Anda di halaman 1dari 9

2.1.1.

Teori Pengetahuan

Definisi Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 2003 : 121). Pengetahuan (knowledge) adalah suatu proses dengan menggunakan pancaindra yang dilakukan seseorang terhadap objek tetentu dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat, 2007). Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber seperti media poster, kerabat dekat, media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, dan sebagainya. Pengetahuan dapat membentuk keyakinan tertentu, sehingga seseorang berperilaku sesuai dengan keyakinannya tersebut (Istiari, 2000). Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005) Jenis Pengetahuan Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks kesehatan sangat beraneka ragam. Pengetahuan merupakan bagian perilaku kesehatan. Jenis pengetahuan di antaranya sebagai berikut. 1. Pengetahuan implisit Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang yang berisi faktor-faktor yang bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi perspektif, dan prinsip. Pengetahuan seseorang biasanya sulit ditransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali berisi kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari. Contoh sederhana: seseorang yang telah mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan, namun ternyata dia merokok 2. Pengetahuan eksplisit. Pengetahuan ekspilisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

Contoh sederhana: seseorang yang telah mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan dan ternyata dia tidak merokok. Cara Mendapatkan Pengetahuan Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran, pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni : b. Cara Tradisional Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini dilakukan sebelu ditemukan metode ilmiah, yang meliputi : 1) Cara Coba Salah (Trial and Error) Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila tidak berhasil, maka akan dicoba kemungkinan yang lain lagi sampai didapatkan hasil mencapai kebenaran. 2) Cara Kekuasaan atau Otoritas Dimana pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi, otoritas pemerintahan, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan. 3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang sama, orang dapat pula menggunakan cara tersebut. 4) Melalui Jalan Pikiran Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan fikiran. c. Cara Modern Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode ilmiah. (Notoadmodjo, 2005 : 11-14) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan a. Umur

Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat beberapa tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa (Nursalam, 2001 : 25) b. Pendidikan Tingkat pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu (Sarwono, 1992, yang dikutip Nursalam, 2001). Pendidikan adalah salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. (Notoatmodjo, 1993). Pendidikan mempengaruhi proses belajar, menurut IB Marta (1997), makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pendidikan diklasifikasikan menjadi : (a) Pendidikan tinggi: akademi/ PT (b) Pendidikan menengah: SLTP/SLTA (c) Pendidikan dasar : SD Dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media masa, sebaliknya tingkat pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan

(Koentjaraningrat, 1997, dikutip Nursalam, 2001). c. Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik (experient is the best teacher), pepatah tersebut bisa diartikan bahwa pemngalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat dijadikan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan persoalan yang dihadapi pada masa lalu (Notoatmodjo, 2002 : 13) Tingkat Pengetahuan Dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dibandingkan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan karena

didasari oleh kesadaran, rasa tertarik, dan adanya pertimbangan dan sikap positif. Tingkatan pengetahuan terdiri atas 6 tingkat yaitu : a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk didalamnya adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang khusus dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah gunanya untuk mengukur bahwa orang tahu yang dipelajari seperti: menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan

sebagainya. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan secara benar tentang objek yang diketahui, dapat menjelaskan materi tersebut dengan benar. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi nyata. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponenkomponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteriakriteria yang ada. (Notoatmodjo, 2005 : 122). Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket(kuesioner) yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dari subjekpenelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui ataudiukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas. Pengukuran tingkatpengetahuan

dimaksudkan untuk mengetahui status pengetahuan seseorang dandisajikan dalam tabel distribusi frekuensi (Notoatmodjo, 2005).

2.1.1.

Teori Sikap

Definisi Sikap adalah suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek (Sarwono & Eko, 2011 : 82). Sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu kognitif, afektif (muatan emosi dan perasaan), dan konasi (perilaku atau kecenderungan untuk melakukan

tindakan/perilaku). Komponen Sikap Azwar (2007) menyatakan bahwa sikap memiliki 3 komponen yaitu: a. Komponen kognitif Komponen kognitif merupakan komponen yang berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objeksikap. b. Komponen afektif Komponen afektif merupakan komponen yang menyangkut masalahemosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum,komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. c. Komponen perilaku

Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yangada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Pembentukan Sikap Sikap manusia bukan sesuatu yang melekat sejak ia lahir, tetapi diperoleh melalui proses pembelajaran yang sejalan dengan perkembangan hidupnya. Sikap dibentuk melalui proses belajar sosial, yaitu proses di mana individu memperoleh informasi tingkah laku, atau sikap baru dari orang lain. Sikap dibentuk melalui empat macam pembelajaran sebagai berikut : 1. Pengondisian klasik (classicical conditioning : learning based on association) Proses pembelajaran dapat terjadi ketika suatu stimulus/rangsang selalu diikuti oleh stimulus/rangsang yang lain, sehingga rangsang yang pertama menjadi suatu isyarat bagi rangsang yang kedua. Lama kelamaan, orang akan belajar jika stimulus pertama muncul, maka akan diikuti oleh stimulus kedua. 2. Pengondisian instrumental (instrumental conditioning) Proses pembelajaran terjadi ketika suatu perilaku mendatangkan hasil yang menyenangkan bagi seseorang, maka perilaku tersebut akan diulang kembali. Sebaliknya, bila perilaku mendatangkan hasil yang tidak menyenangkan bagi seseorang, maka perilaku tersebut tidak akan diulang lagi atau dihindari. 3. Belajar melalui pengamatan (observational learning, learning by example) Proses pembelajaran dengan cara mengamati perilaku orang lain, kemudian dijadikan sebagai contoh untuk berperilaku serupa. 4. Perbandingan sosial (social comparison) Proses belajar dengan membandingkan orang lain untuk mengecek apakah pandangan kita mengenai sesuatu hal adalah benar atau salah. (Sarwono & Eko, 2011 : 84-86) Fungsi Sikap Fungsi sikap meliputi : 1. Fungsi pengetahuan Sikap membantu kita untuk menginterpretasi stimulus baru dan menampilkan respons yang sesuai. 2. Fungsi identitas

Sikap terhadap kebangsaan Indonesia (nasionalis) yang kita nilai tinggi, mengekspresikan nilai dan keyakinan serta mengkomunikasikan siapa kita. 3. Fungsi harga diri Sikap yang kita miliki mampu menjaga atau meningkatkan harga diri. 4. Fungsi pertahanan diri (ego defensif) Sikap berfungsi melindungi diri dari penilaian negatif tentang diri kita. 5. Fungsi memotivasi kesan (impression motivation) Sikap berfungsi mengarahkan orang lain untuk memberikan penilaian atau kesan yang positif tentang diri kita. (Sarwono & Eko, 2011 : 86-87) Karakteristik Sikap Menurut Brigham (dalam Dayakisni dan Hudiah, 2003) ada beberapa ciriatau karakteristik dasar dari sikap, yaitu : a. b. Sikap disimpulkan dari cara-cara individu bertingkah laku. Sikap ditujukan mengarah kepada objek psikologis atau kategori, dalamhal ini skema yang dimiliki individu menentukan bagaimana individumengkategorisasikan objek target dimana sikap diarahkan. c. d. Sikap dipelajari. Sikap mempengaruhi perilaku. Memegang teguh suatu sikap yang mengarah pada suatu objek memberikan satu alasan untuk berperilakumengarah pada objek itu dengan suatu cara tertentu. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap Azwar (2007) menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhipembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yangdianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembagaagama, serta faktor emosi dalam diri individu. a. Pengalaman pribadi Middlebrook (dalam Azwar, 2007) mengatakan bahwa tidak adanyapengalaman yang dimiliki oleh seseorang dengan suatu objek psikologis,cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap akanlebih mudah terbentuk jika yang dialami seseorang terjadi dalam situasi yangmelibatkan faktor

emosional. Situasi yang melibatkan emosi akanmenghasilkan pengalaman yang lebih mendalam dan lebih lama membekas. b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformisatau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan iniantara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untukmenghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. c. Pengaruh Kebudayaan Burrhus Frederic Skinner, seperti yang dikutip Azwar sangat menekankanpengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadiseseorang. Kepribadian merupakan pola perilaku yang konsisten yangmenggambarkan bagiindividu d. Media Massa Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan individu. Media massa memberikan pesan-pesan yang sugestif yang mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Jika cukup kuat, pesan-pesan sugestif akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. e.
Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

sejarah suatu

penguat masyarakat.

(reinforcement) Kebudayaan

yang telah

kita

alami

(Hergenhandalam Azwar, 2007). Kebudayaan memberikan corak pengalaman dalam menanamkan garispengarah sikap individu terhadap berbagai masalah.

Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai sesuatu sistemmempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanyameletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dantidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaanserta ajaran-ajarannya. Konsep moral dan ajaran agama sangat menetukansistem kepercayaan sehingga tidaklah mengherankan kalau pada gilirannyakemudian konsep tersebut ikut berperanan dalam menentukan sikap individuterhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu hal yang bersifat kontroversial,pada umumnya orang akan mencari informasi lain untuk

memperkuat posisisikapnya atau mungkin juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam hal seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikanatau lembaga agama sering kali menjadi determinan tunggal yang menentukansikap. f. Faktor Emosional Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagaisemacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahananego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segeraberlalu begitu frustrasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikapyang lebih persisten dan bertahan lama.