Anda di halaman 1dari 14

Tinjauan Pustaka Aspek Fisiologis dan Patologis Akibat Menua Dengan makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan

terjadinya penurunan anatomik dan fungsional atas organorgannya makin besar. Penurunan tersebut tidak dikaitkan dengan umur kronologik akan tetapi dengan umur biologiknya. Penurunan tadi akan menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit pada organ tersebut. Umur biologik dipengaruhi oleh faktor nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan kurangnya aktivitas (Martono et al., 2009). Petanda penuaan-adalah bukan pada tampilan organ atau organisme saat istirahat, akan tetapi bagaimana organ atau organisme tersebut dapat beradaptasi terhadap stres dari luar. Perubahan yang terjadi pada lanjut usia kadang bekerja sama untuk menghasilkan nilai fungsional yang terlihat normal pada lansia (Martono et al., 2009). Pada lansia terdapat beberapa perubahan fisik seperti (Setiati et al., 2007): Sistem saraf a. Berat otak menurun 10-20% b. Cepatnya menurun hubungan persarafan c. Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya untuk stress d. Mengecilnya saraf panca indera e. Kurang sensitif terhadap sentuhan Sistem pendengaran a. Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran) terutama trhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi b. Otosklerosis akibat atrofi membran timpani c. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin Sistem gastrointestinal d. Kehilangan gigi e. Kemampuan indera pengecap menurun f. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun g. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi h. Daya absorbsi lemah Sistem penglihatan Sistem kardiorespirasi Sistem endokrin a. Produksi semua hormon menurun b. Menurunnya aktivitas tiroid dan BMR c. Menurunnya produksi aldosteron d. Menurunnya sekresi hormon kelamin, misalnya estrogen, progesteron, dan testosteron

a. Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar; lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap b. Kornea lebih berbentuk sferis (bola) c. Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak d. Hilangnya daya akomodasi e. Menurunnya lapang pandang f. Menurunnya daya membedakan warna

a. Kemampuan jantung memompa darah menurun b. Kehilangan elastisitas pembluh darah c. Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh daarah perifer d. Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku e. Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapsitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman pernafasan menurun Sistem perkemihan a. Nefron menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50% b. Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.

Sistem muskuloskeletal a. Tulang kehilangan density dan makin rapuh b. Pergerakan pinggang, lutut, dan jarijari terbatas c. Persendian membesar dan menjadi kaku d. Tendon mengerut dan mengalami sklerosis e. Atrofi serabut otot tapi otot-otot polos tidak begitu berpengaruh

Pemeriksaan khusus pada geriatri Pemeriksaan khusus yang akan di bahas disini adalah screening fungsi kognitif melalui MSSE (Mini Mental State Examination) dan screening GDS (Geriatric Depression Scale). A. MMSE (Mini Mental State Examination) MMSE merupakan alat yang digunakan secara sistematik untuk mengukur status mental. Terdapat 11 pertanyaan yang mengukur 5 area dalam fungsi kognitif: orientasi, registrasi, perhatian, dan kalkulasi, recall, dan bahasa. Skor maksimum

adalah 30. Skor dibawah 23 atau lebih rendah lagi mengindikasikan adanya gangguan kognitif (Wallace,1999).

B. GDS (Geriatric Depression Scale) GDS tidak digunakan sebagai alat diagnosis. Alat ini hanya digunakan untuk screening adanya depresi pada usia lanjut. GDS dapat digunakan untuk orang sehat, sakit medis, dan gangguan kognitif ringan sampai sedang. Alat ini sudah digunakan luas di komunitas, dan perawatan akut dan jangka panjang. Terdapat 15 pertanyaan yang perlu dijawab. Nilai 0-4 normal, 5-9 depresi ringan, 10-15 depresi lebih parah (Thomas, 2009).

C. Index Barthel Merupakan pengukuran untuk mengetahui kemampuan fungsional seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Activity Daily Life) (John, dkk, 1998). NO FUNGSI SKOR KETERANGAN

Mengendalikan rangsang pembuangan tinja

0 1 2

Tak terkendali/tak teratur (perlu pencahar). Kadang-kadang tak terkendali (1x seminggu). Terkendali teratur.

Mengendalikan rangsang berkemih

0 1 2

Tak terkendali atau pakai kateter Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam) Mandiri

Membersihkan diri (seka muka, sisir rambut, sikat gigi) Penggunaan jamban, masuk dan keluar (melepaskan, memakai celana, membersihkan, menyiram)

0 1 0 1 2

Butuh pertolongan orang lain Mandiri Tergantung pertolongan orang lain Perlu pertolonganpada beberapa kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan yang lain. Mandiri

Makan

0 1 2

Tidak mampu Perlu ditolong memotong makanan Mandiri Tidak mampu Perlu banyak bantuan untuk bias duduk Bantuan minimal 1 orang. Mandiri Tidak mampu Bisa (pindah) dengan kursi roda. Berjalan dengan bantuan 1 orang. Mandiri Tergantung orang lain Sebagian dibantu (mis: memakai baju) Mandiri. Tidak mampu

Berubah sikap dari berbaring ke duduk

0 1 2 3

Berpindah/ berjalan

0 1 2 3

Memakai baju

0 1 2

Naik turun tangga

1 2 10 Mandi 0 1 Interpretasi dari skor indeks barthel adalah: 20 : Mandiri

Butuh pertolongan Mandiri Tergantung orang lain Mandiri

12-19 :Ketergantungan ringan 9-11 5-8 0-4 : Ketergantungan sedang : Ketergantungan berat : Ketergantungan total

Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang akan di bahas di bagian ini adalah jatuh, hipertensi, gagal ginjal, dan osteoarthritis. A. Jatuh Jatuh adalah kejadian yang tidak disadari oleh seseorang yang terduduk di lantai/tanah atau tempat yang lebih rendah. Adapula ynag mendefinisikan jatuh sebagai suatu kejadian yang dilaporkan oleh saksi mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang menadadak terbaring atau terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Martono et al., 2009). Banyak faktor yang berperan dalam jatuh, bauik faktr intrinsik maupun ekstrinsik (Kane et al., 2004).

Direkomendasikan untuk melakukan asesmen pada semua lansia sebagai bagian dari pemeriksaan rutin yang meliputi: 1. Semua lansia yang kontrol rutin di puskesmas atau dokter atau tenaga kesehatan lain wajib untuk ditanya tentang jatuh minimal setahun sekali. 2. Semua lansia yang pernah dilaporkan jatuh satu kali wajib diobservasi dengan meminta untuk melakukan the get up and go test. Jika pasien dapat melakukan tanpa kesulitan tidak memerlukan asesmen lanjutan.

3. Pasien yang mengalami kesulitan untuk memerlukan kajian yang lebih lanjut (Martono et al., 2009). Penatalaksanaan dilalkukan untuk mencegah terjadinya jatuh berulang dan menerapi komplikasi yang terjadi. Penatalaksanaan bersifat individualis, artinya berbeda-beda untuk setiap kasus karena perbedaan faktor-faktor yang bersama-sama mengakibatkan jatuh. Penatalaksanaan yang mungkin perlu untuk dilakukan misalnya: pengelolaan gangguan penglihatan, pengelolaan gangguan keseimbangan, intervensi obat-obatan, intervensi lingkungan, pemakaian alas kaki, intervenmsi pendidikan/pengetahuan yang berhubungan jatuh (Martono et al., 2009). B. Hipertensi Faktor yang berperan dalam patogenesis hipertensi pada lanjut usia terutama adalah: 1. Penurunan kadar renin karena menurunnya jumlah nefron akibat proses menua. Hal ini menyebabkan suatu sirkulus vitiosus: hipertensi-glomerulo-sklerosishipertensi yang berlangsung terus menerus. 2. Peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. 3. Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer. 4. Perubahan ateromatos akibat proses menua (Martono et al., 2009) Jenis hipertensi pada usia lanjut menurut JNC VII adalah (martono et al., 2009): 1. Hipertensi sistolik saja 2. Hipertensi diastolik 3. Hipertensi sistolik-diastolik Penatalaksanaan hipertensi menurut JNC VII adalah sebagai berikut (JNC VII, 2004)): Klasifikasi tekanan darah Tekanan darah sistolik (mmHg) <120 120-139 140-159 Tekanan darah diastolik (mmHg) <80 80-89 90-99 Modifikasi gaya hidup Terapi farmakologis inisial Tidak ada obat yang dianjurkan Kebanyakan diureti thiazide. Dapat dipertimbangkan ACEI, ARB, BB,CCB, atau kombinasi Kombinasi dua obat (biasanya thiazide dan ACEI atau ARB atau BB atau CCB

normal prehipertensi Hipertensi stage 1

Dianjurkan Ya Ya

Hipertensi stage 2

>159

>99

Ya

Ket: ACEI (angiotensin converting enzyme inhibitor), ARB (angiotensin receptor blocker), BB (beta blocker), CCB (calcium channel blocker). Terdapat upaya upaya non-farmakologik, seperti (JNC VII, 2004): Berhenti merokok. Menurunkan berat badan yang berlebih. Berhenti/mengurangi asupan alkohol. Mengurangi asupan garam.

C. Gagal ginjal Penyakit ginjal kronis adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal irreversible, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Suwitra dalam Sudoyo et al., 2009). Adapun kriteria diagnosisnya adalah: 1. Kerusakan ginjal 3 bulan Kelainan struktur atau fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan presentasi: a) Kelainan struktur histopatologi ginjal. b) Petanda kerusakan ginjal meliputi kelainan komposisi darah dan urin, atau uji pencitraan ginjal. 2. LFG < 60 mL/menit/1.73 m2 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal (Sukandar,2006). Patofisiologi dari penyakit ginjal kronis melibatkan dua mekanisme kerusakan: (1) tahap inisiasi mekanisme kerusakan spesifik akibat penyakit yang mendasari, (2) tahap mekanisme kerusakan progresif, diantaranya hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron yang tersisa, yang merupakan konsekuensi umum akibat berkurangnya masa renal karena etiologi tertentu. Respon terhadap berkurangnya masa renal dimediasi oleh hormon vasoaktif, sitokin, dan growth factor. Proses terhadap kompensasi tadi akan menyebabkan respon maladaptif akibat kenaikan tekanan dan

aliran yang menyebabkan sklerosis dan rusaknya nefron yang tersisa (Fauci et al., 2008). Gambaran klinis pasien penyakit ginjal kronis meliputi: a) sesuai kondisi medis yang mendasari seperti diabetes melitus, infeksi traktus urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritematos Sistemik (LES), dan lain sebagainya; b) Sindrom uremia, yang terdiri dari lemah, letargi, anoreksia, mual muntah, nokturia, kelebihan volume cairan, neuropati perifer, pruritus, perikarditis, kejang-kejang sampai koma; c) gejala komplikasi antara lain, hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (Suwitra dalam Sudoyo et al., 2009). Penatalaksanaan penyakit ginjal kronis meliputi terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya, pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid, memperlambat perburukan fungsi ginjal, pencegahan dan terapi terhadap penyakit

kardiovaskular, pencegahan dan terapi terhadap komplikasi, terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi. Penatalaksanaan penyakit ginjal kronis sesuai derajatnya adalah sebagai berikut: Derajat LFG mm) 1 90 (ml/menit/1,73 Rencana Tatalaksana Terapi penyakit dasar, kondisi komorbid, evaluasi pemburukan fungsi ginjal, megurangi resiko kardiovaskular Menghambat pemburukan fungsi ginjal Evaluasi dan terapi komplikasi Persiapan untuk terapi pengganti ginjal Terapi pengganti ginjal

2 3 4

60-89 30-59 15-29

5 <15 (Suwitra dalam Sudoyo et al., 2009).

Hal yang perlu diperhatikan pada lanjut usia adaah kadang terjasi perubahan yang bekerja sama untuk menghasilkan nilai fungsional yang terlihat normal pada lansia. Pada lansia walaupun laju filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal sudah menurun pada usia lanjut, banyak lansia menunjukan nilai kreatinin serum dalam batas normal. Ini disebabkan karena massa otot bersih dan produksi kreatinin yang sudah menurun pada lanjut usia. Oleh karena itu pada usia lanjut kreatinin serum tidak begitu tepat untuk dijadikan sebagai indikator fungsi ginjal dibanding

pada usia muda. Pada lansia dianjurkan memakai formula Cockroft-Gault (Martono et al., 2009). D. Osteoarthritis Osteoarthritis adalah penyakit sendi degenaratif yang berkembang lambat, progresif, dan menyebabkan kerusakan kartilago sendi (Isbagio, 200). Karakteristik penyakit ini antara lain menipisnya tulang rawan sendi secara progresif disertai pembentukan tulang baru pada trabekula subkondral dan terbentuknya tulang rawan sendi dan tulang baru pada tepi sendi (osteofit). Secara histopatologik, proses OA ditandai dengan menipisnya rawan sendi disertai pertumbuhan dan remodeling tulang di sekitarnya (bony overgrowth) diikuti dengan atrofi dan destruksi tulang di sekitarnya. Beberapa faktor risiko OA adalah: 1. Umur : jarang pada usia < 40 tahun dan tersering usia > 60 tahun 2. Jenis kelamin : wanita (khususnya mengenai banyak sendi dan sendi lutut), lakilaki (biasanya pada sendi pinggul, pergelangan tangan, dan leher) dan setelah menopause lebih sering pada wanita dibanding laki-laki 3. Suku bangsa : orang kaukasoid lebih sering terkena daripada orang asia dan kulit hitam; orang Indian lebih sering dari orang kulit putih (Soeroso et al, 2007) Klasifikasi osteoartritis menurut etiologinya : 1. Osteoartritis primer : kausanya tidak diketahui (idiopatik) 2. Osteoartritis sekunder : pekerjaan dan olahraga (tekanan berlebih, obesitas (beban tubuh berlebih), usia lanjut (proses penuaan), gangguan endokrin (menopause), cedera sendi) (inflamasi), genetik, kelainan pertumbuhan (Isbagio, 2007). Manifestasi klini soteoartritis antar lain nyeri sendi, hambatan gerak (keterbatasan range of motion), krepitasi (rasa gemeretak akibat gesekan kedua permukaan sendi saat digerakkan), pembengkakan sendi, perubahan gaya berjalan (Cicaherlina, 2006). Diagnosis OA dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan dalam penegakkan diagnosis OA antara lain (Cicaherlina, 2006) : 1. Fisik : terdapat gambaran gejala klinis seperti yang disebut di atas 2. Radiologis : terdapat gambaran penyempitan celah sendi asimetris, peningkatan densitas (sklerosis) tulang subkondral, kista tulang, osteofit pada tepi sendi, dan perubahan struktur anatomi sendi 3. Laboratorium darah : pemeriksaan darah tepi dan imunologis (ANA, faktor rematoid dan komplemen) dalam keadaan normal. Namun, jika terjadi peradangan

akan terlihat penurunan viskositas, pleositosis ringan sampai sedang, peningkatan sel radang dan protein. Gejala klinis: Nyeri sendi, hambatan gerak (keterbatasan range of motion), krepitasi (rasa gemeretak akibat gesekan kedua permukaan sendi saat digerakkan), pembengkakan sendi, kaku pagi, tanda-tanda radang (kalor, dolor, tumor, rubor, finctio laesa), deformitas sendi, perubahan gaya berjalan (Cichaerlina, 2006) Patogenesis (Soeroso, et al, 2007) Jejas mekanik pada sinovial sendi

Merangsang terbentuknya molekul abnormal Degenerasi kartilago Sendi+inflamasi Aktivitas fibrinogenik Aktivitas fibrinolitik kompensatorik

regenerasi kartilago

remodelling tulang

Trombus+kompleks lipid sintesis kolagen, proteoglikan, osteofit Menyumbat pembuluh menekan enzim streptomisin, darah proliferasi sel Iskemik dan nekrosis jaringan saraf Merangsang mediator kimiawi Prostaglandi dan interleukin Nyeri merangsang monosit menjadi osteoklas dan meresorpsi matriks kartilago

pembentukan di tepi sendi

menyebabkan penekanan Periosteum dan radiks

nyeri

Gangguan homeostasis sendi

Perlunakan, perpecahan, dan pengelupasan lapisan tulang rawan sendi (osteoarthritis)

Penatalaksanaan OA antara lain (Amalia, 2008; Cicaherlina, 2006): 1. Terapi farmakologis a. Acetaminophen. Merupakan obat pertama yang direkomendasikan oleh dokter karena relatif aman dan efektif untuk mengurangi rasa nyeri. b. NSAIDs. Dapat mengatasi rasa sakit dan peradangan pada sendi. Mempunyai efek samping, yaitu menyebabkan sakit perut dan gangguan fungsi ginjal. c. Topical pain. Dalam bentuk cream atau spray yang bisa digunakan langsung pada kulit yang terasa sakit. d. Tramadol (ultram). Tidak mempunyai efek samping seperti yang ada pada NSAIDs dan acetaminophen. e. Milk narcotic painkillers. Mengandung analgetik seperti codein atau hydrocodone yang efektif mengurangi rasa sakit pada penderita osteoarthritis. f. Corticosteroid. Efektif mengurangi rasa sakit. g. Glucosamine dan chondroitin sulfate. Mengurangi pengobatan untuk pasien osteoarthritis pada lutut. 2. Terapi non farmakologis Ada beberapa cara dalam penanganan osteoarthritis non farmakologi, diantaranya (Amalia, 2008; Cicaherlina, 2006) : a. Olahraga : mengurangi rasa sakit dan dapat membantu mengontrol berat badan. Olahraga untuk osteoarthritis antara lain berenang dan jogging. b. Menjaga sendi : mengguanakan sendi dengan hati-hati dapat mengurangi stress pada sendi. c. Panas/dingin : panas didapat, misalnya mandi air panas. Panas dapat mengurangi rasa sakit pada sendi dan melancarkan peredaran darah. Dingin dapat mengurangi pembengkakan pada sendi dan mengurangi rasa sakit. Dapat didapat dengan mengompres daerah yang sakit dengan air dingin. d. Viscosupplementation : merupakan perawatan dari Canada untuk orang yang terkena OA pada lutut, berupa gel

e. Pembedahan : apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat, akan dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian dari tulang. f. Akupuntur : dapat mengurangi rasa sakit dan merangsang fungsi sendi.

g. Pijat : pemijatan sebaiknya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya. h. Vitamin D, C, E, dan beta karotin. Untuk mengurangi laju perkembangan osteoarthritis.

Amalia. 2008. Osteoarthritis. http://fkui.org/tikidownload/wiki/attachment.php. diunduh tanggal 17 Maret 2011 Cicaherlina. 2006. Arthritis. www.kalbefarma.com/files/cdk/files/04penyakitpenyakit artritis023.pdf/04penyakitpenyakit023.html. diunduh tanggal 17 Maret 2011 Isbagio, Harry. 2000. Struktur Rawan Sendi dan Perubahannya pada Osteoarthritis. http:?www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_129_penyakit_sendi,pdf. Diunduh tanggal 17 Maret 2011 Soeroso J, et al. 2007.Osteoarthritis. In: Aru W.S, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Martono, H. 2009. Martono, H. and Pranaka K. Buku Ajar Boedhie-Darmojo: Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). 4th edition. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, JNC-VII. 2004. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. JAMA. 269(19):25602572. Sukandar E.2006. Nefrologi Klinik. Edisi 3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD/RS.Dr.Hasan: Sadikin Suwitra K.2009. Penyakit Ginjal Kronis.Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J.2008. Harrison's Principles of Internal Medicine. 17th Edition. Mc Graw-Hills Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB. 2004. Essentials of Clinical Geriatrics. 5th Edition. Mc Graw-Hills Wallace M. 1999. The Mini Mental State Examination (MMSE). Hartford Institute for Geriatric Nursing. www.hartfordign.org. Diunduh tanggal 25 maret 2012

Thomas H.2009. Geriatric Depression Scale. http://www.patient.co.uk/doctor/GeriatricDepression-Scale-(GDS).htm diundih pada 25 maret 2012 Joseph J. Gallo, William Reichel, Lillian M. Andersen. 1998. Buku Saku Gerontologi Edisi 2, Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai