Anda di halaman 1dari 17

Tazkiyatun Nafs

)7( 7-10, ) 8(

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sesungguhnya pembentukan kepribadian yang lurus, tidak akan sempurna tanda-tandanya, kecuali dengan pembersihan jiwa. Yaitu penyucian lubuk hati manusia paling dalam. Seseorang yang tidak kuasa membetulkan jiwa serta diri sendiri, niscaya tak mampu melakukan hal yang sama pada orang lain. Bagaimanapun jiwa manusia itu mempunyai pengaruh serta dorogan-dorongan yang bisa mempengaruhi tingkah laku pembawaan seseorang. Jiwa tersebut mempunyai godaan-godaan yang senantiasa bergerak, serta gangguan-gangguan yang mengarah kepada kebimbangan, yang mengakibatkan seseorang melakukan penyimpangan, kejahatan, kekejian, dan kemungkaran.

B. Rumusan Masalah. a. b. c. Apa yang dimaksud dengan Tazkiyatun nafs? Bagaimana metode penyucian an-nafs dan cara penyuciannya? Bagaimana nafsu dalam pertumbuhan psikologi dalam spiritualnya?

C. Pembahasan Masalah. a. b. c. Mengetahui pengertian Tazkiyatun nafs. Mengetahui metode penyucian an nafs dan cara penyuciannya. Mengetahui nafsu dalam pertumbuhan psikologi dalam spiritualnya.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Tujuan Tazkiyatun Nafs. 1. Pengertian Tazkiyatun Nafs Tazkiyatun Nafs berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkyat dan nafs. Secara kebahasaan (etimologi) tazkiyat berarti menyucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangkan Nafs adalah diri atau jiwa seseorang. Dengan demikian istilah tazkiyatun nafsi memiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah) takni potensi iman, islam, dan ihsan kepada Allah.[1] Dalam buku tasawuf tematik di sebutkan bahwa, tazkiyatun nafs esensinya cenderung pada pembicaraan soal jiwa(an-nafs). ada empat istilah yang berkaitan dengan an-nafs yaitu al-qalb, ar-roh, an-nafs, dan al-aql. Al-Ghazali mengartikan tazkiyatun nafs yaitu suatu proses penyucian jiwa manusia dari kotoran-kotoran, baik kotoran lahir maupun batin.[2] Berdasarkan makna itu pula tazkiyatun nafsi bertujuan untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu fitrah tauhid, fitrah iman, islam, dan ihsan, disertai dengan upaya menguatkan dan mengembangkan potensi tersebut agar setiap orang selalu dekat kepada Allah, menjalaknkan segal ajaran dan kehendak-Nya, dan menegakkan tugas dan misinya seagai hamba dan khalifah-Nya di bumi. Dengan tazkiyatun nafs, seseorang dibawa kepada kualitas jiwa yang prima sebagai hamba Allah, sekaligus prima sebagai khalifah Allah. Artinya dengan tazkiyatun nafs, seseorang menjadi ahlul ibadah, yakni orang yang selalu taat beribadah kepada Allah dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya serta menjadi khalifah, yakni kecerdasan dalam missi memimpin, mengelola dan memakmurkan bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Allah untuk kerahmatan bagi semua makhluk.

2. Tujuan Tazkiyatun Nafs Tujuan Tazkiyatun Nafs adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Taala. Sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa. Sementara, kebersihan jiwa juga tidak dapat terjadi tanpa takwa. Jadi keduanya saling terkait dan saling membutuhkan. Itulah mengapa Allah Azza wa Jalla berfirman: . . . Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams/91 : 7-10) Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membersihkan jiwanya melalui ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Taala: Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci.Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bertakwa. (QS. An-Najm/53: 32) Serta firman Allah Subhanahu wa Taala: . Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya. (QS. Al-Lail 92: 17-18). Kedua ayat ini menjelaskan bahwa pembersihan jiwa pada hakikatnya adalah ketakwaan kepada Allah.Dan memang tujuannya adalah ketakwaan kepada Allah. Di sini perlu juga difahami dengan baik sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikut: . Ya Allah! Anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku, bersihkanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang membersihkan jiwa. Engkaulah Penguasa dan Pemiliknya.HR. Muslim. Dengan qalbu serta jiwa yang bersih dan bertakwa, akan tercapailah maksud diciptakannya manusia. Yaitu hanya beribadah dan menyembah kepada Allah saja. Allah berfirman:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu saja. (QS. AdzDzaariyaat/51 : 56)[3] Tujuan tazkiyatun nafs tidak lepas dari tujuan hidup manusia itu sendiri, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan jasmani maupun rohani, material maupun spiritual, dan duniawi maupun ukhrawi. Kesempurnaan itu akan diperoleh manusia jika berbagai sarana yang menuju ke arah itu dapat dipenuhi. berbagai hambatan yang menghalangi tujuan kesempurnaan jiwa itu harus disingkirkan. Adapun yang menghalangi kesempurnaan jiwa itu adalah kotoran atau noda yang ditorehkan oleh sifat-sifat jelek yang melekat pada jiwa manusia. Tujuan khusus tazkiyatun nafs dijabarkan oleh Al-Ghazali dalam Ihya Ulum Ad-Din. a. pembentukan manusia yang bersih akidahnya, suci jiwanya, luas ilmunya, dan seluruh aktivitas hidupnya bernilai ibadah. b. membentuk manusia yang berjiwa suci dan beakhlak mulia dalam pergaulan dengan sesamanya, yang sadar akan hak dan kewajiban, tugas seta tanggung jawabnya. c. membentuk manusia yang berjiwa sehat dengan terbebasnya jiwa dari perilaku tercela yang membahayakan jiwa itu sendiri. d. memebentuk manusia yang berjiwa suci dan berakhlak mulia, baik terhadap Allah, diri sendiri maupun manusia sekitarnya.[4]

B. 1.

Metode Penyucian An Nafs dan Penyuciannya. Metode Mujahadat.

Istilah mujahadat berasal dari kata jahada, satu rumpun dengan ijtahada, yang berarti berusaha keras, atau penuh kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan. menurut Al-Ghazali, mujahadat berada dibawah norma-norma syariat dan akal. Sebagai contoh untuk mujahadat ini misalnya seseorang yang terbiasa ghibah, maka mulutnya seolah-olah gatal bila tidak melakukannya.Mujahadat yang dilakukan disini adalah dengan menahan dengan sekuat hati untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain. Apalagi membicarakan orang lain itu dalam syariat dilarang, dan menurut akal itu juga tidak baik. Bahkan, logis kalau dibukakan aibnya di depan orang lain. 2. Metode Riyadhat.

Adapun riyadhat disini adalah pembebanan diri dengan membiasakan melatih suatu perbuatan yang pada fase awal yang merupakan beban yang sangat berat dan pada fase akhir menjadi sebuah karakter

menjadi sebuah karakter atau kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan itu menjadi tertanam kuat. Sebagai contoh dari riyadhat ini, misalnya seseorang yang telah terbiasa dengan sifat kikir, dapat menghilangkan sifat kikir itu dengan melatih diri untuk menyumbang kepentingan sarana-sarana ibadah, sarana umum, dan fasilitas sosial lainnya. Pada mulanya dia akan merasa berat mengeluarkan atau menginfakkan harat itu, karena memang sudah terbiasa denagtn kekikirannya, tetapi setelah dilatih atau dibiasakan, sedikit demi sedikit ia akan menjadi seorang pemurah atau dermawan. Dapat dipahami bahwa mujahadat dan riyadhat merupakan metode tazkyatun nafs dalam upaya meningkatkan akhlak. Dalam upaya menyucikan jiwa dan membuatnya bersinar, keduanya saling bergandengan. misalnya ketika seorang terbiasa dengan bohong, mujahadat yang dilakukan adalah berjuang secara sungguh-sungguh untuk meninggalkan sifat bohong, sedangkan riyadhat yang dilakukan adalah selalu berkata benar disertai kejujuran.[5]

C. 1.

Nafsu Dalam Pertumbuhan Psikologi dan Spiritualnya. Nafsu Amarah.

Kepribadian amarah adalah keptibadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip prinsip kenikmatan (pleasure princible).Ia menari kalbu manusia untuk melakukan perbuatan perbuatan yang rendah yang sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Firman Allah SWT :

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Tuhannku *QS. Yusuf : 53+

Kepribadian amarah adalah kepribadian di bawah sadar manusia. Sedangkan manusia yang berkepribadian amarah tidak saja merusak dirinya sendiri, tetapi juga merusak diri orang lain. Keberadaannya di tentukan oleh dua daya yaitu: a. Daya syahwat yang selalu mengiginkan birahi, kesukaan diri, ingin tahu dan caampur tangan urusan orang lain. b. Daya ghadab yang selalu mengiginkan tamak, serakah mencekal, berkelahi, ingin menguasai yang lain, keras kepala, sombong dan angkuh. Kepribadian ammarah dapat beranjak ke pribadian yang baik apabila ia telah di beri rahmat oleh Allah SWT. Kepribadian ammarah menuju ke tingkat kepribadian yang lebih baik hanya dapat mencapai satu

tingkat dari tingkatan kepribadian yang ada yaitu lawwamah.ini diperlukan latihan khisus untuk menekan daya nafsu dari hawa seperti puasa, sholat, berdo`a.

2.

Nafsu Lawwamah.

Lawwamah berasal dari kata altalum yang berarti altaraddun (bimbang dan ragu-ragu). Dikatakan lawwamah karena sifatnya al-lawm yang berarti celaan kerena meninggalkan iman atau celaan karena berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan. Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang telah memperoleh cahaya kalbu, lalu dia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya antara dua hal. Kepribadian lawwamah berada dalam kebimbangan antara kepribadian ammarah dan kepribadian muthmainnah. Firaman Allah SWT:

Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali *QS. al Qiyamah : 2] Kepribadian lawwamah merupakan kepribadian yang di dominasi oleh komponen akal, komponen yang bernatur insaniah, akal mengikuti prinsip kerja rasionalistik dan realistic yang membawa manusia pada tingkat ke sadaran. Apabila akal di beri percikan nur kalbu maka fungsinya berubah menjadi baik. Al Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan cita rasa, namun ia masih menggunakan kemampuan akal. Sedangkan menurut Ibn Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu mencapai akal mustafat. Karena kedudukannya yang tidak stabil ini maka Ibn Qayyim alJauziyah membagi kepribadian lawwamah menjadi dua bagian, yaitu: a.Kepribadian Lawwamah malumah, Yaitu kepribadian lawwamah yang bodoh dan zalim. b.Kepribadian Lawwamah ghayr malumah, Yaitu kepribadian yang mencela atas perbuatannya yang buruk dan berusaha untuk memperbaikinya. Dalam buku tazkiyatun nafs karangan Ibnu Rajab Al-Hambali dan kawan-kawan juga disebutkan bahwa nafs lawwamah ada dua yaitu tercela dan terpuji. yang pertama adalah nafs yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat. sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekuragannya dalam ketaatan kepada Allah, padahal ia sudah berusaha sekuatnya.[6]

3.

Nafsu Mulhammah.

Nafsu Mulhamah yaitu nafsu yang memperolrh ilham dari Allah SWT, dikaruniai ilmu pengetahuan.Ia telah dihiasi akhlak mahmudah (akhlak terpuji), dan ia merupakan sumber kesabaran, keuletan dan ketabahan. Pada tingkat ini nafsu itu telah terbuka kepada berbagai petunjuk (ilham) dari Allah SWT.

Dengan itu pula seseorang telah memiliki sifatsifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat, sebagaimana yang di tunjukkan Allah SWT dalam surah as Syams ayat 7-10: Dalam jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), maka Allah SWT mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

4.

An Nafsul Muthmainnah.

Kepribadian mutmainnah adalah kepribadian yang telah di beri kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifatsifat tercela dan tumbuh sifatsifat yang baik.Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapat kesucian dan menghilangkan segala kotoranm sehingga dirinya menjadi tenang. Begitu tenangnya kepribadian ini sehingga dirinya menjadi tenang. Begitu tenangnya kepribadian ini sehingga ia di panggil oleh Allah SWT. Firman Allah SWT:

Hai kepribadian yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. [QS. AL Fajr : 27-28] . Kepribadian mutmainnah bersumber dari kalbu manusia, sebab hanya kalbu yang mampu merasakan thuma`ninah.Kepribadian muthmainnah merupakan kepribadian atas dasar atau supra kesadaran manusia. Dikatakan demikian sebab kepribadian ini merasa tenag dalam meneriama keyakinan fitrah yang dihujamkan pada ruh manusia di alam arwah dan kediaman di legitimasi oleh wahyu illahi. Al- Ghazali menyatakan bahwa daya kalbu mampu mencapai pengetahuan melalui daya cita rasa dan kasyf. Sedangkan Ibn Khaldun menyatakan dalam muqadimat bahwa ruh kalbu itu di singgahi oleh ruh akal. Ruh akal secara substansi mampu mengetahui apa saja di alam amr, sebab ia berpotensi demikian. Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan, sebagai bahan evaluasi apakah proses Tazkiyatun Nafs yang kita lakukan sudah berhasil atau belum. Indikator tersebut adalah sebagai berikut:

1. 2.

Iman bertambah kuat, bagus, dan kokoh. Tahan atas godaan syetan untuk menegakkan kebatilan. Tumbuh semangat beramal shaleh di tengah masyarakat.

3. Mampu menahan hawa nafsu, yangmendoronguntukmenghalalkan segala cara dan merampas hak orang lain. 4. Mampu menghindarkan diri dari maksiat kepada Alloh. Sebaliknya melaksanakan ketaatan dalam segala bentuk persoalan.

5. 6.

Menerima takdir Alloh dan tidak membencinya, diawali dengan usaha terbaik. Tidak pernah bosan beribadah kepada Alloh. Ber-dzikir saat bekerja, belajar dan lain sebagainya.

7. Tidak pernah jenuh menghadapi godaan syetan. Dalam dirinya takut jatuh saat melangkah hidup, baik di tengah maupun akhir hidupnya. 8. Kerjanya hanya berusaha mencari ridho Alloh. Kekayaan dan jabatan hanya sebagai sarana untuk mencapai rido Alloh, bukan sebagai tujuan utama hidup. 9. Mudah diberi nasehat, saat melakukan kesalahan.

10. Tidak pernah berhenti berdoa, dan menyadari atas kelemahaan diri atas-Nya. 11. Selalu bertaubat kepada Alloh atas kesalahan yang dilakukan selama beramal. 12. Mampu menghindari diri dari pekerjaan sia-sia. 13. Mengubah kejahatan dengan kebaikan.

Bagaimana cara untuk mewujudkan indikator di atas?, caranya adalah sebagai berikut:

1. Memperkuat keimanan secara terus menerus

2. Berusahan tidak melanggar perintah Alloh

3. Memelihara dan waspada diri terhadap adzab Alloh

4. Memelihara keikhlasan dan beribadah dan beramal

5. Mengutamakan / konsentrasi akhirat

6. Mengutamakan keridhoan Alloh atas segala-galanya.[7]

BAB III PENUTUP

1.

KESIMPULAN

Tazkiyatun Nafs berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari dua kata tazkyat dan nafs. Secara kebahasaan (etimologi) tazkiyat berarti menyucikan, menguatkan dan mengembangkan. Sedangkan Nafs adalah diri atau jiwa seseorang. Dengan demikian istilah tazkiyatun nafsi memiliki makna mensucikan, menguatkan dan mengembangkan jiwa sesuai dengan potensi dasarnya (fitrah) takni potensi iman, islam, dan ihsan kepada Allah. Ada beberapa bentuk dari an nafs atau jiwa yaitu di antaranya nafs amarah, nafs mulhammah, nafs lawwamah, nafs muthmainnah, yang dari masing masing nafs itu berbeda dari satu dengan yang lain. Metode yang digunakan untuk menyucikan jiwa kita yaitu yang pertama dengan metode mujahadat atau yang disebut dengan berusaha keras, atau penuh kesungguhan hati dan perilaku dengan penuh ketekunan. metode yang kedua yaitu dengan riyadhat atau yang disebut dengan pembebanan diri dengan melatih suatu erbuatan yang pada fase awal yang merupakan beban yang sangat berat dan pada fase akhir menjadi sebuah karakter atau kebiasaan yang tentunya baik.

MAKNA DAN PENTINGNYA TAZKIYATUN NAFS


Ditulis oleh Abdur Rosyid

Apa makna tazkiyatun nafs? Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Karena itulah zakat, yang satu akar dengan kata at-tazkiyah disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan/menyucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian jiwa atau nafsu kita. Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna annumuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji. Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy pakai kha), seperti kufur, nifaq, riya, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy pakai ha), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya. Mengapa tazkiyatun nafs itu penting? Setidak-tidaknya ada tiga alasan mengapa tazkiyatun nafs itu penting. Alasan pertama, karena tazkiyatun nafs merupakan salah satu diantara tugas Rasulullah saw diutus kepada umatnya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumuah: 2: Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Senada dengan itu, Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-Baqarah: 151: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Dari kedua ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa tugas Rasulullah saw ada tiga. Pertama, tilawatul aayaat: membacakan ayat-ayat Allah (Al-Quran). Kedua, tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa. Dan ketiga, talimul kitaab wal hikmah: mengajarkan kitabull ah dan hikmah.

Jelaslah bahwa salah satu diantara tiga tugas Rasulullah saw adalah tazkiyatun nafs menyucikan jiwa. Tazkiyatun nafs itu sendiri identik dengan penyempurnaan akhlaq, yang dalam hal ini Rasulullah saw bersabda tentang misi beliau diutus: Innama buitstu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia). Alasan kedua pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena tazkiyatun nafs merupakan sebab keberuntungan (al-falah). Dan ini ditegaskan oleh Allah SWT setelah bersumpah 11 kali secara berturut-turut, yang tidaklah Allah bersumpah sebanyak ini secara berturut-turut kecuali hanya di satu tempat, yaitu dalam QS Asy-Syams: 1-10: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Kemudian alasan ketiga pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena perumpamaan tazkiyatun nafs adalah seperti membersihkan dan mengisi gelas. Jika gelas kita kotor, meskipun diisi dengan air yang bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Dan meskipun diisi dengan minuman yang lezat, tidak akan ada yang mau minum karena kotor. Tetapi jika gelasnya bersih, diisi dengan air yang bening akan tetap bening. Bahkan bisa diisi dengan minuman apa saja yang baik-baik: teh, sirup, jus, dan sebagainya. Demikian pula dengan jiwa kita. Jika jiwa kita bersih, siap menampung kebaikan-kebaikan. Tetapi jika jiwa kita kotor, tidak siap menampung kebaikan-kebaikan sebagaimana gelas kotor yang tidak siap disi dengan minuman yang baik dan lezat.

Tazkiyatun Nufus (Pembersihan Jiwa)


Akhlaq Written by Admin Cara membimbing akhlaq Telah dimaklumi bahwa badan kita tidak diciptakan dalam keadaan sempurna, namun dia bisa dikondisikan menjadi lebih baik dengan makanan dan latihan. Maka begitu pula jiwa yang Allah ciptakan dalam keadaan lemah dan kekurangan; dia bisa dikondisikan menjadi kuat dan sempurna dengan mensucikan dan membimbing akhlaq serta menyuapinya dengan ilmu. Sebagaimana kepada badan yang sehat, dokter tinggal menganjurkan untuk menjaga

kesehatannya, dan bagi badan yang sakit, dokter akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya, maka begitu pula dengan jiwa. Jiwa yang suci, bersih, dan baik akhlaqnya, haruslah tetap dijaga dan semakin diperkuat. Jika jauh dari gambaran kesempurnaan, maka dia harus diusahakan untuk disempurnakan. Suatu penyakit, yang membuat badan kesakitan, harus diobati dengan lawannya. Jika badan terasa panas, maka harus diobati dengan yang dingin. Jika badan kedinginan maka harus diobati dengan panas. Begitu pula akhlaq-akhlaq yang hina, yang termasuk penyakit hati, harus diobati dengan lawannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan ilmu, penyakit kikir harus diobati dengan kedermawanan, penyakit takabbur harus diobati dengn tawadhu??, dan penyakit rakus harus diobati dengan menghentikan hal-hal yang menggugah nafsunya. Yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang harus mampu menahan diri merasakan pahitnya obat dan bersabar menahan diri dari hal-hal yang diinginkannya, demi pemulihan badannya yang sedang sakit. Begitu pula kesabaran dalam berusaha mengobati penyakit-penyakit hati, yang justru inilah yang lebih penting sebab penykit badan bisa lepas dengan kematian, tetapi penyekit hati bisa berlanjut dengan siksa abadi setelah kematian. Bagi orang yang sedang mengobati jiwa orang-orang yang menghendaki jalan Allah, janganlah mencecar mereka dengan suatu pola latihan khusus untuk mengetahui akhlaq dan penyakitnya Sebab mengobati setiap pasien tidak hanya dengan satu cara saja. Jika melihat orang yang tidak mengetahui syariat, maka dia harus mengajarinya. Jika melihat orang yang takabur maka ia harus menuntunnya kepada hal-hal yang membuatnya tawadhu', menghadapi orang yang mudah naik pitam dengan cara yang lemah lembut. Yang sangat diperlukan orang yang melatih jiwanya sendiri adalah kekuatan hasratnya. Selagi dia mundur, tentu ia tak akan berhasil. Selagi merasa hasratnya melemah, maka dia harus bersabar. Jika hasratnya semakin merosot, maka dia harus menghukumnya agar tidak terulang, seperti kata seseorang kepada dirinya sendiri Mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak perlu ? Akan ku hukum jiwamu dengan puasa.

Tanda-tanda Sakit Hati dan Mengembalikannya agar Sehat Kembali serta Cara Mengetahui Orang lain dan Aib dirinya Setiap anggota badan manusia diperuntukkan untuk tugas yang khusus. Adapun tanda sakitnya adalah ketidak mampuannya melaksanakan tugas itu, atau tugas itu bisa dilaksanakan dalam keadaan kacau. Tangan yang sakit terlihat dari ketidak mampuannya memegang. Mata yang sakit terlihat dari ketidak mampuannya melihat. Hati yang sakit terlihat dari ketidak mampuannyaa melaksanakan tugas khusus yang karenanya ia diciptakan, yaitu ilmu, hikmah, ma'rifah, mencntai Allah dan beribadah kepada-Nya serta mementingkan semua ini dari setiap bisikan nafsu. Orang yang mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui Allah, seakan-akan

dia tidak mengetahui sesuatu pun. Tanda ma'rifat (mengetahui) adalah cinta. Siapa yang mengetahui Allah tentu mencintai-Nya. Adapun tanda cinta adalah tidak mementingkan sesuatu dari sekian banyak hal-hal yang dicintai daripada Allah. Siapa yang lebih mementingkan sesuatu yang lebih dicintainya daripada cintanya kepada Allah, berarti hatinya sakit, sebagaimana perut lebih suka memakan tanah dari pada roti, maka perutnya tidak beres alias sakit. Penyakit hati ini adalah penyakit yang tersembunyi. Terkadang pemiliknya tidak mengtahui penyakit yang menimpa jiwanya, karena itu ia mengabaikannya. Kalaupun tahu, dia mungkin tidak sabar menanggung pahitnya obat, karena obatnya adalah menentang nafsu. Kalaupun sabar, belum tentu ia mendaptkan dokter yang sanggup mengobatinya. Dokter di sini adalah para ulama. Sementara penyakit itupun sudah menjangkiti mereka. Maka dokter yang sakit jarang yang mau mngobati orang lain yang sakit, sehingga penyakit menjadi menyebar ke mana-mana dan ilmu pun hilang. Obat hati dan penyakit hati sama-sama dibiarkannya, manusia hanya melakukan ibadah-ibadah zhahir, sedangkan dalam batinnya hanya sekedar tradisi. Inilah yang disebut tanda sumber penyakit. Untuk mengembalikan keadaan agar segar kembali, setelah berusaha melakukan pengobatan ialah dengan melihat jenis penyakitnya. Pengobatan penyakit kikir adalah dengan mengeluarkan harta, tapi tidak perlu berlebih-lebihan dan boros. Penyakit yang lain dengan pengobatannya yang tersendiri pula, seperti panas dengan dingin agar tidak semakin panas dan tidak terlalu dingin, agar tidak menjadi penyakit baru. Yang dituntut adalah jalan tengah. Jika engkau melihat jalan tengah ini, lihatlah kepada dirimu sendiri. Jika menumpuk harta dan mempertahankannya lebih engkau cintai dan lebih mudah daripada mengeluarkannya sekalipun kepada yang berhhak, maka ketahuilah bahwa ada sifat kikir pada dirimu. Maka obatilah jiwamu dengan mengeluarkan harta tersebut. Jika mengeluarkan harta tersebut kepada orang yang engkau cintai, maka tahanlah sedikit harta tersebut, karena pada dirimu adalah pemborosan. Janganlah engka lebih condong untuk mengeluarkannya atau menahannya. Buatlah harta tersebut mengalir seperti air di sisimu. Engkau tidak menuntut air tersebut untuk berhenti bukan untuk suatu keperluan, atau mengalirkannya secara deras untuk orang yang memerlukannya. Setiap hari orang yang bisa seperti itu akan mendatangi Allah dengan semangat dan bergairah. Seseorang juga harus terbebas dari segala akhlaq yang buruk , agar ia tidak mempunyai hubungan dengan sesuatu pun keduniaan, agar jiwa dapat meninggalkan dunia dalam keadaan memutuskan hubungan dengannya, tidak menoleh kepadanya dan tidak mengharapkannya. Pada saat itu dia akan kembali kepada Rabb-Nya sebagaimana kembalinya jiwa yang muthma'innah. Karena jalan tengah yang hakiki itu antara dua sisi yang cukup sulit dideteksi , bahkan lebih lembut daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada pedang, maka tidak aneh siapa yang bisa melewati jalam yang lurus ini di dunia, tentu akan bisa melewati jalan ini pula di akhirat. Karena sulitnya istiqomah, maka hamba

diperintahkan membaca , Ihdinash-shirathal-mustaqim, beberapa kali setiap hari. Siapa yang tidak sanggup istiqamah, hendaknya dia berusaha untuk istiqamah, karena keselamatan itu dari amal shalih. Sementara itu, amal yang shalih tidak keluar kecuali dari akhlak yang baik. Maka hendaklah setiap hamba mencari sifat dan akhlaknya sendiri, hendaklah mengobati satu persatu dan hendaklah bersabar dalam masalah ini, karena dia akan mendapatkan keadaann yang enak, seperti halnya anak kecil yang tadinya enggan disapih, tapi lama-kelamaan dia merasa enak disapih. Bahkan andaikan dia ditawari untuk menyusu lagi, tentu dia akan menolak, siapa yang menyadari umur yang pendek jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang panjang, maka dia akan berani menanggung beratnya perjalanan selama beberapa hari, untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi. Ketahuilah bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hamba, maka dia membuatnya tahu aib dirinya. Siapa yang mempunyai mata hati dia tidak akan takut terhadap aib dirinya. Jika dia tahu aib dirinya, memungkinkan baginya untuk mengobatinya. Tetapi mayoritas manusia tedak mau tahu aib diri sendiri. Ada pepatah mengatakan: Kuman di seberang lautan tampak , gajah dipelupuk mata tidak tampak. Kotoran di mata temannya tampak, batang pohon di depan matanya tidak tampak. Siapa yang ingin mengetahui aib diri sendiri, maka ada empat jalan yang bisa ditempuh: 1. Menghadap seorang syaikh yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aibnya dan sekaligus mengobatinya. Yang seperti ini seringkali terjadi, dan cukup banyak dokter yang menanganinya 2. Mencari teman karib yang jujur, dapat dipercaya dan bagus agamanya. Dia bisa menjadikann teman karib itu sebagai pendampingnya, agar memberinya peringatan dari akhlak atau perbuatannya yang kurang baik. Amirul-Mukminin Umar bin Al-khaththab pernah berkata:Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukkan aib kami kepada kami. Suatu kali dia bertanya kepada Salman tentang aib yang pernah dilakukannya. Maka salman menjawab, Aku mendengar engkau pernah mengumpulkan dua jenis sayru di meja makanmu dan engkau mengenakan dua macam pakaian, satu untuk siang hari dan satu lagi untuk malam hari. Umar berkata , Apakah ada selain itu? Tidak, jawab Salman. Kalau dua hal itu aku sudah tidak melakukannya lagi, jawab Umar bin Al-Khaththab. Umar juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, Apakah aku termasuk orang-orang munafik?Dia perlu bertanya itu, sebab siapa yang kedudukannya semakin tinggi, maka tuduhan terhadap dirinya juga semakin gencar. Hanya saja di zaman sekarang jarang ada teman karib yang jujur dengan memiliki sifat seperti ini. Sedikit sekali

teman yang tidak mencari muka atau tidak dengki. Orang-orang salaf sangat suka jika ada seseorang yang menunjukkan aib mereka. Sementara kita di zaman sekarang justru marah besar jika ada seseorang yang menunnjukkan aib kita. Hal ini menunjukkan lemahnya iman kita. Sebab akhlaq yang buruk itu seperti kalajengking, maka secepat itu pula kita akan bertindak membunuh kalajengking tersebut. sementara akhlaq yang hina lebih berbahaya dari kalajengking, bagi orang yang tidak menyadarinya. 3. Mengambil manfaat tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh kebencian itu akan memamncarkan keburukan. Manfaat yang dapat diambil oleh musuh mengingatkan aib dirinya. Hal ini lebih bermanfaat bagi dirinya dari pada teman karib yang mencari muka dan menutupi aibnya. 4. Bergaul dengan manusia selagi dia melihat seuatu yang tercela pada diri mereka, maka mereka segera menjahuinya.

Nafsu-nafsu jiwa Seperti yang sudah kami isyaratkan diatas, bahwa nafsu jiwa tidak diciptakan melainkan kerena ada faedahnya. Andaikata tidak ada nafsu makan, tentu manusia tidak akan mau mencari makan. Andaikata tidak ada nafsu seksual, keturunan tentu akan terputus, dan yang tercela adalah nafu yang berlebih-lebihan dan melampaui batas. Banyak orang yang belum memahami takaran ini, lalu merekapun meninggalkan apa yang diinnginkan jiwa. Tetu saja ini merupakan kezaliman karena mengabaikan haknya. Jiwa mempunyai hak, hal ini didasarkan pada sabda Nabi: Sesungguhnya jiwamu mempunyai hak atas dirimu (HR Bukhari dan Muslim) Sebagian diantara mereka berkata: Aku mempunyai kebiasaan begini dan begitu. Jika aku menghendaki yang lain, maka aku tidak memenuhinya. Ini namanya penyimpangan dari yang halal dan dari sunnah. Seseorang boleh memakan hal-hal yang dihalalkan dan yang diinginkan jiwanya, seperti manisan, madu dan lain sebagainya. Jangan pedulikan orang zuhud yang sedikit ilmunya, yang mengharamkan segala yang diinginkan jiwanya.dia lebih panta disebut orang zalim daripada orang yang adil. Boleh meninggalkan apa yang diinginkan, kalau sulit mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dia mendapatkan hal tersebut dengan cara yang kurang disenangi, atau jika dia memakan sesuatu yang diinginkan jiwanya bisa membuatnya berat dalam beribadah. Tapi memakannya sesekali waktu untuk menguatkan jiwa, maka hal itu seperti obat dari suastu penyakit, dia dipuji dan tidak dicela. Memang adakalanya jiwa itu dimanja sekedar untuk menguatkan sikap.

Tanda-tanda akhlaq yang baik Boleh jadi seseorang menyangka telah menata jiwanya, sehingga dia sudah bisa meninggalkan hal-hal yang keji dan kedurhakaan, kemudian dia mengira bahwa

ahlaknya sudah tertata, lalu tidak mau lagi berusaha, ini tidak benar.sebab ahlak yang baik itu merupakan kumpulan sifat-sifat orang mukmin, sebagaimana yang digambarkan Allah dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, [yaitu] orang-orang yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka,.itulah orang-orang yang beriman dengan sebenarbenarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat, ketinggian disisi Rabbnya dan ampunann serta rezki [nikmat] yang mulia. [Al-anfal:2-4]. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman,[yaitu] orang-orang yang khusyu`dalam shalatnya,dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat,dan orangorang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.Barang siapa yang mencari dibalik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sholatnya,.mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, [yakni] yang akan mewarisi surga firdaus. Mreka kekal didalamnya.(alMu'minun : 1-11) Dan hamba hamba yang baik dari Rabb yang maha penyayang itu [ialah] orangorang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka,maka mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. [Alfurqon:63]. Siapa yang kesulitan mengukur dirinya, maka hendaklah dia membandingkan dirinya dengan ayat-ayat ini. Keberadaan sifat-sifat ini merupakan tanda tanda ahlak yang baik dan ketiadaan sifat-sifat ini merupakan tanda ahlak yang buruk, dan keberadaan sebagian sifat-sifat ini tanpa sebagian yang lain menunjukan keberadaan sifat-sifat itu tanpa yang lain. Untuk yang terakhir ini, sifat yang sudah ada harus tetap dijaga, dan yang belum ada tentu harus diusahakan. Rasulullah juga telah menggambarkan orang Mukmin dengan berbagai sifat, yang dengan sifat-sifat inilah beliu mengisyatkan tentang ahlak yang baik Di dalam ash-shahihain, disebutkan dari hadits Anas, bahwa Nabi bersabda: Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, tidaklah seorang hamba itu disebutkan beriman sehingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.(Diriwayatkan AL-bukhary dan Muslim) juga disebutkan dari hadits Abu Hurairah dari Rasulallah, beliau bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia menghormati tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dann hari Akhirat, hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah

dan hari Akhir , hendaklah mengatakan yang baik atau hendaklah dia diam' (HR Bukhari dan Muslim) dan sabda beliau yang lain Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya (HR At-Tirmidzi dann Abu Dawud dan Ahmad dan Hakim) Akhlaq-akhlaq yang lainnya adalah sabar menghadapi gangguan. Di dalam asshahihain disebutkan bahwa ada seorang A'raby yang menarik mantel Rasulullah hingga menimbulkan bekas dibahu beliau, kemudian berkata Hai Muhammad! Serahkanlah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu. Beliau menengok kearah orang yang sambil itu ambil teresenyum, lalu memberinya apa yang diminta (HR Bukhari dan Muslim) Jika orang yang menyiksa beliau, maka belaiau bersabda: 'Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.' (Diriwayatkan Bukhary dan Muslim). Jika Uwais Al-Qarny dilempari oleh anak-anak kecil, maka dia berkata, 'Wahai saudarasaudaraku, jika tidak ada pilihan yang lain, maka bolehlah kalian melempari aku, tetapi dengan batu yang lebih kecil agar betisku tidak berdarah sehingga menghalangiku untuk shalat,' Suatu ketika Ibrahim bin Adnan keluar ke tengah lembah, lalu disana dia berpapasan dengan seorang prajurit perang. Prajurit itu bertanya,'Dimana ada tempat yang baik ?' Ibrahim menunjuk kearah kuburan di dekatnya. Prajurit itu langsung memukul kepala Ibrahim karena geram. Setelah ada orang lain yang memberi tahu bahwa orang yang dipukulnya itu adalah Ibrahim bin Adnan, maka prajurit tersebut memeluk tangan dan kaki Ibrahim karena menyesali perbuatannya, Ibrhim berkata, Ketika kepalaku dipukul, aku memohon syurga bagi orang ini kepada Allah. Aku sudah memperingatkan diriku saat aku dipukul, bahwa jangaan sampai aku mendapatkan kebaikan dari kejadian itu, sedangkan dia mendapatkan akibat yang. Buruk. Itulah gambaaran jiwa yang bisa merendahkan diri berkat latihan, sehingga akhlak mereka menjadi baik dan batinnya tidak terkecoh, lalu menghasilkan keridhaan terhadap takdir. Siapa yang tidak memiliki sifat-sifat seperti yang mereka memiliki ini, maka ia harus melatih diri, yang secara berangur-angsur dia bisa mencapainya.