Anda di halaman 1dari 219

Kata Pengantar

Puji syukur atas berkat kasih dan anugerah-Nya Laporan Draf Akhir Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) dapat selesai dengan baik. Setelah melakukan proses FGD II, di Martapura dan melakukan koordinasi di Direktorat Jenderal Keciptakaryaan pada tanggal 6 Oktober 2013. Disimpulkan agar dilakukan perluasan wilayah kajian KPP agar volume pekerjaan bidang keciptakaryaan dapat memenuhi syarat dan kriteria dalam pelaksanaan pembangunannya. Dan berdasarkan arahan dari SPPIP Banjar pada tahun 2012 KPP yang dapat dikaji (perluasan) adalah KPP Murung Kenanga. Berdasarkan proses penyusunan pekerjaan ini, tim penyusun mendapati isu utama didalam penanganan permasalahan keciptakaryaan di KPP 1 yakni Kelurahan Murung Keraton Jawa adalah permasalahan jalan dan drainase, persampahan, sanitasi serta air minum. Selain itu didapati juga isu strategis adalah penanganan wilayah sempadan sungai dan pengembangan hunian vertical yakni rumah susun dalam rangka upaya untuk mengantisipasi kebutuhan rumah layak serta tekanan terhadap kebutuhan ruang di darat yang semakin sempit. Sesuai dengan arahan pedoman penyusunan dokumen utama RPKPP, maka laporan ini terdiri atas Bab 1 Pendahuluan, Bab 2 profil kota dan kawasan permukiman prioritas, kajian mikro kawasan permukiman prioritas, Bab 3 terdiri Penetapan Sub Kawasan Prioritas dan Penanganan, Bab 4 terdiri atas Kajian Mikro Kawasan, dan Bab 5 terdiri atas Perumusan Rencana Penanganan Kawasan Pembangunan Tahap Pertama Tahun Pertama, Bab6 Penutup. Semoga laporan ini bermanfaat dan atas masukan serta sarannya tim penyusun mengucapkan terima kasih.

Kata kunci dalam laporan akhir ini adalah infrastruktur, keciptakaryaan, dan detail desain.

Martapura, 2013

Tim Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar

 

2

Daftar

Isi

3

Daftar

Gambar

6

Daftar Tabel

10

Daftar Singkatan

13

Bab 1 Pendahuluan

15

1.1. Latar Belakang

15

1.2. Maksud dan Tujuan

16

1.3. Sasaran

 

16

1.4. Keluaran

17

1.5. Lingkup Kegiatan

19

1.6. Lingkup Wilayah

23

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

1

2.1. Profil Kabupaten Banjar

1

2.1.1.

Umum

1

2.1.2.

Geografis

2

2.1.3.

Administratif

3

2.1.4.

Kondisi Fisik

3

2.1.6.

Sarana dan Prasarana

5

2.1.7.

Ekonomi

10

2.2.

Profil Kawasan Perkotaan Martapura

13

2.2.1.

Delineasi Kawasan Perkotaan Martapura

13

2.2.2.

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

15

2.2.3.

Sebaran Permukiman Eksisting

16

2.2.3.

Kondisi Sumber Air Minum/Air Bersih

17

2.2.3.

Kondisi Fasilitas Sanitasi

18

2.2.4.

Rencana Pengembangan Permukiman Kawasan Perkotaan Martapura dalam

RTRW Kabupaten Banjar

24

2.3.

Profil Kawasan Prioritas

26

2.3.1. Kondisi Keciptakaryaan Kawasan Prioritas

27

2.3.2. Daftar Inventarisasi Potensi, Permasalahan, Tantangan dan Hambatan

40

2.3.3. Kebutuhan Penanganan Permasalahan Kawasan

41

3.1.

Penetapan Kebutuhan, Bentuk dan Skala Prioritas Pada FGD 1

1

3.2. Kebutuhan Penanganan dan Pembangunan

3

3.3. Skala Prioritas Penanganan dan Pembangunan

5

3.4. Konsepsi, Rencana, Strategi Dan Program Pada FGD 2

8

3.5. Tujuan FGD 2 (Dua)

9

3.6. Pelaksanaan FGD 2 RPKPP Kota Martapura

9

3.7. Hasil FGD 2 RPKPP

11

3.8. Penerjemahan Konsep Rencana Pada FGD 3

11

3.9. Tujuan FGD 3

11

3.10. Hasil FGD 3

12

Bab 4 Kajian Mikro Kawasan

1

 

4.1. Umum

1

4.2. Kondisi Kawasan Permukiman Prioritas (KPP)

1

4.3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Infrastruktur

13

4.3.1. Drainase

13

4.3.2. Penyediaan Air Bersih/Air Minum

16

4.3.3. Persampahan

20

4.3.4. Sanitasi/Air Limbah

24

4.4.

Skenario Pentahapan Penanganan KPP untuk Program 5 Tahun

32

4.4.1.

RAP Bidang Program Pengembangan Permukiman

34

4.4.2.RAP Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan

35

4.4.3.RAP Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman

35

4.4.4.RAP Bidang Pengembangan Air Minum

35

4.4.5.RAP Bidang Non Keciptakaryaan

36

4.5. Tema Pengembangan Kawasan

36

4.6. Identifikasi Kebutuhan Penanganan Kawasan

38

4.7. Konsep Pembangunan

Kawasan

39

 

4.7.1.

Kebijakan Pembangunan

39

4.7.2.Strategi Pembangunan

41

4.8.

Rencana

Makro Penanganan Kawasan

43

Bab 5 Perumusan Rencana Penanganan Kawasan Pembangunan Tahap I Tahun I

1

5.1. Proses Perumusan

1

5.2. Penentuan Kawasan Sub Kawasan Prioritas

2

5.3. Permasalahan Sub Kawasan Prioritas

5

5.5.

Konsep Penanganan Sub Kawasan Prioritas

9

5.6. Pentahapan Penanganan Sub Kawasan Prioritas

12

5.7. Rencana Pembangunan Sub Kawasan Prioritas

15

5.8. Program Pembangunan Sub Kawasan Prioritas

18

5.8.1. Program Pembangunan Bidang Pengembangan Permukiman

18

5.8.2. Program Pembangunan Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan

26

5.8.3. Program Pembangunan Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman

34

5.8.4. Program Pembangunan Bidang Pengembangan Air Minum

46

5.8.5.

Program Pembangunan Bidang Non Keciptakaryaan

57

5.9.

Pedoman Acuan Desain Infrastruktur Bidang Keciptakaryaan

65

5.1.1.

Bidang Air Minum/Air Bersih

65

5.1.2.

Bidang Sanitasi/Air Limbah

73

5.1.2.

Bidang

Persampahan

76

5.1.2.

Bidang

Drainase

78

5.1.2.

Bidang

Jalan Lingkungan

79

Bab 6 Penutup

1

Daftar Gambar Gambar 2.2.8 Grafik Persentase Rumah Tangga Yang Memiliki Jamban dengan Tangki Septik Menurut Kecamatan di Kabupaten Banjar, Tahun 2010

24

Gambar 2. 1. Peta Administrasi Kabupaten Banjar

12

Gambar 2. 2. Peta Deliniasi Kawasan Perkotaan Martapura

14

Gambar 2. 3. Foto Gambaran Kota Martapura

15

Gambar 2. 4. Sebaran Permukiman Eksisting di Kawasan Perkotaan Martapura Titik 1-4 . 16

Gambar 2. 5. Sebaran Permukiman Eksisting di Kawasan Perkotaan Martapura Titik 5-9. 16 Gambar 2. 6. Grafik Persentase Rumah Tangga Menurut Kepemilikan Fasilitas Buang Air

Besar di Kabupaten Banjar, Tahun 2010

19

Gambar 2. 7. Grafik Perbandingan Rumah Tangga Menurut Kepemilikan Fasilitas Buang Air Besar Perkotaan dan Perdesaan di Kabupaten Banjar, Tahun 2010 Gambar 2. 8. Grafik Persentase Rumah Tangga Menurut Tempat Pembuangan Tinja Menurut Kawasan Perkotaan dan Perdesaan di Kabupaten Banjar, Tahun

20

2010

22

Gambar 2. 9. Peta Rencana Pengembangan Permukiman Kawasan Perkotaan Martapura

 

25

Gambar 2. 10. Profil Kawasan Permukiman Kumuh Murung Keraton-Jawa

28

Gambar 2. 11. Profil Kawasan Permukiman Kumuh Murung Kenanga

29

Gambar 2. 12. Peta Administrasi RT Kelurahan KPP 1 dan KPP 2

30

Gambar 2. 13. Peta Pembagian Sub Kawasan

31

Gambar 2. 14. Peta Gambaran Umum KPP 1 dan KPP 2 Gambar 2. 15. Peta Gambaran Umum Tipologi Bangunan KPP 1 Kelurahan Murung

32

Keraton dan Jawa Gambar 2. 16. Peta Gambaran Jalan Lingkungan KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa Gambar 2. 17. Peta Gambaran Drainase KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa Gambar 2. 18. Peta Gambaran Air Bersih KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa Gambar 2. 19. Peta Gambaran Sanitasi KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa Gambar 2. 20. Peta Gambaran Persampahan KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa

33

34

35

36

37

Gambar 2. 21. Peta Gambaran Fasilitas PBK KPP 1 Kelurahan Murung Keraton dan Jawa .39

Gambar 3. 1. Keterkaitan SPPIP dan RPKPP

3

Gambar

4.

1.

Karakteristik Unit Lingkungan

4

Gambar 4. 2. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Sanitasi

5

Gambar 4. 3. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Sampah

6

Gambar 4. 4. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Air Bersih

7

Gambar 4. 5. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Drainase

8

Gambar 4. 6. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Jalan Lingkungan

10

Gambar 4. 7. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Fasilitas Pemadam Kebakaran

11

Gambar 4. 8. Kajian Keciptakaryaan Mikro Kawasan Sub Sektor Bangunan Rumah

12

Gambar 4. 9. Skema Pengembangan Sistem Drainase Kawasan

13

Gambar 4. 10. Skenario Pengembangan Sistem Drainase

15

Gambar 4. 11. Skema Pengembangan Sistem Penyediaan Air Bersih/Air Minum Kawasan.17

Gambar 4. 12. Skenario Pengembangan Sistem Penyediaan Air Bersih/Air Minum

19

Gambar 4. 13. Skema sistem pengolahan persampahan kawasan

20

Gambar 4. 14. Skenario Pengembangan Sistem Persampahan Kawasan

23

Gambar 4. 15. Skema Pengelolaan Sanitasi/Air Limbah

25

Gambar 4. 16. Skenario Penanganan Sanitas Kawasan

27

Gambar 4. 17. Diagram Kebiasaan BAB Di Daerah Sulit yang Perlu Diputus

28

Gambar 4. 18. Aplikasi Tipe Jamban dan Sistem Pengolahan Berdasarkan Tantangan Lingkungan Fisik di Daerah Sulit

31

Gambar 4. 19. Tripikon-S dan Tpikon-H

31

Gambar 4. 20. Tripikon-S dan Tpikon-H

32

Gambar 4. 21. Anaerobic Baffled Reactor

32

Gambar

4.

22.

Skenario Utama Penanganan Kawasan

34

Gambar 4. 23. Tema Pengembangan Kawasan

37

Gambar 4. 24. Kebijakan Pembangunan Kawasan

40

Gambar 4. 25. Strategi Pembangunan Kawasan

42

Gambar 4. 26. Rencana Makro Penanganan Kawasan

45

Gambar 4. 27. Rencana Penanganan Jaringan Jalan Kawasan

46

Gambar

4.

28.

Rencana

Penanganan

Sistem Sanitasi Kawasan

47

Gambar 4. 29. Rencana Penanganan Persampahan Kawasan

48

Gambar 4. 30. Rencana Penanganan Persampahan Kawasan

49

Gambar 5. 1. Permasalahan Sub Kawasan A

7

Gambar 5. 2. Permasalahan Sub Kawasan D

8

Gambar 5. 3. Konsep Penanganan Sub Kawasan A

10

Gambar 5. 4. Konsep Penanganan Sub Kawasan D

11

Gambar 5. 5. Pentahapan Penanganan Sub Kawasan A

13

Gambar 5. 6. Pentahapan Penanganan Sub Kawasan D

14

Gambar 5. 7. Rencana Pembangunan Sub Kawasan A

16

Gambar 5. 8. Rencana Pembangunan Sub Kawasan D

17

Gambar 5. 9. Desain Pembangunan Jalan Lingkungan

20

Gambar 5. 10. Desain Pembangunan Drainase Lingkungan

21

Gambar 5. 11. Lokasi Pembangunan Rumah Susun

22

Gambar 5. 12. Rencana Pembangunan Bidang PBL/PBK

33

Gambar 5. 13. Persyaratan Tangki Septik

35

Gambar 5. 14. Penempatan Pengolahan Air Limbah

36

Gambar 5. 15. Desain TPST 3R

40

Gambar 5. 16. Desain Tong Sampah Kelompok 5 KK (sisi atas)

41

Gambar 5. 17. Desain Tong Sampah Kelompok 5 KK (sisi samping)

42

Gambar 5. 18. Desain Instalasi Pengolahan Air Tahun 1

52

Gambar 5. 19. Lokasi Instalasi Pengolahan Air Kap 20 lt/Det

53

Gambar 5. 20. Desain Instalasi Pengolahan Air Tahun 2

54

Gambar 5. 21. Desain Instalasi Pengolahan Air Tahun 3

55

Gambar 5. 22. Contoh Desain Instalasi Pengolahan Air/ WTP

56

Gambar 5. 23. Lokasi Program/Kegiatan Non Keciptakaryaan

59

Gambar 5. 24. Desain Dermaga Tampak Depan

60

Gambar 5. 25. Desain Dermaga Tampak Samping

61

Gambar 5. 26. Desain Tanggul Tampak Atas

63

Gambar 5. 27. Desain Tanggul Tampak Samping

64

Gambar 5. 28. Ilustrasi Proses Pengolahan Air Maks 50 Lt/Det

72

Gambar 5. 29. Ilustrasi IPA Kapasitas 50 Lt/Det

73

Gambar 5. 30. Ilustrasi Desain Septik Tank Sederhana

74

Gambar 5. 31. Ilustrasi Septik Tank Biofill Sistem

75

Gambar 5. 32. Ilustrasi MCK Pribadi

75

Gambar 5. 33. Ilustrasi Tong Sampah

77

Gambar 5. 34. Ilustrasi Tong Sampah

77

Gambar 5. 35. Ilustrasi Mobil Sampah

78

Gambar

5.

36.

Ilustrasi

Desain Gorong - Gorong

79

Gambar 5. 37. Ilustrasi Deskripsi Bagian Bagian Jalan

80

Gambar 5. 38. Ilustrasi Potongan Jalan Menurut Klasifikasi

81

Daftar Tabel

Tabel 2. 1. Tutupan Lahan Kabupaten Banjar Tahun 2009

3

Tabel 2. 2. Jumlah Rumah Tangga dan Jumlah Penduduk Kabupaten Banjar Tahun 2012

3

Tabel 2. 3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Banjar Tahun 2012

4

Tabel 2. 4. Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan dan Status Penempatannya

5

Tabel 2. 5. Produksi Air Minum, Distribusi, Terjual, dan Susut / Hilang Menurut Unit

Pelayanan, 2011

6

Tabel 2. 6. Jumlah Pelanggan Air Minum PDAM Intan Banjar Tahun 2011

6

Tabel 2. 7. Pelanggan Listrik, VA Tersambung dan KWh Terjual di PT. PLN Ranting

7

Tabel 2. 8. Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan dan Pemerintahan Yang Berwenang, 2011

Martapura Menurut Jenisnya, 2010

 

8

Tabel 2. 9. Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan dan Kecamatan, 2011

8

Tabel 2. 10. Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan dan Kecamatan, 2011

9

Tabel 2. 11. Panjang Jalan Berkerikil Menurut Kondisi Jalan dan Kecamatan, 2011

9

Tabel 2. 12. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha, Tahun 2009-2011

10

Tabel 2. 13. PDRB Atas Dasar Harga Konstan menurut Lapangan Usaha, Tahun 2009-2011

10

(Dalam Ribu Rupiah)

(Dalam Ribu Rupiah)

Tabel 2. 14. Persentase Rumah Tangga Menurut Kecamatan dan Kelayakan Sumber Air

17

Tabel 2. 15. Persentase Rumah Tangga Menurut Kecamatan dan Status Kepemilikan

20

Tabel 2. 16. Persentase Rumah Tangga Yang Memiliki Fasilitas Jamban Menurut

22

Tabel 2. 17. Luas Desa/Kelurahan, Jumlah Rumah Tangga, Jumlah Penduduk dan

Minum, 2010

Fasilitas Buang Air Besar , 2010

Kecamatan dan Tempat Penampungan Tinja di Kabupaten Banjar, 2010

Kepadatan Kawasan Prioritas

26

Tabel 2. 18. Panjang Jalan > 3 M Menurut Permukaan Jalan di Kawasan Prioritas

26

Tabel 2. 19. Jumlah Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Dirinci Tiap Desa

Tabel 2. 20. Aspek Potensi, Permasalahan, Tantangan dan Hambatan Kawasan Prioritas

 

40

Tabel 2. 21. Aspek Kebutuhan Penanganan Kawasan Prioritas

42

Tabel 3. 1. Urutan Lokasi KPP Berdasarkan Hasil Penilaian SPPIP

7

Tabel 3. 2. Pembagian Sub Kawasan KPP 1

8

Tabel 4. 1. Kapasitas Pewadahan Sampah

 

21

Tabel

4.

2. Kapasitas

Pengumpul

Sampah Sementara

21

Tabel 4. 3. Kapasitas Alat Pemindahan Sampah

 

21

Tabel 4. 4. Kapasitas Pengolahan Sampah

21

Tabel 4. 5. Rencana Aksi Program 5 Tahun

33

Tabel

4.

6.

Kebutuhan

Penanganan

Kawasan

38

Tabel 5. 1. Kriteria dan Indikator Sub Kawasan Prioritas

2

Tabel 5. 2. Kriteria dan Indikator Penentuan Program Prioritas

3

Tabel 5. 3. Kriteria dan Indikator Komponen Program Prioritas

4

Tabel 5. 4. Program Pembangunan Bidang Pengembangan Permukiman

19

Tabel 5. 5. Program/Kegiatan Pengembangan Rumah Susun

23

Tabel 5. 6. Program/Kegiatan Pengembangan Jalan dan Drainase

24

Tabel 5. 7. Program Pembangunan Bidang PBL

31

Tabel 5. 8. Program/kegiatan pembangunan PBK

32

Tabel 5. 9. Pengembangan MCK Komunal

34

Tabel 5. 10. Program/Kegiatan Sanitasi Berbasis MCK Komunal

37

Tabel 5. 11. Program/Kegiatan Persampahan TPST dan Tong Sampah

43

Tabel

5.

12. Program Pembangunan Bidang

PLP

45

Tabel 5. 13. Program Pembangunan Bidang Air Minum

48

Tabel 5. 14. Program/Kegiatan Pengembangan IPA/WTP

50

Tabel 5. 15. Program Pembangunan Bidang Non Keciptakaryaan

57

Tabel 5. 16. Contoh Perhitungan Kebutuhan Air Bersih/Minum

65

Tabel 5. 17. Kriteria Desain Sistem Penyediaan Air Bersih Perdesaan

67

Tabel 5. 18. Kebutuhan Prasarana Persampahan

76

Tabel 5. 19. Bagian Jaringan Drainase Tabel 5. 20. Klasifikasi Jalan di Lingkungan Perumahan

Tabel 5. 19. Bagian Jaringan Drainase Tabel 5. 20. Klasifikasi Jalan di Lingkungan Perumahan

79

82

Daftar Singkatan

RPKPP

Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas

SPPIP

Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan

RP4D

Rencana Pembangunan Dan Pengembangan Perumahan Dan Permukiman Daerah

CAP

Community Action Plan

FGD

Focus Group Discussion

RED

Rencana Detail Desain

SPK

Strategi Pembangunan Kota

BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan
BAB 1 PENDAHULUAN Abstrak Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan

BAB 1 PENDAHULUAN

Abstrak

Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman, kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Bab 1 Pendahuluan

Bab 1 Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman,

kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik

berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan

tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung

perikehidupan dan penghidupan. Kawasan permukiman mendominasi kawasan

perkotaan yang membangkitkan kegiatan dan terus mengikuti, bahkan mengarahkan

pengembangan kawasan lainnya dan akan mempengaruhi arah pengembangan kota

yang bersangkutan. Setiap kawasan fungsional yang dikembangkan akan membutuhkan

kawasan permukiman untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk yang beraktifitas

di dalam kawasan yang tersebut.

Pertumbuhan kawasan permukiman dapat dikelompokkan sebagai kawasan yang

direncanakan dan tertata dengan baik, serta kawasan permukiman yang merupakan cikal

bakal tumbuhnya kawasan perkotaan dan terus berkembang mengikuti pertumbuhan

penduduk dan perkembangan kegiatannya. Berkenaan dengan kedua jenis tersebut,

dalam suatu wilayah atau kota, perkembangan dari kawasan permukiman sangat rentan

terhadap adanya perkembangan yang tidak terkendali dan menyebabkan munculnya

permukiman kumuh, yang seringkali berdampak lebih lanjut pada meningkatnya

kesenjangan masyarakat serta angka kriminalitas, dan rendahnya tingkat kesehatan

masyarakat.

Dalam rangka mengatasi permasalahan permukiman tersebut, pemerintah daerah

bersama dengan semua pemangku kepentingan pembangunan permukiman perlu

menentukan kawasan permukiman yang akan mendapatkan penanganan prioritas sesuai

dengan potensi dan tantangan yang dihadapi kawasan tersebut. Adapun kawasan

permukiman prioritas ditentukan berdasarkan hasil penyusunan Strategi Pembangunan

Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP).

Bab 1 Pendahuluan

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka setiap kota perlu melakukan penyusunan

Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas yang mengacu kepada dokumen

Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan. Untuk itu, Direktorat

Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Direktorat Pengembangan

Permukiman memberikan bantuan teknis berupa pendampingan penyusunan Rencana

Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas yang disebut dengan RPKPP.

1.2. Maksud dan Tujuan

Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman

Prioritas untuk kota Martapura dimaksudkan untuk membantu pemerintah daerah dalam

menyiapkan rencana aksi program penanganan permasalahan permukiman berikut

infrastruktur keciptakaryaan yang ada di dalam kawasan prioritas sesuai dengan arahan

strategi penanganan kawasan.

Tujuan pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman

Prioritas (RPKPP) untuk kota Martapura adalah memberikan pendampingan kepada

pemangku kepentingan untuk dapat menghasilkan rencana pembangunan kawasan

permukiman prioritas dengan muatan Rencana Program Investasi Jangka Menengah

Infrastruktur bidang Cipta Karya (RPIJM ICK), serta rencana pembiayaan yang

dilengkapi dengan rencana detail desain (RED) pada tahun pertama.

1.3. Sasaran

Sasaran dari kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman

Prioritas untuk kota Martapura adalah:

1. Terwujudnya peningkatan kapasitas pemangku kepentingan kota/kabupaten

dalam penyusunan RPKPP sebagai dokumen acuan dalam pelaksanaan

pembangunan kawasan permukiman prioritas di kota/kabupaten;

2. Terwujudnya interaksi dan keterlibatan masyarakat dalam proses rencana

pembangunan kawasan permukiman prioritas melalui community participatory

approach (CPA);

Bab 1 Pendahuluan

3. Tersedianya instrumen penanganan persoalan pembangunan yang bersifat

operasional pada kawasan permukiman prioritas yang dapat diacu oleh seluruh

pemangku kepentingan di kota/kabupaten.

1.4.

Keluaran

Keluaran yang

dihasilkan

dalam

kegiatan

Penyusunan

RPKPP

Kota Martapura,

antara lain;

1. Dokumen Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP), yang

memuat :

a) Profil kawasan permukiman prioritas berdasarkan arahan indikasi dalam SPPIP.

b) Kajian mikro kawasan permukiman prioritas berdasarkan arahan dalam SPPIP.

c) Potensi dan persoalan pembangunan permukiman dan infrastruktur permukiman

perkotaan pada kawasan permukiman prioritas.

d) Konsep dan rencana penanganan pada kawasan permukiman prioritas.

e) Rencana aksi program pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan

pada kawasan prioritas selama 5 tahun.

f) 2 (dua) kawasan di dalam kawasan prioritas yang akan dilakukan

pembangunannya pada tahap pertama (dilakukan penyusunan rencana

penanganan secara lebih rinci dan operasional, dengan tingkat kedalaman skala

perencanaan 1:1.000).

g) Rencana Detail Desain (RED) infrastruktur bidang Cipta Karya untuk kawasan

priotitas yang pembangunannya akan dilaksanakan pada tahun pertama yang

disajikan dalam bentuk tiga dimensi (3D).

h) Dokumen spasial terkait dengan konsep, rencana penanganan, rencana aksi

program dalam skala :

1 : 5.000 (untuk kawasan prioritas).

1 : 1.000 (untuk kawasan pembangunan tahun pertama).

Tata Cara Penyajian Dokumen Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman

Prioritas (RPKPP):

Bab 1 Pendahuluan

a) Dokumen ini disajikan sebagai Laporan Utama (terpisah dengan dokumen

Laporan Pendahuluan, Laporan Antara, Laporan Akhir Sementara, dan Laporan

Akhir).

b) Penulisan dokumen ini dilengkapi dengan tabel, gambar dan peta yang

representatif.

2. Dokumen hasil rangkaian penyelenggaraan kegiatan sebagai bahan untuk proses

pemberian kekuatan hukum terhadap dokumen RPKPP.

Muatan Dokumen:

a) Notulensi dari tiap penyelenggaraan kegiatan penyepakatan dan sosialisasi.

b) Absensi dan daftar hadir tiap penyelenggaraan kegiatan penyepakatan dan

sosialisasi.

c) Materi yang disampaikan.

d) Bentuk-bentuk kesepakatan yang dihasilkan.

e) Proses penyelenggaraan partisipatif melalui pendekatan Community based

Participatory Approach (CPA).

Penyajian dokumen:

1. Dokumen ini disajikan sebagai dokumen yang terpisah dengan dokumen proses

(Laporan Pendahuluan, Laporan Antara, Laporan Akhir Sementara, dan Laporan

Akhir) dan Dokumen RPKPP.

2. Kegiatan yang dilaporkan setidaknya adalah kegiatan FGD, diskusi partisipatif,

kolokium, konsultasi publik dan diseminasi.

3. Bentuk-bentuk kesepakatan tertuang dalam berita acara kegiatan yang dihasilkan

yang ditanda tangani oleh perwakilan pihak yang hadir dan menyetujui.

4. Tiap kegiatan yang diselenggarakan dilengkapi dengan dokumentasi foto

penyelenggaraan yang disajikan sebagai lampiran dalam dokumen ini.

3. Dokumentasi profil kawasan dalam bentuk visual dalam berupa tampilan video

dokumentasi untuk menggambarkan kondisi eksisting fisik, kondisi masyarakat

hingga potensi dan permasahan kawasan prioritas.

Bab 1 Pendahuluan

1.5. Lingkup Kegiatan

Keluaran Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan rangkaian lingkup kegiatan

sebagai berikut :

1. Melakukan kajian terhadap kebijakan, strategi, dan program pembangunan daerah

berdasarkan dokumen kebijakan terkait yang telah tersedia dan dijadikan acuan

pelaksanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah serta dokumen RPKPP yang

telah/sedang dibuat.

2. Bersama dengan pemangku kepentingan kota menghasilkan :

a. Kawasan permukiman prioritas berdasarkan arahan indikasi dalam RPKPP

b. Kebutuhan infrastruktur dan skala prioritas penanganan

c. Bersama dengan pemangku kepentingan kota menghasilkan rencana

aksi program pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan pada

kawasan prioritas selama 5 tahun dengan pendekatan perencanaan

pastisipatif.

d. Bersama dengan pemangku kepentingan kota menghasilkan

a. Strategi, program strategis dan pendetailan program pada kawasan

prioritas

b. Pemilihan kawasan di dalam kawasan prioritas yang akan dilakukan

pembangunannya pada tahap pertama (dilakukan penyusunan rencana

penanganan secara lebih rinci dan operasional, dengan tingkat

kedalaman skala perencanaan 1:1000).

e. Bersama dengan tim penyusun RPKPP mengikuti kegiatan kolokium yang

akan dikoordinasikan oleh tim pusat untuk memberikan pemaparan dan

pembahasan capaian kegiatan.

f. Penyelenggaraan konsultasi publik untuk menjaring masukan terhadap

strategi, program strategis dan pendetailan program pada kawasan

prioritas serta rencana aksi program pembangunan permukiman dan

infrastruktur perkotaan pada kawasan prioritas selama 5 tahun.

g. Penyusunan Rencana Detail Desain untuk pelaksanaan tahun pertama di

dalam kawasan yang meliputi infrastruktur bidang Cipta Karya.

Bab 1 Pendahuluan

h. Melakukan diseminasi hasil penyusunan RPKPP kepada dinas/instansi

terkait di kota bersangkutan.

Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas

(RPKPP), pada dasarnya adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan

SPK, SPPIP dan RP4D. RPKPP ini merupakan salah satu bentuk rencana operasional dari

SPPIP dan RP4D. Berkaitan dengan hal ini, maka lingkup kegiatan dari rangkaian

Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP)

tetap mengacu pada SPK dan RP4D. Secara rinci, lingkup kegiatan dari rangkaian

Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP)

adalah sebagai berikut:

1. Melakukan kaji ulang/review dan evaluasi terhadap berbagai produk rencana yang

telah dimiliki pemerintah kota/kab diantaranya SPK, SPIPP, dan RP4D untuk

dioptimalkan dan disinergikan sesuai dengan karakteristik dan kekhasan kota/kab

yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu;

2. Melakukan kaji ulang, evaluasi dan analisis terhadap kontribusi dan kedudukan

kawasan-kawasan permukiman perkotaan dan tingkat pelayanannya dalam lingkup

wilayah kota;

3. Melakukan identifikasi dan penetapan kawasan-kawasan permukiman prioritas dalam

skala kota berdasarkan arahan Strategi Pengembangan Permukiman Perkotaan

(SPPIP), rencana pengembangan dan pembangunan perumahan dan permukiman

Daerah (RP4D) atau dokumen sejenis lainnya yang telah digunakan sebagai acuan

pengembangan permukiman di daerah.

4. Melakukan survey primer dan sekunder untuk mendapatkan data dan informasi

terkait permasalahan, kebijakan, strategi dan program pengembangan kawasan

permukiman prioritas dalam konstelasi kota, serta data dan informasi pendukung

analisis dan penyusunan RPKPP.

5. Menyiapkan peta dasar dengan kedalaman informasi skala 1 : 5.000 yang akan

digunakan sebagai peta dasar untuk melakukan identifikasi kebijakan dan strategi

penanganan dan pengembangan kawasan sesuai arahan strategi pengembangan

kota maupun rencana pengembangan permukiman terkait lainnya, melakukan

Bab 1 Pendahuluan

analisis serta menuangkan konsep dan strategi pengembangan kawasan permukiman

prioritas dan infrastruktur keciptakaryaannya ke dalam bentuk spasial.

6. Identifikasi potensi, permasalahan, hambatan, dan tantangan pembangunan

permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada kawasan prioritas tersebut.

Proses identifikasi ini dilakukan di atas peta dasar yang bersumber dari citra satelit

dan atau foto udara.

7. Melakukan analisis kebutuhan penanganan dan pengembangan kawasan

permukiman prioritas beserta kebutuhan infrastruktur keciptakaryaannya dan

komponen pengembangan kawasan terkait lainnya.

8. Menetapkan kebutuhan dan skala prioritas penanganan dan pembangunan

permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada kawasan prioritas. Penetapan

kebutuhan, bentuk dan skala prioritas penanganan ini dilakukan dengan diskusi

terfokus (FGD) yang melibatkan pemangku kepentingan di daerah.

9. Penyusunan konsepsi, rencana, strategi, dan program untuk penanganan dan

pembangunan permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada kawasan prioritas

terpilih. Proses penyusunan konsepsi, rencana, strategi, dan program ini dilakukan

dengan diskusi terfokus (FGD) yang melibatkan pemangku kepentingan di daerah.

10. Berdasarkan proses identifikasi, penetapan kebutuhan dan penetapan skala prioritas

penanganan dan pengembangan pada kawasan prioritas, dilakukan pemilihan 2 (dua)

kawasan di dalam kawasan permukiman prioritas yang akan dilakukan penanganan

dan pembangunannya pada tahap pertama. Pada kawasan pengembangan tahap I

(pertama) ini dilakukan penyusunan rencana penanganan secara lebih rinci dan

operasional, dengan tingkat kedalaman skala perencanaan 1 : 1.000.

11. Penyusunan rencana aksi program penanganan dan pembangunan permukiman

berbasis kawasan dan pendekatan perencanaan partisipatif dalam bentuk Community

Action Plan (CAP) pada kawasan prioritas. Rencana aksi program ini meliputi

infrastruktur keciptakaryaan maupun komponen sektor terkait lainnya, dan disusun

sampai dengan tingkat kedalaman yang bersifat operasional yang siap

diimplementasikan pada tahun berikutnya.

Bab 1 Pendahuluan

12. Penyusunan Rencana Detail Desain (Detailed Engineering Desain/DED) untuk

komponen program penanganan prioritas di dalam kawasan yang meliputi

infrastruktur keciptakaryaan.

13. Penyusunan tahapan pelaksanaan dari rencana aksi program penanganan dan

pembangunan permukiman pada kawasan prioritas, yang meliputi infrastruktur

keciptakaryaan maupun dan sektoral terkait lain.

14. Melakukan sosialisasi hasil penyusunan RPKP melalui diseminasi kepada dinas/instansi

terkait di daerah.

15. Menyusun materi visualisasi hasil rencana (RPKP) yang akan digunakan untuk

kebutuhan sosialisasi dalam bentuk poster dan leaflet. Materi visualisasi ini berisikan

konsep, rencana, strategi dan rencana aksi program penanganan dan pembangunan

permukiman baik pada kawasan prioritas maupun kawasan pengembangan tahap I

(pertama).

16. Melakukan kegiatan diskusi dan pembahasan sebagai berikut:

a) Focus Group Discusion (FGD), dilakukan untuk setiap kegiatan bersama antara Tim

Ahli Konsultan dengan pemangku kepentingan kawasan dan kota, dan

instansi/pihak terkait dalam menyusun dan merumuskan setiap kegiatan yang

membutuhkan penyepakatan bersama. FGD ini dilakukan sebanyak 4 (empat) kali

untuk kegiatan berikut :

Penetapan kebutuhan, bentuk dan skala prioritas penanganan dan

pengembangan permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada kawasan

prioritas.

Penyusunan konsepsi, strategi, dan program untuk penanganan dan

pembangunan permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada kawasan

prioritas terpilih.

Penyusunan rencana aksi program penanganan dan pembangunan

permukiman berbasis kawasan dan pendekatan perencanaan partisipatif

dalam bentuk Community Action Plan (CAP) pada kawasan prioritas

Setiap kegiatan FGD diikuti oleh 20 (dua puluh) orang peserta dan pendukung.

Bab 1 Pendahuluan

b) Kolokium, merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat Pengembangan

Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, yang ditujukan untuk melakukan

penyamaan pencapaian dari kegiatan penyusunan RPKPP yang dilakukan di setiap

kota/kabupaten. Pihak Konsultan akan mengikuti kegiatan Kolokium dan

melaporkan kemajuan pencapaian kegiatan maupun hasil kesepakatan di daerah

dalam penyusunan RPKP. Kegiatan Kolokium ini dilakukan sebanyak 2 (dua) kali

masing masing selama 1 (satu) hari untuk kegiatan berikut:

Dilakukan pada awal bulan ke-3 (tiga) setelah SPMK, setelah dilakukan

kegiatan identifikasi dan penetapan kawasan-kawasan permukiman prioritas

Dilakukan pada akhir bulan ke-7 (tujuh) setelah SPMK, setelah dilakukan

kegiatan penyusunan konsep, rencana, strategi dan program penanganan

dan pengembangan permukiman dan infrastruktur keciptakaryaan pada

kawasan prioritas, dan pada saat penyusunan Rencana Aksi Program.

c) Diseminasi, dilakukan pada akhir kegiatan dan ditujukan untuk mensosialisasikan

seluruh hasil kegiatan dan produk RPKPP, serta rencana aksi program yang telah

disepakati, kepada dinas/instansi terkait dan pemangku kepentingan daerah

lainnya. Diseminasi dilakukan di tingkat Kota/Kabupaten.

Kegiatan Diseminasi diikuti oleh 30 (tigapuluh puluh) orang peserta yang mewakili

pemangku kepentingan kota, baik lembaga eksekutif, legislatif, akademisi

maupun perwakilan masyarakat, dan pihak pemerintah propinsi.

d) Diskusi Pembahasan, dilakukan untuk setiap pembahasan laporan pelaksanaan

kegiatan pada setiap tahapnya. Diskusi Pembahasan dilakukan di Kota/kabupaten

tempat dilakukannya penyusunan RPKP. Diskusi pembahasan dilakukan untuk

pembahasan laporan pendahuluan, laporan antara, laporan akhir sementara dan

laporan akhir.

1.6. Lingkup Wilayah

Lokasi kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas

(RPKPP) Kota Martapura akan dilaksanakan di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan

Selatan.

Bab 1 Pendahuluan

Berikut gambar Wilayah Administrasi Kabupaten Banjar untuk memberikan inteprestasi

mengenai lokasi studi.

Bab 1 Pendahuluan

Gambar 1. 1. Lokasi Lingkup Wilayah

Bab 1 Pendahuluan Gambar 1. 1. Lokasi Lingkup Wilayah Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) Direktorat

Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) Direktorat Jenderal Cipta Karya | Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia | Hal 25

BAB 2 PROFIL KOTA, KAWASAN DAN KAWASAN PRIORITAS Abstrak Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten
BAB 2 PROFIL KOTA, KAWASAN DAN KAWASAN PRIORITAS Abstrak Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten
BAB 2 PROFIL KOTA, KAWASAN DAN KAWASAN PRIORITAS Abstrak Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten
BAB 2 PROFIL KOTA, KAWASAN DAN KAWASAN PRIORITAS Abstrak Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten

BAB 2

PROFIL KOTA, KAWASAN DAN KAWASAN PRIORITAS

Abstrak

Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ± 4.688 km² dan berpenduduk sebanyak 506.204 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Kabupaten Banjar termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

2.1. Profil Kabupaten Banjar

2.1.1. Umum

Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.

Ibu kota kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ± 4.688

km² dan berpenduduk sebanyak 506.204 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).

Kabupaten Banjar termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula.

Sejarahnya adalah sejak tahun 1826 dibuat perjanjian perbatasan antara Sultan Adam

dengan pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1835 sewaktu pemerintahan Sultan

Adam Alwasiqubillah, telah dibuat untuk pertama kalinya ketetapan hukum tertulis dalam

menerapkan hukum Islam di Kesultanan Banjar yang dikenal dengan Undang-Undang

Sultan Adam Tahun 1855, daerah Kesultanan Banjarmasin merupakan sebagian dari De

zuider-Afdeeling van Borneo termasuk sebagian daerah Dusun (Tamiang Layang) dan

sebagian Tanah Laut.

Dari beberapa sumber disebutkan ada beberapa tempat yang menjadi kedudukan raja

(istana pribadi Sultan) setelah pindah ke Martapura, seperti Kayu Tangi, Karang Intan dan

Sungai Mesa. Tetapi dalam beberapa perjanjian antara Sultan Banjar dan Belanda,

penanda-tanganan di Bumi Kencana. Begitu juga dalam surat menyurat ditujukan kepada

Sultan di Bumi Kencana Martapura. Jadi Keraton Bumi Kencana Martapura adalah pusat

pemerintahan (istana kenegaraan) untuk melakukan aktivitas kerajaan secara formal

sampai dihapuskannya Kesultanan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860.

Setelah jatuh menjadi daerah protektorat Hindia Belanda, Sultan Banjar dan Mangkubumi

cukup hanya menerima gaji tahunan dari Belanda. Dibawah mangkubumi yang dilantik

Belanda, daerah protektorat Kesultanan Banjar dibagi menjadi dua divisi yaitu divisi

Banua Lima di bawah regent Raden Adipati Danu Raja dan divisi Martapura di bawah

regent Pangeran Jaya Pamenang. Divisi Martapura terbagi dalam 5 Distrik, yaitu Distrik

Martapura, Distrik Riam Kanan, Distrik Riam Kiwa, Distrik Benua Empat dan Distrik

Margasari. Regent Martapura terakhir adalah Pangeran Suria Winata. Jabatan regent

dihapuskan pada tahun 1884.

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

Status Kesultanan Banjar setelah dihapuskan masuk ke dalam Karesidenan Afdeeling

Selatan dan Timur Borneo. Daerah-daerah bekas Kesultanan Banjar digabungkan dengan

daerah-daerah yang sudah menjadi milik Belanda sebelumnya.

Wilayah Kalimantan Selatan dibagi dalam 4 Afdeeling, salah satunya adalah Afdeeling

Martapura. Selanjutnya terjadi perubahan dalam keorganisasian pemerintahan Hindia

Belanda. Sejak 1898 di bawah Afdeeling terdapat OnderAfdeeling dan distrik. Pembagian

administratif tahun 1898 menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178, Afdeeling Martapoera

dengan ibukota Martapura terdiri dari :

1. OnderAfdeeling Martapoera terdiri dari : Distrik Martapura.

2. OnderAfdeeling Riam Kiwa dan Riam Kanan terdiri dari :

Distrik Riam Kiwa

Distrik Riam Kanan

3. OnderAfdeeling Tanah Laoet terdiri dari :

Distrik Pleihari

Distrik Maluka

Distrik Satui

Afdeeling Martapura terdiri 3 OnderAfdeeling, salah satunya adalah OnderAfdeeling

Martapura dengan distrik Martapura. Dalam tahun 1902, Afdeeling Martapura

membawahi 3 OnderAfdeeling: Martapura, Pengaron dan Tanah Laut. Perubahan

selanjutnya Martapura menjadi OnderAfdeeling di bawah Afdeeling Banjarmasin.

Afdeeling dipimpin oleh Controleur dan Kepala Distrik seorang Bumiputera dengan

pangkat Kiai. Setelah kedaulatan diserahkan oleh pemerintah Belanda kepada Republik

Indonesia tanggal 27 Desember 1949, ditetapkan daerah Otonomi Kabupaten

Banjarmasin. Daerah otonom Kabupaten Banjarmasin meliputi 4 Kawedanan.

DPRDS pada tanggal 27 Februari 1952, mengusulkan perubahan nama Kabupaten

Banjarmasin menjadi Kabupaten Banjar yang disetujui dengan Undang-undang Darurat

1953, kemudian dikukuhkan dengan Undang-undang No. 27 Tahun 1959.

Motto daerah ini adalah "Barakat" yang artinya "Berkah" (bahasa Banjar).

2.1.2. Geografis Kabupaten Banjar terletak antara 2o49’55” LS dan 115o35’37” BT, dengan batas batas

sebagai berikut:

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

1. Sebelah barat berbatasan dengan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru

4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tapin dan Kabupaten Hulu Sungai

2.1.3. Administratif

Kabupaten Banjar yang beribu Kota di Martapura memiliki 19 Kecamatan, dengan luas

wilayah 4.688 km2, dan merupakan kabupaten terluas ketiga di Provinsi Kalimantan

Selatan. Nama-nama kecamatan yang ada di Kabupaten Banjar adalah :

1. Kecamatan Aluh-aluh

2. Kecamatan Aranio

3. Kecamatan Astambul

4. Kecamatan Beruntung Baru

5. Kecamatan Gambut

6. Kecamatan Karang Intan

7. Kecamatan Kertak Hanyar

8. Kecamatan Martapura Barat

9. Kecamatan Martapura Kota

10. Kecamatan Martapura Timur

2.1.4. Kondisi Fisik

2.1.4.1. Topografi

11. Kecamatan Mataraman

12. Kecamatan Pengaron

13. Kecamatan Peramasan

14. Kecamatan Sambung Makmur

15. Kecamatan Sei/Sungai Pinang

16. Kecamatan Sei/Sungai Tabuk

17. Kecamatan Simpang Empat

18. Kecamatan Tatah Makmur

19. Kecamatan Telaga Bauntung

Secara topografis wilayah Kabupaten Banjar merupakan daratan dan pegunungan yang

ketinggiannya dari permukaan laut bervariasi berkisar antara 0 sampai dengan 1.878

meter. Ketinggian ini merupakan salah satu faktor yang menentukan letak kegiatan

penduduk, maka ketinggian juga dipakai sebagai penentuan batas wilayah tanah usaha,

dimana 35 % berada di ketinggian 07 m dpl, 55,54 % ada pada ketinggian 50300 m dpl,

sisanya 9,45 % lebih dari 300 m dpl.

Rendahnya letak Kabupaten Banjar dari permukaan laut menyebabkan aliran air pada

permukaan tanah menjadi kurang lancar. Akibatnya sebagian wilayah selalu tergenang

(29,93%) sebagian lagi (0,58%) tergenang secara periodik.

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

2.1.4.2. Tanah

Pada umumnya tanah di wilayah ini bertekstur halus (77,62%) yaitu meliputi tanah liat,

berlempung, berpasir dan berdebu, sementara 14,93 % bertekstur sedang yaitu jenis

lempung, berdebu, liat berpasir, sisanya 5,39 % bertekstur kasar yaitu pasir berlempung,

pasir berdebu.

Kedalaman tanah yang efektif bagi akar untuk leluasa mengambil air bagi tumbuhnya

tanaman, di wilayah ini pada umumnya (66,45%) lebih dari 90 cm, sementara kedalaman

60-90 cm meliputi 18,72 %, dan 30-60 cm hanya 14,83 %.

Menurut data dari Lembaga Penelitian Bogor, di wilayah ini dijumpai jenis tanah: Tanah

Organosol, Gleihumus dengan bahan induk bahan Aluvial dan fisiografi dataran yang me-

liputi 28,57% dari luas wilayah. Tanah Aluvial dengan bahan induk lahan Aluvial dan

fisiografi dataran meliputi 3,72%. Tanah komplek Podsolik merah kuning dan Laterit

dengan bahan induk batuan baku dengan fisiografi dataran meliputi 14,29%. Tanah

Latosol dengan bahan induk batuan beku dan fisiografi intrusi meliputi 24,84%. Tanah

komplek Podsolik merah kuning, Latosol dengan batu induk endapan dan metamorf

meliputi 28,57%.

2.1.4.3. Iklim dan Curah Hujan

Wilayah Kabupaten Banjar sebagian bear didominasi oleh tipe iklim B, dengan curah

hujan tahunan berkisar 2.000 2.500mm, curah hujan perhari hujan berkisar 9,5 18,6

mm/hari hujan dan hari hujan perbulan rata-rata berkisar 12,3 15,6 hari/bulan. Tekanan

udara berkisar 1.007,3 1.014,3 milibar dan kelembaban udara berkisar 48 % - 100 %.

Sedangkan suhu udara berkisar dari 200 C 36,20 C, serta kecepatan angin ratarata 5,5

knot. Persentase penyinaran matahari berkisar dari 21% - 89%.

2.1.4.4. Tutupan Lahan

Berdasarkan data Citra Satelit Landsat E.TM 2009, dapat diidentifikasi bahwa tutupan

lahan di Kabupaten Banjar didominasi oleh tutupan lahan semak belukar dan hutan

tanaman industri. Luas tutupan lahan Kabupaten Banjar dapat dilihat secara lebih detail

dalam tabel berikut ini.

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

Tabel 2. 1. Tutupan Lahan Kabupaten Banjar Tahun 2009

No

Keterangan

Hektar

1

Rawa

687,2

2

Sungai

1.333,1

3

Danau / Situ Waduk

2.020,3

4

Hutan Tanaman Industri

110.674,3

5

Perkebunan / Kebun

44.048,0

6

Permukiman dan Tempat Kegiatan

4.094,7

7

Sawah

84.924,1

8

Sawah Tadah Hujan

763,9

9

Semak Belukar / Alang Alang

111.794,5

10

Tegalan / Ladang

82.076,6

 

total

442.416,6

Sumber: Laporan SPPIP, tahun 2012

2.1.5. Kependudukan

Berdasarkan data yang tecatat pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjar, jumlah

rumah tangga pada pertengahan tahun 2011 mencapai 135.704 RT, dengan jumlah

penduduk 516.663 orang yang terdiri dari 262.270 laki-laki dan 254.393 perempuan,

dengan sex ratio 103. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Martapura

dengan kepadatan 2.498 penduduk per kilometer persegi. Dibanding tahun sebelumnya,

kecamatan Martapura mengalami kenaikan jumlah penduduk.

Hal ini ditandai dengan meningkatnya angka kepadatan penduduk, dimana pada tahun

2010, kepadatannya tercatat sebesar 2.414 penduduk per km2. Kecamatan Aranio yang

hanya 7 penduduk/km2 merupakan daerah dengan tingkat kepadatan rendah.

Tabel 2. 2. Jumlah Rumah Tangga dan Jumlah Penduduk Kabupaten Banjar Tahun 2012

   

Jumlah Rumah

 

No.

Kecamatan

Tangga Tahun

Jml Penduduk

Tahun 2012

2012

1

Martapura

26.413

104.973

2

Martapura Timur

7.821

29.623

3

Martapura Barat

4.530

17.093

Jumlah

Penduduk

Kawasan

   

Perkotaan Martapura

38.764

151.689

 

4 Aluh-aluh

7.266

27.446

 

5 Beruntung Baru

3.517

13.194

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

   

Jumlah Rumah

 

No.

Kecamatan

Tangga Tahun

Jml Penduduk

Tahun 2012

2012

6

Gambut

9.596

36.883

7

Kertak Hanyar

10.249

40.359

8

Tatah Makmur

2.833

11.076

9

Sungai Tabuk

15.269

58.227

10

Astambul

8.693

104.973

11

Karang Intan

8.622

31.067

12

Aranio

2.213

8.386

13

Sungai Pinang

4.111

14.665

14

Paramasan

1.136

4.313

15

Pengaron

4.244

15.904

16

Sambung Makmur

2.605

10.813

17

Mataraman

6.773

23.867

18

Simpang Empat

8.925

32.504

19

Telaga Bauntung

888

3.136

Jml Penduduk Kabupaten Banjar

984.052

436.813

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

Tabel 2. 3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Banjar Tahun 2012

   

Luas

Jumlah

 

No.

Kecamatan

Wilayah

(Km)

Penduduk

Tahun 2012

Kepadatan

Penduduk

1

Martapura

42

104.973

2498

2

Martapura Timur

30

29.623

988

3

Martapura Barat

149

17.093

114

4

Aluh-aluh

82

27.446

333

5

Beruntung Baru

61.42

13.194

215

6

Gambut

129

36.883

285

7

Kertak Hanyar

46

40.359

881

8

Tatah Makmur

35

11.076

312

9

Sungai Tabuk

147

58.227

395

10

Astambul

217

104.973

153

11

Karang Intan

215

31.067

144

12

Aranio

1.166

8.386

7

13

Sungai Pinang

459

14.665

32

14

Paramasan

561

4.313

8

15

Pengaron

433

15.904

37

16

Sambung Makmur

135

10.813

80

17

Mataraman

148

23.867

161

18

Simpang Empat

453

32.504

72

19

Telaga Bauntung

158

3.136

20

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

   

Luas

Jumlah

 

No.

Kecamatan

Wilayah

(Km)

Penduduk

Tahun 2012

Kepadatan

Penduduk

Jumlah

4.669

516.663

111

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2011

Berdasarkan data Kantor dinas Tenaga Kerja Kabupaten Banjar tercatat 2.108 pencari

kerja, dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah tingkat SMU/SMK. Dari jumlah

tersebut 97 orang diantaranya telah ditempatkan, sementara sisanya sejumlah 3.539

orang belum ditempatkan. Detail mengenai jumlah pencari kerja menurut tingkat

pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. 4. Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan dan Status Penempatannya

   

Pencari

 

Belum

No.

Tingkat Pendidikan

Kerja

Penempatan

Ditempatkan

1

SD

99

40

59

2

SMP

220

40

180

3

SMA / SMK

1238

16

1222

4

Sarjana Muda / D I - III

268

0

268

5

Sarjana / Diploma IV

283

1

282

JUMLAH

2108

97

2011

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

2.1.6. Sarana dan Prasarana

2.1.6.1. Prasarana Air Minum

Penyediaan Air Minum dan Air Bersih di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru dilayani

oleh PDAM Intan Banjar. PDAM Data yang diperoleh dari PDAM Intan Banjar /Kabupaten

Banjar menunjukkan bahwa produksi air minum pada tahun 2011 ada sebanyak 9,469 juta

meter kubik. Dengan jumlah pelanggan air minum sebanyak 35.919 pelanggan.

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

Tabel 2. 5. Produksi Air Minum, Distribusi, Terjual, dan Susut / Hilang Menurut Unit Pelayanan, 2011

No.

Unit Pelayanan

Produksi

Distribusi

Terjual

Susut / Hilang

1

BNA Banjarbaru

5.589.403

4.976.534

3.712.108

1.264.426

2

Cab. I-Landasan Ulin

1.830.008

1.669.673

1.228.359

441.058

3

Cab. II-Kertak Hanyar

1.140.822

996.275

745.031

251.244

4

Cab. II-Sungai Tabuk

377.666

301.182

255.767

45.415

5

Unit I IKK Astambul

106.166

96.301

76.980

19.321

6

Unit I IKK Mataraman

185.495

178.893

162.251

16.642

7

Unit II IKK Simp. Empat

106.429

97.659

82.242

15.417

8

Unit II IKK Pengaron

111.681

103.415

85.141

18.274

9

Unit I. IKK. Karang Intan

21.676

17.743

15.071

2.672

10

Aluh Aluh Keseluruhan

 

239.958

127.200

112.761

 

JUMLAH

9.469.346

8.677.633

6.490.150

2.187.230

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

Tabel 2. 6. Jumlah Pelanggan Air Minum PDAM Intan Banjar Tahun 2011

No.

Unit Pelayanan

Jumlah Pelanggan

1

Banjarbaru I

2096

2

Banjarbaru II

572

3

Banjarbaru III

266

4

Banjarbaru IV

1958

5

Banjarbaru V

2423

6

Landasan Ulin

4121

7

Cempaka

498

8

Sei. Besar

5008

Jumlah Pelanggan dalam Lingkup Kota Banjarbaru

16.942

 

9 Loktabat

3625

 

10 Martapura I

1421

 

11 Martapura II

1671

 

12 Dalam Pagar

141

 

13 Gambut

2676

 

14 Sei. Tabuk

1504

 

15 Kertak Hanyar

3692

 

16 Astambul

582

 

17 Mataraman

834

 

18 Pengaron

515

 

19 Simpang Empat

421

 

20 Karang Intan

149

 

21 Aluh-aluh

1748

Jumlah Pelanggan dalam Lingkup Kabupaten Banjar

18.979

 

JUMLAH

35.919

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

2.1.6.2. Prasarana Jaringan Listrik

Pelanggan listik yang tercatat pada PT.PLN Ranting Martapura berjumlah 46.031 dengan

berbagai jenis tarif. KWH terjual dengan nilai mencapai 27.755 milyar rupiah dari

pelanggan rumah tangga, 5.066 milyar rupiah dari pelanggan bisnis, 492 juta rupiah dari

pelanggan industri, 1.277 milyar rupiah dari pelanggan perkantoran, 1.547 milyar rupiah

dari pelanggan sosial, untuk lampu penerangan jalan 1,868 milyar rupiah.

Tabel 2. 7. Pelanggan Listrik, VA Tersambung dan KWh Terjual di PT. PLN Ranting Martapura Menurut Jenisnya, 2010

     

Jenis

     

No.

Uraian

Batas Daya (Va)

Tarif

Pelanggan

Daya

KWh

 

1 Sosial

 

450

S.2

551

247.950

26.866

 

900

S.2

292

262.800

25.832

1.300

S.2

100

130.000

16.319

2.200

S.2

46

101.200

10.790

2.200 200.000

S.2

45

434.900

46.665

>

200.000

S.2

1

555.000

112.000

 

2 Rumah

 

450

R.1

28.374

12.768.300

2.414.629

Tangga

 

450

R.M.1

0

0

0

 

900

R.1

11.591

10.431.900

1.758.988

 

900

R.M.2

0

0

0

1.300

R.1

954

1.240.200

265.778

2.200

R.1

244

536.800

104.688

2.200

6.000

R.2

66

266.900

245.769

>6.000

R.3

14

140.200

21.533

 

3 Pra Bayar

 

-

-

1 483

1.104.750

-

 

4 Bisnis

 

450

B.1

929

418.050

62.839

 

450

B.B1

0

0

0

 

900

B.1

585

526.500

65.467

 

900

B.B2

0

0

0

1.300

B.1

205

266.500

43.407

1.300

B.B3

0

0

0

2.200

B.1

163

449.700

65.567

2.200

B.B4

0

0

0

3.500

13.200

B.B5

0

0

0

16.500 66.000

B.B6

0

0

0

2.200

2.000

B.2

134

1.838.500

248.175

KVA

>

200 KVA

B.3

-

-

-

 

5 Industri

1300

I - 1

1

1.300

397

2.200

14.000

I 1

8

56.800

10.118

14.000

I 2

6

204.500

16.073

Bab 2 Profil Kota dan Kawasan Prioritas

     

Jenis

     

No.

Uraian

Batas Daya (Va)

Tarif

Pelanggan

Daya

KWh

   

200.000

       

>

200.000

I

3

1

345.000

31.200

 

6 Perkantoran

 

450

P

1

16

7.200

659

 

900

P

1

24

21.600

2.887

 

1.300

P

1

22

28.600

5.508

 

2.200

P

1

42

139.900

18.301

2.200 200.000

P

1

36

625.700

85.490

>

200.000

P

1

0

0

0

 

7 Lampu

 

P

3

98

864.375

187.805

Penerangan

 

Jalan

 

Jumlah/Total

756

48.496.675

715.587

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

2.1.6.3. Jaringan Jalan

Data panjang jalan yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banjar terdiri

atas, Panjang Jalan Propinsi yang melintas di wilayah Kabupaten Banjar sepanjang 93,52

Km, sedang panjang jalan kabupaten 727,33 Km. Jika dirinci per jenis permukaan, maka

pada tahun 2011 jalan yang sudah di aspal sepanjang 625,41 Km, 210,22 Km berupa kerikil

dan 70,70 Km sisanya masih berupa tanah. Dari jumlah tersebut jika dilihat dari kondisi

jalannya, maka 411,27 Km dalam kondisi baik.

Tabel 2. 8. Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan dan Pemerintahan Yang Berwenang,

2011

No

Kondisi

Negara

Provinsi

Kabupaten

Jumlah

1

Baik

69.48 93.52

 

248.27

411.27

2

Sedang

- 16

 

55.69

71.69

3

Rusak

- 0

 

281.99

281.99

4

Rusak Berat

- 0

 

141.38

141.38

 

Jumlah

69.48

109.52

727.33

906.33

Sumber: Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2012

Keadaan jalan menurut jenis permukaan dan kondisinya ini secara lebih rinci per

kecamatan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2. 9. Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan dan Kecamatan, 2011