Anda di halaman 1dari 8

III. Dasar Teori 3.1 Logam Alkali 3.1.

1 Pengertian Logam Alkali Logam alkali adalah unsur-unsur golongan IA (kecuali hidrogen) yaitu litium, natrium, kalium, rubidium, cesium, dan fransium. Kata alkali berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Air abu bersifat basa. Oleh karena logam-logam golongan IA membentuk basa-basa kuat yang larut dalam air, maka disebut logam alkali. 3.1.2 Sifat Fisis Logam Alkali

Kecenderungan sifat logam alkali sangat beraturan. Dari atas ke bawah, jari-jari atom dan massa jenis (rapatan) bertambah, sedangkan titik cair dan titik didih berkurang. Sementara itu, energi pengionan dan keelektronegatifan berkurang. Potensial elektrode (besaran yang menggambarkan daya reduksi dalam larutan), dari atas ke bawah cenderung bertambah, kecuali litium. Litium ternyata mempunyai potensial elektrode yang paling besar. Hal ini merupakan penyimpangan sebagaimana sering diperlihatkan oleh unsur-unsur periode kedua. Penyimpangan itu berkaitan dengan kecilnya volume atom unsur periode kedua tersebut. Dalam banyak hal, litium lebih mirip magnesium dari golongan IIA. Hubungan seperti itu disebut hubungan diagonal. Hubungan diagonal juga diperlihatkan oleh berilium yang mirip dengan aluminium dan boron yang mirip dengan silikon.

3.1.3 Sifat Kimia Logam Alkali Logam alkali merupakan golongan logam yang paling reaktif. Kereaktifan meningkat dari atas ke bawah (dari litium ke fransium). Kereaktifan logam alkali berkaitan dengan energi ionisasinya yang rendah sehingga mudah melepas elektron. Hampir semua senyawa logam alkali bersifat ionik dan mudah larut dalam air.

Reaksi-reaksi Logam Alkali

1. Reaksi dengan air Semua logam alkali bereaksi dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. Litium bereaksi agak pelan, sedangkan natrium bereaksi hebat. Kalium, rubidium, dan cesium meledak jika dimasukkan ke dalam air. Oleh karena reaksi itu sangat eksoterm, maka gas hidrogen yang terbentuk segera terbakar. 2. Reaksi dengan hidrogen

Jika dipanaskan, logam alkali dapat bereaksi dengan gas hidrogen yang membentuk hidrida, suatu senyawa ion yang hidrogennya mempunyai bilangan oksidasi -1. 3. Reaksi dengan oksigen Logam alkali terbakar dalam oksigen membentuk oksida, peroksida, atau superoksida. Jika oksigen berlebihan, natrium dapat membentuk peroksida. Kalium, rubidium, dan cesium dapat membentuk superoksida dalam oksigen berlebihan.
Bilangan oksidasi oksigen dalam: oksida (O2-) = -2 peroksida (O22-) = -1 superoksida (O2-) = -1/2

Oleh karena sangat mudah bereaksi dengan air dan oksigen, maka logam alkali biasanya disimpan dalam cairan yang inert, misalnya minyak tanah (kerosin) atau dalam botol yang diisolasi. 4. Reaksi dengan halogen Logam alkali bereaksi hebat dengan halogen membentuk garam halida. Natrium cair terbakar dalam gas klorin menghasilkan nyala berwarna kuning khas logam natrium. (Purba, 2012) 3.2 Logam Alkali Tanah 3.2.1 Pengertian Logam Alkali Tanah Logam alkali tanah meliputi berilium, magnesium, kalsium, strontium, barium, dan radium. Dalam sistem periodik, keenam unsur itu terletak pada golongan IIA. Logam alkali tanah juga membentuk basa, tetapi lebih lemah dari logam alkali. Berbeda dengan golongan IA, senyawa dari logam golongan IIA banyak yang sukar larut dalam air. Unsur-unsur golongan IIA umumnya ditemukan dalam tanah berupa senyawa tak larut. Oleh karena itu disebut logam alkali tanah (alkaline earth metal). 3.2.2 Sifat Fisis Logam Alkali Tanah

Berilium

Magnesium

Kalsium

Dari berilium ke barium jari-jari atom meningkat secara beraturan. Pertambahan jari-jari menyebabkan penurunan energi pengionan dan keelektronegatifan. Potensial elektrode juga meningkat dari kalsium ke barium, akan tetapi berilium menunjukkan penyimpangan karena potensial elektrodenya relatif kecil. Hal itu disebabkan energi ionisasi berilium (tingkat pertama + tingkat kedua) yang relatif besar. Titik cair dan titik didih cenderung menurun dari atas ke bawah. Sifat-sifat fisis, seperti titik cair, rapatan, dan kekerasan logam alkali tanah lebih besar jika dibandingkan dengan logam alkali seperiode. Hal ini disebabkan logam alkali tanah mempunyai dua elektron valensi sehingga ikatan logamnya lebih kuat. 3.2.3 Sifat Kimia Logam Alkali Tanah Kereaktifan logam alkali tanah meningkat dari barilium ke barium. Fakta ini sesuai dengan yang diharapkan. Dari berilium ke barium jari-jari atom bertambah besar, sehingga energi ionisasi serta keelektronegatifan berkurang. Akibatnya, kecenderungan untuk melepas elektron membentuk senyawa ion makin besar. Semua senyawa dari kalsium, strontium, dan barium, yaitu logam alkali tanah yang bagian bawah, berbentuk senyawa ion, sedangkan senyawa-senyawa berilium dan senyawa-senyawa magnesium bersifat kovalen. Sifat kimia logam alkali tanah bermiripan dengan logam alkali, tetapi logam alkali tanah kurang reaktif dari logam alkali seperiode. Jadi, berilium kurang reaktif dibandingkan terhadap litium, magnesium kurang reaktif dibandingkan terhadap natrium, dan seterusnya. Hal itu disebabkan jari-jari atom logam alkali tanah lebih kecil, sehingga energi pengionan lebih besar. Lagi pula logam alkali tanah mempunya dua elektron valensi, sedangkan logam alkali hanya satu. Kereaktifan kalsium, strontium, dan barium tidak terlalu berbeda dari logam alkali, tetapi berilium dan magnesium jauh kurang aktif.

Reaksi-reaksi Logam Alkali Tanah

1. Reaksi dengan air Kalsium, strontium, dan barium bereaksi baik dengan air membentuk basa dan gas hidrogen. Magnesium bereaksi sangat lambat dengan air dingin dan sedikit lebih baik dengan air panas, sedangkan berilium tidak bereaksi. 2. Reaksi dengan udara Semua logam alkali tanah terkorosi terus-menerus di udara membentuk oksida, hidroksida atau karbonat, kecuali berilium dan magnesium. Berilium dan magnesium juga bereaksi dengan oksigen di udara, tetapi lapisan oksida yang terbentuk melekat pada permukaan logam sehingga menghambat korosi berlanjut. Apabila dipanaskan dengan kuat, semua logam alkali tanah, termasuk berilium dan magnesium, terbakar di udara membentuk oksida dan nitrida

3. Reaksi dengan halogen Semua logam alkali tanah bereaksi dengan halogen membentuk garam halida. Lelehan halida dari berilium mempunyai daya hantar listrik yang buruk. Hal itu menunjukkan bahwa halida berilium bersifat kovalen. 4. Reaksi dengan asam dan basa Semua logam alkali tanah bereaksi dengan asam kuat (seperti HCl) membentuk garam dan gas hidrogen. Reaksi makin hebat dari Be ke Ba. Be juga bereaksi dengan basa kuat, membentuk Be(OH)42- dan gas H2. (Purba, 2012) 3.3 Reaksi nyala logam alkali dan alkali tanah Salah satu ciri khas dari suatu unsur adalah spektrum emisinya. Unsur yang tereksitasi, karena pemanasan ataupun karena sebab lainnya, memancarkan radiasi elektromagnetik yang disebut spektrum emisi. Spektrum emisi teramati sebagai pancaran cahaya dengan warna tertentu, akan tetapi sesungguhnya spektrum itu terdiri atas beberapa garis warna (panjang gelombang) yang khas bagi setiap unsur. Karena keunikannya, spektrum emisi dapat digunakan untuk mengenali suatu unsur. Unsur-unsur logam dapat dieksitasikan dengan memanaskan/membakar senyawanya pada nyala api, misalnya pada pembakar bunsen atau pembakar spiritus. Akan lebih baik jika yang digunakan garam klorida karena relatif lebih mudah menguap.
Unsur Litium Natrium Kalium Rubidium Cesium Warna nyala*) Merah Kuning Ungu Merah Biru Unsur Berilium Magnesium Kalsium Strontium Barium Warna nyala Putih Putih Jingga-merah Merah Hijau

*) Warna merah dari nyala litium, rubidium, dan strontium tidaklah sama (mempunyai panjang gelombang yang berbeda)

(Purba, 2012) 3.4 Air Sadah 3.4.1 Pengertian Air Sadah Air sadah (hard water) adalah air yang mengandung kation Ca2+ atau Mg2+. Kesadahan air, biasanya dinyatakan sebagai massa CaCO3 (mg) dalam 1 L air. Jika kadar Ca2+ tinggi, biasanya secara fisik air tersebut tampak keruh. Batasan kesadahan air adalah 500 bpj (500 mg CaCO3 dalam 1 L air). Air sadah bukan merupakan air yang tercemar oleh bahan berbahaya, namun dapat menimbulkan masalah-masalah berikut.

a. Sabun menjadi kurang berbusa karena ion Ca2+ atau Mg2+ bereaksi dengan sabun membentuk endapan. Ca2+ (aq) + 2RCOONa (aq) Ca(RCOO)2 (s) + 2 Na+ (aq) Air sadah tidak boleh ada sama sekali pada industri pencucian tekstil atau kertas. Jika terjadi pengendapan dengan sabun, pewarnaan kain atau kertas menjadi tidak merata. b. Air sadah dapat menyebabkan pembentukan kerak pada ketel uap (steam boiler) dan pipa uap sehingga untuk menguapkan air tersebut diperlukan pemanasan yang lebih lama. Hal ini merupakan pemborosan energi. Selain itu, adanya keras pada pipa uap juga dapat menyebabkan penyumbatan sehingga dikhawatirkan pipa tersebut akan meledak. (Sutresna, 2007) 3.3.2 Jenis Kesadahan Air Ada dua jenis air sadah, yaitu air sadah sementara (temporer) dan air sadah tetap (permanen). Air sadah sementara yaitu air yang mengandung garam-garam karbonat (CO3-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan magnesium. Air ini terdapat di daerah berkapur dan berbatu kapur. Disebut kesadahan sementara karena dapat dihilangkan dengan pemanasan dan menghasilkan air lunak. Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O(l) + CO2 (g) Selain itu, air sadah sementara juga dapat dihilangkan dengan penambahan kapur atau larutan ammonia.

Ca(HCO3)2 (aq) + Ca(OH)2 (aq) 2 CaCO3 (s) + H2O (l) Ca(HCO3)2 (aq) + NH3 (aq) CaCO3 (s) + (NH4) 2CO3(aq)

Air sadah tetap yaitu air yang mengandung garam-garam klorida (Cl-)dan sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan tetap tidak dapat dihilangkan hanya dengan pemanasan. Salah satu cara yang mudah dilakukan adalah dengan penambahan soda (Na2CO3).

CaSO4 (aq) + Na2CO3 (aq) CaCO3(s) + Na2SO4 (aq)

Dengan penambahan soda, air yang dihasilkan sudah tidak lagi mengandung ion Ca2+ karena sudah diendapkan menjadi CaCO3. Selain dengan penambahan soda, kesadahan tetap dapat juga dihilangkan dengan cara distilasi dan resin penukar ion.

Beberapa keuntungan yang bisa diambil dari adanya air sadah antara lain sebagai sumber kalsium yang diperlukan tubuh, memiliki rasa yang lebih menyegarkan daripada air lunak dan senyawa timbel (dari pipa air). Kerugiannya antara lain memboroskan sabun, dapat meninggalkan noda pada pakaian, sehingga pakaian menjadi kusam dan dapat membentuk karang pada ketel dan pipa-pipa air yang mengganggu pemanasan. (Salirawati, 2007)

IX. Daftar Pustaka Purba, Michael. 2012. KIMIA 3 untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Erlangga. Salirawati, Das. 2007. Belajar Kimia Secara Menarik Untuk Sma Kelas XII. Jakarta: Grasindo. Sutresna, Nana. 2007. Cerdas Belajar Kimia untuk Kelas XII SMA/MA Program IPA. Jakarta: Grafindo Media Pratama.