Anda di halaman 1dari 56

Pengolah Citra

[Tutorial Pengolahan Citra dengan ENVI]


Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si.

http://rumahpeta.com

[ Tahun 2011 ]

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 1. Pendahuluan
A. Tujuan
1. Mahasiswa memahami konsep dasar penginderaan jauh 2. Mahasiswa mengenal bentuk data penginderaan jauh 3. Mahasiswa mengenal teknik pemrosesan data penginderaan jauh

B. Batasan Umum Penginderaan Jauh


Penginderaan jauh adalah ilmu tentang perolehan informasi permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan obyeknya. Hal ini dilakukan dengan cara perabaan atau perekaman energi yang dipantulkan atau dipancarkan, memproses, menganalisa dan menerapkan informasi tersebut. Beberapa hal penting dalam penginderaan jauh yaitu : 1. Sumber energi yang merupakan hal utama yang diperlukan dalam penginderaan jauh sebagai penyedia enegi yang dipancarkan. 2. Radiasi dan atmosfer, Sebagai perjalanan energi dari sumber ke target. 3. Interaksi energi dengan Target 4. Perekaman energi oleh sensor 5. Transmisi energi dari sumber ke sensor 6. Interpretasi dan analisis data hasil perekaman 7. Aplikasi

Banyak pakar memberi batasan, penginderaan jauh hanya mencakup pemanfaatan gelombang elektromaknetik saja, sedangkan penginderaan yang memanfaatkan sifat fisik bumi seperti kemaknitan, gaya berat dan seismik tidak termasuk dalam klasifikasi ini. Namun sebagian pakar memasukkan pengukuran sifat fisik bumi ke dalam lingkup penginderaan jauh. Dengan dasar konsep tersebut penginderaan jauh berkembang dalam

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 1

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

bentuk pemrotretan muka bumi melalui wahana pesawat terbang yang menghasilkan foto udara dan bentuk penginderaan jauh berteknologi satelit yang mendasarkan pada konsep gelombang elektomagnetis. Dalam perkembangannya saat ini, dengan adanya teknologi satelit berresolusi tinggi, pengenalan sifat fisik dan bentuk obyek dipermukaan bumi secara individual juga dapat dilakukan. Pada dasarnya teknologi pemotretan udara dan penginderaan jauh berteknologi satelit adalah suatu teknologi yang merekam interaksi sinar/berkas cahaya yang berasal dari sinar matahari dan benda/obyek di permukaan bumi. Pantulan sinar matahari dari benda/obyek di permukaan bumi ditangkap oleh kamera/sensor, tiap benda/obyek memberikan nilai pantul yang berbeda sesuai dengan sifatnya. Pada pemotretan udara rekaman dilakukan dengan media seluloid/film, sedangkan penginderaan jauh melalui media pita magnetik dalam bentuk sinyal-sinyal digital. Dalam perkembangannya batasan tersebut menjadi tidak jelas karena rekaman potret udarapun seringkali dilakukan dalam bentuk digital pula.

C.

Konsep

Gelombang

Elekromagnetik

Sebagai

Dasar

Penginderaan Jauh
Dalam penginderaan jauh sinar matahari dijadikan sumber energi yang dimanfaatkan dalam pemotretan muka bumi. Sinar matahari yang dipancarkan ke permukaan bumi sebagian dipantulkan kembali ke angkasa, besarnya nilai pantul ditangkap/direkam oleh kamera/scanner/alat perekam lain dalam bentuk sinyal energi. Benda benda di permukaan bumi yang berbeda sifatnya akan memantulkan nilai (prosentase) pantulan yang berbeda dan direkam dalam bentuk sinyal analog (potret) dan sinyal digital (angka) yang selanjutnya divisualisasikan dalam bentuk gambar (citra). Perbedaan nilai pantul ini yang antara lain digunakan untuk membedakan satu benda dengan benda lain pada foto udara atau citra satelit.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 2

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Uraian

dari

paragraf

diatas

menjelaskan

bagaimana

proses

penginderaan jauh tersebut secara umum. Suatu obyek dapat terrekam pada sebuah citra dikarenakan adanya penghantar informasi yang berasal dari sumber energi ke sensor penerima. Penghantar informasi ini adalah sinar matahari yang pada dasarnya adalah gelombang elektromagnetik.

C.1. Panjang Gelombang dan Frekuensi


Radiasi gelombang elektromagnetik terdiri dari bidang elektris (E) dan bidang magnetik (M). Bidang elektris memiliki variasi magnitude searah dengan arah datangnya radiasi. Dua hal tersebut bergerak dalam kecepatan cahaya. Karakteristik lain yang sangat penting dalam penginderaan jauh adalah pemahaman tentang panjang gelombag (wave length ) dan frekuensi. Panjang gelombang () adalah panjang dari satu putaran gelombang yang dapat dihitung antara puncak gelombang satu ke puncak gelombang berikutnya. Panjang gelombang diukur denga satuan meter (m) dengan beberapa turunannya yaitu nanometres (nm, 10-9 metres), micrometres (m, 10-6 metres) or centimetres (cm, 10-2 metres). Frekuensi adalah jumlah gelombang dalam satu satuan waktu. Frekuensi diukur dalam satuan hertz (Hz) yang sama dengan jumlah putaran per detik.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 3

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Kaitan panjang gelombang dan frekuensi dituliskan dalam formula berikut :

c=v c = kecepatan cahaya (3 x 106 m/s) = panjang gelombang (m) v = frekuensi ( Hz)
Panjang gelombang dan frekuensi menjadi dasar pertimbangan pemilihan saluran elektromagnetik dalam penginderaan jauh. Sifat dari gelombang elektromagnetik secara umum adalah sebagai berikut : 1. Semakin panjang suatu gelombang daya tembusnya terhadap obyek semakin besar. Suara radio dapat didengar dari ruangan lain, tetapi mungkin tidak terlihat dari ruangan lain tersebut. Hal ini dikarenakan gelombang suara dapat menembus obyek pemisah ruangan, sedangkan sinar sebagai penghantar informasi obyek ke mata, tidak dapat menembus obyek tersebut. Gelombang suara miliki panjang gelombang yang lebih panjang dari pada gelombang sinar. Untuk lebih jelas, silakan baca pada sub bab berikutnya (Spektrum Gelombang Elektromagnetik yang digunakan Penginderaan Jauh). Panjang gelombang pendek semakin peka terhadap hamburan atmosferik (rayleigh, mie, serta partikel debu). Oleh karena itu, maka penginderaan jauh yang melakukan pemantauan atmosfer sepert NOAA, AVHRR, dan satelit cuaca lainnya banyak menggunakan spektrum gelombang pendek. Dengan spektrum ini sebaran hamburan atmosferik dapat dianalisis dengan baik. 2. Semakin panjang suatu gelombang, suhu laten semakin rendah Secara mudah hal ini dapat dilihat pada kompor di dapur yang menyala. Api kompor yang berwarna biru memiliki panas yang lebih tinggi dibandingkan api kompor yang warnanya merah. Contoh lain adalah api pada

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 4

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

ujung las. Las tidak dapat digunakan untuk menyambung besi pada saat api masih berwarna merah. Suhu api las perlu di tinggikan dengan membuka kran tekanan. Pada saat kran dibuka, warna api berangsur akan berubah dari merah ke kuning, hijau, biru hingga suatu saat api tersebut tidak nampak karena mencapai panjang gelombang sedikit dibawah batas kemampuan mata (0,4 m). Dalam penginderaan jauh hal ini digunakan untuk perabaan panas seperti kebakaran hutan, pemantauan kebocoran pipa bawah permukaan, sebaran pencemaran pada air laut, pusat panas bumi, sumber erupsi, dan lain-lain. Saluran 6 dari satelit Landsat TM adalah contoh citra satelit yang menggunakan panjang gelombang thermal.

C.2. Spektrum Gelombang Elektromagnetik yang digunakan Penginderaan Jauh


Gelombang elektromagnetik memiliki spektrum yang sangat luas. Hanya sebagian kecil dari spektrum gelombang elektromagnetik yang berupa berkas cahaya dapat dilihat oleh mata manusia, yaitu yang dikenal sebagai gelombang tampak (visible spectrum). Spektrum yang dapat dilihat oleh mata manusia ini terrentang dari 0,4 m hingga 0,7 m yang dapat dilihat pada warna pelangi. Spektrum tampak ini yang digunakan pada penginderaan jauh foto udara.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 5

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Rentangan dari spektrum dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Rentang Spektrum Gelombang Elektromagnetik (Sumber gambar : CCRS, 11)

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 6

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Dari masing-masing gambar terdapat tiga diagram batang. Batang paling kiri menggambarkan rentang spektrum keseluruhan. Pada diagram tersebut tergambar rentangan spektral terbentang dari gelombang pendek yang berupa sinar Gamma, hingga gelombang panjang yang berupa gelombang radio. Spektrum gelombang pendek dari sinar Gamma, sinar X, dan Ultra Violet banyak digunakan pada bidang kesehatan. Penginderaan jauh pada umumnya menggunakan spektrum tampak hingga spektum infra merah. Foto udara menggunakan gelombang elektromagnetik pada spektrum tampak ini. Perluasan dari spektrum tampak tersebut adalah spektrum infra merah yang digunakan pada berbagai satelit sumber daya seperti Landsat, SPOT, Ikonos, dan Quick Bird. Dalam aplikasi di lapangan, penginderaan jauh dimanfaatkan untuk membantu analisis morfologi lahan, sumberdaya bawah permukaan, serta militer. Pada sistem penginderaan ini digunakan spektrum gelombang yang lebih panjang. Spekrum ini adalah spektrum gelombang mikro (Micro wave) atau sering disebut dengan gelombang radar. Spektrum ini dapat melihat obyek dibawah permukaan, yang jauhnya ditentukan oleh panjang gelombang itu sendiri. Gambar dibawah ini adalah spektrum gelombang mikro. Spektrum tersebut terbagi dalam beberapa saluran yang masingmasing memiliki kemampuan menembus suatu obyek.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 7

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

D. Foto Udara dan Citra Satelit


Berdasar wahana perekaman dan sensor yang digunakannya dikenal adanya foto udara dan citra satelit. Pemahaman dari karakteristik masing-masing citra tersebut adalah penting. Pemahaman tentang karakteristik masingmasing citra akan mendasari pemilihan penggunaan suatu citra untuk penyelesaian suatu obyek analisis. Dalam beberapa hal teknologi satelit berresolusi tinggi dapat menggantikan foto udara, namun dalam analisis wilayah yang sempit penggunaan foto udara dapat memberikan nilai akurasi dan efisiensi yang lebih tinggi.

D.1. Data Penginderaan Jauh Foto Udara


Citra foto udara adalah salah satu jenis citra hasil dari perekaman muka bumi dengan menggunakan wahana pemotretan udara seperti pesawat terbang ataupun wahana darat bergerak. Berikut adalah gambaran pengambilan data dengan platform tersebut .

Pemotretan dengan menggunakan mobil penginderaan jauh (Sumber gambar : CCRS, 34)

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 8

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Model pengambilan citra menggunakan wahana seperti dalam gambar di atas disebut dengan istilah Ground Based Remote Sensing. Metode ini digunakan sebagai kontrol dari citra foto yang diambil menggunakan wahana pesawat terbang. Citra foto hasil metode ini lebih jelas dan lebih mudah dalam pengenalan obyeknya.

Pemotretan udara melalui pesawat terbang (Sumber gambar : www.rspsoc.org, )

Pemotretan udara pada umumnya menggunakan kamera dan film, dan menghasilkan potret (data analog). Dalam pemotretan menggunakan pesawat terbang, sensor diletakkan pada dasar yang stabil pada pesawat terbang tersebut. Dalam perkembangannya saat ini Sensor yang sering dipakai pada saat ini adalah jeni kamera foto udara digital yang memiliki lebih dari satu saluran optis (lihat gambar selanjutnya). Kamera tersebut adalah kamera foto udara tipe Vexcel Ultracam D. Digunakan dengan menggunakan pesawat terbang kecil atau helikopter.

Kamera foto udara jenis Vexcel Ultracam D

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 9

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Ada beberapa karakteristik dari citra jenis ini yaitu : a. Obyek-obyek relatif mudah dikenali b. Informasi dapat diturunkan secara maksimal c. Mudah dalam pengambilan data d. Mencakup daerah yang lebih sempit dibandingkan citra satelit, sehingga untuk mendapatkan cakupan area yang luas memerlukan mosaik banyak foto. e. Sering diujudkan dalam bentuk hardcopy f. Harga produksi citra ini relatif lebih murah dibanding citra satelit.

Secara garis besar, pemotretan udara dan hasil ikutannya dalam bentuk peta merupakan bidang kegiatan ilmu geodesi yang dikenal dengan bidang fotogrametri. Bidang ini meliputi : Perencanaan pemotretan yang meliputi pemilihan kamera udara, disain pemotretan, pemilihan film dan cara pemotretan. Pemrosesan laboratorium, meliputi pencetakan, penyusunan,

pengarsipan potret. Pengolahan dan pemanfaatan seperti penggabungan potret (mosaik), pembuatan peta topografi.

Potret udara tidak seperti potret terestris biasa tetapi harus memenuhi persyaratan khusus dan baku, antara lain : Dibuat dalam bentuk potret tegak (vertikal). Dalam hal tertentu pemotretan kadang dibuat dalam posisi miring (oblique). Namun demikian pada umumnya potret udara dibuat dalam bentuk potret tegak (vertikal) Dibuat dengan sistim tumpang tindih (overlap) antara satu potret dengan potret berikutnya. Cara demikian dilakukan untuk mendapatkan kenampakan 3 dimensi dan untuk keperluan pembuatan peta topografi. Tumpang tindih ke arah samping juga

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 10

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

dibuat dalam jarak lebih pendek, sehingga seluruh daerah yang dipotret tidak ada yang terlewat.

Kamera udara dapat berupa kamera tunggal atau majemuk, pada umumnya diletakkan di perut pesawat, di masa lalu diletakkan di luar badan pesawat. Untuk mendapatkan potret yang sesuai dengan keperluan dasar pemotretaan dipertahankan pada posisi mendatar serta diatur selang pengambilannya secara tetap. Pemotretan udara menggunakan jenis kamera tunggal, kadang kadang kamera ganda atau kamera majemuk dan film yang dipakai dalam pemotretan pada umumnya dari jenis pankromatik hitam putih dan warna, inframerah hitam putih dan warna, namun umumnya adalah film pankromatik hitam putih. Potret udara pada umumnya digunakan untuk dua hal : Untuk membuat peta topografi dengan menggunakan peralatan yang khusus dibuat untuk itu. Pekerjaan ini termasuk dalam bidang fotogrametri

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 11

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Untuk pemetaan sumberdaya alam seperti geologi, kehutanan, pertanian, sumberdaya air, bencana alam dan sebagainya (peta peta tematik).

Peta tematik dibuat dengan cara menafsirkan kenampakan pada potret udara sesuai dengan tujuannya melalui pengenalan tanda-tanda yang khas dari obyek yang diamati. Ilmu ini dikenal dengan penafsiran/interpretasi potret udara. Orang yang dapat menafsirkan potret udara disebut sebagai penafsir potret udara atau photo interpreter. Sebagai contoh kita bisa mengenal gunungapi karena bentuknya yang seperti kerucut, adanya kepundan dipuncaknya, torehan air/sungai berbentuk radial dan sebagainya. Kriteria penafsiran yang umum terhadap obyek/gejala alam antara lain: (1). Bentuk dan ukuran obyek, (2). Pola dan susunan obyek, (3). Tekstur dari obyek, (4). Hubungan/asosiasi dengan obyek disampingnya, (4). Struktur dari obyek, (5). Warna, derajat keabuan (grey level) akibat nilai pantul yang berbeda, (6). Kaitannya dengan ulah kegiatan manusia dan sebagainya. Beberapa sifat potret udara yang dapat memperkuat pengamatan adalah pengamatan tiga dimensi (3D) yang diakibatkan oleh sifat tumpang tindih (overlaping) dari potret potret yang berdekatan/berurutan. Untuk mengamati kenampakan 3D tersebut diperlukan suatu alat yang bernama stereoskop.

D.2. Penginderaan Jauh Satelit


Di dalam teknologi penginderaan jauh dikenal dua sistim yaitu penginderaan jauh dengan sistim pasif (passive sensing) dan sistim aktif (active sensing). Penginderaan dengan sistim pasif adalah suatu sistim yang memanfaatkan energi almiah, khususnya energi (baca cahaya) matahari,

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 12

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

sedangkan sistim aktif menggunakan energi buatan yang dibangkitkan untuk berinteraksi dengan benda/obyek. Sebagian besar data penginderaan jauh didasarkan pada energi matahari. Alat perekam adalah sistim multispectral scanner yang bekerja dalam selang cahaya tampak sampai inframerah termal. Sistim ini sebagian besar adalah menggunakan sistim optik. Jumlah saluran (channel atau band) berbeda dari satu sistim ke sistim yang lain. Landsat 7 misalnya mempunyai 7 bands, SPOT 4 bands, ASTER 14 bands. Pada sistim hiperspektral jumlah saluran bahkan dapat mencapai lebih dari 100. Selain sistim pasif penginderaan dengan sistim aktif menggunakan sumber energi buatan yang dipancarkan ke permukaan bumi dan direkam nilai pantulnya oleh sensor. Sistim aktif ini biasanya menggunakan gelombang mikro (micro wave) yang mempunyai panjang gelombang lebih panjang dan dikenal dengan pencitraan radar (radar imaging). Sistim aktif pada umumnya berupa saluran tunggal (single channel). Ia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistim optik dalam hal mampu menembus awan dan dapat dioperasikan pada malam hari karena tidak tergantung pada sinar matahari. Sistim aktif antara lain diterapkan pada Radarsat (Kanada), ERS-1(Eropa) dan JERS (Jepang). Data penginderaan jauh pada umumnya berbentuk data digital yang merekam unit terkecil dari permukaan bumi dalam sistim perekam data. Unit terkecil ini dikenal dangan nama pixel (picture element) yang berupa koordinat 3 dimensi (x,y,z). Koordinat x,y menunjukkan lokasi unit tersebut dalam koordinat geografi x, y dan z menunjukkan nilai intensitas pantul dari tiap pixel dalam tiap selang panjang gelombang yang dipakai. Nilai intensitas pantul dibagi menjadi 256 tingkat berkisar antara 0 255 dimana 0 merupakan intensitas terrendah (hitam) dan 255 intensitas tertinggi (putih). Dengan data citra asli (raw data) tidak lain adalah kumpulan dari sejumlah pixel yang bernilai antara 0 -255. Ukuran pixel berbeda tergantung pada sistim yang dipakai, menunjukkan ketajaman/ketelitian dari data

penginderaan jauh, atau yang dikenal dengan resolusi spasial. Makin besar

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 13

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

nilai resolusi spasial suatu data makin kurang detail data tersebut dihasilkan, sebaliknya makin kecil nilai resolusi spasial makin detail data tersebut dihasilkan. Citra dengan nilai resolusi spasial besar dikatakan sebagai citra berresolusi rendah, sedangkan citra dengan nilai resolusi spasial kecil disebut dengan citra berresolusi tinggi.

Gambar di atas adalah contoh perbandingan antara beberapa citra dengan berbagai resolusi. Citra dengan nilai resolusi spasial 40 meter nampak tidak jelas, sedangkan pada citra dengan resolusi spasial 1.5 meter, obyek nampak lebih jelas.

D.3. Pemrosesan dan analisis data


Karena data penginderaan jauh berupa data digital maka penggunaan data memerlukan suatu perangkat keras dan lunak khusus untuk pemrosesannya. Komputer PC dan berbagai software seperti ERMapper, ILWIS, IDRISI, ERDAS, PCI, ENVI dsb dapat dipergunakan sebagai pilihan. Untuk keperluan analisis dan interpretasi dapat dilakukan dengan dua cara

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 14

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

pemrosesan dan analisis digital, dan cara kedua dengan analisis dan interpretasi visual. Kedua metoda ini mempunyai keunggulan dan kekurangan, seyogyanya kedua metoda dipergunakan bersama-sama untuk saling melengkapi. Pemrosesan digital berfungsi untuk membaca data, menampilkan data, memodifikasi dan memproses, ekstraksi data secara otomatik, menyimpan, mendesain format peta dan mencetak. Sedangkan analisis dan interpretasi visual dipergunakan apabila pemrosesan data secara digital tidak dapat dilakukan dan kurang berfungsi baik.

Band 321

Band 542

Band 471

Gambar diatas adalah citra dengan visualisasi multispektral dengan kombinasi saluran yang berbeda. Kombinasi band 321 (true color composite) menampilkan citra seperti gambaran sebenarnya dilapangan. Kominasi band 542 menegaskan kenampakan sebaran air, tanah terbuka, lahan bervegetasi kecil, vegetasi sedang, hingga hutan. Band 471 dapat memberikan informasi yang jelas dari sebaran tipe vegetasi di lapangan. Pembentukan citra multi spektral dilakukan dengan menggunakan software pengolah citra satelit seperti disebutkan dimuka.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 15

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 2. Pengolah Citra ENVI


A. Tujuan
1. Mengenal perangkat lunak pengolah data penginderaan jauh ENVI 2. Mengenal teknik dasar menampilkan data penginderaan jauh

B. Menu Utama Envi


Envi merupakan pengolah cirta yang flexibel. Envi dapat mengolah beberapa tipe data citra yang berasal dari citra satelit asli, ataupun dari hasil olahan pengolah citra lainnya seperti Erdas atau ER Mapper. Disamping itu Envi juga dapat mengolah citra yang berasal dari format generik seperti JPG, TIFF dan lain-lain. Pekerjaan dimulai dari menu utama seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 1. Menu Utama ENVI

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 16

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Pemanggilan citra baik yang sudah berformat Envi ataupun dari IP (Image Processing) lain selalu melalui menu File. Citra yang telah terpanggil tersebut akan dicatat pada sebuah daftar saluran yang disebut dengan Available Band List. Setelah tercatat pada jendela tersebut, citra dapat ditampilkan secara single spektral (saluran tunggal) ataupun multi spektral yang akan nampak pada jendela Display Image. Envi dapat menampilkan lebih dari satu citra dalam sekali pekerjaan. Citra tersebut ditampilkan pada sebuah display atau beberapa display yang proses penampilannya tersebut dikendalikan melalui jendela daftar saluran. Selain melalui menu utama ini, terdapat beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan melalui menu yang terdapat pada jendela image. Hal tersebut akan diuraikan pada bagian lain pada modul ini.

C. Available Band List


Pengendali dari display image ini adalah sebuah jendela daftar saluran yang disebut sebagai Available Band List. Jendela ini memuat saluransaluran yang terdapat pada citra yang sedang dipanggil. Saluran-saluran tersebut ditampilkan sebagai daftar yang dapat ditampilkan sebagai saluran tunggal (single band) ataupun secara bersama-sama sebagai saluran multi spektral. Semua citra yang dipanggil akan didaftar oleh jendela tersebut. Dalam sekali pekerjaan jendela Available Band List tersebut dapat mencatat citra aktif dapat lebih dari satu. Pada bagian bawah dari daftar saluran tersebut terdapat opsi yang menunjukkan Grey Scale dan RGB. Grey Scale digunakan untuk menampilkan citra pada saluran tunggal sedangkan RGB digunakan untuk menampilkan saluran multi spektral. Gambar dibawah menunjukkan citra akan ditampilkan dalam saluran multi spektral 432, dimana band 4 dimasukkan pada saluran R, Band 3 pada saluran G, dan Band 2 pada saluran B. Hasil dari kombinasi tersebut dapat dilihat pada gambar 4.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 17

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 2. Available Band List

D. Scroll Display
Jendela Scroll display menampilkan citra secara utuh. Seluruh wilayah dari citra tersebut akan ditampilkan pada jendela ini. Pada jendela tersebut terdapat sebuah kotak merah. Kotak tersebut menunjukkan lokasi yang akan ditampilkan pada lembar image display. Penggeseran kotak tersebut akan secara langsung menggeser tampilan citra pada display image. Ukuran kotak tersebut biasanya sebesar 400 x 400 piksel.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 18

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Jendela scroll ini sangat bermanfaat apabila citra asli yang ditampilkan berukuran besar sehingga tidak mungkin ditampilkan seluruhnya pada jendela image display.

Gambar 3. Scroll Display

E. Image Display
Pekerjaan dalam Envi dilakukan pada sebuah lembar display image. Lembar image ini adalah lembar kerja yang memuat tampilan citra dalam bentuk single spektral atau multi spektral. Lembar display image ini pada dasarnya menampilkan rona nilai spektral yang diujudkan dalam warna tertentu pada saluran multi spektral atau tingkat keabu-abuan tertentu pada saluran single spektral. Dengan demikian sesuatu yang tampak pada lembar image sebenarnya simbolisasi dari suatu nilai tertentu dari kumpulan piksel. Citra terdiri dari banyak piksel yang masing-masing pikselnya tersebut memiliki nilai spasial dan nilai spektral. Nilai spasial menunjukkan lokasi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 19

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

koordinat lapangan tertentu, sedangkan nilai spektral menunjukkan nilai pantulan obyek pada suatu panjang gelombang. Pada bagian lain dalam modul ini akan dijelaskan cara melihat nilai nilai spasial dan nilai spektral tersebut.

Gambar 4. Display Image menampilkan citra dalam saluran multi dan single spektral

Pada Image Display tersebut terdapat sebuah kotak merah yang merupakan zoom area. Wilayah yang dibatasi oleh kotak tersebut akan ditampilkan pada jendela zoom display. Perbesaran dapat dilakukan pada jendela zoom display tersebut.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 20

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

F. Zoom Display
Zoom display menampilkan detail dari citra. Lokasi yang ditunjukkan pada zoom display ini adalah lokasi yang sama dengan yang ditampilkan pada zoom area dalam image display. Pada zoom display ini terdapat tombol yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil zoom. Tombol tersebut terdapat pada bagian kiri bawah dari jendela zoom ini.

Gambar 5. Tombol zoom

Gambar 6. Zoom perbesaran 1 kali

Perbesaran dan perkecilan dilakukan dengan klik tombol dan tombol +. Tombol akan memperkecil zoom sedangkan tombol + akan memperbesar zoom. Tombol paling kanan digunakan untuk menampilkan cross hair yang menandai titik tengah citra.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 21

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 7. Zoom display dengan tanda cross hair

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 22

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 3. Koreksi Spektral


A. Tujuan
1. Mengenal konsep pengolahan spektral 2. Mengenal teknik-teknik koreksi spektral

B. Citra Single Band


Citra Single band adalah citra yang ditampilkan dengan menggunakan saluran tunggal. Citra ini menampilkan nilai spektral pada display image sebagai tunggal atau multi saluran dengan nilai yang sama. Hasil dari tampilan citra saluran tunggal ini biasanya adalah citra dengan mode grey scale yang dimunculkan dengan gradasi hitam putih. Nilai keabuan dari sebuah piksel ditentukan oleh nilai spektral piksel tersebut. Nilai spektral citrta terrentang dari 0 hingga 255. Nilai spektral 0 akan menghasilkan warna gelap atau hitam. Nilai 255 menghasilkan warna putih. Berikut adalah contoh citra dalam saluran tunggal.

Gambar 1. Citra dengan saluran tunggal band 4

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 23

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Masing-masing band akan memberikan nilai kecerahan yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh sifat interaksi obyek terhadap suatu panjang gelombang.

Gambar 2. Citra yang sama dengan saluran yang berbeda

C. Kualitas Citra
Citra tidak selalu memiliki kualitas yang baik uantuk sebuah analisis. Suatu ketika citra dalam keadaan yang terlalu gelap sehingga tidak nampak obyek

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 24

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

yang ada dalam citra tersebut. Mungkin pula citra dalam keadaan yang terlalu cerah yang juga mengakibatkan citra sulit diinterpretasi. Kondisi lain juga apabila citra memiliki nilai spektral yang hampir sama sehingga detail obyek satu dengan obyek lainnya sulit dibedakan. Dalam keadaan-keadaan seperti itu semua citra memerlukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas citra tersebut. Perbaikan dalam hal ini adalah perbaikan yang menyangkut kualitas nilai spektral citra.

Gambar 3. Citra terlalu gelap

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 25

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 4. Citra terlalu cerah

Gambar diatas menunjukkan citra dalam keadaan yang tidak baik. Kedua gambar di atas sulit diinterpretasi karena obyek pada citra tidak dapat dibedakan karena rona yang terlalu gelap dan terlalu cerah.

D. Koreksi Spektral Citra


Citra-citra yang memiliki kualitas rendah perlu mendapatkan koreksi spektral agar diperoleh citra dengan kualitas yang lebih baik. Terdapat beberapa model koreksi yang dapat dilakukan terhadap sebuah citra agar citra tersebut dapat diinterpretasi dengan mudah, diantaranya adalah dengan perentangan kontras dan filter. Masing-masing dari metode tersebut memiliki varian seperti dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 26

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 5. Menu koreksi spektral filter.

Gambar 6. Menu koreksi spektral perentangan kontras

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 27

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

E. Perentangan Kontras
Perbaikan dilakukan dengan menggunakan perentangan kontras (Contrast Stretching). Metode ini akan menarik kurva spektral asli citra menjadi sebuah kurva normal. Hasil dari sebuah kurva normal adalah tampilan citra yang terbaik yang mudah untuk diinterpretasi. Nilai spektral terkecil dari citra akan ditarik menjadi nilai 0 sedangkan nilai terbesar akan ditarik menjadi nilai 255 pada kurva hasil perentangan. Dengan demikian kurva spektral asli akan terrentang menjadi sebuah kurva normal. Gambaran hal ini dapat dilihat pada gambar 7. Dalam Perentangan kontras terdapat beberapa metode yang memiliki rumus matematis sendiri-sendiri. Masing-masing metode tersebut

menghasilkan citra dengan tingkat kualitas yang berbeda.

Gambar 7. Kurva spektral citra asli yang terrentang menjadi kurva normal

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 28

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 8. Citra yang telah terkoreksi

F. Filter
Filter untuk koreksi spektral citra ini terbagi menjadi dua bentuk pokok yaitu filter highpass dan filter lowpass. Filter high pass akan menghasilkan citra dengan perbedaan yang tajam pada bata-batas obyek dalam citra.

Gambar 9. Citra hasil filter sobel

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 29

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 10. Citra hasil filter lowpass

Filter Low pass akan merata-rata nilai spektral yang ada pada citra. Hasil dari filter lowpass ini adalah citra dengan tampilan yang halus. Filter ini bermanfaat untuk generalisasi terhadap sekelompok obyek heterogen di lapangan.

Gambar 11. Citra hasil filter Roberts

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 30

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 4. Ground Control Point


A.Tujuan
1. Mengenal konsep titik ikat lapangan (Ground Control Point/GCP) 2. Mengenal teknik pemasangan GCP dengan menggunakan ENVI

B.Ground Control Point


Gound Control Point adalah suatu titik ikat lapangan yang mengarahkan citra pada lokasi sebenarnya di lapangan. Citra yang belum terkoreksi geometrik tidak memiliki GCP atau titik ikat lapangan. Citra yang seperti ini tidak dapat digunakan sebgai pemandu lapangan, karena tidak dapat menunjukkan posisi sebenarnya dimuka bumi. Citra yang belum terkoreksi geometrik ini perlu dilakukan koreksi dengan cara pemasangan titik ikat lapangannya.

Gambar 1. Citra yang telah memiliki GCP dapat digunakan untuk menentukan posisi lokasi di bumi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 31

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 2. Citra yang belum memiliki GCP tidak dapat digunakan untuk menentukan posisi lokasi di bumi Pada citra yang telah memiliki GCP dapat diperoleh informasi koordinat piksel dan koordinat lapangan dalam bentuk latitude-longitude dan UTM, serta sistem proyeksinya. Informasi lokasi dapat dilakukan dengan menggunakan menu Function Interactive Analysis Cursor Location / Value

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 32

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 3. Menu mencari lokasi koordinat piksel

Gambar 4. Jendela penunjuk lokasi koordinat piksel dan GCP

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 33

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

C. Pemasangan Ground Control Point


Ground Control Point dapat dihasilkan dari sebuah pengukuran lapangan atau menggunakan peta referensi. Data lapangan dapat diambil menggunakan GPS dengan melakukan tracking pada suatu lokasi tertentu yang mudah dicapai di lapangan serta mudah diketahui posisinya di citra. Langkah untuk memasang GCP adalah sebagai berikut. Dari menu utama pilih : Register Select Ground Control Point Image To Map Akan muncul jendela berikut :

Gambar 5. Jendela penentuan parameter lokasi GCP

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 34

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Dari jendela tersebut tentukan parameter yang tepat untuk lokasi citra yang akan dipasang titik ikatnya. Jika seluruh parameter telah terpasang dan benar tekan OK. Envi Akan memunculkan dialog pemasangan GCP berikutnya.

Gambar 6. Jendela pemasangan nilai GCP

Jendela diatas merupakan jendela yang digunakan untuk memasang koordinat GCP. GCP dipasang pada baris E dan N.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 35

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 7. Baris input kordinat dalam bentuk UTM dan Longitude-Latitude Pengubahan mode UTM menjadi Longitude-Latitude atau sebaliknya dilakukan dengan menggunakan tombol

Gambar 8. Pengubah mode UTM Long/Lat

Cara pemasangannya adalah sebagai berikut :

Klik piksel tertentu yang merupakan posisi koodinat GCP tercatat Koordinat tersebut akan muncul pada kotak

Gambar 9. Koordinat piksel

Tuliskan koordinat UTM atau Longitude-Latitude pada baris seperti ditunjukkan pada gambar 7

Masukkan koordinat GCP minimal 4 titik Lakukan penyimpanan dengan menggunakan o File o Save GCP

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 36

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 10. Penyimpanan Koordinat GCP Untuk merektifikasi citra lakukan warping dengan langkah o Option o Warp File

Gambar 11. Rektifikasi Citra

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 37

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Jika titik GCP telah mencapai minimal 4 titik lakukan warping Proses warping akan memunculkan dialog warping

Gambar 12. Dialog warping

Klik Choose untuk memberi nama citra hasil koreksi Klik OK

Gambar 13. Proses Warping

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 38

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 5. Klasifikasi
A. Tujuan
1. Mengenal konsep titik ikat lapangan (Ground Control Point/GCP) 2. Mengenal teknik pemasangan GCP dengan menggunakan ENVI

B. Metode Klasifikasi
Terdapat dua macam klasifikasi yaitu klasifikasi supervised dan klasifikasi unsupervised. Klasifikasi tersebut merupakan suatu metode pengelompokan obyek lapangan menjdai kelas-kelas tertentu. Jumlah kelas yang ada ditentukan oleh jumlah kelompok pada metode unsupervised atau jumlah training area pada metode supervised. Klasifikasi ini memiliki cara dan tujuan yang berbeda. Pada kedua metode klasifikasi tersebut mensyaratkan jumlah saluran yang tersedia minimal tiga saluran. Sebuah citra yang memiliki saluran kurang dari 3 band tidak dapat digunakan untuk melakukan proses klasifikasi.

C. Klasifikasi Unsupervised
Klasifikasi Unsupervised sering disebut sebagai klasifikasi tak terselia. Klasifikasi ini tidak menggunakan area sampling untuk melakukan pengelompokan obyeknya. Nilai spektrarl dikelompokkan berdasarkan pada titik berat kumpulan spektral tersebut pada kurva spektralnya.

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 39

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 1. Citra asli yang belum terklasifikasi

Gambar 2. Citra yang terklasifikasi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 40

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Cara melakukan klasifikasi adalah sebagai berikut. pilih klasifikasi dari menu utama

Gambar 3. Klasifikasi K-Means

akan muncul jendela pemilihan sumber citra

Gambar 4. Citra sumber klasifikasi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 41

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Pilih citra yang akan diklasifikasi dan klik OK

Gambar 5. Jendela klasifikasi K-Means Tentukan jumlah kelas yang diinginkan pada baris Number of Classes

Gambar 6. Baris jumlah kelas klasifikasi Tentukan nama file pada baris file name

Gambar 7. Baris file name

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 42

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Hasil klasifikasi dicatat pada jendela daftar saluran

Gambar 8. Citra hasil klasifikasi masuk pada jendela daftar saluran

D. Klasifikasi Supervised
Klasifikasi supervised merupakan satu metode klasifikasi yang menggunakan area sampling. Ketelitian ditentukan oleh kualitas sampling dan jumlah sampel. Area sampel dibuat dengan menggunakan Region Of Interest (ROI). ROI harus terlebih dahulu dibuat sebelum melakukan proses klasifikasi supervised ini

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 43

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

D.1. Region Of Interest


Region Of Interest adalah area sampling yang dibentuk sebagai trainning area pada klasifikasi supervised. Pembentukan ROI dilakukan dengan cara sebagai berikut. Klik tombol Function pada display image Pilih Region Of Interest Pilih Define Of Interest

Gambar 10. Pembuatan ROI

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 44

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Envi akan memunculkan dialog daftar Region Of Interest

Gambar 11. Daftar ROI Buat poligon pada suatu area pada citra. Digit sebuah poligon kecil. Untuk mengakhiri lakukan klik kanan

Gambar 12. Lingkaran merupakan area sampling

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 45

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Klik kanan sekali lagi

Gambar 12. Area Sampel telah diterima

Klik

untuk membuat ROI yang lainnya

Gambar 13. Area sampel ke dua

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 46

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Simpan ROI dengan File Save ROI

Gambar 14. Penyimpanan ROI

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 47

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

D.2. Klasifikasi
Klasifikasi dilakukan dengan menggunakan menu utama Classification. Langkahnya adalah sebagai berikut : Pilih Classification Pilih Supervised Pilih salah satu metode klasifikasi yang akan digunakan

Gambar 15. Klasifikasi supervised akan muncul dialog pemilihan citrar sumber klasifikasi

Gambar 16. Jendela Sumber Klasifikasi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 48

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 17. Jendela klasifikasi Minimum Distance

Pilih region yang akan digunakan pada klasifikasi supervised Klik Choose untuk memberi nama citra hasil klasifikasi

Gambar 18. Baris Nama File Klasifikasi

Klik OK Proses klasifikasi akan dijalankan

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 49

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 19. Proses Klasifikasi dilangsungkan Citra hasil klasifikasi secara langung akan dicatat pada jendela daftar saluran Untuk menampilkannya pilih citra terklasifikasi tersebut dan klik tombol load band

Gambar 20. Daftar saluran yang mencatat citra terklasifikasi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 50

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Bab 6. Vektorisasi
A. Pembuatan Vektor
Vektor adalah data dalam bentuk garis atau area/poligon. Citra suatu saat perlu dibuat peta untuk keperluan analisis spasial dengan GIS. Langkah pembuatannya adalah sebagai berikut, dalam hal ini dicontohkan dari citra hasil klasifikasi.

Gambar 1. Citra hasil klasifikasi dalam bentuk raster

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 51

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Pilih Utilities dari menu utama Pilih Vector Utilities Pilih Raster To Vector Conversion

Gambar 2. Konversi Raster to Vector Pilih citra yang akan di konversi

Gambar 3. Pemilihan citra yang akan dikonversi

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 52

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Pilih area atau parameter yang akan dikonversi

Gambar 4. Pemilihan Area dan pemberian nama file Beri nama pada baris file name

Gambar 5. Baris pemberian nama file Klik OK Proses akan berjalan dengan pembentukan topologinya

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 53

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Gambar 6. Proses topologi

Data akan terubah ke dalam bentuk vektor. Data vektor ini selanjutnya dapat diolah dengan menggunakan GIS

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 54

Pengolah Citra ENVI


Sumber : http://rumahpeta.com

Anda perlu berbagai peta untuk penelitian, Desertasi, Thesis, atau Skripsi ?
Tidak perlu repot-repot lagi. Santailah dirumah....

Hubungi : http://rumahpeta.com

http://rumahpeta.com Eko Budiyanto, S.Pd., M.Si

Halaman 55