Anda di halaman 1dari 21

PARALISIS NERVUS FASCIALIS Definisi Kelumpuhan saraf fasialis (N VII) merupakan kelumpuhan otot-otot wajah dimana pasien tidak

atau kurang dapat menggerakkan otot wajah, sehingga wajah pasien tidak simetris. Hal ini tampak sekali ketika pasien diminta untuk menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi. Epidemiologi !oester melaporkan bahwa kerusakan saraf fasialis seban"ak #$% dari &'%( kasus (&)) dari seluruh trauma kepala saat *erang +unia I. !riedman dan ,erit menemukan sekitar ( dari &% kasus trauma kepala. -dapun kelumpuhan saraf fasialis "ang tidak diketahui pen"ebabn"a (.ell/s *als") sekitar $%-&% kasus per #%%.%%% penduduk pertahun, sekitar 0%-(1) dari semua kasus merupakan paral"sis ner2us fasialis unilateral.( Insiden pada laki-laki dan perempuan sama, namun rata-rata mun3ul pada usia % tahun meskipun pen"akit ini dapat timbul di semua umur. Insiden terendah adalah pada anak di bawah #% tahun, meningkat pada umur di atas (% tahun. !rekuensi kelumpuhan saraf fasialis kanan dan kiri sama. Kausa tumor merupakan hal "ang jarang, han"a sekitar 1) dari semua kasus kelumpuhan saraf fasialis.( Anatomi dan Fisiologi Saraf Fasialis 4araf fasialis mempun"ai $ subdi2isi , "aitu5',#% #. 4araf fasialis propius5 "aitu saraf fasialis "ang murni untuk mempersarafi otot-otot ekspresi wajah, otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. $. 4araf intermediet (pars intermedius wisberg), "aitu subdi2isi saraf "ang lebih tipis "ang membawa saraf aferen otonom, eferen otonom, aferen somatis. - -feren otonom5 mengantar impuls dari alat penge3ap di dua pertiga depan lidah. 4ensasi pengecapan dari 2/ !agian depan lida" dihantar melalui

saraf lingual ke korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum dan kemudian ke nukleus traktus solitarius. - 6feren otonom (parasimpatik eferen)5 datang dari nukleus sali2atorius superior. 7erletak di kaudal nukleus. 4atu kelompok akson dari nukleus ini, berpisah dari saraf fasilalis pada tingkat ganglion genikulatum dan diperjalanann"a akan ber3abang dua "aitu ke gland#la la$rimalis dan gland#la m#$osa nasal. Kelompok akson lain akan berjalan terus ke kaudal dan men"ertai korda timpani serta saraf lingualis ke ganglion submandibularis. +ari sana, impuls berjalan ke gland#la s#!ling#alis dan s#!mandi!#laris, dimana impuls merangsang sali2asi. - -feren somatik5 rasa n"eri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa "ang disarafi oleh saraf trigeminus. +aerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf atau tumpang tindih) ini terdapat di lidah% palat#m% meat#s a$#sti$#s e$sterna% dan !agian l#ar mem!ran timpani. Inti motorik saraf VII terletak di pons. 4erabutn"a mengitari saraf VI, dan keluar di bagian lateral pons. 4araf intermedius keluar di permukaan lateral pons di antara saraf VII dan saraf VIII. Ketiga saraf ini bersama-sama memasuki meatus akustikus internus. (lihat gambar $) +i dalam meatus ini, saraf fasialis dan intermediet berpisah dari saraf VIII dan terus ke lateral dalam kanalis fasialis, kemudian ke atas ke tingkat ganglion genikulatum. *ada ujung akhir kanalis , saraf fasialis meninggalkan kranium melalui foramen stilomastoideus. +ari titik ini, serat motorik men"ebar di atas &a'a". +alam melakukan pen"ebaran itu, beberapa melubangi gland#la parotis.',#%

8ambar # .agan 4araf !asialis

8ambar $ 4araf !asialis 4ewaktu meninggalkan pons, saraf fasialis beserta saraf intermedius dan saraf VIII masuk ke dalam tulang temporal melalui porus akustikus internus. +alam perjalanan di dalam tulang temporal, saraf VII dibagi dalam & segmen, "aitu segmen labirin, segman timpani dan segmen mastoid. 4egmen labirin terletak antara akhir kanal akustik internus dan ganglion genikulatum . panjang segmen ini $- milimeter. 4egmen timpani (segmen 2ertikal), terletak di antara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah , kemudian naik ke arah tingkap lonjong (2enestra o2alis) dan stapes, lalu turun kemudian terletak sejajar

dengan kanal semisirkularis hori9ontal. *anjang segmen ini kira-kira #$ milimeter. 4egmen mastoid ( segmen 2ertikal) mulai dari dinding medial dan superior ka2um timpani . perubahan posisi dari segman timpani menjadi segmen mastoid, disebut segman piramidal atau genu eksterna. .agian ini merupakan bagian paling posterior dari saraf VII, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi. 4elanjutn"a segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju segmen stilomaoid . panjang segmen ini #1-$% milimeter. Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus "ang mengarahkan "ang mengarahkan gerakan ekspresi emosional pada otot-otot wajah. :uga ada hubungan dengan gangglion basalis. :ika bagian ini atau bagian lain dari sistem piramidal menderita pen"akit pen"akit, mungkin terdapat penurunan atau hilangn"a ekspresi wajah (hipomimia atau amimi).#% Etiologi *en"ebab kelumpuhan saraf fasialis bisa disebabkan oleh kelainan 3ongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah, idiopatik, dan pen"akitpen"akit tertentu.
,(

() *ongenital Kelumpuhan "ang didapat sejak lahir ( 3ongenital ) bersifat irre2ersible dan terdapat bersamaan dengan anomal" pada telinga dan tulang pendengaran.# *ada kelumpuhan saraf fasialis bilateral dapat terjadi karena adan"a gangguan perkembangan saraf fasialis dan seringkali bersamaan dengan kelemahan okular (sindrom ,oibeus).( 2) Infe$si *roses infeksi di intra3ranial atau infeksi telinga tengah dapat men"ebabkan kelumpuhan saraf fasialis. Infeksi intra3ranial "ang men"ebabkan kelumpuhan ini seperti pada 4indrom ;amsa"-Hunt, Herpes otikus. Infeksi 7elinga tengah "ang dapat menimbulkan kelumpuhan saraf

fasialis adalah otitis media supuratif kronik ( <,4K ) "ang telah merusak Kanal !allopi. ) +#mor 7umor "ang bermetastasis ke tulang temporal merupakan pen"ebab "ang paling sering ditemukan. .iasan"a berasal dari tumor pa"udara, paru-paru, dan prostat. :uga dilaporkan bahwa pen"ebaran langsung dari tumor regional dan sel s3hwann, kista dan tumor ganas maupun jinak dari kelenjar parotis bisa mengin2asi 3abang akhir dari saraf fasialis "ang berdampak sebagai berma3am-ma3am tingkat kelumpuhan. *ada kasus "ang sangat jarang, karena pelebaran aneurisma arteri karotis dapat mengganggu fungsi motorik saraf fasialis se3ara ipsilateral.0 ,) +ra#ma Kelumpuhan saraf fasialis bisa terjadi karena trauma kepala, terutama jika terjadi fraktur basis 3ranii, khususn"a bila terjadi fraktur longitudinal. 4elain itu luka tusuk, luka tembak serta penekanan forsep saat lahir juga bisa menjadi pen"ebab. 4araf fasialis pun dapat 3edera pada operasi mastoid, operasi neuroma akustik=neuralgia kelenjar parotis.0 -) .angg#an Pem!#l#" Dara" 8angguan pembuluh darah "ang dapat men"ebabkan kelumpuhan saraf fasialis diantaran"a thrombosis arteri karotis, arteri maksilaris dan arteri serebri media. /) Idiopati$ 0 Bells Palsy 1 *arese .ell merupakan lesi ner2us fasialis "ang tidak diketahui pen"ebabn"a atau tidak men"ertai pen"akit lain. *ada parese .ell terjadi edema fasialis. Karena terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe >,N "ang disebut sebagai Bells Palsy.( trigeminal dan operasi

2) Pen3a$it4pen3a$it tertent# Kelumpuhan fasialis perifer dapat terjadi pada pen"akit-pen"akit tertentu, misaln"a +,, hepertensi berat, anestesi lo3al pada pen3abutan gigi, infeksi telinga tengah, sindrom 8uillian .arre.( 5anifestasi *linis <tot-otot bagian atas wajah mendapat persarafan dari $ sisi. Karena itu, terdapat perbedaan antara gejala kelumpuhan saraf VII jenis sentral dan perifer. *ada gangguan sentral, sekitar mata dan dahi "ang mendapat persarafan dari $ sisi, tidak lumpuh ? "ang lumpuh ialah bagian bawah dari wajah. *ada gangguan N VII jenis perifer (gangguan berada di inti atau di serabut saraf) maka semua otot sesisi wajah lumpuh dan mungkin juga termasuk 3abang saraf "ang mengurus penge3apan dan sekresi ludah "ang berjalan bersama N. !asialis.' .agian inti motorik "ang mengurus wajah bagian bawah mendapat persarafan dari korteks motorik kontralateral, sedangkan "ang mengurus wajah bagian atas mendapat persarafan dari kedua sisi korteks motorik (bilateral) (gambar &). Karenan"a kerusakan sesisi pada upper motor neuron dari saraf VII (lesi pada traktus piramidalis atau korteks motorik) akan mengakibatkan kelumpuhan pada otot-otot wajah bagian bawah, sedangkan bagian atasn"a tidak. *enderitan"a masih dapat mengangkat alis, mengerutkan dahi dan menutup mata (persarafan bilateral) ? tetapi pasien kurang dapat mengangkat sudut mulut (men"eringai, memperlihatkan gigi geligi) pada sisi "ang lumpuh bila disuruh. Kontraksi in2olunter masih dapat terjadi, bila penderita tertawa se3ara spontan, maka sudut mulut dapat terangkat.' *ada lesi motor neuron, semua gerakan otot wajah, baik "ang 2olunter maupun "ang in2olunter, lumpuh. >esi supranuklir (upper motor neuron) saraf VII sering merupakan bagian dari hemiplegia. Hal ini dapat dijumpai pada strok dan lesi-butuh-ruang (spa3e o33up"ing lesion) "ang mengenai korteks motorik, kapsula interna, talamus, mesensefalon dan pons di atas inti saraf VII. +alam hal

demikian penge3apan dan sali2asi tidak terganggu. Kelumpuhan saraf VII supranuklir pada kedua sisi dapat dijumpai pada paralisis pseudobulber. '

8ambar & *ersarafan <tot @ajah , *erasat <tot wajah disebabkan oleh lesi A,N dan >,N ner2us VII.

8ejala dan tanda klinik "ang berhubungan dengan lokasi lesi. (>ihat gambar ) (,#% () Lesi di l#ar foramen stilomastoide#s ,ulut tertarik kearah sisi mulut "ang sehat, makan terkumpul di antara pipi dan gusi. >ipatan kulit dahi menghilang. -pabila mata "ang terkena tidak ditutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus. 2) Lesi di $analis fasialis 0meli!at$an $orda timpani1 8ejala dan tanda klinik seperti pada (#), ditambah dengan hilangn"a ketajaman penge3apan lidah ($=& bagian depan) dan sali2asi di sisi "ang terkena berkurang. Hilangn"a da"a penge3apan pada lidah menunjukkan terlibatn"a saraf intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di antara pons dan titik dimana korda timpani bergabung dengan saraf fasialis di kanalis fasialis.

Lesi di $analis fasialis le!i" tinggi lagi 0meli!at$an m#s$#l#s stapedi#s1 8ejala dan tanda klinik seperti (#) dan ($) di tambah dengan hiperakusis.

,) Lesi ditempat 3ang le!i" tinggi lagi 0meli!at$an ganglion geni$#lat#m1 8ejala dan tanda kilinik seperti pada (#),($),(&) disertai dengan n"eri di belakang dan didalam liang telinga, dan kegagalan lakrimal. Kasus seperti ini dapat terjadi pas3aherpes di membrana timpani dan konka. 4indrom ;amsa"-Hunt adalah kelumpuhan fasialis perifer "ang berhubungan dengan herpes 9oster di ganglion genikulatum. 7anda-tandan"a adalah herpes 9oster otikus , dengan n"eri dan pembentukan 2esikel dalam kanalis auditorius dan dibelakang aurikel (saraf aurikularis posterior), terjadi tinitus, kegagalan pendengaran, gangguan penge3apan, pengeluaran air mata dan sali2asi. -) Lesi di meat#s a$#sti$#s intern#s 8ejala dan tanda klinik seperti diatas ditambah dengan tuli akibat terlibatn"a ner2us akustikus. /) Lesi ditempat $el#arn3a saraf fasialis dari pons. 8ejala dan tanda klinik sama dengan diatas, disertai gejala dan tanda terlibatn"a saraf trigeminus, saraf akustikus dan kadang B kadang juga saraf abdusen, saraf aksesorius dan saraf hipoglossus.

8ambar . komponen serat saraf fasialis dan intermediet dan tanda-tanda kerusakan segmen indi2idualn"a

*lasifi$asi *el#mp#"an Fasialis 8ambaran dari disfungsi motorik fasial ini sangat luas dan karakteristik dari kelumpuhan ini sangat sulit. .eberapa sistem telah usulkan tetapi semenjak pertengahan #'C% sistem House-.ra3kmann "ang selalu atau sangat dianjurkan . pada klasifikasi ini grade # merupakan fungsi "ang normal dan grade 0 merupakan kelumpuhan "ang komplit. *ertengahan grade ini sistem berbeda pen"esuaian dari fungsi ini pada istirahat dan dengan kegiatan. Ini diringkas dalam tabel5#% 7abel #. Klasifikasi House-.ra3kmann
8rade I II *enjelasan Normal +isfungsi ringan !ungsi fasial normal Kelemahan "ang sedikit "ang terlihat pada inspeksi dekat, bisa ada sedikit sinkinesis. *ada istirahat simetri dan selaras. *ergerakan dahi sedang sampai baik ,enutup mata dengan usaha "ang minimal 7erdapat sedikit asimetris pada mulut jika melakukan Karakteristik

pergerakan III +isfungsi sedang 7erlihat tapi tidak tampak adan"a perbedaan antara kedua sisi -dan"a sinkinesis ringan +apat ditemukam spasme atau kontraktur hemifasial *ada istirahat simetris dan selaras *ergerakan dahi ringan sampai sedang ,enutup mata dengan usaha ,ulut sedikit lemah dengan pergerakan "ang maksimum IV +isfungsi sedang berat 7ampak kelemahan bagian wajah "ang jelas dan asimetri Kemampuan menggerakkan dahi tidak ada 7idak dapat menutup mata dengan sempurna ,ulut tampak asimetris dan sulit digerakkan. V +isfungsi berat @ajah tampak asimetris *ergerakan wajah tidak ada dan sulit dinilai +ahi tidak dapat digerakkan 7idak dapat menutup mata ,ulut tidak simetris dan sulit digerakkan VI 7otal parese 7idak ada pergerakkan

U'i Diagnosti$ +iagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan fungsi saraf fasialis. 7ujuan pemeriksaan fungsi saraf fasialis adalah untuk menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhann"a. () Pemeri$saan f#ngsi saraf motori$ 7erdapat #% otot-otot utama wajah "ang bertanggung jawab untuk ter3iptan"a mimi3 dan ekspresi wajah seseorang. -dapun urutan ke-#% otot-otot tersebut dari sisi superior adalah sebagai berikut 5 a. ,. !rontalis b. ,. 4our3ilier 5 5 diperiksa dengan 3ara mengangkat alis ke atas. diperiksa dengan 3ara mengerutkan alis

3. ,. *iramidalis

diperiksa dengan 3ara mengangkat dan mengerutkan hidung ke atas

d. ,. <rbikularis <kuli 5

diperiksa dengan 3ara memejamkan kedua mata kuat-kuat

e. ,. Digomatikus

diperiksa dengan 3ara tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi

f. ,. ;ele2er Komunis 5

diperiksa memon3ongkan

dengan mulut

3ara kedepan

sambil memperlihatkan gigi g. ,. .usinator 5 diperiksa dengan 3ara

menggembungkan kedua pipi h. ,. <rbikularis <ris 5 diperiksa dengan 3ara men"uruh

penderita bersiul i. ,. 7riangularis 5 diperiksa dengan 3ara menarik kedua sudut bibir ke bawah j. ,. ,entalis 5 diperiksa rapat ke depan *ada tiap gerakan dari ke #% otot tersebut, kita bandingkan antara kanan dan kiri 5 a. b. 3. d. Antuk gerakan "ang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga 4edikit ada gerakan dinilai dengan angka satu +iantaran"a dinilai dengan angka dua 7idak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol dengan 3ara

memon3ongkan mulut "ang tertutup

4eluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan mempun"ai nilai tiga puluh ( &% ).

2) +on#s *ada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka tonus otot menentukan terhadap kesempurnaan mimi3 = ekspresi muka. !re"ss menganggap penting akan fungsi tonus sehingga mengadakan penilaian pada setiap tingkatan kelompok otot muka, bukan pada setiap otot. Eawthorne mengemukakan bahwa tonus "ang jelek memberikan gambaran prognosis "ang jelek. *enilaian tonus seluruhn"a berjumlah lima belas (#1) "aitu seluruhn"a terdapat lima tingkatan dikalikan tiga untuk setiap tingkatan. -pabila terdapat hipotonus maka nilai tersebut dikurangi satu (-#) sampai minus dua (-$) pada setiap tingkatan tergantung dari gradasin"a.

) .#stometri 4istem penge3apan pada $=& anterior lidah dipersarafi oleh n. Korda timpani, salah satu 3abang saraf fasialis.# Kerusakan pada N VII sebelum per3abangan korda (hilangn"a penge3apan).1 *emeriksaan dilakukan dengan 3ara penderita disuruh timpani dapat men"ebabkan ageusi

menjulurkan lidah, kemudian pemeriksa menaruh bubuk gula, kina, asam sitrat atau garam pada lidah penderita. Hali ini dilakukan se3ara bergiliran dan diselingi istirahat. .ila bubuk ditaruh, penderita tidak boleh menarik lidahn"a ke dalam mulut, sebab bubuk akan tersebar melalui ludah ke sisis lidah lainn"a atau ke bagian belakang lidah "ang persarafann"a diurus oleh saraf lain. *enderita disuruh untuk men"atakan penge3apan "ang dirasakann"a dengan is"arat, misaln"a # untuk rasa manis, $ untuk rasa pahit, & untuk rasa asin, dan rasa asam.1 untuk

*ada pemeriksaan fungsi korda timpani adalah perbedaan ambang rangsang antara kanan dan kiri. !re"ss menetapkan bahwa beda 1%) antara kedua sisi adalah patologis.

,) Sali6asi *emeriksaan uji sali2asi dapat dilakukan dengan melakukan kanulasi kelenjar submandibularis. Earan"a dengan men"elipkan tabung polietilen no 1% kedalam duktus @harton. 4epotong kapas "ang telah di3elupkan kedalam jus lemon ditempatkan dalam mulut dan pemeriksa harus melihat aliran ludah pada kedua tabung. Volume dapat dibandingkan dalam # menit. .erkurangn"a aliran ludah sebesar $1 ) dianggap abnormal. 8angguan "ang sama dapat terjadi pada jalur ini dan juga penge3apan, karena keduan"a ditransmisi oleh saraf korda timpani.1

-) Sc"imer +est ata# Naso4Lacr3mal Refle7 +ianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk pemeriksaan fungsi serabut-serabut pada simpatis dari saraf fasialis "ang disalurkan melalui saraf petrosus superfisialis ma"or
,1

setinggi

ganglion

genikulatum. Kerusakan pada atau di atas saraf petrosus ma"or dapat men"ebabkan berkurangn"a produksi air mata.

7es 43himer dilakukan untuk menilai fungsi lakrimasi dari mata. Eara pemeriksaan dengan meletakkan kertas hisap atau lakmus lebar %,1 3m panjang 1-#% 3m pada dasar konjungti2a. 4etelah tiga menit, panjang dari bagian strip "ang menjadi basah dibandingkan dengan sisi satun"a. !re"s men"atakan bahwa kalau ada beda kanan dan kiri lebih atau sama dengan 1%) dianggap patologis.
,1

/) Refle$s Stapedi#s Antuk menilai refleF stapedius digunakan elektoakustik impedans meter, "aitu dengan 3ara memberikan ransangan pada muskulus stapedius "ang bertujuan untuk mengetahui fungsi N. stapedius 3abang N.VII. ,1

2) U'i a#diologi$ 4etiap pasien "ang menderita paralisis saraf fasialis perlu menjalani pemeriksaan audiogram lengkap. *engujian termasuk hantaran udara dan hantaran tulang, timpanometri dan refleF stapes. !ungsi saraf 3ranial kedelapan dapat dinilai dengan menggunakan uji respon auditorik "ang dibangkitkan dari batang otak. Aji ini bermanfaat dalam mendeteksi patologi kanalis akustikus internus. 4uatu tuli konduktif dapat memberikan kesan suatu kelainan dalam telinga tengah, dan dengan memandang s"araf fasialis "ang terpapar pada daerah ini, perlu dipertimbangkan suatu sumber infeksi. :ika terjadi kelumpuhan saraf ketujuh pada waktu otitis media akut, maka mungkin gangguan saraf pada telinga tengah. *engujian reflek dapat dilakukan pada telinga ipsilateral atau kontralateral dengan menggunakan suatu nada "ang keras, "ang akan membangkitkan respon suatu gerakan reflek dari otot stapedius. 8erakan ini mengubah tegangan membrane timpani dan men"ebabkan perubahan impedansi rantai osikular. :ika nada tersebut diperdengarkan pada belahan telinga "ang normal, dan reflek ini pada perangsangan kedua telinga mengesankan suatu kelainan pada bagian aferen saraf kranialis.1 8) Sin$inesis

4inkinesis menetukan suatu komplikasi dari kelumpuhan saraf fasialis "ang sering kita jumpai. Eara mengetahui ada tidakn"a sinkinesis adalah sebagai berikut.

a. *enderita diminta untuk memenjamkan mata kuat-kuat kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Kalau pergerakan normal pada kedua sisi dinilai dengan angka dua ($). Kalau pergerakan pada sisi paresis lebih (hiper) dibandingkan dengan sisi normal nilain"a dikurangi satu (-#) atau dua (-$), tergantung dari gradasin"a. b. *enderita diminta untuk tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi, kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah. *enilaian seperti pada (a). 3. 4inkinesis juga dapat dilihat pada waktu penderita berbi3ara (gerakan emosi) dengan memperhatikan pergerakan otot-otot sekitar mulut. Nilai satu (#) kalau pergerakan normal. Nilai nol (%) kalau pergerakan tidak simetris.

9) :emispasme Hemispasme merupakan suatu komplikasi "ang sering dijumpai pada pen"embuhan kelumpuhan fasialis "ang berat. +iperiksa dengan 3ara penderita diminta untuk melakukan gerakan-gerakan bersaha"a seperti mengedip-ngedipkan mata berulang-ulang maka bibir akan jelas tampak gerakan otot-otot pada sudut bibir bawah atau sudut mata bawah. *ada penderita "ang berat kadang-kadang otot-otot platisma di daerah leher juga ikut bergerak. Antuk setiap gerakan hemispasme dinilai dengan angka (-#).

!ungsi motorik otot-otot tiap sisi wajah orang normal seluruhn"a berjumlah lima puluh (1%) atau #%%). 8radasi paresis fasialis dibandingkan dengan nilai tersebut dikalikan dua untuk persentasen"a. Pemeri$saan Pen#n'ang 4alah satu pemeriksaan penunjang "ang dapat dilakukan untuk mengetahui kelumpuhan saraf fasialis adalah dengan uji fungsi saraf. 7erdapat beberapa uji fungsi saraf "ang tersedia antara lain 6lektromigrafi (6,8), 6lektroneuronografi (6N<8), dan uji stimulasi maksimal.1 #. 6lektromiografi (6,8) 6,8 sering kali dilakukan oleh bagian neurologi. *emeriksaan ini bermanfaat untuk menentukan perjalanan respons reiner2asi pasien. *ola 6,8 dapat diklasifikasikan sebagai respon normal, pola dener2asi, pola fibrilasi, atau suatu pola "ang ka3au "ang mengesankan suatu miopati atau neuropati. Namun, nilai suatu 6,8 sangat terbatas kurang dari $# hari setelah paralisis akut. 4ebelum $# hari, jika wajah tidak bergerak, 6,8 akan memperlihatkan potensial dener2asi. *otensial fibrilasi merupakan suatu tanda positif "ang menunjukkan kepulihan sebagian serabut. *otensial ini terlihat sebelum $# hari.1

$.

6lektroneuronografi (6N<8) 6N<8 memberi informasi lebih awal dibandingkan dengan 6,8. 6N<8 melakukan stimulasi pada satu titik dan pengukuran 6,8 pada satu titik "ang lebih distal dari saraf. Ke3epatan hantaran saraf dapat diperhitungkan. .ila terdapat reduksi '%) pada 6N<8 bila dibandingkan dengan sisi lainn"a dalam sepuluh hari, maka

kemungkinan sembuh juga berkurang se3ara bermakna. !is3h 6selin melaporkan bahwa suatu penurunan sebesar $1 persen berakibat pen"embuhan tidak lengkap pada CC persen pasien mereka, sementara (( persen pasien "ang mampu mempertahankan respons di atas angka tersebut mengalami pen"embuhan normal saraf fasialis.1

&.

Aji 4timulasi ,aksimal Aji stimulasi merupakan suatu uji dengan meletakkan sonde ditekankan pada wajah di daerah saraf fasialis. -rus kemudian dinaikkan perlahan-lahan hingga 1 ma, atau sampai pasien merasa tidak n"aman. +ahi, alis, daerah periorbital, pipi, ala nasi, dan bibir bawah diuji dengan men"apukan elektroda se3ara perlahan. 7iap gerakan di daerah-daerah ini menunjukkan suatu respons normal. *erbedaan respons "ang ke3il antara sisi "ang normal dengan sisi "ang lumpuh dianggap sebagai suatu tanda kesembuhan. *enurunan "ang n"ata adalah apabila terjadi kedutan pada sisi "ang lumpuh dengan besar arus han"a $1 persen dari arus "ang digunakan pada sisi "ang normal. .ila dibandingkan setelah #% hari, '$ persen penderita .ell/s *als" kembali dapat melakukan beberapa fungsi. .ila respon elektris hilang, maka #%% persen akan mengalami pemulihan fungsi "ang tidak lengkap. 4tatistik menganjurkan bahwa bentuk pengujian "ang paling dapat diandalkan adalah uji fungsi saraf se3ara langsung.1

8ambar 1 6kspresi @ajah *enderita Kelumpuhan 4araf !asialis

Penatala$sanaan *engobatan terhadap kelumpuhan saraf VII dapat dikelompokkan dalam & bagian5 ,1,## () Pengo!atan ter"adap $el#mp#"an saraf fasialis -. !isioterapi 1. Heat Theraphy, Face Massage, Facial Excercise .asahkan handuk dengan air panas, setelah itu handuk diperas dan diletakkan dimuka hingga handuk mendingin. Kemudian pasien diminta untuk memasase otot-otot wajah "ang lumpuh terutama daerah sekitar mata, mulut dan daerah tengah wajah.,asase dilakukan dengan menggunakan krim wajah dan idealn"a juga dengan menggunakan alat penggetar listrik. 4etelah itu pasien diminta untuk berdiri didepan 3ermin dan melakukan beberapa latihan wajah seperti mengangkat alis mata, memejamkan kedua mata kuat-kuat, mengangkat dan mengerutkan hidung, bersiul, menggembungkan pipi dan men"eringai.&,CKegiatan ini dilakukan selama 1 menit $ kali sehari.0 2. Electrical Stim lation

4timulasi energi listrik dengan aliran gal2ani3 berenergi lemah. $ 7indakan ini bertujuan untuk memi3u kontraksi buatan pada otototot "ang lumpuh dan juga berfungsi untuk mempertahankan aliran darah serta tonus otot.##

.. !armakologi <bat-obatan "ang dapat diberikan dalam penatalaksanaan kelumpuhan saraf fasialis antara lain##5 #. -sam Nikotinik *ada kelumpuhan saraf fasialis "ang dikarenakan iskemia-sam nikotinik dan obat-obatan "ang bekerja menghambat ganglion simpatik ser2ikal digunakan untuk memi3u 2asodilatasi sehingga dapat meningkatkan suplai darah ke saraf fasialis. $. Vasokonstriktor, -ntimikroba <bat ini diberikan pada kelumpuhan saraf fasialis "ang disebabkan oleh kompresi saraf fasialis pada kanal falopi. <bat ini bekerja mengurangi bendungan , pembengkakkan, dan inflamasi pada keadaan diatas. &. 4teroid <bat ini diberikan untuk mengurangi proses inflamasi "ang men"ebabkan Bells Palsy. . 4odium Kromoglikat +iberikan pada kelumpuhan saraf fasialis jika dipikirkan adan"a reaksi alergi. 1. -nti2irus

.aru-baru ini anti2irus diberikan dengan atau tanpa penggunaan prednisone se3ara simultan.

E. *engobatan *sikofisikal -kupuntur, !io"ee#!ac$, dan electromyographic "ee#!ac$

dilaporkan dapat membantu pentembuhan Bells Palsy.##

2)

Pengo!atan Se$#ele 0 .e'ala Sisa 1 *engobatan terhadap gejala sisa "ang dapat dilakukan antara lain ##5 -. +epresi *asien dengan kelumpuhan saraf fasialis memiliki ketakutan bahwa mereka memiliki pen"akit "ang mengan3am jiwa ataupun pen"akit "ang melibatkan pembuluh darah otak. Konseling dan terapi kelompok "ang melibatkan penderita dengan usia "ang sama terbukti efektif untuk mengatasi depresi tersebut. .. N"eri 4ebagian pasien dengan Bells Palsy dan hampir seluruh pasien dengan Herpes Dooster Eephali3 merasakan n"eri. N"eri ini dapat diatasi dengan analgesi3 non-narkotik. +apat diberikan steroid dengan dosis awal # mg= kg ..= hari dan tapering off setelah #% hari penggunaan. E. *erawatan ,ata 4e3ara umum, *erawatan mata ditujukan untuk menjaga kelembaban mata agar tidak terjadi keratitis dan kerusakan kornea. *asien diminta untuk mengedipkan mata $ sampai penggunaan obat tetes mata. kali permenit disamping

Indi$asi Unt#$ ;perasi *ada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi dener2asi total, tindakan operatif segera harus dilakukan dengan teknik dekompresi saraf fasialis transmastoid.

*ompli$asi 4etelah kelumpuhan fasial perifer, regenerasi saraf "ang rusak, terutama serat otonom dapat sebagian atau pada arah "ang salah. 4erat "ang terlindung mungkin memberikan akson baru "ang tumbuh ke dalam bagian "ang rusak. *ersarafan baru "ang abnormal ini, dapat menjelaskan kontraktur atau sinkinesis (gerakan "ang berhubungan) dalam otot-otot mimik wajah.' 4indrom air mata bua"a (refleks gastrolakrimalis paradoksikal) tampakn"a didasarkan oleh persarafan baru "ang salah. +i perkirakan bahwa serat sekretoris untuk kelenjar air liur tumbuh ke dalam selubung 43hwann dari serat "ang 3edera "ang berdegenerasi dan pada asaln"a serat tersebut bertanggung jawab untuk glandula lakrimalis.'