halusinasi : 1. Menghardik halusinasi Adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolah halusinasi yg muncul. Tahap tindakan meliputi: Menjelaskan cara menghardik halusinasi Memperagakan cara menghardik Meminta pasien memperagakan ulang Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien.

2. Bercakap cakap dengan orang lain Ketika bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi: fokus perhatian pasien akan beralih ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut. 3. Melakukan aktifitas yg terjadwal

Dengan aktifitas secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang sering kali mencetuskan halusinasi. Tahap intervensi: Menjelaskan pentingnya aktifitas yg teratur Mendiskusikan aktifitas yg biasa dilakukan Melatih px melakukan aktifitas Menyusun jadwal harian sesuai dengan aktifitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktifitas dari bangun tidur sampai tidur lagi selama 7 hari. Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan memberi penguatan.

4. Menggunakan obat secara teratur. Putus obat dapat mengalami kekambuhan, untuk mencapai kondisi semula akan lebih sulit. Jelaskan guna obat Jelaskan akibat putus obat Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat Jelaskan cara menggunakan obat dg prinsip 5 benar [benar obat,benar px,benar cara, benar waktu, dan benar dosis].

I. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Mengkaji Jenis Halusinasi Ada beberapa jenis halusinasi pada pasien gangguan jiwa. Kira-kira 70% halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi dengar atau suara, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% halusinasi penghidu, pengecap, perabaan, senestik dan kinestik. Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengevaluasi perilaku pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh pasien. b. Mengkaji Isi Halusinasi Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata apabila halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar. Atau apa bentuk
8

bayangan yang dilihat oleh pasien, bila jenis halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa yang tercium untuk halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap untuk halusinasi pengecapan, atau merasakan apa dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan. c. Mengkaji Waktu, Frekuensi, dan Situasi Munculnya Halusinasi Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan jika pasien perlu diperhatikan saat mengalami halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada pasien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu. Bila mungkin pasien diminta menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi halusinasi tersebut. d. Mengkaji Respon Terhadap Halusinasi Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi pasien dapat dikaji dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh pasien saat mengalami pengalaman halusinasi. Apakah pasien masih dapat mengontrol stimulus halusinasi atau sudah tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.

2. Diagnosa Keperawatan Gangguan sensori persepsi: Halusinasi.

3. Rencana Keperawatan Tujuan tindakan untuk pasien meliputi : a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya. b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal. Tindakan Keperawatan
9

a. Membantu Pasien Mengenali Halusinasi Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, perawat dapat

melakukannya cara berdiskusi dengan pasien tentang ini halusinasi (apa yang didengar atau dilihat), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul. b. Melatih Pasien Mengontrol Halusinasi. Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi perawat dapat melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi : 1) Melatih Pasien Menghardik Halusinasi 2) Melatih Bercakap-cakap dengan Orang Lain 3) Melatih Pasien Beraktivitas Secara Terjadwal 4) Melatih Pasien Menggunakan Obat Secara Teratur

4. Evaluasi Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah Perawat lakukan untuk pasien halusinasi adalah sebagai berikut : a. Pasien Mempercayai Perawatnya sebagai terapis, ditandai dengan: Pasien mau menerima perawat sebagai perawatnya Pasien mau menceritakan masalah yang dia hadapai kepada perawatnya, bahkan hal-hal yang selama ini dianggap rahasia untuk orang lain. Pasien mau bekerja sama dengan perawat, setiap program yang perawat tawarkan ditaati oleh pasien. b. Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada obyeknya dan merupakan masalah yang harus diatasi, ditandai dengan: Pasien mengungkapkan isi halusinasinya yang dialaminya. Pasien menjelaskan waktu, dan frekuensi halusinasi yang dialaminya. Pasien menjelaskan situasi yang mencetuskan halusinasi. Pasien menjelaskan perasaannya ketika mengalami halusinasi

10

Pasien menjelaskan bahwa ia akan berusaha mengatasi halusinasi yang dialaminya

c. Pasien dapat Mengontrol Halusinasi, ditandai dengan: Pasien mampu memperagakan empat cara mengontrol halusinasi Pasien menerapkan empat cara mengontrol halusinasi: 1) Menghardik halusinasi. 2) Berbicara dengan orang lain disekitarnya bila timbul halusinasi. 3) Menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur pada malam hari selama tujuh hari dalam seminggu dan melaksanakan jadwal tersebut secara mandiri. 4) Mematuhi program pengobatan.

J. DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Achir Yani. 2000. Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Depkes RI. Keliat, B.A., dkk. 2012. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC Stuart, G.W & Sundeen, S.J. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa (Terjemahan). Jakarta: EGC. Videback, S.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakatra: EGC

11