Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kematian prenatal di Indonesia merupakan kematian nomor 2 setelah maternal, penelitian ini menunjukan bahwa lebih dari 50 % kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan kurang baiknya penanganan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan kematian. Disamping itu perlu dilakukan pula pembinaan kesehatan prenatal yang memadai dan penanggulangannya. Factor-faktor yang menyebabkan kematian prenatal yang meliputi perdarahan, infeksi, kelhiran preterm, asfiksi, hipotermi, misalnya sebagai akibatnya hipotermi pada bayi baru lahir yang bisa terjadinya hipoglikemia pada bayi baru lahir dan dapat mengakibatkan kerusakan otak. Gejala awal hipotermi apabila suhu <36 C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32 C-36 C) disebut hipotermi sedang bila suhu tubuh <32 C. hipotermi menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metabolis anerobik meningkatkan kebutuhan oksigen, mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan berlanjut dengan kematian. (saifudin, 2002) 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu menerapkan SOAP dan VARNEY sesuai dengan kasus asuhan bayi dengan hipotermia serta mendapatkan pengalaman tentang asuhan pada bayi dengan hipotermia. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Melakukan pengkajian (pengumpulan data) b. Mengidentifikasi masalah/diagnosa c. Mengantisipasi masalah potensial d. Mengidentifikasi kebutuhan segera

e. Intervensi dan rasionalisasi f. Implementasi g. Mengevaluasi keefektifan Asuhan Kebidanan yang dilakukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36 C. (dep.kes. RI. 2000). Suhu normal bayi baru lahir berkisar 36,5C 37,5C. gejala awal hipotermia apabila suhu <36C atau kedua kaki, dan tangan teraba dingin. Bila seluruh bayi teraba dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang ( 32 C 36 C). disebut hipotermi sedang bila suhu <32 C. hipotermi menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya metabolis anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen,

mengakibatkan hipoksia dan berlanjut dengan kematian. (saifudin, 2002). Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir : a. Radiasi alas. b. Epavorasi : karena penguapan cairan yang melekat pada kulit. Contoh : air ketuban pada bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan. c. Konduksi : panas tubuh di ambil oleh suatu permukaan yang melekat di tubuh. Contoh : pakaian bayi yang basah tidak cepat dig anti. d. Konveksi : penguapan dari tubuh ke udara. Contoh : angin dari tubuh bayi baru lahir. 2.2 Penilaian hipotermia pada bayi baru lahir Gejala hipotermia pada bayi baru lahir a. Bayi tidak mau minum atau menetek b. Bayi tampak lesu atau mengantuk c. Tubuh bayi teraba dingin d. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun, dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema). Tanda tanda hipotermia sedang: a. Aktifitas berkurang, letargis b. Tangisan lemah c. Kulit berwarna tidak rata : dari objek ke panas bayi. Contoh: timbangan dingin tanpa

d. Kemampuan menghisap lemah e. Kaki teraba dingin f. Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin Tanda tanda hipotermia berat : a. Aktifitas berkurang, letargis b. Bibir dan kuku kebiruan c. Pernafasan lambat d. Pernapasan tidak teratur e. Bunyi jantung lambat f. Selanjutnya mingkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic g. Resiko untuk kematian bayi Tanda tanda stadium lanjut hipotermia a. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang

b. Bagian tubuh lainnya pucat c. Kulit mengeras dan timbul oedema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema). (saifudin, 2002) 2.3 Penyebab dan resiko Penyebab utama Kurang pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya mengeringkan bayi secepat mungkin. Resiko untuk terjadinya hipotermia a. b. c. d. e. Perawatan yang kurang tepat setelah bayi baru lahir Bayi di pisahkan dari ibunya segera setelah lahir Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan premature Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat) Bayi asfiksi, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis, sindrom dengn pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra cranial. (Dep.kes RI, 2001)

2.4 Factor terjadinya hipotermia 1. Lingkungan 2. Syok 3. Infeksi 4. Gangguan endokrin metabolic 5. Kurang gizi, energy protein 6. Obat-obatan 7. Aneka cuaca (Dep.kes RI, 2001) 2.5 Prinsip dasar mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia a. Mengeringkan bayi baru lahir segera setelah bayi lahir Bayi lahir dengan tubuh basah dengan air ketuban. Aliran udara melalui jendela pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cols stress) yang merupakan gejala awal hipotermia. Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, setiap bayi lahir harus segera dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu). Setelah tubuh bayi kering segera dibungkus dengan selimut, diberi topi atau tutup kepala, kaus tangan dan kaki. Selanjutnya bayi diletakan dengan terlungkup di atas dada untuk mendapat kehangatan dari dekapan ibu. b. Menunda memandikan bayi bari lahir sampai tubuh bayi stabil untukmencegah terjadinya serangan dingin, ibu atau keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi baru lahir. 1. Pada bayi baru lahir sehat yaitu lahir cukup bylan, berat > 2500 gram, langsung menangis kuat, maka memandikan bayi ditunda 24 jam setelah kelahiran. 2. Pada bayi baru lahir dengan resiko ( tidak termasuk criteria di atas), keadaan bayi lemah atau bayi dengan berta lahir < 2500 gram, sebaiknya bayi jangan di mandikan di tunda beberapa hari sampai

keadaan umum membaik yaitu bila suhu tubuh bayi stabil, bayi sudah lebih kuat dan dapat menghisap ASI dengan baik. ( Dep.kes RI, 2001) 2.6 Tindakan pada hipotermia Segera hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti incubator gunakan sesuai ketentuan. Apabila tidak tersedia incubator cara ilmiah adalah menggunakan metode kanguru cara lainnya adalah dengan penyinaran lampu. a. Hipotermia sedang 1. Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih dan hangat. 2. Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain hangat yang disertakan terlebih dahulu. Bila selimut atau kain mulai mendingin, segera ganti dengan selimut atau kain yang hangat. 3. Ulangi sampai panas tubuh ibu mendingin, serta ganti dengan selimut kain yang hangat.

Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara: o Member tutup kepala atau topi bayi o Mengganti kain atau popok bayi yang basah dengan yang kering dan hangat b. Hipotermia berat 1. Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih dan hangat 2. Segera hangatkan tubuh bayi dengan metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalam satu selimut atau kain yang hangat. 3. Bila selimut atau kain mulai mendingin, segera ganti dengan selimut atau kain lainnya yang hangat ulangi sampai panas tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi 4. Mencegah bayi kehilangan panas dengan cara : Member tutup kepala atau topi kepala Mengganti kain atau pakaian / popok yang basah dengan yang kering atau hangat

5. Biasanya bayi hipotermia menderita hipoglikemia. Karena itu ASI sedini mungkin dapat lebih sering selama bayi menginginkan bila terlalu lemah hingga tidak dapat atau tidak kuat menghisap ASI. Beri ASI dengan menggunakan NGT, bila tidak tersedia alat NGT beri infuse 10% sebanyak 60-80 ml kg liter. 6. Segera rujuk di RS terdekat. (dep.kes RI, 2001) 2.7 Pencegahan Hipotermia Pencegahan hipotermia merupakan asuhan neonatal dasar agar BBL tidak mengalami hipotermia. Disebut hipotermia bila suhu tubuh turun di bawah 36,5 C. suhu normal pada neonatus adalah 36,5-37,5 C pada pengukuran suhu melalui ketiak BBL mudah sekali terkena hipotermia hal ini disebabkan karena : 1. Pusat pengaturan panas pada bayi belum berfungsi dengan sempurna 2. Permukaan tubuh bayi relative luas 3. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas 4. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dari pakaiannya agar ia tidak kedinginan Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pencegahan hipotermia adalah mengeringkan bayi sedini mungkin, menutup bayi dengan selimut atau topi dan menempatkan bayi diatas perut ibu (kontak dari kulit ke kulit). Jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menaruh bayi diatas dada ( karena ibu lemah atau syok) maka hal-hal yang dapat dilakukan : Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang hangat Meletakan bayi di dekat ibu Memastikan ruang bayi yang terbaring cukup hangat (Dep.kes RI, 2000)

2.8 Konsep Asuhan Kebidanan Asuhan kebidanan adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada individu pasien atau klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara: Bertahap dan sistematis Melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan Manajemen Kebidanan menurut varney, 2001: 1. Pengertian o Proses pemecahan Masalah o Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarka teori ilmiah o Penemuan penemuan keterampilan dalam rangkaian atau tahaan yang logis o Untuk pengambilan suatu keputusan o Yang berfokus kepada klien

2. Langkah-langkah I. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk keadaan klien secara keseluruhan. II. Menginterpretasikan data untuk masalah. III. Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengidentifikasi diagnosa atau memulai

mengantisipasi penanganannya. IV. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien. V. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah-langkah sebelumnya. VI. Pelaksanaan langsung asuhan secara efisien dan aman. VII. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, mengulang kembali manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

Langkah 1: Tahap Pengumpulan Data Dasar Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Yang terdiri dari data subjektif data objektif. Data subjektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa. Yang termasuk data subjektif antara lain biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biopskologi spiritual, pengetahuan klien. Data objektif adalah yang menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus. Data objektif terdiri dari pemeriksaan fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang (laboratorium, catatan baru dan sebelumnya).

Langkah II : Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.

Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila

memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benarbenar terjadi.

Langkah IV: Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan

anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Langkah VI : pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Langkah VII: Evaluasi Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar tetap terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah.

Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.

BAB III ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN HIPOTERMI SEDANG TERHADAP BAYI Ny. K TAHUN 2007

3.1 Pengumpulan Data Dasar Tanggal 2 Oktober 2007 A. Identitas Nama Anak Jenis Kelamin Tanggal Lahir Jam Anak Alamat : Bayi Ny. K : Perempuan : 2 Oktober 2007 : 09.30 WIB : Kedua : Jl. Jend. Katamso Kota Metro

Nama Ibu Umur Pendidikan Suku Agama Pekerjaan Alamat

: Ny. K : 26 tahun : SMU : Jawa : Islam : IRT : Jl. Jend. Katamso

Nama Ayah Umur Pendidikan Suku Agama Pekerjaan Alamat

: Tn. M : 29 tahun : SMP : Jawa : Islam : Petani : Jl. Jend. Katamso

1.

Riwayat persalinan sekarang Usia kehamilan Lama persalinan Kala I Kala II Kala III Kala IV Jumlah : : : : : 8 jam 30 menit 20 menit 2 jam 10 jam 50 menit : 38 minggu

2.

Jumlah perdarahan Kala I Kala II Kala III Kala IV : : : : Blood slym 50 cc 150 cc 250 cc : Jernih : 08.00 WIB dengan

3. 4.

Keadaan air ketuban Waktu pecahnya ketuban amniotomi

5. 6. 7.

Jenis persalinan : Lilitan tali pusat : Episiotomi :

Sponta pervaginam Tidak ada Tidak ada

B. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum 2. Kesadaran 3. Tanda-tanda vital : Suhu BB Aktivitas Daya hisap Ekstrimitas Refleks : 35,7oC : 2900 gram : lemah : lemah : membiru : lemah Rate Respiration : 60 x/menit Pols : 130 x/menit : Baik : Composmentis koopertif

APGAR SCORE Menit I A : 1 P : 2 Menit V A P G A R : 1 : 2 : 2 : 1 : 2 7

G : 1 A : 1 R : 1 Jumlah 6

TANDA

SKOR 1

4. Kepala a. b. c. d. e. UUB UUK Moulage Caput succedeneum Bentuk kepala : rata, berdenyut : cembung : tidak ada : tidak ada : bulat, simetris : simetris kanan kiri : tidak ada : peka terhadap rangsang cahaya : tidak ikterik : bersih : ada : agak pucat

5. Mata a. b. c. d. e. f. g. Bentuk Strabismus Pupil mata Skelera Keadaan Bulu mata Konjungtiva

6. Hidung a. b. c. Bentuk Luka hidung : simetris kanan-kiri : bersih, tidak ada pengeluaran sekret

Pernapasan cuping hidung : tidak ada

7. Mulut a. b. c. d. e. Bentuk Palatum Gusi Refleks hisap Bibir : simetris : tidak ada palotoskisis : licin, agak pucat : lemah : tidak ada skisis

8. Telinga a. b. Posisi Keadaan : simetris : bersih tidak ada pengeluaran serumen 9. Leher Pergerakan leher : leher tampak ekstensi bila badan diangkat 10. Dada a. b. c. Posisi Mamae Suara nafas : simetris : ada : tidak ada ronchi dan hwezing pernapasan belum teratur 11. Perut Bentuk : normal, tidak ada pembesaran, tali pusat masih basah 12. Genetalia a. b. Jenis kelamin Anus : perempuan : ada

13. Ekstremitas a. b. c. d. Bentuk Jari kaki Jari tangan Aktivitas : simetris, ujung-ujung membiru : lengkap : lengkap : lemah, tampat mengantung : turgor jelek, berwarna tidak rata

14. Kulit (cutis marviorata)

15. Refleks a. b. c. d. Menghisap (sucking) : lemah

Menggenggam (graping) : ada Refleks kaki (staping) Refleks moro : ada : ada

16. Ukuran antropometri BB Lila LD : 2900 gram : 8 cm : 30 cm PB LK : 45 cm : 33 cm

3.2 Interpretasi Data Dasar 1. Diagnosa Bayi baru lahir dengan hipotermi sedang Dasar : a. Suhu 35.70C b. c. d. e. f. g. h. i. 2. Masalah a. Nutrisi tidak adequat Dasar : Daya isap bayi terhadap ASI lemah b. Keterbatasan aktifitas Dasar : 1) Aktifitas lemah 2) Tampak mengantuk tapi masih bisa dibangungkan 3) Menangis lemah APGAR SCORE 6/7 Ekstrimitas membiru Kedua kaki teraba dingin Kulit terdapat bercak merah Menangis lemah Tampak mengantuk tetapi masih bisa dibangunkan Aktivitas lemah Tali pusat masih basah

c. Ketidaknyamanan pada bayi Dasar : 1) 2) Bayi menggigil Nadi cepat

d. Resiko infeksi Dasar : tali pusat masih basah 3. Kebutuhan a. Segera hangatkan bayi Dasar : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Suhu 35,70 C APGAR Score 6/7 Extrimitas membiru Kedua kaki teraba dingin Kulit terdapat bercak merah Menangis lemah Tampak mengantuk tetapi masih bisa dibangunkan Aktivitas lemah

b. Pemberian nutrisi Dasar : 1) 2) 3) 4) 5) Bayi belum mendapatkan asupan nutrisi Turgor kulit jelek Refleks gerak bayi berkurang Bayi menangis lemah Bayi tampak mengantuk

c. Pemenuhan lingkungan yang nyaman Dasar : 1) 2) Bayi belum dibersihkan Bayi menggigil

d. Perawatan tali pusat Dasar : tali pusat masih basah

3.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial 1. Potensial terjadi hipotermi berat Dasar : a. b. c. d. e. f. Suhu 35,70C Apgar Score6/7 Turgor buruk Bayi belum mendapat asupan nutrisi Bayi menggigil Nadi cepat

2. Hipoglikemi Dasar : Bayi belum mendapat asupan nutrisi 3. Potensial terjadi asfiksia Dasar : a. b. c. d. Apgar Score 6 / 7 Rate Respiration Pols Ekstrimitas : membiru : 60 x/menit : 130 x/menit

3.4 Kebutuhan Intervensi dan Kolaborasi Segera Beri tahu keluarga tentang persiapan rujukan apabila keadaan bayinya semakin buruk. 3.5 Rencana Managemen 1. Hangatkan tubuh bayi a. Jelakan pada ibu tentang pentingnya mempertahankan suhu tubuh bayi b. Ajarkan pada ibu tentang cara menghangatkan bayi c. Anjurkan pada ibu utnuk melakukan teknik penghangatan pada bayi baru lahir d. Observasi kemampuan ibu dalam melakukan teknik penghangatan e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu melakukan teknik penghangatan 2. Pemberian ASI a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya ASI bagi bayi b. Ajarkan pada ibu tentang untuk menyusui yang benar

c. Anjurkan pada ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin d. Observasi kemampuan ibu dalam membantu ibu menyusui bayinya e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu menyusui bayinya 3. Menjaga personal hygiene bayi a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya pemeliharaan kebersihan bayi b. Ajarkan pada ibu tentang cara memandikan bayi c. Anjurkan pada ibu untuk mengjaga kebersihan bayinya d. Observasi kemampuan ibu dalam menjaga kebersihan bayinya e. Libatkan keluarga atau suami dalam membantu ibu menjaga kebersihan bayinya. 4. Pemantauan bayi baru lahir a. Jelaskan pada ibu mengenai tanda bahaya bayi baru lahir b. Ajarkan pada ibu tentang penanganan dini terhadap tanda bahaya bayi baru lahir c. Libatkan anggota keluarga lainnya dalam memantau keadaan bayi baru lahir 3.6 Pelaksanaan 1. Menghangatkan tubuh bayi a. Bayi dipakaikan topi atau kain untuk menjaga kepala tetap hangat b. Menggunakan popok yang dilapisi plastik sehingga bayi mendapat sumber panas terus menerus c. Mengganti kain/pakaian/popok yang basah dengan yang kering d. Kontak langsung kulit ibu dengan kulit bayi diantara bagian tubuh bayi dengan dada dan perut ibu dalam baju kanguru 2. Melakukan perawatan kebersihan bayi baru lahir a. Segera mengeringkan tubuh bayi dengan handuk kering, bersih dan hangat b. Menunda memandikan bayi + 24 jam setelah kelahiran c. Merawat tali pusat d. Memandikan dengan mandi kering

3. Membantu ibu menyusui bayinya kepanpun ketika bayi mau menyusui 4. Melakukan pemantauan bati baru lahir a. b. c. Pantau kemampuan menghisap Keaktifan bayi Pantau keadaan umum bayi seperti suhu, BB, nadi, pols

5. Menjelaskan tanda dan bahaya pada bayi baru lahir a. Pernapasan sulit (lebih dari 60 x/menit), < 30 x/mnt, > 60 x/mnt. b. Suhu tubuh terlalu rendah ( < 36 0C) c. Warna kulit terutama 24 jam pertama, biru/pucat d. Menghisap lemah, banyak muntah, mengantuk berlebihan e. Aktivitas (bayi menggigil, menangis lemah, badan lemas dan kejang) 3.7 Evaluasi 1. 2. 3. 4. 5. Ibu mau menghangatkan bayinya dengan metode kanguru Bayi mau diberi/mendapatkan ASI meskipun sedikit-sedikit Bayi dalam keadaan bersih Pakaian/popok selalu dalam keadaan kering Tanda-tanda vital Suhu Nadi Rate Respiration : 36,5 0C : 120 x/menit : 40 x/menit

CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-2 Tanggal 3-10-2007 jam : 09.00 WIB S O : : 1. 2. 3. 4. Suhu Nadi Ibu mengatakan bayi minum ASI kuat Bayi baru lahir hari ke-2 Keadaan umum bayi baik Tali pusat masih basah Tanda-tanda vital : 36,5 0C : 135 x/menit : 40 x/menit

Rate Respiration

: 1. Diagnosa Bayi baru lahir Spontan Anak ke-2 Dasar : a. b. c. d. Bayi baru lahir tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB Keadaan umum baik Tali pusat masih basah Tanda-tanda vital Suhu Nadi Rate Respiration 2. Masalah Potensial terjadi infeksi tali pusat Dasar : tali pusat masih basah 3. Kebutuhan a. Penyuluhan tentang perawatan tali pusat dengan teknik aseptik dan antiseptik b. Penyuluhan tentang pemberia ASI c. Penyuluhan tentang personal hygiene/kebersihan tubuh : 36,5 0C : 135 x/menit : 40 x/menit

: 1. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan 2. 3. 4. Beritahu pada ibu mengenai tanda-tanda bahaya pada BBL Evaluasi cara perawatan kebersihan bayi baru lahir Libatkan keluarga dalam menjaga kestabilan suhu badan bayi baru lahir

CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-7 Tanggal 9-10-2007 jam : 09.00 WIB S : 1. Ibu mengatakan bayinya sudah dapat menghisap ASI kuat. 2. Ibu mengatakan bayinya BAK dan BAB 3. Ibu mengatakan sudah bisa melakukan perawatan pada bayinya dan tali pusat sudah puput O : a. BB Pols Rate Respiration Suhu Lila : 3000 gram : 138 x/menit : 40 x/menit : 36.50C : 9 cm

b. Refleks menghisap (+), ASI diberikan setiap bayi menangis, ASI sudah mulai banyak c. Tali pusat masih basah d. Eliminasi BAK 6-7 x/hari, BAB 3 x/hari A : 1. Diagnosa Bayi baru lahir ke-7 Dasar : Bayi lahir spontan tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB 2. Masalah Untuk sementara tidak ada 3. Kebutuhan a. Penyuluhan tentang pemberian ASI ekslusif dan mencegah infeksi pada bayi baru lahir dengan perawatan teknik septik dan antibiotik b. Pesonal hygiene c. Penyuluhan pemberian imunisasi dini

: 1. Pantau keadaan umum bayi 2. Anjurkan pada ibu untuk memberikan ASI eksluif selama 6 bulan dan melakukan pencegahan infeksi pada bayi baru lahir 3. Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene dan perawatan bayi baru lahir 4. Anjurkan pada ibu untuk memberikan ASI setiap mau menyusui

CATATAN PERKEMBANGAN HARI KE-14 Tanggal 16-10-2007 jam : 09.00 WIB S : 1. Ibu mengatakan berat badan bayi bertambah 2. Ibu mengatakan bayinya sudah mulai aktif O : 1. BB Pols : 3300 gram : 130 x/menit : 34 x/menit

Rate Respiration Suhu Lila

: 36,50C : 9 cm

2. Refleks menghisap (+) Refleks sucking (+) Refleks stapping (+) Refleks moro (+) 3. ASI diberikan setiap bayi mau/menangis dan ASI sangat lancar 4. Eliminasi BAK 6-7 x/hari, BAB 3 x/hari A : 1. Diagnosa Bayi baru lahir ke-14 Dasar : bayi baru lahir spontan tanggal 2-10-2007 pukul 09.30 WIB

2. Masalah Untuk sementara tidak ada 3. Kebutuhan a. b. P : 1. Anjurkan pada ibu untuk mnejaga personal hygiene bagi bayinya 2. Anjurkan pada ibu untuk tetap memberikan ASI ekslusifnya 3. Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan bayi sehari-hari dengan benar 4. Anjurkan pada ibu untuk membawa anaknya keposyandu Penyuluhan tentang perawatan bayi sehari-hari dirumah Penyuluhan tentang nutrisi yag adequat

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan hipotermia merupakan aspek penting pasca persalinan. Oleh sebab itu, asuhan yang diberikan harus benar-benar cepat, aman, dan tepat. Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi Y umur 1 hari dengan hipotermia sedang dapat menarik kesimpulan bahwa penatalaksanaan yang dilakukan sesuai dengan teori dan bayi Y dikatakan hipotermia sedang dan keadaan saat ini mulai membaik. 4.2 Saran 1. Bagi mahasiswa Mempelajari lebih lanjut tentang teori yang berhubungan dengan asuhan bayi dengan hipotermia, sehingga mampu memberkan asuhan pada bayi dengan hipotermia secara komperhensif. 2. Bagi petugas Petugas memberikan asuhan secara komferhensif secara cepat, aman dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2000, Pedoman Penanganan Kegawatdaruratan Obstektrik dan Neonatal, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. ________________, Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Saifuddin, Abdul Bari, 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal, INPKKR-POGI & YBS SP, Jakarta. Wiknjosastro Gulardi H., dkk, 2007, Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR, Jakarta.