Anda di halaman 1dari 22

PENYAKIT KUSTA

Definisi Kusta meripakan infeksi kronik dan penyebabnya adalah Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama , lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat 1 Sejarah Penyakit Kusta2

Menurut sejarah pemberantasan penyakit kusta di dunia dapat kita bagi dalam 3 (tiga) zaman yaitu zaman purbakala, zaman pertengahan dan zaman moderen. Pada zaman purbakala karena belum ditemukan obat yang sesuai untuk pengobatan penderita kusta, maka penderita tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan karena penderita merasa rendah diri dan malu, disamping itu masyarakat menjauhi mereka karena merasa jijik. Pada zaman pertengan penderita kusta diasingkan lebih ketat dan dipaksa tinggal di Leprosaria/koloni perkampungan penderita kusta seumur hidup.

1. Zaman Purbakala. Penyakit kusta dikenal hampir 2000 tahun SM. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan sejarah seperti di Mesir, di India 1400 SM, istilah kusta yang sudah dikenal didalam kitab Weda, di Tiongkok 600 SM, di Nesopotamia 400 SM. Pada zaman purbakala tersebut telah terjadi pengasingan secara spontan penderita merasa rendah diri dan malu, disamping masyarakat menjauhi penderita karena merasa jijik dan takut.

2. Zaman Pertengahan. Kira-kira setelah abad ke 13 dengan adanya keteraturan ketatanegaraan dan system feodal yang berlaku di Eropa mengakibatkan masyarakat sangat patuh dan takut terhadap penguasa dan hak azasi manusia tidak mendapat perhatian. Demikian pula yang terjadi pada penderita kusta yang umumnya merupakan rakyat biasa. Pada waktu itu penyebab penyakit dan obat-obatan belum ditemukan maka penderita kusta diasingkan lebih ketat dan dipaksakan tinggal di Leprosaria/Koloni Perkampungan penderita kusta untuk seumur hidup.

3. Zaman Modern.

Dengan ditemukannya kuman kusta oleh G.H. Hansen pada tahun 1873, maka mulailah era perkembangan baru untuk mencari obat anti kusta dan usaha penanggulangannya. Demikian halnya di Indonesia dr. Sitanala telah mempelopori perubahan sistem pengobatan yang tadinya dilakukan secara isolasi, secara bertahap dilakukan dengan pengobatan jalan. Perkembangan pengobatan selanjutnya adalah sebagai berikut : a. Pada tahun 1951 dipergunakan DDS sebagai pengobatan penderita kusta. b. Pada tahun 1969 pemberantasan penyakit kusta mulai diintegrasikan di puskesmas. c. Sejak tahun 1982 Indonesia mulai menggunakan obat Kombinasi Multidrug Therapy (MDT) sesuai dengan rekomendasi WHO.

Etiologi Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium, dimana microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil tahan asam. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan organism patogen (misalnya Microbacterium tubercolose, mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion.3

Epidemiologi Prevalensi kusta di dunia dilaporkan hanya <1 per 10.000 populasi (sesuai dengan target resolusi WHO mengenai eliminasi kusta). Paling banyak terjadi pada daerah tropis dan subtropis. 86% dilaporkan terjadi di 11 negara, Bangladesh, Brazil, China, Congo, Etiopia, India, Indonesia, Nepal, Nigeria, Filipina, Tanzania. Namun prevalensi lepra berkurang sejak dimulai adanya MDT pada tahun 1982. 1,2,3 Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang. Pada pertengahan tahun 2000, jumlah penderita kusta terdaftar di Indonesia sebanyak 20.7042 orang. Jumlah penderita kusta terdaftar ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang dapat mencapai eliminasi kusta sesuai target yang ditetapkan oleh WHO yaitu tahun 2000. Indonesia memiliki 14 provinsi yang menjadi daerah rawan penyakit kusta, yaitu Jawa Timur, Irian Jaya bagian Barat, Papua, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, NTT, NTB, Aceh, dan DKI Jakarta (Depkes RI, 2005).1
2

Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : Usia Jenis kelamin Ras : insidensi usia puncak pada 10-20 tahun dan 30-50 tahun : Laki-laki lebih banyak dijangkiti (2:1) : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

Kesadaran sosial : Umumnya negara-negara endemis kusta adalah negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah Lingkungan : Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.

Faktor faktor yang menentukan terjadinya kusta 1. Penyebab 2. Sumber Penularan 3. Cara keluar dari pejamu 4. Cara penularan Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta tipe Multi basiller (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit4. Timbulnya kusta bagi seseorang tidak mudah, dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor antara lain : a. Faktor Sumber Penularan. Sumber penulatan adalah penderita kusta tipe MB. Penderita MB inipun tidak akan menularkan kusta, apabila berobat teratur. b. Faktor Kuman Kusta. Kuman kusta dapat hidup diluar tubuh manusia antara 1 9 hari tergantung pada suhu atau cuaca, dan diketahui hanya kuamn kusta yang utuh (solid) saja yang dapat menimbulkan penularan. c. Faktor Daya Tahan Tubuh. Sebagian besar manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukkan gambaran sebagai berikut: Dari 100 orang yang terpapar : 95 orang tidak menjadi sakit. 3 orang sembuh sendiri tanpa obat. 2 orang menjadi sakit, hal ini belum lagi memperhitungkan pengaruh pengobatan.

5. Cara masuk ke pejamu


3

6. Pejamu Klasifikasi dan Gambaran Klinis 1 Ada 3 tanda kardinal. Kalau salah satunya ada, tanda tersebut sudah cukup untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta, yaitu : Lesi kulit yang anestesi Kelainan kulit / lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan ( hipopigmentasi ) atau kemerah-merahan ( eritematous ) yang mati rasa ( anestesi ) Penebalan saraf perifer Disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi ( neuritis perifer ). Gangguan fungsi saraf ini dapat berupa : o Gangguan fungsi sensoris : mati rasa o Gangguan fungsi motoris : kelemahan otot ( parese ) atau kelumpuhan ( paralise ) o Gangguan fungsi otonom : kulit kering dan retak - retak Ditemukan basil M. leprae ( bakteriologis positif )

Tabel 1 Zona spektrum kusta menurut macam klasifikasinya.1 KLASIFIKASI Ridley & Jopling Madrid W.H.O Puskesmas ZONE SPEKTRUM KUSTA TT BT BB BL LL Lepromatosa

Tuberkuloid borderline Pausibasiler Pausibasiler

Multibasiler Multibasiler

Klasifikasi untuk kepentingan program kusta /klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988)1 1. Pausibasilar (PB) Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I dan T menurut klasifikasi Madrid. 2. Multibasilar (MB)

Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif.

Tabel 2 Perbedaan tipe PB dan MB menurut klasifikasi WHO PB 1. Lesi kulit (makula 1-5 lesi MB > 5 lesi

yang datar, papul yang meninggi,infiltrat, plak eritem, nodus) Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih simetris Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi yang jelas 2. Kerusakan (menyebabkan hilangnya senasasi/kelemahan otot yang dipersarafi oleh terkena) Sumber :Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Dit. Jen P2 dan PL. Jakarta saraf yang saraf Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf Hilangnya sensasi kurang jelas

** Semua pasien dengan BTA positif, apapun klasifikasi klinisnya diobati dengan MDT-MB Kekebalan selular (cell mediated immunity = CMI)/ SIS (Sistem Imunitas Seluler) seseorang yang akan menentukan, apakah ia akan menderita kusta bila ia mendapat infeksi M.leprae dan tipe kusta yang akan dideritanya dalam spektrum penyakit kusta. Makin tinggi SIS seseorang maka gambaran klinis akan ke arah tuberculoid, jika SIS rendah maka gambaran klinis akan semakin lepromatosa. Tabel 3. Gambaran klinis tipe PB Tuberkuloid (TT) Borderline tuberculoid Indeterminate (I)
5

Karakteristik

(BT) Lesi Tipe Makula dibatasi Makula Makula dibatasi infiltrat saja infiltrat Jumlah Satu beberapa Distribusi Terlokalisasi Permukaan asimetris Kering, skuama Sensibilitas Hilang BTA Pada lesi kulit Tes lepromin Negatif Positif kuat (3+) Negatif atau 1 + Positif (2 +) Biasanya negatif Meragukan (1 +) Sumber : Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Dit. Jen P2 dan PL. Jakarta Hilang & Kering, skuama Dapat halus atau Satu dengan lesi Satu satelit Asimetris Bervariasi beberapa atau

agak berkilat Agak terganggu

Tabel 4. Gambaran klinis tipe MB Midborderline (BB)

Karakteristik

Lepromatosa (LL)

Borderline lepromatosa (BL)

Lesi Tipe Makula, infiltrat Makula, papul plak, Plak, berbntuk kubah, Jumlah Banyak, distribusi lesi lesi

difus, papul, nodus

punched-out

luas, praktis tidak Banyak, tapi kulit Beberapa, ada kulit sehat sehat masih ada kulit sehat (+)
6

Distribusi

simetris Kering, skuama Cenderung simetris asimetris

Permukaan

Halus dan berkilap sedikit Halus dan berkilap berkilap, beberapa lesi kering

Sensibilitas

Todak terganggu

BTA Pada lesi kulit Pada hembusan hidung Tes lepromin Negative Banyak (globi) Banyak (globi)

Sedikit berkurang berkurang

Banyak Biasanya tidak ada agak banyak tidak ada Negatif biasanya negatif, dapat juga ()

Sumber: Buku Pedoman Nasional Pemberantasan Penyakit Kusta. Dit.Jen P2 dan PL. Jakarta

Gambaran klinis penyakit kusta pada seorang pasien mencerminkan tingkat kekebalan selular pasien tersebut. Adapun klasifikasi yang banyak dipakai dalam bidang penelitian adalah klasifikasi menurut Ridley dan Jopling yang mengelompokkan penyakit kusta menjadi 5 kelompok berdasarkan gambaran klinis, bakteriologis, histopatologis dan imunologis. Sekarang klasifikasi ini juga secara luas dipakai di klinik dan untuk pemberantasan. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut : 1. Tipe tuberkoloid (TT) Lesi ini mengenai baik kulit maupun saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula atau plakat, batas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau cemntral healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsnata. Dapat
7

disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa gatal. Adanya infiltrasi tuberkuloid dan tidak adanya kuman merupakan tanda terdapatnya respons imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta. 2. Tipe borderline tubercoloid (BT) Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plak yang sering disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe tuberkuloid. Adanya gangguan saraf tidak seberat tipe tuberkuloid, dan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan terletak dekat saraf perifer yang menebal. 3. Tipe mid borderline (BB) Merupakan tipe yang paling tidak stabil dari semua tipe dalam spektrum penyakit kusta. Disebut juga sebagai bentuk dimorfik dan bentuk ini jarang dijumpai. Lesi dapat berbentuk makula infiltratif. Permukaan lesi dapat berkilap, batas lesi kurang jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe BT dan cenderung simetris. Lesi sangat bervariasi, baik dalam ukuran, bentuk, ataupun distribusinya. Bisa didapatkan lesi punched out yang merupakan ciri khas tipe ini. 4. Tipe borderline lepromatosa Secara klasik lesi dimulai dengan makula. Awalnya hanya dalam jumlah sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. Walaupun masih kecil, papul dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodus tampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian tengah tampak normal dengan pinggir dalam infiltrat lebih jelas dibandingkan dengan pinggir luarnya, dan beberapa plak tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi, hipipigmentasi, berkurangnya keringat dan hilangnya rambut lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe LL. Penebalan saraf dapat teraba pada tempat predileksi. 5. Tipe lepromatosa (LL) Jumlah lesi sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematosa, berkilap, berbatas tidak tegas dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Distribusi lesi khas, yakni di wajah mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga. Sedang dibadan mengenai bagian badan yang dingin, lengan, punggung tangan, dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk fasies leonina yang dapat disertai madarosis, iritis dan keratis. Lebih
8

lanjut lagi dapat terjadi deformitas pada hidung. Dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe, orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis. Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking dan glove anaesthesia. Bila penyakit ini menjadi progresif, muncul makula dan papul baru, sedangkan lesi lama menjadi plakat dan nodus. Pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anestesi dan pengecilan otot tangan dan kaki.

Salah satu tipe penyakit kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan jopling, tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta yaitu tipe indeterminate (I). lesi biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit di sekitarnya normal. Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipestesi atau sedikit penebalan saraf. Diagnosis tipe ini hanya dapat ditegakkan, bila dengan pemeriksaan histopatologik.1

Diagnosis Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi dan kerusakan kulit juga harus diperhatikan.Palpasi dan pemeriksaan dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana yaitu jarum untuk nyeri, kapas untuk rasa raba dan dapat menggunakan 2 buahtabung reaksi jika masih belum jelas. Perlu juga dilakukan pemeriksaan anhidrosis kulit dengan cara sederhana seperti Tes Gunawan.1 Pemeriksaan Saraf Tepi Untuk saraf perifer perlu diperhatikan pembersaran, konsistensi dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N. Fasialis, N. Aurikularis magnus, N. Radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis Posterior. Pada pemeriksaan, dibandingkan antara kiri dan kanan. Pada tipe lepromatosus biasanya kelainan sarafnyabilateral dan menyeluruh sedangkan tipe tuberkuloid terlokalisasi mengikuti tempat lesinya. Cara pemeriksaan saraf tepi:

a. N. Auricularis magnus Pasien menoleh ke samping semaksimal mungkin, maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot-oto di bawahnya sehingga sudah bisa terlihat pembesaran sarafnya. Dua jari pemeriksaa diletakkan diatas persilangan jalannya saraf tersebut dengan arah otot. Bila ada penebalan maka akan teraba jaringan seperti kabel atau kawat. Bandingkan kiri dan kanan. b. N. Ulnaris Tangan yng diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa meraba sulcus nervi ulnaris dan merasakan adakah penebalan. Bandingkan kanan dan kiri. c. N. Peroneus lateralis Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah lateral dari capitulum fibulae. Tes Fungsi Saraf a. Tes Sensoris Gunakan kapas, jarum serta tabung reaksi brisi air hangat dan dingin. Rasa Raba Sepotong kapas yang dlancipkan ujungnya, disinggungkan ke kulit pasien. Kapas disinggungkan kulit yang lesi dan yang sehat kemudian pasien disuruh menunjuk kulit yang di singgung dengan mata terbuka. Jika hal ini telah dimengerti, tes kembali dikukan tetapi dengan mata pasien tertutup. Rasa Tajam Diperiksa dengan jarum yang disentuhkan ke kulit pasien. Setelah disentuhkan bagian tajamnya lalu disentuhkan bagian tumpulnya kemudian pasien diminta menentukan tajam atau tumpul. Tes ini dilakukan seperti pemeriksaan rasa raba. Rasa Suhu Dilakuan dengan menggunakan dua buah tbung reaksi yangberisi air panas dan air dingin. Lalu diminta pasien menetukan rasa dingin atau panas seperti cara pemeriksaan sensasi lainnya. b. Tes Otonom Berdasarnkan adanya anguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis yaitu: 1. Tes dengan tinta (Tes Gunawan)
10

2. Tes Pilokarpin 3. Tes Motoris (Voluntary Muscle Test) pada N. Ulnaris, N. Medianus, N. Radialis dan N. Peroneus. Pemeriksaan Bakteriologis Pemeriksaan bakterioskopik dilakukan dengan menggunakan sediaan kerokan kulit atau usapan mukosa hidung yang diwarnai secara ZIEHL NEELSON. Untuk riset dilakukan di 10 tempat dan untuk pemriksaan rutin dilakukan mengambilan dari 4-6 tempat/lesi yaitu kedua cuping telinga bagibawah dan 2-4 lesi lain yang paling eritematos tau paling aktif. Cuping telinga dipilah sebab didearah tersebut paling banyak terdapat M. Leprae.1 Kepadatan BTA pada suatu sediaan dinyatakan dengan IB (indeks bakteri) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut Ridley sebagai berikut: 0 1+ 2+ 3+ 4+ 5+ 6+ jika tidak ditemukan BTA dalam 100 LP jika ditemukan 1-10 BTA dalam 100 LP jika ditemukan 1-10 BTA dalam 10 LP jika ditemukan 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP jika ditemukan 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP jika ditemukan 101-1000 BTA rata-rata dalam 1 LP jika ditemukan >1000 BTA rata-rata dalam 1 LP Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan non solid. Jumlah Solid Jumlah Solid + Jumlah Non Solid

IM =

X 100%

Pemeriksaan Histopatologis

11

Pada tipe tuberkuloid didapatkan tubrkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata tetapi tidak ada basil atau basil non solid. Pada tipe lepromatosa terdapat kelim sunyi subepidermal (subepidermal clear zone) yaitu suatu daerah langsung dibawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Dapat dijumpai banyak sel Virchow.1 Pemeriksaan Serologis Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman mengabatkan diagnosis serologi meru[akan alternatif yang paling diharapkan. Pemeriksaan serologik yang dapat digunakan adalah MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA dan ML dipstick.1

Pemeriksaan Lepromin Tes lepromin adalah tes non spesifik ntuk klasifikasi dan prognosis lepra tetapi tidak untuk diagnosis. Tes ini hanya untuk menunjukkan sistem imun penderita terhadap M. Leprae. 0,1 ml lepromin disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca dalam 48 jam/2 hari (reaksi Fernandez) atau 34 minggu (reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif bila terdapat indurasi dan eritema yang menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. Leprae yaitu respon imun tipe lambat.1 Reaksi Mitsuda: 0 +1 +2 +3 jika papul berdiameter 3 mm atau kurang jika papul berdiameter 4-6 mm jika papul berdiameter 7-10 mm jika berdiameter >10 mm atau papul dengan ulserasi.

Diagnosis Kusta Penyakit kusta dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan banyak penyakit lain. Sebaliknya banyak penyakit lain dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan penyakit kusta. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan untuk mendiagnosis penyakit kusta secara tepat dan
12

membedakannya dengan berbagai penyakit yang lain agar tidak membuat kesalahan yang merugikan pasien. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda kardinal (tanda utama), yaitu: 1. Bercak kulit yang mati rasa Bercak hipopigmentasi atau eritematosa, mendatar (makula) atau meninggi (plak). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu dan rasa nyeri. 2. Penebalan saraf tepi Dapat disertai rasa nyeri dan dapat juga disertai atau tanpa gangguan fungsi saraf yang terkena, yaitu : a. gangguan fungsi sensoris : mati rasa b.gangguan fungsi motoris : paresis atau paralisis c. gangguan fungsi otonom : kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut yang terganggu. 3. Ditemukannya kuman tahan asam Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit cuping telinga dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit dan saraf. Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan pasien perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan.

Reaksi Kusta Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya sangat kronik. Terbagi atas dua tipe yaitu:1 Reaksi reversal atau reaksi upgrading (reaksi tipe 1) o Hipersensitivitas tipe lambat oleh karena peningkatan mendadak SIS yang faktor pencetusnya belum diketahui. Eritema Nodosum Leprosum (ENL) (reaksi tipe II)

13

o Karena pengobatan lama, banyakbasl yang mati dan hancur, berarti banyak antigenyang dilepaskan dan bereaksi dengn antibodi serta mengaktifkan sistem komplemen. Kompleks tersebut beredar dalam darah dan akhirnya melibatkan banyak organ. Tabel 5. Reaksi Kusta No 1 Gejala / tanda Keadaan umum Reaksi tipe I Reaksi tipe II sampai berat

Umumnya baik, demam Ringan ringan ( sub febris ) atau disertai tanpa demam

kelemahan

umum dan demam tinggi lama Timbul nodul

Peradangan di kulit

Bercak

kulit

menjadi lebih meradang ( kemerahan, lunak dan merah ), dapat timbul nyeri bercak baru tekan. Biasanya

pada lengan dan tungkai. Nodul dapat pecah ( ulserasi )

Saraf

Sering terjadi, umumnya Dapat terjadi berupa nyeri tekan saraf dan / atau gangguan

fungsi saraf 4 Peradangan organ lain pada Hampir tidak ada Terjadi pada mata,

kelenjar getah bening, sendi, ginjal, testis, dan lain - lain

Waktu timbulnya

Biasanya segera setelah Biasanya pengobatan mendapatkan

setelah

pengobatan yang lama, umumnya lebih dari 6 bulan 6 Tipe kusta Dapat terjadi pada kusta Hanya pada kusta tipe tipe PB maupun MB 7 Faktor pencetus MB

Emosi, kelelahan, dan stress fisik lain, kehamilan, pasca persalinan, obat - obat yang meningkatkan
14

kekebalan tubuh, penyakit infeksi lainnya

Pengobatan Kusta Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah memutus rantai penularan untuk menurunkan insiden penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, dan mencegah timbulnya cacat. Untuk mencapai tujuan itu sampai sekarang strategi pokok yang dilakukan masih berdasarkan atas deteksi dini dan penobatan penderita, yang tampaknya masih merupakan dua hal yang penting meskipun nantinya vaksin kusta yang efektif telah tersedia. Pada tahun 1981 WHO merekomendasikan penggunaan Multi Drug Therapy (MDI), yaitu pengobatan baku terhadap pasien dengan kusta multibasil dan pasien dengan kusta paucibasil. Regimen ini diharapkan efektif, dapat digunakan secara luas dan diterima oleh semua pasien; sampai saat ini telah diterima sebagai pengobatan standar untuk penyakit kusta. Program MDT Program MDT dimulai pada tahun 1981, yaitu ketika kelompok studi kemoterapi WHO secara resmi mengeluarkan rekomendasi pengobatan kusta dengan rejimen kombinasi yang selanjutnya dikenal sebagai rejimen MDT-WHO. Rejimen ini terdiri atas kombinasi obat-obat dapson, rifampisin dan klofasimin. Selain untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, penggunaan MDT dimaksudkan juga untuk mengurangi ketidaktaatan penderita dan menurnkan angka putus-obat (drop out rate) yang cukup tinggi pada masa monoterapi dapson. Disamping itu diharapkan juga MDT dapat mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan. Obat dalam rejimen MDT-WHO a. Dapson (DDS, 4,4 diamino-difenil-sulfon). Obat ini bersifat tidak seperti pada kuman lain, dapson bekerja sebagai antimetabolit PABA.

15

b. Rifampisin. Rifampisin merupakan obat yang paling ampuh saat ini untuk kusta, dan bersifat bakterisidal kuat pada dosis lazim. Rifampisin bekerja menghambat enzim polimerase RNA yang berikatan secara ireversibel. c. Klofazimin. Obat ini merupakan turunan zat warna iminofenazin dan mempunyai efek bakteriostatik setara dengan dapson. Bekerjanya diduga melalui gangguan metabolisme radikal oksigen. Disamping itu obat ini juga mempunyai efek antiinflamasi sehingga berguna untuk pengobatan reaksi kusta, kekurangan obat ini adalah harganya mahal, serta menyebabkan pigmentasi kulit yang sering merupakan masalah pada ketaatan berobat penderita. d. Etinamid dan protionamid. Kedua obat ini merupakan obat tuberkulosis dan hanya sedikit dipakai pada pengobatan kusta. Selain penggunaan Dapson (DDS), pengobatan penderita kusta dapat menggunakan Lamprine (B663), Rifampicin, Prednison, Sulfat Feros dan vitamin A (untuk menyehatkan kulit yarlg bersisik). Tabel 6 Obat Lepra

Tabel 7 Regimen pengobatan kusta dengan lesi tunggal (ROM) menurut WHO/DEPKES RI Rifampicin Dewasa 600 mg Ofloxacin 400 mg Minocyclin 100 mg

16

(50-70 kg) Anak (5-14 th) PB dengan lesi 2 5.Lama pengobatan 6 dosis ini bisa diselesaikan selama (6-9) bulan. Setelah minum 6 dosis ini dinyatakan RFT (Release From Treatment) yaitu berhenti minum obat. Tabel 8 Regimen MDT pada kusta Pausibasiler (PB) Rifampicin Dewasa 600 mg/bulan Diminum di depan Dapson 100 mg/hr diminum di rumah petugas kesehatan Anak-anak (10-14 th) 450 mg/bulan Diminum di depan 50 mg/hari diminum di rumah petugas kesehatan 300 mg 200 mg 50 mg

Tabel 9 Regimen MDT pada kusta Multibasiler (MB) Rifampicin Dewasa 600 diminum Dapson Lamprene mg/bulan di depan

mg/bulan 100 mg/hari diminum 300 di depan di rumah diminum petugas

petugas kesehatan

kesehatan

dilanjutkan dgn 50 mg/hari diminum di rumah

17

Anak-anak (10-14 th)

450 diminum petugas

mg/bulan 50 mg/hari diminum 150 di depan di rumah diminum petugas

mg/bulan di depan

kesehatan

dilanjutkan dg 50 mg selang sehari

diminum di rumah

MB (BB, BL, LL) dengan lesi > 5 .Lama pengobatan 12 dosis ini bisa diselesaikan selama 12-18 bulan. Setelah selesai minum 12 dosis obat ini, dinyatakan RFT/=Realease From Treatment yaitu berhenti minum obat. Masa pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif untuk tipe PB selama 2 tahun dan tipe MB selama 5 tahun. Pengobatan Kusta dengan Penyulit Jika MDT-WHO tidak dapat dilakkan karena suatu alasan, WHO mempunyai regiment untuk situasi khusus, yaitu: a. Jika tidak dapat diobati dengan rifampisin Lama Pengobatan 6 bulan pertama Obat Klofazimin Ofloksasin Minosiklin 8 bulan berikutnya Klofazimin Ofloksasin atau Minosiklin 100 mg tiap hari Dosis 50 mg tiap hari 400 mg tiap hari 100 mg tiap hari 50 mg tiap hari 400 mg tiap hari

b. Jika pasien MB menolak klofazimin Diberikan ofloksasin 400 mg/hari selama 12 bulan atau minosiklin 100 mg/hari slama 12 bulan. Alternatif lain adalah rifampisin 600 mg/bulan selama 24 bulan, ofloksasin 400 mg.bulan selama 24 bula dan minosiklin 10 mg/bulan selama 24 bulan. c. Jika pasien tidak dapat diobat dengan DDS
18

Diberikan regimen pengganti selama 6 bulan: Rifampisin Dewasa 600 mg/bulan Klofamizin 50 mg/hari dan 300

mg/bulan Anak-anak 450 mg/bulan 50 mg/hari dan 150

mg/bulan Pengobatan ENL ENL diobati dengan tablet kotikosteroid. Pilihn yang sering digunakan ialah prednison dengan dosis 15-30 mg/hari lalu diturunkan bertahap. Dapat juga menggunakan kofazimin 200-300 mg/hari naun khasiatnya lebih lambat dari pada kortikosteroid. Pengobatan Reversal Hanya diobati jika menyebabkan neuritis akut. Obat yang digunakan biasanya kortikosteroid dengan pilihan prednison dengan dosis 40-60 mg/hari lalu diturunkan bertahap. Dapat di berikan analgesik dan sedatif. Komplikasi Lepra merupakan penyebab kecacatan tangan yang paling sering. Trauma dan infeksi kronik sekunder dapat menyebabkan hilangnya jari ataupun ekstremitas bagian distal. Juga sering terjadi kebutaan. Fenomena Lucio yang ditandai dengan artritis, terbatas pada pasien lepromatosus difus, infiltratif dan non noduler. Kasus yang lainnya adalah vaskulitis nekrotikus dan menyebabkan tingginya mortalitas. Rehabilitasi Medik Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai pengelolaan yang baik dan benar. Untuk itulah diperlukan pengetahuan rehabilitasi medik secara terpadu, mulai dari pengobatan, psikoterapi, fisioterapi, perawatan luka, bedah rekonstruksi dan bedah septik, pemberian alas kaki, protese atau alat bantu lainnya, serta terapi okupasi. Penting pula diperhatikan rehabilitasi selanjutnya, yaitu rehabilitasi sosial (rehabilitasi nonmedis), agar mantan pasien kusta dapat siap

19

kembali ke masyarakat, kembali berkarya membangun negara, dan tidak menjadi beban pemerintah. Kegiatan terpadu pengelolaan pasien kusta dilakukan sejak diagnosis ditegakkan. Rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial merupakan satu kesatuan kegiatan yang dikenal sebagai rehabilitasi paripurna. Macam rehabilitasi melalui pendekatan paripurna mencakup: 1. Rehabilitasi bidang medis: a. Perawatan yang dikerjakan bersamaan dengan program Pencegahan Cacat (POD), Kelompok Perawatan Diri (KPD) atau Self Care Group. b. Rehabilitasi fisik dan mental yang dikerjakan melalui berbagai tindakan pelayanan medis dan konseling medik (Soewono, 1997). 2. Rehabilitasi bidang sosial-ekonomi Rehabilitasi sosial ditujukan untuk mengurangi masalah psikologis dan stigma sosial agar PCK (Penderita Cacat Kusta) dapat berintegrasi sosial meliputi: konseling, advokasi, penyuluhan dan pendidikan. Sedangkan rehabilitasi ekonomi ditujukan untuk perbaikan ekonomi dan kualitas hidup meliputi: meliputi keterampilan kerja (vocational training), fasilitas kredit kecil untuk usaha sendiri, modal bergulir, modal usaha, dll (Soewono, 1997). Perawatan terhadap reaksi lepra mempunyai 4 tujuan, yaitu : 1. Mencegah kerusakan saraf, sehingga terhindar pula dari gangguan sensorik, paralisis, dan kontraktur. 2. Hentikan kerusakan mata untuk mencegah kebutaan. 3. Kontrol nyeri. 4. Pengobatan untuk mematikan basil lepra dan mencegah perburukan keadaan penyakit. Bila kasus dini, upaya rehabilitasi medis lebih bersifat pencegahan kecacatan. Bila kasus lanjut, upaya rehabilitasi difokuskan pada pencegahan handicap dan mempertahankan kemampuan fungsi yang tersisa. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh pasien adalah : a. Pemeliharaan kulit harian b. Proteksi tangan dan kaki c. Latihan fisioterapi

20

Tujuan latihan adalah cegah kontraktur, Peninkatan fungsi gerak, Peningkatan kekuatan otot, Peningkatan daya tahan (endurance) Tabel 10. Klasifikasi Cacat Cacat pada tangan dan kaki Tingkat 0 Tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau deformitas yang terlihat Tingkat 1 Tingkat 2 Ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas yang terlihat Terdapat kerusakan atau deformitas

Cacat pada mata Tingkat 0 Tingkat 1 Tidak ada gangguan pada mata akibat kusta, tidak ada gangguan penglihatan Ada gangguan pada mata akibat kusta, tidak ada gangguan yang berat pada penglihatan. Visus 6/60 atau lebih baik (dapat menghitung jari pada jarak 6 meter) Tingkat 2 Gangguan penglihatan berat (visus kurang dari 6/60, tidak dapat menghitung jari pada 6 meter) Catatan: kerusakan atau deformitas pada tangan dan kaki termasuk ulserasi, absorbsi, mutilasi, kontraktur, sedangkan pada mata termasuk anestesi kornea, iridosiklitis, dan lagoftalmus.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Kosasih A, Wisnu I.M, Daili E.S, Menaldi S.L, Kusta. Kusta. Dalam: Djuanda, Adhi dkk. (ed.). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5 Cetakan ketiga. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008; 73-88. 2. Kementrian kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit. Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta: Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit. 2012 3. Zulkifli, Penyakit Kusta dan Masalah Yang Ditimbulkannya, available from http://www.library.usu.ac.id . Accesed January 7th 2014 4. Hiswani. Kusta Salah Satu Penyakit Menular yang Masih di Jumpai di Indonesia. Available at: http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani2.pdf. Accesed January 7th 2014 5. Lewis, S, Leprosy. Update Feb 4, 2010. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1104977-overview . Accesed January 7th 2014

22