Anda di halaman 1dari 13

FILSAFAT HUKUM

TEMA MAKALAH : Filsafat Hukum dan Tujuan Hukum Antara Keadilan,Kepastian,dan Kemanfataan. TOPIK MAKALAH : Pengaruh Pemikiran Filsafat Hukum (Mazha S!"i!l!gi"al #uris$ru%en"i& Manfaat Hukum %ikaitkan %engan Ke erlakuan Hukum %an Fungsi Hukum'

(aftar Kel!m$!k II : )Ketua )Pem i"ara )+!tulis )M!%erat!r : Marzuki Akmal : Ira*an : (i! Pratama : +iken ,intres*ari

-A- I

Pen%ahuluan A. Latar Belakang


Pemikiran tentang Filsafat hukum dewasa ini diperlukan untuk menelusuri seberapa jauh penerapan arti hukum dipraktekkan dalam hidup sehari-hari, juga untuk menunjukkan ketidaksesuaian antara teori dan praktek hukum. Manusia memanipulasi kenyataan hukum yang baik menjadi tidak bermakna karena ditafsirkan dengan keliru, sengaja dikelirukan, dan disalahtafsirkan untuk men apai kepentingan tertentu. Banyaknya kasus hukum yang tidak terselesaikan karena ditarik ke masalah politik. !ebenaran hukum dan keadilan dimanipulasi dengan ara yang sistematik sehingga peradilan tidak menemukan keadaan yang sebenarnya. !ebijaksanaan pemerintah tidak mampu membawa hukum menjadi "panglima# dalam menentukan keadilan, sebab hukum dikebiri oleh sekelompok orang yang mampu membelinya atau orang yang memiliki kekuasaan yang lebih tinggi. $alam beberapa dekade terakhir, fenomena pele ehan terhadap hukum semakin marak. %indakan pengadilan seringkali tidak bijak karena tidak memberi kepuasan pada masyarakat. &akim tidak lagi memberikan putusan adil pada setiap pengadilan yang berjalan karena tidak melalui prosedur yang benar. !eadaan dan kenyataan hukum dewasa ini sangat memprihatinkan karena peraturan perundang-undangan hanya menjadi lalu lintas peraturan, tidak menyentuh persoalan pokoknya, tetapi berkembang, menjabar dengan aspirasi dan interpretasi yang tidak sampai pada kebenaran, keadilan dan kejujuran. Fungsi hukum tidak bermakna lagi, karena adanya kebebasan tafsiran tanpa batas yang dimotori oleh kekuatan politik yang dikemas dengan tujuan tertentu. &ukum hanya menjadi sandaran politik untuk men apai tujuan, padahal politik sulit ditemukan arahnya. Politik berdimensi multi tujuan, bergeser sesuai dengan garis partai yang mampu menerobos hukum dari sudut manapun asal sampai pada tujuan dan target yang dikehendaki. Filsafat hukum rele'an untuk membangun kondisi hukum yang sebenarnya, sebab tugas filsafat hukum adalah menjelaskan nilai dasar hukum se ara filosofis yang mampu memformulasikan ita- ita keadilan, ketertiban di dalam kehidupan yang rele'an dengan pernyataan-kenyataan hukum yang berlaku, bahkan merubah se ara radikal dengan tekanan hasrat manusia melalui paradigma hukum baru guna memenuhi perkembangan hukum pada suatu masa dan tempat tertentu. Mengenai fungsi Filsafat &ukum menyatakan, bahwa ahli filsafat berupaya untuk meme ahkan persoalan tentang gagasan untuk men iptakan suatu hukum yang sempurna

yang harus berdiri teguh selamalamanya, kemudian membuktikan kepada umat manusia bahwa hukum yang telah selesai ditetapkan, kekuasaannya tidak dipersoalkan lagi. (uatu usaha untuk melakukan peme ahan menggunakan sistem hukum yang berlaku pada masa dan tempat tertentu, dengan menggunakan abstraksi terhadap bahan-bahan hukum yang lebih tinggi. Filsafat hukum memegang peranan penting dalam kegiatan penalaran dan penelaahan tujuan-tujuan masyarakat hukum $ari hal demikian kita menjadi bertanya apakah ita- ita atau tujuan hukum yang sebenarnya. $an pemikiran inilah yang mendasari dalam menyusun makalah ini.

-A- II Kerangka Te!ri

A'K!nse$ Te!ri Filsafat


(eseorang yang berfilsafat dapat diumpamankan sebagai seorang yang berpijak di bumi dan menengadah ke bintang-bintang. $ia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang, yang berdiri di pun ak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. $ia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. !arakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. (eorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi p andang ilmu itu sendrii. $ia ingin melihat hakekat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. $an #%iap ilmu dimulai dengan filsafat dan berakhir sebagai seni# ujar )ill $urant, "*+a, mun ul dalam hipotesis dan berkembang ke keberhasilan# Auguste -omte *./01-.12/,. Filsafat ialah gerak pemikiran yang metodis sistematis dan radikal mengenai "sangkaan-paraning dumadi#asal dan tujuan hidup#dan kedudukan manusia baiksebagai pribadi ataupun soom politi om dalam kelompok, jagad raya. *(oejono !oesoemo (isworo,. B. !onsep Pemikiran &ukum Pengertian hukum yang penuh dengan faliditas uni'ersal untuk semua fenomena hukum haruslah mampu menjadi wadah untuk dan beroreantasi pada ita hukum. Pengertian hukum dan ita hukum yang serasi seimbang itu harus mampu mengadirkan diri sebagai norma-norma dan institusi-institusi yang mudah dan sederhana di fahami dan diamalkan. *(oejono !oesoemo (isworo,,. Apa yang pertama mun ul sebagai hukum ialah yang berlaku dalam sebuah negara. &ukum itu adalah hukum posotif. 3ang berawal dari penetapan pimpinan. (edangkan ra kyat men ari hukum berarti rakyat menutuk untuk hidup bersama dalam masyarakat di atur se ara adil. 4ntuk mengesahkan tuntutan ini tidak perlu diketahui apa yang terkandung dalam undang-undang negara. 5akyat meminta supaya tindakan-tindakan yang diambil adalh sesuai dengan suatu norma yang lebih tinggi dari norma hukum dalam undang-undang.dan norma yang lebih tinggi ini dapat di samakan dengan prinsip-prinsi keadailan. *%heo &uijbers,. Bagunan hukum yang lengkap dan substansi logis dan etis harus mampu berpertanggung jawap dan dipertanggung jawapkan kepada 6rundnormnya. (edangkan hukum kodrat, keadilan dan kebenaran mewujudkan faktor regulatif dan sekaligus unsur konstitutif bagi hukum positif, dan ilmu hukum empiris dan ilmu hukum metafisis. *(oejono !oesoemo (isworo,

-. !onsep Pemikiran Filsafat &ukum Filsafat &ukum adalah hasil pemikiran yang metodis dan sistematisdan radikal tentang hakekat dan hal-hal yang funda mental dan marijinal dari hukum dari segala aspeknya, yang peninjauanya berpusat pada empat masalh pokok *(oejono !oesoemo (isworo, 7 .. 8. 9. :. &akekat pengertian hukum -ita dan tujuan hukum Berlakunya hukum *6eltung des 5e hts, Penerapan;pengalaman hukum *Awendung des 5e hts,. Filsafat memiliki abang umum dan khusus serta beberapa aliran didalamnya, terkait dengan persoalan hukum yang selalu men ari keadilan, hukum dan keadilan tidak sematamata ditentukan oleh manusia tetapi alam dan %uhan ikut menentukan. Alam akan memberikan hukum dan keadilan lebih karena alam mempunyai sifat keselarasan, keseimbangan, keajegan dan keharmonisan terhadap segalanya, alam lebih bijaksana dari segalanya. $an pada dasarnya fungsi filsafat hukum di bagi menjadi tiga *9, ma am *(oejono !oesoemo (isworo,, 7 .. 8. Fungsi %ransendental Logis 3akni men ari dan menyusun pengertian dasar hukum yang fundamental. Fungsi Fenimenologis 3akni meneliti sejarah uni'ersal dari hukum sebagai bentuk penjawatahan dari itahukum lestari. 9. Fungsi $eontologis 3akni meneliti ita hukum terutama keadilan dan hukum kodrat, sebagai ukuran idil dan umum bagi keadilan; kebenaran atau kdholiman hukum positif7 :. Fungsi <ntologis 3akni men ari dan men iptakan landasan-landasan hakiki yang mempersatukan se ara struktural dan ideal keseluruhan bangunan dan sistem hukum yang berdiri di atasnya. Filsafat hukum , sesuai da setia pada induknya yakni kodrat filsafat, mengandung dalam dirinya suatu aspek pandangan hidup dan dunia. (ebagai filsafat praktis diharapkan akan mampu memberikan jalan dan ara yang benar di dalam kehidupan manusia.

-A- III

Analisa Pem ahasan A. -ita- ita dan %ujuan &ukum.


=ika kita kembali pada persoalan pendefenisian hukum, maka istilah tentang apa yang dimaksud sebagai hukum, tergantung pada sudut pandang apa yang digunakan seseorang. &ukum dapat diartikan juga dalam artian yang agak metaforis seperti misalnya jika kita mengatakan tentang hukum-hukum fisika atau hukum-hukum kimia, demikian pula hukum benda-benda, artinya jika yang memandangnya seorang sosiolog, atau seorang sejarawan, seorang filosof, maka sudut pandangnya akan berbeda-beda, tergantung ia menganut aliran hukum apa. Pada umumnya hukum ditujukan untuk mendapatkan keadilan, menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat serta mendapatkan kemanfaatan atas dibentuknya hukum tersebut. (elain itu, menjaga dan men egah agar tiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri, namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku. (e ara singkat %ujuan &ukum antara lain7

keadilan kepastian kemanfaatan Menurut sumberlain juga mengatakan hukum bertujuan untuk men apai kehidupan

yang selaras dan seimbang, men egah terjadinya perpe ahan dan mendapat keselamatan dalam keadilan $alam membi arakan tentang tujuan hukum, sama sulitnya dengan membi arakan tentang pendefinisian hukum, karena kedua-duanya mempunyai obyek kajian yang sama yaitu membahas tentang hukum itu sendiri. Apa yang pertama-tama mun ul sebagai hukum ialah hukum yang berlaku dalam sebuah negara. &ukum sema am ini disebut hukum positif. Asal mula hukum ini iayalah penetapan oleh pimpinan yang sah dalam negara. !alau seorang ahli hukum berbi ara mengenai hukum biasanya yang dia maksud hukum adalah hukum ini. Lain lagi jikalu rakyat berbi ara mengenai hukum, rakyat men ari hukum untuk sebuah tujuan yaitu agar dapat hidup bersama dalam masyarakat diatur se ara adil.untuk mengesahkan tuntutan itu tidak perlualh kita men ari apa isi dari undang-undang nagara. 5akyat meminta agar tindakan atau kebijakan yang diambil oleh pemimpin mesti sesuai dengan norma yang lebih tinggi dari undang-undang itu sendiri. !arena norma yang lebih

tinggi itu memuat perinsip-perinsip keadilan. $an inilah yang dianggap tujuan hukum yang mengatur mereka *rakyat,. $ari kedua perbedaan jenis hukum diatas memang nyata dan ini pulah sangat berpengaruh terhadap tujuan hukum itu sendiri setiap enis memiliki tujuan mereka. %etapi lain soal lagi apakah kedua hukum ini dapat dipisahkan. Atas dasar tersebut dimana hukum merupakan suatu hal yang penting dalam mengatur dan men iptakan ketertiban dalam masyarakat kiranya dapat teratasi, sehingga dapat dikatakan bahwa hukum merupakan sekumpulan peraturan mengenai tingkah laku dalam masyarakat yang harus ditaati untuk men apai suatu tujuan. $alam fungsinya sebagai pelindung kepentingan manusia dalam masyarakat, dalam tujuan tersebut hukum mempunyai sasaran yang hendak di apai, dimana hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antara perorangan di dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengatur ara meme ahkan masalah hukum serta memelihara kepastian hukum itu sendiri. Berabjak dari hal tersebut, berbagai pakar di bidang hukum maupun di bidang ilmu sosial lainnya mengemukakan pandangannya masing-masing tentang tujuan hukum itu sendiri berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. (e ara etimologis kata tujuan, sebagaimana yang disebutkan dalam kamus besar bahasa +ndonesia diartikan sebagai "arah atau sasaran yang hendak di apai#

B. %elaah Filosofis %erhadat &akikat !eadilan (ebagai -ita- ita dan %ujuan &ukum.
Pembahasan mengenai tujuan hukum tidak lepas dari sifat hukum dari masing-masing masyarakat yang memiliki karakteristik atau kekhususan karena pengaruh falsafah yang menjelma menjadi ideologi masyarakat atau bangsa yang sekaligus berfungsi sebagai ita hukum. $ari landasan teori yang dikemukakan di atas terlihat dengan jelas perbedaanperbedaan pendapat dari para ahli tentang tujuan hukum, tergantung dari sudut pandang para ahli tersebut melihatnya, namun semuanya tidak terlepas dari latar belakang aliran pemikiran yang mereka anut sehingga dengannya lahirlah berbagai pendapat yang tentu saja diwarnai oleh aliran serta faham yang dianutnya. Adapun tujuan hukum pada umumnya atau tujuan hukum se ara uni'ersal yaitu menggunakan asas prioritas sebagai tiga nilai dasar hukum atau sebagai tujuan hukum,

masing-masing7 keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum sebagai landasan dalam men apai tujuan hukum yang diharapkan. (e ara khusus masing-masing jenis hukum mempunyai tujuan spesifik, sebagai ontoh hukum pidana tentunya mempunyai tujuan spesifik dibandingkan dengan hukum perdata, demikian pula hukum formal mempunyai tujuan spesifik jika dibandingkan dengan hukum materil, dan lain sebagainya. !alau dikatakan bahwa tujuan hukum adalah sekaligus keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum, apakah ini tidak menimbulkan masalah dalam kenyataan. (ebagaimana diketahui, di dalam kenyataanya sering sekali antara kepastian hukum terjadi benturan dengan kemanfaatan, atau antara keadilan dengan kepastian hukum, antara keadilan terjadi benturan dengan kemanfaatan. (ebagai ontoh dalam kasus-kasus hukum tertentu, kalau hakim menginginkan keputusannya adil *menerut persepsi keadilan yang dianut oleh hukum tersebut tentunya, bagi si penggugat atau tergugat atau bagi si terdakwa, maka akibatnya sering merugikan kemanfaatan bagi masyarakat luas ,sebaliknya kalau kemanfaatan masyarakat luas dipuaskan, perasaan keadilan bagi orang tertentu terpaksa dikorbankannya. <leh karena itu bagaimana keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Menurut Prof.Mu hsin, pada hakekatnya hukum merupakan alat atau sarana untuk mengatur dan menjaga ketertiban guna men apai suatu masyarakat yang berkeadilan dalam menyelengarakan kesejahtraan sosial yang berupa peraturan-peraturan yang bersifat memaksa dan memberikan sangsi bagi yang menyelengarakannya, baik itu untuk mengatur masyarakat ataupun aparat pemerintah sebagai penguasa. $itambahkan pula oleh Prof. Mu hsin, bahwa konsep dasar serta tujuan hukum hanyalah berbi ara pada dua konteks persoalan saja 7 .. !onteks yang pertama adalah keadilan yang menyakut tentang kebutuhan masyarakat akan rasa keadilan di tengah sangking banyaknya dinamika dan konflik di tengah masyarakat. 8. !onteks yang kedua adalah aspek legalitasmenyakut apa yang disebut dengan hukum positif, yaitu sebuah aturan yang ditetapkan oleh sebuah kekuasaan negara yang sah dalam pemberlakuannya dapat dipaksakan atas nama hukum. $ua konteks persoalan tersebut di atas seringkali terjadi benturan, diman hukum positif tidak menjamin sepenuhnya rasa keadilan, dan sebaliknya rasa keadilan seringkali tidak memiliki kepastian hukum. 4ntuk men ari jalan tengahnya komprominya adalah bagaimanabagaiman agar semua hukum positif ada dan hadir selalu merupakan ermin dari rasa keadilan.

$i samping itu hakekat hukum bertumpu pula pada idea keadilan dan kekuatan moral, idea keadilan tidak pernah lepas dengan kaitannyasebab membi arakan hukum, jelas atu samr-samar senantiasa merupakan pembi araan mengenai keadilan pula. (erupa dengan apa yang di kemukaan oleh Prof. Mu hsin, %heo &uijbers dari tiga tujuan hukum *yaitu kepastian, keadilan, dan kemanfaatan, keadilan harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada kepastian dan kemanfaatan. selanjutnya menjelaskan dan mengajak kita pertama-tama memandang hukum posotif se ara terpisah dari prinsip-prinsip keadilan. (eandainya hukum lepas dari norma-norma keadilan kemungkinanya ada hukum yang ditetapkan adalah hukum yang tidak adil. $an pertanyaanya adalah apakah hukum yang tidak adil memiliki kekuatan hukum > Lanjaut %heo &uijbers menegemukakan untuk mengetahui mengerti apakah hukum sebenarnya apakah makna hukum itu hukum ialah mewujudkan keadilan dalam hidup bersama manusia. Makna ini ter apai dengan di masukanya prinsip-prinsip keadilan dalam peraturan-peraturan hidup bersama waktu itu. Maka sebenarnya yang di sebut dengan hukum posotif yang merupakan suatu realisasi dari prinsip keadilan. !einsyafan keadilan dalam hubungan dengan hukum tidak hanya dimiliki oleh rajyat . yang berkuasa dalam sebuah negara semestinya sadar akan perlunya keadilan karena kesadaran ini para penguasa politik sekuat tenaga berusaha untuk mengesahkan tindakantindakanya seakan-akan tindakan itu sesuai dengan prinsip keadilan. (elanjutnya %heo &uijbers menegemukakan bila hukum hanya dipandang sebagi hukum kalau tidak menetang keadilan, konseksuensinya iyalah bahwa peraturan hukum yang tidak memuak konsep keadilan maka bukanlah hukum yang sebenarnya. Memang 4ndang-undang memiliki kelebihan dalam memenuhi tujuan kepastian, namun ia juga memiliki kelemahan karena sifatnya akan menjadi tidak fleksibel, kaku, dan statis. Penulisan adalah pembatasan, dan pembatasan atas suatu hal yang sifatnya abstrak *pembatasan dalam konteks materi, dan dinamis *pembatasan dalam konteks waktu, seperti halnya value consciousness masyarakat ke dalam suatu undang-undang se ara logis akan membawa kepada konsekuensi ketertinggalan substansi undang-undang tersebut atas bahan pembentuknya *nilai-nilai masyarakat,. (uatu undang-undang memang memiliki mekanisme pembaharuan * legal reform, sebagai upaya meminimalisir sifat ketidak dinamisannya, namun setiap orang juga mengetahui bahwa memperbarui suatu undang-undang baik melalui proses legislasi maupun proses kontekstualisasi oleh hakim bukanlah perkara yang gampang untuk dilakukan. Proses

legislasi tidak dapat dipungkiri juga merupakan manifestasi proses pergulatan politik, dimana untuk menghasilkan suatu undang-undang yang baru tidak akan dapat dilangsungkan dalam waktu yang singkat karena membutuhkan upaya pen apaian kesepakatan atas kelompokkelompok dengan 'isi dan misi yang berbeda-beda. <lehnya itu saat ini asas prioritas yang pertama-tama kita harus memprioritaskan keadilan barulah kemanfaatan dan terakhir adalah kepastian hukum. +dealnya diusahakan agar setiap putusan hukum, baik yang dilakukan oleh hakim, jaksa, penga ara maupun aparat hukum lainnya, seyogyanya ketiga nilai dasar hukum itu dapat diwujudkan se ara bersamasama, tetapi manakala tidak mungkin, maka haruslah diprioritaskan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. $engan penerapan asas prioritas ini, sisten hukum kita dapat tetap tegak terhindar dari konflik intern yang dapat menghan urkan. 4ntuk men apai tujuan yang dapat men iptakan kedamaian, ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat, terutama masyarakat yang kompleks dan mejemuk seperti di +ndonesia, maka semestinya kita menganut asas prioritas yang kasuistis yang ketika tujuan hukum diprioritaskan sesuai kasus yang dihadapi dalam masyarakat, sehingga pada kasus tertentu dapat diprioritaskan salah satu dari ketiga asas tersebut sepanjang tidak mengganggu ketenteraman dan kedamaian merupakan tujuan akhir dari hukum itu sendiri.

BAB +? P@A4%4P

A. !esimpulan
%ujuan hukum se ara umum ialah arah atau sasaran yang hendak di apai hukum dalam mengatur masyarakat. $alam rumusan tentang tujuan hukum masih terdapat perbedaan pendapat antara para ahli hukum. &al ini disebabkan karena sifatnya yang uni'ersal, adanya faktor penyebab lain yaitu dari masing-masing masyarakat atau bangsa yang memiliki karakteristik yang menjelma menjadi ideologi bangsa yang sekaligus berfungsi sebagai ita hukum. Pada umumnya hukum ditujukan untuk mendapatkan keadilan, menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat serta mendapatkan kemanfaatan atas dibentuknya hukum tersebut. (elain itu, menjaga dan men egah agar tiap orang tidak menjadi hakim atas dirinya sendiri, namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku. (e ara singkat %ujuan &ukum antara lain7

keadilan kepastian kemanfaatan Aamun dengan perkembangan saman terjadi "benturan# antara !eadilan $an kepastian

hukum, dalam penerapan hukum kan yang di dahulukan adalah kepastin hukum. Padahal jikalu kita melihat se ara filosofis dan dari pendapat beberapa pakar, yang mesti didahulukan adalah keadailan, ontohnya yang di kemukankan oleh %heo &uijbers, dari tiga tujuan hukum *yaitu kepastian, keadilan, dan kemanfaatan, keadilan harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada kepastian dan kemanfaatan. $an sesunguhnya kepastian hukum dalam arti peraturan-peraturan lahir untuk menguatkan pondasi atau landasan dari tujuan hukum sesungguhnya, namun sebliknya kini kepastian hukun lebih mendominasi, bahkan (eorang &akin kini dianggap hanya menjadi "-orong 4ndang-undang# hal ini, dianggap oleh penulis adalh dampak atau pengaruh dari kultur, civil law system yang menghendaki hakim untuk mendasarkan diri se ara ketat kepada bunyi undang-undang walaupun undang-undang tersebut telah ketinggalan jaman. $an dari hasil analisis se ara filosofis dapat di simpulkan bahwa hakekat tujuan hukum itu adalah keadilan, dan kepastian hukumsebagai perwujudan keadilan maka di setiap undang-undang harus memuat konsep keadilan dan jikalu dalam penegakan peraturan itu tidak memenuhi rasa keadilan maka sesungguhnya itu bukanlah hukum.

"Penulis ingin mengemukakan bahwa sesunguhnya keadilan itu tidak perlu difinisi karena keadilan itu adalah sebuah keputusan sikap, perasaan nurani dari indi'idu atu kelompok, adil bagi pihak yang lain belum tentu adil bagi pihak lain merasakan rasa *adil, yang sama, adil bagi penguasa belum tentu adil bagi masyarkat, dan sebaliknya. Maka kosepnya, keadilan harus dibalut oleh kepastian hukum yang jelas dengan ataan setiap kepastian hukum *aturan-aturan, harus memenuhi rasa nurani masayrakat yang lebih banyak.#

B. (aran
(ebagai saran mengutip apa yang dikemukakan oleh Prof. Mu hsin, $ua konteks persoalan antara kepastian hukum terjadi benturan dengan kemanfaatan, atau antara keadilan dengan kepastian hukum, antara keadilan terjadi benturan dengan kemanfaatan seringkali terjadi benturan, dimana hukum positif tidak menjamin sepenuhnya rasa keadilan, dan sebaliknya rasa keadilan seringkali tidak memiliki kepastian hukum. 4ntuk men ari jalan tengahnya komprominya adalah bagaimana agar semua hukum positif ada dan hadir selalu merupakan ermin atau memuat rasa keadilan.

$AF%A5 P4(%A!A

.. 8.

&uijbers,%heo..018. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. 3ogyakarta7 !anisius. (isworo,!oesoemo,(oejono,(&,-A..010. pidato pengukuhan; mempertimbangkan

beberapa pokok pikiranberbagai aliran filsafat hukum dala relasi dan relevansidengan pembanguna pembinaan hukum indonesia.(emarang BFakultas &ukum 4ni'. $iponogoro 9. :. Mu hsinProf.,$5,&,(&. !ateri "okok Filsafat Hukum. Mu hsinProf.,$5,&,(&. #ilai$#ilai %eadilan.