Anda di halaman 1dari 6

MONITORING PASIEN POST OPERASI

1. Pengertian Monitoring Menurut Conor (1974) menjelaskan bahwa keberhasilan dalam mencapai tujuan, separuhnya ditentukan oleh rencana yang telah ditetapkan dan setengahnya lagi fungsi oleh pengawasan atau monitoring. Monitoring dimaksudkan untuk mengetahui kecocokan dan ketepatan kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan yang telah disusun. Monitoring digunakan pula untuk memperbaiki kegiatan yang

menyimpang dari rencana, mengoreksi penyalahgunaan aturan dan sumbersumber, serta untuk mengupayakan agar tujuan dicapai seefektif dan seefisien mungkin.

2. Pengertian Post Operasi Post operasi adalah masa yang dimulai ketika masuknya pasien ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Setelah pembedahan, keadaan pasien dapat menjadi kompleks akibat perubahan fisiologis yang mungkin terjadi. Untuk memonitor kondisi pasien pasca atau post operasi, informasi pada saat operasi adalah sangat berguna terutama prosedur pembedahan dan hal-hal yang terjadi selama pembedahan berlangsung. Informasi ini membantu mendeteksi adanya perubahan semasa memonitor pasien post operasi. Tindakan pasca operasi dilakukan dalam 2 tahap, yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase pasca operasi. Untuk pasien yang menjalani bedah sehari, pemulihan normalnya terjadi dalam 1 sampai 2 jam dan penyembuhan dilakukan di rumah. Untuk pasien yang dirawat di rumah sakit pemulihan terjadi selama beberapa jam dan penyembuhan berlangsung selama 1 hari atau lebih tergantung pada luasnya pembedahan dan respon pasien.

3. Monitoring post operasi Pembedahan pada dasarnya merupakan trauma yang akan menimbulkan perubahan faal, sebagai respon terhadap trauma. Gangguan faal tersebut meliputi tanda- tanda vita serta organ-organ vital seperti sistem respirasi, sistem kardiovaskular, panca indera (SSP), sistem urogenital, sistem pencernaan dan luka operasi. Berikut ini hal-hal yang harus dipantau secara singkat, jelas, lengkap, dan dituliskan setiap harinya dalam periode yang berlangsung tepat sesudah pembedahan: 1) Tanda-tanda vital 2) Respirasi kepatenan jalan nafas, kedalaman, frekuensi, sifat dan bunyi nafas 3) Kardiovaskuler: Tensi, nadi 4) Neurologi: GCS 5) Fungsi traktus urinarius: produksi urin 6) Fungsi gastrointestinal: flatus dan defekasi per rektum, distensi perut 7) Luka operasi: Tingkat nyeri, kondisi luka operasi 8) Drainase: Produksi 9) Psikologi: Kebutuhan istirahat dan tidur pasien 10) Diit dan cairan 11) Tes diagnostik

Berikut-berikut adalah pengkajian-pengkajian yang harus dimonitoring secara aktual meliputi:

a) Sistem Kardiovaskuler Pasien mengalami komplikasi kardiovaskular akibat kehilangan darah secara aktual dan potensial dari tempat pembedahan, balans cairan, efek samping anastesi, ketidakseimbangan elektrolit dan depresi mekanisme resulasi sirkulasi normal. Adapun hal-hal yang harus di monitoring adalah:

Tekanan darah dan denyut nadi Harus dicatat setiap 15 menit pada beberapa kasus lebih sering sehingga penderita stabil. Sesudah itu, tanda-tanda harus dicatat setiap jam selama beberapa jam.

Masalah yang sering terjadi adalah pendarahan. Kehilangan darah terjadi secara eksternal melalui drain atau insisi atau secara internal luka bedah. Pendarahan dapat menyebabkan turunnya tekanan darah: meningkatnya kecepatan denyut jantung dan pernafasan (denyut nadi lemah, kulit dingin, lembab, pucat, serta gelisah). Apabila pendarahan terjadi secara eksternal,

memperhatikan adanya peningkatan drainase yang mengandungi darah pada balutan atau melalui drain.

b) Sistem Pernafasan Obat anastesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan sehingga perlu waspada terhadap pernafasan yang dangkal dan lambat serta batuk yang lemah. Frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernafasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi nafas dan membrane mukosa dimonitor. Apabila pernafasan dangkal letakan tangan diatas muka / mulut pasien sehingga dapat merasakan udara yang keluar.

c) Sistem Panca Indera Setelah dilakukan pembedahan, pasien memiliki tingkat kesadaran yang berbeda. Oleh karena itu, seorang harus memonitor tingkat respon pasien dengan berbagai cara. Misalnya dengan memonitor fungsi pendengaran atau penglihatan. Apakah pasien dapat berespon dengan baik ketika diberi stimulus atau tidak sama sekali. Ataupun juga dapat memonitor tingkat kesadaran dengan menentukan Skala Koma Glasgow / Glasgow Coma Scale (GCS). GCS ini memberikan 3

bidang fungsi neurologik: memberikan gambaran pada tingkat responsif pasien dan dapat digunakan dalam mengevaluasi motorik pasien, verbal, dan respon membuka mata. Masing-masing respon diberikan angka dan penjumlahan dari gambaran ini memberikan indikasi beratnya keadaan koma dan sebuah prediksi kemungkinan yang terjadi dari hasil yang ada. Elemen-elemen GCS ini dibagi menjadi tingkatan-tingkatan yang berbeda seperti dibawah ini:

Skala Koma Glaskow / Glaskow Coma Scale (GCS) Membuka mata Spontan Dengan perintah Dengan nyeri Tidak berespon Respon motorik terbaik Dengan perintah Melokalisasi nyeri Menarik area yang nyeri Fleksi Abnormal Ekstensi Abnormal Tidak berespon Respon verbal Beorientasi Bicara membingungkan Kata-kata tidak tepat :5 :4 :3 :6 :5 :4 :3 :2 :1 :4 :3 :2 :1

Suara tidak dapat dimengerti: 2 Tidak ada respon :1

Nilai terendah yang di dapat adalah 3 (respon paling sedikit). Nilai tertinggi adalah 15 (paling berespon). Nilai 7 atau nilai dibawah 7

umumnya dikatakan sebagai koma dan membutuhkan intervensi bagi pasien koma tersebut.

d) Sistem Traktus Urinarius Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan rektum, anus, vagina, herniofari dan pembedahan pada daerah abdomen bawah. Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung kemih. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan kateter untuk membantu mengeluarkan urin dari kandung kemih. Hal ini juga membantu menilai balans cairan pada pasien tersebut.

e) Sistem Gastrointestinal Setelah pembedahan, harus dipantau apakah pasien telah flatus atau belum. Intervensi untuk mencegah komplikasi gastrointestinal akan mempercepat kembalinya eleminasi normal dan asupan nutrisi. Pasien yang menjalani bedah pada struktur gastrointestinal membutuhkan waktu beberapa hari agar diitnya kembali normal. Peristaltik normal mungkin tidak akan terjadi dalam waktu 2-3 hari. Sebaliknya pasien yang saluran gastrointestinalnya tidak dipengaruhi langsung oleh pembedahan boleh mengkonsumsi makanan setelah pulih dari pengaruh anastesi, tindakan tersebut dapat mempercepat kembalinya eliminasi secara normal.

f) Luka Operasi Prosedur pembedahan biasanya dilakukan dengan meminimalisasi resiko infeksi dengan menggunakan alat yang steril. Maka, kemungkinan luka tersebut untuk terjadi infeksi adalah juga minimal. Namun, jika ada risiko diidentifikasi luka tersebut bermasalah, seperti ada luka yang masih basah dan ada pengumpulan cairan, maka hal tersebut mungkin dapat disebabkan beberapa faktor. Antaranya adalah

seperti diabetes mellitus, imunosupresi, keganasan dan malnutrisi, cara penutupan luka, infeksi dan apa pun yang mungkin menyebabkan penekanan berlebihan pada luka.

4. Kesimpulan Kegiatan monitoring dimaksudkan untuk mengetahui kecocokan dan ketepatan kegiatan yang dilaksanakan dengan rencana yang telah disusun. Monitoring digunakan untuk memperbaiki kegiatan yang menyimpang dari rencana, mengoreksi penyalahgunaan aturan dan sumber-sumber, serta untuk mengupayakan agar tujuan dicapai seefektif dan seefisien mungkin. Post operasi adalah masa yang dimulai ketika masuknya pasien ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah. Setelah pembedahan, keadaan pasien dapat menjadi kompleks akibat perubahan fisiologis yang mungkin terjadi. Untuk memonitor kondisi pasca atau post operasi ini, informasi preoperatif adalah sangat berguna terutama prosedur pembedahan dan hal-hal yang terjadi selama pembedahan berlangsung. Informasi ini membantu mendeteksi adanya perubahan semasa memonitor pasien post operasi.

Anda mungkin juga menyukai