Anda di halaman 1dari 158

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur & OHP

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

KURSUS PENGELOLAAN KUALITAS UDARA SESI 8: BAU DAN PENGELOLAANNYA CATATAN INSTRUKTUR DAN OHP Semua bahan ini dapat diperbanyak untuk keperluan pelatihan di Indonesia. Hak Cipta Proyek PCI, Jakarta, Mei 1999.

Kesemua bahan pelatihan ini dirancang dan diproduksi oleh Proyek Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran (PCI) BAPEDAL dan Jawa Timur; suatu proyek AusAID. Informasi yang termuat dalam bahan pelatihan ini diperoleh dan ditulis Tim Proyek PCIterutama Penasihat Kualitas Udara A. H. Van der Wiele, dan produksi oleh Karl Fjellstromdari sumber-sumber yang dipercayai. Sumber-sumber ini meliputi sejumlah makalah pengajar Institut Teknologi Bandung, laporan dan artikel BAPEDAL, lembaga akademis dan konsultan independen. Namun demikian, baik Proyek PCI maupun BAPEDAL tidak menjamin keakuratan atau kelengkapan sesuatu informasi yang terdapat di sini, dan baik Proyek PCI maupun BAPEDAL tidak bertanggung jawab atas sesuatu kekeliruan, kelalaian atau kerugian yang timbul dari penggunaan informasi ini. Seluruh bahan ini diterbitkan dengan pengertian bahwa Proyek PCI menyediakan informasi untuk digunakan dalam pelatihan, namun tidak berusaha memberikan jasa enjiniring, jasa hukum, jasa akunting atau jasa profesional lainnya. Jika jasa tersebut dibutuhkan, bantuan profesional yang sesuai harus dicari.

Proyek Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran (PCI) BAPEDAL dan Jawa Timur http://www.bapedal.go.id/~pci

Suatu proyek yang dikelola atas nama Pemerintah Indonesia dan Badan Pembantuan Internasional Australia (AusAID) oleh usaha patungan CSS: Egis ConsultingSinclair Knight MerzSagric.

PELAKSANAAN KURSUS

Penyelenggara/organiser 1. Salinkan
Catatan Peserta dari setiap sesi 1. Copy the Participants Notes 2. Distribute material
to presenters

1. Penyelenggara kursus bagikan buku-buku sesi kepada para calon instruktur, paling sedikit 2 minggu sebelum kursus dimulai. 2. Catatan Pesertayang disediakan untuk setiap sesi disalinkan untuk dibagikan kepada para peserta:

2. Bagikan setiap
buku sesi kepada calon instruktur

Sebelum kursus
3. Assist presenters
in making OHPs

Dibagikan sebagai satu paket kepada para peserta pada permulaan kursus; atau dibagikan kepada para peserta pada permulaan setiap sesi oleh instruktur masing-masing.

3. Bantu para
instruktur dengan pembuatan OHP

4. Participants Notes
to participants

4. Bagikan
Catatan Peserta kepada para peserta

Pada permulaan kursus

3. Penyelenggara kursus atau instruktur masing-masing menyiapkan transparansi OHP dari setiap buku sesi.
Bahan pelatihan ini juga tersedia di homepage Bapedal di http:// www.bapedal.go.id/~pci, dan juga dalam bentuk CD, dalam Portable Document Format (.pdf ). Untuk membuka suatu file .pdf ini diperlukan Adobe Acrobat Reader, yang bisa di-download tanpa biaya dari http://www.adobe.com/reader.

D A F TA R S E S I

1. Program Langit Biru dan peraturan perundang-undangan 2. Pengelolaan kualitas udara 3. Karakteristik-karakteristik atmosfer 4. Dampak iklim dan topografi terhadap pencemaran udara 5. Pencemaran udara dari kendaraan bermotor 6. Pengendalian limbah gas dan partikulat dari sumber bergerak 7. Pemantauan kualitas udara 8. Bau dan pengelolaannya 9. Karakteristik pencemaran partikulat dan gas 10. Pengendalian pencemaran partikulat dan gas 11. Pencemaran udara dari mesin bakar 12. Pencemaran udara dari sumber stasioner besar 13. Tata ruang dan pengelolaan kualitas udara 14. Peranserta masyarakat dalam pengelolaan kualitas udara

C ATATA N I N S T R U K T U R

Pencemaran bau secara fisik tidak merusak lingkungan setempat dan pada umumnya tidak menimbulkan terjadinya risiko kesehatan. Namun, bau dapat dianggap sebagai gangguan serius terhadap masyarakat. Perkembangan teknik pengelolaan dan pengukuran bau merupakan hal yang baru bila dibandingkan dengan yang diterapkan pada pengendalian partikulat atmosfer atau gas. Baru-baru ini, telah dikembangkan teknik pengukuran yang lebih baik dan lebih dapat diulang dalam rangka melakukan penilaian tingkat bau. Ini, dipadukan dengan model penyebaran bau yang lebih realistis, dapat memberikan penilaian yang lebih dapat dipercaya terhadap dampak bau. Pengendalian bau mengikuti prinsip-prinsip yang mirip dengan yang diterapkan pada pengendalian gas-gas lainnya.

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur

RENCANA SESI

SESI 8

TOPIK

WAKTU

SUB-TOPIK Pendahuluan

KATA/BAHAN PENGAJARAN PENTING Tujuan Penanganan bau di Indonesia Intensitas bau Kemungkinan terdeteksinya bau Sifat bau Sifat hedonik Analisis GC-MS Pengukuran indera penciuman Hidung electronik Pengambilan sampel Mengendalikan bau dari sumber-sumber (wilayah) tersebar Mengendalikan bau dari sumber-sumber industri

SUMBER PENYAMPAIAN OHP Catatan peserta Berbagai peralatan

Bau dan 2 jam pengelolaannya

Teori bau

Metode pengukuran bau

Teknik pengendalian bau

Model bau sebagai alat pengatur Senyawa dan Industri bubur kertas dan kertas sumber bau Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewan Pabrik pupuk nitrogen

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Instruktur

M ATA A J A R A N

bau dan pengelolaanny a


DALAM SESI INI
Pendahuluan Tujuan; dan Penanganan bau di Indonesia Teori Bau Intensitas bau; Kemungkinan terdeteksinya bau;

Sifat bau; dan Sifat hedonik (Hedonic tone)


Metode pengukuran bau Analisis GC-MS; Pengukuran indera penciuman; Hidung elektronik; dan Pengambilan sampel

OHP 81

T eknik pengendalian bau Mengendalikan bau dari sumber-

sumber (wilayah) tersebar; dan Mengendalikan bau dari sumber-sumber industri


Model bau sebagai alat pengatur Senyawa dan sumber bau Industri bubur kertas dan

kertas; Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewani; dan Pabrik pupuk nitrogen Lampiran A: Procedure for the assessment of odour by dynamic olfactometry EPA (Vic., Australia) Method No. B2. Lampiran B: Teknik-teknik pengukuran bau di lapangan.

84

Kursus pengelolaan kualitas udara

1. PENGANTAR
Pencemaran bau tidak merusak lingkungan setempat dan biasanya tidak menimbulkan terjadinya risiko kesehatan. Namun, bau dapat dianggap sebagai gangguan serius terhadap masyarakat. Biasanya, dampak bau terhadap populasi manusia sekelilingnya berupa perasaan-perasaan adanya malaise umum yang mungkin diikuti dengan adanya sejumlah indikasi seperti sakit kepala, iritasi selaput lendir dan perasaan tidak enak badan. Bau biasanya disebabkan oleh odoran gas atau partikulat. Pada umumnya bau tersebut berasal dari emisi sumber industri atau kegiatan tatakota (misalnya lokasi-lokasi penimbunan tanah) sebagai hasil dari kegiatan biologis dan proses kimiawi. Foto 8.1 dan 8.2 menggambarkan bau-bau sumber industri yang sifatnya tipikal. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah memberikan gambaran umum mengenai: Teori bau;

metode-metode pengukuran bau; penanganan bau dan tindakan pengurangan; penggunaan model bau sebagai alat pengatur; dan masalah-masalah bau yang bersifat spesifik berkaitan dengan industri-industri tertentu.

Foto 8.1
Bau industri (titik sumber).

Penanganan bau di Indonesia Banyak kasus berhubungan dengan masalah bau yang telah terjadi di Indonesia hingga sekarang. Hal ini termasuk bau Kata-kata kunci: merkaptan yang berasal dari industri bubur kertas dan kertas, bubur kertas dan kertas; bau amonia dari industri amonia pupuk urea dan gas hidrogen sulfida yang berasal dari unit pembangkit panas bumi.
amonia pupuk urea.

Pengendalian bau telah dilaksanakan di Indonesia melalui keputusan pemerintah nomor KEP50/MENLH/11/1996 yang menjelaskan tentang standar bau untuk odoran tunggal dan campuran senyawa banyak bau. Perkembangan dan pelaksanaan strategi pengelolaan bau merupakan hal yang baru bila dibandingkan dengan masalahmasalah lingkungan yang timbul dari pencemaran air dan udara.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

85

2. TEORI BAU
OHP 82

Kata-kata kunci:
intensitas bau; frekuensi bau; durasi bau; gangguan bau.

Bau adalah sesuatu rasa yang dihasilkan dari diterimanya suatu rangsangan oleh sistem sensor indera penciuman. Serangan bau pada umumnya ditentukan oleh faktor-faktor: frekuensi, intensitas, durasi dan gangguan bau. Pada kuantifikasi masalah gangguan bau, frekuensi bau merujuk pada berapa kali terjadinya bau, intensitas bau merujuk pada kekuatan bau, durasi bau merujuk pada berapa lama terjadinya bau, dan gangguan bau merujuk pada ketidak-nyamanan atau sifat bau. Odoran tunggal dan senyawa banyak bau ditunjukkan oleh bau khas seperti: Amonia (NH3)sejenis bau yang mirip dengan bau busuk air kencing;

sulfur yang direduksi total (merkaptan)bau-bauan yang mirip kubis busuk; dan hidrogen sulfida (H2S)bau mirip dengan yang dikeluarkan telur busuk.

Intensitas bau Intensitas bau adalah kekuatan dari rasa bau yang dirasakan. Hal ini terkait, tetapi jangan dirancukan, dengan konsentrasi bau yang hanya berkaitan dengan jumlah partikel-partikel gas odoran yang terukur atau cairan yang terukur dalam udara. Intensitas bau juga memperhitungkan sifat individual bau yang diambil sebagai sampel. Persamaan berikut ini mendefinisikan hubungan antara intensitas bau (I) dan konsentrasi bau (C), di mana k adalah sebuah konstan dan n adalah eksponennya. Hukum steven atau hukum tenaga I (yang dirasakan) = k(C) n Log I = log K + nlog (C)
Foto 8.2
Bau (menyebar) perkotaan.

Untuk bau, n berkisar antara 0,2 hingga 0,8, tergantung pada gas odorannya. Untuk gas odoran dengan n sama dengan 0,2, suatu pengurangan 10-fold pada konsentrasi menurunkan intensitas yang dirasakan oleh suatu faktor dari hanya 1,6, sedangkan untuk suatu gas odoran dengan n sama dengan 0,8, pengurangan 10-fold pada konsentrasi menurunkan intensitas yang dirasakan oleh suatu faktor 6,3.

86

Kursus pengelolaan kualitas udara

Kemungkinan terdeteksinya bau Kemungkinan terdeteksinya bau atau ambang bau adalah sifat indera manusia yang merujuk pada konsentrasi minimum yang menghasilkan tanggapan atau rasa penciuman. Ambang ini biasanya ditentukan oleh sejumlah orang yang bertindak sebagai sebuah panel bau. Tingkat deteksi bau numerik ditetapkan apabila 50% dari panel dapat mendeteksi bau dengan benar. Bau menjadi sulit untuk dirasakan bila tingkat intensitas bau berada pada atau hanya sedikit di atas ambang batas. Nilai aktualnya bergantung pada jenis pengujian indera, seleksi panelis, kriteria deteksi dan faktor-faktor lainnya. Sifat bau Sifat atau kualitas bau adalah unsur yang mengenali bau dan membedakannya dari bau lainnya yang memiliki intensitas sama. Bau bisa berupa senyawa organik dan senyawa anorganik, terdiri dari banyak senyawa odoran yang merupakan hasil aktivitas biologis atau sebagai emisi-emisi proses kimia. Kebanyakan bau merupakan hasil dari penguraian anaerobik bahan organik yang mengandung sulfur dan/atau nitrogen. Bagian 6 menyajikan informasi mengenai sektor industri yang memiliki potensi untuk memancarkan bau dalam jumlah yang besar. Senyawa organik yang mengandung sulfur seperti metil merkaptan dan dimetil sulfida menghadirkan masalah-masalah tertentu dalam hal pengendalian bau berdasarkan kemampuan ambang deteksi mereka yang sangat rendah. Contoh-contohnya adalah senyawa anorganik hidrogen sulfida (H2S) dan amonia (NH3). Kebanyakan odoran berbentuk gas yang berada di bawah kondisi atmosfer normal, sebagian besar memiliki sifat sangat mudah menguap. Dalam hal gas, semakin rendah berat molekul suatu senyawa, semakin tinggi tekanan uapnya dan oleh karena itu berpotensi terhadap terjadinya emisi ke atmosfer. Substansi berat molekul tinggi biasanya kurang mudah menguap, dus secara normal mungkin kurang menyebabkan keluhan bau. Sifat bau dijelaskan dengan sebuah metode yang dikenal sebagai skala atau profil multidimensional di mana bau digambarkan oleh derajad kemiripannya dengan selengkap bau yang menjadi

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

87
acuan atau tingkat derajad yang sesuai dengan skala dari berbagai persyaratan deskriptor. Hasilnya ialah suatu profil bau.

OHP 83

Tabel 8.1 menunjukkan senyawa bau dalam emisi-emisi sumber industri.


Molecular weights 44 74 17 104 124 73 71 129 101 45 62 186 45 62 34 227 31 48 48 110 76 79 131 64 124 59 gas gas 830 100 gas 710 gas 360 gas gas gas 2,0 220,0 27,0 200 gas 93000 gas 8000 gas Volatility, 25C ppm, v/v gas Detection threshold ppm, v/v 0,067 0,0001 17 0,0003 0,0002 0,80 0,80 0,016 0,13 0,34 0,001 0,0001 0,27 0,0003 0,0005 0,0001 4,7 0,5 0,5 0,0003 0,0005 0,66 0,001 2,7 0,0001 0,0004 Recognition threshold ppm, v/v 0,21 0,0015 37 0,0026 1,8 0,31 0,38 0,001 0,0021 1,7 0,001 0,0047 0,0015 0,020 0,74 0,050 4,4 Odour description pungent, fruity disagreeable, garlic pungent, irritating unpleasant, putrid unpleasant, strong odour dour ammonia pungent, suffocating fishy fishy putrid, fishy decayed cabbage unpleasant ammoniacal decayed cabbage rotten eggs fecal, nauseating putrid, fishy rotten cabbage pungent, irritating putrid, garlic unpleasant pungent, irritating fecal, nauseating pungent, irritating rancid pungent, fishy

Compound name Acetaldehyde Allyl mercaptan Ammonia Amyl mercaptan Benzyl mercaptan n-Butyl amine Chlorine Dibutyl amine Diisopropyl amine Dimethyl amine Dimethyl sulfide Diphenyl sulfide Ethyl amine Ethyl mercaptan Hydrogen sulfide Indole Methyl amine Methyl mercaptan Ozone Phenyl mercaptan Propyl mercaptan Pyridine Skatole Sulfur Dioxide Thioresol Trimethyl amine

Formula CH3CHO CH2:CHCH2SH NH3 CH3(CH2)4SH C6H5CH2SH CH3(CH2)NH2 Cl2 (C4H9)2NH (C3H7)2NH (CH3)2NH (CH3)S (C6H5)S C2H5NH2 C2H5SH H2S C6H4(CH)2NH CH3NH2 CH3SH O3 C6H5SH C3H7SH C5H5N C9H9N SO2 CH3C6H4SH (CH3)3N

Tabel 8.1
Senyawa bau dalam emisi-emisi sumber industri.

88

Kursus pengelolaan kualitas udara

Sifat hedonik (hedonic tone) Sifat hedonik adalah suatu sifat bau yang berhubungan dengan masalah keenakan dan ketidak-enakan. Harus dibuat perbedaan antara keadaan bisa diterimanya bau dan sifat hedonik dari sesuatu bau. Apabila bau dievaluasi secara laboratorium mengenai sifat hedonik yang dimilikinya dalam konteks netral dari suatu penyajian olfaktometrik, panelis akan dihadapkan dengan suatu rangsangan terkendali dalam intensitas dan durasinya. Tingkat keenakan dan ketidak-enakan ditentukan masing-masing pengalaman panelis serta kaitan emosionalnya.
Adaptasi atau letih penciuman adalah suatu fenomena yang

terjadi ketika manusia dengan indra penciuman normal mengalami penurunan dalam merasakan intensitas bau yang diterima jika rangsangan diterima secara terus menerus. Adaptasi secara spesifik: Tergantung pada intensitas rangsangan dan adaptasi mandiri dan pemulihan indra penciuman setelah rangsangan dihilangkan; dan

pada umumnya odoran khusus tidak mengganggu kemampuan seseorang untuk mendeteksi bau-bau lainnya.

Kebiasaan atau anosmia profesi (hilangnya daya penciuman

karena profesi yang disandang) terjadi ketika seseorang pekerja berada di dalam suatu situasi industri mengalami ekspos jangka panjang dan mengembangkan toleransi ambang batas yang lebih tinggi terhadap bau yang bersangkutan.
Penggunaan model bau
Pada umumnya, empat faktor berikut: frekuensi, intensitas, durasi, dan gangguan bau hampir mustahil dipantau atau dicatat. Sebagai ganti, sebagaimana halnya polutan udara lain, suatu model penyebaran bau dapat digunakan untuk memprediksi dampak bau lingkungan dan menjadi alat pengatur. Sejumlah model telah digunakan untuk memprediksi konsentrasi bau dekat sumber.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

89

3. METODE PENGUKURAN BAU


Akhir-akhir ini, teknik-teknik pengukuran untuk menilai tingkat bau yang lebih baik dan dapat diulang penggunaannya telah dikembangkan. Hal ini dipadukan dengan model penyebaran bau yang lebih realistis, dapat memberikan penilaian terhadap dampak bau yang lebih dapat dipercaya. Sekarang ada metode pengukuran untuk memantau bau, baik dari sumber emisi maupun di dalam udara ambien. Metode untuk pengukuran bau ditetapkan dalam KEP-50/ MENLH/11/1996 dan diringkas dalam Tabel 8.2.
Parameter Amonia (NH3) Unit ppm Batas nilai Metode Pengukuran Peralatan Spektrofotometrik Gas khromatografik

2,0 Metode indofenol

OHP 84

Metil merkaptan (CH3SH) Hidrogen sulfida(H2S)

ppm 0,002 Penyerapan gas ppm

Tabel 8.2
Metode-metode yang disetujui untuk penentuan gas-gas odoran tunggal di Indonesia.
Metil sulfida(CH3)2S Stirena (C6H5CHCH2) ppm ppm

a. Spektrofotometrik 0,02 a. Thyosianatb. Gas khromatografik mercury b. Penyerapan gas 0,01 Penyerapan gas 0,1 Penyerapan gas Gas khromatografik Gas khromatografik

Ketiga metode tersebut biasanya digunakan untuk mengukur konsentrasi sesuatu bau, sebagai campurannya adalah: 1. Prosedur analisis kimia untuk mengenali senyawa bau dan menentukan tingkat konsentrasi bau: misalnya sangat dilarang bagi odoran tunggal menggunakan CMS atau sejenisnya; 2. Prosedur pengukuran sensor/indra penciuman untuk menentukan kekuatan bau: misalnya olfaktometri untuk suatu campuran odoran; dan 3. Prosedur hidung elektronik untuk menentukan semua pola konsentrasi bau dengan hasil-hasil yang berkaitan dengan observasi manusia. Hal ini didasarkan pada sensor kimia. Ketiga metode ini dibahas di bawah ini. Analisis GC-MS Senyawa bau kimia dapat dianalisis untuk tujuan riset oleh kromatografi gasspektrometri massa (GCMS) dengan sensitivitas sebesar 1015. Dipzerlukan biaya operasional dan peralatan sangat tinggi untuk menerapkan teknik ini secara efektif.

810

Kursus pengelolaan kualitas udara

Secara umum penggunaan analisis GCMS tidak dapat dilaksanakan untuk keperluan pemantauan lingkungan rutin karena secara tipikal sesuatu gas yang berbau merupakan suatu campuran yang kompleks dari banyak unsur. Misalnya, instrumentasi GCMS mengenali 136 senyawa yang ditemukan di dalam udara pembuangan rumah hewan, namun hanya 23 senyawa yang dapat dikuantifikasi. Keterbatasan-keterbatasan lain termasuk: Sejumlah senyawa berbau seperti gas-gas anorganik tidak dapat diukur oleh GCMS;

adalah hal biasa bahwa identifikasi tetap berada dalam keadaan bermakna ganda atau diragukan; banyak bau yang masih harus dikenali; efek sinergistis dalam suatu campuran gas kompleks seringkali tidak diketahui; dan hasil analisis GCMS tidak dapat dikaitkan dengan bau dari sampel lengkap yang ada.

Pengukuran analitis terhadap konsentrasi bau hanya sesuai bilamana jenis gas yang berbau spesifik tersebut diketahui. Sifat-sifat bau sampel diukur dengan angka sensor sedangkan metode statistik dipergunakan untuk mengembangkan persamaan prediktif yang berkaitan dengan, misalnya konsentrasi bau atas senyawa kimia. Pengukuran indera penciuman Bau adalah rasa yang disebabkan oleh senyawa-senyawa berbau yang bertindak terhadap berbau pada indera penciuman. Bau dideteksi dan dibedakan oleh hidung manusia pada tingkat konsentrasi yang sangat rendah. Olfaktometer adalah suatu alat yang dipergunakan untuk menghadirkan serangkaian sampel bau yang didilusikan bagi sebuah panel pengamat. Metode sensor atau sensor bau organoleptik bergantung pada respon indera penciuman perseorangan yang berfungsi sebagai panel. Penentuan standar untuk gas-gas atau campuran senyawa berbau individual ditentukan oleh deteksi sensor lebih dari 50% panelis pada panel bau. Untuk suatu campuran senyawa berbau, sebuah panel harus terdiri minimum 8 orang.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

811
Jumlah anggota panel 4, 6 dan 8 atau lebih dari 9 (ketepatan lebih besar diperoleh dengan jumlah anggota panel yang lebih banyak). Beberapa ambang batas bau dapat ditentukan dengan menggunakan olfaktometri. Mereka adalah: Ambang deteksi;

ambang pengenalan; dan ambang deskripsi.

Ambang deteksi adalah konsentrasi terendah yang akan memperoleh respon tanpa acuan terhadap kualitas bau. Ini dapat direproduksi dan merupakan pengukuran bau yang paling banyak dilaporkan dalam literatur. Ambang pengenalan adalah konsentrasi minimum yang

dikenal memiliki kualitas bau khas.


Ambang deskripsi adalah hal penting yang dimintakan kepada panelis untuk membedakan bau tersebut.

Hasil-hasil pengujian tersebut dilaporkan sebagai kekuatan bau atau konsentrasi bau, bukan ambang bau atau intensitas bau. Banyak kerancuan antara intensitas bau dan ambang bau dan kekuatan bau atau konsentrasi bau yang muncul dalam literatur tersebut. Campuran senyawa membutuhkan olfaktometri dinamik untuk penilaian tingkat bau. Hal ini melibatkan tindakan mengekspos panel pengamat terpilih dan terkendali kepada variasi yang persis dalam konsentrasi suatu sekuens yang terkendali, untuk menentukan poin di mana hanya setengah dari panel tersebut yang dapat mendeteksi bau. Poin ini disebut ambang bau atau satu unit bau. Jumlah unit-unit bau tersebut adalah konsentrasi dari suatu sampel dibagi dengan ambang bau. Metode penentuan bau dengan Olfaktometri Dinamik yang digunakan oleh EPA Victoria (Australia) disajikan dalam Lampiran A. Seperti halnya di atas, terdapat nilai berarti yang diperoleh dari pengamatan dan pencatatan yang akurat terhadap bau di lapangan. Komentar dan prosedur mengenai pengamatan lapangan terhadap bau disajikan dalam Lampiran B.

812

Kursus pengelolaan kualitas udara

Hidung elektronik Olfaktometri dapat memberikan kepekaan yang jauh lebih tinggi daripada menggunakan hidung elektronik. Namun, secara umum ada harapan bahwa berkembangnya hidung elektronik (utamanya teknik-teknik instrumental yang menggunakan GCFID dengan lubang pencium olfaktometer atau sejenisnya) akan menuntun pada pengukuran bau yang lebih obyektif dan lebih hemat biaya. Sebuah hidung elektronik dapat dioperasikan dalam kisaran konsentrasi bau antara 1000 60.000 OU/m3. Perbaikan desain instrumen dan sensor diperlukan untuk meningkatkan kinerja hidung elektronik tersebut. Penggantian panel manusia dengan hidung elektronik merupakan suatu sasaran riset jangka panjang, sementara pada saat ini sedang dihadapi sejumlah masalah: Sifat sensitif dan selektif dari hidung elektronik masih merupakan kelemahan utama bagi hidung elektronik dengan basis sensor fisik.

Sejauh mana hidung elektronik dapat menggantikan hidung manusia masih harus lebih dimantapkan. Sebuah hidung elektronik perlu dikalibrasi untuk suatu rangkaian kategori sampel berbau terhadap olfaktometri berdasarkan panel manusia.

Pengambilan sampel Sampel dapat diambil dari sumber maupun udara ambien. Walau serangkaian teknik pengambilan sampel dapat dipakai, namun yang paling lazim adalah, sampel ditarik ke dalam OHP 85 sebuah wadah yang terbuat dari bahan yang tidak bereaksi Gambar 8.1 kimiawi terhadap zat lain serta tidak mengeluarkan bau atau rasa oleh penggunaan pompa vakum atau peristaltik, sebagaiMetode untuk mengambil sampel bau mana ditunjukkan dalam Gambar 8.1. dari sumber dan udara ambien.
Sampel Sedotan Disposable tygon (food grade) tubing Sampel Teflon bag

Pompa peristaltic

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

813

4. TEKNIK PENGENDALIAN BAU


Pengendalian bau strategis terdiri dari: Pengendalian sumber;

pemasangan peralatan pengendalian pencemaran bau; dan karakteristik penyebaran dalam atmosfer.

Hal ini dibahas pada bagian berikut ini. Mengendalikan bau dari sumbersumber (wilayah) tersebar Prinsip-prinsip pengelolaan bau dari sumber-sumber tersebar adalah mencegah pembentukan bau atau mengurangi bau pada konsentrasi di bawah ambang deteksi atau di bawah tingkat yang wajar. Cara untuk melaksanakan prinsip-prinsip ini dilakukan dengan: Pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan pengendalian sumber meliputi: Bentuk odoran, gas atau partikulat;

sifat-sifat sumber-sumber odoran; konsentrasi bau minimum (ambang bau) cenderung menyebabkan keprihatinan publik; standar bau yang relevan (odoran tunggal juga sebagai suatu campuran senyawa banyak bau); perlakuan alternatif untuk mengurangi bau hingga tingkat yang dapat diterima; dan biaya ekonomis.

Untuk sumber-sumber wilayah luas seperti pengolahan limbah peternakan, lokasi penggemukan ternak dan pembuatan pupuk, tempat pembuangan limbah rumahtangga atau industri, hanya terdapat dua metode yang terbukti dapat dipergunakan untuk mengurangi keluhan bau. Kedua hal tersebut adalah: Tidak membangun dekat lokasi tersebut; dan

memastikan agar pengoperasiannya dilaksanakan dengan praktek pengelolaan terbaik.

Foto 8.3
Unit pengolah limbah cair (sumber sebaran).

Sebuah unit pengolah limbah cair yang bersifat tipikal disajikan dalam Foto 8.3. Mengingat ukurannya serta pabrik sejenis, dalam kaitannya dengan pengelolaan bau, mereka harus dianggap sebagai sumber-sumber tersebar.

814

Kursus pengelolaan kualitas udara

Bila dihindari adanya pembangunan dekat lokasi tersebut, harus ditetapkan suatu zona pembatas yang layak di sekitar sumber wilayah. Ukuran aktual dari zona ini bergantung pada sejumlah faktor, termasuk besarnya wilayah yang merupakan tempat di mana bau berasal, intensitas bau yang dipancarkan, durasi dan frekuensi emisi-emisi bau, proses aktual yang sedang dilakukan, topografi lokasi, kondisi cuaca yang berlaku pada lokasi dan persepsi para tetangga terhadap gangguan bau-bau yang ditimbulkan. Praktek manajemen terbaik (PMT) akan beragam sesuai dengan industri yang menimbulkan bau tersebut. Namun, untuk semua pembangunan, PMT akan dimulai dengan pemilihan lokasi dan pembangunan fasilitas. Ada sejumlah besar produk kimia dan produk paten tertentu yang diklaim digunakan untuk mengurangi bau bila diaplikasikan pada sumber-sumber wilayah. Namun, biaya dari bahanbahan dan pekerja untuk itu akan sangat tinggi. Senyawa ini dalam jumlah besar yang diperlukan dapat menyebabkan pencemaran. Pada umumnya, metode-metode tradisional yang dikembangkan untuk pengendalian kimia organik industri tidak cocok dipergunakan untuk pengendalian bau secara umum mengingat konsentrasi kimianya yang rendah, komposisinya yang kompleks dan volume aliran udaranya yang besar. Mengendalikan bau dari sumbersumber industri Apabila timbulnya bau tidak dapat dihindari atau penyebaran yang memadai (jarak pisah terhadap penggunaan lahan yang sensitif terhadap bau) tidak dapat tercapai, harus dilaksanakan pengendalian bau pada sumbernya. Aliran gas yang dipancarkan dari cerobong atau pipa pembuangan asap dapat diambil dan dapat diolah. Sama halnya, udara berbau dari dalam sebuah bangunan dapat diarahkan ke alat scrubbing atau penyaringan untuk pengurangan bau.
Foto 8.4
Pipa menjelang pembuangan gas ke udara. Pada poin ini, gas dapat diarahkan kepada peralatan pembersihan gas.

Prinsip-prinsip dalam pengendalian sumber bau adalah untuk mencegah pembentukan bau atau mengurangi bau pada konsentrasi tertentu guna menghasilkan unsur yang kurang berbau. Cara yang dapat dipakai untuk mencapainya termasuk di antaranya: Mengubah sumber-sumber odoran gas menjadi cairan senyawa berbau dengan teknik sedemikian rupa seperti pembersihan cairan dengan cara scrubbing cairan.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

815

mendistribusikan odoran secara lebih luas dengan cara meloloskannya melalui ventilasi atau cerobong asap.

Pilihan metode atau kombinasi metode-metode yang dipergunakan untuk mengendalikan bau dalam aliran gas akan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: Fase odorangas, cairan atau partikulat;

volume gas (atau uap) yang dihasilkan dan laju kecepatan alirannya; sumber-sumber odoranpoin sumber atau penyebaran; konsentrasi bau minimum (ambang bau); standar bau yang relevan (odoran tunggal juga untuk campuran dari banyak senyawa berbau); suhu; komposisi kimia dari campuran yang menyebabkan bau; alternatif-alternatif untuk penanganan bau; dan pertimbangan-pertimbangan ekonomis.

Foto 8.5
Pembuangan ventilasi atap. Ventilasi atap dapat ditutup dan seluruh udara pabrik diarahkan ke peralatan pembersihan gas atau biofilter.

Metode untuk mengendalikan emisi-emisi bau dari sumbersumber industri yang ada disajikan dalam Tabel 8.3 dan dijelaskan dalam bagian-bagian berikut:
Kunci:

A PenyebaranDiperlukan cerobong asap yang tinggi, biaya modal sedang, biaya pengoperasian rendah. B Wet scrubbingPenyerapan: biaya sedang hingga tinggi, seringkali diperlukan tiga tahap. Perlu berhati-hati dalam memilih cairan scrubber dan biasanya bersifat coba-coba. Tidak selalu berhasil, membutuhkan pemeliharaan teratur dan pengujian-pengujian unsur aktif secara harian dan dalam beberapa kasus, pengendalian pH. C Setelah pembakaran (langsung)Suhu antara 600oC dan 1000oC dengan masa residensi dari 0,3 hingga 1 detik. Perlu desain yang teliti guna menurunkan volume udara hingga batas minimum. Biaya modal dan biaya pengoperasian tinggi bila volume udaranya besar. Pengendalian lebih lanjut diperlukan jika terdapat sulfur atau khlorin dalam gas-gas buangan. Setelah pembakaran (katalitis)Suhu 500oC. Pengoperasian suhu lebih rendah dibandingkan dengan metode langsung, tetapi katalisatornya bisa dihancurkan jika tidak dioperasikan dan dipelihara dengan benar. Hal ini seringkali menjadi masalah.

816
Jenis pengoperasian bau Ketel Unit pengolah asam Pupuk Pengolah pupuk hewani SO2,

Kursus pengelolaan kualitas udara

Emisi

Pengendalian A A,B,E A,B,F A,C,D, G A,C,D B,D B,C,D,E C,G A,B A,B,I A,C,G A;B,C A,B,C A,C D,A,G A,C,F,I B,D,G,I A,D,G A,C A

Acid gases Fluorides, fertiliser odour Amines Aldehida, amines Amines Amine, aerosol Organik pembusuk, sulfide Amonia Berbusa Hidrokarbon, sulfide (komplex) beragam (komplex) Minyak terbakar, aldehide Minyak terbakar, hidrokarbon, Aldehide Beragam bahan pelarut Amine, aldehide Amine Ragi, peragian Bau inti terbakar, aldehide

OHP 86

Kopi Bulu ayam Makanan ikan Sampah Amonia Deterjen dan sabun Pemurnian minyak Pabrik kimia Rockwool Pernis dan cat Penyimpanan bahan pelarut Insinerasi hewan Sampah perangkap lemak/oli Fermentasi

Tabel 8.3
Metode-metode pengendalian bau (dimodifikasi dari NSW EPA 1995).

Dapur non-besi Dapur besi Plastik laminasi Serat kaca

Fenol, formaldehide Stiren, akrilat

A,C A,D

D Penyerapan karbonMembutuhkan regenerasi pada selang waktu yang tetap. Bisa efektif tetapi mahal untuk penggunaan dalam volume besar. Pengoperasian secara kecilkecilan tidak mahal untuk dilakukan. E Filter kabutFilter kabut dari plastik atau logam, pembersih mandiri, tidak mahal. F Praktek Manajemen TerbaikKebersihan dan menghindari tumpahan memerlukan upaya manusia tetapi secara relatif tidak mahal. G Menyamarkan bauDeodoran menyamarkan bau. Biasanya tidak efektif tetapi dapat membantu dalam kasuskasus marginal atau dengan pelepasan aksidental. Tidak mahal. H Filtrasi BiologisTelah berhasil untuk pengolah pupuk bangkai hewani.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

817
I KondensorCairan kondensasi dibuang dari aliran gas buangan, mengurangi jumlah gas berbau yang harus diolah. Kondensasi Sementara kebanyakan bau disebabkan oleh gas, masalahmasalah mungkin timbul dari aerosol dalam uap. Aliran udara berbau seringkali mengandung konsentrasi uap air yang tinggi. Jenis peralatan pengendali bau ini berfungsi sebagai penanganan awal pengendalian bau. Emisi-emisi basah atau mengandung uap organik dapat pertama-tama disalurkan melalui sebuah kondensor yang mampu menghilangkan uap air dengan persentasi yang tinggi atau senyawa organik yang mudah menguap. Bila buangan uap ini dapat didinginkan hingga kurang dari 40oC, kuantitas besar air akan dikondensasikan sehingga menurunkan volume gas yang akan dibakar atau diolah. Hal ini memiliki efek mengurangi aliran gas berbau yang akan diolah dan biasanya dicapai dengan suatu kondensor tak langsung. Penghilangan bau dengan kondensasi di ikuti dengan proses-proses penurunan bau lainnya atau menggunakan jenis-jenis peralatan lain seperti wet scrubber, alat penyerap atau insinerasi. Kondensasi uap air dari aliran udara dapat dilaksanakan dengan kondensor langsung maupun tak langsung. Kondensor pendinginan air tak langsung memisahkan air kondensasi atau kondensat bagi air pendingin. Di dalam sebuah kondensor langsung, air pendingin disemprotkan ke dalam aliran udara dan air pendingin tersebut akan dikontaminasikan dengan kondensat berbau. Jika panas, air pendingin yang tercemar tersebut disirkulasikan melalui sebuah menara pendingin dan ada kecenderungan bahwa bau akan dilepaskan ke dalam atmosfer. Dengan sebuah kondensor tak langsung, kondensat yang berbau dipisahkan dari air pendingin dan boleh dibuang ke saluran pembuangan limbah atau ke unit pengolah air limbah. Penggunaan kondensor tak langsung lebih disukai. Proses atau penanganan bau melalui kondensasi adalah sebagai berikut: Ketika uap panas menyentuh media pendingin, panas pun ditransfer dari gas panas ke permukaan pendingin;

ketika suhu aliran uap didinginkan, kinetik rata-rata gas dikurangi; dan pada akhirnya, molekul-molekul gas tersebut berkurang kecepatannya dan berjubel sehingga gaya tarik-menarik antar molekul tersebut menyebabkan mereka mengembun menjadi cairan.

818

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP 87
Lubang

Diagram sebuah kondensor tipikal tak langsung yang dipergunakan untuk mengurangi gas berbau yang jenuh disajikan dalam Gambar 8.2.
Pendingin Uap

Lubang Pendingin Drip plates with weir

Pendingin Uap Uap

Keluaran limbah gas

Keluaran

Keluaran

(a) semprotan
Gambar 8.2
Kondensor tipikal tak langsung dipergunakan untuk mengurangi gas jenuh berbau.

(b) jet

(c) barometric

Pemampatan gas dapat terjadi dengan tiga cara: Pada suatu derajad suhu yang diberikan, tekanan sistem dinaikkan (memampatkan volume gas) sampai tekanan parsial gas menyamai tekanan uapnya.

pada suatu tekanan tetap, gas didinginkan sampai tekanan parsialnya menyamai tekanan uapnya. dalam suatu teknik kombinasi, gas dimampatkan dan didinginkan sampai tekanan parsialnya menyamai tekanan uapnya.

Pertimbangan terhadap penggunaan kondensasi dalam pengendalian bau termasuk di antaranya: Pilihan terhadap kondensasi langsung atau tak langsung;

Keterbatasan untuk mencapai penurunan suhu tinggi; dan Kondensasi dianggap sebagai prapengolahan oleh karena itu pengolahan lain seperti adsorpsi, absorpsi atau insinersi adalah penting untuk menurunkan volume gas total.
Kerugian Efisiensi penghilangan yang relatif rendah terhadap bau bersifat gas

Keuntungan Produk murni (dalam hal kondensor kontak langsung)

OHP 88
Tabel 8.4
Untungrugi Kondensasi dalam hal pengurangan bau.

Air yang digunakan sebagai pendingin dalam suatu Persyaratan untuk kondensor tak langsung (yaitu unit pertukaran panas pendingin bisa sangat dengan pipa atau shell) yang tidak mengalami kontak mahal dengan aliran gas tercemar digunakan kembali setelah pendinginan

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

819
Insinerasi (afterburner) Insinerasi termal terhadap emisi-emisi bau adalah sangat efektif untuk keperluan pemusnahan bau pada suhu tertentu dan masa residensi. Teknik ini mahal baik dari sudut pandang investasi awal maupun biaya pengoperasian dan sangat cocok untuk penghancuran senyawa-senyawa organik. Insinerasi adalah pengoksidasian bau menjadi karbon dioksida dan air melalui pembakaran bau dengan bahan bakar dan udara. Untuk mencapai pembakaran yang sempurna segera setelah udara (oksigen), limbah dan bahan bakar sudah saling kontak, harus disediakan persyaratan berikut: Suhu cukup tinggi untuk membakar campuran sampahbahan bakar;

Pencampuran secara turbulen antara udara dan sampahbahan bakar; dan Masa residensi yang cukup agar terjadi reaksi.

Kata-kata kunci:
scrubber; afterburner.

Pembakaran tak sempurna dari banyak senyawa organik menghasilkan pembentukan aldehida dan asam-asam organik yang dapat menciptakan masalah pencemaran tambahan. Bila ini terjadi, polutan-polutan tersebut mungkin memerlukan beberapa jenis scrubber untuk menghilangkan mereka sebelum dilepas ke atmosfer. Dalam beberapa kasus senyawa lain bisa terbentuk, tergantung pada campuran bahan bakar dan udara yang dipergunakan, suhu nyala api serta komposisi baunya. Senyawa-senyawa ini dapat mengandung karbon monoksida, oksida nitrogen dan oksida sulfur. Adalah penting untuk mengurangi kandungan air dari setiap aliran gas yang memerlukan insinerasi agar konsumsi bahan bakar dapat dikurangi.
Afterburner adalah sebuah dapur berlapis batu tahan api yang

dilengkapi dengan satu atau lebih alat pembakar. Tungku tersebut harus dilengkapi dengan pengontrolindikator suhu dan sebuah alarm suhu tinggi yang terpisah. Sistem pelindung ledakan harus dipasang bila gas berbau tersebut mampu membentuk campuran yang mudah meledak atau bila gas tersebut dipergunakan sebagai bahan bakarnya. Tungku tersebut biasanya terdiri dari dua kamar: bagian pencampuran di mana gas-gas berbau tersebut dicampur dengan bahan bakar tambahan dan dinyalakan dan bagian pembakaran di mana pembakaran disempurnakan. Sebuah afterburner gas duatahap tipikal tersaji dalam Gambar 8.3.

820

Kursus pengelolaan kualitas udara

Pengeluaran gas

OHP 89
Gambar 8.3
Skema sebuah insinerator udara ruangan dua untuk keperluan pengendalian bau. Udara berbau dimasukkan sebagai udara pembakaran primer.
Feed

Ruangan bakar sekunder Pembakar Ruangan bakar primer Pengeluaran debu

Bagian kritis dari sebuah afterburner adalah kontak antara gas-gas berbau dan nyala api. Idealnya, semua udara berbau harus digunakan sebagai udara pembakaran primer atau sekunder. Efisiensi pembakaran akan berkurang seiring dengan berkurangnya kontak antara bau dan nyala api. Sebuah cerobong asap yang cukup tinggi harus dipasang pada afterburner untuk memastikan penyebaran yang sempurna dari hasil produksi pembakaran. Penurunan efisiensi pembakaran bisa timbul karena suatu perubahan volume atau komposisi aliran gas berbau. Masalah bisa timbul pada alat pembakar atau suplai bahan bakar dan hal ini dapat mengurangi efisiensi pembakaran. Cerobong asap yang tinggi akan membantu menyebarkan sisa bau. Ketel atau tungku bisa dimanfaatkan sebagai sebuah afterburner, selama ketel dan tungku tersebut dioperasikan dengan muatan yang layak pada waktu dibutuhkan untuk bertindak sebagai afterburner. Ketel cairan atau ketel bahan bakar gas, yang menyala dengan api kecil untuk jangka waktu cukup lama, tidak akan cukup memuaskan berfungsi sebagai afterburner, kecuali jika sebuah afterburner terpisah dipasang. Ketel bahan bakar batubara dengan stoker kisi-kisi rantai cocok berfungsi sebagai afterburner karena gas-gas berbau dapat ditampung di bawah grate sebagai udara bawah api (lihat Gambar 8.4). Wet scrubbing Scrubbing cair dari gas untuk menghilangkan bau melibatkan absorpsi dalam pelarut yang tepat atau pengolahan kimia dengan reagen yang tepat. Proses ini dikenal sebagai adsorpsi.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

821
Entrained grate Proses pengeringan Overfeed Fuel spout

OHP 810
Underfeed Pengeluaran debu

Gambar 8.4
Skema dari spreader stoker boiler cocok untuk dipakai sebagai sebuah afterburner.

Udara pembakaran

Keuntungan: Kesederhanaan pengoperasian;

Kerugian: Biaya pengoperasian relatif tinggi (terutama yang terkait dengan kebutuhan bahan bakar); Potensi untuk kilas balik dan bahaya ledakan ikutan;

Kemampuan menghasilkan uap atau panas dalam bentuk lain;

OHP 811
Tabel 8.5
Menyajikan untung-rugi Insinerasi dalam hal pengurangan bau.

Kemampuan efisiensi yang tinggi dalam Peracunan katalisator (dalam hal hal pemusnahan odoran organik. insinerator katalis); Pembakaran tak sempurna dapat menciptakan masalah polusi potensial lebih buruk.

Scrubbing menyebabkan terjadinya aliran gas berbau melakukan kontak yang erat dengan cairan scrubbing. Sementara itu pemilihan bahan kimia untuk dipergunakan sebagai cairan scrubbing bergantung pada senyawa berbau yang ada di dalam sumber. Kecuali jika bahan berbau siap larut dalam cairan, maka merupakan keharusan bahwa permukaan cairan dalam jumlah besar diekspos pada gas. Gambar 8.5 menyajikan sistem wet scrubbing yang dapat dipergunakan untuk penerapan pengendalian bau. Telah diisyaratkan bahwa scrubbing cair secara ekonomis jadi menarik dibandingkan dengan insinerasi dan adsorpsi pada karbon aktif bila volume gas berbau yang akan diolah lebih besar daripada 5000 m per jam. Penting kiranya bahwa aliran yang panas dan lembab didinginkan terlebih dahulu sebelum menyentuh larutan scrubbing. Jika hal ini tidak dilakukan, maka larutan scrubbing akan

822
Gas outlet Liquid inlet

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP 812
Entrainment separator (demister) Liquid distributor Packing restrainer Shell Random packing Access manway for packing removal Liquid re-distributor

menjadi panas dan kurang efisien dan media scrubbing akan menjadi cair oleh kondensasi uap air. Jika larutan hipokhlorit dipergunakan, ada kemungkinan khlorin akan hilang dan biaya pengisian ulang menjadi tinggi. Ada pula kemungkinan bahwa bau akan dilepaskan dari larutan scrubbing yang panas. Sistem absorpsi terdiri dari: Scrubber tahapan tunggal yang dapat dipergunakan untuk mengolah udara ventilasi pabrik.
Scrubber tahapan ganda yang paling sering dipergunakan untuk mengolah emisi-emisi proses. Pada sistem tahapan ganda, pemisah ikutan, venturi scrubber dan scrubber jenis semprotan biasanya digabungkan dalam tahap pertama untuk menghilangkan partikulat dan aerosol dari aliran gas agar supaya tahapan-tahapan scrubber selanjutnya menjadi lebih efektif dalam mencapai pemusnahan bau.

Access manway for packing removal Packing support Gas inlet Overflow Liquid outlet

Ragam utama dari peralatan penyerap gas ialah: Menara kemas, di mana fase gas dan cairan mengalir melalui peralatan tersebut secara kontinyu, dengan kontak yang erat sepanjang perjalanannya.

Gambar 8.5a
Kolom kemasan arus balik tipikal dan kolom pelat kap gelembung (Gambar 8.6) dipergunakan untuk keperluan scrubbing bau. Kemasan meningkatkan area kontak permukaan untuk meningkatkan kemungkinan interaksi cairan/gas.

menara pelat atau baki, yang pada hakikatnya merupakan silinder di mana cairan dan gas dipertemukan selangkah demi selangkah (pengoperasian bertahap) di atas pelat atau baki.

menara semprot; dan venturi scrubber.


Kerugian Dapat menciptakan masalah pembuangan air

Keuntungan Penurunan tekanan yang relatif rendah

Dapat mencapai efisiensi transfer massa Produk diambil dalam keadaan basah yang relatif tinggi Modal yang relatif rendah Pengendapan partikulat dapat menyebabkan penyumbatan di bagian dasar atau pelat Biaya pemeliharaan yang relatif tinggi

OHP 814
Tabel 8.6
Untung-rugi wet scrubber dalam upaya mengurangi baru.
Kebutuhan ruang yang relatif kecil Kemampuan untuk mengambil partikulat sebagaimana halnya gas

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

823
Bila gas mengandung hidrogen sulfida maka larutan sodium hidroksida bisa dipakai. Jikalau baunya disebabkan oleh senyawa organik tak jenuh, mungkin perlu untuk menggunakan agen oksidasi seperti khlorin, sodium hipokhlorit, potasium permanganat, ozon atau hidrogen peroksida. Apabila khlorin, sodium hidroksida, sodium hipokhlorit atau ozon yang dipergunakan maka aliran gas yang keluar harus dipantau. Gas yang keluar harus dibuang melalui cerobong, yang harus lebih tinggi dari bangunanbangunan di dekatnya. Hal ini untuk menghindari masalah-masalah terbasuhnya bangunan, yang bisa menyebabkan keluhan bau, terutama bila efisiensi scrubbing-nya menurun. Cerobong akan memberi perlindungan terhadap perubahan proses atau kerusakan peralatan. Beberapa instrumentasi tambahan akan diperlukan pada peralatan kontrol untuk memantau penurunan tekanan scrubber, aliran cairan, tekanan pompa, suhu dan konsentrasi reagen larutan scrubbing.

Gas out Mist eliminator Liquid in Bubble cap

Shell Tray Downspout Tray support ring Tray stiffener Vapour riser Froth

Sidestream withdrawal Internediate feed

Gas path through cap Gas in

Liquid out

Gambar 8.5b
Suatu bubble cap plate column yang tipikal.

OHP 813

Adsorpsi karbon aktif Suatu metode yang sesuai untuk memantau substansi bau, bahkan pada konsentrasi rendah, adalah adsorpsi pada karbon aktif. Molekul-molekul atau ion-ion pada permukaan bau padat dan cair mungkin tidak membuat seluruh kekuatan mereka terpuaskan oleh gaya tarik-menarik partikel lain. Ini dapat dipasang pada arang aktif atau substansi-substansi sejenis.

Pada umumnya ada dikenal dua jenis adsorpsi yaitu: Adsorpsi fisik atau adsorpsi van der waals, hasil dari gaya tarik-menarik kekuatan antar-molekuler antara molekul dari yang padat dengan substansi yang diadsorbsi; dan Adsorpsi kimia dan adsorpsi aktif, hasil interaksi kimia antara substansi keras dan substansi yang diadsorbsi.

Kolom adsorpsi karbon aktif digunakan untuk mengolah emisi bau yang berasal dari sumber-sumber limbah yang melepaskan senyawa sangat berbau seperti H2S. Agar efektif, aliran udara yang tercemar harus bebas dari substansi-substansi (seperti debu) yang mungkin memberati

824

Kursus pengelolaan kualitas udara

partikel-partikel karbon. Jumlah gas (atau uap) yang diadsorbsi oleh unsur padat bergantung pada: Sifat adsorben;

sifat gas yang diadsorbsi; area permukaan adsorben; dan suhu dan tekanan gas.

Empat adsorben penting yang dipergunakan secara luas dalam industri akan dipelajari secara singkat, yaitu: Karbon aktif (yang paling lazim digunakan);

Alumina aktif; gel silika; dan saringan molekuler.

Aplikasi biasa untuk adsorpsi arang aktif tersaji dalam Gambar 8.6. Biaya penggantian karbon bisa tinggi karena sistem-sistem yang sederhana hanya menggunakan karbon untuk sekali pakai saja. Sistem-sistem yang lebih kompleks dan mahal memungkinkan terjadinya regenerasi karbon untuk penggunaan berulang. Regenerasi tersebut dapat menghasilkan air limbah yang memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang atau aliran uap konsentrasi yang dapat diinsinerasi secara lebih murah dibandingkan dengan aliran udara aslinya.
Gas tercemar masuk

OHP 815
Activated carbon beds gas bersih keluar

Gambar 8.6
Adsorber arang aktif. Adsorber karbon menghilangkan VOC, uap dan lain-lain bau industri yang berasal dari aliran buangan pengering, oven, alat panggangan, tanah, sistem ventilasi dan lainlain alat pemrosesan industri .

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya


Keuntungan Perbaikan produk dimungkinkan Pengendalian dan respon yang bagus terhadap perubahan proses Kerugian

825

Perbaikan produk bisa membutuhkan distilasi yang eksotik dan mahal Adsorben secara progresif rusak kemampuan kapasitasnya ketika jumlah siklus meningkat Regenerasi adsorben membutuhkan sumber uap atau vakum Biaya modal relatif tinggi

OHP 816

Tidak ada masalah pembuangan kimiawi apabila polutan (produk) dipulihkan dan dikembalikan ke dalam proses Kemampuan sistem untuk menyediakan otomasi penuh Kemampuan untuk menghilangkan odoran bersifat gas atau uap dari aliran proses ke tingkat yang sangat rendah

Tabel 8.7
Menyajikan untung-rugi adsorber arang aktif dalam hal pengurangan bau.

Biofiltrasi Filter-filter kimia karbon aktif dan scrubber mungkin tidak layak dilaksanakan atau tidak ekonomis untuk digunakan sebagai pengendali bau oleh karena merupakan bagian dari sejumlah besar gas yang perlu diolah. Selama tahun 1960-an, metode-metode pengendalian bau yang lebih praktis mempergunakan teknologi pengolahan biologis, seperti lapisan dasar tanah dan biofilter yang dibungkus dengan kulit pinus atau bahan-bahan pembusuk, telah dikembangkan. Prosedur biofiltrasi adalah mirip dengan scrubbing kimiawi, kecuali bahwa dalam biofiltrasi, bau dihilangkan dengan aksi bakterial. Reaksi-reaksi fase-uap bisa juga terjadi dengan senyawasenyawa kimia tertentu yang mengurangi intensitas bau dengan memproduksi lebih sedikit unsur-unsur pokok bau, mirip reaksi dengan oksidan kimiawi. Gambaran skematik dari filter bau biofiltrasi disajikan dalam Gambar 8.7. Bakteri yang tumbuh pada alas tak bergerak, memungkinkan terjadinya kontak erat antara gas berbau dengan bakteri tersebut. Proses itu bersifat mandiri. Dalam industri-industri biologis (misalnya, pengolah pupuk hewani) adalah biasa menempatkan biofilter setelah kondensor. Biofilter memerlukan perhatian yang saksama guna memastikan pengoperasian yang berkelanjutan. Alas penopangnya mungkin harus diganti secara teratur karena kegagalan mekanik. Pada awal tahun 1990-an, karya dalam skala laboratorium atas sistem-sistem saringan bioscrubber dan biotrickling telah dilaporkan secara ekstensif. Secara umum, biofilter memberikan

826

Kursus pengelolaan kualitas udara

Typical biofilter

LIT #1 BED #1

OHP 817
LIT #2 BED #2 Clean gaz to atm.

SLA

Gambar 8.7
Skema biofilter tipikal untuk pengendalian jika sumber industri berbau.
Conditioning section Biofilter section

solusi yang lebih efektif untuk diterapkan dalam aplikasi praktek meskipun muatan alirannya rendah. Sistem filter bioscrubber dan biotrickling keduanya berguna pada skala laboratorium untuk kegunaan alat-alat eksperimental. BiofilterFilter dibungkus dengan media organik yaitu organisme mikrobiologis residen. Sistem ini memerlukan prakondisi limbah gas untuk meningkatkan kandungan cairan. Dalam sejumlah aplikasi, pengasaman dari media filter tersebut bisa naik dengan digunakannya filter dan sehingga menurunkan kinerja. Kinerja filter bisa pula dipengaruhi oleh fluktuasi dalam konsentrasi kimia dalam aliran gas. Lebih lanajut, kesulitan mungkin dialami dalam menghadapi patogen yang dibangkitkan dalam filter biologis.

Filter biotricklingfilter dibungkus dengan media anorganik yang membutuhkan inokulasi dengan mikroorganisme eksternal selama penghidupan filter biotrickling tersebut. Sistem ini bisa menghindari masalah terlahirnya patogen-patogen dari bahan pembusuk tersebut di atas dan menurunkan biaya modal dari sistem biofilter ini. Penyumbatan filter ditemukan sebagai kelemahan besar bagi teknik filter biotrickling. Tingkat kinerja yang tinggi selama perjalanan waktu telah dapat dicapai. Percobaan-percobaan laboratorium dengan mempergunakan sistem filter biotrickling ini telah menunjukkan bahwa teknik tersebut menjanjikan dan menawarkan prospek-prospek nyata dengan pengembangan lebih lanjut. Bioscrubberpersiapannya hampir sama dengan filter biotrickling tetapi biodegradasi bahan kimia berbau terjadi dalam tangki terpisah yang terletak setelah media filter.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

827
Sistem ini telah berhasil memperbaiki tingkat kecepatan transfer massa polutan cair, sementara tingkat kecepatan tetesan yang tinggi dapat diterapkan guna mengurangi kemungkinan obstruksi. Namun, efisiensi dari sistem ini masih membutuhkan pengembangan substansial lebih lanjut. Modifikasi bau Modifikasi bau meliputi penambahan senyawa bau agar supaya mengubah intensitas bau atau mengubah sifat bau menjadi sesuatu yang kurang ditolak. Unsur samaran ini mengubah sifat bau, namun menaikkan intensitas bau yang ada secara keseluruhan.

OHP 818

Penyebaran Dilusi emisi-emisi bau dengan udara atmosfer adalah suatu metode pengendalian bau yang mungkin bisa berhasil dilaksanakan di bawah persyaratan khusus dari lembaga meteorologi dan topografi. Penciptaan model dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan kemungkinan efektifnya teknik ini. Hidung manusia mampu mendeteksi bau gas berbau yang berlangsung sesingkat satu atau dua detik. Untuk jangka waktu yang sangat singkat tersebut konsentrasi gas dalam sebuah bulu yang menyebar bisa naik hingga sepuluh kali lebih tinggi daripada nilai desain rata-rata masa tiga menit. Penyebaran emisi-emisi bau via sebuah cerobong asap tidak direkomendasikan kecuali jika sumber emisi tersebut dikuantifikasi secara layak oleh sebuah pengujian panel bau. Hasil-hasil sebuah pengujian panel bau perlu memberikan jumlah dilusi (unit bau) yang dibutuhkan untuk menyebarkan sumber bau hingga tingkat di bawah ambang konsentrasi bau bagi 50 persen panel bau (disingkat sebagai TOC50%). Biasanya tidaklah praktis untuk menyebarkan lebih daripada 200 unit bau per meter kubik per detik dari aliran pipa buang tanpa cerobong yang didesain secara benar. Laboratorium Warren Spring di Inggris menyarankan teknik berikut untuk menaksir tingginya cerobong asap yang tidak benar hu. hu = (0. 1 DQ). di mana D adalah jumlah dilusi atau unit bau yang dibutuhkan untuk menyebarkan sumber emisi ke TOC50% dan Q adalah laju aliran volumetrik dalam m/s pada OoC dan 760 mm Hg. Lambang yang ekuivalen adalah: hu = (0. 1 Mo/TOC50%)0.5

828

Kursus pengelolaan kualitas udara

di mana Mo adalah laju emisi massa dari gas berbau dalam g/s dan TOC50% memiliki unit g/m3. EPA atau badan-badan yang ekuivalen di seluruh dunia telah memanfaatkan ciptaan model komputer untuk menetapkan ukuran cerobong bagi keperluan situasi khusus seperti emisi bau. Lebih dari 30 model komputer telah tersedia, termasuk yang ada dalam paket US EPA UNAMAP versi 5 dan model AUSPLUME, yang telah dikembangkan di Australia. Semua model ini membutuhkan informasi meteorologi dan bantuan tenaga ahli.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

829

5. MODEL BAU SEBAGAI ALAT PENGATUR


Polutan udara berbau sering dianggap penting utamanya karena nilai gangguan mereka dan jumlah keluhan yang mereka timbulkan. Hanya beberapa kasus efek gangguan kesehatan yang didokumentasikan berdasarkan persyaratan fisiologis yang terukur. Namun, bau yang dideteksi dari proses biologis bisa menunjukkan pencemaran udara oleh patogen. Banyak senyawa di bawah tingkat deteksi bau kini dianggap berbahaya berkat hasil studi penilaian risiko (misalnya bensena). Model-model penyebaran bau bisa dipergunakan untuk memprediksi konsentrasi bau yang akan dihasilkan dari sumber pencemaran bau, terhadap setiap kondisi meteoroligis tertentu, setiap lokasi, setiap waktu. Model tersebut menirukan proses penyebaran bau dan menyediakan terciptanya suatu hubungan antara bau yang ditimbulkan pada suatu sumber dan konsentrasi bau dalam udara yang dialami oleh penerima. Mengenai polutan-polutan udara lainnya, konsentrasi bau bisa dibuat model dengan mempergunakan model-model penyebaran yang telah ada seperti misalnya Ausplume dan ISC3. Model-model penyaringan, seperti Screen, hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sumber tunggal dengan data meteorologis yang disederhanakan.

Model-model pengatur, seperti ISC3 dan Ausplume, dipergunakan luas untuk keperluan perizinan polutan lainnya; Model-model fisik khusus, seperti Inpuff, Auspuff, menghendaki tingkat masukan data meteorologis yang sangat tinggi dan informasi lokasi serta dibutuhkan sumbersumber daya yang besar untuk melakukan kalkulasi pembuatan model penyebaran.

Ada beberapa kerugian atas penggunaan model-model pengatur. Keluaran model tersebut mungkin tidak menyajikan keadaan sesungguhnya atau menjelaskan tingkat konsentrasi bau pada waktu keluhan bau diteirma, tetapi lebih merupakan angkaangka artifisial yang: dapat dibandingkan dengan situasi sejenis lainnya atau

dapat dikonfirmasikan dengan standar dampak bau

Teknik semacam itu membatasi tanpa selengkap data meteorolgis yang relevan dan ekstensif. Keluaran tipikal dari suatu model yang diterapkan terhadap prediksi bau disajikan dalam Gambar 8.8.

830

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP 819

Gambar 8.8
Keluaran model tipikal dari model ausplum menunjukkan kontur bau yang diprediksi untuk penentuan panel bau. Penilaian bau tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah model Pengatur yang menghitung penurunan kekuatan bau berdasarkan data dari cuaca yang berlaku (utamanya kecepatan dan arah angin).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

831

6. SENYAWA DAN SUMBER BAU


Sejumlah sektor industri membuka kemungkinan terhadap produksi yang tidak pada tempatnya disebabkan oleh sifat pengoperasian mereka. Beberapa dari hal tersebut dibahas dalam bagian ini. Industri bubur kertas (pulp) dan kertas Uraian dan praktek industri Bubur kertas dan kertas dibuat dari bermacam-macam bahan yang mengandung serat, biasanya dari kayu, kertas daur ulang dan residu pertanian. Di negara-negara berkembang, kira-kira 60% dari serat selulosa berasal dari bahan mentah non-kayu seperti ampas tebu, jerami gandum, bambu, buluh, rumput esparto, goni, rami dan sisal (serat nanas).
Langkah-langkah utama pembuatan bubur kertas dan kertas

OHP 820

adalah: Persiapan bahan mentah;


pembuatan bubur kertas; pemutihan bubur kertas; dan pembuatan kertas.

Pabrik bubur kertas dan pabrik kertas dapat dibangun secara terpisah atau sebagai operasi-operasi terpadu. Bubur kertas yang dibuat digunakan sebagai sumber selulosa untuk serat sintetis atau untuk diubah menjadi kertas atau kertas karton.
Pembuatan bubur kertas (pulp) dimulai dengan persiapan

bahan baku yang meliputi pengelupasan kulit pohon (dalam hal pohon digunakan sebagai bahan mentah), pemotongan dan proses-proses lain seperti pemisahan inti (misalnya, dalam hal ampas tebu digunakan sebagai bahan baku)
Bubur kertas selulosa dibuat dari bahan baku yang meng-

gunakan cara-cara mekanik atau kimia dan mekanik. Pembuatan bubur kertas untuk dijadikan kertas dan kertas karton mempergunakan metode-metode mekanik, kimia-mekanik dan metode kimia. Pembuatan bubur kertas secara mekanik mempergunakan metode abrasi cakram atau bilet;
proses kimia-mekanik

melibatkan abrasi mekanik;

832

Kursus pengelolaan kualitas udara


pengoperasian mekanik termal

dan penggunaan bahan

kimia; dan
bubur kertas secara kimia

dibuat dengan cara memasak (menghancurkan) bahan mentah dengan menggunakan proses Kraft (sulfat) dan sulfit.

Proses Kraft menghasilkan berbagai macam bubur kertas

yang utamanya digunakan untuk kertas kemasan dan kertas berkekuatan tinggi. Skema proses Kraft diperlihatkan dalam Gambar 8.9 di bawah. Bubur kertas juga disebut bahan coklat (brownstock), dicuci dengan air guna menghilangkan cairan masakan (hitam) guna bahan kimia. Bubur kertas juga bisa dibuat dari kertas daur ulang yang sudah dibuang tintanya.
Pemutihan seringkali mengikuti pembuatan bubur kertas .

OHP 821
Gambar 8.9
Proses manufaktur bubur kertas Kraft.

Tujuan utama pemutihan adalah untuk memisahkan lignin dari selulosa. Lignin menyebabkan kertas menjadi lemah, kurang terang dan umurnya lebih singkat. Unsur pemutih yang paling sering digunakan untuk bubur kertas mekanik adalah peroksida dan hidrosulfit. Pada pemutihan bubur kertas kimia, digunakan khlorin, kalsium atau sodium hipokhlorit dan khlorin dioksida. Penggunaan khlorin berakibat

Chips
Digester

Condenser

Vent gases Blow gases


Condenser

COOKING LIQUOR

Condensate

Evaporator gases Foul Condensate To stack ESP


Concentructor

PULP PULP MILL VENT GASES LIQUOR

Blow tank

Hotwell

Brownstock washers
Evaporator

Flue gas Dust recycle Mix tank Heavy black liquor NDCE Dryng Recovery zone purnace VENT GASES

Weak liquor Screens

Vent gases Venturi scrubber lime Lime sludge Lime kiln Slaker

Washed pulp TO BLEACH PLANT OR PAPER MILL

makeup LIQUOR saltcake Char bed Smelt Combustion air Green liquor

Water

Smelt dissolving tank Causticizer Clarifier WHITE LIQUOR TO DIGESTER

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

833
pada organik-organik yang mengandung khlorin, seperti dioksin, di dalam aliran air. Alkali (utamanya kaustik soda), kadang-kadang dikombinasikan dengan oksigen, dipergunakan untuk menghilangkan bahan-bahan khlorin. Oksigen prapemutihan menghilangkan lignin dari selulosa tetapi oksigen tersebut menyerang selulosa sehingga mengakibatkan berkurangnya hasil serat. Substitusi khlorin dengan khlorin dioksida, dalam sejumlah kasus kombinasi dengan peroksida (seperti peroksida hidrogen), dapat menghilangkan penggunaan unsur khlorin. Enzim (seperti silanas bebas selulose) juga dipergunakan sebagai substitusi bagi agen-agen pemutih berintikan khlorin. Penghilangan air dari bubur kertas diawali setelah memasak dan meneruskan melalui tahapan-tahapan selanjutnya. Di pabrik yang memproduksi bubur kertas untuk kemudian dikirim dengan kapal laut, pembuangan air dilakukan setelah proses pemutihan.
Kertas dan kertas karton dibuat dari bubur kertas melalui

pengendapan serat dan filler dari suspensi cairan pada alat pembentuk yang bergerak yang juga berlaku menghilangkan air dari bubur kertas. Air yang tinggal di dalam jaring basah dihilangkan dengan menekan dan akhirnya dengan cara mengeringkan, terhadap serangkaian silinder berongga yang dipanasi (misalnya rol kalendar). Bahan kimia aditif ditambahkan demi memberikan unsur tertentu pada kertas, sementara pigmen bisa dibubuhkan untuk memberi warna. Sifat-sifat limbah Dampak lingkungan yang signifikan dari pembuatan bubur kertas dan kertas dihasilkan oleh proses pembuatan bubur kertas dan proses pemutihan. Dalam proses tersebut, senyawa sulfur dipancarkan ke udara, sedangkan senyawa khlorin dan organik dibuang ke dalam air limbah.
Emisi udara

Dalam proses pembuatan bubur kertas Kraft, emisi senyawa sulfur yang direduksi total dan berbau sangat memuakkan, (TRS) termasuk metil merkaptan dan dimetil sulfida, ditimbulkan, secara tipikal pada laju kecepatan 0,05 kg/ton bubur kertas yang dikeringkan dengan udara. Sumber odoran utama adalah: Dari cairan Kraft (penghancur);

tungku perbaikan Kraft; tangki pelarut bau; dan dapur kapur.

834

Kursus pengelolaan kualitas udara

Laju kecepatan produksi tipikal lainnya adalah: hidrogen sulfida 6,4 kg/ton, sulfur oksida 2,7 kg/t dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dari oksidasi cairan hitam, 15 kg/ton. Dalam proses pembuatan bubur kertas sulfit, sulfur oksida diproduksi pada laju kecepatan 31 kg/ton. Proses pembuatan bubur kertas lainnya seperti proses mekanik dan proses termomekanik secara signifikan menghasilkan kuantitas emisi udara yang lebih rendah. Dalam pengoperasian pemutihan berintikan khlorin, elemen khlorin dan khlorin dioksida dihasilkan pada laju kecepatan 0,2 hingga 0,4 kg/ton. Unit-unit pembangkit tenaga uap dan listrik yang menggunakan batubara atau bahan bakar minyak menghasilkan emisi-emisi asap terbang, sulfur oksida dan nitrogen oksida. Pembakaran batubara dapat memancarkan asap terbang pada laju kecepatan 100 kg/ton ADP . Limbah padat Limbah padat yang menjadi sumber keprihatinan termasuk di antaranya adalah lumpur pengolahan air limbah (50 sampai 50kg/ton ADP). Selain itu adalah limbah kertas, yang dapat didaur ulang dan kulit kayu, yang dapat dipergunakan sebagai bahan bakar. Pencegahan dan pengendalian pencemaran Isu lingkungan yang paling signifikan adalah penggunaan khlorin dalam pemutihan serta pembuangan cairan hitam. Perkembangan industri yang telah terjadi menunjukkan bahwa pemutihan bebas khlorin total dapat dilaksanakan bagi banyak produk bubur kertas dan kertas tetapi tidak dapat memproduksi kertas dengan mutu tertentu. Program pencegahan pencemaran harus difokuskan pada pengurangan dampak pembuangan air limbah dan pada pengurangan emisi-emisi udara. Perubahan proses bisa mencakup hal-hal berikut ini: Menggunakan proses pembuatan bubur kertas secara mekanik atau termo-mekanik bilamana layak dilakukan.

Mengurangi tuntutan persyaratan pemutihan dengan rancangan dan pengoperasian proses. Mengambil tindakantindakan berikut ini untuk mengurangi emisi-emisi senyawa khlorin terhadap lingkungan:

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

835

Mengurangi kandungan lignin dalam kandungan bubur kertas sebelum pelaksanaan pemutihan dengan perpanjangan delignifikasi pada waktu proses masak atau pra-pemutihan dengan oksigen di bawah tekanan tinggi atau dengan kombinasi dari kedua metode tersebut. Mengoptimasikan pencucian bubur kertas sebelum pemutihan. Menggunakan sistem pemutihan bebas khlorin total atau bebas khlorin elemental bilamana layak untuk dilakukan. Menggunakan oksigen, ozon, peroksida (hidrogen peroksida) atau enzim-enzim (silanase bebas selulosa) sebagai pengganti untuk sistem pemutihan dengan basis khlorin. Dalam hal diperlukan pemutihan dengan khlorin, kurangi muatan khlorin pada lignin dengan cara mengendalikan pH dan dengan memisah tambahan khlorin. Pada batas minimum, dilakukan substitusi parsial dari khlorin oleh khlorin dioksida pada tahap khlorinasi.

Mengurangi emisi-emisi sulfur pada atmosfer dengan tindakan-tindakan sebagai berikut:


Menggunakan masakan pengganti (menginjeksikan cairan hitam dingin sebelum meniup bubur kertas dari unit penghancur) guna mengurangi emisi TRS. Menggunakan oksidasi cairan hitam guna mengurangi emisi TRS dari tungku .

Teknologi pengolahan Emisi-emisi oksida sulfur digosok dengan sedikit larutan alkalin. Gas TRS diambil dengan menggunakan peralatan header, kap dan ventilasi. Kondensat dari penguapan cairan hitam dilepaskan dari TRS dan diinsinerasi di dalam sebuah dapur kapur atau unit pembakaran lainnya. Presipitator elektrostatis digunakan untuk mengendalikan pelepasan bahan partikulat ke atmosfer. Secara normal alat-alat pembakaran dioperasikan pada suhu di atas 1.100C. Langkah-langkah pengolahan limbah padat termasuk di antaranya adalah penghilangan air dan pembakaran di dalam insinerator, bark boiler atau utility boiler bersama-sama dengan bahan bakar fosil.

836

Kursus pengelolaan kualitas udara

Persyaratan emisi udara Emisi udara dari pembuatan bubur kertas dan kertas harus mencapai tingkat yang disediakan dalam Tabel 8.8.
Parameter Bahan partikulat Hidrogen sulfida Sulfur dioksida Total sulfur Pabrik sulfit Kraft dan lainnya Khlorin Nitrogen oksida 2.0 kg/ton ADP 1.5 kg/ ton ADP 20 ppm (0.2 kg/ton ADP) Nilai maksimum 50 mg/Nm 15 mg/Nm 800 mg/Nm

OHP 822
Tabel 8.8
Emisi udara dari pembuatan bubur kertas dan kertas.

Bahan bakar gas Bahan bakar cair Bahan bakar padat VOC

86 mg/J 130 mg/J 260 ng/J 20 mg/Nm (15 kg/ton ADP)

Limbah padat Limbah padat harus dimasukkan ke dalam alat pembakaran atau dibuang dengan cara sedemikian rupa agar menghindari timbulnya bau dan pelepasan organik beracun terhadap lingkungannya. Persyaratan emisi yang diberikan di sini dapat dicapai secara konsisten dengan sistem pengendalian pencemaran yang dirancang dengan baik, dioperasikan dengan baik dan dipelihara dengan baik. Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewani Industri, uraian dan praktek Industri ini meliputi: Penyembelihan hewan ternak dan unggas;

pemrosesan hewan sembelihan menjadi produk-produk daging (diawetkan, dikalengkan dan sebagainya); dan pembuatan pupuk dari sisa-sisa yang tidak dapat dimakan dan dibuang dijadikan produk sampingan yang berguna seperti lemak babi dan minyak.

OHP 823

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

837
Non-condensable gases

Dead stock carcasses Shop fat and bone Entrainment separator Raw Material receiving Crusher Screw press vent Steam -25 -75 PSI Blow tank Cooker Percolator drain pan Screen Screw press fat Protein meal storage hopper Pressed cracklings Oversize Grinder Screen Unpressed tankage Screw press Exhaus vapor Condenser To sewer Odor control system

Jacket condensate Precoat leaf filter Centrifuge Animal fat storage tank Solids to screw press Free run fat

Crude animal fat tank

Gambar 8.10
Skema dari batch cooker tipikal dari pengolah pupuk hewani.

Sebuah proses yang berjangkauan luas digunakan. Suatu skema alat batch cooker tipikal dari proses pengolah pupuk hewani disajikan dalam Gambar 8.10. Sifat-sifat limbah Pembuatan pupuk hewani adalah suatu proses yang menyebabkan penguapan yang menghasilkan aliran kondensat dengan bau yang busuk.

Industri daging, memiliki potensi untuk: Menimbulkan limbah padat dalam jumlah besar; air limbah dengan BOD tipikal, tingkat 600mg/l (ini bisa naik hingga 8,000 mg/l) dan tingkat kepadatan ditangguhkan 800mg/l dan yang lebih tinggi; memiliki potensi untuk menghasilkan bau yang mengganggu; menghasilkan limbah yang mungkin mengandung patogen, termasuk bakteri Salmonela dan Shigela, telur parasit dan kista amuba;

838

Kursus pengelolaan kualitas udara

limbah dan produk samping yang mungkin mengandung sisa pestisida yang muncul dari perawatan hewan atau makanannya; dan tingkat khlorida bisa jadi sangat tinggi (hingga 77.000 mg/l) yang terjadi karena proses pengawetan.

Jumlah dan kekuatan limbah dapat dikurangi dengan praktekpraktek yang baik seperti: Mengeringkan pembuangan limbah padat; dan

menyediakan saringan pada saluran pengambilan air limbah

Pencegahan dan pengendalian pencemaran Pemisahan produk dari limbah pada setiap tahapan adalah penting guna meningkatkan produk dan mengurangi muatan limbah. Bahan-bahan yang ditangani semuanya dapat membusuk, oleh karena itu, kebersihan adalah penting. Pengelolaan air harus mencapai kebersihan bebas limbah yang disyaratkan.
Tindakan pencegahan dalam pabrik seperti hal berikut ini

dapat dipergunakan untuk mengurangi gangguan bau dan timbulnya limbah padat dan cair dari proses produksi: Memperbaiki dan memproses darah menjadi produk samping yang berguna;

Memproses perut besar dan usus dan memanfaatkan lemak serta bagian-bagian yang perlu dibuang; mengurangi konsumsi air dalam proses produksi, misalnya, menggunakan keran dengan mempergunakan sumbat otomatis, penggunaan tekanan air tinggi dan perbaikan tata letak proses.

menghilangkan transportasi (pemompaan) limbah (misalnya, usus dan bulu) guna mengurangi konsumsi air; mengurangi muatan limbah cair dengan cara mencegah seluruh limbah padat dan semua cairan konsentrasi agar tidak memasuki aliran limbah; menutup saluran pengumpul di dalam wilayah produksi dengan kisi-kisi guna mengurangi jumlah bahan padat yang masuk ke dalam air limbah; memisahkan air pendingin dari proses dan air limbah dan mengedarkan ulang air pendingin; melakukan pembersihan kering pendahuluan terhadap peralatan dan wilayah produksi sebelum melakukan pembersihan basah;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

839

melengkapi jalan keluar saluran air limbah dengan saringan dan perangkap lemak, guna memperbaiki dan mengurangi konsentrasi bahan kasar dan lemak di dalam aliran air limbah gabungan; mengoptimasikan penggunaan deterjen pembersih dan disinfektan di dalam air pencuci; memindahkan pupuk kandang dari halaman penyimpanan stok dan dari pemrosesan usus dalam bentuk padat; membuang rambut dan tulang ke unit pengolah pupuk hewani; dan mengisolasi dan memberi ventilasi semua sumber emisi bau.

Pengurangan bau adalah isu pencemaran udara yang terpenting pada pabrik pengolah pupuk hewani dan dapat dicapai dengan: Mengurangi stok bahan baku dan menyimpannya di dalam tempat yang dingin, berventilasi baik yang tertutup;

melaksanakan pasteurisasi bahan baku sebelum pemrosesan guna menghentikan proses biologis yang menimbulkan bau; memasang semua peralatan di dalam ruang tertutup dan mengoperasikannya dengan vakum parsial atau total; dan menjaga agar seluruh wilayah kerja dan penyimpanan dalam keadaan bersih.

Tabel yang berikut memberikan profil bau sulfida-sulfida.


Profil bau metil merkaptan, dimetil sulfida Metil merkaptan (CH3SH) (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 48 Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0.0005 ppm. Ambang pengenalan terhadap emisi sumber industri = 0.001 ppm. Bau metil merkaptan dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari metil merkaptan = 0,02 ppm menurut KEPMEN-KEP50/MENLH/11/1996. Dimetil sulfida (CH3)2S (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 62 Sifat mudah menguap = 830 ppm. Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0,001 ppm. Ambang pengenalan dalam emisi sumber industri = 0.001 ppm Dimetil sulfida (CH3)2S dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari dimetil sulfida (CH3)2S = 0.01 ppm menurut KEPMEN KEP50/MENLH/11/1996.

OHP 824

840

Kursus pengelolaan kualitas udara

Teknologi pengolahan Air limbah cocok untuk pengolahan biologis dan (kecuali untuk air limbah bekas pengolahan pupuk hewani yang sangat berbau) dapat dibuang ke dalam sistem saluran pembuangan air limbah milik kotapraja bila ada kapasitas untuk itu atau sebaliknya bila diolah dan dilepaskan ke lingkungan setelah mencapai standar pembuangan yang layak. Persyaratan emisi udara Pengendalian bau harus dilaksanakan, bila perlu, guna mengurangi dampak bau kepada penghuni di dekatnya. Pabrik pupuk nitrogen Deskripsi industri dan praktek Reviu ini merujuk pada produksi amonia, urea, amonium sulfat, amonium nitrat (AN), kalsium amonium nitrat (CAN) dan amonium sulfat nitrat (ASN). Pembuatan asam nitrik digunakan untuk memproduksi pupuk nitrogen secara tipikal pada lokasi dan oleh karena itu diadakan pembahasan. Amonia
Stok bahan untuk amonia diperoleh dari nitrogen dalam

udara dan sumber hidrokarbon. Gas alam adalah yang paling lazim dipergunakan sebagai stok bahan hidrokarbon untuk pabrik baru namun, stok bahan lainnya yang telah dipergunakan meliputi naphtha, minyak dan arang gas. Skema pabrik amonia tipikal disajikan dalam Gambar 8.11. Produksi amonia dari gas alam meliputi proses-proses sebagai berikut: Desulfurisasi stok bahan;

reform primer dan sekunder; konversi shif karbon monooksida dan pengeluaran karbon dioksida (yang dapat dipergunakan untuk pembuatan pupuk urea); metanasi; dan sintesis amonia.

Katalisator yang dipergunakan dalam proses bisa meliputi: kobalt, molibdenum, nikel, oksida besi/oksida khrom, oksida tembaga/oksida seng dan besi.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

841
Hydrotreater ZnO guard chamber

Natural gas Vapour Primary reformer

Desulfurizer Air Secondary reformer

High temperature shift converter

CO2 absorber
Lean Bendfield solution Rich Bendfield solution

Process condensate
To off site

NH3 gas Compression system Ammonia separator

Stripper NH3 (cair)

CO2

To urea plant

Methanator

Purification and NH3 (30C) refrigeration To urea plant NH3 (-33C)


To urea plant

Gambar 8.11
Diagram aliran skematik dari proses manufaktur amonia.

Urea Pupuk urea diproduksi dengan cara mereaksikan amonia cair dengan karbon dioksida.
Langkah-langkah proses ini meliputi:

Sintesis larutan di mana amonia dan karbon dioksida bereaksi guna membentuk amonium karbonat yang didehidrasi untuk membentuk urea; konsentrasi larutan (dengan: vakum, kristalisasi atau evaporasi untuk menghasilkan pencairan); pembentukan bahan padat dengan prilling atau granulasi; pendinginan bahan padat dan penyaringan; pelapisan bahan padat; dan pengantongan dan/atau pengisian bahan curah.

OHP 825

Skema pabrik pupuk urea disajikan dalam Gambar 8.12. Karbon dioksida untuk pembuatan pupuk urea biasanya berasal dari pabrik amonia.

842
Ammonia (NH3) gas

Kursus pengelolaan kualitas udara

NH3 CO2

Synthetic section

Decomposition section

Granulation section

OHP 826
Ammonium Carbamat solution Recovery section Mother liquor Fertiliser particulates

Gambar 8.12
Skema diagram aliran dari proses pembuatan pupuk urea.

Amonium, sulfat (as) AS diproduksi sebagai: produk samping kaprolaktam dari industri petrokimia

sebagai produk samping kokas; dan secara sintetis dari reaksi amonia dengan asam sulfur.

OHP 827

Hanya produksi sintetis yang dibahas di sini. Reaksi antara amonia dan asam sulfur menghasilkan suatu larutan AS yang secara kontinyu disirkulasikan melalui sebuah evaporator untuk mengentalkan dan menghasilkan kristal amonium sulfat. Kristal tersebut dipisahkan dari cairan yang ada di dalam centrifugal dan setelah itu cairan tersebut dikembalikan ke dalam evaporator. Kristalnya dimasukkan ke pengering dengan dasar basah atau pengering drum putar dan disaring sebelum pengantongan dan/atau dimuat secara curah. Amonium nitrat (an), kalsium amonium nitrat (kan), amonium sulfat nitrat (asn) AN diproduksi dengan cara menetralkan asam nitrik dengan amonia tanpa air. 83% hasil larutan AN dapat dijual apa adanya, pada umumnya dicampur dengan urea atau bisa lebih jauh dikonsentrasikan menjadi 9599,5% larutan (mencair) dan diubah menjadi prill atau butiran. Langkah-langkah pembuatannya meliputi: Pembentukan larutan;

konsentrasi larutan; pembentukan bahan padat; penyelesaian akhir bahan padat; penyaringan;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

843

pelapisan; dan pengantongan dan/atau pengapalan secara curah.

Langkah-langkah pemrosesan bergantung pada produk akhir yang diinginkan. CAN dibuat dengan cara menambahkan dolomit ke dalam pencairan AN sebelum menjadi prill atau butiran, sementara ASN dibuat dengan cara membuat larutan AN dan AS menjadi butiran. Asam nitrik Tahap-tahap produksi pembuatan asam nitrik meliputi: Penguapan amonia diikuti dengan pencampuran dengan udara dan pembakaran campuran tersebut dilakukan pada sebuah katalisator platina/rodium;

pendinginan nitrik oksida (NO) yang dihasilkan dan mengoksidasikannya menjadi nitrogen dioksida (NO2) dengan oksigen residu; dan penyerapan (NO2) di dalam air dalam kolom absorpsi guna memproduksi asam nitrik (HNO3).

Sifat-sifat limbah
Emisi-emisi udara

Emisi dari pabrik amonia terhadap atmosfer meliputi: Oksida sulfur, nitrogen dan karbon;

Hidrogen sulfida; Senyawa organik mudah menguap; Partikulat; Metan; Hidrogen sianida; dan Amonia.

Polutan-polutan berikut dipancarkan dari: pemindahan pembuatan gas;


Regenerasi alas desulfurisasi; pembakaran bahan bakar di reformer primer; regenerasi larutan scrubbing karbon dioksida; dan kondensasi proses pembuangan uap.

Pabrik gasifikasi bahan bakar minyak dapat menimbulkan hidrogen sianida.

844

Kursus pengelolaan kualitas udara

Gas cerobong dari reformer primer dapat memiliki konsentrasi NOx dari 200450 mg/m3, konsentrasi sulfur dioksida (SO2) dari 0,1 hingga 2 mg dan konsentrasi karbon monoksida (CO) dari <10 mg/m3. Konsentrasi SO2 tersebut akan secara signifikan lebih tinggi jika bahan bakar selain gas alam dipergunakan. Di pabrik pupuk urea, bahan partikulat dan amonia adalah emisi yang memprihatinkan.
Partikulat merupakan polutan udara utama yang dipancarkan

dari pabrik amonium sulfat. Sebagian besar ditemukan dalam buangan gas pengemudi. Pembuangan partikulat yang tidak terkontrol bisa jadi kurang lebih 23 kg/t dari pengering putar dan 109 kg/t dari pengering dengan dasar basah. Tangki penyimpanan amonium bisa melepaskan amonia. Selain itu, mungkin terjadi kehilangan fugitif amonia dari peralatan proses.
Amonia profil bau (NH3) Sifat-sifat odoran gas Tak berwarna Bobot melekul = 17 Ambang deteksi dari emisi sumber industri = 17 ppm Ambang pengenalan dari emisi industri = 37 ppm Standar bau Amonia di Indonesia = 2,0 ppm menurut KEPMEN: KEP50/MENLH/11/1996 Bau amonia dikaitkan dengan bau busuk air kencing Efek terhadap manusia adalah pedas dan perih, sampai kematian pada konsentrasi tinggi

Limbah padat Limbah padat utamanya katalisator yang dikeluarkan, berasal dalam produksi amonia dan dalam pabrik asam nitrik. Secara normal, lain-lain limbah padat tidak menciptakan gangguan lingkungan. Pencegahan dan pengendalian pencemaran Di dalam pabrik amonia: Bila mungkin, gas alam harus bertindak sebagai stok bahan untuk pabrik amonia demi mengurangi emisi udara ini merupakan pilihan pencegahan pencemaran penting dalam produksi amonia;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

845

mengarahkan gas hidgrogen sianida (HCN) ke dalam unit pabrik gasifikasi bahan bakar minyak ke unit pembakaran untuk mencegah agar tak terlepas; menggunakan gas pembersih dari proses sintesis untuk menyalakan reformer dan membuang kondensat untuk mengurangi amonia dan metanol; menggunakan proses penghilangan CO2 yang tidak melepaskan toksik ke dalam lingkungan; dan prosedur-prosedur pengoperasian dan pemeliharaan yang layak harus diikuti demi mengurangi pelepasan ke lingkungan.

Teknologi pengolahan Dalam produksi asam nitrik, absorbsi dan reduksi katalitik merupakan cara yang lazim digunakan untuk kepentingan mengendalikan emisi-emisi nitrogen oksida. Efisiensi absorpsi dapat dinaikkan dengan meningkatkan jumlah baki, mengoperasikan menara pada tekanan yang lebih tinggi atau mendinginkan cairan asam lemah di dalam absorber. Di pabrik pupuk urea, wet scrubber digunakan untuk mengendalikan emisi fugitif dari prilling tower, filter kain dipergunakan untuk mengendalikan emisi debu dari pengoperasian kantong. Alat-alat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pengoperasiannya. Dalam unit pengolah amonium sulfat, wet scrubber merupakan cara yang disukai untuk keperluan mengendalikan emisi partikulat dan asam dari pengering. Persyaratan emisi udara Emisi udara dari unit pengolah pupuk nitrogen harus mencapai tingkat dalam Tabel 8.9.
Parameter Nilai maksimum 35 mg/Nm 350 mg/Nm 50 mg/Nm

Tabel 8.9
Emisi udara unit pengolah pupuk nitrogen.

Amonia Oksida nitrogen Partikulat

846

Kursus pengelolaan kualitas udara

7. BACAAN TAMBAHAN
Air and Waste Management Association International Conference on Odours: indoor and environmental air, September13-15, 1995 at Bloomington, Minnesota, USA. Air & Waste Management Association 1997. Papers prepared for presentation at the AWMA 90h Annual Meeting & Exhibition from June 8-13, 1997 in Toronto, Canada, AWMA, Pittsburgh, PA, USA. Buoncore Anthony J. and WT Davis 1992 (Eds). Air Pollution Engineering Manual Air Pollution Engineering Manual. Nostrand Rienhold, pp 147-155. Clean Air Society of Australia and New Zealand (CASANZ) 1995. Odour special interest workshop, held Bond University, 18 and 19 May 1995 Part A of 2 parts, Clean Air 29 4, November 1995, pp 26-39 Clean Air Society of Australia and New Zealand (CASANZ) 1995. Odour special interest workshop, held Bond University, 18 and 19 May 1995 Part B of 2 parts, Clean Air 30 1, February 1996, pp 29-45 Coghlan, Andy, Electronic nose detects the nasty sniffs, New Scientist (ISSN:02624079) v 141 p 20 February 5 1994 CEN (Committee European de Normalisation) 1995. Document 064/e, Draft European Standard, Odour concentration measurement by dynamic olfactometry, English version, 9705-29 12:01. Court J 1995. Key considerations for odour laws and regulations, a contribution to the Odour special interest workshop, held at Bond University, 18 and 19 May 1995 Part A of 2 parts, Clean Air 29 (4), November 1995, p35 Economopoulos, A.P. 1993 Rapid Inventory Techniques in Environmental Pollution. In Assessment of Sources of Air, Water and Land Pollution. Geneva. World Health Organisation. Jiang John, and J Sands 1997. Odour Measurement for Regulatory, Purposes, Centre for Water and Waste Technology, University of NSW. 31pp. Kirkpatrick, N. 1991.Environmental Issues in the Pulp and Paper Industries. Surrey, U.K. Pira International. Macdonald, G. J. and Freeman, T. j., Odour management at Major New Zealand Wastewater Plants, Proceeding of AWWA 17th Federal Convention, Melbourne, 1997

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

847
Ministry for Environment, New Zealand, Odour management under resource management ACT June, 1995. Misselbrook T H. P J Hobbs and K C Persaud 1997. Use of an electronic nose to measure odour concentration following application of cattle slurry to grassland, Journal of Agricultural Engineering Research, 66, pp213-220. Nagy, George Z. 1991. The Odour Impact Model, Journal of the Air & Waste Management Association; 41 p 13601362. Nathan, Stuart, On the scent of something big (electronic nose), Chemistry and Industry (ISSN:00093068) nol5 p 587 August 1 94 Nicell JA 1994. Development of the odour impact model as a regulatory strategy, International Journal of Environment and Pollution. 4 (1-2) ppl24-138 Sauchelli, Vincent. 1960. Chemistry and Technology of Fertilisers. New York: Reinhold Publishing Corporation. Sittig, Marshall, 1979. Fertiliser Industry Processes, Pollution Control and Energy Conservation. Ney Jersey, Noyes Data Corporation. United Nations Industrial Development Organisation (UNIDO). 1991. Conference on Ecologically Sustainable Industrial Development. Case Study No. 1, Pulp and Paper, Held in Copenhagen, Denmark in October 1991. United Nations Industrial Development Organisation, Vienna, Austria. UNIDO. 1978. Process Technologies for Nitrogen Fertilisers. New York: United Nations. UNIDO. 1992. Draft Pulp and Paper Industrial Pollution Guidelines. World Bank, Environment Department. 1995. Industrial Pollution Prevention and Abatement: Nitrogenous Fertiliser Plants. Draft Technical Background Document. World Bank, Environment Department. 1996. Pollution Prevention and Abatement: Pulp and Paper Mills. Technical Background Document. World Bank Environmental Department. 1996. Pollution Prevention and Abatement. Meat Processing and Rendering. Technical Background Document.

848

Kursus pengelolaan kualitas udara

PROSEDUR PENILAIAN BAU DENGAN METODE OLFAKTOMETRI DINAMIK (VICTORIA, AUSTRALIA) NO. B2.
1. Cakupan dan aplikasi 1.1Metode ini mengukur tingkat pembuangan bau dengan mempergunakan olfaktometri dinamik, sebuah dilusi pada teknik ambang batas. Batas pendeteksian bergantung pada desain peralatannya tetapi berkisar kira-kira 50 unit bau. 1.2Metode ini melibatkan perolehan sampel-sampel gas yang mewakili gas-gas yang dibuang. Masing-masing sampel didilusikan secara dinamis di dalam laboratorium dengan udara bebas bau dan disajikan ke sebuah panel yang terdiri dari tiga pengamat yang sebelumnya disaring menurut ketentuan Standar B1 Prosedur AnalitisPemilihan Panelis Bau EPA (Vic). 1.3Serangkaian jumlah dilusi versus persentase respon panel dibuat dengan kertas grafik probabilitas logaritma. Jumlah dilusi yang diperlukan untuk 50% respon panel adalah tingkat bau dari sampel. 2. Akurasi dan presisi 2.1Dua tingkat bau yang diukur berbeda secara signifikan pada tingkat keyakinan 95% jika (yang lebih besar - 61% dari yang lebih besar) lebih besar dari yang lebih kecil. Definisi 3.1Tingkat bau ditetapkan dengan rasio volume yang sedianya diisi oleh sampel ketika didilusikan ke ambang bau dengan volume sampel

3.

3.2Tingkat baunya diekspresikan dalam satuan bau (ou) dan adalah analogus dengan konsentrasi 3.3Ambang baunya adalah tingkat di mana respon panel 50% diperoleh 3.4Tingkat kecepatan emisi bau berarti hasil penghitungan level bau dari limbah yang harus dibuang dan tingkat kecepatan volume pembuangan (dalam m basah per menit dirujuk ke suhu 0C dan tekanan 101,3 kilopaskal) dan dinyatakan dalam satuan volume bau/menit (ou/men).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

849
4. Peralatan dan reagen 4.1Sonde dan filter harus terbuat dari baja tahan karat atau PTFE yang cukup dipanasi untuk mencegah terjadinya kondensasi. Sebuah filter baja tahan karat ukuran pori 60 mikron atau penyumbat wol kaca sudah cukup. Wol kaca harus dibuang setelah pemakaian sedangkan filternya harus dibilas dengan air banyak-banyak dan dikeringkan. 4.2Kantong-kantong pengambilan sampel haruslah berkapasitas nominal 15 L. Kantong pengambilan sampel Mylar dibungkus tempat yang kedap gas. 4.3Panjang pipa pengambilan sampel haruslah seminimum mungkin, terbuat dari baja tahan karat atau PTFE dan harus dipanasi hingga di atas titik embun dari gas di luar cerobong. 4.4Pompa harus bebas bocor, jenis diafragma atau ekuivalen untuk mengevakuasi kontainer kedap gas. 4.5Meter gas keringuntuk mengukur volume sampel total hingga dalam batas 2% 4.6Jika dibutuhkan tingkat kecepatan emisi bau maka diperlukan peralatan yang cukup untuk memungkinkan tingkat kecepatan aliran volume gas dapat ditetapkan dengan menggunakan Metode 10780 ISO / DISVelositas Gas dan Tingkat Kecepatan Aliran Volume. 4.7Sebuah sistem dilusi dinamik (Gambar A,1) harus termasuk: 4.7.1 Meter pengukur tingkat kecepatan aliran gas kaca, dapat mengukur hingga akurasi 5%, aliran udara 50 L/menit, untuk dilusi aliran udara. Alat ini harus dikalibrasi dengan meter gas yang telah dikalibrasi. 4.7.2 Empat buah meter pengukur tingkat kecepatan aliran gas kaca, mampu mengukur aliran sampel hingga akurasi 5%. Aliran-aliran secara nominal 010 ml/ menit, 0100 ml /menit, 01 L/menit dan 010 L/ menit. Alat-alat ini harus dikalibrasi terhadap sebuah meter pengukur buih sabun in-line atau meter pengukur gas bila dianggap perlu. 4.7.3 Ruang pencampuran PTFE berisi bentukanbentukan PTFE. Volume sebesar kira-kira 1,5 L cukup memadai. 4.7.4 15 cm kaca atau corong PTFE menyajikan sampel dilusi ke panelis. 4.7.5 Semua sampel dan pipa udara dilusi harus dibuat dari PTFE.

850

Kursus pengelolaan kualitas udara

4.7.6 Sebuah sumber udara diatur pada tekanan kirakira 5kPa. Ini dilakukan untuk memberikan tekanan udara pada tempat sampel. 4.8Panel bau (Gambar A.2 dan A.3) harus terdiri: 4.8.1 Alat untuk melindungi antara satu panelis dengan yang lain 4.8.2 Alat bagi panelis untuk menunjukkan responrespon mereka dari jauh kepada operator panel dengan cara sedemikaian rupa sehingga panelis-panelis lainnya tidak dapat mempengaruhi satu sama lain 4.8.3 Tempat duduk yang nyaman bagi para panelis 4.9 Panel bau harus ditempatkan dalam sebuah ruangan yang dirancang sedemikian rupa sehingga: (i) ventilasi mencegah terbentuknya bau di ruangan tersebut; (ii) bahan-bahan bangunan harus bebas bau; (iii) distraksi bagi para panelis (seperti bunyi, dsb) harus ditekan jadi sekecil mungkin 4.10 Tiga panelis dipilih dengan menggunakan ketentuan Standar B1 Prosedur AnalitisPemilihan Panelis Bau EPA (Vic). Para panelis tidak boleh makan atau merokok selama jam pelaksanaan analisis dan harus dipastikan bahwa orang-orang tersebut serta pakaian mereka bebas bau. Sebanyak mungkin mereka merupakan orang-orang yang bekerja di lingkungan bebas bau. 4.11 Diperlukan sumber udara kering, bebas bau.

5.

Prosedur 5.1Pengambilan sampel 5.1.1 Bidang pengambilan sampel cerobong harus dipilih sedemikian rupa sehingga kriteria dalam Standar Australia: AS 4323.11995 Metode 1 Pemilihan Posisi Pengambilan Sampel Emisi Sumber Stasioner terpenuhi. 5.1.2 Faktor dilusi (DF) yang dibutuhkan untuk mencegah kondensasi ditentukan sebagai berikut:
DF = Cs Ca Cs = Konsentrasi uap air dalam cerobong (%v/v) Cs = Konsentrasi dari uap air yang ada dalam udara jenuh pada suhu ambien

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

851
Jika DF>6, maka volume udara bebas bau yang mulamula dimasukkan ke dalam kantong harus disesuaikan sehingga:
DF (dihitung) = ( Volume udara dilusi + Volume sampel) volume sampel

Jika DF > 6, 10 L udara kering bebas bau ditambahkan ke dalam kantong sampel dan sebesar 2 L sampel diambil. 5.1.3 Isi kantong bau dengan 10 L atau menurut jumlah yang didasarkan pada hitungan, dengan udara dilusi bebas bau 5.1.4 Pastikan agar sistem pengambilan sampel dalam keadaan bebas bocor. 5.1.5 Tempatkan sonde dan filter ke dalam cerobong dengan jarak antara lubang masuk sebesar seperempat diameter dalam cerobong I dari dinding cerobong. Pastikan agar udara tidak dapat masuk ke dalam cerobong melalui lubang-lubang pengambilan sampel. Biarkan sonde, filter dan pipa-pipa pengambilan sampel yang diperlukan memperoleh ekuilibrium panas dengan gas-gas cerobong ini. 5.1.6 Kondisikan sonde, filter dan pipa pengambilan sampel dengan menarik kira-kira 5 L gas cerobong melewatinya. 5.1.7 Hubungkan kantong pengambilan sampel ke pipa pengambilan sampel dan drum ke pompa dan meter gas. Perhatikan bacaan meter gas dan waktu. 5.1.8 Ambil sampel volume gas cerobong yang dibutuhkan. Tingkat kecepatan pengambilan sampel akan bergantung pada proses yang dilibatkan tetapi harus berada di antara 0,5 dan 2 L per menit. 5.1.9 Matikan pompa. Lepaskan hubungan drum dan kantong. Tutup kantong dengan stopper kaca atau PTFE. Perhatikan bacaan meter gas dan waktu. 5.1.10 Ambil paling tidak satu sampel lagi.

852
5.1.11 Lembar hasil:
Data lapangan: Titik pembuangan: Kantong bau no.: Waktu mulai: berhenti: Volume udara dilusi (L): Pembacaan meter awal (L): Pembacaan meter akhir (L): Volume yg diambil sbg sampel (L): Pengukur suhu (C):

Kursus pengelolaan kualitas udara

Tanggal:

5.1.12 Ukur tingkat kecepatan aliran volume gas bila perlu (lihat 4.8) 5.2Analisis 5.2.1 Sampel-sampel harus dianalisis secepat bisa mungkin setelah pengambilan 5.2.2
Operator panel bau harus memastikan bahwa konsentrasi odoran yang diterima oleh panelis adalah sedemikian rupa sehingga kemungkinan mengalami efek sakit sangat kecil.

Maksud dari olfaktometri dinamik adalah untuk menghadirkan panelis dengan sampel dilusi secara dinamik yang dekat ambang bau sehingga tidak membuat jenuh respon indera penciuman mereka dengan konsentrasi bau yang tinggi dan mungkin bahan-bahan berbahaya. 5.2.3 Bilas sistem dilusi dengan udara dilusi bebas bau 5.2.4 Persilakan para penalis bau duduk secara nyaman di tempat panel dan jelaskan teknik mengendus kepada mereka. Mereka harus mengendus udara yang datang dari sebuah face piece dan udara ambien secara bergantian. Perlu dijelaskan bahwa, sambil mengendus, mereka harus menunjukkan kapan mereka mendeteksi sesuatu bau dan berhenti untuk menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mendeteksi bau. Jelaskan bahwa mereka tidak dapat mencium sesuatu sampel secara terus menerus karena sampel akan diganti-ganti dengan udara bebas bau. 5.2.5 Setel aliran udara dilusi ke 50 L per menit dan catat setelan meter pengukur tingkat kecepatan aliran 5.2.6 Beritahukan kepada panel untuk mulai mengendus

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

853
5.2.7 Jika ada di antara anggota panel yang merespon, periksa untuk memastikan bahwa udara dilusi tersebut adalah bebas bau. Katakan kepada panel bahwa udara yang mereka endus adalah bebas bau. 5.2.8 Perkenalkan sampel sampai semua panelis memberikan respon. Perhatikan setelan meter pengukur aliran gas dan hentikan aliran sampel. Tunggu sampai semua panelis berhenti merespon. Ini memastikan bahwa para panelis mengenali bau tersebut dan memberikan kepada operator suatu petunjuk tentang perkiraan ambang bau. 5.2.9 Perkenalkan sampel pada tingkat dilusi acak kepada para panelis, gantikan dengan aliran sampel nol, catat setelan meter pengatur tingkat kecepatan aliran gas sampel dan respon panel terhadap masing-masing setelan. Untuk memperoleh poin-poin pada grafik, gunakan level-level aliran sampel agar supaya sepertiga dan dua pertiga dari panelis dapat mendeteksi bau tersebut. 5.2.10 Panel bau harus diberi waktu istirahat selama paling sedikit lima menit antara setiap sampel. 5.2.11 Data panel bau: Tanggal: Nama-nama panelis 1: 2: 3: Meter pengukur tingkat aliran udara dilusi: 6. Penghitungan dan pelaporan 6.1Penghitungan 6.1.1 Dari kurva kalibrasi meter pengukur tingkat kecepatan aliran yang digunakan, hitung aliran pada masing-masing setelan. 6.1.2 Hitung jumlah total dilusi dari sampel (perhitungkan dilusi awal) pada masing-masing setelan.
D = (Aliran volume sampel + Aliran volume udara dilusi) x DF Aliran volume sampel

DF = 6 atau nilai yang dihitung. 6.1.3 Hitung persentase respon panel untuk masingmasing jumlah dilusi.

854

Kursus pengelolaan kualitas udara

6.1.4 Grafik, pada kertas grafik probabilitas logaritma, persentase respon panel vs. jumlah dilusi 6.1.5 Tarik garis lurus yang paling cocok lewat titik-titik ini. 6.1.6 Temukan jumlah dilusi untuk 50% respon dari panel. Ini adalah level bau sampel. 6.1.7 Titik-titik 0% dan 100% respon tidak dapat dipergunakan tetapi ambang batasnya harus berada di antara titik-titik ini. 6.1.8 Level bau dari pembuangan diberikan oleh ratarata dua level bau yang diukur. Jika (lebih besar61% dari yang lebih besar) lebih besar dari yang lebih kecil, maka pengujian harus diulang 6.2Pelaporan 6.2.1

Yang berikut ini harus dilaporkan:

Organisasi yang melaporkan Nama perusahaan Lokasi Tanggal pengambilan sampel Waktu pengambilan sampel Titik Pembuangan, Jumlah Limbah yang ditentukan Lokasi bidang pengambilan sampel dalam kaitannya dengan gangguan-gangguan aliran hulu dan hilir terdekat. Kondisi pengoperasian selama pengambilan sampel Metode-metode pengujian yang dipergunakan Referensi terhadap metode analitis Diameter cerobong asap (m) Luas cerobong (m2) Jumlah titik pengambilan sampel Jumlah determinasi Durasi pengambilan sampel (menit) Suhu gas cerobong rata-rata (C) Velositas gas cerobong rata-rata (m/detik) Konsentrasi air (% volume/volume)

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

855

Kecepatan aliran volume gas (m3/menit) dinyatakan dg. 0C, 101.3 kPA, basah Konsentrasi bau (o.u), dinyatakan dengan 0C, 101.3 kPA, basah Tingkat kecepatan emisi bau (o.u.v./menit) Batas kedaluarsa Lisensi Komentar-komentar: Setiap deviasi dari prosedur standar dan setiap faktor yang mungkin telah mempengaruhi hasilnya. Yang berikut harus ini diperhatikan: (i) Volume dinyatakan dengan 0C, 101.3kPA (ii) Oleh karena tingkat bau diukur basah emisinya akan diperoleh dengan mempergunakan kalkulasi dengan tingkat kecepatan aliran gas cerobong basah.

6.2.2

7.

Catatan 7.1Masalah berkaitan dengan kontaminasi peralatan pengambilan sampel / peralatan dilusi sering terjadi. Perpipaan PTFE yang berbau dapat dibersihkan dengan memanaskannya di dalam suatu oven hingga kira-kira 150C sambil menghembuskan udara bebas bau lewat rongganya. Sumber kontaminasi umum lainnya adalah karet ring O. Sebaiknya penggunaannya sedapat mungkin dihindari. 7.2Setelah pengujian selesai, peralatan panel bau harus dibilas dengan udara bebas bau. 7.3Sampel didilusi pada waktu pengambilan untuk mencegah kondensasi cairan dan untuk mempertahankan integritas sampel. 7.4Peralatan pengambilan sampel tidak boleh dipergunakan untuk prosedur pengujian yang lain.

8.

Referensi 8.1Beneforado D.M., Rotella W.S., Horton D.L, Development of an Odour Panel for Evaluation of Odour Control Equipment, J.A.P.C.A. 19(2), 101, (1969). 8.2Wahl J.P., Duffee R.A., Marrone W.A., Evaluation of odour Measurement Techniques, Volume 1, Animal Rendering Industry, US EPA 650/2-74-008-a Washington, Jan. 1974. 8.3Bedborough D.R., Trott P .E., The Sensory Measurement of Odours by Dynamic Dilution, Warren Springs Lab, 1979.

856

Kursus pengelolaan kualitas udara

Regulator at 5 kPa Plastic drum with airtight lid Mylar sample bag Flowmeter to set air flow

Flowmeter bank to set sample flow All hoses PTFE unless otherwise marked PTFE mixing chamber Large glass funnels Odour-free air supply

Gambar A.1
Odour testing dilution system (sistem penipisan pengujian bau).

Gambar A.2
Testing panel for odour testing (regu pengujian untuk pengujian bau).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

857
9 x 1.5 volt dry cells

6-volt bezel

push-on awitch

6-volt bezel 0n-off switch

Gambar A.3
Odour testing indicating system (sistem indikasi untuk pengujian bau).

Circuitry in Operators box

Circuitry in each panel members box

858

Kursus pengelolaan kualitas udara

LAMPIRAN B: TEKNIK-TEKNIK PENGUKURAN BAU DI LAPANGAN


Penilaian bau adalah subyektif. Indera penciuman manusia dapat membedakan antara ribuan substansi bau yang berlainan dan dapat mendeteksi banyak dari bau tersebut yang memiliki konsentrasi sangat rendah. Pada umumnya gangguan bau ditentukan oleh faktor FIDO: Frekuensi, Intensitas, Durasi dan Gangguan (offensiveness) bau. Dalam kuantifikasi masalah gangguan bau, frekuensi merujuk pada berapa kali terjadinya bau, intensitas merujuk pada kekuatan bau, durasi merujuk pada berapa lama terjadinya bau dan gangguan bau merujuk pada ketidaknyamanan atau sifat bau. Pada umumnya, faktor-faktor FIDO hampir mustahil dipantau atau direkam. Respon indera manusia Besarnya respon indera manusia terhadap bau (intensitas bau yang dirasakan) menurun ketika konsentrasi odoran menurun. Namun hubungan antara intensitas bau dan konsentrasi odoran sama sekali tidak merupakan suatu proporsi langsung. Sayangnya untuk tujuan pengendalian bau, pada waktu udara berbau didilusikan dengan udara bebas-bau, bau yang dirasakan menurun menjadi kurang tajam dibandingkan dengan konsentrasinya, misalnya, pengurangan 10 fold pada konsentrasi amil butirat dalam udara diperlukan untuk mengurangi separuh dari intensitas bau yang dirasakan. Tidak semua odoran merespon dengan rasio yang sama, yang lain bisa berubah dengan lebih tajam. Intensitas bau yang dirasakan menurun dengan cepat selama masa pengeksposan yang terus-menerus, ini merupakan suatu fenomena adaptasi terhadap bau atau letih bau. Dalam peristilahan sederhana hal ini dijelaskan sebagai ujung-ujung saraf penciuman menjadi letih. Juga, fenomena ini mengungkapkan sendiri secara berbeda, dalam situasi industri di mana para pekerja dihadapkan pada sesuatu bau yang menjijikkan, menjadi terbiasa dengan bau tersebut dan akhirnya menyadari bahwa meskipun tidak enak tetapi tidak mengganggu. Dalam beberapa contoh, ekspos berulang terhadap bau dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif terhadap bau.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

859
Pengukuran bau Teknik pengukuran instrumental, secara umum tidak dapat diterima sebagai hal yang dapat diterapkan secara universal dan merupakan sesuatu hal yang sangat sulit untuk menetapkan tingkat intensitas bau dengan teknik pendeteksian ini. Metodologinya tidak sulit, yang diperlukan hanyalah sampel udara dalam jumlah yang cukup besar dimasukkan ke dalam kantong sampel yang tak bereaksi kimiawi untuk kemudian dikirimkan ke laboratorium dengan khromatograf gas ionisasi nyala api atau instrumen analisis sejenis. Prosedur pengambilan sampel gas yang berbau dan menyerahkan mereka kepada panelis bau (olfaktometri dinamik) telah disajikan dalam Lampiran A di atas. Namun demikian, seringkali hidung manusia tetap dapat mendeteksi bau pada konsentrasi jauh di bawah batas deteksi banyak instrumen. Adalah juga merupakan suatu hal yang penting untuk diingat bahwa bau adalah rasa dan akhirnya harus dinilai dengan cara mengukur respon manusia terhadap mereka.
Regulator at 5 kPa Plastic drum with airtight lid Mylar sample bag Flowmeter to set air flow

Flowmeter bank to set sample flow All hoses PTFE unless otherwise marked PTFE mixing chamber Large glass funnels Odour-free air supply

Gambar B.1
Peralatan penipisan untuk pengujian bau.

860

Kursus pengelolaan kualitas udara

Secara alternatif sampel udara dapat disodorkan kepada sebuah panel bau yang terdiri dari personil terpilih dengan indera penciuman yang kuat. Biasanya sampel udara didilusikan beberapa kali dengan udara bebas bau dan didistribusikan kepada anggota panel melalui sebuah manipol yang secara perlahan-lahan diturunkan laju kecepatan dilusinya sampai sebagian besar panel dapat mencium bau tertentu. Teknik ini secara diagram disajikan pada Gambar B.1. Oleh karena itu panel bau dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar jumlah dilusi emisi bau yang diperlukan pada sumber guna memastikan agar mayoritas populasi tidak menemukan intensitas bau yang cukup untuk menyebabkan gangguan. Dilusi atau penyebaran dari sumbernya dapat diperoleh dengan mengeluarkan bau dari sebuah cerobong asap yang tinggi atau mendilusikan bau dengan volume udara yang besar melalui ventilasi mekanik. Dalam praktek, gangguan bau dinilai secara subyektif oleh orang perseorangan dan jika menurut pendapatnya, intensitas bau tersebut mengganggu, dalam banyak kasus tindakan akan berupa mengurangi gangguan. Pengawas yang harus menentukan apakah penghuninya sendiri yang bertanggungjawab terhadap bau yang tidak layak itu atau apakah ada sumbersumber lain yang ikut menyebabkan terciptanya bau tersebut. Observasi lapanganpenggunaan log bau Menyimpan log mengenai timbulnya bau di lapangan mengandung beberapa keuntungan: Membantu mengembangkan kepercayaan terhadap indera penciuman seseorang; dan

membantu mengkuantifikasi dampak emisi-emisi bau terhadap lingkungan (kadang-kadang bau dapat menjadi pelacak yang berguna terhadap gerakan udara yang dilokalisir dan meningkatkan pengetahuan tentang mikrometeorologi wilayah).

Informasi berikut ini harus dicatat oleh petugas yang menyelidiki keluhan bau. Pengamatannya/hasilnya harus membentuk suatu bagian dari setiap laporan peristiwa tersebut. Deskriptor bau Arah angintitik kompas delapan sudah cukup. Kekuatan anginmenggunakan Skala Beaufort (lihat Tabel B.1 di bawah untuk pedoman).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

861
Awannaungan awan merupakan pedoman untuk. Hujan atau naungan awan tebalselalu berarti stabilitas netral. Langit yang cerah dan angin rendahseringkali berarti ada serangan di malam hari. Kategori stabilitas Pasquilldapat dipergunakan dan digambarkan dalam Tabel B.2. Golongan Stabilitas Pasquill adalah: Akondisi sangat tidak stabil Bkondisi tidak stabil moderat Ckondisi tidak stabil ringan Dkondisi netral (awan tebal, siang atau malam) Ekondisi stabil ringan Fkondisi stabil moderat.

Nomor Beaufort

Uraian Penjelasan

Spesifikasi Skala untuk keganaan pada lahan

Kisaran kecepatan (@ 10m secara terbuka) M/s km/hr >1 1-5 6-12 13-19 20-29 30-39 40-49 50-61

0 1 2 3 4 5 6 7

Tenang Udara ringan Embusan ringan Embusan lembut Moderat Embusan segar Embusan kuat Angin kencang

Tenang, asap naik vertikal Arah angin diperlihatkan oleh kelokan asap, bukan oleh baling-baling angin Angin terasa di wajah, daun gemerisik, balingbaling digerakkan angin Daun-daun dan ranting kecil bergerak secara konstan, angin mengibarkan bendera kecil Menerbangkan debu dan potongan kertas, cabang kecil bergerak Pohon kecil mulai berayun Cabang besar bergerak, kawat telepon bersuit Seluruh pohon bergerak, terasa tak nyaman ketika berjalan melawan angin

>0.3 0.3-1.5 1.6-3.3 3.4-5.4 5.5-7.9 8.0-10.7 10.8-13.8 13.9-17.1

Tabel B.1
Skala Beaufort dengan Ekuivalen Kemungkinan.

Kecepatan angin permukaan (m/sec) <2

Isolasi siang-hari

Kondisi malam hari Awan tipis 1/8 mendung Lebih dari 3/8 mendung

Kuat A A-B B C C

Moderat A-B B B-C C-D D

Ringan B C C D D

Tabel B.2
Pedoman lapangan untuk penentuan Kelas Stabilitas Pasquill.

2 4 6 *>6

E D D D

F E D D

862

Kursus pengelolaan kualitas udara

Tingkat mendung ditentukan bahwa sebagian langit di atas kaki langit sekeliling yang tampak dalam keadaan tertutup awan.
Jenis bausuatu penjelasan singkat yang memungkinkan

peneliti lainnya untuk mengidentifikasi misalnya pengencer cat, ragi, plastik yang terbakar, dll.
Kekuatan baudapat dijelaskan dengan menggunakan

deskriptor pada Tabel B.3 di bawah.


Koordinat lokasimenggunakan arah jalan atau arah timur dan arah utara dsb., dari peta. Asalsumber yang dicurigai setepat mungkin.
Deskriptor Kondisi

Sangat lemah (SL) hampir tak terasa melalui embusan bau secara okasional Lemah (L) Medium(M) beda namun lemah dalam embusan bau secara berulang-2 terus-menerus menghadirkan bau bau yang kentara Menguasai, tembus ventilasi

Tabel B.3
Deskriptor kekuatan bau.

Kuat(K) Sangat kuat (SK)

C ATATA N P E S E R TA

Pencemaran bau secara fisik tidak merusak lingkungan setempat dan pada umumnya tidak menimbulkan terjadinya risiko kesehatan. Namun, bau dapat dianggap sebagai gangguan serius terhadap masyarakat. Perkembangan teknik pengelolaan dan pengukuran bau merupakan hal yang baru bila dibandingkan dengan yang diterapkan pada pengendalian partikulat atmosfer atau gas. Baru-baru ini, telah dikembangkan teknik pengukuran yang lebih baik dan lebih dapat diulang dalam rangka melakukan penilaian tingkat bau. Ini, dipadukan dengan model penyebaran bau yang lebih realistis, dapat memberikan penilaian yang lebih dapat dipercaya terhadap dampak bau. Pengendalian bau mengikuti prinsip-prinsip yang mirip dengan yang diterapkan pada pengendalian gas-gas lainnya.

Kursus pengelolaan kualitas udara

Catatan Peserta

M ATA A J A R A N

bau dan pengelolaanny a


DALAM SESI INI
Pendahuluan Tujuan; dan Penanganan bau di Indonesia Teori Bau Intensitas bau; Kemungkinan terdeteksinya bau;

Sifat bau; dan Sifat hedonik (Hedonic tone)


Metode pengukuran bau Analisis GC-MS; Pengukuran indera penciuman; Hidung elektronik; dan Pengambilan sampel T eknik pengendalian bau Mengendalikan bau dari sumber-

sumber (wilayah) tersebar; dan Mengendalikan bau dari sumber-sumber industri


Model bau sebagai alat pengatur Senyawa dan sumber bau Industri bubur kertas dan

kertas; Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewani; dan Pabrik pupuk nitrogen Lampiran A: Procedure for the assessment of odour by dynamic olfactometry EPA (Vic., Australia) Method No. B2. Lampiran B: Teknik-teknik pengukuran bau di lapangan.

84

Kursus pengelolaan kualitas udara

1. PENGANTAR
Pencemaran bau tidak merusak lingkungan setempat dan biasanya tidak menimbulkan terjadinya risiko kesehatan. Namun, bau dapat dianggap sebagai gangguan serius terhadap masyarakat. Biasanya, dampak bau terhadap populasi manusia sekelilingnya berupa perasaan-perasaan adanya malaise umum yang mungkin diikuti dengan adanya sejumlah indikasi seperti sakit kepala, iritasi selaput lendir dan perasaan tidak enak badan. Bau biasanya disebabkan oleh odoran gas atau partikulat. Pada umumnya bau tersebut berasal dari emisi sumber industri atau kegiatan tatakota (misalnya lokasi-lokasi penimbunan tanah) sebagai hasil dari kegiatan biologis dan proses kimiawi. Foto 8.1 dan 8.2 menggambarkan bau-bau sumber industri yang sifatnya tipikal. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah memberikan gambaran umum mengenai: Teori bau;

metode-metode pengukuran bau; penanganan bau dan tindakan pengurangan; penggunaan model bau sebagai alat pengatur; dan masalah-masalah bau yang bersifat spesifik berkaitan dengan industri-industri tertentu.

Foto 8.1
Bau industri (titik sumber).

Penanganan bau di Indonesia Banyak kasus berhubungan dengan masalah bau yang telah terjadi di Indonesia hingga sekarang. Hal ini termasuk bau merkaptan yang berasal dari industri , bau amonia dari industri dan gas hidrogen sulfida yang berasal dari unit pembangkit panas bumi. Pengendalian bau telah dilaksanakan di Indonesia melalui keputusan pemerintah nomor KEP50/MENLH/11/1996 yang menjelaskan tentang standar bau untuk odoran tunggal dan campuran senyawa banyak bau. Perkembangan dan pelaksanaan strategi pengelolaan bau merupakan hal yang baru bila dibandingkan dengan masalahmasalah lingkungan yang timbul dari pencemaran air dan udara.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

85

2. TEORI BAU
Bau adalah sesuatu rasa yang dihasilkan dari diterimanya suatu rangsangan oleh sistem sensor indera penciuman. Serangan bau pada umumnya ditentukan oleh faktor-faktor: frekuensi, intensitas, durasi dan gangguan bau. Pada kuantifikasi masalah gangguan bau, merujuk pada berapa kali terjadinya bau, merujuk pada kekuatan bau, merujuk pada berapa lama terjadinya bau, dan merujuk pada ketidak-nyamanan atau sifat bau. Odoran tunggal dan senyawa banyak bau ditunjukkan oleh bau khas seperti: Amonia (NH3)sejenis bau yang mirip dengan bau busuk air kencing;

sulfur yang direduksi total (merkaptan)bau-bauan yang mirip kubis busuk; dan hidrogen sulfida (H2S)bau mirip dengan yang dikeluarkan telur busuk.

Intensitas bau Intensitas bau adalah kekuatan dari rasa bau yang dirasakan. Hal ini terkait, tetapi jangan dirancukan, dengan konsentrasi bau yang hanya berkaitan dengan jumlah partikel-partikel gas odoran yang terukur atau cairan yang terukur dalam udara. Intensitas bau juga memperhitungkan sifat individual bau yang diambil sebagai sampel. Persamaan berikut ini mendefinisikan hubungan antara intensitas bau (I) dan konsentrasi bau (C), di mana k adalah sebuah konstan dan n adalah eksponennya. Hukum steven atau hukum tenaga I (yang dirasakan) = k(C) n Log I = log K + nlog (C)
Foto 8.2
Bau (menyebar) perkotaan.

Untuk bau, n berkisar antara 0,2 hingga 0,8, tergantung pada gas odorannya. Untuk gas odoran dengan n sama dengan 0,2, suatu pengurangan 10-fold pada konsentrasi menurunkan intensitas yang dirasakan oleh suatu faktor dari hanya 1,6, sedangkan untuk suatu gas odoran dengan n sama dengan 0,8, pengurangan 10-fold pada konsentrasi menurunkan intensitas yang dirasakan oleh suatu faktor 6,3.

86

Kursus pengelolaan kualitas udara

Kemungkinan terdeteksinya bau Kemungkinan terdeteksinya bau atau ambang bau adalah sifat indera manusia yang merujuk pada konsentrasi minimum yang menghasilkan tanggapan atau rasa penciuman. Ambang ini biasanya ditentukan oleh sejumlah orang yang bertindak sebagai sebuah panel bau. Tingkat deteksi bau numerik ditetapkan apabila 50% dari panel dapat mendeteksi bau dengan benar. Bau menjadi sulit untuk dirasakan bila tingkat intensitas bau berada pada atau hanya sedikit di atas ambang batas. Nilai aktualnya bergantung pada jenis pengujian indera, seleksi panelis, kriteria deteksi dan faktor-faktor lainnya. Sifat bau Sifat atau kualitas bau adalah unsur yang mengenali bau dan membedakannya dari bau lainnya yang memiliki intensitas sama. Bau bisa berupa senyawa organik dan senyawa anorganik, terdiri dari banyak senyawa odoran yang merupakan hasil aktivitas biologis atau sebagai emisi-emisi proses kimia. Kebanyakan bau merupakan hasil dari penguraian anaerobik bahan organik yang mengandung sulfur dan/atau nitrogen. Bagian 6 menyajikan informasi mengenai sektor industri yang memiliki potensi untuk memancarkan bau dalam jumlah yang besar. Senyawa organik yang mengandung sulfur seperti metil merkaptan dan dimetil sulfida menghadirkan masalah-masalah tertentu dalam hal pengendalian bau berdasarkan kemampuan ambang deteksi mereka yang sangat rendah. Contoh-contohnya adalah senyawa anorganik hidrogen sulfida (H2S) dan amonia (NH3). Kebanyakan odoran berbentuk gas yang berada di bawah kondisi atmosfer normal, sebagian besar memiliki sifat sangat mudah menguap. Dalam hal gas, semakin rendah berat molekul suatu senyawa, semakin tinggi tekanan uapnya dan oleh karena itu berpotensi terhadap terjadinya emisi ke atmosfer. Substansi berat molekul tinggi biasanya kurang mudah menguap, dus secara normal mungkin kurang menyebabkan keluhan bau. Sifat bau dijelaskan dengan sebuah metode yang dikenal sebagai skala atau profil multidimensional di mana bau digambarkan oleh derajad kemiripannya dengan selengkap bau yang menjadi

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

87
acuan atau tingkat derajad yang sesuai dengan skala dari berbagai persyaratan deskriptor. Hasilnya ialah suatu profil bau. Tabel 8.1 menunjukkan senyawa bau dalam emisi-emisi sumber industri.

Compound name Acetaldehyde Allyl mercaptan Ammonia Amyl mercaptan Benzyl mercaptan n-Butyl amine Chlorine Dibutyl amine Diisopropyl amine Dimethyl amine Dimethyl sulfide Diphenyl sulfide Ethyl amine Ethyl mercaptan Hydrogen sulfide Indole Methyl amine Methyl mercaptan Ozone Phenyl mercaptan Propyl mercaptan Pyridine Skatole Sulfur Dioxide Thioresol Trimethyl amine

Formula CH3CHO CH2:CHCH2SH NH3 CH3(CH2)4SH C6H5CH2SH CH3(CH2)NH2 Cl2 (C4H9)2NH (C3H7)2NH (CH3)2NH (CH3)S (C6H5)S C2H5NH2 C2H5SH H2S C6H4(CH)2NH CH3NH2 CH3SH O3 C6H5SH C3H7SH C5H5N C9H9N SO2 CH3C6H4SH (CH3)3N

Molecular weights 44 74 17 104 124 73 71 129 101 45 62 186 45 62 34 227 31 48 48 110 76 79 131 64 124 59

Volatility, 25C ppm, v/v gas

Detection threshold ppm, v/v 0,067 0,0001

Recognition threshold ppm, v/v 0,21 0,0015 37 0,0026 1,8 0,31 0,38 0,001 0,0021 1,7 0,001 0,0047 0,0015 0,020 0,74 0,050 4,4 -

Odour description pungent, fruity disagreeable, garlic pungent, irritating unpleasant, putrid unpleasant, strong odour dour ammonia pungent, suffocating fishy fishy putrid, fishy decayed cabbage unpleasant ammoniacal decayed cabbage rotten eggs fecal, nauseating putrid, fishy rotten cabbage pungent, irritating putrid, garlic unpleasant pungent, irritating fecal, nauseating pungent, irritating rancid pungent, fishy

gas

17 0,0003 0,0002

93000 gas 8000

0,80 0,80 0,016 0,13

gas 830 100 gas 710 gas 360 gas gas gas 2,0 220,0 27,0 200 gas

0,34 0,001 0,0001 0,27 0,0003 0,0005 0,0001 4,7 0,5 0,5 0,0003 0,0005 0,66 0,001 2,7 0,0001

gas

0,0004

Tabel 8.1
Senyawa bau dalam emisi-emisi sumber industri.

88

Kursus pengelolaan kualitas udara

Sifat hedonik (hedonic tone) Sifat hedonik adalah suatu sifat bau yang berhubungan dengan masalah keenakan dan ketidak-enakan. Harus dibuat perbedaan antara keadaan bisa diterimanya bau dan sifat hedonik dari sesuatu bau. Apabila bau dievaluasi secara laboratorium mengenai sifat hedonik yang dimilikinya dalam konteks netral dari suatu penyajian olfaktometrik, panelis akan dihadapkan dengan suatu rangsangan terkendali dalam intensitas dan durasinya. Tingkat keenakan dan ketidak-enakan ditentukan masing-masing pengalaman panelis serta kaitan emosionalnya.
Adaptasi atau letih penciuman adalah suatu fenomena yang

terjadi ketika manusia dengan indra penciuman normal mengalami penurunan dalam merasakan intensitas bau yang diterima jika rangsangan diterima secara terus menerus. Adaptasi secara spesifik: Tergantung pada intensitas rangsangan dan adaptasi mandiri dan pemulihan indra penciuman setelah rangsangan dihilangkan; dan

pada umumnya odoran khusus tidak mengganggu kemampuan seseorang untuk mendeteksi bau-bau lainnya.

Kebiasaan atau anosmia profesi (hilangnya daya penciuman

karena profesi yang disandang) terjadi ketika seseorang pekerja berada di dalam suatu situasi industri mengalami ekspos jangka panjang dan mengembangkan toleransi ambang batas yang lebih tinggi terhadap bau yang bersangkutan.
Penggunaan model bau
Pada umumnya, empat faktor berikut: frekuensi, intensitas, durasi, dan gangguan bau hampir mustahil dipantau atau dicatat. Sebagai ganti, sebagaimana halnya polutan udara lain, suatu model penyebaran bau dapat digunakan untuk memprediksi dampak bau lingkungan dan menjadi alat pengatur. Sejumlah model telah digunakan untuk memprediksi konsentrasi bau dekat sumber.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

89

3. METODE PENGUKURAN BAU


Akhir-akhir ini, teknik-teknik pengukuran untuk menilai tingkat bau yang lebih baik dan dapat diulang penggunaannya telah dikembangkan. Hal ini dipadukan dengan model penyebaran bau yang lebih realistis, dapat memberikan penilaian terhadap dampak bau yang lebih dapat dipercaya. Sekarang ada metode pengukuran untuk memantau bau, baik dari sumber emisi maupun di dalam udara ambien. Metode untuk pengukuran bau ditetapkan dalam KEP-50/ MENLH/11/1996 dan diringkas dalam Tabel 8.2.
Parameter Amonia (NH3) Metil merkaptan (CH3SH) Hidrogen sulfida(H2S) Unit ppm Batas nilai Metode Pengukuran Peralatan Spektrofotometrik Gas khromatografik

2,0 Metode indofenol

ppm 0,002 Penyerapan gas ppm

Tabel 8.2
Metode-metode yang disetujui untuk penentuan gas-gas odoran tunggal di Indonesia.
Metil sulfida(CH3)2S Stirena (C6H5CHCH2) ppm ppm

a. Spektrofotometrik 0,02 a. Thyosianatb. Gas khromatografik mercury b. Penyerapan gas 0,01 Penyerapan gas 0,1 Penyerapan gas Gas khromatografik Gas khromatografik

Ketiga metode tersebut biasanya digunakan untuk mengukur konsentrasi sesuatu bau, sebagai campurannya adalah: 1. Prosedur analisis kimia untuk mengenali senyawa bau dan menentukan tingkat konsentrasi bau: misalnya sangat dilarang bagi odoran tunggal menggunakan CMS atau sejenisnya; 2. Prosedur pengukuran sensor/indra penciuman untuk menentukan kekuatan bau: misalnya olfaktometri untuk suatu campuran odoran; dan 3. Prosedur hidung elektronik untuk menentukan semua pola konsentrasi bau dengan hasil-hasil yang berkaitan dengan observasi manusia. Hal ini didasarkan pada sensor kimia. Ketiga metode ini dibahas di bawah ini. Analisis GC-MS Senyawa bau kimia dapat dianalisis untuk tujuan riset oleh kromatografi gasspektrometri massa (GCMS) dengan sensitivitas sebesar 1015. Dipzerlukan biaya operasional dan peralatan sangat tinggi untuk menerapkan teknik ini secara efektif.

810

Kursus pengelolaan kualitas udara

Secara umum penggunaan analisis GCMS tidak dapat dilaksanakan untuk keperluan pemantauan lingkungan rutin karena secara tipikal sesuatu gas yang berbau merupakan suatu campuran yang kompleks dari banyak unsur. Misalnya, instrumentasi GCMS mengenali 136 senyawa yang ditemukan di dalam udara pembuangan rumah hewan, namun hanya 23 senyawa yang dapat dikuantifikasi. Keterbatasan-keterbatasan lain termasuk: Sejumlah senyawa berbau seperti gas-gas anorganik tidak dapat diukur oleh GCMS;

adalah hal biasa bahwa identifikasi tetap berada dalam keadaan bermakna ganda atau diragukan; banyak bau yang masih harus dikenali; efek sinergistis dalam suatu campuran gas kompleks seringkali tidak diketahui; dan hasil analisis GCMS tidak dapat dikaitkan dengan bau dari sampel lengkap yang ada.

Pengukuran analitis terhadap konsentrasi bau hanya sesuai bilamana jenis gas yang berbau spesifik tersebut diketahui. Sifat-sifat bau sampel diukur dengan angka sensor sedangkan metode statistik dipergunakan untuk mengembangkan persamaan prediktif yang berkaitan dengan, misalnya konsentrasi bau atas senyawa kimia. Pengukuran indera penciuman Bau adalah rasa yang disebabkan oleh senyawa-senyawa berbau yang bertindak terhadap berbau pada indera penciuman. Bau dideteksi dan dibedakan oleh hidung manusia pada tingkat konsentrasi yang sangat rendah. Olfaktometer adalah suatu alat yang dipergunakan untuk menghadirkan serangkaian sampel bau yang didilusikan bagi sebuah panel pengamat. Metode sensor atau sensor bau organoleptik bergantung pada respon indera penciuman perseorangan yang berfungsi sebagai panel. Penentuan standar untuk gas-gas atau campuran senyawa berbau individual ditentukan oleh deteksi sensor lebih dari 50% panelis pada panel bau. Untuk suatu campuran senyawa berbau, sebuah panel harus terdiri minimum 8 orang.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

811
Jumlah anggota panel 4, 6 dan 8 atau lebih dari 9 (ketepatan lebih besar diperoleh dengan jumlah anggota panel yang lebih banyak). Beberapa ambang batas bau dapat ditentukan dengan menggunakan olfaktometri. Mereka adalah: Ambang deteksi;

ambang pengenalan; dan ambang deskripsi.

Ambang deteksi adalah konsentrasi terendah yang akan memperoleh respon tanpa acuan terhadap kualitas bau. Ini dapat direproduksi dan merupakan pengukuran bau yang paling banyak dilaporkan dalam literatur. Ambang pengenalan adalah konsentrasi minimum yang

dikenal memiliki kualitas bau khas.


Ambang deskripsi adalah hal penting yang dimintakan kepada panelis untuk membedakan bau tersebut.

Hasil-hasil pengujian tersebut dilaporkan sebagai kekuatan bau atau konsentrasi bau, bukan ambang bau atau intensitas bau. Banyak kerancuan antara intensitas bau dan ambang bau dan kekuatan bau atau konsentrasi bau yang muncul dalam literatur tersebut. Campuran senyawa membutuhkan olfaktometri dinamik untuk penilaian tingkat bau. Hal ini melibatkan tindakan mengekspos panel pengamat terpilih dan terkendali kepada variasi yang persis dalam konsentrasi suatu sekuens yang terkendali, untuk menentukan poin di mana hanya setengah dari panel tersebut yang dapat mendeteksi bau. Poin ini disebut ambang bau atau satu unit bau. Jumlah unit-unit bau tersebut adalah konsentrasi dari suatu sampel dibagi dengan ambang bau. Metode penentuan bau dengan Olfaktometri Dinamik yang digunakan oleh EPA Victoria (Australia) disajikan dalam Lampiran A. Seperti halnya di atas, terdapat nilai berarti yang diperoleh dari pengamatan dan pencatatan yang akurat terhadap bau di lapangan. Komentar dan prosedur mengenai pengamatan lapangan terhadap bau disajikan dalam Lampiran B.

812

Kursus pengelolaan kualitas udara

Hidung elektronik Olfaktometri dapat memberikan kepekaan yang jauh lebih tinggi daripada menggunakan hidung elektronik. Namun, secara umum ada harapan bahwa berkembangnya hidung elektronik (utamanya teknik-teknik instrumental yang menggunakan GCFID dengan lubang pencium olfaktometer atau sejenisnya) akan menuntun pada pengukuran bau yang lebih obyektif dan lebih hemat biaya. Sebuah hidung elektronik dapat dioperasikan dalam kisaran konsentrasi bau antara 1000 60.000 OU/m3. Perbaikan desain instrumen dan sensor diperlukan untuk meningkatkan kinerja hidung elektronik tersebut. Penggantian panel manusia dengan hidung elektronik merupakan suatu sasaran riset jangka panjang, sementara pada saat ini sedang dihadapi sejumlah masalah: Sifat sensitif dan selektif dari hidung elektronik masih merupakan kelemahan utama bagi hidung elektronik dengan basis sensor fisik.

Sejauh mana hidung elektronik dapat menggantikan hidung manusia masih harus lebih dimantapkan. Sebuah hidung elektronik perlu dikalibrasi untuk suatu rangkaian kategori sampel berbau terhadap olfaktometri berdasarkan panel manusia.

Pengambilan sampel Sampel dapat diambil dari sumber maupun udara ambien. Walau serangkaian teknik pengambilan sampel dapat dipakai, namun yang paling lazim adalah, sampel ditarik ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari bahan yang tidak bereaksi Gambar 8.1 kimiawi terhadap zat lain serta tidak mengeluarkan bau atau rasa oleh penggunaan pompa vakum atau peristaltik, sebagaiMetode untuk mengambil sampel bau mana ditunjukkan dalam Gambar 8.1. dari sumber dan udara ambien.
Sampel Sedotan Disposable tygon (food grade) tubing Sampel Teflon bag

Pompa peristaltic

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

813

4. TEKNIK PENGENDALIAN BAU


Pengendalian bau strategis terdiri dari: Pengendalian sumber;

pemasangan peralatan pengendalian pencemaran bau; dan karakteristik penyebaran dalam atmosfer.

Hal ini dibahas pada bagian berikut ini. Mengendalikan bau dari sumbersumber (wilayah) tersebar Prinsip-prinsip pengelolaan bau dari sumber-sumber tersebar adalah mencegah pembentukan bau atau mengurangi bau pada konsentrasi di bawah ambang deteksi atau di bawah tingkat yang wajar. Cara untuk melaksanakan prinsip-prinsip ini dilakukan dengan: Pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan pengendalian sumber meliputi: Bentuk odoran, gas atau partikulat;

sifat-sifat sumber-sumber odoran; konsentrasi bau minimum (ambang bau) cenderung menyebabkan keprihatinan publik; standar bau yang relevan (odoran tunggal juga sebagai suatu campuran senyawa banyak bau); perlakuan alternatif untuk mengurangi bau hingga tingkat yang dapat diterima; dan biaya ekonomis.

Untuk sumber-sumber wilayah luas seperti pengolahan limbah peternakan, lokasi penggemukan ternak dan pembuatan pupuk, tempat pembuangan limbah rumahtangga atau industri, hanya terdapat dua metode yang terbukti dapat dipergunakan untuk mengurangi keluhan bau. Kedua hal tersebut adalah: Tidak membangun dekat lokasi tersebut; dan

memastikan agar pengoperasiannya dilaksanakan dengan praktek pengelolaan terbaik.

Foto 8.3
Unit pengolah limbah cair (sumber sebaran).

Sebuah unit pengolah limbah cair yang bersifat tipikal disajikan dalam Foto 8.3. Mengingat ukurannya serta pabrik sejenis, dalam kaitannya dengan pengelolaan bau, mereka harus dianggap sebagai sumber-sumber tersebar.

814

Kursus pengelolaan kualitas udara

Bila dihindari adanya pembangunan dekat lokasi tersebut, harus ditetapkan suatu zona pembatas yang layak di sekitar sumber wilayah. Ukuran aktual dari zona ini bergantung pada sejumlah faktor, termasuk besarnya wilayah yang merupakan tempat di mana bau berasal, intensitas bau yang dipancarkan, durasi dan frekuensi emisi-emisi bau, proses aktual yang sedang dilakukan, topografi lokasi, kondisi cuaca yang berlaku pada lokasi dan persepsi para tetangga terhadap gangguan bau-bau yang ditimbulkan. Praktek manajemen terbaik (PMT) akan beragam sesuai dengan industri yang menimbulkan bau tersebut. Namun, untuk semua pembangunan, PMT akan dimulai dengan pemilihan lokasi dan pembangunan fasilitas. Ada sejumlah besar produk kimia dan produk paten tertentu yang diklaim digunakan untuk mengurangi bau bila diaplikasikan pada sumber-sumber wilayah. Namun, biaya dari bahanbahan dan pekerja untuk itu akan sangat tinggi. Senyawa ini dalam jumlah besar yang diperlukan dapat menyebabkan pencemaran. Pada umumnya, metode-metode tradisional yang dikembangkan untuk pengendalian kimia organik industri tidak cocok dipergunakan untuk pengendalian bau secara umum mengingat konsentrasi kimianya yang rendah, komposisinya yang kompleks dan volume aliran udaranya yang besar. Mengendalikan bau dari sumbersumber industri Apabila timbulnya bau tidak dapat dihindari atau penyebaran yang memadai (jarak pisah terhadap penggunaan lahan yang sensitif terhadap bau) tidak dapat tercapai, harus dilaksanakan pengendalian bau pada sumbernya. Aliran gas yang dipancarkan dari cerobong atau pipa pembuangan asap dapat diambil dan dapat diolah. Sama halnya, udara berbau dari dalam sebuah bangunan dapat diarahkan ke alat scrubbing atau penyaringan untuk pengurangan bau.
Foto 8.4
Pipa menjelang pembuangan gas ke udara. Pada poin ini, gas dapat diarahkan kepada peralatan pembersihan gas.

Prinsip-prinsip dalam pengendalian sumber bau adalah untuk mencegah pembentukan bau atau mengurangi bau pada konsentrasi tertentu guna menghasilkan unsur yang kurang berbau. Cara yang dapat dipakai untuk mencapainya termasuk di antaranya: Mengubah sumber-sumber odoran gas menjadi cairan senyawa berbau dengan teknik sedemikian rupa seperti pembersihan cairan dengan cara scrubbing cairan.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

815

mendistribusikan odoran secara lebih luas dengan cara meloloskannya melalui ventilasi atau cerobong asap.

Pilihan metode atau kombinasi metode-metode yang dipergunakan untuk mengendalikan bau dalam aliran gas akan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: Fase odorangas, cairan atau partikulat;

volume gas (atau uap) yang dihasilkan dan laju kecepatan alirannya; sumber-sumber odoranpoin sumber atau penyebaran; konsentrasi bau minimum (ambang bau); standar bau yang relevan (odoran tunggal juga untuk campuran dari banyak senyawa berbau); suhu; komposisi kimia dari campuran yang menyebabkan bau; alternatif-alternatif untuk penanganan bau; dan pertimbangan-pertimbangan ekonomis.

Foto 8.5
Pembuangan ventilasi atap. Ventilasi atap dapat ditutup dan seluruh udara pabrik diarahkan ke peralatan pembersihan gas atau biofilter.

Metode untuk mengendalikan emisi-emisi bau dari sumbersumber industri yang ada disajikan dalam Tabel 8.3 dan dijelaskan dalam bagian-bagian berikut:
Kunci:

A PenyebaranDiperlukan cerobong asap yang tinggi, biaya modal sedang, biaya pengoperasian rendah. B Wet scrubbingPenyerapan: biaya sedang hingga tinggi, seringkali diperlukan tiga tahap. Perlu berhati-hati dalam memilih cairan scrubber dan biasanya bersifat coba-coba. Tidak selalu berhasil, membutuhkan pemeliharaan teratur dan pengujian-pengujian unsur aktif secara harian dan dalam beberapa kasus, pengendalian pH. C Setelah pembakaran (langsung)Suhu antara 600oC dan 1000oC dengan masa residensi dari 0,3 hingga 1 detik. Perlu desain yang teliti guna menurunkan volume udara hingga batas minimum. Biaya modal dan biaya pengoperasian tinggi bila volume udaranya besar. Pengendalian lebih lanjut diperlukan jika terdapat sulfur atau khlorin dalam gas-gas buangan. Setelah pembakaran (katalitis)Suhu 500oC. Pengoperasian suhu lebih rendah dibandingkan dengan metode langsung, tetapi katalisatornya bisa dihancurkan jika tidak dioperasikan dan dipelihara dengan benar. Hal ini seringkali menjadi masalah.

816
Jenis pengoperasian bau Ketel Unit pengolah asam Pupuk Pengolah pupuk hewani Kopi Bulu ayam Makanan ikan Sampah Amonia Deterjen dan sabun Pemurnian minyak Pabrik kimia Rockwool Pernis dan cat Penyimpanan bahan pelarut Insinerasi hewan Sampah perangkap lemak/oli Fermentasi SO2,

Kursus pengelolaan kualitas udara

Emisi

Pengendalian A A,B,E A,B,F A,C,D, G A,C,D B,D B,C,D,E C,G A,B A,B,I A,C,G A;B,C A,B,C A,C D,A,G A,C,F,I B,D,G,I A,D,G A,C A

Acid gases Fluorides, fertiliser odour Amines Aldehida, amines Amines Amine, aerosol Organik pembusuk, sulfide Amonia Berbusa Hidrokarbon, sulfide (komplex) beragam (komplex) Minyak terbakar, aldehide Minyak terbakar, hidrokarbon, Aldehide Beragam bahan pelarut Amine, aldehide Amine Ragi, peragian Bau inti terbakar, aldehide

Tabel 8.3
Metode-metode pengendalian bau (dimodifikasi dari NSW EPA 1995).

Dapur non-besi Dapur besi Plastik laminasi Serat kaca

Fenol, formaldehide Stiren, akrilat

A,C A,D

D Penyerapan karbonMembutuhkan regenerasi pada selang waktu yang tetap. Bisa efektif tetapi mahal untuk penggunaan dalam volume besar. Pengoperasian secara kecilkecilan tidak mahal untuk dilakukan. E Filter kabutFilter kabut dari plastik atau logam, pembersih mandiri, tidak mahal. F Praktek Manajemen TerbaikKebersihan dan menghindari tumpahan memerlukan upaya manusia tetapi secara relatif tidak mahal. G Menyamarkan bauDeodoran menyamarkan bau. Biasanya tidak efektif tetapi dapat membantu dalam kasuskasus marginal atau dengan pelepasan aksidental. Tidak mahal. H Filtrasi BiologisTelah berhasil untuk pengolah pupuk bangkai hewani.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

817
I KondensorCairan kondensasi dibuang dari aliran gas buangan, mengurangi jumlah gas berbau yang harus diolah. Kondensasi Sementara kebanyakan bau disebabkan oleh gas, masalahmasalah mungkin timbul dari aerosol dalam uap. Aliran udara berbau seringkali mengandung konsentrasi uap air yang tinggi. Jenis peralatan pengendali bau ini berfungsi sebagai penanganan awal pengendalian bau. Emisi-emisi basah atau mengandung uap organik dapat pertama-tama disalurkan melalui sebuah kondensor yang mampu menghilangkan uap air dengan persentasi yang tinggi atau senyawa organik yang mudah menguap. Bila buangan uap ini dapat didinginkan hingga kurang dari 40oC, kuantitas besar air akan dikondensasikan sehingga menurunkan volume gas yang akan dibakar atau diolah. Hal ini memiliki efek mengurangi aliran gas berbau yang akan diolah dan biasanya dicapai dengan suatu kondensor tak langsung. Penghilangan bau dengan kondensasi di ikuti dengan proses-proses penurunan bau lainnya atau menggunakan jenis-jenis peralatan lain seperti wet scrubber, alat penyerap atau insinerasi. Kondensasi uap air dari aliran udara dapat dilaksanakan dengan kondensor langsung maupun tak langsung. Kondensor pendinginan air tak langsung memisahkan air kondensasi atau kondensat bagi air pendingin. Di dalam sebuah kondensor langsung, air pendingin disemprotkan ke dalam aliran udara dan air pendingin tersebut akan dikontaminasikan dengan kondensat berbau. Jika panas, air pendingin yang tercemar tersebut disirkulasikan melalui sebuah menara pendingin dan ada kecenderungan bahwa bau akan dilepaskan ke dalam atmosfer. Dengan sebuah kondensor tak langsung, kondensat yang berbau dipisahkan dari air pendingin dan boleh dibuang ke saluran pembuangan limbah atau ke unit pengolah air limbah. Penggunaan kondensor tak langsung lebih disukai. Proses atau penanganan bau melalui kondensasi adalah sebagai berikut: Ketika uap panas menyentuh media pendingin, panas pun ditransfer dari gas panas ke permukaan pendingin;

ketika suhu aliran uap didinginkan, kinetik rata-rata gas dikurangi; dan pada akhirnya, molekul-molekul gas tersebut berkurang kecepatannya dan berjubel sehingga gaya tarik-menarik antar molekul tersebut menyebabkan mereka mengembun menjadi cairan.

818

Kursus pengelolaan kualitas udara

Diagram sebuah kondensor tipikal tak langsung yang dipergunakan untuk mengurangi gas berbau yang jenuh disajikan dalam Gambar 8.2.
Lubang Uap Pendingin

Lubang Pendingin Drip plates with weir

Pendingin Uap Uap

Keluaran limbah gas (a) semprotan


Gambar 8.2
Kondensor tipikal tak langsung dipergunakan untuk mengurangi gas jenuh berbau.

Keluaran (b) jet

Keluaran (c) barometric

Pemampatan gas dapat terjadi dengan tiga cara: Pada suatu derajad suhu yang diberikan, tekanan sistem dinaikkan (memampatkan volume gas) sampai tekanan parsial gas menyamai tekanan uapnya.

pada suatu tekanan tetap, gas didinginkan sampai tekanan parsialnya menyamai tekanan uapnya. dalam suatu teknik kombinasi, gas dimampatkan dan didinginkan sampai tekanan parsialnya menyamai tekanan uapnya.

Pertimbangan terhadap penggunaan kondensasi dalam pengendalian bau termasuk di antaranya: Pilihan terhadap kondensasi langsung atau tak langsung;

Keterbatasan untuk mencapai penurunan suhu tinggi; dan Kondensasi dianggap sebagai prapengolahan oleh karena itu pengolahan lain seperti adsorpsi, absorpsi atau insinersi adalah penting untuk menurunkan volume gas total.
Kerugian Efisiensi penghilangan yang relatif rendah terhadap bau bersifat gas

Keuntungan Produk murni (dalam hal kondensor kontak langsung)

Tabel 8.4
Untungrugi Kondensasi dalam hal pengurangan bau.

Air yang digunakan sebagai pendingin dalam suatu Persyaratan untuk kondensor tak langsung (yaitu unit pertukaran panas pendingin bisa sangat dengan pipa atau shell) yang tidak mengalami kontak mahal dengan aliran gas tercemar digunakan kembali setelah pendinginan

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

819
Insinerasi (afterburner) Insinerasi termal terhadap emisi-emisi bau adalah sangat efektif untuk keperluan pemusnahan bau pada suhu tertentu dan masa residensi. Teknik ini mahal baik dari sudut pandang investasi awal maupun biaya pengoperasian dan sangat cocok untuk penghancuran senyawa-senyawa organik. Insinerasi adalah pengoksidasian bau menjadi karbon dioksida dan air melalui pembakaran bau dengan bahan bakar dan udara. Untuk mencapai pembakaran yang sempurna segera setelah udara (oksigen), limbah dan bahan bakar sudah saling kontak, harus disediakan persyaratan berikut: Suhu cukup tinggi untuk membakar campuran sampahbahan bakar;

Pencampuran secara turbulen antara udara dan sampahbahan bakar; dan Masa residensi yang cukup agar terjadi reaksi.

Pembakaran tak sempurna dari banyak senyawa organik menghasilkan pembentukan aldehida dan asam-asam organik yang dapat menciptakan masalah pencemaran tambahan. Bila ini terjadi, polutan-polutan tersebut mungkin memerlukan beberapa jenis untuk menghilangkan mereka sebelum dilepas ke atmosfer. Dalam beberapa kasus senyawa lain bisa terbentuk, tergantung pada campuran bahan bakar dan udara yang dipergunakan, suhu nyala api serta komposisi baunya. Senyawa-senyawa ini dapat mengandung karbon monoksida, oksida nitrogen dan oksida sulfur. Adalah penting untuk mengurangi kandungan air dari setiap aliran gas yang memerlukan insinerasi agar konsumsi bahan bakar dapat dikurangi.

adalah sebuah dapur berlapis batu tahan api yang dilengkapi dengan satu atau lebih alat pembakar. Tungku tersebut harus dilengkapi dengan pengontrolindikator suhu dan sebuah alarm suhu tinggi yang terpisah. Sistem pelindung ledakan harus dipasang bila gas berbau tersebut mampu membentuk campuran yang mudah meledak atau bila gas tersebut dipergunakan sebagai bahan bakarnya. Tungku tersebut biasanya terdiri dari dua kamar: bagian pencampuran di mana gas-gas berbau tersebut dicampur dengan bahan bakar tambahan dan dinyalakan dan bagian pembakaran di mana pembakaran disempurnakan. Sebuah afterburner gas duatahap tipikal tersaji dalam Gambar 8.3.

820

Kursus pengelolaan kualitas udara

Pengeluaran gas

Ruangan bakar sekunder

Gambar 8.3
Skema sebuah insinerator udara ruangan dua untuk keperluan pengendalian bau. Udara berbau dimasukkan sebagai udara pembakaran primer.
Feed

Pembakar Ruangan bakar primer Pengeluaran debu

Bagian kritis dari sebuah afterburner adalah kontak antara gas-gas berbau dan nyala api. Idealnya, semua udara berbau harus digunakan sebagai udara pembakaran primer atau sekunder. Efisiensi pembakaran akan berkurang seiring dengan berkurangnya kontak antara bau dan nyala api. Sebuah cerobong asap yang cukup tinggi harus dipasang pada afterburner untuk memastikan penyebaran yang sempurna dari hasil produksi pembakaran. Penurunan efisiensi pembakaran bisa timbul karena suatu perubahan volume atau komposisi aliran gas berbau. Masalah bisa timbul pada alat pembakar atau suplai bahan bakar dan hal ini dapat mengurangi efisiensi pembakaran. Cerobong asap yang tinggi akan membantu menyebarkan sisa bau. Ketel atau tungku bisa dimanfaatkan sebagai sebuah afterburner, selama ketel dan tungku tersebut dioperasikan dengan muatan yang layak pada waktu dibutuhkan untuk bertindak sebagai afterburner. Ketel cairan atau ketel bahan bakar gas, yang menyala dengan api kecil untuk jangka waktu cukup lama, tidak akan cukup memuaskan berfungsi sebagai afterburner, kecuali jika sebuah afterburner terpisah dipasang. Ketel bahan bakar batubara dengan stoker kisi-kisi rantai cocok berfungsi sebagai afterburner karena gas-gas berbau dapat ditampung di bawah grate sebagai udara bawah api (lihat Gambar 8.4). Wet scrubbing Scrubbing cair dari gas untuk menghilangkan bau melibatkan absorpsi dalam pelarut yang tepat atau pengolahan kimia dengan reagen yang tepat. Proses ini dikenal sebagai adsorpsi.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

821
Entrained grate Proses pengeringan Overfeed Fuel spout

Underfeed Pengeluaran debu

Gambar 8.4
Skema dari spreader stoker boiler cocok untuk dipakai sebagai sebuah afterburner.

Udara pembakaran

Keuntungan: Kesederhanaan pengoperasian;

Kerugian: Biaya pengoperasian relatif tinggi (terutama yang terkait dengan kebutuhan bahan bakar); Potensi untuk kilas balik dan bahaya ledakan ikutan;

Kemampuan menghasilkan uap atau panas dalam bentuk lain;

Tabel 8.5
Menyajikan untung-rugi Insinerasi dalam hal pengurangan bau.

Kemampuan efisiensi yang tinggi dalam Peracunan katalisator (dalam hal hal pemusnahan odoran organik. insinerator katalis); Pembakaran tak sempurna dapat menciptakan masalah polusi potensial lebih buruk.

Scrubbing menyebabkan terjadinya aliran gas berbau melakukan kontak yang erat dengan cairan scrubbing. Sementara itu pemilihan bahan kimia untuk dipergunakan sebagai cairan scrubbing bergantung pada senyawa berbau yang ada di dalam sumber. Kecuali jika bahan berbau siap larut dalam cairan, maka merupakan keharusan bahwa permukaan cairan dalam jumlah besar diekspos pada gas. Gambar 8.5 menyajikan sistem wet scrubbing yang dapat dipergunakan untuk penerapan pengendalian bau. Telah diisyaratkan bahwa scrubbing cair secara ekonomis jadi menarik dibandingkan dengan insinerasi dan adsorpsi pada karbon aktif bila volume gas berbau yang akan diolah lebih besar daripada 5000 m per jam. Penting kiranya bahwa aliran yang panas dan lembab didinginkan terlebih dahulu sebelum menyentuh larutan scrubbing. Jika hal ini tidak dilakukan, maka larutan scrubbing akan

822
Gas outlet Liquid inlet Entrainment separator (demister) Liquid distributor Packing restrainer Shell Random packing Access manway for packing removal Liquid re-distributor

Kursus pengelolaan kualitas udara

menjadi panas dan kurang efisien dan media scrubbing akan menjadi cair oleh kondensasi uap air. Jika larutan hipokhlorit dipergunakan, ada kemungkinan khlorin akan hilang dan biaya pengisian ulang menjadi tinggi. Ada pula kemungkinan bahwa bau akan dilepaskan dari larutan scrubbing yang panas. Sistem absorpsi terdiri dari: Scrubber tahapan tunggal yang dapat dipergunakan untuk mengolah udara ventilasi pabrik.
Scrubber tahapan ganda yang paling sering dipergunakan untuk mengolah emisi-emisi proses. Pada sistem tahapan ganda, pemisah ikutan, venturi scrubber dan scrubber jenis semprotan biasanya digabungkan dalam tahap pertama untuk menghilangkan partikulat dan aerosol dari aliran gas agar supaya tahapan-tahapan scrubber selanjutnya menjadi lebih efektif dalam mencapai pemusnahan bau.

Access manway for packing removal Packing support Gas inlet Overflow Liquid outlet

Ragam utama dari peralatan penyerap gas ialah: Menara kemas, di mana fase gas dan cairan mengalir melalui peralatan tersebut secara kontinyu, dengan kontak yang erat sepanjang perjalanannya.

Gambar 8.5a
Kolom kemasan arus balik tipikal dan kolom pelat kap gelembung (Gambar 8.6) dipergunakan untuk keperluan scrubbing bau. Kemasan meningkatkan area kontak permukaan untuk meningkatkan kemungkinan interaksi cairan/gas.

menara pelat atau baki, yang pada hakikatnya merupakan silinder di mana cairan dan gas dipertemukan selangkah demi selangkah (pengoperasian bertahap) di atas pelat atau baki.

menara semprot; dan venturi scrubber.


Kerugian Dapat menciptakan masalah pembuangan air

Keuntungan Penurunan tekanan yang relatif rendah

Dapat mencapai efisiensi transfer massa Produk diambil dalam keadaan basah yang relatif tinggi Modal yang relatif rendah Pengendapan partikulat dapat menyebabkan penyumbatan di bagian dasar atau pelat Biaya pemeliharaan yang relatif tinggi

Tabel 8.6
Untung-rugi wet scrubber dalam upaya mengurangi baru.

Kebutuhan ruang yang relatif kecil Kemampuan untuk mengambil partikulat sebagaimana halnya gas

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

823
Bila gas mengandung hidrogen sulfida maka larutan sodium hidroksida bisa dipakai. Jikalau baunya disebabkan oleh senyawa organik tak jenuh, mungkin perlu untuk menggunakan agen oksidasi seperti khlorin, sodium hipokhlorit, potasium permanganat, ozon atau hidrogen peroksida. Apabila khlorin, sodium hidroksida, sodium hipokhlorit atau ozon yang dipergunakan maka aliran gas yang keluar harus dipantau. Gas yang keluar harus dibuang melalui cerobong, yang harus lebih tinggi dari bangunanbangunan di dekatnya. Hal ini untuk menghindari masalah-masalah terbasuhnya bangunan, yang bisa menyebabkan keluhan bau, terutama bila efisiensi scrubbing-nya menurun. Cerobong akan memberi perlindungan terhadap perubahan proses atau kerusakan peralatan. Beberapa instrumentasi tambahan akan diperlukan pada peralatan kontrol untuk memantau penurunan tekanan scrubber, aliran cairan, tekanan pompa, suhu dan konsentrasi reagen larutan scrubbing.

Gas out Mist eliminator Liquid in Bubble cap

Shell Tray Downspout Tray support ring Tray stiffener Vapour riser Froth

Sidestream withdrawal Internediate feed

Gas path through cap Gas in

Liquid out

Gambar 8.5b
Suatu bubble cap plate column yang tipikal.

Adsorpsi karbon aktif Suatu metode yang sesuai untuk memantau substansi bau, bahkan pada konsentrasi rendah, adalah adsorpsi pada karbon aktif. Molekul-molekul atau ion-ion pada permukaan bau padat dan cair mungkin tidak membuat seluruh kekuatan mereka terpuaskan oleh gaya tarik-menarik partikel lain. Ini dapat dipasang pada arang aktif atau substansi-substansi sejenis.

Pada umumnya ada dikenal dua jenis adsorpsi yaitu: Adsorpsi fisik atau adsorpsi van der waals, hasil dari gaya tarik-menarik kekuatan antar-molekuler antara molekul dari yang padat dengan substansi yang diadsorbsi; dan Adsorpsi kimia dan adsorpsi aktif, hasil interaksi kimia antara substansi keras dan substansi yang diadsorbsi.

Kolom adsorpsi karbon aktif digunakan untuk mengolah emisi bau yang berasal dari sumber-sumber limbah yang melepaskan senyawa sangat berbau seperti H2S. Agar efektif, aliran udara yang tercemar harus bebas dari substansi-substansi (seperti debu) yang mungkin memberati

824

Kursus pengelolaan kualitas udara

partikel-partikel karbon. Jumlah gas (atau uap) yang diadsorbsi oleh unsur padat bergantung pada: Sifat adsorben;

sifat gas yang diadsorbsi; area permukaan adsorben; dan suhu dan tekanan gas.

Empat adsorben penting yang dipergunakan secara luas dalam industri akan dipelajari secara singkat, yaitu: Karbon aktif (yang paling lazim digunakan);

Alumina aktif; gel silika; dan saringan molekuler.

Aplikasi biasa untuk adsorpsi arang aktif tersaji dalam Gambar 8.6. Biaya penggantian karbon bisa tinggi karena sistem-sistem yang sederhana hanya menggunakan karbon untuk sekali pakai saja. Sistem-sistem yang lebih kompleks dan mahal memungkinkan terjadinya regenerasi karbon untuk penggunaan berulang. Regenerasi tersebut dapat menghasilkan air limbah yang memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang atau aliran uap konsentrasi yang dapat diinsinerasi secara lebih murah dibandingkan dengan aliran udara aslinya.
Gas tercemar masuk

Activated carbon beds gas bersih keluar

Gambar 8.6
Adsorber arang aktif. Adsorber karbon menghilangkan VOC, uap dan lain-lain bau industri yang berasal dari aliran buangan pengering, oven, alat panggangan, tanah, sistem ventilasi dan lainlain alat pemrosesan industri .

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya


Keuntungan Perbaikan produk dimungkinkan Pengendalian dan respon yang bagus terhadap perubahan proses Tidak ada masalah pembuangan kimiawi apabila polutan (produk) dipulihkan dan dikembalikan ke dalam proses Kerugian

825

Perbaikan produk bisa membutuhkan distilasi yang eksotik dan mahal Adsorben secara progresif rusak kemampuan kapasitasnya ketika jumlah siklus meningkat Regenerasi adsorben membutuhkan sumber uap atau vakum Biaya modal relatif tinggi

Tabel 8.7
Menyajikan untung-rugi adsorber arang aktif dalam hal pengurangan bau.

Kemampuan sistem untuk menyediakan otomasi penuh Kemampuan untuk menghilangkan odoran bersifat gas atau uap dari aliran proses ke tingkat yang sangat rendah

Biofiltrasi Filter-filter kimia karbon aktif dan scrubber mungkin tidak layak dilaksanakan atau tidak ekonomis untuk digunakan sebagai pengendali bau oleh karena merupakan bagian dari sejumlah besar gas yang perlu diolah. Selama tahun 1960-an, metode-metode pengendalian bau yang lebih praktis mempergunakan teknologi pengolahan biologis, seperti lapisan dasar tanah dan biofilter yang dibungkus dengan kulit pinus atau bahan-bahan pembusuk, telah dikembangkan. Prosedur biofiltrasi adalah mirip dengan scrubbing kimiawi, kecuali bahwa dalam biofiltrasi, bau dihilangkan dengan aksi bakterial. Reaksi-reaksi fase-uap bisa juga terjadi dengan senyawasenyawa kimia tertentu yang mengurangi intensitas bau dengan memproduksi lebih sedikit unsur-unsur pokok bau, mirip reaksi dengan oksidan kimiawi. Gambaran skematik dari filter bau biofiltrasi disajikan dalam Gambar 8.7. Bakteri yang tumbuh pada alas tak bergerak, memungkinkan terjadinya kontak erat antara gas berbau dengan bakteri tersebut. Proses itu bersifat mandiri. Dalam industri-industri biologis (misalnya, pengolah pupuk hewani) adalah biasa menempatkan biofilter setelah kondensor. Biofilter memerlukan perhatian yang saksama guna memastikan pengoperasian yang berkelanjutan. Alas penopangnya mungkin harus diganti secara teratur karena kegagalan mekanik. Pada awal tahun 1990-an, karya dalam skala laboratorium atas sistem-sistem saringan bioscrubber dan biotrickling telah dilaporkan secara ekstensif. Secara umum, biofilter memberikan

826

Kursus pengelolaan kualitas udara

Typical biofilter

LIT #1 BED #1

SLA

LIT #2 BED #2

Clean gaz to atm.

Gambar 8.7
Skema biofilter tipikal untuk pengendalian jika sumber industri berbau.
Conditioning section Biofilter section

solusi yang lebih efektif untuk diterapkan dalam aplikasi praktek meskipun muatan alirannya rendah. Sistem filter bioscrubber dan biotrickling keduanya berguna pada skala laboratorium untuk kegunaan alat-alat eksperimental. BiofilterFilter dibungkus dengan media organik yaitu organisme mikrobiologis residen. Sistem ini memerlukan prakondisi limbah gas untuk meningkatkan kandungan cairan. Dalam sejumlah aplikasi, pengasaman dari media filter tersebut bisa naik dengan digunakannya filter dan sehingga menurunkan kinerja. Kinerja filter bisa pula dipengaruhi oleh fluktuasi dalam konsentrasi kimia dalam aliran gas. Lebih lanajut, kesulitan mungkin dialami dalam menghadapi patogen yang dibangkitkan dalam filter biologis.

Filter biotricklingfilter dibungkus dengan media anorganik yang membutuhkan inokulasi dengan mikroorganisme eksternal selama penghidupan filter biotrickling tersebut. Sistem ini bisa menghindari masalah terlahirnya patogen-patogen dari bahan pembusuk tersebut di atas dan menurunkan biaya modal dari sistem biofilter ini. Penyumbatan filter ditemukan sebagai kelemahan besar bagi teknik filter biotrickling. Tingkat kinerja yang tinggi selama perjalanan waktu telah dapat dicapai. Percobaan-percobaan laboratorium dengan mempergunakan sistem filter biotrickling ini telah menunjukkan bahwa teknik tersebut menjanjikan dan menawarkan prospek-prospek nyata dengan pengembangan lebih lanjut. Bioscrubberpersiapannya hampir sama dengan filter biotrickling tetapi biodegradasi bahan kimia berbau terjadi dalam tangki terpisah yang terletak setelah media filter.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

827
Sistem ini telah berhasil memperbaiki tingkat kecepatan transfer massa polutan cair, sementara tingkat kecepatan tetesan yang tinggi dapat diterapkan guna mengurangi kemungkinan obstruksi. Namun, efisiensi dari sistem ini masih membutuhkan pengembangan substansial lebih lanjut. Modifikasi bau Modifikasi bau meliputi penambahan senyawa bau agar supaya mengubah intensitas bau atau mengubah sifat bau menjadi sesuatu yang kurang ditolak. Unsur samaran ini mengubah sifat bau, namun menaikkan intensitas bau yang ada secara keseluruhan. Penyebaran Dilusi emisi-emisi bau dengan udara atmosfer adalah suatu metode pengendalian bau yang mungkin bisa berhasil dilaksanakan di bawah persyaratan khusus dari lembaga meteorologi dan topografi. Penciptaan model dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan kemungkinan efektifnya teknik ini. Hidung manusia mampu mendeteksi bau gas berbau yang berlangsung sesingkat satu atau dua detik. Untuk jangka waktu yang sangat singkat tersebut konsentrasi gas dalam sebuah bulu yang menyebar bisa naik hingga sepuluh kali lebih tinggi daripada nilai desain rata-rata masa tiga menit. Penyebaran emisi-emisi bau via sebuah cerobong asap tidak direkomendasikan kecuali jika sumber emisi tersebut dikuantifikasi secara layak oleh sebuah pengujian panel bau. Hasil-hasil sebuah pengujian panel bau perlu memberikan jumlah dilusi (unit bau) yang dibutuhkan untuk menyebarkan sumber bau hingga tingkat di bawah ambang konsentrasi bau bagi 50 persen panel bau (disingkat sebagai TOC50%). Biasanya tidaklah praktis untuk menyebarkan lebih daripada 200 unit bau per meter kubik per detik dari aliran pipa buang tanpa cerobong yang didesain secara benar. Laboratorium Warren Spring di Inggris menyarankan teknik berikut untuk menaksir tingginya cerobong asap yang tidak benar hu. hu = (0. 1 DQ). di mana D adalah jumlah dilusi atau unit bau yang dibutuhkan untuk menyebarkan sumber emisi ke TOC50% dan Q adalah laju aliran volumetrik dalam m/s pada OoC dan 760 mm Hg. Lambang yang ekuivalen adalah: hu = (0. 1 Mo/TOC50%)0.5

828

Kursus pengelolaan kualitas udara

di mana Mo adalah laju emisi massa dari gas berbau dalam g/s dan TOC50% memiliki unit g/m3. EPA atau badan-badan yang ekuivalen di seluruh dunia telah memanfaatkan ciptaan model komputer untuk menetapkan ukuran cerobong bagi keperluan situasi khusus seperti emisi bau. Lebih dari 30 model komputer telah tersedia, termasuk yang ada dalam paket US EPA UNAMAP versi 5 dan model AUSPLUME, yang telah dikembangkan di Australia. Semua model ini membutuhkan informasi meteorologi dan bantuan tenaga ahli.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

829

5. MODEL BAU SEBAGAI ALAT PENGATUR


Polutan udara berbau sering dianggap penting utamanya karena nilai gangguan mereka dan jumlah keluhan yang mereka timbulkan. Hanya beberapa kasus efek gangguan kesehatan yang didokumentasikan berdasarkan persyaratan fisiologis yang terukur. Namun, bau yang dideteksi dari proses biologis bisa menunjukkan pencemaran udara oleh patogen. Banyak senyawa di bawah tingkat deteksi bau kini dianggap berbahaya berkat hasil studi penilaian risiko (misalnya bensena). Model-model penyebaran bau bisa dipergunakan untuk memprediksi konsentrasi bau yang akan dihasilkan dari sumber pencemaran bau, terhadap setiap kondisi meteoroligis tertentu, setiap lokasi, setiap waktu. Model tersebut menirukan proses penyebaran bau dan menyediakan terciptanya suatu hubungan antara bau yang ditimbulkan pada suatu sumber dan konsentrasi bau dalam udara yang dialami oleh penerima. Mengenai polutan-polutan udara lainnya, konsentrasi bau bisa dibuat model dengan mempergunakan model-model penyebaran yang telah ada seperti misalnya Ausplume dan ISC3. Model-model penyaringan, seperti Screen, hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sumber tunggal dengan data meteorologis yang disederhanakan.

Model-model pengatur, seperti ISC3 dan Ausplume, dipergunakan luas untuk keperluan perizinan polutan lainnya; Model-model fisik khusus, seperti Inpuff, Auspuff, menghendaki tingkat masukan data meteorologis yang sangat tinggi dan informasi lokasi serta dibutuhkan sumbersumber daya yang besar untuk melakukan kalkulasi pembuatan model penyebaran.

Ada beberapa kerugian atas penggunaan model-model pengatur. Keluaran model tersebut mungkin tidak menyajikan keadaan sesungguhnya atau menjelaskan tingkat konsentrasi bau pada waktu keluhan bau diteirma, tetapi lebih merupakan angkaangka artifisial yang: dapat dibandingkan dengan situasi sejenis lainnya atau

dapat dikonfirmasikan dengan standar dampak bau

Teknik semacam itu membatasi tanpa selengkap data meteorolgis yang relevan dan ekstensif. Keluaran tipikal dari suatu model yang diterapkan terhadap prediksi bau disajikan dalam Gambar 8.8.

830

Kursus pengelolaan kualitas udara

Gambar 8.8
Keluaran model tipikal dari model ausplum menunjukkan kontur bau yang diprediksi untuk penentuan panel bau. Penilaian bau tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah model Pengatur yang menghitung penurunan kekuatan bau berdasarkan data dari cuaca yang berlaku (utamanya kecepatan dan arah angin).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

831

6. SENYAWA DAN SUMBER BAU


Sejumlah sektor industri membuka kemungkinan terhadap produksi yang tidak pada tempatnya disebabkan oleh sifat pengoperasian mereka. Beberapa dari hal tersebut dibahas dalam bagian ini. Industri bubur kertas (pulp) dan kertas Uraian dan praktek industri Bubur kertas dan kertas dibuat dari bermacam-macam bahan yang mengandung serat, biasanya dari kayu, kertas daur ulang dan residu pertanian. Di negara-negara berkembang, kira-kira 60% dari serat selulosa berasal dari bahan mentah non-kayu seperti ampas tebu, jerami gandum, bambu, buluh, rumput esparto, goni, rami dan sisal (serat nanas).
Langkah-langkah utama pembuatan bubur kertas dan kertas

adalah: Persiapan bahan mentah;


pembuatan bubur kertas; pemutihan bubur kertas; dan pembuatan kertas.

Pabrik bubur kertas dan pabrik kertas dapat dibangun secara terpisah atau sebagai operasi-operasi terpadu. Bubur kertas yang dibuat digunakan sebagai sumber selulosa untuk serat sintetis atau untuk diubah menjadi kertas atau kertas karton.
Pembuatan bubur kertas (pulp) dimulai dengan persiapan

bahan baku yang meliputi pengelupasan kulit pohon (dalam hal pohon digunakan sebagai bahan mentah), pemotongan dan proses-proses lain seperti pemisahan inti (misalnya, dalam hal ampas tebu digunakan sebagai bahan baku)
Bubur kertas selulosa dibuat dari bahan baku yang meng-

gunakan cara-cara mekanik atau kimia dan mekanik. Pembuatan bubur kertas untuk dijadikan kertas dan kertas karton mempergunakan metode-metode mekanik, kimia-mekanik dan metode kimia. Pembuatan bubur kertas secara mekanik mempergunakan metode abrasi cakram atau bilet;
proses kimia-mekanik

melibatkan abrasi mekanik;

832

Kursus pengelolaan kualitas udara


pengoperasian mekanik termal

dan penggunaan bahan

kimia; dan
bubur kertas secara kimia

dibuat dengan cara memasak (menghancurkan) bahan mentah dengan menggunakan proses Kraft (sulfat) dan sulfit.

Proses Kraft menghasilkan berbagai macam bubur kertas

yang utamanya digunakan untuk kertas kemasan dan kertas berkekuatan tinggi. Skema proses Kraft diperlihatkan dalam Gambar 8.9 di bawah. Bubur kertas juga disebut bahan coklat (brownstock), dicuci dengan air guna menghilangkan cairan masakan (hitam) guna bahan kimia. Bubur kertas juga bisa dibuat dari kertas daur ulang yang sudah dibuang tintanya.
Pemutihan seringkali mengikuti pembuatan bubur kertas .

Gambar 8.9
Proses manufaktur bubur kertas Kraft.

Tujuan utama pemutihan adalah untuk memisahkan lignin dari selulosa. Lignin menyebabkan kertas menjadi lemah, kurang terang dan umurnya lebih singkat. Unsur pemutih yang paling sering digunakan untuk bubur kertas mekanik adalah peroksida dan hidrosulfit. Pada pemutihan bubur kertas kimia, digunakan khlorin, kalsium atau sodium hipokhlorit dan khlorin dioksida. Penggunaan khlorin berakibat

Chips
Digester

Condenser

Vent gases Blow gases


Condenser

COOKING LIQUOR

Condensate

Evaporator gases Foul Condensate To stack ESP


Concentructor

PULP PULP MILL VENT GASES LIQUOR

Blow tank

Hotwell

Brownstock washers
Evaporator

Flue gas Dust recycle Mix tank Heavy black liquor NDCE Dryng Recovery zone purnace VENT GASES

Weak liquor Screens

Vent gases Venturi scrubber lime Lime sludge Lime kiln Slaker

Washed pulp TO BLEACH PLANT OR PAPER MILL

makeup LIQUOR saltcake Char bed Smelt Combustion air Green liquor

Water

Smelt dissolving tank Causticizer Clarifier WHITE LIQUOR TO DIGESTER

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

833
pada organik-organik yang mengandung khlorin, seperti dioksin, di dalam aliran air. Alkali (utamanya kaustik soda), kadang-kadang dikombinasikan dengan oksigen, dipergunakan untuk menghilangkan bahan-bahan khlorin. Oksigen prapemutihan menghilangkan lignin dari selulosa tetapi oksigen tersebut menyerang selulosa sehingga mengakibatkan berkurangnya hasil serat. Substitusi khlorin dengan khlorin dioksida, dalam sejumlah kasus kombinasi dengan peroksida (seperti peroksida hidrogen), dapat menghilangkan penggunaan unsur khlorin. Enzim (seperti silanas bebas selulose) juga dipergunakan sebagai substitusi bagi agen-agen pemutih berintikan khlorin. Penghilangan air dari bubur kertas diawali setelah memasak dan meneruskan melalui tahapan-tahapan selanjutnya. Di pabrik yang memproduksi bubur kertas untuk kemudian dikirim dengan kapal laut, pembuangan air dilakukan setelah proses pemutihan.
Kertas dan kertas karton dibuat dari bubur kertas melalui

pengendapan serat dan filler dari suspensi cairan pada alat pembentuk yang bergerak yang juga berlaku menghilangkan air dari bubur kertas. Air yang tinggal di dalam jaring basah dihilangkan dengan menekan dan akhirnya dengan cara mengeringkan, terhadap serangkaian silinder berongga yang dipanasi (misalnya rol kalendar). Bahan kimia aditif ditambahkan demi memberikan unsur tertentu pada kertas, sementara pigmen bisa dibubuhkan untuk memberi warna. Sifat-sifat limbah Dampak lingkungan yang signifikan dari pembuatan bubur kertas dan kertas dihasilkan oleh proses pembuatan bubur kertas dan proses pemutihan. Dalam proses tersebut, senyawa sulfur dipancarkan ke udara, sedangkan senyawa khlorin dan organik dibuang ke dalam air limbah.
Emisi udara

Dalam proses pembuatan bubur kertas Kraft, emisi senyawa sulfur yang direduksi total dan berbau sangat memuakkan, (TRS) termasuk metil merkaptan dan dimetil sulfida, ditimbulkan, secara tipikal pada laju kecepatan 0,05 kg/ton bubur kertas yang dikeringkan dengan udara. Sumber odoran utama adalah: Dari cairan Kraft (penghancur);

tungku perbaikan Kraft; tangki pelarut bau; dan dapur kapur.

834

Kursus pengelolaan kualitas udara

Laju kecepatan produksi tipikal lainnya adalah: hidrogen sulfida 6,4 kg/ton, sulfur oksida 2,7 kg/t dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dari oksidasi cairan hitam, 15 kg/ton. Dalam proses pembuatan bubur kertas sulfit, sulfur oksida diproduksi pada laju kecepatan 31 kg/ton. Proses pembuatan bubur kertas lainnya seperti proses mekanik dan proses termomekanik secara signifikan menghasilkan kuantitas emisi udara yang lebih rendah. Dalam pengoperasian pemutihan berintikan khlorin, elemen khlorin dan khlorin dioksida dihasilkan pada laju kecepatan 0,2 hingga 0,4 kg/ton. Unit-unit pembangkit tenaga uap dan listrik yang menggunakan batubara atau bahan bakar minyak menghasilkan emisi-emisi asap terbang, sulfur oksida dan nitrogen oksida. Pembakaran batubara dapat memancarkan asap terbang pada laju kecepatan 100 kg/ton ADP . Limbah padat Limbah padat yang menjadi sumber keprihatinan termasuk di antaranya adalah lumpur pengolahan air limbah (50 sampai 50kg/ton ADP). Selain itu adalah limbah kertas, yang dapat didaur ulang dan kulit kayu, yang dapat dipergunakan sebagai bahan bakar. Pencegahan dan pengendalian pencemaran Isu lingkungan yang paling signifikan adalah penggunaan khlorin dalam pemutihan serta pembuangan cairan hitam. Perkembangan industri yang telah terjadi menunjukkan bahwa pemutihan bebas khlorin total dapat dilaksanakan bagi banyak produk bubur kertas dan kertas tetapi tidak dapat memproduksi kertas dengan mutu tertentu. Program pencegahan pencemaran harus difokuskan pada pengurangan dampak pembuangan air limbah dan pada pengurangan emisi-emisi udara. Perubahan proses bisa mencakup hal-hal berikut ini: Menggunakan proses pembuatan bubur kertas secara mekanik atau termo-mekanik bilamana layak dilakukan.

Mengurangi tuntutan persyaratan pemutihan dengan rancangan dan pengoperasian proses. Mengambil tindakantindakan berikut ini untuk mengurangi emisi-emisi senyawa khlorin terhadap lingkungan:

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

835

Mengurangi kandungan lignin dalam kandungan bubur kertas sebelum pelaksanaan pemutihan dengan perpanjangan delignifikasi pada waktu proses masak atau pra-pemutihan dengan oksigen di bawah tekanan tinggi atau dengan kombinasi dari kedua metode tersebut. Mengoptimasikan pencucian bubur kertas sebelum pemutihan. Menggunakan sistem pemutihan bebas khlorin total atau bebas khlorin elemental bilamana layak untuk dilakukan. Menggunakan oksigen, ozon, peroksida (hidrogen peroksida) atau enzim-enzim (silanase bebas selulosa) sebagai pengganti untuk sistem pemutihan dengan basis khlorin. Dalam hal diperlukan pemutihan dengan khlorin, kurangi muatan khlorin pada lignin dengan cara mengendalikan pH dan dengan memisah tambahan khlorin. Pada batas minimum, dilakukan substitusi parsial dari khlorin oleh khlorin dioksida pada tahap khlorinasi.

Mengurangi emisi-emisi sulfur pada atmosfer dengan tindakan-tindakan sebagai berikut:


Menggunakan masakan pengganti (menginjeksikan cairan hitam dingin sebelum meniup bubur kertas dari unit penghancur) guna mengurangi emisi TRS. Menggunakan oksidasi cairan hitam guna mengurangi emisi TRS dari tungku .

Teknologi pengolahan Emisi-emisi oksida sulfur digosok dengan sedikit larutan alkalin. Gas TRS diambil dengan menggunakan peralatan header, kap dan ventilasi. Kondensat dari penguapan cairan hitam dilepaskan dari TRS dan diinsinerasi di dalam sebuah dapur kapur atau unit pembakaran lainnya. Presipitator elektrostatis digunakan untuk mengendalikan pelepasan bahan partikulat ke atmosfer. Secara normal alat-alat pembakaran dioperasikan pada suhu di atas 1.100C. Langkah-langkah pengolahan limbah padat termasuk di antaranya adalah penghilangan air dan pembakaran di dalam insinerator, bark boiler atau utility boiler bersama-sama dengan bahan bakar fosil.

836

Kursus pengelolaan kualitas udara

Persyaratan emisi udara Emisi udara dari pembuatan bubur kertas dan kertas harus mencapai tingkat yang disediakan dalam Tabel 8.8.
Parameter Bahan partikulat Hidrogen sulfida Sulfur dioksida Total sulfur Pabrik sulfit Kraft dan lainnya Khlorin Nitrogen oksida Bahan bakar gas 86 mg/J 130 mg/J 260 ng/J 20 mg/Nm (15 kg/ton ADP) 2.0 kg/ton ADP 1.5 kg/ ton ADP 20 ppm (0.2 kg/ton ADP) Nilai maksimum 50 mg/Nm 15 mg/Nm 800 mg/Nm

Tabel 8.8
Emisi udara dari pembuatan bubur kertas dan kertas.

Bahan bakar cair Bahan bakar padat VOC

Limbah padat Limbah padat harus dimasukkan ke dalam alat pembakaran atau dibuang dengan cara sedemikian rupa agar menghindari timbulnya bau dan pelepasan organik beracun terhadap lingkungannya. Persyaratan emisi yang diberikan di sini dapat dicapai secara konsisten dengan sistem pengendalian pencemaran yang dirancang dengan baik, dioperasikan dengan baik dan dipelihara dengan baik. Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewani Industri, uraian dan praktek Industri ini meliputi: Penyembelihan hewan ternak dan unggas;

pemrosesan hewan sembelihan menjadi produk-produk daging (diawetkan, dikalengkan dan sebagainya); dan pembuatan pupuk dari sisa-sisa yang tidak dapat dimakan dan dibuang dijadikan produk sampingan yang berguna seperti lemak babi dan minyak.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

837
Non-condensable gases

Dead stock carcasses Shop fat and bone Entrainment separator Raw Material receiving Crusher Screw press vent Steam -25 -75 PSI Blow tank Cooker Percolator drain pan Screen Screw press fat Protein meal storage hopper Pressed cracklings Oversize Grinder Screen Unpressed tankage Screw press Exhaus vapor Condenser To sewer Odor control system

Jacket condensate Precoat leaf filter Centrifuge Animal fat storage tank Solids to screw press Free run fat

Crude animal fat tank

Gambar 8.10
Skema dari batch cooker tipikal dari pengolah pupuk hewani.

Sebuah proses yang berjangkauan luas digunakan. Suatu skema alat batch cooker tipikal dari proses pengolah pupuk hewani disajikan dalam Gambar 8.10. Sifat-sifat limbah Pembuatan pupuk hewani adalah suatu proses yang menyebabkan penguapan yang menghasilkan aliran kondensat dengan bau yang busuk.

Industri daging, memiliki potensi untuk: Menimbulkan limbah padat dalam jumlah besar; air limbah dengan BOD tipikal, tingkat 600mg/l (ini bisa naik hingga 8,000 mg/l) dan tingkat kepadatan ditangguhkan 800mg/l dan yang lebih tinggi; memiliki potensi untuk menghasilkan bau yang mengganggu; menghasilkan limbah yang mungkin mengandung patogen, termasuk bakteri Salmonela dan Shigela, telur parasit dan kista amuba;

838

Kursus pengelolaan kualitas udara

limbah dan produk samping yang mungkin mengandung sisa pestisida yang muncul dari perawatan hewan atau makanannya; dan tingkat khlorida bisa jadi sangat tinggi (hingga 77.000 mg/l) yang terjadi karena proses pengawetan.

Jumlah dan kekuatan limbah dapat dikurangi dengan praktekpraktek yang baik seperti: Mengeringkan pembuangan limbah padat; dan

menyediakan saringan pada saluran pengambilan air limbah

Pencegahan dan pengendalian pencemaran Pemisahan produk dari limbah pada setiap tahapan adalah penting guna meningkatkan produk dan mengurangi muatan limbah. Bahan-bahan yang ditangani semuanya dapat membusuk, oleh karena itu, kebersihan adalah penting. Pengelolaan air harus mencapai kebersihan bebas limbah yang disyaratkan.
Tindakan pencegahan dalam pabrik seperti hal berikut ini

dapat dipergunakan untuk mengurangi gangguan bau dan timbulnya limbah padat dan cair dari proses produksi: Memperbaiki dan memproses darah menjadi produk samping yang berguna;

Memproses perut besar dan usus dan memanfaatkan lemak serta bagian-bagian yang perlu dibuang; mengurangi konsumsi air dalam proses produksi, misalnya, menggunakan keran dengan mempergunakan sumbat otomatis, penggunaan tekanan air tinggi dan perbaikan tata letak proses.

menghilangkan transportasi (pemompaan) limbah (misalnya, usus dan bulu) guna mengurangi konsumsi air; mengurangi muatan limbah cair dengan cara mencegah seluruh limbah padat dan semua cairan konsentrasi agar tidak memasuki aliran limbah; menutup saluran pengumpul di dalam wilayah produksi dengan kisi-kisi guna mengurangi jumlah bahan padat yang masuk ke dalam air limbah; memisahkan air pendingin dari proses dan air limbah dan mengedarkan ulang air pendingin; melakukan pembersihan kering pendahuluan terhadap peralatan dan wilayah produksi sebelum melakukan pembersihan basah;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

839

melengkapi jalan keluar saluran air limbah dengan saringan dan perangkap lemak, guna memperbaiki dan mengurangi konsentrasi bahan kasar dan lemak di dalam aliran air limbah gabungan; mengoptimasikan penggunaan deterjen pembersih dan disinfektan di dalam air pencuci; memindahkan pupuk kandang dari halaman penyimpanan stok dan dari pemrosesan usus dalam bentuk padat; membuang rambut dan tulang ke unit pengolah pupuk hewani; dan mengisolasi dan memberi ventilasi semua sumber emisi bau.

Pengurangan bau adalah isu pencemaran udara yang terpenting pada pabrik pengolah pupuk hewani dan dapat dicapai dengan: Mengurangi stok bahan baku dan menyimpannya di dalam tempat yang dingin, berventilasi baik yang tertutup;

melaksanakan pasteurisasi bahan baku sebelum pemrosesan guna menghentikan proses biologis yang menimbulkan bau; memasang semua peralatan di dalam ruang tertutup dan mengoperasikannya dengan vakum parsial atau total; dan menjaga agar seluruh wilayah kerja dan penyimpanan dalam keadaan bersih.

Tabel yang berikut memberikan profil bau sulfida-sulfida.


Profil bau metil merkaptan, dimetil sulfida Metil merkaptan (CH3SH) (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 48 Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0.0005 ppm. Ambang pengenalan terhadap emisi sumber industri = 0.001 ppm. Bau metil merkaptan dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari metil merkaptan = 0,02 ppm menurut KEPMEN-KEP50/MENLH/11/1996. Dimetil sulfida (CH3)2S (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 62 Sifat mudah menguap = 830 ppm. Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0,001 ppm. Ambang pengenalan dalam emisi sumber industri = 0.001 ppm Dimetil sulfida (CH3)2S dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari dimetil sulfida (CH3)2S = 0.01 ppm menurut KEPMEN KEP50/MENLH/11/1996.

840

Kursus pengelolaan kualitas udara

Teknologi pengolahan Air limbah cocok untuk pengolahan biologis dan (kecuali untuk air limbah bekas pengolahan pupuk hewani yang sangat berbau) dapat dibuang ke dalam sistem saluran pembuangan air limbah milik kotapraja bila ada kapasitas untuk itu atau sebaliknya bila diolah dan dilepaskan ke lingkungan setelah mencapai standar pembuangan yang layak. Persyaratan emisi udara Pengendalian bau harus dilaksanakan, bila perlu, guna mengurangi dampak bau kepada penghuni di dekatnya. Pabrik pupuk nitrogen Deskripsi industri dan praktek Reviu ini merujuk pada produksi amonia, urea, amonium sulfat, amonium nitrat (AN), kalsium amonium nitrat (CAN) dan amonium sulfat nitrat (ASN). Pembuatan asam nitrik digunakan untuk memproduksi pupuk nitrogen secara tipikal pada lokasi dan oleh karena itu diadakan pembahasan. Amonia
Stok bahan untuk amonia diperoleh dari nitrogen dalam

udara dan sumber hidrokarbon. Gas alam adalah yang paling lazim dipergunakan sebagai stok bahan hidrokarbon untuk pabrik baru namun, stok bahan lainnya yang telah dipergunakan meliputi naphtha, minyak dan arang gas. Skema pabrik amonia tipikal disajikan dalam Gambar 8.11. Produksi amonia dari gas alam meliputi proses-proses sebagai berikut: Desulfurisasi stok bahan;

reform primer dan sekunder; konversi shif karbon monooksida dan pengeluaran karbon dioksida (yang dapat dipergunakan untuk pembuatan pupuk urea); metanasi; dan sintesis amonia.

Katalisator yang dipergunakan dalam proses bisa meliputi: kobalt, molibdenum, nikel, oksida besi/oksida khrom, oksida tembaga/oksida seng dan besi.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

841
Hydrotreater ZnO guard chamber

Natural gas Vapour Primary reformer

Desulfurizer Air Secondary reformer

High temperature shift converter

CO2 absorber
Lean Bendfield solution Rich Bendfield solution

Process condensate
To off site

NH3 gas Compression system Ammonia separator

Stripper NH3 (cair)

CO2

To urea plant

Methanator

Purification and NH3 (30C) refrigeration To urea plant NH3 (-33C)


To urea plant

Gambar 8.11
Diagram aliran skematik dari proses manufaktur amonia.

Urea Pupuk urea diproduksi dengan cara mereaksikan amonia cair dengan karbon dioksida.
Langkah-langkah proses ini meliputi:

Sintesis larutan di mana amonia dan karbon dioksida bereaksi guna membentuk amonium karbonat yang didehidrasi untuk membentuk urea; konsentrasi larutan (dengan: vakum, kristalisasi atau evaporasi untuk menghasilkan pencairan); pembentukan bahan padat dengan prilling atau granulasi; pendinginan bahan padat dan penyaringan; pelapisan bahan padat; dan pengantongan dan/atau pengisian bahan curah.

Skema pabrik pupuk urea disajikan dalam Gambar 8.12. Karbon dioksida untuk pembuatan pupuk urea biasanya berasal dari pabrik amonia.

842
Ammonia (NH3) gas

Kursus pengelolaan kualitas udara

NH3 CO2

Synthetic section

Decomposition section

Granulation section

Gambar 8.12
Skema diagram aliran dari proses pembuatan pupuk urea.

Ammonium Carbamat solution

Recovery section

Mother liquor Fertiliser particulates

Amonium, sulfat (as) AS diproduksi sebagai: produk samping kaprolaktam dari industri petrokimia

sebagai produk samping kokas; dan secara sintetis dari reaksi amonia dengan asam sulfur.

Hanya produksi sintetis yang dibahas di sini. Reaksi antara amonia dan asam sulfur menghasilkan suatu larutan AS yang secara kontinyu disirkulasikan melalui sebuah evaporator untuk mengentalkan dan menghasilkan kristal amonium sulfat. Kristal tersebut dipisahkan dari cairan yang ada di dalam centrifugal dan setelah itu cairan tersebut dikembalikan ke dalam evaporator. Kristalnya dimasukkan ke pengering dengan dasar basah atau pengering drum putar dan disaring sebelum pengantongan dan/atau dimuat secara curah. Amonium nitrat (an), kalsium amonium nitrat (kan), amonium sulfat nitrat (asn) AN diproduksi dengan cara menetralkan asam nitrik dengan amonia tanpa air. 83% hasil larutan AN dapat dijual apa adanya, pada umumnya dicampur dengan urea atau bisa lebih jauh dikonsentrasikan menjadi 9599,5% larutan (mencair) dan diubah menjadi prill atau butiran. Langkah-langkah pembuatannya meliputi: Pembentukan larutan;

konsentrasi larutan; pembentukan bahan padat; penyelesaian akhir bahan padat; penyaringan;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

843

pelapisan; dan pengantongan dan/atau pengapalan secara curah.

Langkah-langkah pemrosesan bergantung pada produk akhir yang diinginkan. CAN dibuat dengan cara menambahkan dolomit ke dalam pencairan AN sebelum menjadi prill atau butiran, sementara ASN dibuat dengan cara membuat larutan AN dan AS menjadi butiran. Asam nitrik Tahap-tahap produksi pembuatan asam nitrik meliputi: Penguapan amonia diikuti dengan pencampuran dengan udara dan pembakaran campuran tersebut dilakukan pada sebuah katalisator platina/rodium;

pendinginan nitrik oksida (NO) yang dihasilkan dan mengoksidasikannya menjadi nitrogen dioksida (NO2) dengan oksigen residu; dan penyerapan (NO2) di dalam air dalam kolom absorpsi guna memproduksi asam nitrik (HNO3).

Sifat-sifat limbah
Emisi-emisi udara

Emisi dari pabrik amonia terhadap atmosfer meliputi: Oksida sulfur, nitrogen dan karbon;

Hidrogen sulfida; Senyawa organik mudah menguap; Partikulat; Metan; Hidrogen sianida; dan Amonia.

Polutan-polutan berikut dipancarkan dari: pemindahan pembuatan gas;


Regenerasi alas desulfurisasi; pembakaran bahan bakar di reformer primer; regenerasi larutan scrubbing karbon dioksida; dan kondensasi proses pembuangan uap.

Pabrik gasifikasi bahan bakar minyak dapat menimbulkan hidrogen sianida.

844

Kursus pengelolaan kualitas udara

Gas cerobong dari reformer primer dapat memiliki konsentrasi NOx dari 200450 mg/m3, konsentrasi sulfur dioksida (SO2) dari 0,1 hingga 2 mg dan konsentrasi karbon monoksida (CO) dari <10 mg/m3. Konsentrasi SO2 tersebut akan secara signifikan lebih tinggi jika bahan bakar selain gas alam dipergunakan. Di pabrik pupuk urea, bahan partikulat dan amonia adalah emisi yang memprihatinkan.
Partikulat merupakan polutan udara utama yang dipancarkan

dari pabrik amonium sulfat. Sebagian besar ditemukan dalam buangan gas pengemudi. Pembuangan partikulat yang tidak terkontrol bisa jadi kurang lebih 23 kg/t dari pengering putar dan 109 kg/t dari pengering dengan dasar basah. Tangki penyimpanan amonium bisa melepaskan amonia. Selain itu, mungkin terjadi kehilangan fugitif amonia dari peralatan proses.
Amonia profil bau (NH3) Sifat-sifat odoran gas Tak berwarna Bobot melekul = 17 Ambang deteksi dari emisi sumber industri = 17 ppm Ambang pengenalan dari emisi industri = 37 ppm Standar bau Amonia di Indonesia = 2,0 ppm menurut KEPMEN: KEP50/MENLH/11/1996 Bau amonia dikaitkan dengan bau busuk air kencing Efek terhadap manusia adalah pedas dan perih, sampai kematian pada konsentrasi tinggi

Limbah padat Limbah padat utamanya katalisator yang dikeluarkan, berasal dalam produksi amonia dan dalam pabrik asam nitrik. Secara normal, lain-lain limbah padat tidak menciptakan gangguan lingkungan. Pencegahan dan pengendalian pencemaran Di dalam pabrik amonia: Bila mungkin, gas alam harus bertindak sebagai stok bahan untuk pabrik amonia demi mengurangi emisi udara ini merupakan pilihan pencegahan pencemaran penting dalam produksi amonia;

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

845

mengarahkan gas hidgrogen sianida (HCN) ke dalam unit pabrik gasifikasi bahan bakar minyak ke unit pembakaran untuk mencegah agar tak terlepas; menggunakan gas pembersih dari proses sintesis untuk menyalakan reformer dan membuang kondensat untuk mengurangi amonia dan metanol; menggunakan proses penghilangan CO2 yang tidak melepaskan toksik ke dalam lingkungan; dan prosedur-prosedur pengoperasian dan pemeliharaan yang layak harus diikuti demi mengurangi pelepasan ke lingkungan.

Teknologi pengolahan Dalam produksi asam nitrik, absorbsi dan reduksi katalitik merupakan cara yang lazim digunakan untuk kepentingan mengendalikan emisi-emisi nitrogen oksida. Efisiensi absorpsi dapat dinaikkan dengan meningkatkan jumlah baki, mengoperasikan menara pada tekanan yang lebih tinggi atau mendinginkan cairan asam lemah di dalam absorber. Di pabrik pupuk urea, wet scrubber digunakan untuk mengendalikan emisi fugitif dari prilling tower, filter kain dipergunakan untuk mengendalikan emisi debu dari pengoperasian kantong. Alat-alat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari pengoperasiannya. Dalam unit pengolah amonium sulfat, wet scrubber merupakan cara yang disukai untuk keperluan mengendalikan emisi partikulat dan asam dari pengering. Persyaratan emisi udara Emisi udara dari unit pengolah pupuk nitrogen harus mencapai tingkat dalam Tabel 8.9.
Parameter Nilai maksimum 35 mg/Nm 350 mg/Nm 50 mg/Nm

Tabel 8.9
Emisi udara unit pengolah pupuk nitrogen.

Amonia Oksida nitrogen Partikulat

846

Kursus pengelolaan kualitas udara

7. BACAAN TAMBAHAN
Air and Waste Management Association International Conference on Odours: indoor and environmental air, September13-15, 1995 at Bloomington, Minnesota, USA. Air & Waste Management Association 1997. Papers prepared for presentation at the AWMA 90h Annual Meeting & Exhibition from June 8-13, 1997 in Toronto, Canada, AWMA, Pittsburgh, PA, USA. Buoncore Anthony J. and WT Davis 1992 (Eds). Air Pollution Engineering Manual Air Pollution Engineering Manual. Nostrand Rienhold, pp 147-155. Clean Air Society of Australia and New Zealand (CASANZ) 1995. Odour special interest workshop, held Bond University, 18 and 19 May 1995 Part A of 2 parts, Clean Air 29 4, November 1995, pp 26-39 Clean Air Society of Australia and New Zealand (CASANZ) 1995. Odour special interest workshop, held Bond University, 18 and 19 May 1995 Part B of 2 parts, Clean Air 30 1, February 1996, pp 29-45 Coghlan, Andy, Electronic nose detects the nasty sniffs, New Scientist (ISSN:02624079) v 141 p 20 February 5 1994 CEN (Committee European de Normalisation) 1995. Document 064/e, Draft European Standard, Odour concentration measurement by dynamic olfactometry, English version, 9705-29 12:01. Court J 1995. Key considerations for odour laws and regulations, a contribution to the Odour special interest workshop, held at Bond University, 18 and 19 May 1995 Part A of 2 parts, Clean Air 29 (4), November 1995, p35 Economopoulos, A.P. 1993 Rapid Inventory Techniques in Environmental Pollution. In Assessment of Sources of Air, Water and Land Pollution. Geneva. World Health Organisation. Jiang John, and J Sands 1997. Odour Measurement for Regulatory, Purposes, Centre for Water and Waste Technology, University of NSW. 31pp. Kirkpatrick, N. 1991.Environmental Issues in the Pulp and Paper Industries. Surrey, U.K. Pira International. Macdonald, G. J. and Freeman, T. j., Odour management at Major New Zealand Wastewater Plants, Proceeding of AWWA 17th Federal Convention, Melbourne, 1997

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

847
Ministry for Environment, New Zealand, Odour management under resource management ACT June, 1995. Misselbrook T H. P J Hobbs and K C Persaud 1997. Use of an electronic nose to measure odour concentration following application of cattle slurry to grassland, Journal of Agricultural Engineering Research, 66, pp213-220. Nagy, George Z. 1991. The Odour Impact Model, Journal of the Air & Waste Management Association; 41 p 13601362. Nathan, Stuart, On the scent of something big (electronic nose), Chemistry and Industry (ISSN:00093068) nol5 p 587 August 1 94 Nicell JA 1994. Development of the odour impact model as a regulatory strategy, International Journal of Environment and Pollution. 4 (1-2) ppl24-138 Sauchelli, Vincent. 1960. Chemistry and Technology of Fertilisers. New York: Reinhold Publishing Corporation. Sittig, Marshall, 1979. Fertiliser Industry Processes, Pollution Control and Energy Conservation. Ney Jersey, Noyes Data Corporation. United Nations Industrial Development Organisation (UNIDO). 1991. Conference on Ecologically Sustainable Industrial Development. Case Study No. 1, Pulp and Paper, Held in Copenhagen, Denmark in October 1991. United Nations Industrial Development Organisation, Vienna, Austria. UNIDO. 1978. Process Technologies for Nitrogen Fertilisers. New York: United Nations. UNIDO. 1992. Draft Pulp and Paper Industrial Pollution Guidelines. World Bank, Environment Department. 1995. Industrial Pollution Prevention and Abatement: Nitrogenous Fertiliser Plants. Draft Technical Background Document. World Bank, Environment Department. 1996. Pollution Prevention and Abatement: Pulp and Paper Mills. Technical Background Document. World Bank Environmental Department. 1996. Pollution Prevention and Abatement. Meat Processing and Rendering. Technical Background Document.

848

Kursus pengelolaan kualitas udara

PROSEDUR PENILAIAN BAU DENGAN METODE OLFAKTOMETRI DINAMIK (VICTORIA, AUSTRALIA) NO. B2.
1. Cakupan dan aplikasi 1.1Metode ini mengukur tingkat pembuangan bau dengan mempergunakan olfaktometri dinamik, sebuah dilusi pada teknik ambang batas. Batas pendeteksian bergantung pada desain peralatannya tetapi berkisar kira-kira 50 unit bau. 1.2Metode ini melibatkan perolehan sampel-sampel gas yang mewakili gas-gas yang dibuang. Masing-masing sampel didilusikan secara dinamis di dalam laboratorium dengan udara bebas bau dan disajikan ke sebuah panel yang terdiri dari tiga pengamat yang sebelumnya disaring menurut ketentuan Standar B1 Prosedur AnalitisPemilihan Panelis Bau EPA (Vic). 1.3Serangkaian jumlah dilusi versus persentase respon panel dibuat dengan kertas grafik probabilitas logaritma. Jumlah dilusi yang diperlukan untuk 50% respon panel adalah tingkat bau dari sampel. 2. Akurasi dan presisi 2.1Dua tingkat bau yang diukur berbeda secara signifikan pada tingkat keyakinan 95% jika (yang lebih besar - 61% dari yang lebih besar) lebih besar dari yang lebih kecil. Definisi 3.1Tingkat bau ditetapkan dengan rasio volume yang sedianya diisi oleh sampel ketika didilusikan ke ambang bau dengan volume sampel

3.

3.2Tingkat baunya diekspresikan dalam satuan bau (ou) dan adalah analogus dengan konsentrasi 3.3Ambang baunya adalah tingkat di mana respon panel 50% diperoleh 3.4Tingkat kecepatan emisi bau berarti hasil penghitungan level bau dari limbah yang harus dibuang dan tingkat kecepatan volume pembuangan (dalam m basah per menit dirujuk ke suhu 0C dan tekanan 101,3 kilopaskal) dan dinyatakan dalam satuan volume bau/menit (ou/men).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

849
4. Peralatan dan reagen 4.1Sonde dan filter harus terbuat dari baja tahan karat atau PTFE yang cukup dipanasi untuk mencegah terjadinya kondensasi. Sebuah filter baja tahan karat ukuran pori 60 mikron atau penyumbat wol kaca sudah cukup. Wol kaca harus dibuang setelah pemakaian sedangkan filternya harus dibilas dengan air banyak-banyak dan dikeringkan. 4.2Kantong-kantong pengambilan sampel haruslah berkapasitas nominal 15 L. Kantong pengambilan sampel Mylar dibungkus tempat yang kedap gas. 4.3Panjang pipa pengambilan sampel haruslah seminimum mungkin, terbuat dari baja tahan karat atau PTFE dan harus dipanasi hingga di atas titik embun dari gas di luar cerobong. 4.4Pompa harus bebas bocor, jenis diafragma atau ekuivalen untuk mengevakuasi kontainer kedap gas. 4.5Meter gas keringuntuk mengukur volume sampel total hingga dalam batas 2% 4.6Jika dibutuhkan tingkat kecepatan emisi bau maka diperlukan peralatan yang cukup untuk memungkinkan tingkat kecepatan aliran volume gas dapat ditetapkan dengan menggunakan Metode 10780 ISO / DISVelositas Gas dan Tingkat Kecepatan Aliran Volume. 4.7Sebuah sistem dilusi dinamik (Gambar A,1) harus termasuk: 4.7.1 Meter pengukur tingkat kecepatan aliran gas kaca, dapat mengukur hingga akurasi 5%, aliran udara 50 L/menit, untuk dilusi aliran udara. Alat ini harus dikalibrasi dengan meter gas yang telah dikalibrasi. 4.7.2 Empat buah meter pengukur tingkat kecepatan aliran gas kaca, mampu mengukur aliran sampel hingga akurasi 5%. Aliran-aliran secara nominal 010 ml/ menit, 0100 ml /menit, 01 L/menit dan 010 L/ menit. Alat-alat ini harus dikalibrasi terhadap sebuah meter pengukur buih sabun in-line atau meter pengukur gas bila dianggap perlu. 4.7.3 Ruang pencampuran PTFE berisi bentukanbentukan PTFE. Volume sebesar kira-kira 1,5 L cukup memadai. 4.7.4 15 cm kaca atau corong PTFE menyajikan sampel dilusi ke panelis. 4.7.5 Semua sampel dan pipa udara dilusi harus dibuat dari PTFE.

850

Kursus pengelolaan kualitas udara

4.7.6 Sebuah sumber udara diatur pada tekanan kirakira 5kPa. Ini dilakukan untuk memberikan tekanan udara pada tempat sampel. 4.8Panel bau (Gambar A.2 dan A.3) harus terdiri: 4.8.1 Alat untuk melindungi antara satu panelis dengan yang lain 4.8.2 Alat bagi panelis untuk menunjukkan responrespon mereka dari jauh kepada operator panel dengan cara sedemikaian rupa sehingga panelis-panelis lainnya tidak dapat mempengaruhi satu sama lain 4.8.3 Tempat duduk yang nyaman bagi para panelis 4.9 Panel bau harus ditempatkan dalam sebuah ruangan yang dirancang sedemikian rupa sehingga: (i) ventilasi mencegah terbentuknya bau di ruangan tersebut; (ii) bahan-bahan bangunan harus bebas bau; (iii) distraksi bagi para panelis (seperti bunyi, dsb) harus ditekan jadi sekecil mungkin 4.10 Tiga panelis dipilih dengan menggunakan ketentuan Standar B1 Prosedur AnalitisPemilihan Panelis Bau EPA (Vic). Para panelis tidak boleh makan atau merokok selama jam pelaksanaan analisis dan harus dipastikan bahwa orang-orang tersebut serta pakaian mereka bebas bau. Sebanyak mungkin mereka merupakan orang-orang yang bekerja di lingkungan bebas bau. 4.11 Diperlukan sumber udara kering, bebas bau.

5.

Prosedur 5.1Pengambilan sampel 5.1.1 Bidang pengambilan sampel cerobong harus dipilih sedemikian rupa sehingga kriteria dalam Standar Australia: AS 4323.11995 Metode 1 Pemilihan Posisi Pengambilan Sampel Emisi Sumber Stasioner terpenuhi. 5.1.2 Faktor dilusi (DF) yang dibutuhkan untuk mencegah kondensasi ditentukan sebagai berikut:
DF = Cs Ca Cs = Konsentrasi uap air dalam cerobong (%v/v) Cs = Konsentrasi dari uap air yang ada dalam udara jenuh pada suhu ambien

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

851
Jika DF>6, maka volume udara bebas bau yang mulamula dimasukkan ke dalam kantong harus disesuaikan sehingga:
DF (dihitung) = ( Volume udara dilusi + Volume sampel) volume sampel

Jika DF > 6, 10 L udara kering bebas bau ditambahkan ke dalam kantong sampel dan sebesar 2 L sampel diambil. 5.1.3 Isi kantong bau dengan 10 L atau menurut jumlah yang didasarkan pada hitungan, dengan udara dilusi bebas bau 5.1.4 Pastikan agar sistem pengambilan sampel dalam keadaan bebas bocor. 5.1.5 Tempatkan sonde dan filter ke dalam cerobong dengan jarak antara lubang masuk sebesar seperempat diameter dalam cerobong I dari dinding cerobong. Pastikan agar udara tidak dapat masuk ke dalam cerobong melalui lubang-lubang pengambilan sampel. Biarkan sonde, filter dan pipa-pipa pengambilan sampel yang diperlukan memperoleh ekuilibrium panas dengan gas-gas cerobong ini. 5.1.6 Kondisikan sonde, filter dan pipa pengambilan sampel dengan menarik kira-kira 5 L gas cerobong melewatinya. 5.1.7 Hubungkan kantong pengambilan sampel ke pipa pengambilan sampel dan drum ke pompa dan meter gas. Perhatikan bacaan meter gas dan waktu. 5.1.8 Ambil sampel volume gas cerobong yang dibutuhkan. Tingkat kecepatan pengambilan sampel akan bergantung pada proses yang dilibatkan tetapi harus berada di antara 0,5 dan 2 L per menit. 5.1.9 Matikan pompa. Lepaskan hubungan drum dan kantong. Tutup kantong dengan stopper kaca atau PTFE. Perhatikan bacaan meter gas dan waktu. 5.1.10 Ambil paling tidak satu sampel lagi.

852
5.1.11 Lembar hasil:
Data lapangan: Titik pembuangan: Kantong bau no.: Waktu mulai: berhenti: Volume udara dilusi (L): Pembacaan meter awal (L): Pembacaan meter akhir (L): Volume yg diambil sbg sampel (L): Pengukur suhu (C):

Kursus pengelolaan kualitas udara

Tanggal:

5.1.12 Ukur tingkat kecepatan aliran volume gas bila perlu (lihat 4.8) 5.2Analisis 5.2.1 Sampel-sampel harus dianalisis secepat bisa mungkin setelah pengambilan 5.2.2
Operator panel bau harus memastikan bahwa konsentrasi odoran yang diterima oleh panelis adalah sedemikian rupa sehingga kemungkinan mengalami efek sakit sangat kecil.

Maksud dari olfaktometri dinamik adalah untuk menghadirkan panelis dengan sampel dilusi secara dinamik yang dekat ambang bau sehingga tidak membuat jenuh respon indera penciuman mereka dengan konsentrasi bau yang tinggi dan mungkin bahan-bahan berbahaya. 5.2.3 Bilas sistem dilusi dengan udara dilusi bebas bau 5.2.4 Persilakan para penalis bau duduk secara nyaman di tempat panel dan jelaskan teknik mengendus kepada mereka. Mereka harus mengendus udara yang datang dari sebuah face piece dan udara ambien secara bergantian. Perlu dijelaskan bahwa, sambil mengendus, mereka harus menunjukkan kapan mereka mendeteksi sesuatu bau dan berhenti untuk menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mendeteksi bau. Jelaskan bahwa mereka tidak dapat mencium sesuatu sampel secara terus menerus karena sampel akan diganti-ganti dengan udara bebas bau. 5.2.5 Setel aliran udara dilusi ke 50 L per menit dan catat setelan meter pengukur tingkat kecepatan aliran 5.2.6 Beritahukan kepada panel untuk mulai mengendus

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

853
5.2.7 Jika ada di antara anggota panel yang merespon, periksa untuk memastikan bahwa udara dilusi tersebut adalah bebas bau. Katakan kepada panel bahwa udara yang mereka endus adalah bebas bau. 5.2.8 Perkenalkan sampel sampai semua panelis memberikan respon. Perhatikan setelan meter pengukur aliran gas dan hentikan aliran sampel. Tunggu sampai semua panelis berhenti merespon. Ini memastikan bahwa para panelis mengenali bau tersebut dan memberikan kepada operator suatu petunjuk tentang perkiraan ambang bau. 5.2.9 Perkenalkan sampel pada tingkat dilusi acak kepada para panelis, gantikan dengan aliran sampel nol, catat setelan meter pengatur tingkat kecepatan aliran gas sampel dan respon panel terhadap masing-masing setelan. Untuk memperoleh poin-poin pada grafik, gunakan level-level aliran sampel agar supaya sepertiga dan dua pertiga dari panelis dapat mendeteksi bau tersebut. 5.2.10 Panel bau harus diberi waktu istirahat selama paling sedikit lima menit antara setiap sampel. 5.2.11 Data panel bau: Tanggal: Nama-nama panelis 1: 2: 3: Meter pengukur tingkat aliran udara dilusi: 6. Penghitungan dan pelaporan 6.1Penghitungan 6.1.1 Dari kurva kalibrasi meter pengukur tingkat kecepatan aliran yang digunakan, hitung aliran pada masing-masing setelan. 6.1.2 Hitung jumlah total dilusi dari sampel (perhitungkan dilusi awal) pada masing-masing setelan.
D = (Aliran volume sampel + Aliran volume udara dilusi) x DF Aliran volume sampel

DF = 6 atau nilai yang dihitung. 6.1.3 Hitung persentase respon panel untuk masingmasing jumlah dilusi.

854

Kursus pengelolaan kualitas udara

6.1.4 Grafik, pada kertas grafik probabilitas logaritma, persentase respon panel vs. jumlah dilusi 6.1.5 Tarik garis lurus yang paling cocok lewat titik-titik ini. 6.1.6 Temukan jumlah dilusi untuk 50% respon dari panel. Ini adalah level bau sampel. 6.1.7 Titik-titik 0% dan 100% respon tidak dapat dipergunakan tetapi ambang batasnya harus berada di antara titik-titik ini. 6.1.8 Level bau dari pembuangan diberikan oleh ratarata dua level bau yang diukur. Jika (lebih besar61% dari yang lebih besar) lebih besar dari yang lebih kecil, maka pengujian harus diulang 6.2Pelaporan 6.2.1

Yang berikut ini harus dilaporkan:

Organisasi yang melaporkan Nama perusahaan Lokasi Tanggal pengambilan sampel Waktu pengambilan sampel Titik Pembuangan, Jumlah Limbah yang ditentukan Lokasi bidang pengambilan sampel dalam kaitannya dengan gangguan-gangguan aliran hulu dan hilir terdekat. Kondisi pengoperasian selama pengambilan sampel Metode-metode pengujian yang dipergunakan Referensi terhadap metode analitis Diameter cerobong asap (m) Luas cerobong (m2) Jumlah titik pengambilan sampel Jumlah determinasi Durasi pengambilan sampel (menit) Suhu gas cerobong rata-rata (C) Velositas gas cerobong rata-rata (m/detik) Konsentrasi air (% volume/volume)

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

855

Kecepatan aliran volume gas (m3/menit) dinyatakan dg. 0C, 101.3 kPA, basah Konsentrasi bau (o.u), dinyatakan dengan 0C, 101.3 kPA, basah Tingkat kecepatan emisi bau (o.u.v./menit) Batas kedaluarsa Lisensi Komentar-komentar: Setiap deviasi dari prosedur standar dan setiap faktor yang mungkin telah mempengaruhi hasilnya. Yang berikut harus ini diperhatikan: (i) Volume dinyatakan dengan 0C, 101.3kPA (ii) Oleh karena tingkat bau diukur basah emisinya akan diperoleh dengan mempergunakan kalkulasi dengan tingkat kecepatan aliran gas cerobong basah.

6.2.2

7.

Catatan 7.1Masalah berkaitan dengan kontaminasi peralatan pengambilan sampel / peralatan dilusi sering terjadi. Perpipaan PTFE yang berbau dapat dibersihkan dengan memanaskannya di dalam suatu oven hingga kira-kira 150C sambil menghembuskan udara bebas bau lewat rongganya. Sumber kontaminasi umum lainnya adalah karet ring O. Sebaiknya penggunaannya sedapat mungkin dihindari. 7.2Setelah pengujian selesai, peralatan panel bau harus dibilas dengan udara bebas bau. 7.3Sampel didilusi pada waktu pengambilan untuk mencegah kondensasi cairan dan untuk mempertahankan integritas sampel. 7.4Peralatan pengambilan sampel tidak boleh dipergunakan untuk prosedur pengujian yang lain.

8.

Referensi 8.1Beneforado D.M., Rotella W.S., Horton D.L, Development of an Odour Panel for Evaluation of Odour Control Equipment, J.A.P.C.A. 19(2), 101, (1969). 8.2Wahl J.P., Duffee R.A., Marrone W.A., Evaluation of odour Measurement Techniques, Volume 1, Animal Rendering Industry, US EPA 650/2-74-008-a Washington, Jan. 1974. 8.3Bedborough D.R., Trott P .E., The Sensory Measurement of Odours by Dynamic Dilution, Warren Springs Lab, 1979.

856

Kursus pengelolaan kualitas udara

Regulator at 5 kPa Plastic drum with airtight lid Mylar sample bag Flowmeter to set air flow

Flowmeter bank to set sample flow All hoses PTFE unless otherwise marked PTFE mixing chamber Large glass funnels Odour-free air supply

Gambar A.1
Odour testing dilution system (sistem penipisan pengujian bau).

Gambar A.2
Testing panel for odour testing (regu pengujian untuk pengujian bau).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

857
9 x 1.5 volt dry cells

6-volt bezel

push-on awitch

6-volt bezel 0n-off switch

Gambar A.3
Odour testing indicating system (sistem indikasi untuk pengujian bau).

Circuitry in Operators box

Circuitry in each panel members box

858

Kursus pengelolaan kualitas udara

LAMPIRAN B: TEKNIK-TEKNIK PENGUKURAN BAU DI LAPANGAN


Penilaian bau adalah subyektif. Indera penciuman manusia dapat membedakan antara ribuan substansi bau yang berlainan dan dapat mendeteksi banyak dari bau tersebut yang memiliki konsentrasi sangat rendah. Pada umumnya gangguan bau ditentukan oleh faktor FIDO: Frekuensi, Intensitas, Durasi dan Gangguan (offensiveness) bau. Dalam kuantifikasi masalah gangguan bau, frekuensi merujuk pada berapa kali terjadinya bau, intensitas merujuk pada kekuatan bau, durasi merujuk pada berapa lama terjadinya bau dan gangguan bau merujuk pada ketidaknyamanan atau sifat bau. Pada umumnya, faktor-faktor FIDO hampir mustahil dipantau atau direkam. Respon indera manusia Besarnya respon indera manusia terhadap bau (intensitas bau yang dirasakan) menurun ketika konsentrasi odoran menurun. Namun hubungan antara intensitas bau dan konsentrasi odoran sama sekali tidak merupakan suatu proporsi langsung. Sayangnya untuk tujuan pengendalian bau, pada waktu udara berbau didilusikan dengan udara bebas-bau, bau yang dirasakan menurun menjadi kurang tajam dibandingkan dengan konsentrasinya, misalnya, pengurangan 10 fold pada konsentrasi amil butirat dalam udara diperlukan untuk mengurangi separuh dari intensitas bau yang dirasakan. Tidak semua odoran merespon dengan rasio yang sama, yang lain bisa berubah dengan lebih tajam. Intensitas bau yang dirasakan menurun dengan cepat selama masa pengeksposan yang terus-menerus, ini merupakan suatu fenomena adaptasi terhadap bau atau letih bau. Dalam peristilahan sederhana hal ini dijelaskan sebagai ujung-ujung saraf penciuman menjadi letih. Juga, fenomena ini mengungkapkan sendiri secara berbeda, dalam situasi industri di mana para pekerja dihadapkan pada sesuatu bau yang menjijikkan, menjadi terbiasa dengan bau tersebut dan akhirnya menyadari bahwa meskipun tidak enak tetapi tidak mengganggu. Dalam beberapa contoh, ekspos berulang terhadap bau dapat membuat seseorang menjadi lebih sensitif terhadap bau.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

859
Pengukuran bau Teknik pengukuran instrumental, secara umum tidak dapat diterima sebagai hal yang dapat diterapkan secara universal dan merupakan sesuatu hal yang sangat sulit untuk menetapkan tingkat intensitas bau dengan teknik pendeteksian ini. Metodologinya tidak sulit, yang diperlukan hanyalah sampel udara dalam jumlah yang cukup besar dimasukkan ke dalam kantong sampel yang tak bereaksi kimiawi untuk kemudian dikirimkan ke laboratorium dengan khromatograf gas ionisasi nyala api atau instrumen analisis sejenis. Prosedur pengambilan sampel gas yang berbau dan menyerahkan mereka kepada panelis bau (olfaktometri dinamik) telah disajikan dalam Lampiran A di atas. Namun demikian, seringkali hidung manusia tetap dapat mendeteksi bau pada konsentrasi jauh di bawah batas deteksi banyak instrumen. Adalah juga merupakan suatu hal yang penting untuk diingat bahwa bau adalah rasa dan akhirnya harus dinilai dengan cara mengukur respon manusia terhadap mereka.
Regulator at 5 kPa Plastic drum with airtight lid Mylar sample bag Flowmeter to set air flow

Flowmeter bank to set sample flow All hoses PTFE unless otherwise marked PTFE mixing chamber Large glass funnels Odour-free air supply

Gambar B.1
Peralatan penipisan untuk pengujian bau.

860

Kursus pengelolaan kualitas udara

Secara alternatif sampel udara dapat disodorkan kepada sebuah panel bau yang terdiri dari personil terpilih dengan indera penciuman yang kuat. Biasanya sampel udara didilusikan beberapa kali dengan udara bebas bau dan didistribusikan kepada anggota panel melalui sebuah manipol yang secara perlahan-lahan diturunkan laju kecepatan dilusinya sampai sebagian besar panel dapat mencium bau tertentu. Teknik ini secara diagram disajikan pada Gambar B.1. Oleh karena itu panel bau dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar jumlah dilusi emisi bau yang diperlukan pada sumber guna memastikan agar mayoritas populasi tidak menemukan intensitas bau yang cukup untuk menyebabkan gangguan. Dilusi atau penyebaran dari sumbernya dapat diperoleh dengan mengeluarkan bau dari sebuah cerobong asap yang tinggi atau mendilusikan bau dengan volume udara yang besar melalui ventilasi mekanik. Dalam praktek, gangguan bau dinilai secara subyektif oleh orang perseorangan dan jika menurut pendapatnya, intensitas bau tersebut mengganggu, dalam banyak kasus tindakan akan berupa mengurangi gangguan. Pengawas yang harus menentukan apakah penghuninya sendiri yang bertanggungjawab terhadap bau yang tidak layak itu atau apakah ada sumbersumber lain yang ikut menyebabkan terciptanya bau tersebut. Observasi lapanganpenggunaan log bau Menyimpan log mengenai timbulnya bau di lapangan mengandung beberapa keuntungan: Membantu mengembangkan kepercayaan terhadap indera penciuman seseorang; dan

membantu mengkuantifikasi dampak emisi-emisi bau terhadap lingkungan (kadang-kadang bau dapat menjadi pelacak yang berguna terhadap gerakan udara yang dilokalisir dan meningkatkan pengetahuan tentang mikrometeorologi wilayah).

Informasi berikut ini harus dicatat oleh petugas yang menyelidiki keluhan bau. Pengamatannya/hasilnya harus membentuk suatu bagian dari setiap laporan peristiwa tersebut. Deskriptor bau Arah angintitik kompas delapan sudah cukup. Kekuatan anginmenggunakan Skala Beaufort (lihat Tabel B.1 di bawah untuk pedoman).

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

861
Awannaungan awan merupakan pedoman untuk. Hujan atau naungan awan tebalselalu berarti stabilitas netral. Langit yang cerah dan angin rendahseringkali berarti ada serangan di malam hari. Kategori stabilitas Pasquilldapat dipergunakan dan digambarkan dalam Tabel B.2. Golongan Stabilitas Pasquill adalah: Akondisi sangat tidak stabil Bkondisi tidak stabil moderat Ckondisi tidak stabil ringan Dkondisi netral (awan tebal, siang atau malam) Ekondisi stabil ringan Fkondisi stabil moderat.

Nomor Beaufort

Uraian Penjelasan

Spesifikasi Skala untuk keganaan pada lahan

Kisaran kecepatan (@ 10m secara terbuka) M/s km/hr >1 1-5 6-12 13-19 20-29 30-39 40-49 50-61

0 1 2 3 4 5 6 7

Tenang Udara ringan Embusan ringan Embusan lembut Moderat Embusan segar Embusan kuat Angin kencang

Tenang, asap naik vertikal Arah angin diperlihatkan oleh kelokan asap, bukan oleh baling-baling angin Angin terasa di wajah, daun gemerisik, balingbaling digerakkan angin Daun-daun dan ranting kecil bergerak secara konstan, angin mengibarkan bendera kecil Menerbangkan debu dan potongan kertas, cabang kecil bergerak Pohon kecil mulai berayun Cabang besar bergerak, kawat telepon bersuit Seluruh pohon bergerak, terasa tak nyaman ketika berjalan melawan angin

>0.3 0.3-1.5 1.6-3.3 3.4-5.4 5.5-7.9 8.0-10.7 10.8-13.8 13.9-17.1

Tabel B.1
Skala Beaufort dengan Ekuivalen Kemungkinan.

Kecepatan angin permukaan (m/sec) <2

Isolasi siang-hari

Kondisi malam hari Awan tipis 1/8 mendung Lebih dari 3/8 mendung

Kuat A A-B B C C

Moderat A-B B B-C C-D D

Ringan B C C D D

Tabel B.2
Pedoman lapangan untuk penentuan Kelas Stabilitas Pasquill.

2 4 6 *>6

E D D D

F E D D

862

Kursus pengelolaan kualitas udara

Tingkat mendung ditentukan bahwa sebagian langit di atas kaki langit sekeliling yang tampak dalam keadaan tertutup awan.
Jenis bausuatu penjelasan singkat yang memungkinkan

peneliti lainnya untuk mengidentifikasi misalnya pengencer cat, ragi, plastik yang terbakar, dll.
Kekuatan baudapat dijelaskan dengan menggunakan

deskriptor pada Tabel B.3 di bawah.


Koordinat lokasimenggunakan arah jalan atau arah timur dan arah utara dsb., dari peta. Asalsumber yang dicurigai setepat mungkin.
Deskriptor Kondisi

Sangat lemah (SL) hampir tak terasa melalui embusan bau secara okasional Lemah (L) Medium(M) beda namun lemah dalam embusan bau secara berulang-2 terus-menerus menghadirkan bau bau yang kentara Menguasai, tembus ventilasi

Tabel B.3
Deskriptor kekuatan bau.

Kuat(K) Sangat kuat (SK)

Kata-kata kunci: Bubur kertas dan kertas, amonia pupuk urea; intensitas bau, frekuensi bau, durasi bau, gangguan bau; scrubber, afterburner.

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

OHP

M ATA A J A R A N

bau dan pengelolaanny a


DALAM SESI INI Pendahuluan Teori Bau Metode pengukuran bau Teknik pengendalian bau Model bau sebagai alat pengatur Senyawa dan sumber bau
OHP 81

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

2. TEORI BAU Intensitas bau HUKUM STEVEN ATAU HUKUM TENAGA I (yang dirasakan) = k(C) n Log I = log K + nlog (C) Kemungkinan terdeteksinya bau Sifat bau Sifat hedonik (hedonic tone)

OHP 82

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

Sifat bau
Compound name Acetaldehyde Allyl mercaptan Ammonia Amyl mercaptan Benzyl mercaptan n-Butyl amine Chlorine Dibutyl amine Diisopropyl amine Dimethyl amine Dimethyl sulfide Diphenyl sulfide Ethyl amine Ethyl mercaptan Hydrogen sulfide Indole Methyl amine Methyl mercaptan Ozone Phenyl mercaptan Propyl mercaptan Pyridine Skatole Sulfur Dioxide Thioresol Trimethyl amine Formula CH3CHO CH2:CHCH2SH NH3 CH3(CH2)4SH C6H5CH2SH CH3(CH2)NH2 Cl2 (C4H9)2NH (C3H7)2NH (CH3)2NH (CH3)S (C6H5)S C2H5NH2 C2H5SH H2S C6H4(CH)2NH CH3NH2 CH3SH O3 C6H5SH C3H7SH C5H5N C9H9N SO2 CH3C6H4SH (CH3)3N Molecular weights 44 74 17 104 124 73 71 129 101 45 62 186 45 62 34 227 31 48 48 110 76 79 131 64 124 59 gas gas 830 100 gas 710 gas 360 gas gas gas 2,0 220,0 27,0 200 gas 93000 gas 8000 gas Volatility, 25C ppm, v/v gas Detection threshold ppm, v/v 0,067 0,0001 17 0,0003 0,0002 0,80 0,80 0,016 0,13 0,34 0,001 0,0001 0,27 0,0003 0,0005 0,0001 4,7 0,5 0,5 0,0003 0,0005 0,66 0,001 2,7 0,0001 0,0004 Recognition threshold ppm, v/v 0,21 0,0015 37 0,0026 1,8 0,31 0,38 0,001 0,0021 1,7 0,001 0,0047 0,0015 0,020 0,74 0,050 4,4 Odour description pungent, fruity disagreeable, garlic pungent, irritating unpleasant, putrid unpleasant, strong odour dour ammonia pungent, suffocating fishy fishy putrid, fishy decayed cabbage unpleasant ammoniacal decayed cabbage rotten eggs fecal, nauseating putrid, fishy rotten cabbage pungent, irritating putrid, garlic unpleasant pungent, irritating fecal, nauseating pungent, irritating rancid pungent, fishy

Tabel 8.1 Senyawa bau dalam emisi-emisi sumber industri.


OHP 83

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

3. METODE PENGUKURAN BAU


Parameter Amonia (NH3) Metil merkaptan (CH3SH) Hidrogen sulfida(H2S) Unit ppm Batas nilai Metode Pengukuran Peralatan Spektrofotometrik Gas khromatografik

2,0 Metode indofenol

ppm 0,002 Penyerapan gas ppm

0,02 a. Thyosianata. Spektrofotometrik mercury b. Gas khromatografik b. Penyerapan gas 0,01 Penyerapan gas 0,1 Penyerapan gas Gas khromatografik Gas khromatografik

Metil sulfida(CH3)2S Stirena (C6H5CHCH2)

ppm ppm

Tabel 8.2 Metode-metode yang disetujui untuk penentuan gas-gas odoran tunggal di Indonesia.

1. Prosedur analisis kimia 2. Prosedur pengukuran sensor/indra penciuman 3. Prosedur hidung elektronik

OHP 84

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

Pengambilan sampel

Sampel Disposable tygon (food grade) tubing Sampel Pompa peristaltic Sedotan Teflon bag

Gambar 8.1 Metode untuk mengambil sampel bau dari sumber dan udara ambien.

OHP 85

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

4. TEKNIK PENGENDALIAN BAU


Mengendalikan bau dari sumber-sumber tersebar Mengendalikan bau dari sumber-sumber industri
Jenis pengoperasian bau Ketel Unit pengolah asam Pupuk Pengolah pupuk hewani Kopi Bulu ayam Makanan ikan Sampah Amonia Deterjen dan sabun Pemurnian minyak Pabrik kimia Rockwool Pernis dan cat Penyimpanan bahan pelarut Insinerasi hewan Sampah perangkap lemak/oli Fermentasi Dapur non-besi Dapur besi Plastik laminasi Serat kaca Fenol, formaldehide Stiren, akrilat SO2, Acid gases Fluorides, fertiliser odour Amines Aldehida, amines Amines Amine, aerosol Organik pembusuk, sulfide Amonia Berbusa Hidrokarbon, sulfide (komplex) beragam (komplex) Minyak terbakar, aldehide Minyak terbakar, hidrokarbon, Aldehide Beragam bahan pelarut Amine, aldehide Amine Ragi, peragian Bau inti terbakar, aldehide Emisi Pengendalian A A,B,E A,B,F A,C,D, G A,C,D B,D B,C,D,E C,G A,B A,B,I A,C,G A;B,C A,B,C A,C D,A,G A,C,F,I B,D,G,I A,D,G A,C A A,C A,D
OHP 86

Metode-metode pengendalian bau.

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

KONDENSASI Diagram sebuah kondensor tipikal tak langsung yang dipergunakan untuk mengurangi gas berbau yang jenuh
Lubang Uap Pendingin Lubang Pendingin Drip plates with weir Uap Pendingin Uap

Keluaran limbah gas

(a) semprotan

(b) jet

Keluaran

Keluaran

(c) barometric

Gambar 8.2 Kondensor tipikal tak langsung dipergunakan untuk mengurangi gas jenuh berbau.

OHP 87

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

KONDENSASI
Keuntungan Produk murni (dalam hal kondensor kontak langsung) Kerugian Efisiensi penghilangan yang relatif rendah terhadap bau bersifat gas

Persyaratan untuk Air yang digunakan sebagai pendingin dalam suatu kondensor tak langsung (yaitu unit pertukaran panas pendingin bisa sangat dengan pipa atau shell) yang tidak mengalami kontak mahal dengan aliran gas tercemar digunakan kembali setelah pendinginan

Tabel 8.4 Untungrugi Kondensasi dalam hal pengurangan bau.

OHP 88

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

INSINERASI (AFTERBURNER) Sebuah afterburner gas duatahap tipikal tersaji dalam Gambar 8.3.
Pengeluaran gas

Ruangan bakar sekunder Pembakar Ruangan bakar primer Feed Pengeluaran debu

Gambar 8.3 Skema sebuah insinerator udara ruangan dua untuk keperluan pengendalian bau. Udara berbau dimasukkan sebagai udara pembakaran primer.
OHP 89

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

INSINERASI (AFTERBURNER) Ketel bahan bakar batubara dengan stoker kisi-kisi rantai cocok berfungsi sebagai afterburner karena gas-gas berbau dapat ditampung di bawah grate sebagai udara bawah api.
Entrained grate Proses pengeringan Overfeed Fuel spout

Underfeed Pengeluaran debu

Udara pembakaran

Gambar 8.4 Skema dari spreader stoker boiler cocok untuk dipakai sebagai sebuah afterburner.

OHP 810

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

INSINERASI (AFTERBURNER)
Keuntungan: Kesederhanaan pengoperasian; Kerugian: Biaya pengoperasian relatif tinggi (terutama yang terkait dengan kebutuhan bahan bakar); Potensi untuk kilas balik dan bahaya ledakan ikutan;

Kemampuan menghasilkan uap atau panas dalam bentuk lain;

Kemampuan efisiensi yang tinggi dalam Peracunan katalisator (dalam hal hal pemusnahan odoran organik. insinerator katalis); Pembakaran tak sempurna dapat menciptakan masalah polusi potensial lebih buruk.

Tabel 8.5 Menyajikan untung-rugi Insinerasi dalam hal pengurangan bau.

OHP 811

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

WET SCRUBBING
Gas outlet Liquid inlet Entrainment separator (demister) Liquid distributor Packing restrainer Shell Random packing Access manway for packing removal Liquid re-distributor

Access manway for packing removal Packing support Gas inlet Overflow Liquid outlet

Gambar 8.5a Kolom kemasan arus balik tipikal.


OHP 812

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

WET SCRUBBING
Gas out Mist eliminator Liquid in Bubble cap

Shell Tray Downspout Tray support ring Tray stiffener Vapour riser Froth

Sidestream withdrawal Internediate feed

Gas path through cap Gas in

Liquid out

Gambar 8.5b Suatu bubble cap plate column yang tipikal.


OHP 813

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

WET SCRUBBING
Keuntungan Penurunan tekanan yang relatif rendah Kerugian Dapat menciptakan masalah pembuangan air

Dapat mencapai efisiensi transfer massa Produk diambil dalam keadaan basah yang relatif tinggi Modal yang relatif rendah Pengendapan partikulat dapat menyebabkan penyumbatan di bagian dasar atau pelat Biaya pemeliharaan yang relatif tinggi

Kebutuhan ruang yang relatif kecil Kemampuan untuk mengambil partikulat sebagaimana halnya gas

Tabel 8.6 Untung-rugi wet scrubber dalam upaya mengurangi baru.

OHP 814

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

ADSORPSI KARBON AKTIF Aplikasi biasa untuk adsorpsi arang aktif


Gas tercemar masuk

Activated carbon beds gas bersih keluar

Gambar 8.6 Adsorber arang aktif.

OHP 815

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

ADSORPSI KARBON AKTIF


Keuntungan Perbaikan produk dimungkinkan Pengendalian dan respon yang bagus terhadap perubahan proses Tidak ada masalah pembuangan kimiawi apabila polutan (produk) dipulihkan dan dikembalikan ke dalam proses Kemampuan sistem untuk menyediakan otomasi penuh Kemampuan untuk menghilangkan odoran bersifat gas atau uap dari aliran proses ke tingkat yang sangat rendah Kerugian Perbaikan produk bisa membutuhkan distilasi yang eksotik dan mahal Adsorben secara progresif rusak kemampuan kapasitasnya ketika jumlah siklus meningkat Regenerasi adsorben membutuhkan sumber uap atau vakum Biaya modal relatif tinggi

Tabel 8.7 Menyajikan untung-rugi adsorber arang aktif dalam hal pengurangan bau.

OHP 816

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

BIOFILTRASI Gambaran skematik dari filter bau biofiltrasi disajikan dalam Gambar 8.7.
Typical biofilter
LIT #1 BED #1

SLA

LIT #2 BED #2

Clean gas to atm.

Conditioning section

Biofilter section

Gambar 8.7

Biofilter Filter biotrickling Bioscrubber

Skema biofilter tipikal untuk pengendalian jika sumber industri berbau.

OHP 817

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

MODIFIKASI BAU PENYEBARAN Laboratorium Warren Spring di Inggris menyarankan teknik berikut untuk menaksir tingginya cerobong asap yang tidak benar hu. hu = (0. 1 DQ). di mana D adalah jumlah dilusi atau unit bau yang dibutuhkan untuk menyebarkan sumber emisi ke TOC50% dan Q adalah laju aliran volumetrik dalam m/s pada OoC dan 760 mm Hg. Lambang yang ekuivalen adalah: hu = (0. 1 Mo/TOC50%)0.5 di mana Mo adalah laju emisi massa dari gas berbau dalam g/s dan TOC50% memiliki unit g/m3.

OHP 818

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

5. MODEL BAU SEBAGAI ALAT PENGATUR


Model-model penyaringan, seperti Screen Model-model pengatur, seperti ISC3 dan Ausplume Model-model fisik khusus, seperti Inpuff dan Auspuff

Gambar 8.8 Keluaran model tipikal dari model ausplum menunjukkan kontur bau yang diprediksi untuk penentuan panel bau.
OHP 819

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

6. SENYAWA DAN SUMBER BAU Industri bubur kertas (pulp) dan kertas URAIAN DAN PRAKTEK INDUSTRI Langka-langka utama pembuatan bubur kertas dan kertas adalah: Persiapan bahan mentah;

pembuatan bubur kertas; pemutihan bubur kertas; dan pembuatan kertas.

OHP 820

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

Bubur kertas dan kertas


Chips
Digester

Condenser

Vent gases Blow gases


Condenser

COOKING LIQUOR

Condensate

Evaporator gases Foul Condensate To stack ESP


Concentructor

PULP PULP MILL VENT GASES LIQUOR

Blow tank

Hotwell

Brownstock washers
Evaporator

Flue gas Dust recycle Mix tank Heavy black liquor NDCE Dryng Recovery zone purnace VENT GASES

Weak liquor Screens

Vent gases Venturi scrubber lime Lime sludge Lime kiln Slaker

Washed pulp TO BLEACH PLANT OR PAPER MILL

makeup LIQUOR saltcake Char bed Smelt Combustion air Green liquor

Water

Smelt dissolving tank Causticizer Clarifier WHITE LIQUOR TO DIGESTER

Gambar 8.9

SIFAT -SIFAT LIMBAH Proses manufaktur bubur kertas Emisi udara Kraft. Dari cairan Kraft (penghancur)

tungku perbaikan Kraft tangki pelarut bau dapur kapur.


OHP 821

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

Bubur kertas dan kertas PERSYARATAN EMISI UDARA


Parameter Bahan partikulat Hidrogen sulfida Sulfur dioksida Total sulfur Pabrik sulfit Kraft dan lainnya Khlorin Nitrogen oksida Bahan bakar gas Bahan bakar cair Bahan bakar padat VOC 86 mg/J 130 mg/J 260 ng/J 20 mg/Nm (15 kg/ton ADP) 2.0 kg/ton ADP 1.5 kg/ ton ADP 20 ppm (0.2 kg/ton ADP) Nilai maksimum 50 mg/Nm 15 mg/Nm 800 mg/Nm

Tabel 8.8 Emisi udara dari pembuatan bubur kertas dan kertas.

OHP 822

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

Pemrosesan daging dan proses pembuatan pupuk hewani INDUSTRI, URAIAN DAN PRAKTEK Penyembelihan hewan ternak dan unggas

pemrosesan hewan sembelihan menjadi produkproduk daging (diawetkan, dikalengkan dsb.) pembuatan pupuk dari sisa-sisa yang tidak dapat dimakan dan dibuang dijadikan produk sampingan

Suatu skema alat batch cooker tipikal dari proses pengolah pupuk hewani disajikan dalam Gambar 8.10.
Non-condensable gases Dead stock carcasses Shop fat and bone Entrainment separator Raw Material receiving Crusher Screw press vent Steam -25 -75 PSI Blow tank Cooker Percolator drain pan Screen Screw press fat Protein meal storage hopper Pressed cracklings Oversize Grinder Screen Unpressed tankage Screw press Exhaus vapor Condenser To sewer Odor control system

Jacket condensate Precoat leaf filter Centrifuge Animal fat storage tank Solids to screw press Free run fat

Crude animal fat tank

OHP 823

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

PROFIL BAU: SULFIDA-SULFIDA


Profil bau metil merkaptan, dimetil sulfida Metil merkaptan (CH3SH) (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 48 Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0.0005 ppm. Ambang pengenalan terhadap emisi sumber industri = 0.001 ppm. Bau metil merkaptan dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari metil merkaptan = 0,02 ppm menurut KEPMEN-KEP50/MENLH/11/1996. Dimetil sulfida (CH3)2S (sebagai odoran tunggal): Bobot molekuler = 62 Sifat mudah menguap = 830 ppm. Ambang deteksi dalam emisi sumber industri = 0,001 ppm. Ambang pengenalan dalam emisi sumber industri = 0.001 ppm Dimetil sulfida (CH3)2S dikaitkan dengan kubis busuk. Standar bau dari dimetil sulfida (CH3)2S = 0.01 ppm menurut KEPMEN KEP50/MENLH/11/1996.

OHP 824

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

Pabrik pupuk nitrogen DESKRIPSI INDUSTRI DAN PRAKTEK AMONIA


Natural gas Vapour Primary reformer Desulfurizer Air Secondary reformer High temperature shift converter CO2 absorber
Lean Bendfield solution Rich Bendfield solution

Hydrotreater

ZnO guard chamber

Process condensate
To off site

NH3 gas Compression system Ammonia separator

Stripper NH3 (cair)

CO2

To urea plant

Methanator

Purification and NH3 (30C) refrigeration To urea plant NH3 (-33C)


To urea plant

Gambar 8.11 Diagram aliran skematik dari proses manufaktur amonia.

OHP 825

OHP

Kursus pengelolaan kualitas udara

UREA Pupuk urea diproduksi dengan cara mereaksikan amonia cair dengan karbon dioksida. Skema pabrik pupuk ureaGambar 8.12.
Ammonia (NH3) gas

NH3 CO2

Synthetic section

Decomposition section

Granulation section

Ammonium Carbamat solution

Recovery section

Mother liquor Fertiliser particulates

Gambar 8.12 Skema diagram aliran dari proses pembuatan pupuk urea.

OHP 826

Sesi 8: Bau dan pengelolaannya

OHP

AMONIUM, SULFAT AS diproduksi sebagai: produk samping kaprolaktam dari industri petrokimia

sebagai produk samping kokas; dan secara sintetis dari reaksi amonia dengan asam sulfur.

AMONIUM NITRAT , KALSIUM AMONIUM NITRAT , AMONIUM SULFAT NITRAT Langkah-langkah pembuatannya meliputi: Pembentukan larutan;

konsentrasi larutan; pembentukan bahan padat; penyelesaian akhir bahan padat; penyaringan; pelapisan; dan pengantongan dan/atau pengapalan secara curah.

ASAM NITRIK TEKNOLOGI PENGELOLAAN BAU UNTUK INDUSTRI AMONIA

OHP 827