Anda di halaman 1dari 7

DAKROSISTITIS KRONIK LAPORAN KASUS I.

Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Suku Bangsa Agama Pekerjaan Tanggal Pemeriksaan No. Rekam Medik : Tn. F : 18 Tahun : Laki-laki : Makassar : Islam : Pelajar : 20 Januari 2014 : 034570

II. ANAMNESIS Keluhan Utama : Benjolan dibagian bawah mata kiri Anamnesis Terpimpin : Dialami sejak 1 tahun yang lalu. Pasien

mengaku sering keluar nanah dari benjolan dibagian bawah mata kiri. Benjolan terasa Nyeri apabila ditekan (+), Nanah (+) apabila ditekan, keluar darah dari hidung (+) apabila ditekan, air mata berlebih (+), kotoran mata berlebih (-), rasa mengganjal (+) rasa berpasir dalam (+), penglihatan kabur (-). Riwayat trauma (+) 1 tahun yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas. Riwayat pengobatan sebelumnya (+) di rumah sakit pinrang dan tidak mengalami perubahan, terapi yang diberikan tidak diketahui obatnya.

FOTO KLINIS

III.

STATUS GENERALISATA Status Generalis : Sakit ringan, gizi cukup, composmentis Status Vitalis : Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu : 120/70 mmHg : 86x/mnt : 20x/mnt : Afebris

IV. PEMERIKSAAN A. Inspeksi OD Palpebra Apparatus Lakrimalis Silia Konjungtiva Edema (-) Epifora (-) Sekret (-) Hiperemis (-) OS Edema (-) Epifora (+) Sekret (-) Hiperemis (-)

Bola mata Mekanisme muscular ODS


Normal Normal ke segala arah :

Normal Normal ke segala arah:

OD OS Jernih Normal Coklat, Kripte (+) Bulat Sentral Refleks Cahaya (+) Jernih Jernih Normal Coklat,Kripte (+) Bulat Sentral Refleks Cahaya (+) Jernih

Kornea Bilik mata depan Iris Pupil Lensa

B. Palpasi OD Tensi ocular Nyeri tekan Massa tumor Glandula pre-aurikuler Tn Tidak ada pembesaran OS Tn + (+), Kenyal, Ukuran 1,5 cm x 1 cm dibawah OS Tidak ada pembesaran

C. Tonometri : Tidak dilakukan pemeriksaan D. Visus : VOD : 6/6 VOS : 6/6 E. Tes Anel : OD = (+), refleks pus (-) OS = (-), refleks pus (+) F. Campus visual : Tidak dilakukan pemeriksaan

G. Color sense : Tidak dilakukan pemeriksaan H. Light sense : Tidak dilakukan pemeriksaan I. Penyinaran optik OD Konjungtiva Kornea BMD Iris Pupil Hiperemis (-) Jernih Normal Coklat, Kripte (+) Bulat Sentral Refleks Cahaya (+) OS Hiperemis (-) Jernih Normal Coklat, Kripte (+) Bulat Sentral Refleks Cahaya (+)

J. Diafanoskopi : Tidak dilakukan pemeriksaan K. Oftalmoskopi FODS: Refleks fundus (+), papil N.II batas tegas, CDR: 0,3, A/V: 2/3, makula: reflex fovea (+), retina perifer kesan normal. L . Slit Lamp SLOD : konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, bilik mata depan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral, refleks cahaya (+). SLOS : konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, bilik mata depan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat sentral, refleks cahaya (+). M. Laboratorium : Belum dilakukan pemeriksaan

N. RESUME

Laki-laki 18 tahun datang ke poliklinik Mata BKMM dengan keluhan benjolan dibawah mata kiri yang dialami 1 tahun yang lalu. Pasien mengaku sering keluar nanah dari benjolan dibagian bawah mata kiri. Benjolan terasa Nyeri apabila ditekan (+), Nanah (+) apabila ditekan, keluar darah dari hidung (+) apabila ditekan, air mata berlebih (+), rasa menganjal (+) rasa berpasir dalam (+).Riwayat trauma (+) 1tahun yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas. Riwayat pengobatan sebelumnya (+)

dirumah sakit pinrang dan tidak mengalami perubahan, terapi yang diberikan tidak diketahui obatnya. Pada pemeriksaan oftalmologi pada inspeksi tampak benjolan dibawah mata kanan bawah, pada pemeriksaan visus VOD 6/6 dan VOS 6/6. Pada palpasi ditemukan nyeri tekan (+) pada benjolan, nanah (+), konsistensi kenyal dengan Ukuran 1,5 cm x 1 cm dibawah OS. Pada tes anel (-) pada OS.

IV.

DIAGNOSIS OS. Dakriosistitis kronik

V.

PROGNOSIS Qua ad vitam Qua ad visam Qua ad sanam Qua ad cosmeticam : Bonam : Bonam : Bonam : dubia at Bonam

VI.

TERAPI Pemeriksaan penunjang : Dacriosistografi Tindakan : Dakriosistorinostomi

V.

DISKUSI Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis akibat adanya obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis , yaitu: akut, kronik dan kongenital. Dakriosistitis biasanya disebabkan oleh karena adanya blockade pada saluran yang mengalirkan air mata dari kantong air mata ke hidung. Duktus yang terhalang menjadi terinfeksi. Dakriosistitis dapat berupa akut maupun kronik. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu malformasi pada duktus lakrimalis, luka, infeksi pada mata, maupun trauma.

Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran. Pada dakriosistitis akut, pasien akan mengeluh nyeri di daerah kantus medial yang menyebar ke daerah dahi, orbita sebelah dalam dan gigi bagian depan. Sakus lakrimalis akan terlihat edema, lunak dan hiperemi yang menyebar sampai ke kelopak mata dan pasien juga mengalami demam. Jika sakus lakrimalis ditekan, maka yang keluar adalah sekret mukopurulen. Pada dakriosistitis kronis gejala klinis yang dominan adalah lakrimasi yang berlebihan terutama bila terkena angin. Dapat disertai tanda-tanda inflamasi yang ringan, namun jarang disertai nyeri. Bila kantung air mata ditekan akan keluar sekret yang mukoid dengan pus di daerah punctum lakrimal dan palpebra yang melekat satu dengan lainnya. Pada dakriosistitis kongenital, kanalisasi yang tidak lengkap dari duktus nasolakrimalis memiliki peran yang penting dari pathogenesis yang terjadi. Obstruksi dari bagian bawah duktus nasolakrimalis seringkali ditemukan pada orang dewasa yang terkena dakriosistitis. Pasien memiliki riwayat trauma dan pernah diobati, dari situlah terjadi infeksi dapat berasal dari luka atau peradangan pada hidung. Meskipun demikian, pada kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui. Infeksi menyebabkan nyeri di daerah sekitar kantong air mata yang tampak merah dan membengkak. Mata menjadi merah dan berair serta mengeluarkan nanah. Selain itu, penderita juga mengalami demam. Jika infeksi yang ringan atau berulang berlangsung lama maka sebagian besar gejala mungkin menghilang hanya pembengkakan ringan yang menetap. Pada pasien ini didapatkan keluhan benjolan dibawah mata yang sudah dialami 1 tahun yang lalu, disertai adanya riwayat kelopak mata bengkak, memerah dan nyeri pada mata kiri. Dan juga terdapat riwayat keluar nanah dan riwayat trauma yaitu kecelakaan lalu lintas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan udem dan sedikit hiperemis pada palpebra inferior bagian medial. Pada pemeriksaan selanjutnya didapatkan tes anel

negatif pada OS, serta adanya lekositosis. Ini menandakan adanya infeksi yang sudah berlangsung lama pada saccus laksimalis (dakriosistitis kronik pada noculi sinistra). Dakriosistitis kronik pada kasus ini diterapi dengan cara memperbaiki sumbatan duktus nasolakrimal dengan cara pembedahan jika sudah tidak radang lagi. Penatalaksaan dakriosistitis dengan pembedahan bertujuan untuk mengurangi angka rekurensi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis adalah dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana pada DCR ini dibuat suatu hubungan langsung antara sistem drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan bypass pada kantung air mata.