Anda di halaman 1dari 17

ABSTRAK Distribusi sistem tenaga listrik merupakan salah satu bagian dari sistem kerja di PT.

PLN (Persero) . Distribusi ini berkaitan dengan usaha untuk mendistribusikan tenaga listrik ke konsumen dan menjaga kontinuitas dan kualitas pendistribusian tenaga listrik. Demi menjaga mutu atau kualitas listrik yang dipasok maka PLN menempatkan orangorang yang memang ahli dan paham betul dalam bagian operasional distribusi yang mana setiap saat selalu memantau perkembangan pendistribusian listrik di area Yogyakarta yang mana setiap saat langsung terjun ke lapangan apabila terjadi gangguan gangguan. Serta melakukan pemeliharaan secara rutin dan berkala. Meningkatnya perkembangan teknologi dan juga faktor lingkungan di wilayah

Yogyakarta mengakibatkan konstruksi jaringan distribusi juga harus mengikuti perkembangan teknologi serta perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Agar dapat lebih efektif dan efisien bagi PLN serta memuaskan pelayanan kepada pelanggan, maka harus dilakukan perubahan standar konstruksi jaringan distribusi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan juga perubahan lingkungan yang ada di wilayah Yogyakarta saat ini. Dengan demikian selain memuaskan pelayanan kepada pelanggan perubahan standar konstruksi jaringan distribusi ini juga dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat. Kata kunci : standar konstruksi, jaringan distribusi, wilayah Yogyakarta.

ABSTRACT Distribution power system is one part of the system working in PT . PLN ( Persero ) . This distribution is related to the effort to distribute electricity to consumers and maintain the continuity and quality of power distribution . In order to maintain the quality of electricity supplied or the quality of the PLN put people who are experts and well aware of the operational part of the distribution which is at all times to monitor the development of electricity distribution in the Yogyakarta area where at any time plunge into the ground in the event of disruptions. And perform routine maintenance and periodic . The increasing development of technology and also the environmental factors in the Yogyakarta area resulted in the construction of the distribution network must also keep abreast of technological and environmental changes in the region. In order to more effectively and efficiently for the PLN as well as satisfactory service to customers , it must be revised construction standard distribution network in accordance with technological developments and changes in the existing environment in the area of Yogyakarta today . Thus in addition to satisfying customer service standard changes the distribution network construction is also intended for the safety and convenience of the public Keywords : standard construction , distribution network , Yogyakarta region .

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang PLN sebagai Perusahaan Listrik Negara berusaha untuk mensuplai energi listrik yang ada dengan seoptimal mungkin, seiring dengan semakin meningkatnya konsumen energi listrik. Kebutuhan energi listrik menjadi semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduknya yang dilihat dari faktor ekonomi dan kesejahteraan. Meningkatnya penggunaan energi listrik oleh masyarakat sebaiknya disesuaikan dengan peningkatan infrastruktur yang sudah ada dalam suatu system ketenaga listrikan. Sehingga penyaluran energi listrik kepada konsumen akan berjalan dengan baik sesuai dengan hasil yang diharapkan. Keberhasilan dalam penyaluran tenaga listrik tidak terlepas dari desain maupun kriteria pada jaringan distribusi. Di Indonesia umumnya hanya memakai dua desain jaringan distribusi, namun untuk kriteria di setiap daerah tidaklah sama, dan bisa saja berbeda karena menyesuaikan dengan wilayah di Indonesia yang memiliki kondisi alam dan lingkungan yang berbeda-beda. Dengan desain maupun kriteria yang tepat dalam pemasangan jaringan distribusi maka penyaluran energi listrik memiliki keandalan dan kualitas yang baik. Ada beberapa desain dan kriteria dalam pemasangan jaringan distribusi agar sesuai dengan tempat dimana jaringan itu berdiri, sehingga penyaluran tenaga listrik bisa lancar dan tidak mengalami gangguan. Dalam membangun instalasi jaringan tegangan menengah tenaga listrik di PT PLN (Persero) diperlukan Standar Konstruksi Gardu Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik yang merupakan penjabaran dari Kriteria Desain Enjinering Konstruksi Jaringan Distribusi Tenaga Listrik. Selama ini konstruksi instalasi tenaga listrik di PT PLN (Persero), masih mengacu pada tiga macam Standar Konstruksi Distribusi yang dibuat oleh konsultan dari manca negara.Kriteria Desain Enjiniring Konstruksi dan Standar Konstruksi Jaringan Tenaga Listrik termasuk Standar Konstruksi Gardu Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik ini masih mengacu pada Konsultan Sofrelec dari Perancis, dengan pembumian system tahanan rendah (12 dan 40 )

berlaku di Jaringan Distribusi DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali dan sebagian Unit di luar Jawa. Konsultan Chas T. Main dari Amerika Serikat, dengan pembumian sistem Solid (langsung ke bumi) atau Multi Grounded Common Neutral, Low and Medium Voltage Network berlaku di Jawa Tengah & DIY dan sebagian Unit di luar Jawa. Sedangkan Konsultan New Jec dari Jepang, dengan pembumian sistem tahanan tinggi (500 ) berlaku di Jawa Timur. Disamping Standar Konstruksi yang masih berbedabeda, ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan, adalah ; pemanfaatan tiang listrik untuk telematika, semakin sulitnya memperoleh lokasi tanah gardu yang cukup dan tepat serta kemajuan teknologi material distribusi tenaga listrik. Untuk keperluan penyederhanaan pengelolaan investasi serta kelancaran pengusahaan ketenaga listrikan di wilayah PT. PLN (Persero) sesuai dengan SPLN 72 tahun 1987, maka penulis mengambil judul : Perencanaan Konfigurasi Sistem Jaringan Distribusi 20KV di Wilayah Kecamatan Kalasan

1.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas pada kegiatan ini yaitu perencanaan dalam peningkatan kualitas sistem pada jaringan distribusi tenaga listrik sesuai dengan perkembangan teknologi terkini dan kondisi lingkungan yang ada di Indonesia.

1.3 Batasan Masalah Konfigurasi sistem pada jaringan distribusi di setiap daerah Indonesia berbeda-beda. Pada kegiatan ini akan dibahas mengenai perencanaan konfigurasi sistem yang dapat diterapkan pada jaringan distribusi di wilayah Kecamatan Kalasan. Tidak membahas konstruksi maupun kriteria konfigurasi sistem jaringan distribusi di luar wilayah tersebut.

1.4 Manfaat Kegiatan Manfaat dari tugas akhir ini adalah : 1. Menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaharui sistem konfigurasi pada jaringan distribusi di wilayah Kecamatan Kalasan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kondisi lingkungan yang ada.

2. Mengetahui kondisi sistem jaringan distribusi yang tepat untuk wilayah Kecamatan Kalasan agar lebih efektif dan efisien dalam proses penyaluran tenaga listrik. 3. Mengetahui beberapa desain dan kriteria sistem yang terpasang pada jaringan distribusi. 4. Meningkatkan keandalan sistem jaringan distribusi. 1.5 Tujuan Kegiatan Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah : 1. Memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program Studi Diploma III Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
2. Sebagai sarana mahasiswa untuk berlatih mengimplementasikan teori yang

telah mereka peroleh dari bangku perkuliahan.


3. Melatih mahasiswa untuk disiplin dan bertanggung jawab pada apa yang

menjadi tugasnya.
4. Sebagai media pembelajaran mahasiswa. 5. Mengembangkan wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam melakukan

pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang dimiliki.


6.

Agar mahasiswa memperoleh keterampilan dan pengalaman kerja praktis sehingga secara langsung dapat memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan di bidang penyaluran tenaga listrik.

7. Agar mahasiswa dapat melakukan dan membandingkan penerapan teori yang

diterima di jenjang akademik dengan praktek yang dilakukan di lapangan.


8. Meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara perguruan tinggi,

pemerintah, dan instansi terkait.

BAB II DESKRIPSI UMUM

2.1 Sistem Pendistribusian Tenaga Listrik


Unit distribusi tenaga listrik merupakan salah satu bagian dari suatu sistem tenaga listrik yang terdiri dari unit pembangkit, unit penyaluran / transmisi dan unit distribusi yang dimulai dari PMT incoming di Gardu Induk sampai dengan Alat Penghitung dan Pembatas (APP) di instalasi konsumen. Rangkaian dari semua ini dapat di ilustrasikan seperti pada gambar berikut :

Unit Pembangkitan

Unit Transmisi

Gardu Induk distribusi

Unit Distribusi

G
Generator

Trf

Trf
Transformator

PMT
Pemutus Tenaga

PMT

Konsumen Besar Konsumen Umum

Gambar 2.1 Instalasi Sistem Tenaga Listrik

Unit distribusi tenaga listrik dalam hal ini berfungsi untuk menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari pusat pusat suplai atau Gardu Induk ke pusatpusat beban yang berupa gardu gardu distribusi (gardu trafo) atau secara langsung mensuplai tenaga listrik ke konsumen dengan mutu yang memadai. dengan demikian unit distribusi ini menjadi suatu sistem tersendiri karena unit distribusi ini memiliki komponen peralatan yang saling berkaitan dalam operasinya untuk menyalurkan tenaga listrik.

Distribusi Distribusi sekunder Primer

Sistem adalah perangkat unsur-unsur yang saling ketergantungan yang disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menampilkan fungsi yang ditetapkan. Dilihat dari tegangannya unit distribusi dapat dibedakan dalam dua macam yaitu : a. Distribusi Primer, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dengan tegangan operasi nominal 20 kV/ 11,6 kV b. Distribusi Sekunder, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dengan tegangan operasi nominal 380 / 220 volt

Dalam rencana pengembangan dan perluasan jaringan distribusi tenaga listrik sedikitnya ada tiga kriteria sebagai dasar rekayasa (basic engineering) yang semestinya diperhatikan dalam pengembangan distribusi ketenaga listrikan yaitu : 1. Desain sistem dan peralatan distribusi serta pembuatannya 2. Penentuan garis-garis besar standar konstruksi yang didasarkan pada peralatan yang diperoleh 3. Memilih dan menyeleksi berbagai macam standar konstruksi yang akan digunakan pada situasi tertentu berdasarkan hal-hal tertentu yang ditetapkan perusahaan

BAB III LANDASAN TEORI

3.1 Tipe-tipe Jaringan Distribusi Tegangan Menengah Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer 20kV) dapat dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan hantaran penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop), Jaringan Spindel dan Sistem Gugus atau Kluster. a. Jaringan Radial Sistem distribusi dengan pola Radial adalah sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi tetapi penyulang ini tidak saling berhubungan.

Gambar 3.1 Konfigurasi Jaringan Radial

Catu daya berasal dari satu titik sumber dan karena adanya pencabanganpencabangan tersebut, maka arus beban yang mengalir disepanjang saluran menjadi tidak sama sehingga luas penampang konduktor pada jaringan bentuk radial ini ukurannya tidak sama karena arus yang paling besar mengalir pada jaringan yang paling dekat dengan gardu induk. Sehingga saluran yang paling dekat dengan gardu induk ini ukuran penampangnya relatif besar dan saluran cabang-cabangnya makin keunjung dengan arus beban yang lebih kecil mempunyai ukuran konduktornya lebih kecil pula.
8

Spesifikasi dari jaringan bentuk radial ini adalah :


1. 2. 3.

Bentuknya sederhana. Biaya investasinya murah. Kualitas pelayanan dayanya relatif jelek, karena rugi tegangan dan rugi daya yang terjadi pada saluran relatif besar.

4.

Kontinuitas pelayanan daya kurang terjamin sebab antara titik sumber dan titik beban hanya ada satu alternatif saluran sehingga bila saluran tersebut mengalami gangguan maka akan mengalami black out secara total.

Untuk melokalisir gangguan pada bentuk radial ini biasanya dilengkapi dengan peralatan pengaman, fungsinya untuk membatasi daerah yang mengalami pemdaman total, yaitu daerah saluran sesudah atau dibelakang titik gangguan selama gangguan belum teratasi.

b. Jaringan Lingkar (Loop) Pada sistem ini terdapat penyulang yang terkoneksi membentuk loop atau rangkaian tertutup untuk menyuplai gardu distribusi. Gabungan dari dua struktur radial menjadi keuntungan pada pola loop karena pasokan daya lebih terjamin dan memiliki keandalan yang cukup.

Gambar 3.2 Konfigurasi Jaringan Lingkar (Loop)

c. Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line) Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan tambahan Automatic Change Over / Automatic Transfer Switch, setiap penyulang terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut, sehingga bila salah satu penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan dipindah ke penyulang lain.

Gambar 3.3 Konfigurasi Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)

d. Jaringan Spindle Sistem spindle adalah suatu pola konfigurasi jaringan dari pola radial dan ring. Spindle terdiri dari beberapa penyulang (feeder) yang tegangannya diberikan dari gardu induk dan tegangan tersebut berakhir pada gardu hubung (GH). Pada sebuah spindle biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung.

10

Gambar 3.4 Konfigurasi Jaringan Spindle

e. Jaringan Gugus atau Kluster Dalam sistem ini terdapat saklar pemutus beban dan penyulang cadangan, dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi pada salah satu penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang menggantikan fungsi supply kekonsumen.

Gambar 3.5 Konfigurasi Jaringan Gugus atau Kluster

11

3.2 Tolok Ukur Pengoperasian pada Jaringan Distribusi Keberhasilan pengoperasian jaringan tegangan rendah dapat dilihat dari tolok ukur sebagai berikut: a. Mutu listik harus terjaga Ada dua hal yang menjadi ukuran mutu listrik, yaitu tegangan dan frekuensi. Untuk tegangan pelayanan ditentukan oleh : Batasan toleransi tegangan, pada konsumen TM adalah 5 % , sedangkan pada konsumen TR maksimum + 5 % dan minimum 10 %. Keseimbangan tegangan pada setiap titik sambungan. Kedip akibat pembebanan sekecil mungkin. Hilang tegangan sejenak akibat manuver secepat mungkin. dari

Sedangkan untuk frekuensi, batas toleransi frekuensi adalah 1 % frekuensi standar 50 Hz.

Faktor yang mempengaruhi baik buruknya mutu listrik pada jaringan distribusi tersebut adalah faktor pembebanan pada system itu, pembebanan yang tidak stabil oleh karena pengoperasian normal atau karena adanya gangguan dari suplay GI penyulang.

b. Keandalan penyaluran tenaga listrik Sebagai indikator penyaluran adalah angka lama dan atau seringnya pemadaman pada pelanggan yan disebut dengan angka SAIDI dan SAIFI. Angka lama padam : SAIDI (system average interuption uration index) lama padam x jumlah pelanggan padam SAIDI = jumlah pelanggan x 1 tahun = ........menit/ pelanggan.tahun

12

Angka sering padam : SAIFI (system average interuption frequency index) seringnya padam x pelanggan padam SAIFI = jumlah pelanggan x 1 tahun = kali / pelanggan.tahun Beberapa faktor yang mempengaruhi SAIDI dan SAIFI adalah : Konfigurasi jaringan yang berkaitan dengan maneuver Kondisi jaringan yang rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun dari luar system Cara pengoperasiannya yang tidak memperhatikan kemampuan peralatan maupun kemampuan pasokan daya. Sedangkan untuk menurunkan angka SAIDI dan SAIFI dapat dilakukan dengan cara: Meningkatkan kualitas konfigurasi jaringan Meningkatkan pasokan tenaga listrik alternatif Meningkatkan kualitas pemeliharaan Meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petugas Mempersiapkan petugas dengan jumlah yang memadai dengan jumlah pelanggan Menggunakan material sesuai standar Mengidentifikasi peralatan yang sering rusak Meningkatkan kualitas teknik informasi pelanggan Memutahirkan teknik data jaringan

c. Keamanan dan Keselamatan terjamin Sebagai indikator keamanan dan keselamatan adalah jumlah kecelakaan akibat listrik pada personil dan kerusakan pada instalasi atau peralatan maupun lingkungan. Untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan dapat dilakukan dengan :
13

Memperbaiki kondisi instalasi agar memenuhi persyaratan Sistem proteksi harus berfungsi dengan baik Pemeliharaan instalasi sesuai jadual Alat kerja dan peralatan keselamatan kerja memenuhi syarat Koordinasi kerja yang baik Menginformasikan kepada masyarakat akan bahaya listrik dan untuk menghindarinya

d. Biaya Pengoperasian Effisien Sebagai indikatornya adalah angka susut jaringan, yaitu selisih antara energi yang dikeluarkan oleh gardu atau pembangkit dengan energi yang digunakan oleh pelanggan. Berikut ini adalah beberapa penyebab susut jaringan : Pencurian listrik Kesalahan alat ukur Kesalahan rasio CT Kesalahan ukuran penghantar Jaringan terlalu panjang Faktor daya rendah Kualitas konektor dan pemasangannya jelek

e. Mempertahankan Kepuasan Pelanggan Mempertahankan kepuasan pelanggan dapat terjadi apabila kebutuhan akan listrik dari konsumen baik kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas pelayanan terpenuhi. Oleh karena itu perlu memperhatikan hal-hal berikut ini : Pengendalian tegangan, yaitu mengadakan pengaturan mulai dari tingkat suplai sampai ke titik ujung tegangan pada batas toleransi yang diijinkan. Pengendalian beban, yaitu membatasi pembebanan sesuai kemampuan sumber pasokan tenaga listrik, maupun peralatan dan material jaringan.

14

3.3 Optimasi Jaringan Distribusi Tegangan Rendah Optimasi jaringan distribusi adalah pengoperasian jaringan distribusi yang paling menguntungkan. Tetapi hal tersebut masih berada pada sistem yang ditetapkan, yaitu : Daya terpasang tidak berlebihan Beban tidak terlalu kecil Rugi tegangan dan daya dalam batas-batas normal Keandalan sistem distribusi menjadi prioritas Kemanan terhadap lingkungan terjaga Secara ekonomis menguntungkan Susut umur peralatan sesuai rencana

Sedangkan optimasi pembebanan penghantar adalah batasan arus pada penghantar sesuai dengan kuat hantar arus (KHA) dan kondisi sekitarnya. Sebab apabila arus yang dibebankan berlebihan, akan mengakibatkan : Pelunakan pada titik tumpu penghantar Pelunakan pada titik tumpu ikatan penghantar Berkurangnya jarak aman/ andongan Kerusakan isolasi

15

DAFTAR PUSTAKA

Fitzgerald, AE ,dkk. 1997. Mesin-Mesin Listrik. Jakarta: Erlangga. Kelompok Kerja Standar Kontruksi Disribusi Jaringan Tenaga Listrik dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Universitas Indonesia. 2010. Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Rendah Tenaga Listrik. Jakarta: PT. PLN (Persero). PT. PLN (Persero). Materi Diklat Pengoperasian JTM. Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah. Rijono. 1997. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Yogyakarta: ANDI. Rachman, Arfita Yuana Dewi, dkk. 1999. Perencanaan Saluran Udara Tegangan Menengah. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suswanto, Daman. 2000. Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

16

17