Anda di halaman 1dari 8

Bambang Rusdiarso, Studi Ekstraksi Pelarut

STUDI EKSTRAKSI PELARUT EMAS (III) DALAM LARUTAN


KONSENTRAT TEMBAGA PT FREEPORT DENGAN 8-METYLXANTIN
(Study on Solvent Extraction of Au (III) in Cu-Concentrate Solution at PT Freeport by
using 8-Methylxantine )

Bambang Rusdiarso

Jurusan Kimia FMIPA, UGM, Sekip Utara, Yogyakarta 55281

ABSTRAK

Telah diteliti ekstraksi pelarut emas (III) dalam konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia dengan
8-Metilxantin. Tiga tahapan penelitian telah dilakukan yaitu sintesis ekstraktan 8-Metilxantin, uji
kemampuan dan selektifitas ekstraksi emas dan aplikasinya dalam ekstraksi emas dalam sampel
konsentrat tembaga. Hasil sintesis menunjukkan bahwa ekstraktan 8-Metilxantin berupa kristal
putih kekuning-kuningan dengan titik lebur 366 – 368 oC. Selektivitas ekstraksi emas (III)
terhadap ion logam tembaga dan ion logam besi, sangat tinggi. Ekstraktan 8-Metilxantin mampu
mengisolasi emas (III) dalam konsentrat tembaga dan struktur senyawa hasil ekstraksi diduga
merupakan senyawa komplek dua inti

Kata kunci : ekstraksi emas, konsentrat Cu, metilxantin

ABSTRACT

Solvent extraction of Au (III) in Cu-concentrate solution at PT Freeport Indonesia by using 8-


Methylxanthine had been carried out. Three steps of research consisted of Synthesis of 8-
Methylxanthine as an extractant, Selectivity and Ability Test of gold extraction, and its application
for the sample of Cu-concentrate. The result of synthesis showed that the extractant 8-
Methylxanthine was a yellowish white crystal with m.p. 366 – 368 0C. The selectivity of Au (III)
extraction on to Cu as well as Fe metal ions was very high. The extractant 8-Methylxanthine was
able to isolate Au(III) in the Cu-concentrate and the structure of compound obtained was predicted
to be two nuclei complex compound.

Keywords : extraction, gold, Cu-Concentrate, methylxanthine

Makalah diterima tanggal 26 Maret 2007

1. PENDAHULUAN Pada industri , emas diperoleh dengan cara


mengisolasinya dari batuan bijih emas. Menurut
Di bumi, umumnya emas ditemukan dalam Greenwood dkk (1989), batuan bijih emas yang
bentuk logam (native) yang terdapat di dalam layak untuk dieksploitasi sebagai industri tambang
retakan-retakan batuan kwarsa dan dalam bentuk emas, kandungan emasnya sekitar 25 g/ton.
mineral. Emas juga ditemukan dalam bentuk emas Metode isola si emas yang saat ini banyak
aluvial yang terbentuk karena proses pelapukan digunakan untuk keperluan eksploitasi emas skala
terhadap batuan-batuan yang mengandung emas industri adalah metode sianida dan metode
(gold -bearing rocks) (Lucas, 1985). Kelimpahan amalgamasi (Hiskey, 1985 dan Lee, 1994) Namun
relatif emas didalam kerak bumi diperkirakan demikian, kedua metode tersebut memiliki
sebesar 0,004 g/ton, termasuk sekitar 0,001 g/ton beberapa kelemahan. Kelemahan metode sianida
terdapat didalam perairan laut . adalah : (a) proses berjalan sangat lambat, dan (b)

15
Berkala MIPA, 17 (2), Mei 2007

menggunakan natrium sianida yang sangat Konsentrasi ekstraktan, pH, lama pengadukan dan
beracun (Parkes dan Phil, 1961). Pada metode adanya logam lain dalam sistem. Konsentrasi emas
amalgamasi, penggunaan merkuri dapat total dalam phase air ditentukan dengan metode
berdampak mencemari lingkungan. Oleh karena spektrometri serapan atom, dan konsentrasi emas
itu, perlu dilakukan usaha untuk menciptakan dalam phase organik dihitung berdasarkan
metode pemisahan emas alternatif yang lebih baik konsentrasi emas sebelum dan sesudah proses
(Steele et al, 2000). ekstraksi. Pengaruh pH larutan (keasaman) phase
Diantara beberapa metode isolasi logam- air dipelajari dengan cara memvariasikan
logam yang mempunyai nilai ekonomis, metode konsentrasi larutan NaOH yang digunakan dalam
ekstraksi pelarut adalah suatu metode yang telah sistem ekstraksi. Untuk mengetahui selektivitas
banyak aplikasinya didalam bidang industri saat ekstraksi, khususnya terhadap logam-logam yang
ini (Mojski, 1980, Jensen et al, 1980, Lewis et al, terkandung dalam sampel konsentrat tembaga,
1975, Mojski, 1979, Zipperian and Raghavan, misal : tembaga (II), dan besi (II) , kedalam
1998). Pemilihan metode ekstraksi pelarut untuk sampel larutan emas (III) ditambahkan logam
keperluan pemisahan logam, pada umumnya, pengganggu tersebut dengan konsentrasi dua kali
disebabkan oleh kelebihan-kelebihan yang konsentrasi emas (III). Untuk mengetahui
dimilikinya, diantaranya, mudah, desain kemampuan ekstraktan hasil sintesis (metilxantin),
eksperimennya sederhana, cepat prosesnya dan diaplikasikan pada ekstraksi emas (III) dalam
luas cakupannya. Teknik ekstraksi pelarut sudah sampel konsentrat tembaga yang diperoleh dari PT
digunakan secara besar-besaran untuk memperoleh Freeport Indonesia
kembali logam-logam trace yang mempunyai nilai
ekonomis (emas, perak) (Bailes et al, 1980, 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kordosky,1993) ; yang merugikan lingkungan
(logam radioaktif atau beracun) (Paping, 1983, Sintesis 8-Metilxantin.
Ayres, 1997) ; atau untuk memisahkan logam yang Hasil sintesis 8-metilxantin terdiri dari
mempunyai sifat mirip (misal : Zr-Hf, Ni-Co, Nb- empat tahapan sintesis, yaitu sintesis 5-nitroso-6-
Ta, Logam tanah jarang) (Ritshey dan Ashbrock, aminourasil ( tidak stabil sehingga tidak dapat
1984). ditentukan efisiensinya), reduksi gugus nitro,
Penerapan metode ekstraksi pelarut untuk asetilasi dan siklisasi. Dibandingkan dengan
pemisahan emas, memerlukan suatu ekstraktan metode Norman, yang menggunakan pereduksi
yang memiliki selektivitas pemisahan tinggi, natrium ditionit (Na2 S2 O4 ), efisiensi reduksi
karena emas merupakan unsur kelumit (trace) senyawa nitroso yang diperoleh dalam penelitian
diantara logam – logam lain yang merupakan ini (61 %) lebih rendah, yaitu berkisar antara 68%
unsur utama (Deschenes, 1998, Addison, 1980), - 81% (Norman, 1963). Menurut Forterfield
seperti komposisi yang terdapat dalam sampel (1984), diantara oksonium belerang, ditionit
konsentrat tembaga PT Freeport. merupakan pereduksi yang paling kuat. Kurang
baiknya efisiensi reduksi yang diperoleh (61%),
2. METODOLOGI kemungkinan besar disebabkan oleh kurang
kuatnya sifat pereduksi amonium sulfida yang
Sintesis metilxantin, H3 MeX, dilakukan digunakan dalam penelitian ini. Menurut Smith
berdasarkan cara-cara sintesis aminourasil Norman (1990), mekanisme reaksi reduksi yang melibatkan
(1963) dan metode Traube (Speer dan Raymond, transfer atom O oleh pereduksi oksoanion belerang
1953). Karakterisasi terhadap hasil sintesis melibatkan pasangan elektron bebas atom S.
dilakukan berdasarkan spektra IR (infra merah) Sehingga diperkirakan mekanisme reaksi reduksi
dan titik leburnya. transfer atom O dari gugus nitroso oleh pereduksi
Ekstraksi dikerjakan dalam suatu tabung amonium sulfida disajikan pada gambar 1.
gelas 100 ml, dalam termostat dengan temperatur Selain faktor kekuatan reduksi, efisiensi
larutan 25 + 1 o C, dilengkapi dengan elektroda reduksi juga dapat dipengaruhi oleh suhu reaksi
gelas dan pengaduk magnetik. dan perbandingan jumlah pereduksi dan air.
Pelaksanaan ekstraksi dilakukan selama 30 Asetilasi tahap ketiga, mengacu pada
menit. Setelah terjadi kesetimbangan, phase air penelitian Traube (Speer dan Ramond, 1953),
dan phase organik dipisahkan. Variabel yang memiliki efisiensi yang cukup tinggi (84,9%), dan
dipelajari pada pelaksanaan ekstraksi meliputi :

16
Bambang Rusdiarso, Studi Ekstraksi Pelarut

perkiraan mekanisme reaksi asetilasi disajikan ditentukan oleh kondisi reaksi yaitu suhu reaksi
pada gambar 2. dan lama pemanasan. Mekanisme reaksi siklisasi
Karena proses siklisasi tidak melibatkan diperkirakan mengikuti skema pada gambar 3.
pereaksi lain, maka efisiensi proses siklisasi hanya

Gambar 1. Mekanisme reaksi reduksi transfer atom O dari gugus nitroso oleh pereduksi amonium sulfida

17
Berkala MIPA, 17 (2), Mei 2007

Gambar 2. Mekanisme reaksi asetilasi tahap ketiga

6-amino-5-asetil amino urasil

8-metilxantin
Gambar 3. Mekanisme reaksi siklisasi

Gambar 4. Spektra infra merah H3 MeX

18
Bambang Rusdiarso, Studi Ekstraksi Pelarut

Selektivitas ekstraksi emas(III)


menggunakan ekstraktan H3 MeX, diuji terhadap
suatu logam pengganggu, yang kemungkinan
terbesar terdapat dalam sampel konsentrat
tembaga yang akan diteliti, misalnya tembaga(II)
dan besi(III). Konsentrasi logam pengganggu
dibuat dua kali konsentrasi emas(III). Hasil
penelitian yang menginformasikan bahwa
ekstraksi emas(III) menggunakan H3 Mex tidak
terpengaruh oleh adanya ion tembaga(II), yang
mempunyai konsentrasi dua kali lebih besar.
Emas(III) yang terekstraksi (85,5%) relatif tidak
Gambar 5 : Grafik hubungan [H3 MeX] dengan % berbeda bila dibandingkan dengan ekstraksi tanpa
Ekstraksi ada ion logam pengganggu. Ini berarti tidak ada
tembaga yang dapat terekstraksi. Faktor tersebut
Metilxantin hasil reaksi tersebut mempunyai menunjukkan bahwa, selama proses ekstraksi,
titik lebur : 366 – 368 0 C dan berwarna putih tidak terjadi interaksi antara ion tembaga(II)
kekuning-kuningan. Analisis spektra infra merah dengan H3 MeX yang menghasilkan senyawa
menginformasikan senyawa tersebut memiliki kompleks. Sebab bila interaksi antara ion
gugus imida, CO-NH-CO, dari cincin urasil tembaga(II) dengan H3 MeX terbentuk kompleks,
(gambar 4). Gugus imida siklis biasanya ditandai walaupun tidak berinteraksi. Jumlah H3 MeX yang
oleh dua getaran ukur C = O pada1790 – 1735 cm- tersedia dalam sistem ekstraksi akan berkurang,
1
dan 1745 – 1680 cm-1 . Pita serapan getaran ulur sehingga akan menurunkan jumlah emas(III) yang
gugus imida metilxantin hasil sintesis masing- terekstraksi.
masing terjadi pada 1751,2 cm-1 dan 1715 cm-1 . Menurut Huheey (1993), tembaga (II)
Gugus metil pada metilxantin ( H3 MeX) hasil adalah asam intermediate (borderline), sehingga
siklisasi ditunjukkan oleh pita serapan pada 2925,8 sulit bagi ion tembaga (II) bersaing dengan emas
cm-1 dan 2819,7 cm-1 , yang masing-masing (III) untuk membentuk kompleks stabil dengan
merupakan pita serapan getaran ulur C – H H3 MeX, yang bersifat basa keras. Kondisi phase
asimitris dan pita serapan getaran ulur C – H air yang cukup asam menambah faktor kesulitan
simetris. Getaran tekuk C – H asimitris dan pembentukan kompleks tembaga (II).
getaran tekuk C – H simitris ditunjukkan oleh pita Adanya besi (III) dalam sampel emas (III)
serapan pada 1458,1 cm-1 dan 1386,7 cm-1. sedikit berpengaruh terhadap jumlah emas (III)
yang terekstraksi (96,2%). Untuk dapat
Ekstraksi emas (III) sampel laboratorium menghasilkan kompleks kelat netral, besi(III),
Emas (III) merupakan bentuk ion yang apabila membentuk senyawa kompleks, biasanya
paling umum dari emas (Gardea - Torresdey, mempunyai bilangan koordinasi 6, harus mengikat
1998). Larutan Au(III) dalam medium air dapat tiga anion metilxantin. Pada kondisi yang cukup
dibuat dengan melarutkan logam emas kedalam asam, dimana jumlah anion metilxantin relatif
aqua-regia. kecil, maka akan sangat sulit bagi besi (III) untuk
Hubungan konsentrasi 8-metilxantin dapat mengikat tiga buah anion ligan kelat
dengan hasil ekstraksi terhadap larutan emas (III), sekaligus. Disamping itu, hasil penelitian
pada konsentrasi awal 75 mg/L, disajikan dalam menunjukkan kebasaan H3 MeX telah sesuai
gambar 5. Gambar 5 tersebut menunjukkan bahwa dengan keasaman emas(III) daripada keasaman
makin besar konsentrasi 8-metilxantin, makin besi (III).
besar pula emas (III) yang terekstraksi kedalam
phase organik. Pada konsentrasi ekstraktan 10-3 M Ektraksi Emas (III) sampel konsentrat
, hampir semua emas (III) terekstraksi. Pada tembaga
konsentrasi tersebut perbandingan mol metilxantin Hubungan antara konsentrasi ekstraktan 8-
dan emas sekitar 3:1. Besarnya emas (III) yang metilxantin dan % E emas (III) dalam pelarut
terekstraksi (± 99%) merupakan petunjuk kuat dikhlorometan dan kloroform (gambar 6),
bahwa emas (III) terekstraksi kedalam fase menginformasikan bahwa persen E emas (III)
organik dalam bentuk komple ks netral. merupakan fungsi konsentrasi H3 MeX atau jumlah
emas (III) yang terekstraksi kedalam fase organik

19
Berkala MIPA, 17 (2), Mei 2007

meningkat dengan peningkatan konsentrasi bentuk anion, diikuti dengan pembentkan ikatan
H3 MeX. Kondisi optimum ekstraksi dengan kelat melalui N(3) setelah melepas proton. Karena
pelarut diklorometan tercapai pada konsentrasi proses pembentukan kompleks terjadi dalam
ekstraktan 8 x 10-4 M, dimana perbandingan mol suasana cukup asam, maka dapat terjadi protonasi
ekstraktan H3 MeX dengan emas (III) 3 : 1. Hasil terhadap N(7).
ekstraksi sampel konsentrat tembaga PT Freeport Kompleks netral emas(III) hanya dapat
diperoleh sbb : Emas (0,0092%) , Tembaga (46, terbentuk bila dua ligan Cl- dalam kompleks
44%) dan Besi (39,28%). Efisiensi ekstraksi yang [AuCl4 ]- tergantikan oleh sebuah ligan kelat asam
mencapai 98,5% mengindikasikan bahwa proses berbasa satu. Ikatan kelat yang terbentuk oleh
ekstraksi emas (III) melalui pembentukan komplek senyawa-senyawa turunan purin (misal :
kelat netral. hipoxantin, xantin) dimana atom-atom N(3) dan
Pembentukan kompleks kelat netral pada N(9) tidak teralkilasi, biasanya melalui atom N(3)
proses ekstraksi emas(III) merupakan substitusi dan N(9) tersebut. Kompleks yang dihasilkan,
ligan. Mekanisme reaksi substitusi ligan pada biasanya merupakan kompleks inti ganda atau
kompleks segi empat planar adalah mekanisme kompleks dimer (Colacio dkk, 1996). Jadi atom
asosiatif (Katalis dan Gordon, 1987, Huheey dkk, N(3) dan N(9) pada H3 MeX juga tidak teralkilasi,
1993). sehingga ikatan kelat antara H3 MeX dengan emas
Persamaan reaksi proses ekstraksi emas (III) dapat terjadi melalui atom-atom tersebut.
(III) dengan H3 MeX disajikan persamaan (1) : Kompleks kelat netral emas (III)- H3 MeX diduga
[AuCl4 ]- + H3 MeX + H2 O ← →
 merupakan kompleks dwi inti dengan struktur
[AuCl2 H2 MeX] + 2Cl- + H3 O+ gambar 4. Selain melalui N(3) dan N(9), ikatan
dimana kelat oleh H3 MeX juga dapat terjadi melalui N(7)
[ A u C2l H2 M e X ] [ -C2l ] [3H O
+
] dan O karbonil C(6) sehingga kompleks kelat yang
Kex = -
(1) terbentuk merupakan kompleks monointi, dengan
[AuCl 4 ] [HMeX]
3

Bila kompleks kelat netral emas(III)- struktur gambar 5.


H3 MeX memiliki struktur seperti gambar 4 , maka
pada prinsipnya proton H3 MeX yang dilepaskan 4. KESIMPULAN
dalam rangka membentuk ikatan kelat emas (III)
adalah proton N(3), sedangkan apabila kompleks Ekstraktan 8-Metilxantin (H3 MeX) dapat
kelat netral emas(III)- H3 MeX disintesis melalui empat tahapan, yaitu sintesis 6-
diaminourasil, reduksi gugus nitro, asetilisasi
terhadap 5,6-diaminourasil dan siklisasi 6-amino-
5-asetiaminourasil.
Ekstraksi Emas (III) dengan H3 MeX
mencapai hasil maksimal (%E = 99%) pada
perbandingan mol H3 MeX dan Emas (III) sekitar 3
: 1. Selektivitas ekstraksi Emas (III) terhadap
tembaga (II) dan besi cukup tinggi. 8-Metilxantin
mampu mengisolasi Emas (III) dari konsentrat
tembaga dengan baik dan diperoleh kandungan
emas (0,00082%), tembaga (46,44%0 dan besi
(39,28%).
Spesies hasil ekstraksi merupakan senyawa
Gambar 6. Grafik Hubungan [H3 MeX] dengan % E komplek netral [AuCl2 H2 MeX] dan diduga
emas konsentrat tembaga ◊ dalam CH2 Cl 2 , memiliki struktur komplek dwi inti.
dalam CHCl 3

tersebut memiliki seperti gambar 6, maka proton UCAPAN TERIMA KASIH


H3 MeX yang dilepaskan untuk menghasilkan Ucapan terima kasih disampaikan secara
ikatan kelat dengan emas (III) adalah proton yang khusus kepada Universitas Gadjah Mada, QUE
diikat oleh atom N(7). PROJECT Jurusan Kimia, yang telah membeayai
Mekanisme pembentukan kompleks kelat penelitian ini, dan Fakultas Matematika dan Ilmu
emas (III)-H3 MeX mungkin diawali oleh substitusi Pengetahuan Alam, yang telah mengijinkan
terhadap ligan Cl- dari kompleks [AuCl4 ]- oleh penggunaan Laboratorium Kimia Anorganik,
ligan H3 MeX melalui N(9) yang sudah dalam lengkap dengan segala peralatannya

20
Bambang Rusdiarso, Studi Ekstraksi Pelarut

International Mineral Development


DAFTAR PUSTAKA Sourbook, First Edition, Forum for
International Mineral Development,
Addison,R, 1980, Gold and Silver Extraction Colorado.
From Sulfide Ores, Mining Congress J, Lee JD., 1994, “Concise Inorganic Chemistry” 4
(October), 47 – 54. th ed, Chapman & Hall, London.
Ayres, RU, 1997, Metals Recycling : economic Lewis, PA., Morris, DFC., and Short, EL., 1975,
and environmental implication, Res. Conser. Application of Solvent Extraction of the
Recyc, 21, 145 – 173. Refining of Precious Metals, J. Uss-
Bailes, HC., Hanson, C., and Hughes, MA, Common Metal, 45, 193-214.
Liquid-liquid Extraction Metal” dalam Larry Lucas, JM, 1985, Gold Mineral Facts and
Ricci(ed), 1980, Separation Techniques I : Problems, United State Dept of the Interior,
Liquid -liquid System, Chemical Burreau of Mines Preprint from Bulletin,
Engineering, McGraw-Hill Pub. Co, New 675, 1 – 6.
York. Mojski, M., 1980, Solvent Extraction of Platinum
Colacio, E, Cuesta, R, Gutierrez-Zorrila, JM, Metals, Chemia Analityzna, 25, 919-943.
Luque, A, Roman, P, Giraldi, T, Taylor, Mojski, M., 1979, Extraction of Noble Metals with
MR, 1996, Gold (I)-Purin Interaction : Neutral Sulfur Containing Organic
synthesis and Caracterization of Cyclic and Compound, Chemia Analityzna, 24, 207-
Open Chain Polynuclear Gold (I) 208.
Complexes Containing Xanthine Derivatives Norman, R., 1963, A Revised Edition of Annual,
and Bis(Phosphine) as Bridging Ligands. vol; 30-39, “Org Chem. Collective” vol 4,
Crystal Structur of [Au2 (µ-HX)(µ- John Wiley & Sons, Inc, New York.
dmpe)].3H2O and [Au 2 (µ-TT)(µ- Paping, IR, 1983, “The Extraction of Copper (II)
dmpe)].H2 O. Inorg. Chem., 35, 4232 – 4238. and Nickel (II) by Strained Dioximes and
Deschenes, G, 1998, Leaching of Gold from Truoximes”, Proefschift, De Technische
Chalcopyrite Concentrate by Thiourea, Waterschappen aan de Technische
Hydrometalurgy, 20, 180 – 202. Hogesshool Eindhoven, Eindhoven.
Gardea-Torresdey, JL, Tiemann, KJ, Gomez, G, Parkes, GD., and Phil, DMA., 1961, “Mellor’s
and Yacaman, MJ, 1998, Inovative Modern Inorganic Chemistry”, Longmans
Technology to Recover Gold (III) from Green & Co Ltd, England.
Aqueous Solution by Using Medicago sativa Porterfield, WW., 1984, “Inorganic Chemistry”,
(alfalfa), Proceeding of the 1998 Conference Addison-Wesley Publishing Company Inc,
on Hazardous Waste Research, Mexico. California.
Greenwood, NN., and Earnshaw, A., 1989, Ritchey, GM., and Ashbrook , AW, 1984,
Chemistry of Element, Pergamon Press, “Process Metallurgy I”, Principles and
Singapore. Application to Process Metallurgy, Elsevier,
Hiskey, JB, 1985, Gold and Silver Extraction : the New York.
Application of Heap-Leaching Cyanidation, Smith, DW., 1990, “Inorganic Substances. :
Arizona Bureau of Geology and Mineral Prelude to study of Discriptive Inorganic
Technology Field Notes, 15 (4), 1 – 5. Chemistry”, Cambridge University Press,
Huheey, JE., Keiter, EA., Keiter RL., 1993, Cambridge.
“Inorganic Chemistry : Principle of Speer, JM., and Raymond, AL, 1953, Alkyl
Structure and Reactivity”, 4 th ed, Harper Homolog of Theophilline, J.Am.Chem.Soc,
Collins College Publishers, New York. 75, 114-115.
Jensen, GA., Rohmann, CA., and Perrigo, LD., Steele, IM, Cabri, LJ, Gaspar, JC, McMahon, G,
1980, ”Recovery and use of Fission Product Marquez, MA and Vasconcellos, MAZ,
Noble Metals”, 1-20, Batella Memorial 2000, Comparative Analysis of Sulfides for
Institute, Las Vegas, Nevada. Gold using SXRF and SIMS, The Canadian
Katakis, D., and Gordon, G, 1987, “Mechanisms Mineralogist, 38, 1 – 10.
of Inorganic Reaction”, John Wiley & Sons Zipperian,D and Raghavan, 1998, Gold and Silver
Inc, New York. Extraction by Ammoniacal thiosulfate
Kordosky, GA, “Metals Recovery by Solvent Leaching from Rhyolite Ore,
Extraction” dalam McDivite, JF (ed), 1993, Hydrometallurgy, 20, 203 – 300.

21
Berkala MIPA, 17 (2), Mei 2007

22