Anda di halaman 1dari 99

Jurnal

BISNIS & MANAJEMEN


Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 2 No. 3 Mei 2006

Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu


Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan
Cabang Bandarlampung
Ernie Hendrawaty

Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka


Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas
di Bandar Lampung
Iban Sofyan

Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek


(Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar
Di Provinsi Lampung)
Mahrinasari MS.

Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji


Di Propinsi Lampung
Mustafid

Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham


Di Pasar Modal
Sri Hasnawati

Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi


Resiko Saham
A. Zubaidi Indra

JURNAL BISNIS
Bandarlampung ISSN
dan Vol. 2 No.3 Hal. 159 -256
Mei 2006 1411 - 9366
MANAJEMEN
Volume 2 No. 3, Mei 2006 ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

TIM REDAKSI

Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc.


(Rektor Universitas Lampung)

Pembina : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc.


(Pembantu Rektor I Universitas Lampung)
: Dr. John Hendri, M.S.
(Ketua Lembaga Penelitian Universitas
Lampung)
: Toto Gunarto, S.E., M.S.
(Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung)

Pemimpin Umum : Ketua Jurusan Manajemen


Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Dewan Editor
Ketua : Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si.
Anggota : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si.
: Dr. Wispandono, S.E.. S.Si.
Iban Sofyan, S.E., M.Si.
Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M.
Asep Unik, S.E., M.Si.
M. Syatibi Ch., S.E.

Redaksi Pelaksana
Ketua : Habibullah Djimat, S.E., M.Si.
Wakil Ketua : Rinaldi Bursan, S.E., M.Si.
Sekretaris : Muslimin, S.E.
Bendahara : Aida Sari, S.E., M.Si.
Tata Usaha dan Kearsipan : Nasir
Distribusi dan Sirkulasi : Teguh
Alamat Redaksi : Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi
Universitas Lampung
Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1
Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145
Telp. (0721)704622

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga
kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung,
berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Volume 2 No. 3, Mei 2006 ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI

Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu


Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan
Cabang Bandarlampung
Ernie Hendrawaty ………………………………………………………….. 159

Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka


Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas
di Bandar Lampung
Iban Sofyan ……………………………………..………………………….. 173

Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek


(Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar
Di Provinsi Lampung)
Mahrinasari MS. …………………………….…………………………….. 189

Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji


Di Propinsi Lampung
Mustafid …………………………………………………………………….. 205

Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham


Di Pasar Modal
Sri Hasnawati ………………………………….………………………….. 213

Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi


Resiko Saham
A. Zubaidi Indra ……………………………….………………………….. 239
DAFTAR ISI

Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan


Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang
Bandarlampung

Oleh :

Ernie Hendrawaty1

ABSTRACT

This research was aimed to develop TQM concept for State Owner’s Financial Service
Company Bandarlampung Branch by determining which elements stated important for
developing TQM for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch
and this study was willing to know the adoption of those elements at State Owner’s
Financial Service Company Bandarlampung Branch. Number of respondent companies
involved in this study is 21 branch offices. The respondents who participate in this study
are branch managers and head of department from each of branch office. The study was
conducted to determine the perception of respondent managers and head of departments
as to the critical strategy that should define a particular MMT. The validation TQM is
done by conducting Factor Analysis.

The result from the survey is that the original of 72 elements of MMT is remain 45
elements which are grouped into 6 (six) factors. Those factors are Education and
Analysis Tools Supporting, Facility Management, Management Commitment and
Quality Leadership, Customer Focus, Mesurement and Benchmarking.

Keywords : Total Quality Management, Manajemen Mutu Terpadu

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam era perdagangan bebas masalah daya saing merupakan isu kunci dan
sekaligus sebagai tantangan yang tidak ringan. Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) sebagai suatu badan usaha yang bergerak hampir di seluruh aspek
ekonomi juga tak terkecuali menghadapi tantangan ketatnya persaingan global,
perkembangan teknologi yang cepat dan kondisi dinamis lainnya yang pada
akhirnya menuntut BUMN untuk menjadi Badan Usaha berkarakteristik

1
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung
DAFTAR ISI

perusahaan kelas dunia, sehingga BUMN perlu melakukan reorientasi terhadap


struktur dan strategi usahanya untuk mencapai sasaran menjadi Badan Usaha
berkarakteristik perusahaan kelas dunia.

Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam Master


Plan BUMN tersebut harus didukung oleh suatu sistim Manajemen yang
handal. Manajemen Badan Usaha harus melakukan perubahan (transformasi)
dari paradigma manajemen tradisional menuju paradigma Total Quality
Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Bagi BUMN, MMT
telah menjadi suatu program yang harus dilaksanakan karena sesuai dengan
amanat Menneg BUMN No. S-910/M-MBU/2003 tanggal 18 Februari 2003.

MMT adalah suatu pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan


perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap
proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Manfaat bagi badan usaha
dengan diterapkannya MMT adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya
dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan
kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai
tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian,
semangat dan rasa percaya diri karyawan, peningkatan akuntabilitas dan
transparansi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi pelayanan pelanggan.
Namun demikian, di sisi lain sesungguhnya masih banyak para pelaku bisnis
masih mengahadapi kesulitan dalam memahami kekuatan dan manfaat MMT
dalam memenuhi kualitas dan kinerja usaha yang direncanakan. Penyebabnya
adalah adalah sebagai suatu bidang ilmu belum ada suatu definisi standar atau
tunggal dan menyeluruh tentang program-program MMT. MMT hanya
merujuk pada sebuah pendekatan, sebuah sistem, sebuah alat, sebuah teknik
dan atau atau filosofi yang ditujukan untuk mencapai target kualitas tertentu (V.
Talavera, 2004, 356).

1.2 Rumusan Masalah

Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah :


“Elemen-elemen MMT mana sajakah yang dipersepsikan penting dalam
Pengembangan Konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang
Bandarlampung ?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan Konsep MMT bagi


BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.

160
DAFTAR ISI

1.4 Kerangka Penelitian

1.4.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang MMT telah banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu


konsep untuk merumuskan komponen-komponen yang penting dalam MMT.
Sebelumnya terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencoba untuk
mengumpulkan dan mensintesa berbagai macam elemen MMT. Diantaranya
seperti yang dikutip dari V. Talavera (2004, 357) adalah penelitian Saraph (1989);
Powell (1995); Ahire (1996); Flynn (1996) dan Black dan Porter (1996). Masing-
masing penelitian menghasilkan suatu konsep MMT yang memiliki elemen-
elemen yang tidak sama, mengingat penelitian yang dilakukan memiliki
perbedaan dalam hal jenis industri, sampling frame dan uji kevalidan maupun
kereliabelan.

Penelitian V. Talavera (2004) dilakukan terhadap 347 orang manajer yang


berasal dari 63 perusahaan responden yang meliputi industri elektronik,
pengolahan makanan, otomotive, farmasi, semen dan lain-lain. Hasil analisis
pada survey tahap pertama menunjukkan semula terdapat 12 elemen (72 item
program MMT) yang dipersepsikan penting dalam system manajemen mutu.
Namun sesudah dilakukan uji kevalidan dengan Analisis Faktor ternyata hanya
terdapat 7 elemen ( terdiri dari 35 item pernyataan strategi ) yang dipersepsikan
penting oleh responden, yaitu (1) Getting feedback in designing QM Strategies (2)
Customer Focus (3) Employement of Kaizen and 5S (4) Quality Monitoring and
Control (5) QM Technique Orientation (6) Employee Involvement dan (7) Incentive
and Recognition System.

1.4.2 Landasan Teori

1.4.2.1 Mengapa Mutu itu Penting

Mutu sangat penting. Dimulai pada tahun 1970an, perusahaan manufacture di


Jepang dengan bantuan konsultan Amerika, yang bernama W. Edward
Demming mulai menggunakan mutu sebagai daya saing perusahaan. Mutu
menjadi salah satu faktor selain harga yang menentukan tingkat permintaan
konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi bahkan melebihi harapan
pelanggannya akan menjadi perusahaan yang berhasil.

Pada dasarnya mutu dapat mempengaruhi perusahaan dalam empat cara,


yaitu : (1) Biaya dan Pangsa Pasar (2) Reputasi Perusahaan (3)
Pertanggungjawaban produk dan (4) Implikasi internasional. Mutu yang baik
dapat mengarah pada peningkatan pangsa pasar, produktivitas dan
penghematan biaya. Perbaikan mutu juga berarti penurunan kerusakan produk

161
DAFTAR ISI

dan biaya jasa. Selanjutnya reputasi perusahaan akan ditentukan oleh reputasi
mutu yang dihasilkan buruk atau baik.

1.4.2.2 Konsep Manajemen Mutu Terpadu

a. Definisi Manajemen Mutu Terpadu

Manajemen Mutu Terpadu mengambarkan penekanan mutu yang memacu


seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. Definisi MMT juga
bermacam-macam. Definisi yang berbeda-beda akan menurunkan perbedaan
pula dalam unsur atau prinsip pokok dalam MMT.

Pengertian mutu yang diadopsi oleh American Society for Quality Control : bahwa
Mutu adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan
kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang
tersembunyi (Render dan Haizer, 2001 : 92). Meskipun demikian pendapat lain
mengatakan bahwa definisi mutu menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi
tersebut berorientasi pada pengguna dan berorientasi pada produk. Krajewski (1996, 14)
menyatakan bahwa pelanggan mendefinisikan mutu dengan berbagai macam cara, yaitu
(1) Conformance to Specifications atau kesesuain dengan spesifikasi (2) Value atau
nilai/harga (3) Fitness of Use atau modelnya, keawetannya, pelayanannya (4) Support
atau dukungan layanan (5) Psychological Impressions atau image, keindahan,
kebersihan. Menurut Goetsch dan Davis (1997:3) Mutu adalah keadaan dinamik yang
diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, lingkungan yang mencapai atau
melebihi harapan.

Definisi MMT menurut Ishikawa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4), MMT diartikan
sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik
yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan
kepuasan pelanggan. Santosa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4) menyatakan bahwa
MMT adalah: MMT merupakan sistim yang mengangkat mutu sebagai strategi
usaha dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan melibatkan seluruh
anggota organisasi. Menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) Manajemen Mutu
Terpadu adalah :

Suatu pendekatan untuk menjalankan bisnis yang berusaha untuk


memaksimalkan persaingan sebuah organisasi melalui perbaikan yang terus-
menerus atas mutu produk, jasa, orang, proses, dan lingkungannya.

Hingga saat ini belum ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun
dari beberapa definisi mutu terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemen-
elemen sebagai berikut :

162
DAFTAR ISI

1. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan


2. Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan
3. Mutu merupakan suatu kondisi yang selalu berubah.

b. Prinsip dan Unsur Pokok dalam Manajemen Mutu Terpadu

Prinsip-prinsip dan unsur pokok dalam MMT menurut Krajewski (1996, 140-141)
adalah MMT menekankan tiga prinsip, yaitu customer satisfaction, employee
involvement dan continous improvement.

Variabel-varibel MMT menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) adalah : MMT


didasarkan pada strategi, focus kepada pelanggan, obsesi terhadap mutu,
pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja kelompok, peningkatan
terus-menerus, kebebasan melalui kontrol, kesatuan tujuan, dan Keterlibatan
dan pemberian wewenang kepada karyawan.

Render dan Heizer (2001, 98) mengembangkan lima konsep MMT yang efektif,
yaitu (1) Perbaikan yang terus menerus (2) Pemberdayaan karyawan (3)
Perbandingan kinerja (Patok duga/Benchmark) (4) Penyediaan kebutuhan yang
tepat waktu (Just In Time) dan (5) Pengetahuan mengenai peralatan MMT,
seperti Metode Taguchi, Diagram Pareto, Diagram Sebab Akibat dan
pengendalian Proses secara statistik.

Pendapat yang lain mengenai MMT dikemukakan oleh Tenner dan Detoro yang dikutip
oleh Hamidah (2003, 276) yang menyatakan bahwa MMT dapat diuraikan menjadi tiga
subsistem yaitu (1) Fokus pada pelanggan (customer focus) (2) Perbaikan proses
berkesinambungan (continous process improvement) dan (3). Keterlibatan terpadu (total
involvement) dimana ketiga sub sistem tersebut saling berkaitan.

V. Talavera (2004, 358-360) juga berhasil merumuskan konsep MMT hasil telaah
pustaka yang terdiri dari 12 (dua belas) elemen MMT, yaitu : (1) Komitmen
Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu
Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4)
Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen
Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan
Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk
/ Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja
(Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses
(Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality
Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) Perbaikan
Berkelanjutan (Continous Improvement).

163
DAFTAR ISI

Penelitian ini akan menggunakan prinsip dan unsur pokok atau variable-
variabel MMT yang berasal dari konsep yang disusun oleh V. Talavera (2004)
karena memiliki cakupan yang luas.

1.5 Metode Penelitian

1.5.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Metode yang digunakan dalam


penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan daftar pertanyaan
(questioner) sebagai alat pengumpul data yang pokok.

1.5.2 Populasi dan Sample

Populasi obyek penelitian adalah seluruh BUMN Jasa Keuangan yang


beroperasi di Bandarlampung yang berasal dari kelompok usaha Perbankan,
Asuransi dan Jasa Pembiayaan, yang berkedudukan sebagai kantor cabang
utama, yaitu sebanyak 21 buah.

Tabel 1 : BUMN Jasa Keuangan

Kelompok Badan Usaha Jumlah KC


BRI 2
BTN 1
Bank
BNI 3
Bank Mandiri 5
Jiwasraya 1
Jasaraharja 1
Taspen 1
Asuransi
Jamsostek 1
Askes 1
Jasindo 1
Pembiayaan Pegadaian 4

Penelitian ini akan mengumpulkan data dari seluruh populasi obyek penelitian.
Populasi responden adalah kepala cabang masing-masing badan usaha dan
kepala departemen atau setingkat dengannya dari departemen-departemen
yang berbeda. Data tentang populasi dan sample tersaji pada table berikut ini :

164
DAFTAR ISI

Tabel 2 : Populasi Obyek Penelitian dan Responden

Target Ukuran
Tahap Pengujian MMT Teknik Realisasi
Populasi
Pengujian dengan 21 Badan Usaha Sensus 21 Badan Usaha
menggunakan ‘perception of
importance’ sebagai dasar 102 responden 100 responden

Pendapat responden dibutuhkan untuk melakukan validasi konsep MMT, yaitu


data persepsi dari responden mengenai tingkat kepentingan (perception of
importance) elemen MMT.

1.5.3 Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah elemen-elemen MMT hasil kajian pustaka V.


Talavera (2004). Variabel tersebut adalah: (1) Komitmen Manajemen Puncak
(Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality
Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu
Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia
(Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan
(Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa (
Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace
Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process
Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information
Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) (12) Perbaikan Berkelanjutan
(Continous Improvement).

1.5.4 Instrumen Penelitian

Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa daftar


pertanyaan. Sebelum dilakukan pengujian, harus dilakukan uji kereliabelan
(reliability) dan uji kevalidan (validity) daftar pertanyaan

Penelitian ini menggunakan uji kevalidan internal menggunakan Teknik Alpha.


Pada penelitian ini uji kevalidan yang digunakan adalah Construct Validity.
Menurut Sekaran (1992: 173) Construct Validity testifies how well the result obtained
from the use of measure fits theories around which the test is designed. Untuk menguji
construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10.

165
DAFTAR ISI

1.5.5. Analisis Data

1. ANALISIS FAKTOR

Analisis factor akan meringkas beberapa variable MMT menjadi beberapa faktor
saja yang paling penting dalam mendukung keberhasilan MMT. Tahap-tahap
pada analisis faktor :

1. Memilih variable yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. Analisis


factor berupaya mengelompokkan sejumlah variable. Untuk itu digunakan
alat analisis Measure of Sampling Adequacy (MSA) atau Barlett’s test.

2. Melakukan ekstrasi variable menjadi satu atau beberapa factor. Dalam hal
ini digunakan metode Principal Component

3. Melakukan rotasi factor untuk memperjelas apakah factor yang terbentuk


sudah secara signifikan berbeda dengan factor lain.

4. Melakukan uji Anova untuk melihat apakah factor yang terbentuk


berbeda nyata dengan factor lain.

5. Faktor yang sebenarnya terbentuk adalah factor-faktor yang merupakan


komponen MMT yang dipersepsikan sebagai factor yang penting oleh
BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.

2. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengujian Reliabilitas Alat Ukur

Hasil Uji Reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas instrument


daftar pertanyaan sebesar 0,9552. Nilai ini memberi makna bahwa tingkat
kepercayaan dan konsistensi pertanyaan maupun pernyataan bernilai tinggi
yaitu sebesar 95,52%. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor
dengan software SPSS 10. Uji construct validity dengan Analisis Faktor.

2.2 Analisis Faktor

Dalam penelitian ini, variabel yang diproses dengan analisis factor sebanyak 72
variabel dengan jumlah populasi sebanyak 100 responden. Output Analisis
Faktor dengan menggunakan SPSS adalah ternyata dari 72 variabel awal, yang
tersisa atau tereduksi hanya 45 variabel dengan rata-rata loading 0,733. Tabel 3
menunjukkan distribusi variable MMT pada ke-6 faktor.

166
DAFTAR ISI

Tabel 3 Distribusi variable MMT

Initial Eigenvalues
Item Loading
% of Nama Variabel
No Faktor Total
Variance
Manajemen memberikan balas
jasa (imbalan) kepada karyawan 0.692
1 12.862 17.864 SDM
untuk usaha-usaha perbaikan
kualitas
Semua karyawan dilatih tentang 0.705
DIK 3 Team Building / Group Dynamics
Mengintegrasikan materi pelatihan 0.732
DIK 5 pada proses pekerjaan sehari-hari
Melakukan pelatihan karyawan 0.719
DIK 6 secara berkala (rutin)
Investasi dalam peralatan dan 0.686
IKC 1 teknologi untuk meningkatkan
kualitas dalam operasi /proses
Menggunakan piranti data numerik
(check sheet, diagram Pareto, run
chart dll) dan piranti data verbal 0.605
IKC 3 (flow chart, brainstorming, diagram
sebab akibat) guna mendiagnosis
masalah kualitas dan masalah
kelemahan proses
Pengendalian kinerja proses
dilakukan pada setiap tahap , 0.736
IKC 4 mulai dari tahap input,
proses/transformasi, output dan
customer
Melakukan pengawasan kualitas
dengan menggunakan survey
kepuasan pelanggan metode 0.851
IKC 5
statistik atau teknik lain untuk
memonitor kualitas produk / jasa
yang dihasilkan
Menggunakan siklus PDCA (Plan-
Do-Check-Action) untuk 0.717
PTM 1 melakukan perbaikan dan
pengendalian proses secara
berkesinambungan
Membuat perencanaan dan
program yang berkesinambungan 0.766
PTM 2
untuk mengurangi siklus waktu
operasi perusahaan

167
DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues
Item Loading
% of Nama Variabel
No Faktor Total
Variance
Membuat perencanaan dan
program yang berkesinambungan 0.798
PTM 3 untuk memikirkan berbagai cara
untuk memperbaiki kualitas produk
dan pelayanan
Manajemen puncak menyediakan
bantuan teknis, finansial dan 0.779
PTM 4
pendidikan bagi program
manajemen kualitas perusahaan
Memfasilitasi program
pengembangan produk untuk 0.703
IKD 5
dapat segera merespon kebutuhan
pasar
Kejelasan dan keformalan dalam
PKS 2 0.742
menuliskan sasaran kualitas
Manajemen memiliki rencana
2 10.286 14.286 MKP 1 0.848
kualitas untuk pemasok
Kualitas menjadi pertimbangan
MKP 2 0.849
utama dalam memilih pemasok
Bekerjasama dengan tidak terlalu
MKP 3 banyak pemasok namun dapat 0.756
diandalkan
Memasukkan umpan balik dari
pemasok untuk memperbaiki 0.859
MKP 4
produk, pelayanan dan
perancangan proses
Menerapkan program evaluasi 0.868
MKP 5 terhadap pemasok
Manajemen bekerjasama dengan 0.834
MKP 6 pemasok untuk meningkatkan
kualitas
Fasilitas yang nyaman, bersih dan 0.926
RAP 1 teratur/rapi
Adanya sistim manajemen 0.936
RAP 2 pencatatan/arsip yang efektif
Karyawan memiliki disiplin dan 0.902
RAP 3 inisiatif untuk mematuhi peraturan
dengan tertib
Pemeliharaan fasilitas dilakukan
secara berkala dan dilakukan 0.93
RAP 4
monitoring serta evaluasi
terhadapnya
Penyediaan peralatan kantor, 0.796
RAP 5 dokumen, office supplies hanya
yang benar-benar dibutuhkan saja

168
DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues
Item Loading
% of Nama Variabel
No Faktor Total
Variance
Pemberian tanda/papan
penunjuk/label terhadap asset-
asset, departemen-departemen
RAP 6 0.905
untuk keperluan identifikasi dan
memudahkan mencari
lokasi/letaknya.
Manajemen Puncak terlibat secara
penuh dalam implementasi dan
3 7.3 10.139 KMP 1 0.876
tindak lanjut program Manajemen
Mutu
Pemberian penghargaan kepada
SDM 5 karyawan yang mencapai sasaran 0.788
kualitas
Semua karyawan dilatih tentang
DIK 1 0.851
konsep Manajemen Mutu Terpadu
Semua karyawan dilatih tentang
DIK 2 0.864
Quality Control
Menyediakan data kualitas yang
terbaru dan lengkap dan 0.703
MKI 4
dilaporkan pada semua
departemen
Seluruh karyawan dapat 0.714
MKI 5 mengakses data kualitas
Manajemen melakukan audit
sistim manajemen kualitas secara 0.762
PTM 6
periodic baik audit internal maupun
eksternal
Terdapat suatu proses efektif 0.816
FKP 5 untuk memproses informasi
tentang ekspektasinasabah
Mempertimbangkan keinginan
pelanggan dan umpan balik
4 6.762 9.392 IKD 2 pemasok untuk memperbaiki 0.708
produk, pelayanan dan
perancangan proses
Mengumpulkan umpan balik dari
IKD 4 para ahli dalam perancangan 0.621
produk/jasa
Pengkajian (review) sasaran dan
tujuan departemen-departemen
PKS 5 untuk menyelaraskan dengan 0.626
rencana organisasi secara
keseluruhan
Melakukan tindakan pencegahan
dan pemeliharaan secara berkala
5 4.405 6.118 IKC 6 0.708
terhadap peralatan/perangkat
sistim operasional perusahaan

169
DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues
Item Loading
% of Nama Variabel
No Faktor Total
Variance
Adanya sistim database untuk
mengumpulkan, mengontrol dan
menyimpan data kualitas kegiatan
MKI 2 operasi untuk menyediakan 0.621
informasi yang relevan yang
dibutuhkan untuk mengukur
kualitas dari output yang dihasilkan
Menerapkan sertifikat ISO 9000
PDG 3 untuk memenuhi standar kualitas 0.626
internasional
Manajemen mempelajari
praktek fungsi-fungsi usaha dari
perusahaan terkemuka dalam
industri yang sama dan dari
6 3.781 5.251 PDG 1 0.765
pesaing utama untuk
mengembangkan sasaran
kualitasdan untuk memperbaiki
operasi perusahaan
Manajemen mempelajari praktek
fungsi-fungsi usaha dari
perusahaan terkemuka dalam
PDG 2 industri yang berbeda untuk 0.737
mengembangkan sasaran kualitas
dan untuk memperbaiki operasi
perusahaan
Menganalisis, mengadopsi dan
mengimplementasikan praktek
terbaik strategi manajemen
PDG 4 0.683
kualitas dari perusahaan mitra
patok duga yang menjadi teladan
patok duga
Memastikan bahwa kegiatan patok
duga yang dilakukan
PDG 5 0.634
menghasilkan perbaikan kualitas
yang signifikan
Sepanjang waktu target patok
PDG 6 duga dan metode-metode patok 0.691
duga dievaluasi kembali
Nama ke-6 faktor tersebut adalah :

1. Faktor 1 terdiri dari 14 item yang dinamakan Faktor Pendidikan dan


Dukungan Perangkat Analisis.

2. Faktor 2 terdiri dari 12 item yang dinamakan Manajemen Fasilitas

170
DAFTAR ISI

3. Faktor 3 terdiri dari 8 item yang dinamakan Komitmen Manajemen dan


Kepemimpinan Kualitas.

4. Faktor 4 terdiri dari 3 item yang dinamakan Fokus Pelanggan

5. Faktor 5 terdiri dari 3 item yang dinamakan Pengukuran

6. Faktor 6 terdiri dari 5 item yang dinamakan Patok Duga

3. SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa konsep MMT


bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung adalah : (1) Faktor
Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis (2) Faktor Manajemen Fasilitas
(3) Faktor Komitemen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas (4) Faktor Fokus
pada Pelanggan (5) Faktor Pengukuran dan (6) Faktor Patok Duga

3.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, maka bagi BUMN Jasa Keuangan
Cabang Bandarlampung yang akan mengadopsi konsep MMT sebaiknya
memprioritaskan keenam factor dari hasil analisis factor tersebut dalam
program MMTnya.

DAFTAR PUSTAKA

Goetssch, David L and Davis, Stanley B. 2002. Manajemen Mutu Total. Edisi ke
dua. Penerbit PT Prenhalindo. Jakarta

Krajewski, Lee J. and Larry P. Ritzman. 1996. Operations Management : Strategy


and Analysis. Addison-Wesley P:ublishing Company. Inc.

Hamidah. 2003. Pengaruh Manajemen Mutu Terpadu terhadap Perilaku


Produktif Karyawan Industri Tekstil Berskala Besar di Kota Bandung.
Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. September 2003. 275-290.

Muchsinati, Evi Silvana. 2001. Repositioning dan Perubahan Peran Fungsi


Departemen Sumber Daya Manusia Sebagai Upaya Mencapai
Keunggulan Kompetitif. Usahawan No. 03. Th XXX. Maret 2001. 3-8.

171
DAFTAR ISI

Nasution,M.N.2004. Manajemen Mutu Terpadu. Penerbit Ghalia Indonesia.


Bogor Selatan

Render, Barry dan Jay Haizer. 2001. Prinsip-prinsip Manajemen Operasi. Edisi
Pertama. Salemba Empat. Jakarta

Sekaran, Uma. 1992. Research Methods For Business: A Skill Building Approach.
Second Edition. John Wiley & Sons, Inc.

Supranto, J .2004. Analisis Multivariat, Penerbit Rineka Cipta.Jakarta.

Suwandi, Adig. 2001. Arah Privatisasi BUMN. Usahawan No. 5 Th XXX Mei
2001. 3-6

Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana.2000. Total Quality Management. Penerbit


Andi Offset Yogyakarta.

Umar, Husen.2000. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta.

V. Talavera, Ma Gloria. 2004. Development and Validation of TQM Construct.


The Philippine Experience.Gadjah Mada International Journal of Business
Volume 6, No. 3 September 2004: 355-380.

__________BUMN On Line. Master Plan BUMN 2002-2006.

172
DAFTAR ISI

Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan


Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung

Oleh :

Iban Sofyan2

ABTRACT

The reseach aims to analyze : (1) the influencing factors of working capital from
small business and determining alternative solution; (2) alternative strategic
management from small business. The types of data are : (1) the secondary time
series data which analyzed by financial models and (2) the primery data of
owner from the small business which analyzed by description approach.

The result shows that the small business in Bandar lampung need to improve
their working capital trough : (1) the increasing level of effectivities from their
business; (2) the creating of business innovation; (3) making commitment about
business efficiency and competitiveness.

Based on the result of this reseach, researcher is prepairing strategic standar and
business commitment for the small business to enter global business.

Key words: Working Capital management.

I. PENDAHULUAN

Usaha kecil di Indonesia di era reformasi ini mempunyai peranan yang sangat
berarti dalam menunjang perekonomian. Banyak usaha besar pada saat ini
mengalami keterpurukan sebagai akibat resesi ekonomi berkepanjangan,justru
usaha kecil semakin bergairah untuk berkembang, secara kuantitatif dapat
dibuktikan dari pemerataan usaha dan peluasan lapangan kerja,yang
berkembang dari 1.755.000 unit usaha tahun 1997 menjadi 2.143.500 unit usaha
pada tahun 1999, sementara jumlah tenaga kerja yang diserap juga meningkat
dari 5.308.800 orang tahun 1997 menjadi 10.113.600 orang tahun 1999. Lebih jauh
lagi jika dilihat dari sumbangannya pada ekspor nonmigas yaitu dari 102 juta
dollar Amerika tahun 1998 terus naik menjadi 136,8 juta dollar Amerika pada
akhir tahun 2001, secara persentase rata-rata kenaikan nilai ekspor usaha kecil
meningkat dengan 30,5 persen per tahun ( Puji Wahono,2000)

2
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung.
DAFTAR ISI

Peranan usaha kecil yang penting ini, seyogyanyalah mendapat perhatian kita
semua, tetapi pada kenyataan sekjarang banyak hambatan dan pembinaan yang
kurang serius baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang terkait
termasuk perguruan tinggi. Janji-janji untuk memberi kemudahan baik dalam
perizinan,permodalan,maupun pembinaan manajemen baru sebatas pernyataan
atau retorika politik,sehingga semua kebijakan selalu tidak menyentu
pengembangan usaha kecil. Hasil pengamatan ada beberapa hal yang
menghambat pembinaan usaha kecil di Indonesia ( Indra Ismawan,1999), yaitu :
(1) Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur usaha
kecil,walaupun sekarang rancangan undang-undang (RUU) itu mungkin sudah
disahkan menjadi undang-undang namun realisasinya dan sosialisasi sampai
saat ini belum jelas adanya ; (2) masih lemahnya komitmen dalam pembinaan
usaha kecil, baik yang disuarakan oleh pemerintah maupun oleh pengusaha
besar selaku mitra usaha, sehingga dapat dikatakan bahwa usaha kecil itu ada
dan berkembang sepenuhnya atas usaha mereka sendiri, kerena didorong oleh
kebutuhan hidup.

Penghambat lain yang juga dapat dikatakan secara structural usaha kecil
umumnya di Indonesia menghadapi kendala-kndala bersifat internal,yaitu
kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah, kelemahan dalam struktur
permodalan,dan kelemahan dalam mengakses permodalan,termasuk dalam
manajemen modal kerja( Suryadi Soedirdja,1998). Kondisi usaha kecil Indonesia
yang demikian ini, jika kurang mendapat binaan yang serius di masa
mendatang,khususnya dalam menghadapi pasar bebas versi AFTA ataupun
versi Dunia nantinya akan berdampak serius bagi perkembangan usaha kecil di
Indonesia umumnya dan secara khusus pada usaha kecil di Bandar Lampung.
Kenyataan di lapangan dapat kita lihat pada saat ini banyak usaha kecil kita
kewalahan dalam menghadapi serbuan produk-produk dari luar negari yang
sampai saat ini sudah meramba ke berbagai pelosok Indonesia. Apalagi jika
penerapan pasar bebas AFTA ini benar- benar sudah direalisasikan, dimana kita
tidak dapat lagi membantasi barang masuk dengan pembatasan tarif masuk
antar negara-negara ASEAN. Kenyataan ini akan menambah beban berat bagi
usaha kecil,dan mungkin juga akan dialami oleh perusahaan besar yang tidak
efisien. Bukti-bukti telah mununjukkan pada kita betapa kewalahannya usaha
otomatif kita menghadapi serbuan produk –produk otomotif China,Taiwan,
Korea,dewasa ini, masih banyak lagi produk-produk dari Negara jiran seperti
Thailand, Malaysia, dan Singapura yang sudah lama beroperasi di Negara kita.

Situasi ini akan menjadi siutasi sulit bagi usaha-usaha kita khususnya usaha
kecil jika dikaitkan dengan kelemahan usaha kecil kita yang telah diuangkapkan
sebelumnya, terutama yang berhabungan dengan modal khususnya modal
kerja. Usaha kecil menurut Levi dan Sarnat (1989) justru membutuhkan
tambahan modal kerja relatif lebih besar dari kebutuhan usaha menengah

174
DAFTAR ISI

maupun usaha besar. Kesulitan yang terbesar pada usaha kecil dalam modal
kerja terletak pada usaha pemisahan antara kebutuhan modal kerja dengan
kebutuhan hidup pengusaha dan keluarga sehari-hari. Hal ini terjadi kerena
usaha kecil umumnya tidak mampu mengakses modal,terutama jika
berhubungan degan pihak ketiga

( bank maupun mitra usaha lainnya yang sifatnya sangat selektif ). Kelemahan
ini tentunya berdampak luas pada daya saing dan kemantapan berusaha,
apalagi dihubungkan dengan inovatif. Kunci keberhasilan usaha kecil menurut
Steiner,Goerge(1985) justru terletak pada usaha inovatifnya.
Peranan usaha kecil di Lampung khususnya di Bandar Lampung tidak terlalu
berbeda dengan peranan usaha kecil secara nasional,ini terlihat dari sumbangan
industri kecilnya mampu memberi 21,0 persen ekspor komoditi non migas yang
dihasilkan oleh Lampung (BPS,1993). Jumlah usaha kecil juga meningkat dari
12,067 unit usaha kecil telah meningkat menjadi 18.488 unit usaha kecil sampai
tahun tahaun 1998( BPS). Dan diperkirakan jumlah ini akan naik lagi selama era
reformasi ini, sementara perusahaan besar dan menengah justru mengalamai
stagnan karena masih dipengaruhi oleh dampak resesi ekonomi yang sampai
saat ini belum dikatakan membaik.

Kedala yang dihadapi dalam pengembangkan usaha kecil di Lampung


khususnya usaha kecil di Bandar Lampung hampir sama dengan masalah yang
dihadapi oleh usaha kecil secara nasional, yaitu kesenjangan antara usaha
menengah dan usaha besar semakin melebar. Usaha kecil di Bandar Lampung
umumnya lemah dalam permodalan, sulitnya mendapatkan modal termasuk
modal kerja,kelemahan dalam manajemen, dan rendahnya kualitas sumberdaya
manusia. Kondisi ini setelah ditelusuri lebih jauh merupakan suatu sistem
dalam kegiatan manajemen, ini berarti bahwa manajemen usaha kecil itu
merupakan suatu sistem,sehinga salah satu dari sistem ini terganggu akan
berdampak serius pada sistem secara keseluruhan ( Collins and Devana,2001),
ini jelas apabilah usaha kecil itu lemah dalam modal kerja akan berdampak
serius pada keunggulan bersaing baik secara lokal apalagi dalam mengahadapi
persaingan di pasar bebas, apakah itu versi AFTA atau secara global.

A. Perumusan Masalah

Masalah yang dapat ditarik dari uraian sebelumnya adalah:

(1) Apakah pengelolaan modal kerja usaha kecil yang telah dioperasikan oleh
usaha kecil di Bandar Lampung telah dilakukan secara efektif atau secara
optimal.

175
DAFTAR ISI

(2) Teknik manajemen apa yang tepat yang harus diterapkan oleh pengusaha
kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ketatnya persaingan di era
basar bebas.
(3) Strategi apa sebaiknya digunakan oleh usaha kecil di Bandar Lampung
dalam menghadapi ancaman persaingan degan produk-produk luar
sekarang dan di era pasar bebas.

B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

(1) Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi usaha kecil di Bandar
Lampung terutama yang berhubungan dengan manajemen modal kerjanya.
(2) Memberikan solusi manajemen dalam mengatasi masalah manajemen
modal kerja setelah menganalisis modal kerja, memperhitungan kebutuhan
modal kerja, dan teknik mengakses modal khususnya modal kerja.
(3) Merumuskan strategi bersaing yang sesuai dengan kekuatan ,kelemahan,
peluang dan ancaman yang bakal dihadapi di masa yang akan datang.
(4) Merumuskan teknik Pembinaan yang tepat dan fleksibel untuk usaha ecil di
Bandar Lampung.

II. KERANGKA PENDEKATAN

Kerangka pendekatan yang digunakan dalam pemecahan maslah ini dapat


dilihat dari bagan alur berikut :

176
DAFTAR ISI

Peneliti melakukan survey Usaha kecil yang telah ditentukan


(a) Mendapatkan data manajemen Modal kerja.

Pengolahan data : Tabulasi,perhitungan Dan analisis.


Memisah-misah hasil sesuai Dengan tujuan penelitian yang
(b)
sudah di Tetapkan.

Solusi berdasarkan Manajemen Solusi berdasarkan manajemen


modal Kerja (c) strategi bersaing

Penyusun Pedoman Manajemen usaha kecil Terutama yang


berhubungan Manajemen modal kerja dan Teknik inovatif
untuk mening- katkan daya saing

Gambar 1. Bagan Alur Pemecahan Masalah Penelitian

Gambar 1. ini menujukkan bahwa penyelesaian masalah penelitian akan


dilakukan melalui empat tahap, yaitu : (a) tahap penelitian,menggunakan
metode penelitian yang sesuai sehingga didapatkan data yang valid dari
respondenyang telah dipilih;(b) tahap pengolahan data dengan tabulasi,
menghitung, memisah-misah hasil sesuai dengan tujuan untuk analisis,yaitu
berdasarkan konsep manajemen keuangan khususnya manajemen modal kerja
dan konsep manajemen stratetegi bersaing; (c ) tahap menganalisis hasil yang
telah dipisahkan secara jelas. Konsep yang digunakan untuk mencari teknik
bersaing, dan menumbuhkan inovatif digunakan konsep dari
Glueck(1998),Konsep Collins and Devanna (1995), Kenichi Ohmae(1996),
beberapa konsep dari David. Fred.R (1998), dan banyak sistesa yang dibuat oleh
peneliti dan pengalaman mengajar manajemen strategi. Pendekatan yang
digunakan untuk penyelesaian masalah modal kerja digunakan pendekatan
Keown, et al (2000), Vanhorn(2000), Weston and Copland (1987),Levi and
Sarnad ( 1983); (d) tahap penyusunan pedoman pembinaan mananjemen
berdasarkan’manajemen modal kerja dan manajemen strategi bersaing.

177
DAFTAR ISI

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian.

Penelitian ini telah dilakukan di Kotamadya Bandar Lampung, pada bulan


Mei 2006.

B. Metode Penarikan Sampel

Metode penarik sampel adalah menggunakan metode Purposive random


Sampling, yang diambil usaha kecil yang yang potensial yang ada di Kota
Madya Bandar lampung, Usaha kecil yang diambil satu unit berdasarkan jenis-
jenis usaha, yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Responden

No Jenis Usaha Jumlah(unit)


1. Kerajinan Keripik 1
2 Tanaman hias 1
3 Tukang Jahit 1
4 Warung P&D 1
5 Restoran 1
6. Toko Meubel 1
7 Apotik Kecil 1
8 Kerajinan Bambu 1
9 Usaha Ikan Asin 1
10 Usaha bengkel Motor 1
11 Usaha Bengkel mobil 1
12 Usaha Toko Kue 1
13 Toko Manisan 1
14 Katering 1
15 Krupuk Ikan 1
Total 15

C. Hiptesis

(1) Pengololaan modal kerja usaha kecil di Bandar Lampung belum optimal.
(2) Strategi inovasi adalah pilihan yang tepat untuk usaha kecil untuk tetap
bertahan hidup dan bersaing di era pasar bebas.

178
DAFTAR ISI

D. Alat analisis.

Alat analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diangkat


adalah
menggunakan :

(1) Untuk membuktikan bahwa modal kerja usaha kecil belum optimal
digunakan pendekatan manajemen keuangan konsep dari Weston and
Copland (1998), yaitu dengan cara membagikan volume penjualan yang
dicapai dengan jumlah hari perputaran seruhan modal kerja yang
digunakan dalam usaha kecil. Modal kerja optmal bila Working Capitan
(WC)≤ 0. Rumus hipotesisnya :

Ho = Nilai modal yang terpakai.


H1 ≠ Nilai modal kerja yang optmal

(2) Untuk membuktikan hipotesis keduadigunakan pendekatan manajemen


strategi. Rumus hipotesisnya:

Ho = usaha kecil tidak inovatif


H1 ≠ Usaha kecil inovatif

E. Pengolahan Data

Data yang sudah terkumpul diolah secara tabulasi, dihitung, dan dianalisis
berdasarkan konsep manajemen modal kerja yaitu menghitung perputaran
modal kerja,menghitung kebutuhan modal kerja optimal sesuai dengan
perkembangan jumlah permintaan.sedangkan untuk memilih dan menerapkan
konsep manajemen strategi,dari data yang ada dikaji berdasarkan TOWS
Matrix dari David,Fred (1998).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Perhitungan

Hasil perhitungan dimulai dari perputran modal kerja,kebutuhan modal kerja,


dibandingkan dengan realiasi modal kerja dan realisasi volume penjualan,dapat
dilihat dari Tabel 2 berikut :

179
DAFTAR ISI

Tabel 2. Hasil Perhitungan Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Usaha


Kecil

No Jenis Usaha Modal Volume Jumlah Jumlah


(1 unit) KerjaYang Penjuan yang hari Kebutuhan
dioperasikan dicapai/hr Perputaran Modal kerja
/hr (Rp) (Rp) modal seharusnya/hr
kerja (satu (Rp)
tahun)
1 Kripik Singkong 12.916,67 45.833,33 68,74 24.034,90
2 Tanaman hias 60.130, 56 68.299,44 109,42 77.360,69
3 Tukang jahit 23.826,38 45.500,- 223,80 73.190,35
4 Warung P&D 12.288,89 16.666,67 158,68 37.811,95
5 Restoran 142.502,78 366.666,67 443,76 283.937.26
6 Toko Meubel 599.291,67 744.444,44 557,87 480.398,66
7 Apotik Kecil 223.611,11 291.666,67 338,76 309.953,95
8 Kerajinan Bambu 26.112,50 46.666,67 390,28 16.448,29
9 Usaha Ikan Asin 12.715,28 20.000,00 189,64 109.301,33
10 Bengkel Motor 31.805,56 56.666,67 590,45 123.126,43
11 Bengkel Mobil 321.875,- 388.888,89 236,67 591.540,96
12 Toko Kue 21.405,14 60.750,45 36,11 36.471,58
13 Toko Manisan 70.711,11 104.877,78 466,43 80.946,77
14 Katering 113.548,28 154.444,44 169,26 328.488,72
15 Krupuk ikan 82.288,89 113.194,44 208,53 195.415,52
Sumber : Data diolah (2006)

Tabel 3. Perbandingan Modal Kerja Yang Diopersikan Dengan Kebutuhan


Modal Kerja Seharusnya Berdasarkan Volume Penjualan

Jumlah Kebutuhan
Modal Kerja yang Modal Kerja
No Jenis Usaha Kecil dioperasikan/hr seharusnya Keterangan
(Rp) berdasarkan volume
Penjualan/Hr (Rp)
1 Kripik Singkong 12.916,67 24.034,90 +11.118,23
2 Tanaman hias 60.130, 56 77.360,69 +17.229,79
3 Tukang jahit 23.826,38 73.190,35 +49.363,97
4 Warung P&D 12.288,89 37.811,95 +25.523,06
5 Restoran 142.502,78 283.937.26 +141.434,48
6 Toko Meubel 599.291,67 480.398,66 -118.893,01
7 Apotik Kecil 223.611,11 309.953,95 +86.342,55
8 Kerajinan Bambu 26.112,50 16.448,29 -9.664,21
9 Usaha Ikan Asin 12.715,28 109.301,33 +96.586,05
10 Bengkel Motor 31.805,56 123.126,43 +91.320,87
11 Bengkel Mobil 321.875,00 591.540,96 +269.665,96

180
DAFTAR ISI

Jumlah Kebutuhan
Modal Kerja yang Modal Kerja
No Jenis Usaha Kecil dioperasikan/hr seharusnya Keterangan
(Rp) berdasarkan volume
Penjualan/Hr (Rp)
12 Toko Kue 21.405,14 36.471,58 +15.066,44
13 Toko Manisan 70.711,11 80.946,77 +10.235,66
14 Katering 113.548,28 328.488,72 +214.900,44
15 Krupuk ikan 82.288,89 195.415,52 +113.126,63
Sumber : Data Diolah (2006)

Tabel 4. Tingkat Pencapaian Margin Usaha Kesil Di Bandar Lampung

NamaJenis Usaha Pencapaian Volume Biaya Variabel Persentase


No
Kecil Penjualan harian(Rp) Harian(Rp) Kontribusi margin
1 Kripik Singkong 45.833,33 32.679,49 28,66
2 Tanaman hias 68.299,44 44.920,54 34,23
3 Tukang jahit 45.500,- 20.11,50 54,70
4 Warung P&D 16.666,67 13.020,00 21,88
5 Restoran 366.666,67 226.233,34 38,30
6 Toko Meubel 744.444,44 310.210,00 58,33
7 Apotik Kecil 291.666,67 229.308,34 21,38
8 Kerajinan Bambu 46.666,67 20.421,33 56,24
9 Usaha Ikan Asin 20.000,00 11.014,00 44,93
10 Bengkel Motor 56.666,67 25.902,33 54,29
11 Bengkel Mobil 388.888,89 193.900,00 50,14
12 Toko Kue 60.750,45 34.761.40 42,78
13 Toko Manisan 104.877,78 73.183,48 31,77
14 Katering 154.444,44 107.771,33 61,99
15 Krupuk ikan 113.194,44 63.349,76 43,91
Sumber : Data Diolah (2006)

B. Pembahasan

1. Kajian Berdasarkan Manajemen Modal Kerja

Hasil dari riset terhadap lima belas jenis usaha kecil yang beroperasi di Bandar
Lampung setelah diuji berdasarkan kebutuhan modal yang seharusnya
berdasarkan rumusan yang membagi total penjualan dengan lamanya hari rata
perputaran setiap item modal kerja maka didapatlah hasil lengkap seperti yang
diperlihatkan oleh Tabel 1. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir rata-rata
perusahaan kecil atau 87% usaha kecil di Bandar Lampung umum belum
optimal dalam penggunaan modal kerjanya,ini dibuktikan oleh adanya
kelebihan ( bertanda +) dalam penggunaan modal kerja, dan hanya 13%
(bertanda - ) yang efektif dalam penggunaan modal kerjanya. Ketentuan

181
DAFTAR ISI

penggunaan modal kerja yang optimal menurut Weston dan Copland (1998),
adalah tercapai jika WC ≤ 0 .

Kelemahan ini umumnya karena lemahnya manajemen modal kerja sebagai


akibat dari banyaknya keterbatasan sumberdaya dari usaha kecil itu sendiri,
diantaranya banyak perusahaan harus menalang atau menggunakan persekot
uang muka dalam pengadaan pesediaan untuk menjaga stabilitas produksi,
sehingga banyak usaha kecil memiliki tingkat perputuran persediaan yang
rendah ,disisi lain kurang efektif dalam penagihan piutang,sehingga perputaran
piutang rendah. Kelemahan ini juga umumnya disebabkan adanya keterbatasan
modal kerja secara umum, karena kesulitan dalam mengakses modal kerja.
Sumber-sumber dana yang ada umumnya adalah bersifat individu dengan rata-
rata tingkat suku bunga yang tinggi. Kemampuan menggunakan sumberdana
dari bantuan bank, KUK dari koperasi atau instansi pemerintah umumnya
masih jarang. Kalaupun ada pada umumnya mereka tidak begitu tertarik
menggunakan sumberdana ini karena dipandang terlalu sulit dan sangat
birokrasi,dan persyatan ini tidak dapat dipenuhi oleh banyak perusahaan kecil.
Akibatnya banyak usaha kecil berjalan seadanya dan orientasi usaha hanya
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Kondisi seperti ini
tentukannya akan mempersulit usaha kecil untuk dapat eksis di era pasar bebas
pada tingkat AFTA apalagi pada tingkat dunia.

2. Kajian Berdasarkan Manajemen Strategi

Hasil perhitungan dimulai dari Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3, dapat dijadikan
dasar dalam kajian lingkungan usaha kecil, ditambah dengan fakta lingkungan
yang ada pada usaha kecil sekarang dan prediksi di masa yang akan datang.
Guna menyusun strategi pengembangan usaha kecil sekarang dan yang akan
datang digunakan pendekatan David,Fred (1998) yang dikenal dengan TWOS
Marix Analysis. Berdasarkan kajian ini kekuatan,kelemahan, peluang, dan
ancaman dari manajemen usaha kecil itu dituangkan dalam matrik TOWS
sebagai berikut:
Matrik TOWS Usaha Kecil Di Bandar Lampung

182
DAFTAR ISI

Gambar 1. Matriks TOWS, Usaha Kecil di Bandar Lampung

S= Kekuatan W=Kelemahan
KSF Internal
1. Kontribusi margin (rata- 1. Ketergantung Tinggi
rata ±41% ) pada bahan 2. Manajemen
baku 3. Akses modal
2. Keuletan berusaha
3. Volume Penjualan Modal
KSF kerja Naik terus

O= Peluang S-O W- O

1. Prospek pasar lokal 1. Melakukan inovasi 1. Memperbaiki manajemen


2. Prospek pasar luar 2. Pengembangan usaha modal kerja
3. Binaan Pemerintah 3. Peningkatan mutu 2. Pelatihan SDM
3. Kontrak BB

T= Ancaman S- T W- T

4. Persaingan 1. Penguatan Penguasaan Menambah wawasan SDM


5. Teknologi pasar tentang Persaingan dan pening
6. Perubahan trand/mode 2. Antipasi Perubahan tek katan modal kerja
nologi

Hasil kajian lingkungan berdasarkan TOWS ini secara umum menggambarkan


peta kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari keberadaan usaha kecil
di masa yang akan datang ,selain itu melalui matriks TOWS ini dapat dirancang
strategi apa yang layak diterapkan dalam jangka pendek ,jangka menengah, dan
jangka panjang terutama dikaitkan dengan persaingan secara bebas di era AFTA
maupun era Global.

Kekuatan dari saha kecil di Bandar Lampung berdasarkan kajian hasil survei
ada tiga pilar yaitu (1) setiap usaha kecil umumnya memiliki kontribusi margin
yang tinggi yaitu berkisar rata-rata antara 41%, ini menunjukkan bahwa usaha
kecil ini secara bisnis masih cukup potensial kalau dikelola dengan benar.
Masalahnya terletak pada kemampuan mengatur biaya operasional usaha, jika
biaya operasional rutin ini dapat diefisienkan maka usaha tersebut akan tetap
eksis dan berkembang secara mandiri apalagi jika menggunkan dana binaan
pemerintah atau yang disalurkan melalui Bank atau non Bank.; (2) Rata-rata
pengusaha kecil ini memiliki keuletan dalam berusaha karena terdorong oleh
motivasi untuk mempertahan hidup secara mandiri; (3) Selain itu kekuatan lain
adalah hampir semua produk yang ditawarkan oleh usaha kecil dapat diterima
pasar local karena itu sampai saat ini masalah penjualan tetap baik.

183
DAFTAR ISI

Kelemahan usaha kecil di Bandar Lampung umumnya (1) masih rendahnya


pengetahuan mengena modal kerja, sehingga mereka belum sadar dan
sungguh-sungguh mengatur penagihan piutang, memgatur persediaan,
termasuk sulitnya memisahkan kebutuhan rumah tangga dengan kebutuhan
usaha; (2) Kelemahan ini hampir dilakukan oleh setiap usaha kecil sebagai
akibat masih rendahnya SDM yang ada, yaitu keterampilan berbisnis secara
profesional ; (3) Masalah pengadaan bahan baku belum diatur berdasarkan
perkiraan kebutuhan produksi,tetapi lebih banyak didorong oleh adanya rasa
takut kehabisan bahan baku,sehingga mereka banyak yang bertjaga-jaga secara
berkelebihan pada pengaadaan bahan baku dan pelengkap.

Peluang usaha kecil di Bandar Lampung diantaranya (1) masih terbukanya


peluang untuk menggarap pasar local maupun non local; (2) Tingginya
dukukung pemerintah melalaui binaan manajemen ataupun bantuan modal
yang dapat dimanfaat untuk mengembangkan usaha kecil.

Ancaman usaha kecil kedepan antara lain (1) datang dari semakin ketatnya
persaingan baik secara lokal maupun global ; (2 ) ancaman datang di era pasar
bebas adalah semakin cepatnya trend/perubahan mode yang berpengaruh pada
perubahan salera konsumen; (3) selain itu ancaman datang dari peningkatan
mutu dan pe layanan sebagai akibat adanya perkembangan teknologi produksi
yang baru.

Kajian –kajian TOWS inilah yang dijadikan dasar untuk menyusun langkah atau
strategi usaha kecil ke depan agar dapat bertahan dan bekembang terutama di
era pasar bebas, apakah itu di era pasar bebas AFTA atau pada era Global.
Tindakan strategi yang harus diambail dalam jangka pendek adalah : (1)
Memperbaiki modal kerja, dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai
modal kerja, cara mengatur persediaan, cara mengatur piutang, cara mengatur
seluruh kebutuhan operasional termasuk melakukan efisiensi usaha; (2)
Melakukan peningkatan dengan suplier lokal sehingga terjalin harmonisasi
hubungan dan kontinyuitas pemasokan dapat terjamin sesuai dengan
kebutuhan. (3) Melatih SDM agar mampu menguasai ketearampilan bisnis
moderen dan mampu menyerap binaan atau bantuan modal kerja dari
pemerintah yang disalurkan melalui Bank atau dana KUK.

Tindakan jangka menengah adalah : (1) Meningkatkan mutu dan perbaikan


sistem pelayanan kepada setiap konsumen baik secara lokal maupun untuk
meningkatkan pelayanan di luar Bandar Lampung; (2) Menerapkan sistem
pemasaran yang moderen dengan memperbaiki pelayanan, dimulai dari
perbaikan kemasan,peningkatan daya kerja produk,maupun bentuk pelayanan
purna servis,dll.

184
DAFTAR ISI

Tidakan strategi jangka panjang adalah (1) berusaha untuk mengganti teknologi
yang ada dengan teknologi yang baru sesuai dengan kemajuan zaman ;( 2)
strategi inovasi menjadi andalan utama, hal ini dap, sehingga mampu membaca
kebutuhan pasar dengan cepat. Hal dapat dikembangkan berkat kesadaran
mengenai pemahaman salera konsumen dan ketersediaan teknologi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hasil perhitungan dan kajian yang telah dilakukankan meunjukkan bahwa


secara umum hipotesis yang diungkapkan pada penelitian ini dapat
dibuktikan, dengan alasan sebagai berikut :

(a) Hasil perhitungan kebutuhan modal kerja berdasarkan besaran pencapaian


volume penjualan umumnya menunjukkan hampir ( 87% ) usaha kecil itu
menggunakan modal kerjanya secara berkelebihan ( WC>0). Menurut
ketentuan manajemen kerja yang diungkapkan oleh Weston dan Copland
yang menyatakan bahwa modal kerja yang optimum adalah jika working of
capital (WC) ≤0,

(b) Efek dari buruknya manajemen modal kerja ini juga berpengaruh pada
kemampuan bersaing dari usaha kecil sehingga jika ini diteruskan tanpa
dicari solusi tidak tertutup kemungkinannya akan berpengaruh pada
keberadaan dan daya saing usaha kecil itu di masa yang akan datang
terutama pada era AFTA ataupun era Global.

2. Saran

a) Dianjurkan kepada semua pihak yang terkait dimulai dari Departemen


atau dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM ataupun instansi pemerintah
atau swasta yang terkait, maupun masyakat yang peduli seperti
masyarakat kampus untuk melakukan binaan manajemen modal kerja dan
teknik mengakses modal serta peningkatan wawasan SDM usaha kecil
mengenai keterampilan bisnis moderen, sehingga dapat mengkuti
perkembangan pasar dan perubahan salera konsumen secara tepat dan
cepat

b) Hasil penelitian ini harus disosialisasikan sehingga setiap usaha kecil


mengetahui strategi apa yang harus mereka terapkan, agar tetap bertahan
dan berkembang di masa yang akan datang . Strategi itu adalah :

185
DAFTAR ISI

1. Strategi jangka pendek : (a) Memperbaiki modal kerja, dengan


memperhatikan lebih intensif pada item persediaan dan piutang,
sehingga kedua item ini dapat efektif dimanfaatkan sebagai bagian dari
modal kerja yang dapat memperbaiki kinerja modal kerja;(b)Usaha kecil
perlu meningkatkan hubungan baik dengan supliernya sehingga
terjamin kontinyuitas produksi, yang secara tidak lansung berpengaruhi
terhadap efektivitas item persediaan; (c) Usaha kecil perlu mengikuti
pelatihan SDM khususnya untuk menambah wawasan bisnis moderen;.

2. Strategi jangkah menengah yang perlu diambil oleh usaha kecil adalah :
(a) meningkatkan mutu dan sistem pelayanan kepada konsumen lokal
maupun di luar Bandar Lampung; (b) menerapkan sistem pemasaran
moderen dengan memperbaiki pelayanan, perbaikan kemasan, daya
kerja produk maupun pelayanan purna servis.

3. Strategi jangka panjang yang perlu diambil adalah : (a) berusaha


mengganti teknologi dengan teknologi yang moderen sesuai dengan
kemajuan zaman ; (b) mengembangkan inovasi produk, sebagai
keunggulan bersaing di era AFTA maupun era global.

Daftar Pustaka

Bernard W.Taylor III, Intoduction to Management Science. Virginia: Pearson


Education-Prentice Hall, 8th,ed

Bill Scott,1997. The Skill of Communicating.England: Wildwood House.


Collin and Devana,2001. The Portable MBA.New York : John Wiley &
Sons,Inc.

Indra Ismawan,1999. Menghapus Kesenjangan: Makalah Seminar Pembinaan


Usaha Kecil.Jakarta, September 21.

Iban Sofyan,2000. Konsep dan Aplikasi Manajemen Keuangan.Bandar


Lampung: Penerbit Lamda Sains.

Kenoichi Ohmae,1996. Managing in a borderless World.New York: Harvard


University Review .67,p 153.

Keown,David,Martin,and Petty,2000. Basic Financial Management,Virginia


:Prentioce-Hall,Inc,9th-ed

186
DAFTAR ISI

Levi and Sarnat,1983. Capital Investment and Financial Decisions.Singapore:


Prentice Hall International.

Punji Wahono,2000. Kunci Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar-Kerja


sama antar Lembaga,Jakarta,23 April.

,Philip,1998. Copetitive Advantage. New York : Collier Macmilan Publishers.

Steiner, George,1989. Starting A Successful Small Business. Great Britain: Kogan


Page Limited.

Suryadi Soedirdja,2000. Faktor Penghambat Pengembangan Usaha Kecil:


Makalah Seminar Antar Instasi, Jakata. 19 Juni.

Richard E. Feinberg-Valeriana Kallap,2000.PerbankanKomersil,di Dunia


Ketiga,Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Vanhorn,2001. Fundamentals of Financial Management. New Yersey : Printice


Hall,Inc.Weston and Copland,1998.

187
DAFTAR ISI

Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek


(Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar
Di Provinsi Lampung)

Oleh :
Mahrinasari MS.3

ABSTRACT
The objective of this research is to explore what the brand equity factors especially study
in the biggest three general is banking in Lampung Province.

The research result shows that the determining factors of the equity brand value are 14
factors, determined by 67 indicators. These 14 factors are taken from the KMO’s and
MSA’s values of The Factor Analysis more than 0.50, as follows: 1) Top Of Mind of the
saving account brand, 2) Aware the brand because of Advertising, 3)Aware the brand
because of On Line Mareketng, 4) Asociate the brand with the product function, 5)
Asociate the brand with the facilities and services, 6) Asociate the brand with the
product atributes, 7) be Satisfied with supporting facilities, On-Line Technology, and
Services offered by human Resources, 8)Satisfied with fisical facilities, 9)Satisfied with
office location, 10) Satisfied with keeping in promise, 11) Satisfied with easily
transaction, 12)Satisfied with additonal benefit, 13)CustomerLoyalty because of
customers Liking and commits, 14) customers loyalty because of no brand swiching.

Key Words: Brand Equity, Brand Awareness, Brand Asociation, Brand Perceived
Quality, and Brand Loyalty.

Pendahuluan

Merek produk berkembang menjadi sumber aset terbesar dan merupakan faktor
penting dalam kegiatan pemasaran perusahaan. Hermawan Kertajaya (On
Brand, 2004, hal. 11) mengungkapkan bahwa merek merupakan indikator nilai
(Value) suatu produk. Nilai bagi konsumen adalah perolehan Manfaat
Fungsional, dan Emosional. Manfaat fungsional adalah manfaat langsung
berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diciptakan oleh suatu produk. Sedangkan

3
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Unila
DAFTAR ISI

manfaat emosional adalah manfaat yang diperoleh berupa stimulasi terhadap


emosi dan perasaannya.

Persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat, dan


hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu
bersaing, merebut dan menguasai pasar (Durianto, Darmadi, Sugiarto, Sitinjak
Tony, 2001, hal. 3).

Ekuitas Merek menurut Darmadi Durianto, Sugiarto, Sitinjak Tony (2001, hal.4),
adalah

Seperangkat aset dan liabilitas merek yang terkait dengan suatu merek, nama,
simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai sebuah produk atau
jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan. Agar aset dan liabilitas
mendasari ekuitas merek, maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan
dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap
nama dan simbol merek, beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi
dasar ekuitas merek akan berubah pula.
Menurut David A. Aaker (1998) yang dikutip oleh Darmadi Durianto, Sugiarto,
Sitinjak Tony (2001, hal. 4), ekuitas merek memiliki beberapa elemen, yaitu :

a. Kesadaran Merek (Brand Awareness), menunjukkan kesanggupan seseorang


calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu
merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu.
b. Asosiasi Merek (Brand Association), mencerminkan pencitraan suatu merek
terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya
hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga pesaing, selebritis dan lain-
lain.
c. Persepsi Kualitas (Perceived Quality), mencerminkan persepsi pelanggan
terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan
berkenaan dengan maksud yang diharapkan, sehingga menciptakan
kepuasan pelanggan.
d. Loyalitas Merek (Brand Loyalty), mencerminkan tingkat keterikatan
konsumen dengan suatu merek produk.
e. Aset-aset Merek Lainnya (Other Proprietary Brand Assets). Elemen ekuitas
merek yang kelima ini secara langsung dipengaruhi oleh kualitas dari
empat elemen utama tersebut.

Perbankan nasional di Indonesia saat ini memperlihatkan persaingan yang ketat


dalam merebut konsumen dan mengembangkan pangsa pasar, khususnya pada

190
DAFTAR ISI

produk tabungan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tawaran promosi yang
begitu agresif dan menarik dalam bentuk iklan di media elektronik, iklan di
media cetak, dan pemberian hadiah. Sebagai contoh, terdapat 3 bank Indonesia
yang memiliki aset terbesar posisi september 2005, yaitu Bank mandiri dengan
aset Rp256.783.842 Juta menawarkan program iklan “Berburu Hadiah, dengan
produk tabungan Mandiri Fiesta, dan tawaran hadiah beberapa mobil mewah
BMW dan Mercy; begitupun pada Bank BCA dengan aset Rp148.550.297 Juta
menawarkan beberapa ratus hadiah mobil mewah dan intensitas iklan melalui
program tayangan di Indosiar TV “Gebyar BCA” , dengan produk tabungan
Tahapan BCA; serta Bank Negara Indonesia dengan aset Rp147.675.083 Juta
menawarkan program tayangan “Layar BNI dan Undian Berhadiah menarik”
dengan produk tabungan “Taplus BNI” (Info Bank, Vol. XXVII, Desember 2005,
hal. 14).

Di Propinsi Lampung eksistensi ke tiga perbankan tersebut menunjukkan suatu


bank yang besar baik dari jumlah aset, maupun perolehan dana pihak III.
Tabungan merupakan sumber dana pihak III yang masih menjadi primadona
sebab biaya dana yang dikeluarkan berada pada nilai tengah dan relatif stabil,
dan bahkan nilai pengendapan dana cukup lama dibandingkan dengan giro dan
deposito. Posisi dana demikian berdampak terhadap perolehan pangsa pasar
bank atas produk simpanannya, dimana pangsa pasar produk tabungan selama
tiga tahun terakhir tertinggi dimiliki oleh PT BCA, kemudian menyusul PT Bank
Mandiri, dan PT BNI (persero) Tbk di Provinsi Lampung (Sumber: Bank
Indonesia Bandarlampung, SKEM, September 2005). Secara Nasional, PT BCA
memiliki pangsa pasar tabungan
tertinggi dibandingkan dengan PT BNI, dan PT Bank Mandiri (Sumber: Mark
Plus dan Biro Riset Info Bank, dalam InfoBank, Volume XXVII, hal. 14) Hasil
survey MARS tahun 2005 (Siti Sumaryati dalam artikel Sajian Utama, SWA, No.
15. Vol. XXI, Juli – Agustus 2005, hal. 36, dan hal. 44) menunjukkan bahwa BCA
memiliki peringkat pertama sebagai “The Best Corporate Brand”, dan peringkat
berikutnya diikuti oleh BRI, BNI, Mandiri, dan Lippo.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Faktor – faktor apakah yang menentukan nilai ekuitas merek ?.

191
DAFTAR ISI

Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

• Untuk mengetahui fator-faktor yang menentukan ekuitas merek.


• Sebagai bahan informasi bagi manajemen bank dalam mengeksekusi
atau merencanakan program pemasaran produk Tabungan pada masa
depan.

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

1. Pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen pemasaran


perusahaan, khususnya pada perusahaan perbankan.
2. Sebagai bahan informasi bagi pengambil keputusan yang terkait dengan
produk perbankan pada umumnya.

Tinjauan Teori

Merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah
logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa
dari seorang penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dari barang-
barang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor.(David A.Aaker, 1997 hal.9)

Merek menurut bahasa kamus dalam Encyclopedia Americana, 1989, hal. 438.
menyebutkan:

Brand is a word, term, symbol or design or a combination of two or more


of these, used to identify a product or service of a seller, thus
differentiating the product or service from others. A Brand name has
value to both the owner of the name and the consumer. For the owner it
helps to stimulate buying, maintain prices, differentiate products or
services, aid promotional efforts, and maintain a corporate image. For the
consumer, it helps to assure him of Quality, and offer him the security,
and sometime the prestige, associated with the Brand of the product or
service and its owne.

Suatu merek pada gilirannya memberi tanda pada konsumen mengenai sumber
produk tersebut, kualitas produk, kelebihan-kelebihan produk, dan melindungi
konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha memberikan
produk-produk yang tampak identik. Defenisi tersebut di atas juga
menunjukkan bahwa begitu pentingnya arti dan keberadaan sebuah merek.
Merek memegang peranan sangat penting, salah satunya adalah menjembatani
harapan konsumen pada saat kita menjanjikan sesuatu kepada konsumen.
Dengan demikian dapat diketahui adanya ikatan emosional yang tercipta antara

192
DAFTAR ISI

konsumen dengan perusahaan penghasil produk melalui merek. Pesaing bisa


saja menawarkan produk yang mirip, tapi mereka tidak mungkin menawarkan
janji emosional yang sama.

Merek menjadi sangat penting saat ini, karena beberapa faktor seperti:

1. Emosi konsumen terkadang turun naik. Merek mampu membuat janji emosi
menjadi konsisten dan stabil.

2. Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Bisa dilihat
bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima diseluruh dunia dan
budaya. Contoh yang paling fenomenal adalah Coca Cola yang berhasil
menjadi “Global Brand”, diterima dimana saja dan kapan saja di seluruh
dunia.

3. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen.


Semakin kuat suatu merek, makin kuat pula interaksinya dengan konsumen
dan makin banyak Asosiasi Merek yang terbentuk dalam merek tersebut. Jika
Asosiasi Merek yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat,
potensi ini akan meningkatkan Citra Merek.

4. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Merek


yang kuat akan sanggup merubah perilaku konsumen.

5. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh


konsumen. Dengan adanya merek, konsumen dapat dengan mudah
membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan
dengan kualitas, kepuasan, kebanggaan ataupun atribut lain yang melekat
pada merek tersebut.

6. Merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Hasil


sebuah penelitian menunjukkan bahwa Coca Cola Company yang memiliki
Stock Market Value (SMV) yang besar ternyata 97 % dari SMV tersebut
merupakan nilai merek.

Ekuitas merek menurut Aaker, David A. (1997: 22) adalah seperangkat aset dan
liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbol yang
menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa
kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan.

Ekuitas Merek merupakan aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dimata
pelanggannya. Aset yang dikandungnya dapat membantu pelanggan dalam

193
DAFTAR ISI

menafsirkan, memproses, dan menyimpan informasi yang terkait dengan


produk dan merek tersebut. Ekuitas Merek dapat mempengaruhi rasa percaya
diri konsumen dalam pengambilkan keputusan pembelian atas dasar
pengalaman masa lalu dalam penggunaan atau kedekatan asosiasi dengan
berbagai karakteristik merek.

Menurut Durianto Darmadi - Sugiarto - Tony Sitinjak, 2001 hal. 7) disamping


memberi nilai bagi konsumen, Ekuitas Merek juga memberikan nilai bagi
perusahaan dalam bentuk :

1. Ekuitas Merek yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam


memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama. Promosi
yang dilakukan akan lebih efektif jika merek dikenal. Ekuitas Merek yang
kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek.

2. Empat dimensi Ekuitas Merek: Kesadaran merek, Kualitas yang


dipersepsikan atas merek, Asosiasi-asosiasi merek, dan loyalitas merek
dapat mempengaruhi alasan pembelian konsumen. Bahkan jika Kesadaran
merek, Kualitas yang dipersepsikan atas merek, dan Asosiasi-asosiasi merek
tidak begitu penting diperhatikan dalam proses pemilihan merek, ketiganya
tetap dapat mengurangi keinginan atau rangsangan konsumen untuk
mencoba merek-merek lain.

3. Loyalitas merek yang telah diperkuat merupakan hal penting dalam


merespon inovasi yang dilakukan para pesaing. Loyalitas merek adalah
salah satu elemen Ekuitas Merek yang dipengaruhi oleh elemen ekuitas
merek lainnya.

4. Asosiasi Merek juga sangat penting sebagai dasar penciptaan Kesan Merek
yang kuat dan strategi perluasan produk.

5. Salah satu cara memperkuat Ekuitas Merek adalah dengan melakukan


promosi besar-besaran yang membutuhkan biaya besar. Ekuitas Merek yang
kuat memungkinkan perusahaan memperoleh imbuhan nilai yang lebih
tinggi dengan menerapkan harga premium, dan mengurangi
ketergantungan pada promosi sehingga dapat diperoleh laba yang lebih
tinggi.

6. Ekuitas Merek yang kuat dapat digunakan sebagai dasar untuk


pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau
menciptakan bidang bisnis baru yang terkait yang biayanya akan jauh lebih
mahal untuk dimasuki tanpa merek yang memiliki Ekuitas Merek tersebut.

194
DAFTAR ISI

7. Ekuitas Merek yang kuat dapat meningkatkan nilai penjualan karena


mampu menciptakan loyalitas saluran distribusi. Produk dengan Ekuitas
Merek yang kuat akan dicari oleh pedagang karena mereka yakin bahwa
produk dengan merek tersebut akan memberikan keuntungan bagi mereka.
Dengan Ekuitas Merek yang kuat, saluran distribusi dapat berkembang
sehingga semakin banyak tempat penjualan yang pada akhirnya akan
memperbesar nilai/volume penjualan produk tersebut, dan mempertinggi
perolehan pangsa pasar.

8. Aset-aset Ekutias Merek lainnya dapat memberikan keuntungan kompetitif


bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah yang tidak dimiliki
pesaing. Biasanya, bila empat faktor penentu utama dari Ekuitas Merek yaitu
Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek sudah
sangat kuat, secara otomatis aset Ekuitas Merek lainnya juga akan kuat.

Dengan demikian, perusahaan yang ingin tetap bertahan dan melangkah lebih
maju untuk memenangkan persaingan, sangat perlu mengetahui kondisi
Ekuitas Merek produknya melalui penelitian faktor-faktor penentu elemen
Ekuitas Merek (Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan
Loyalitas Merek).

Metode Penelitian

Objek penelitian pada produk Tabungan Bank Umum PT. Bank Mandiri Tbk, PT
BCA Tbk, dan PT BNI Tbk (Persero) di Provinsi Lampung.

Penelitian dilakukan selama 6 bulan dengan pengambilan data melalui survey


lapangan pada bulan September 2005 hingga bulan Desember 2005.

Jumlah sampel terpilih menggunakan pendapat Slovin (Husein Umar, 1997, hal.
59-60) dengan mengasumsikan populasi berdistibusi normal dan tingkat

kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%. Populasi nasabah tabungan pada


ketiga bank masing-masing sebanyak di atas 50.000, sehingga besarnya jumlah
sampel diperoleh minimal sebesar 100. Dengan demikian jumlah sampel
keseluruhan adalah 300 responden. Responden terpilih disurvey pada kantor
cabang utama, dan kantor cabang pembantu dengan lokasi kantor di kota/kota
kabupaten terpadat atau terbanyak respondennya melebihi 5000 nasabah,
sehingga jumlah sampel pada masing-masing kantor cabang dan cabang
pembantu dipilih secara proporsional. Teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik non -probability sampling, khususnya dengan jugjemen
sampling atau sampling pertimbangan (Moh. Nasir, 1999, hal.332). Pendekatan

195
DAFTAR ISI

ini dilakukan karena karakteristik populasi nasabah bank responden tidak


dapat diketahui dengan pasti dan nasabah diperkirakan homogen. Oleh karena
itu, penulis menentukan pertimbangan yang menjadi responden adalah nasabah
aktif yang berarti nasabah melakukan transaksi menabung minimal satu kali
dalam satu bulan pada bank responden dan pernah menjadi dan atau sedang
menjadi nasabah pada produk tabungan bank lainnya.

Hasil Dan Analisis

Uji Validitas dan Reliabilitas

Hasil pengujian validitas dengan metode analisis Korelasi Pearson yang dapat
dilihat pada Tabel 1. berdasarkan aplikasi komputer Software SPSS Versi 11.5,
dan mengunakan 30 sampel responden pada peubah Kesadaran Merek,
Asosiasi Merek, Kepentingan, Kepuasan, dan Loyalitas menunjukkan nilai
tingkat signifikansi P lebih kecil (<) dari 0.05. Dengan demikian, alat ukur yang
digunakan dalam pengukuran Ekuitas Merek dapat diyakini
kevalidannya/keakuratannya.

Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode statistik “Cronbach’s Alpha


menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,9468 atau 95%. Nilai
Cronbach’s Alpha ini masuk dalam kategori tingkat kereliabelan sangat tinggi.
Dengan demikian, skala pengukuran dikatakan reliabel atau tepat untuk
digunakan pada penelitian selanjutnya.

Tabel 1. Hasil Pengujian Validitas Pengukuran Ekuitas Merek

Hasil Signifikansi=
No Peubah Ekuitas Merek Nilai Korelasi Pearson
< 0,05, Berarti Valid
1 Loyalitas pada Merek 0,553 0.002
2 Kesadaran pada merek 0,406 0,026
3 Asosiasi atas Merek 0,464 0,010
4 Kepentingan pada Merek 0,648 0,000
5 Kepuasan atas Merek 0,646 0,000
Sumber: Data diolah, 2005

Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek

Analisis faktor penentu ekuitas merek menggunakan model analisis faktor.


Hasil Model analisis faktor I dilakukan tampa terjadi reduksi indikator
menunjukkan bahwa angka KMO (Kaiser-Meyer-Olkin,) – MSA (Mesure of
Sampling Adequacy) sebesar 0,874. Angka ini berarti bahwa pengukuran atas

196
DAFTAR ISI

peubah ekuitas merek dapat diproses dan digunakan dalam model selanjutnya.
Nilai Bartlett’s Test yang dilihat pada angka Kai Kuadrat (Chi-Square) sebesar
10890,365 dengan signifikansi sebesar 0,000, yang berarti bahwa model analisis
faktor dapat dilanjutkan.

Namun, besaran MSA pada peubah Loyalitas, khususnya pada indikator


Pembeli Kebiasaan sebagai bagian dari peubah ekuitas merek menunjukkan
nilai di bawah 0,50. Hal ini berarti perhitungan analisis faktor I perlu diulang
dengan cara menghilangkan peubah indikator “kebiasaan”.

Model analisis faktor II setelah menghilangkan peubah kebiasaan menunjukkan


bahwa nilai KMO- MSA (Kaiser-Meyer-Olkin, Measure of Sampling Adequacy)
sebagai pengukuran ketepatan model dapat digunakan sebesar 0,876. Nilai
Bartlett’sTest of Sphericity yang dilihat pada angka Kai Kuadrat sebesar 10823,739
dengan signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari nilai signifikansi
kepercayaan 0,05, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan.

Nilai MSA pada Model faktor II menunjukkan bahwa masing-masing peubah


ekuitas merek memiliki nilai lebih tinggi dari 0,50. Kemudian nilai faktor
komponen matrik korelasi terdiri 15 faktor. Penentuan masing-masing indikator
yang masuk dalam suatu faktor komponen matrik korelasi yaitu dilihat dari
nilai korelasi matrik terbesar pada masing-masing komponen. Namun, nilai
komponen matrik korelasi pada faktor 13 yang terdiri dari indikator KPS 6 (
Lokasi Strategis dekat dengan tempat tinggal) serta faktor 12 yang terdiri dari
indikator BA 13 (Asosiasi Penggunaan layanan Auto Debet) dan BA 14
(komunikasi Pemasaran On-Line)_memiliki 2 nilai faktor komponen matrik
korelasi yang berdekatan hampir sama, maka peneliti mencoba
menggabungkan faktor 13 nilai indikator KPS 6 ke dalam faktor 3 serta faktor 12
nilai indikator BA 13 ke dalam faktor 4, dan nilai indikator BA14 pada faktor
komponen 12 ke dalam faktor komponen 14. Sehingga jumlah faktor penentu
nilai ekuitas merek secara keseluruhan menjadi 14 faktor. 14 faktor ini adalah 1)
Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek
karena Promosi Media Iklan Dalam dan Luar Ruangan; 3) Pengenalan Merek
Karena Komunikasi Pemasaran On-Line; 4) Asosiasi yang dibentuk karena
fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah, suku bunga
tinggi, dan aman; 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses
layanan aman dan nyaman; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk
berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta Integritas; 7)
Kepuasan atas produk tabungan karena tawaran fasilitas teknologi on-line dan
layanan oleh SDM tepat, cepat, dan aman; 8) Kepuasan atas tawaran fasilitas
fisik yang melekat pada ruang kantor (Gedung mewah, ruang tunggu, dan
halaman parkir luas); 9) Kepuasan Atas Lokasi Strategis, 10) Kepuasan atas
kepastian dan ketepatan janji sesuai fungsi inti produk berupa: suku bunga

197
DAFTAR ISI

tinggi, biaya administrasi rendah, dan hadiah undian serta hadiah langsung
menarik; 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi; 12) Kepuasan atas manfaat
tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik, parkir gratis, desain kartu
ATM menarik; 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan, kesukaan,
dan komitmen nasabah terhadap merek produk tabungan pada ke tiga bank
responden; serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya
perpindahan merek, yang berarti jika ada tawaran yang menarik dari bank lain,
nasabah akan cenderung berpindah walaupun nasabah harus mengeluarkan
biaya perpindahan atas merek. Tabulasi hasil faktor komponen matrik korelasi
terdiri dari 14 faktor dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini. Tabel 1
menunjukkan bahwa nilai korelasi matrik antara indikator dan faktor
menunjukkan rerata korelasi di atas 50% (0,536). Nilai ini menunjukkan
hubungan yang cukup erat.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Faktor Komponen Matrik Korelasi

Nomor Faktor Nilai Korelasi


Komponen Nama Faktor Indikator Faktor Komponen
Matrik Rotasi Matrik Rotasi
Pengingatan
I Puncak Atas Pikiran Puncak (Top of Mind) 0,789
Merek
1. Iklan Radio 0,504
2. Iklan TV 0,522
Pengenalan Merek
3. Surat Kabar 0,769
Karena Promosi
2 Iklan Media Dalam 4. Majalah 0,766
dan Luar 5. Tayangan “Bill Board” 0,765
Ruangan, Berupa;
6. Pameran 0,465
7. Rekomendasi Teman 0,418
Pengenalan Merek 1. Pemasaran On-Line
3 0,303
karena
Asosiasi 1. Biaya Administrasi Rendah 0,648
Terbentuk Karena 2. Suku Bunga Tinggi
4 0,742
Fungsi Produk,
Berupa: 3. Aman 0,476
Asosiasi 1. Akses Jaringan Kantor Luas danj Akses 0,676
5
Terbentuk karena ATM banyak
Pemanfaatan 2. Akses layanan Phone Banking 24 Jam, 0,728
Fasilitas dan Bebas Pulsa
Akses Layanan, 3. Fasilitas Antrian Nyaman 0,605
Berupa:
4. Fasilitas Transaksi penarikan Dana , 0,600
Kapan Saja, Dimana Saja, Tampa
Batasan Jumlah
5. Akses layanan cepat, aman dan nyaman 0,689

198
DAFTAR ISI

Nomor Faktor Nilai Korelasi


Komponen Nama Faktor Indikator Faktor Komponen
Matrik Rotasi Matrik Rotasi
6. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah 0,547
7. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” 0,757
Pembayaran Listrik, Telephone, dan Air
8. Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja 0,683
1. Profesional 0,754
Asosiasi
Terbentuk Karena 2. Layanan Simpati 0,533
6
Atribut Produk
Berkesan: 3. Tanggung jawab dan Integritas 0,633
1. Ruang antrian nyaman 0.412
2. Teknologi Informasi On-Line 0.446
3. Dilengkapi dengan Buku Transaksi 0.465
4. Profesionalisme karyawan dalam
0.692
pelayanan
5. kemampuan Karyawan dalam
menjelaskan produk dan layanan 0.325
denagn baik dan tepat
6. Layanan transaksi oleh karyawan
0.678
cepat
7. Karyawan mengesankan keyakinan
Kepuasan Atas dan percaya diri yang tinggi kepada 0.629
Fasilitas nasabah
Pelengkap, 8. FasilitasJaminan Asuransi kepada
7 0.573
Teknologi dan keluarga penabung
Layanan SDM, 9. Aman dan terpercaya terbukti
Berupa: dengan penarikan dana kapan saja 0.607
dan tampa batasan jumlah dana
10. Karyawan ramah dalam
memberikan informasi yang 0,780
dibutuhkan nasabah dengan tepat
11. Karyawan cepat tanggap atas
0,832
keluhan dan masalah nasabah
12. Karyawan penuh semangat
bersedia membantu menjawab 0,832
pertanyaan nasabah
13. Pelayanan prima oleh Karyawan 0,717
14. Karyawan peduli terhadap
0,817
kepuasan nasabah
8. Kepuasan atas 1. Gedung Mewah 0,343
Fasilitas Fisik yang 2. Ruang Tunggu Bertransakasi Luas 0,481
Melekat pada
Ruang kantor, 3. Ruang tunggu Bertransaksi Bersih 0,573
Berupa: 4. Ruang Tunggu Bertransaksi Sejuk 0,607
5. Ruang Tunggu Bertransaksi Nyaman 0,780

199
DAFTAR ISI

Nomor Faktor Nilai Korelasi


Komponen Nama Faktor Indikator Faktor Komponen
Matrik Rotasi Matrik Rotasi
6. Halaman Parkir Luas 0,832
1. Dekat dengan tempat tinggal/Usaha 0,396
Kepuasan Atas
9 2. Mudah Dijangkau dengan Alat
Lokasi Strategis 0,437
Transportasi
Kepuasan atas 1. Suku bunga tinggi dan menarik 0,775
Kepastian dan 2. Biaya administrasi rendah 0,691
10 Ketepatan Janji
3. Hadiah undian tabungan menarik 0,663
Sesuai Fungsi Inti
Produk 4. Hadiah langsung menarik 0,748
1. Fasilitas Internet Banking 0,768
2. Fasilitas SMS Banking 0,799
3. Fasilitas Call Center 0,780
Kepuasan atas 4. Memanfaatkan Jaringan ATM Bank
Kemudahan 0,387
11 Lain
Bertransaksi, 5. Memanfaatkan Fasilitas Ruang
Dengan: 0,481
Antrian Kantor
6. Memanfattkan fasilitas ATM sendiri
0,497
yang banyak
7. Memanfaatkan fasilitas Auto Debit 0,526
Kepuasan atas 1. Halaman parkir gratis 0,494
Manfaat 2. Tampilan fisik karyawan cantik/
12 0,604
Tambahan, ganteng, dan menarik
Berupa: 3. Desain Kartu ATM menarik 0,403
1. Kepuasan 0,789
Loyalitas Nasabah 2. Kesukaan
13 0,784
Terbentuk Karena:
3. Komitmen 0,634
Loyalitas Nasabah 1. Tidak Adanya Perpindahan Merek 0,749
14 Terbentuk ,
Karena:
Sumber: Data Diolah dengan Metode Analisis Faktor - Aplikasi SPSS Versi 11.5, Januari
2006

Tabel 1. tersebut memberikan makna bahwa nilai korelasi faktor matrik yang
besar diperoleh dari nilai di atas 0,50. Sehingga penentu ekuitas merek yang
kuat dari masing-masing indikator adalah nilai yang menghasilkan korelasi
faktor di atas 0,50.

Simpulan

a. Analisis faktor membuktikan ada 14 Faktor dari 67 Indikator Peubah

200
DAFTAR ISI

penentu ekuitas merek dengan memiliki nilai KMO-MSA (Kayser-Meyer-


Olkin, Measure of Sampling Adequacy), yaitu nilai penentu kecukupan
sampling sebagai penentu faktor model yang tepat untuk digunakan
sebesar di atas 0,5.

b. 14 Faktor penentu Ekuitas Merek yang kuat dilihat dari hasil nilai korelasi
faktor matrik rotasi indikator di atas 0,50 adalah 1) Pengingatan atas Merek
Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek karena Promosi Iklan
Media Dalam dan Luar Ruangan berupa: Iklan TV, Radio, Surat Kabar,
Majalah dan Bill Board ; 3) Pengenalan Merek Karena Pemasaran On-Line;
4) Asosiasi Terbentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya
administrasi rendah, dan suku bunga tinggi,; 5) Asosiasi terbentuk karena
pemanfaatan fasilitas dan akses layanan berupa: Akses Jaringan Kantor
Luas dan Akses ATM banyak; Akses layanan Phone Banking 24 Jam dan
Bebas Pulsa; Fasilitas Antrian Nyaman; Fasilitas Transaksi penarikan Dana,
Kapan Saja, Dimana Saja, dan Tampa Batasan Jumlah; Akses layanan cepat,
aman dan nyaman; Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah; Fasiltias Layanan
“ Auto Debet ” Pembayaran Listrik, Telephone, dan Air; dan Fasilitas
Aplikasi kartu Debit Belanja; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut
produk berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta
Integritas; 7) Kepuasan atas Fasilitas Pendukung, Teknologi on-line dan
Layanan oleh SDM berupa: Profesionalisme karyawan, Layanan transaksi
oleh karyawan cepat, Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri
yang tinggi kepada nasabah, FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga
penabung, Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan
saja dan tampa batasan jumlah dana, Karyawan ramah dalam memberikan
informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat, Karyawan cepat tanggap
atas keluhan dan masalah nasabah, Karyawan penuh semangat bersedia
membantu menjawab pertanyaan nasabah, Pelayanan prima oleh
Karyawan, dan Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah; 8) Kepuasan
atas Fasilitas Fisik yang melekat pada Ruang Kantor (Ruang tunggu
Bertransaksi Bersih, Sejuk, dan Nyaman, serta Halaman Parkir Luas); 9)
Kepuasan Atas Lokasi . Strategis, 10) Kepuasan atas kepastian dan
ketepatan janji sesuai dengan fungsi inti produk berupa: Suku bunga tinggi
dan menarik, Biaya administrasi rendah Hadiah undian tabungan menarik
Hadiah langsung menarik; 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi:
internet banking, SMS banking, Call Center, dan pemanfaatan Auto Debit;
12) Kepuasan atas Manfaat Tambahan berupa tampilan fisik karyawan
menarik; 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan, kesukaan, dan
komitmen nasabah; serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak
adanya perpindahan merek.

201
DAFTAR ISI

Saran

Ekuitas merek dapat ditingkatkan dengan memperbaiki beberapa aspek yaitu:


a. Aspek kesadaran ditingkatkan melalui pengenalan dan penyadaran
merek untuk menciptakan Pikiran Puncak atas Merek produk (Top of
Mind) melalui program promosi intensif, dan agresif.
b. Penguatan kesan pada merek dengan penciptaan asosiasi seperti merek
memiliki makna profesional, layanan simpati, akses layanan 24 jam,
layanan cepat dan aman, dan biaya administrasi rendah.
c. Peningkatan kepuasan nasabah dengan memberikan beban biaya
administrasi rendah, dan layanan prima.
d. Menciptakan biaya peralihan tinggi sehingga menyulitkan nasabah untuk
berpaling ke bank lain
e. Menciptakan program relationship marketing terpadu.

DAFTAR PUSTAKA

Aaker, David. A, 1997, Alih Bahasa Ananda Aris, Manajemen Ekuitas Merek:
Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek, Spektrum Mitra Utama-
Prentice Hall.

Cravens, DW, 2000, Strategic Marketing, 6th. Ed. Irwin. Chicago

Durianto, Darmadi, Sugiarto, Sitinjak, Toni, 2001, Strategi Menaklukkan Pasar,


Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Husein Umar, 2000, Riset Strategi Pemasaran, Penerbit Gramedia Pustaka


Utama, Jakarta.

Hermawan Kartajaya, 2004, Hermawan Kertajaya On Branding, Mizan Media


Utama, Bandung Indonesia.
Kottler Phillip, 2000, Marketing Management, The Millenium Edition, Prentice
Hall International.

Kasmir, 2000, Manajemen Perbankan, Penerbit Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta.

202
DAFTAR ISI

Lukman Dendawijaya, 2003, Manajemen Perbankan, Penerbit Galia Indonesia,


Jakarta.

Nasir, Moh., 1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Nicolino, Patricia F., 2004, Brand Management, alih Bahasa, oleh Sugiri, Penerbit:
Prenada Media, Jakarta.

Pahlawan Jauhari, 2003, Analsis Elemen Ekuitas Merek pada PT Bank Mandiri
Tbk (Persero), dikutif dalam “Jurnal Ilmiah – Entrepreneurship”,
Volume 1., No. 3, Agustus 2003, ISSN 1693-1696.

Syaifudin Anwar, 1997, Reliabilitas dan Validitas, Penerbit Pustaka Pelajar,


Yogyakarta.

Sugiarto, dkk, 2001, Teknik Sampling, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suharsimi Arikunto, 1999, edisi revisi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan


Praktek, cetakan kesebelas, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Susanto, A.B., dan Wijarnako, Himawan, 2004, “Power Branding”, Penerbit:


Quantum Bisnis dan Manajemen (PT Mizan Publika), Jakarta
Indonesia.

_______________, 1997, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan, Untuk


Menaikkan pangsa pasar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Temporal, Paul, Alih bahasa Suminto, Hari, 2001, Branding in Asia (Membangun
Merek di Asia), Interaksara.

Zeithaml, A. Valerie, A. Parasuraman and Leonard, L. Berry, 1990, Delivering


Quality Service: Balancing Customer Perception and Expectations,

The Free Press A. Division of Macmillan, Inc.


Zeithaml, A. Valerie, Bitner, Mary Jo, 1996, Service Marketing,
International Edition, McGraw Hill.

Encyclopedia Americana, 1989, Printed and Manufactured in the USA

Buletin Mandiri, Journal Mandiri, 2001-2005, Jakarta

-------------------, Juli 2003, Indonesian Best Brand 2003, Majalah SWA, Edisi Volume
XIX, No. 14, Jakarta.

203
DAFTAR ISI

-------------------, Juli – Agustus 2004, Indonesian Best Brand 2004, Majalah SWA,
Edisi Volume XX, No. 15, Jakarta.

-------------------, 21 Juli – 3 Agustus 2005, Indonesian Best Brand 2005, Majalah


SWA, Edisi Volume XXI, No. 15.

-------------------, Juli 2003, Peringkat Merek Memuaskan, Majalah SWA, Edisi


Volume XX, No. 19, Jakarta.

-------------------, Juni 2004, Rating 134 Bank, Majalah SWA, Edisi Volume XXVI,
No. 303, Jakarta.

-------------------, September 2005, Peringkat Merek Memuaskan 2005, Majalah


SWA, Edisi Volume XXI, No. 19, Jakarta.

-------------------, Desember 2005, Nasabah Mulai Gelisah, Majalah Info Bank, Edisi
Volume XXVII, No. 321. Jakarta.

204
DAFTAR ISI

Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji


Di Propinsi Lampung

Oleh :

Mustafid4

ABSTRACT

The research analysis result shows that the distribution channel I form farmers, district
traders, and exporters is more effective (0,375) than that from others. The value of
distribution from farmers, village traders, district traders, and exporters is 0,345. And
the value of distribution from farmers, village traders, regency traders, and exporters is
0,300. While in efficiency and margin, it proves that exporters are more efficient than
collecting traders and farmers (exporters 0,97, regency traders 0,98, district traders
0,99 , village traders 0,99, and farmers 0,83). The average efficiency level at distribution
channel I is 0,93, at distribution channel II 0,95, and at distribution channel III 0,94.
Based on the conclusion, it is suggested, in marketing of coffee commodity, to use
distribution from farmers Æ district traders Æ exporters, and it is better for exporters to
help coffee commodity farmers to increase margin. Therefore, it is necessary to activate
association to be involved in blocking marketing of coffee commodity in general and
especially helping coffee farmers in carrying out their farming.

Keywords : Coffee, Exporters, Farming

PENDAHULUAN

Ekspor dari sektor pertanian dan kehutanan Propinsi Lampung memberikan


devisa negara sebanyak 271.617,88 ton dengan nilai seharga US$ 250.453.333,
Bank Indonesia Cabang Bandar Lampung, 2004. Dan Kopi Biji menduduki
tempat yang penting dalam devisa dimana luas dan hasil produksi kopi biji di
Propinsi Lampung sekitar 41,14%, yaitu dari Kabupaten Lampung Barat, 29,21%
dari Kabupaten Tanggamus, 14,73% dari Kabupaten Way Kanan, 9,12% dari
Kabupaten Lampung Utara, 4,50% dari Kabupaten Lampung Selatan, 0,79% dari
Kabupaten Lampung Tengah, 0,69% dari Kabupaten Lampung Timur, 0,33%
dari Kabupaten Tulang Bawang, dan 0,05% dari Kota Bandar Lampung, satu-

4
Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Unila
DAFTAR ISI

satunya daerah yang tidak menghasilkan kopi biji adalah Kota Metro (Dinas
Perkebunan Propinsi Lampung, 2004).

METODE PENELITIAN

Penelitian lapangan terdiri dari observasi dan mempelajari hal-hal yang ada
hubungannya dengan penelitian ini. Ruang lingkup penelitian lapangan
meliputi:
1. Daerah penelitian adalah daerah Propinsi Lampung, yaitu Kabupaten
Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Way Kanan.

2. Jumlah sampel yang diambil dari petani produsen sebanyak 47 rensponden,


hal ini didasarkan dari pendapat Mubiarto (1993:95), bahwa besarnya
sampel produk hasil pertanian dapat di ambil antara 10% sampai dengan
20% dari populasi petani produsen komoditas kopi biji sebanyak 410 orang
di sentra produksi komoditas kopi biji di Lampung yang terdiri dari 21 dari
Kabupaten Lampung Barat, 16 dari Kabupaten Tanggamus, 10 dari
Kabupaten Way Kanan. Hal ini didasarkan pada proporsi hasil produksi di
wilayah tersebut. Pedagang desa sebanyak 17 pedagang, 10 pedangang dari
Kabupaten Lampung Barat, 5 dari Kabupaten Tanggamus, dan 2 dari
Kabupaten Way Kanan. Pedagang kecamatan sebanyak 20 pedagang, 9 dari
Kabupaten Lampung Barat, 7 dari Kabupaten Tanggamus, dan 4 dari
Kabupaten Way Kanan. Pedagang kabupaten sebanyak 7 pedagang, 3 dari
Kabupaten Lampung Barat, 2 dari Kabupaten Tanggamus, dan 2 dari
Kabupaten Way Kanan. Sedangkan Eksportir sebanyak 2 responden.
Jumlah sampel tersebut di ambil secara proporsif (proporsive random
sampling) atas dasar homogenitas (relatif sama) yang diharapkan dapat
mewakili dari populasi yang ada.

Dalam menyusun penelitian ini akan digunakan analisis kualitatif dan


kuantitatif yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi.

1. Dalam analisis kualitatif akan digunakan analisis berdasarkan teori


pemasaran dengan membandingkannya, khususnya dengan tata niaganya.

2. Selain analisis kualitatif juga akan dilakukan analisis dengan pendekatan


kuantitatif, antara lain menganalisis tentang efektivitas dan efisiensi tata
niaga pemasaran komoditas kopi biji di Propinsi Lampung, yaitu:

206
DAFTAR ISI

a. bahwa ntuk mengukur tingkat efektivitas digunakan metode faktor


tertimbang menurut Basu Swastha D.H. dan Irawan (2000:314)
digunakan rumus:

n
Ni = ∑ Tj.Fij
j=1

Keterangan:

Ni = Nilai total untuk kebijaksanaan saluran disrtibusi(I).


Tj = Timbangan pada faktorj;
j = 1, 2, 3, .., n dan 0 ≤ Tj ≤ 1;
n
∑ Tj = 1
j = 1
Fij = Nilai kebijaksanaan I pada faktor j, pada 0 ≤ Fij ≤ 0,5

Kriteria penentuan efektif adalah jika Ni > 0,30 (Basu Swastha D.H. dan
Irawan 2000:314).

Asumsi-asumsi untuk metode ini adalah:

1. Menggunakan skala jarak tertentu (0,1 sampai dengan 0,5).

2. Timbangan faktor tidak dapat dipisahkan dengan nilai faktornya.

3. Faktor-faktor itu tidak dapat berdiri sendiri.

4. Produk, harga, promosi, dan lingkungan dianggap tetap.

b. Untuk mengukur tingkat efisiensi pemasaran kopi biji di Lampung


sehingga dapat diketahui margin yang diperoleh masing-masing
lembaga yang terkait dalam pemasaran kopi biji termasuk margin yang
diperoleh produsen. Untuk Mengetahui tingkat efisiensi tata niaga pada
setiap lembaga menurut Noegroho Besar Koesnadi (1990:5) adalah
dengan rumus sebagai berikut:

e = Z + Zm .
C + Cm

207
DAFTAR ISI

Keterangan:

e = Efisiensi saluran perlembaga.


Z = Keuntungan yang diterima oleh lembaga tata niaga
persatuan barang.
C = Biaya saluran persatuan barang.
Zm = Pendapatan produsen dari hasil penjualan persatuan barang.
Cm = Biaya penyaluran dan pemasaran yang dikeluarkan oleh
produsen persatuan barang.

Kriteria penentuan efisien adalah jika e > 1.

Asumsi-asumsi yang dianggap konstan, yaitu:

1. Kebijaksanaan produk, dengan alasan komoditas kopi biji sangat


dipangaruhi olah faktor alam.

2. Kebijaksanaan promosi yang dilaksanakan relatif terbatas.

3. Kondisi perekonomian yang tidak dapat dipengaruhi secara parsial


atauperubahannya berlaku umum.

4. Peraturan Pemerintah, karena peraturan pemerintah harus dipatuhi,


dengan demikian bersifat given.

5. Teknologi, hal ini didasarkan berlakunya bersifat umum dan tidak


setiap perubahan teknologi langsung dapat diikuti.

6. Faktor kebudayaan.yang perubahannya relatif lambat.

208
DAFTAR ISI

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Efektivitas

Tabel 1. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan


pada Strategi Saluran I

Nilai Fakt or (Fij)


No. Fakt or Tj T j - Fij
0,5 0,4 0,3 0,2 0,1
1 Efekt ivitas unt uk
mencapai pembeli at au 0,15 x 0,045
konsumen
2 Laba yang diperoleh
jika alt ernat if saluran
0,25 x 0,100
yang digunakan
dilakukan dengan baik
3 Pengalaman
perusahaan dalam 0,10 x 0,050
memasarkan produk
4
Jumlah invest asi at au
0,30 x 0,120
biaya yang diperlukan
5 Kemampuan
perusahaan unt uk 0,20 x 0,060
menut upi kerugian
Nilai T ot al 0,375

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan


pada Strategi Saluran II

Nilai Faktor (Fij)


No. Faktor Tj Tj - Fij
0,5 0,4 0,3 0,2 0,1
1 Efektivitas untuk
mencapai pembeli atau 0,15 x 0,060
konsumen
2 Laba yang diperoleh jika
alternatif saluran yang
0,25 x 0,075
digunakan dilakukan
dengan baik
3 Pengalaman perusahaan
dalam memasarkan 0,10 x 0,030
produk
4
Jumlah investasi atau
0,30 x 0,120
biaya yang diperlukan
5
Kemampuan perusahaan
0,20 x 0,060
untuk menutupi kerugian

Nilai Total 0,345

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

209
DAFTAR ISI

Tabel 3. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan


pada Strategi Saluran III

Nilai Faktor (Fij)


No. Faktor Tj Tj - Fij
0,5 0,4 0,3 0,2 0,1
1 Efektivitas untuk
mencapai pembeli atau 0,15 x 0,075
konsumen
2 Laba yang diperoleh jika
alternatif saluran yang
0,25 x 0,075
digunakan dilakukan
dengan baik
3 Pengalaman perusahaan
dalam memasarkan 0,10 x 0,020
produk
4
Jumlah investasi atau
0,30 x 0,090
biaya yang diperlukan
5
Kemampuan perusahaan
0,20 x 0,040
untuk menutupi kerugian

Nilai Total 0,300

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

Berdasarkan analisis efektivitas tata niaga komoditas kopi biji Propinsi


Lampung bahwa tata niaga I ( Petani Produsen ---> Pedagang Kecamatan --->
Eksportir) lebih efektif dengan nilai 0,375 dari bentuk tata niaga II (Petani
Produsen ---> Pedagang Desa ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir}
dengan nilai 0,345 dan tata niaga III (Petani Produsen --->Pedagang Kabupaten -
--> Eksportir) dengan nilai 0,300.
Analisis Efisiensi

Tabel 4. Hasil Perhitungan Tingkat Efisiensi Tata Niaga I, II, dan III
Komoditas Kopi Biji Propinsi Lampung

No. Keterangan Saluran I Saluran II Saluran III


1 Petani
Pedagang Kecamatan 0,93
Eksportir
2 Petani
Pedagang Desa
0,95
Pedagang Kecamatan
Eksportir
3 Petani
Pedagang Desa
0,94
Pedagang Kabupaten
Eksportir
Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

210
DAFTAR ISI

KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian jika dilihat secara parsial, terlihat adanya usaha untuk
menyelenggarakan tata niaga komoditas kopi biji di Lampung seefektif dan
seefisien mungkin terlihat dari angka perhitungannya yang lebih dari 70 %.
Efektivitas tata niaga I (petani, pedagang kecamatan, eksportir) lebih efektif
daripada bentuk saluran distibusi lainnya dengan nilai 0,375. Analisis efisiensi
pada tata niaga II lebih tinggi daripada tata niaga yang lain, yaitu 0,95, tata
niaga I rata-rata sebesar 0,93, dan tata niaga III rata-rata sebesar 0,94.

Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan, jika lebih mengutamakan


efektivitasnya, maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga I (petani,
pedagang kecamatan, eksportir). Sedangkan bila mengutamakan efisiensinya,
maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga II (petani, pedagang desa,
pedagang kecamatan, eksportir). Eksportir juga dapat membantu petani
komoditas kopi agar marjin yang diperolehnya meningkat. Untuk itu perlu
diaktifkannya peran serta lembaga asosiasi untuk ikut serta meningkatkan
pendapatan pada tata niaga kopi biji.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. 2004. Lampung Dalam Angka.


Lampung: Bappeda Tingkat I Lampung dan Badan Pusat Statistik
Propinsi Lampung.

Craven, D.W. 2000. Strategic


Marketing International Edition. New York: Irwin McGraw – Hill.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan. 2004. Indonesian Commodity


Review. Jakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Kotler, Philip. 2000. Marketing Management Millenium Edition. Prentice


Hall.Kotler, Philip. 1999. International Marketing. Jakarta: Salemba Empat.

Siswoputranto, P.S. 1999. Buletin Ilmiah Penelitian dan


Pengembangan Industri dan Perdagangan No. 07.1.00.35. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan Departemen
Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia.

Swastha D.H., Basu dan Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran. Yogyakarta:


LPFE UGM.

211
DAFTAR ISI

Universitas Lampung. 1999. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Lampung:


Universitas Lampung

212
DAFTAR ISI

Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham


di Pasar Modal

Oleh :

Sri Hasnawati5

ABSTRACT

This paper is to discuss the Discounted Dividend Model for investing in stocks.
Stocks are one of the investment alternatives with both high expected return and
high risk. Rumors might work well for short-term investment, but long-term
investment based on rumors may not be profitable.

Long term investment in stocks based on a fundamental approach seems more


promising. The Discounted Dividend Model is a fundamental approach to
investment that looks into the earning growth of the companies in question.
Three varieties of the model are presented here, Constant Discounted Dividend
Model, Constant Growth Discounted Dividend Model., and Multi Stages
Discounted Dividend Model.

Keywords : Discounted divident, earning growth, varietes model

I. Latar Belakang

“The madness of crowds” itulah istilah yang digunakan oleh Burton G.Malkiel
dalam bukunya yang berjudul: “A Random Walk Down Wall Street”, untuk
menggambarkan masyarakat yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa dasar pemikiran yang rasional.

Keinginan manusia seperti itu adalah naluri manusia di mana saja. Sejarah telah
mencatat bagaimana misalnya masyarakat di Negeri Belanda pada abad ke
enam belas beramai-ramai memborong bibit bunga tulip dalam rangka
mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kelangkaan
bunga tulip yang disebabkan oleh hama telah menyebabkan harga bibit bunga
tulip dalam bentuk siung (bulb) meningkat dengan cepat. Gejala mi telah
5
Doctor of Finance, Lecturer of University of Lampung, Faculty of Economy, Management Dept.
DAFTAR ISI

memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi mereka yang telah terlanjur
membeli bibit tersebut. Keuntungan yang dinikmati oleh segelintir orang ini
telah mendorong yang lain untuk membeli bunga tulip lebih banyak lagi.
Hukum ekonomi mengatakan bahwa dengan suplai yang tetap, tambahan
permintaan akan menyebabkan harga akan meningkat (ceteris paribus).
Demiikianlah harga meningkat dari hari ke hari sampai pada suatu titik di mana
harga sudah menjadi terlalu tinggi untuk bibit bunga tulip yang nilai
intrinsiknya rendah. Pada akhirnya tulip tetaplah tulip yang tidak dapat
menghasilkan emas. Menyadari hal tersebut di atas masyarakat tidak lagi mau
membeli tulip sehingga harga turun dengan cepat. Akibatnya banyak
masyarakat yang menderita kerugian.

Nampaknya masyarakat di manapun tidak pernah mau belajar dan sejarah.


Kejadian di Negeri Belanda terulang kembali di Inggris pada Abad ke delapan
belas. Masyarakat lagi-lagi beramai-ramai membeli saham perusahaan
pelayaran “The South Sea” yang tidak jelas benar kinerja keuangannya.
Masyarakat membeli saham semata-mata karena meinbeli saham memberikan
status simbol tertentu. Akhir cenita sama dengan kejadian di Belanda, sebagian
inasyarakat mengalami kerugian karena perusahaan itu sendini tidak pernah
mendatangkan dividen.

Di abad keduapuluh sekarangpun masyarakat mengulangi kesalahan yang


sama. Pada tahun enampuluhan di Amerika Serikat, masyarakat sangat
menyenangi saham-saham yang namanya berbau “trons” seperti Astron,
Dutron, Vulcatron dan Transitron dan juga yang berbau “onics” seperti
circuitronics, supronics, vicieotronics dan masih banyak lagi. Harga saham yang
berbau dua kata ajaib tersebut meningkat dengan cepat walaupun tanpa
didukung oleh kinerja keuangan ( financial performance) perusahaan yang jelas.
Akibatnya setelah meningkat dengan cepat, harga kembali turun juga dalam
waktu yang singkat dan timbul korban.

“The madness of crowds” juga terjadi di Indonesia. Harga-harga saham


meningkat dengan cepat dari indeks sebesar 68 menjadi sekitar 600 dalam
waktu kurang dari tiga tahun. Kemudian seperti telah dapat diduga harga-
harga saham meluncur ke indeks 240 pada bulan November 1991.Kemudian
tahun 1992 IHSG meningkat dari 274,3 menjadi 637,4 . lalu terjun menjadi 398,0
ditahun 1998 karena situasi krisis. Kejadian seperti ini lagi-lagi membawa
korban. syukur-syukur kalau yang menjadi korban adalah mereka orang lugu
(the innocent). Kalau para profesional ikut-ikutan “mad” tentunya sudah sangat
keterlaluan.

214
DAFTAR ISI

Untuk nenghindari “madness” atau kegilaan tersebut, penulis merasa perlu


untuk mencoba menjelaskan teori atau forsula yang lazim digunakan untuk
menghitung nilai sesungguhnya dari suatu aset atau saham.

2. Ruang Lingkup dan Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk membahas teori, pendekatan yang lazim digunakan
untuk menghitung nilai sesungguhnya sari suatu aset khususnya saham. Selain
itu juga akan dibahas asumsi-asumsi, pokok pemikiran yang melandasi teori,
metode dan formula yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu
aset tersebut.

3. Penilaian Aset Secara Umum

Nilai intrinsik (intrinsic value) atau harga yang pantas suatu aset baik aset fisik
(phisical assets) maupun aset keuangan adalah penjumlahan nilai sekarang
(present value) dari arus uang (cash flow) yang diciptakan oleh aset yang
bersangkutan selama umur ekonomis aset tersebut 6. Secara matematis nilai
intrinsik suatu aset (P0) adalah:

C1 C2 C3 Ct
P 0= ------ + -------- + -------- + ---------
(1+r)1 (1+r)2 (l+r)3 (l+r)t

N Ct
Po = Ʃ ------------ .................................................................(1)
t =l (l+r)t

Ct adalah arus kas (cash flow) untuk peniode t, t adalah periode (tahun,
kuartalan, tengah tahunan, bulanan atau harian), r atau required rate of return
atau risk adjusted discount rate atau “hurdle rate” adalah tingkat bunga yang
dituntut oleh investor sehubungan dengan oppurtunity cost7 dan resiko yang

6
Yang dimaksud umur ekonomis dapat didefinisikan sebagai jangka waktu suatu aset dapat
dimanfaatkan secara ekonomis ( man faat lebih besar dan biaya).
7
Oppurtunity cost dapat didefinisikan sebagai pengorbanan yang timbul karena alternatif
investasi tertentu dipilih. Misal, seseorang memilih saham sebagai alternatif investasi maka
oppurtunity costnya adalah nilai manfaat dan bunga yang dihasilkai~ oleh obligasi atau
alternatif investasi lainnya seperti bunga deposito kalau investor berniat memegang (hold)
saham dalam jangka pendek kurang dari satu tahun. Penghitungan oppurtunity cost ini
dimaksudkan agar investor mengetahui alternatif terbaik dari sumber dana yang terbatas.

215
DAFTAR ISI

melekat pada aset i.

r1 = rf + rpi
rf = risk free rate atau tingkat bunga bebas default risk.
rpi= risk premium atau premium resiko adalah tambahan return yang dituntut
oleh investor karena ia mau menanggung resiko. Besarnya resiko ini dapat
dinyatakan oleh besarnya deviasi standar dari return dan koefisien ß yang
akan dijelaskan kemudian.

4. Menentukan Nilai Intrinsik Saham

Seperti telah dijelaskan sebelumnya nilai intninsik suatu aset adalah


penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang dihasilkan oleh aset yang
bersangkutan. Untuk saham maka cash flow yang dihasilkan adalah arus
dividen yang akan diterima oleh investor di masa yang akan datang. Oleh
karena itu Persamaan satu di atas dapat dirubah menjadi:

N Dt
Po = Ʃ ------------- ..............................................................(2)
t=1 (l+r)
di mana:
r = required rate of return
t = peniode
Dt= dividen untuk peniode t
P0= Nilai intrinsik atau harga saham pada saat sekarang.

Persamaan dua di atas disebut juga Discounted Dividen Model atau DDM.
Menurut model ini nilai intrinsik dari saham akan sangat tergantung pada
d!viden yang dibagikan dan required rate of return. Semakin tinggi dividen
yang dibagikan semakin tinggi harga saham dan sebaliknya. Semakin tinggi
required rate of return semakin rendah harga atau nila! intrinsik saham. Oleh
karena itu tidak aneh kalau tingkat bunga meningkat, harga saham akan turun
seperti terjadi di Indonesia tatkala pemenintah memberlakukan TMP (Tight
Money Policy).

Konsep oppurtunity cost inii diyakini oleh para ekonom yang berbeda dengan konsep biaya
yang diyakini oleh para akuntan. Akuntan di dalam melihat biaya lebih memperhatikan kapan
biaya itu mulai benlaku (historic cost), untuk peniode mana suatu biaya itu akan dibebankan
(konsep accrual accounting dan defferral accounting). Konsekuensi dari perbedaan ini , return
bagi akuntan adalah profit sementara return bagi ekonom adalah cash flow yang lebih
mencerminkan return yang sesungguhnya . Profit mempunyai kelemahan karena keuntungan
diperoleh berdasarkan prinsip dan metode akuntansi yang menawarkan angka profit yang
berbeda-beda tergantung pada pninsip dan metode akuntansi yang digunakan

216
DAFTAR ISI

Dari persamaan di atas akhinnya kita dapat menyimpulkan bahwa estimasi


harga saham akan sangat tergantung pada keakuratan kita mengestimasi
dividen dan required rate of return di masa yang akan datang. Penjelasan
bagaimana kita dapat mengestimasi dividen dan required nate of return di masa
yang akan datang akan dijelaskan kemudian.

Secana teoritis terdapat tiga kemungkinan pola perkembangan dividen di masa


yang akan datang yang sekaligus pula akan memberikan model atau formula
yang berbeda. Pola tersebut adalah:

a. Dividen tetap (saham preferen atau preferred stock sama dengan obligasi)
akan menghasilkan Discounted Fixed Dividen Model.

b. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang konstan akan


menghasilkan Constant Growth Discounted Dividen Model.

c. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang berbeda untuk


berbagai tahap (stages) suatu penusahaan akan menghasilkan Multi
Stages Growth Discounted Dividen Model.

Keunggulan Discounted Dividen Model:

Dari persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini diturunkan dani
konsep nilai waktu dari uang (time value of money) dan konsep arus kas (cash
flow). Konsep nilai waktu dari uang merupakan konsep yang memperhatikan
oppurtunity cost dari sumber ekonomi (dana) yang tenbatas sehingga
keputusan investasi yang dibuat secara otomatis mencerminkan keputusan
yang optimal.

Konsep arus kas (cash flow) merupakan konsep yang lebih baik bila
d!bandingkan dengan konsep keuntungan (profit) kanena arus kas lebih
mencerminkan final return dan lebih dapat dibandingkan (comparable). Konsep
keuntungan adakalanya tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain
kanena keuntungan merupakan definisi return yang diturunkan (derived) oleh
akuntan yang dilandasi oleh metode dan prinsip akuntansi tententu. Metode
dan prinsip yang berbeda akan menghas!lkan def inisi keuntungan atau
kerugian yang berbeda.

Dari persamaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dividen yang dihargai
adalah dividen tunai sementara saham bonus atau Pay In Kind (P1K) dividen
tidak dapat dimasukkan sebagai “final return”. Saham bonus baru merupakan
potensi daya beli. Saham bonus dapat menjadi final return kalau saham tersebut

217
DAFTAR ISI

telah diuangkan.8

Sesungguhnya pembagian saham bonus tidak selalu berarti negatif. Pembagian


saham bonus dapat berarti positif kalau pembagian tersebut dilandasi oleh
pemikiran bahwa pemilik perusahaan merasa yakin bahwa perusahaaan
mempunyai “proyek” atau peluang investasi yang menawarkan ROE (return on
equity) yang lebih besar dari required rate of return perusahaan. Dengan
perkataan lain para pengelola penusahaan merasa yakin bahwa dengan
menunda pembagian dividen tunai, kekayaan pemegang saham akan
bertambah secara riil.

Untuk labih jelasnya lihat contoh berikut. Pemilik perusahaan (pemegang


saham) mempunyai required of return 27% (22 % merupakan balas jasa risk free
rate dan 5% adalah premium resiko). Pemilik perusahaan yakin bahwa dengan
penundaan pembagian dividen tunai (perusahaan hanya membagikan saham
bonus) dapat melaksanakan pengembangan usaha yang mendatangkan ROE
sebesar 35 %, Dalam kasus ini pembagian saham bonus sama sekali tidak
merugikan investor karena mereka memperoleh kelebihan sebesar 5% (net) atas
pengorbanan mereka menenima “kertas” atau saham bonus sebagai balas jasa.
Dalam kasus yang terakhir ini investor hanya menunda sementara penerimaan
uang tunai. Penundaan itu diberi imbalan.

Idealnya saham bonus diambilkan dani pos retained earnings perusahaan dan
ini lazim dilakukan di Amenika. Di Amenika serikat bila suatu perusahaan
membagikan stock dividen itu benarti berita baik investor. Alasannya itu tadi,
pengelola perusahaan merasa yakin bahwa tersedia peluang business yang
bagus. Sebaliknya di Indonesia saham bonus diambilkan dari pos agio, ini
sudah keterlaluan atau istilah Kwik Kian Gie disebutnya sebagai brutal. Modus
operandi pembagian saham bonus biasanya dikombinasikan dengan merger
dan akuisis perusahaan lain. Merger dan akuisisi ini adalah cara yang
digunakan untuk menarik kas yang ada diperusahaan di dalam pos tambahan
modal disetor berupa agio.

8
Saham bonus berdampak pada penambahan jumlah saham yang beredar yang pada akhirnya
akan menurunkan earning pen share (EPS). Dengan asumsi PER adalah tetap, maka harga
saham cenderung akan turun. Misal sebelum dibagikan saham bonus, Earning per share saham
perusahaan X adalah Rp 600 dan harga saham adalah Rp 6000,- Sehingga Price Earning Ratio
adalah 10 (diasums!kan pula bahwa PER =10 ini adalah ideal dalam arti sesuai denga PER rata-
rata industn). Sekarang setelah saham bonus dibagikan Earning Per Share turun menjad!
Rpi400. Dengan demikian untuk mempertahankan PER=l0, maka harga yang pantas adalah Rp
4000,-.

218
DAFTAR ISI

Kelemahan Discounted Dividen Model:

Dani persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini secana tidak
langsung mengasumsikan bahwa investor akan memegang saham untuk jangka
waktu yang tak terhingga dan mengabaikan capital gain. Asumsi-asumsi ini
jelas sangat tidak realistis karena investor sangat mementingkan capital gain
dan jarang sekali atau mungkin tidak ada investor yang bersedia memegang
saham untuk jangka waktu yang tak terhingga.

Dengan demikian akan timbul pentanyaan


“Buat apa kita mempelajari model tensebut kalau kita ketahui model tensebut
dilandasi oleh asums! yang tidak realistis ?“ Jawabnya pasti: “Tetap ada manfaat
mempelajari model tersebut meskipun asumsinya tidak masuk akal”
Asumsi yang tidak masuk akal tersebut dipilih sebagai cerminan kita sebagai
manusia yang penuh keterbatasan. Manusia tidak mungkin dapat menjelaskan
seluruh fenomena yang ada di dunia ini. Hanya “X” yang Maha mengetahui.
Kemudian dengan model ini paling tidak kita mengetahui berapa nilai intrinsik
suatu aset khususnya saham sebagai batas bawah atau standar. Adapun
kelebihan dari nilal intrinsik tersebut merupakan hasil dari faktor-faktor di luar
model seperti faktor psikologis investor. Yang pasti kita ketahui (sejarah telah
membuktikannya) saham-saham yang harganya sangat jauh di atas nilai
intrinsiknya pada akhirnya akan jatuh.

Bisa saja harga saham ditentukan oleh faktor—faktor di luar faktor fundamental
seperti earning dan deviden seperti dijelaskan oleh “The Castle In The Air
Theory”9 ****, akan tetapi pada titik tertentu harga saham akan ditentukan oleh
nilai intrinsik saham. Kapas tetaplah kapas dan tidak pernah akan berubah
menjadi emas.Yang penting bagi analis, meminjam istilah Bapak Charles
Naibaho dan Dana Reksa dan Bapak DR Wahyudi Prakasa dari UI “janganlah
menjadi ekstrimis atau terlalu fanatik pada konsep atau pandangan funda-
mentalis di satu pihak dan technical analysis di lain pihak”. Tidak ada salahnya
kita menggunakan keduanya dengan bijaksana.

9
Teori ini berdasarkan faktor-faktor psikis investor. Adalah Lord Keynes (seorang
investor yang sukses) yang menyatakan bahwa sesungguhnya tugas seorang analis
adalah bagaimana ia dapat menangkap mood (suasana hati) investor khususnya
pada saat perekonomian mengalami booming. Pada periode booming investor
merasa optimistis terhadap masa depan. masyarakat akan membentuk “The castle in
the air” atau angan-angan mereka tentang masa depan bahwa perekonomian akan
baik, iklim investasi akan baik, perusahaan akan mendatangkan keuntungan,
dividen akan meningkat dan demikian juga harga saham akan meningkat

219
DAFTAR ISI

4.1 Constant Discounted Deviden Model:

Untuk saham yang menjanjikan deviden dalarn jumlah tetap, nilai intrinsiknya
secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut:

N Dt
Po = Ʃ ______ . ..............................................................................................(1)
t=l (l+r)t

Karena D0=D1=D2= ....................... = Dt,


maka dapat disederhanakan menjadi:

1
1 - -----------------
(1 + r)t
\P0= D0 x---------------------- . ................................................................................ (3)
r
Rumus di atas tidak lain adalah rumus penghitungan nilai sekarang dari cash
flow yang diterima di masa yang akan datang dalam jumlah yang sama untuk
setiap periode atau anuitas (annuity). Karena t inendekati tak terhingga, maka:

1
nilai --------------------- = 0
(l+r)

dari persamaan tiga (3) di atas dapat diubah menjadi:

D0
P0= Do x 1/r = ----------- ....................................................................................(4)
r
Keunggulan:

Persamaan empat tersebut di atas karena kesederhanaannya relatif mudah


untuk diaplikasikan. Persamaan tersebut membantu kita untuk memahami
model yang lebih rumit seperti model yang akan dijelaskan kemudian.

Kelemahan:

Penggunaannya relatif terbatas, hanya dapat digunakan untuk saham preferen


dan atau obligasi.

220
DAFTAR ISI

Nilai Intrinsik Saham Yang Membagikan Dividen Yang Berkembang Pada


Tingkat Pertumbuhan Yang Tetap (Constant Growth Discounted Dividen
Model).

Secara matematis dapat dinyatakan sebagai benkut:

D0(l+g)1 D0(1+g)2 D0(l-1-g)3 D0(1+g)t


P0= ---------- + ----------- + ---------- + ......... + ----------- ................(5)
(l+r)1 (l+r)2 (1-r)3 (l+r)t

Di mana:
P0 = Harga saham sekarang
r = required rate of return
g =laju pertumbuhan deviden (cosntant untuk jangka waktu tak terhingga).

Karena jangka waktu adalah tak terhingga maka persamaan 5 di atas dapat
dirubah menjadi:

D1 D0(1+g)
P0= --------- = ------------ ............................................................................(6)
(r-g) (r-g)

Di mana:
R = requiered rate of return
g = laju pertumbuhan deviden
Do = besarnya deviden terakhir yang dibagikan
D1 = estimasi deviden untuk satu tahun yang akan datang.

Nilai intninsik kemudian dibandingkan dengan harga yang berlaku (current


market price) , jika harga yang berlaku lebih nendah bila dibandingkan dengan
nilai intrinsiknya maka saham perusahaan adalah “over priced” atau terlalu
mahal. Dalam kasus ini berarti saham tersebut harus dijual. Sebaliknya jika
harga yang berlaku lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya
maka berarti saham tersebut “under priced” dan harus dibeli.

Decision rules:

if current price > intrinsic value =>over priced => sell


if current price < intrinsic value =>under pniced=> buy

221
DAFTAR ISI

Keunggulan Persamaan enam (6):

Secara umum persamaan enam jauh lebih baik bila dibandingkan dengan
persamaan dua (3) di atas. Pensamaan enam dapat digunakan untuk mengesti-
niasikan nilai intrinsik saham yang menawarkan pertumbuhan yang kosntan.

Kelemahan:

Persamaan tersebut secara langsung mengasumsikan bahwa pertumbuhan


saham di masa yang akan datang adalah tetap (constant) . Asumsi ini adalah
terlalu naif karena di dalam dunia nyata tidak ada saham yangmenawarkan
dividen yang berkembang secara terus menerus pada tingkat yang tetap.
Kemungkinan pola perkembangan pertumbuhan deviden di masa yang akan
datang secara detail akan dibahas kemudian.

Kelemahan dua model terdahulu telah medorong para pakar untuk


memodifikasinya lebih lanjut.

4.3 Nilai Intrinsik Saham Yang Menawarkan Pertumbuhan Deviden Yang


Berbeda Untuk Masing-Masing Periode/Tahap (Multi Stages Discounted
Dividen Model).

Model ini pada dasarnya merupakan modifikasi dan rumus dasar pada
persamaan 1 di atas. Untuk memudahkan kita cantumkan lagi:

N Dt
P 0= Ʃ ------- .................................................................(1)
t=1 (l+r)t

Persamaan di atas dapat dimodifikasi ke dalam berbagai fase atau tahap. Untuk
memudahkan pembahasan berikut akan disajikan model dua tahap (Two Stages
Model)

Model Dua Tahap (Two Stages Model):

Misal pola perkembangan perusahaan hanya ada dua yaitu fase pertumbuhan
cepat dan fase pertumbuhan melambat (tidak tenlalu cepat bila dibandingkan
fase sebelumnya).

222
DAFTAR ISI

g1=15% <------------
--------- . ---------. ---------. --------- . --------------------------------------------
1 2 3 4
-------->g2=10%
Fase I Fase II
n= 4

Langkah perhitungan:

a) Menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat:

D5 D4(1+g2)
P 4= ---------- = ----------------
r-g2 r-g2

b) Menghitung D4:

D4 = D0(l+g1)4

c) Hasil langkah a dan langkah b digabung:

D0(1+g1)4(1+g2)
P4= -------------------------
r - g2

Menghitung harga saham sekarang (nilai intrinsik) P0 yaitu penjumlahan nilai


sekarang dari cash flow yang akan diterima sampai dengan periode 4.

D1 D2 D3 D4 1
Po = -----+ --------+ -------- + -------- + ------- x P4
(l+r)1 (l+r)2 (1+r)3 (l+r)4 (1+r) 4

n Dt 1
P0= Ʃ ------ + -------- X Pn
t=l (l+r)t (1+r)n

di mana: n < N
n = jumlah periode tahap I

223
DAFTAR ISI

Contoh:

Misal Bank BNI untuk peniode 4 tahun mendatang menjanjikan pentumbuhan


deviden sebesar 10 % per tahun. Untuk peniode setelahnya diperkirakan laju
pertumbuhan deviden tunun menjadi 8%. Deviden tahun terakhir (D0) =Rp 300,
per lembar saham.

Pertanyaan:

Berapa harga saham Bank Duta yang pantas dengan asumsi pola pertumbuhan
seperti di atas dan required rate of return 20 %.

Jawaban:

a) menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat:

D5 D5 D4(l+g2)
P 4= = ----------------- = --------------- = -------------------
r — g2 0,20—0,08 0,12

b) menghitung deviden pada akhir tahun keempat:

P4 = D0(1+g1)4 = Rp300 (14-0,10)

Rp300xl,4641 = Rp439,-

c) menggabungkan hasil perhitungan langkah a dan langkah b:

D4(l+g2) Rp439(1+0,08)
P4= ---------- = -------------------- = Rp 3.959,-
0,12 0,12

menghitung harga saham Bank BNI yang wajar. Harga saham yang wajar
adalah harga saham yang sama dengan nilal intrinsiknya. Nilai intrinsik
merupakan penjumlahan nilai sekarang (present value) dan cash flow yang
diciptakan oleh saham Bank BNI berupa deviden selama empat periode
berturut-turut dan harga saham pada periode keempat.

D0(1+g1) D0(l+g1)2 D0(1+g1)3 D0(1+g1)4 1


Po = ------------ + ----------- + ----------- + ------------- + ----------x P4
(l+r)1 (l+r)2 (1+r)3 (1+r)4 (1+ r)4

224
DAFTAR ISI

Rp300(1+0,1)1 Rp300(1+0,1)2 Rp300(1+o,1)3


Po = ------------------ + ------------------- + ------------------ +
(1+0,20)1 (1+0,20)2 (1+0,20)3

Rp300(1+0,l)4 1
+------------------ + -------------x Rp3.953,-
(1+0,2)4 (1+0,20)4

Po = Rp275,0 + Rp 250,0 + Rp210,0 +Rp 211,82 +Rpl906,34 =Rp2 .855, —Jika


hanga saham Bank BNI pada saat tententu adalah Rp 2600,-, maka harga saham
Bank BNI adalah “under priced ”.

Decision Rules:
If V0 = P0 = lntrinsic Value > current market prcie ==> Buy
If V0= P0 =I ntrinsic Value < current market price ==>Sell

Keunggulan:

Model dua tahap ini dapat dikembangkan menjadi model tiga tahap dan
seterusnya. Dengan demikian model ini (Multi Stages Dividen Growth Model)
lebih realistis bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya.

Kelemahan:

Dari contoh perhitungan di atas jelas model ini lebih rumit bila dibandingkan
dengan dua model sebelumnya.

5. Memperkirakan Pola Perkembangan Pertumbuhan Dividen Suatu


Perusahaan

Dengan memperhatikan constant growth discounted dividend model maupun


multi stages growth discounted dividend kita dapat melihat bahwa hasil
perhitungan nilai intrinsik suatu saham sangat tergantung pada besarnya laju
pertumbuhan deviden atau besarnya g. Oleh karena itu pemahaman tentang
berbagai kemungkinan pola pertumbuhan devidem dan metode yang
digunakan memperkinakan pertumbuhan deviden mutlak diperlukan

5.l. Pola Umum Pertumbuhan Revenue, Profit Margin dan Earnings.

Dividen yang dapat diterima oleh pemegang saham akan sangat ditentukan
oleh kemampuan perusahaan menghasilkan “earning”, profit margin dan
penerimaan dari hasil penjualan . Hubungan ketiga komponen tersebut dapat
digambarkan oleh siklus keuntungan perusahaan berikut ini:

225
DAFTAR ISI

Gambar 1:
Life Cycle of Profit:

+ +
: +
+ Revenue
: : : ?
+
: : * :
+ *
: : : * Profit Margin
+
: * : :
+ ® ®
+ : : :
* ®
: ® : : Earnings
* ®
* :® : :
®: : :
® : : :
® I : II : III : IV

time
Sumber: 1992 CFA Reading:Industry Analysis, Jerome B.Cohen, Edward D.
Zinbarg and Anthun Zeikel.

Keterangan:

Tahap I (Early Development):


Fase pertumbuhan awal ditandai oleh peningkatan laju pertumbuhan
penerimaan penjualan, margin keuntungan dan earning perusahaan. Seperti
digambarkan pada gamban 1 di atas, pada tahap ini perusahaan baru saja
mengalami titik pulang pokok. Keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi
perusahaan (profit margin) dan keuntungan bersih adalah positif dan
memberikan trend yang positif. Skenario seperti ini adalah skenario yang lazim
terjadi di pasar modal yang telah maju. Perusahaan yang go public adalah
perusahaan yang sungguh—sungghuh menawarkan keuntungan bagi investor
dalam jangka panjang atau mempunyai prospek yang baik. Bukan perusahaan
yang untung karena akal-akalan akuntan yang menyajikan laporan keuangan.

226
DAFTAR ISI

Saham perusahaan yang ada pada tahap ini lazim disebut saham pertumbuhan
(growth stock). Saham ini tidak memberikan “current dividend” dalam jumlah
yang besar akan tetapi menjanjikan pertumbuhan dividen yang tinggi di masa
yang akan datang. Tugas analis adalah menernukan “growth stock” seperti ini
dan jika telah menemukan jenis saham seperti itu segera melaksanakan
pembelian, karena kalau terlambat harganya sudah terlanjur tinggi. Dengan
perkataan lain masalah “timing” sangat penting di dalam proses pengambilan
keputusan investasi.
Pertumbuhan deviden pada tahap ini belum akan begitu cepat karena
perusahaan baru saja melewati batas kritis yaitu titik pulang pokok.

Tahap II (Rapid Expansion):

Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap satu. Tahap ini ditandai oleh laju
pertumbuhan revenue, profit margin dan earning yang sangat tinggi bila
dibandingkan dengan periode sebelumnya dan periode sesudahnya.
Pertumbuhan revenue, profit margin dan earning yang tinggi dimungkinkan
oleh kemampuan perusahaan meningkatkan produksi sedemikian rupa
sehingga biaya per unit menjadi minimum. Gejala ini sering juga disebut
dengan “economic of scale”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar fungsi
biaya rata-rata berikut ini:

Gambar 2:
Fungsi Biaya Rata-rata

Average Cost/Marginal Cost

* :
®
MC
* ®
® ® * AC
* *
® :®
*
® ® * *
®
:
:
I II

0 Quantity Produced

227
DAFTAR ISI

Kalau kita perhatikan tahap I dari gamban 2 di atas nampak biaya rata—rata per
unit barang yang dihasilkan semakin lama menurun sampai pada titik
minimum. Biaya produksi yang menurun memungkinkan perusahaan untuk
menjual lebih banyak dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pada
tahap ini kemungkinan besar laju pertumbuhan deviden akan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Taflap III (Mature Growtfl):

Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya. Dari gambar 1 di atas
kita dapat melihat gejala di mana revenue dan earning perusahaan secara
absolut masih meningkat akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih
rendah bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (rapid expansion). Selain
itu gejala yang nampak adalah penurunan margin keuntungan (profit margin)
perusahaan. Gejala ini sejalan dengan pola perkembangan biaya perusahaan
yang digambarkan oleh gambar 2 di atas. Penurunan biaya per unit tidak
mungkin terjadi selamanya. Pada tingkat tertentu akan timbul ketidakefisienan
di dalam pengelolaan perusahaan yang ditanda! oleh peningkatan biaya
marjinal yang lebih cepat bila dibandingkan dengan peningkatan biaya rata-
rata. Pada tahap ini perusahaan justru memasuki tahap “disenomic of scale”.
Tambahan produksi justru meningkatkan biaya secara lebih cepat. Akibat dari
semua gejala ini tentunya adalah penurunan keuntungan perusahaan.

Apabila perusahaan memasuki tahap ini, pimpinan/pemilik perusahaan harus


berhati-hati. Kebijaksanaan mendasar seperti penggantian direksi dan pemilik
lama (kelompok keluarga) ke kelompok profesional, pemilihan teknologi peru-
sahaan, upaya pemasaran yang lebih efektif dan lain sebagainya, harus segera
dilaksanakan. Kalau tidak ada upaya serius maka perusahaan akan memasuki
tahap selanjutnya yaitu tahap penurunan yang merupakan gambaran kematian
suatu perusahaan.
Analis keuangan yang baik harus menghindari perusahaan yang memberikan
gejala seperti di atas. Perusahaan-penusahaan keluarga yang sangat agnesif di
dalam upaya pengembangannya harus dihindari. Secara alamiah akan timbul
masalah antara lain “span of control” berbagai aspek perusahaan seperti
keuangan, produks!, pemasaran dan lain sebagainya.

Perusahaan-perusahaan yang “higly geared” atau perusahaan yang terlalu


banyak menggunakan hutang apapun bentuknya (termasuk Convertible Bonds)
harus ditelaah secara hati-hati. Pada tahap ini laju pertumbuhan dividen
mengalami penurunan bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan deviden
pada tahap selanjutnya.

228
DAFTAR ISI

Tahap IV menurun (Decline):

Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap III kalau tidak ada upaya yang
serius dan berhasil untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam
lingkungan perusahaan. Kalau suatu perusahaan sampai pada tahap ini berarti
terjadi kesalahan di dalam pengelolaan perusahaan yangterjadi pada periode-
periode sebelumnya. Misal kesalahan pihak direksi di dalam mengantisipasi
perubahan teknologi, selera konsumen, persaingan dengan perusahaan lain dan
lain sebagainya.

Di dalam pasar modal yang telah maju selalu ada mekanisme yang mengatur
kejadian seperti di atas. Perusahaan yang memasuki tahap IV ini akan diambil
alih oleh pihak lain dan selalu akan terjadi penggantian pimpinan perusahaan.
Pada tahap ini kemungkinan besar perusahaan tidak akan membagikan deviden
karena perusahaan mengalami kerugian.

5.2 Model Dupont:

Sejauh ini k!ta belum lagi membahas bagaimana cara memperkirakan besarnya
pertumbuhan deviden secara mendalam. Kita baru sampai pada tahap
pengenalan kemungkinan pola pertumbuhan deviden di masa yang akan
datang. Pola tersebut seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu sangat
ditentukan oleh tahap-tahap yang dilewati oleh suatu perusahaan di dalam
siklus pertumbuhan/perkembangan perusahaan. Berikut ini kita akan melihat
model yang dapat digunakan untuk memperkinakan pertumbuhan deviden di
masa yang akan datang.

Sekarang kita lihat rumus penentuan nilai intrinsik saham secara detail:

E(D1) E(E1)x(1—b)
P0 = V0 = ------------ = ------------------- .............................................................(7)
(r-g) (n-g)

b = Plow back ratio = (1 DividendPayOutRatio) .........................................(8)

Dividend per Share


Dividend Pay Out Ratio = --------------------------- ..............................................(9)
Earning per Share

R = required rate of return

229
DAFTAR ISI

Dari persamaan tujuh di atas dapat dilihat bahwa nilai intrinsik saham akan
ditentukan oleh expected dividen setahun yang akan datang, required rate of
return dan laju pertumbuhan dividen. Expected dividend itu sendiri ditentukan
oleh perkalian expected earnings per share satu tahun yang akan datang dengan
Dividend Payout Ratio.

Contoh:

Misal Saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan
menghasilkan Earning per Share sebesan Rp 800,- , required rate of return sama
dengan 25%, Dividend Pay Out Ratio (DPR) sama dengan 40%, pertumbuhan
dividen sama dengan 10 % maka besarnya nilai intrinsik Saham Bank BNI
adalah:

E(E1) x (1—b)
P0 = V0 = nilai intrinsik saham = ----------------------
(r-g)

Rp800 x 0,40
= ----------------------
(0, 25—0, 10)

= Rp2133,-

Benikut ini akan dilihat hubungan antara laju pertumbuhan dividen dengan
Return On Equity dan Plowback Ratio. Hubungan tersebut dapat dinyatakan
oleh persamaan berikut:

g = ROE x (1-Dividen Pay Out Ratio) 10 .................................................................................... (10)

10 Untuk mendapatkan rumus g=ROEx(l-Dividen Pay Out Ratio) perhatikan penjelasan berikut:
Per definisi, expected growth rate of earnings = perubahan earnings dibagi current earnings:
∆E I ∆E
g = --------- = ------- x -------
E0 E0 I

ROE dapat diubah menjadi :

Net Income Pretax Income EBIT Sales Total Assets


ROE = -------------------- x -------------------- x ------- -- x ------------------ x ----------------- .................................11)
Pretax Income EBIT Sales Total Assets Equity
(a) (b) ( c) (d) (e)

Catatan : EBIT= Earning Before Interest and Tax

230
DAFTAR ISI

dimana :

Net Income
ROE = Return On Equity = -----------------
Equity

Lebih lanjut dengan menggunakan Du pont Mode

Dari persamaan 11 tersebut di atas pertumbuhan dividen dapat dihitung


asalkan besarnya ROE dan besarnya retention ratio dan plowback ratio
diketahui.

Contoh perhitungan:

ROE saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menjadi
15% dan Dividend Pay Out Ratio sama dengan 0,4. Maka besarnya laju
pertumbuhan dividen adalah:

g= ROE x (1—b)= 15% x (1—0,4)= 9%

Persamaan 12 tesebut di atas kalau dilihat lebih jauh ternyata terdiri dari lima
komponen utama yaitu:

• komponen a merupakan Tax Burden


• komponen b merupakan Interest Burden
• komponen c merupakan Profit Margin (profit on sales)
• komponen d merupakan Assets Turn Over
• komponen e merupakan Financial Leverage

Dengan memahami kelima komponen ROE di atas kita dapat dengan mudah
memahami faktor—faktor apa yang menentukan besar kecilnya ROE yang juga
menentukan besar kecilnya g atau pertumbuhan deviden.

Tax Burden:

Semakin besar tax rate, semakin besar tax burden . Tax burden yang meningkat
dinyatakan oleh rasio antara Net Income dan Pretax Income yang semakin
keci1. Semakin besar tax burden per definis! (ceteris paribus) ROE semakin
kecil.

231
DAFTAR ISI

Hal ini disebabkan karena pajak selamanya akan mengurangi earning yang
dapat dibagikan kepada pemilik perusahaan atau pemegang saham. Jika dua
perusahaan berada pada tax bracket yang sama maka tax burden tidak terlalu
berpengaruh pada hasil perhitungan ROE. Sebaliknya jika kita membedakan
dua perusahaan yang berada pada tax bracket yang berbeda pajak dapat
mempenganuhi hasil perhitungan ROE. Tax Burden yang berbeda dapat pula
disebabkan oleh kemampuan perusahaan memanipulasi pajak yang harus
dibayarkan kepada pemerintah.

Interest Burden:

Komponen Interest Burden (Pretax Prof it/EBIT) yang dirubah menjadi:

Pretax Profit EBIT-Intenest Expense


------------------ = --------------------------------------- . .........................(12)
EBIT EBIT

Dari rumus interest burden di atas dapat dilihat bahwa jika suatu perusahaan
sama sekali tidak menggunakan pinjaman atau interest expense sama dengan
nol, maka interest burden atau rasio antara pretax profit dengan EBIT sama
dengan satu. Rasio sama dengan satu adalah angka yang maksimum. Jika
perusahaan banyak menggunakan pinjaman beranti interest expensenya besar,
maka rasio ini akan semakin kecil (kurang dan satu).

Interest burden mempunyai hubungan yang erat dengan financial leverage


suatu perusahaan. Semakin tinggi financial leverage (semakin banyak debt
digunakan) semakin tinggi interest burden. Semakin tinggi interest burden , per
definisi (ceteris paribus) ROE semakin kecil. Perlu diingat bahwa Interest
burden yang tinggi dinyatakan oleh rendahnya rasio antara Pretax Income dan
Earnings Before Interest and Tax

Adapun hubungan financial leverage (Assets/Equity) dengan debt to equity


ratio dapat dinyatakan oleh persamaan benikut:

(Financial Assets Equity+ Debt Debt


Leverage) = -------------- = ---------------- = 1+ -------------...........(13)
Equity Equity Equity

Profit Magin Per definii

EBIT
Profit Margin = -----------------------
Sales

232
DAFTAR ISI

Semakin tinggi profit margin, semakin tinggi ROE suatu perusahaan. Profit
margin disebut juga sebagai return on sales menunjukkan keuntungan untuk
setiap satu dollar atau rupiah penjualan. Profit margin 10% berarti untuk set!ap
dollar penjualan keuntungan sebesar 10 sen dollar.

Assets Turn Over

Komponen ini menggambankan efisiensi pemanfaatan aset perusahaan.


Semakin efisien pemanfaatan aset suatu penusahaan (yang dicerminkan assets
turn over yang tinggi) semakin tinggi ROE.

Financial Leverage:

Per definisi:
Assets Debt
Financial Leverage = ------------------ = 1 + ------------
Equity Equity

Jika Financial Leverage = l,67


maka,

Debt 67
Debt to Equity Rat!o = ----------- = 1,67- 1 = ----------
Equity 100

Dan persamaan duabelas tersebut di atas dapat dilihat bahwa semakin tinggi
financial leverage, semakin tinggi ROE. Financial Leverage dapat mem”boost”
atau meningkatkan ROE dengan ketentuan bahwa ROA (Return On Assets)
lebih besar bila dibandingkan dengan tingkat bunga yang harus dibayarkan
oleh perusahaan. Untuk jelasnya lihat modifikas! Persamaan dua belas di
atas benikut ini:

Debt
ROE = (1-TaxRate) ⃒ ROA + (ROA-InterestRate) --------- .......................(14)
Equity

Dari pensamaan 15 di atas dapat dilihat bahwa jika ROA lebih kecil bila
dibandingkan dengan interest rate maka ROE akan turun berarti akan terjadi
dilusi (dilution) dari earning yang dapat diterima oleh pemegang saham.
Dengan perkataan lain pemegang saham dirugikan.

233
DAFTAR ISI

Dan persamaan 15 tersebut di atas dapat pula disimpulkan bahwa kalau pemilik
perusahaan yang ada yakin bahwa ROA akan leb!h besar bila dibandingkan
dengan interest rate yang akan dibayarkan, maka usaha yang harus dilakukan
adalah meningkatkan Financial Leverage setinggi mungkin. Masalahnya adalah
kalau financial leverage terlalu tinggi, resiko keuangan (financial risk) suatu
perusahaan menjadi tinggi dalam arti kalau terjadi sesuatu dengan hasil
penjualan (misal menurun tajam) maka perusahaan kemungkinan besar tidak
dapat memenuhi kewajibannya dan dapat dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi.

Dari uraian ini jelaslah bahwa salah satu motivasi perusahaan go public adalah
dalam rangka menurunkan financial risk.

KESIMPULAN:

Jadi jelaslah dengan memahami berbagai komponen dari ROE kita lebih dapat
memahami mengapa ROE suatu perusahaan lebih rendah bila dibandingkan
oleh perusahaan lain yang sejenis. Kemungkinan besar hal itu disebabkan
misalnya oleh perusahaan tensebut tidak efisien dalam memanfaatkan asetnya.
Dengan mengetahui ROE dan Dividen Pay Out Ratio kita dapat menentukan
berapa besannya pertumbuhan deviden di masa yang akan datang.

Contoh Perhitungan Laju Pertumbuhan Deviden:


Perusahaan metniliki ROE = 35 %. Dividen Pay Out Ratio adalah 0,65 maka
dengan mudah kita dapat memperkinakan benapa besarnya g atau laju
pertumbuhan deviden di masa yang akan datang ya!tu 22,75%

Contoh Perhitungan ROE:

Perusahaan Perusahaan
A B
Net Income
Ta x Burden = -------------------------- = 0,7 0,7
Pretax Income Atau Tax Rate = 30%

Pretax Income
Interest Burden = ---------------------- = 0,67 0,73
EBIT

234
DAFTAR ISI

EBIT
Profit Margin = ------------------ = 12% 17%
Sales

Sales
Assets Turn Over = ------------------- = 3x 2,5 x
Total Assets

Financial Total Assets


Leverage = ------------------------------- = 1,5 1,1
Equity

ROE 0,2532 0,2388

Dan contoh perhitungan ROE tersebut kita dapat melihat bahwa ROE
Perusahaan A (0,2532) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ROE Perusahaan B
(0,2388). Hal ini utamanya disebabkan oleh:

a) Perusahaan A lebih efisien dalam menggunakan asetnya. Hal ini terbukti


dengan angka assets turnover yang lebih besar yaitu 1,5 kali dibandingkan
dengan 1,1 kali
b) Financial Leverage perusahaan B lebih rendah bila dibandingkan dengan
financial leverage perusahaan B yaitu 1,1. dibandingkan dengan 1,5.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya financial leverage dapat mem~boost”
ROE aset ROA lebih besar bila dibandingkan dengan interest rate yang
harus dibayarkan.

Benikut adalah perhitungan ROA untuk Perusahaan A dan Perusahaan B:

ROA = Profit Margin x Assets Turn Over


Perusahaan Perusahaan
A B
EBIT
Operating Margin = -------- 12% 17%
Sales

Sales
Assets Turn Ove = ---------- 3x 2,5 x
Total Assets

ROA 36% 42,5%

235
DAFTAR ISI

Berikut ini adalah hasil perhitungan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh
Perusahaan A dan Perusahaan B:

Debt
ROE(1-Tax Rate) ⃒ ROA + (ROA- Interest Rate) -----------
Equity

Interest rate Perusahaan A:

ROE = (1-0,3) 136% + ( 36%-interest rate) x 0,5 1

0,2532 = (0,7) 136% + 0,18% — 0,5 interest rate l

0,2532 = 0,7x 54% — 0,7 x 0,5 interest rate) = 37,8% - 0,35 interest rate

0,35 interes rate = 0,378—0,2532=0,1188

Interest rate = 0,3394 x 100 % = 33,94%

Interest rate Perusahaan B :

ROE=(1—0,7) 142,5%+(42,5%—interes rate)x 0,11

0,238=0,7J42,5%+4,25%—0,l interest rate l

0,238=0,7146,75%—0,l interest rate l

0,238=32,725%-0,07 interes rate

0,07 interest rate = 32,725% - 23,8%


= 0,008925

interest rate = 127,5%

Dan Contoh perhitungan di atas yang menjadi penyebab utama mengapa


Perusahaari B memiliki ROE yang yang rendah bila dibandingkan dengan Peru-
sahaan A walaupun Perusahaan B memiliki ROA yang lebih baik dan Financial
Leverage yang tidak terlalu tinggi adalah kenyataan bahwa Perusahaan B
memilih pembiayaan yang salah. Tingkat bunga yang dibayarkan oleh
Perusahaan B terlalu tinggi yaitu 127,5%. Tingkat bunga ini tidak sebanding
dengan ROA yang dimiliki oleh Perusahaan B yaitu hanya 42,5%.

236
DAFTAR ISI

Kalau seandainya Perusahaan B menggunakan tingkat bunga yang tidak tenlalu


tinggi maka ROE Perusahaan B kemungkinan akan lebih tinggi bila
dibandingkan dengan Perusahaan A.

KESIMPULAN

Berdasarkan pada uraian tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa


seorang investor atau analis sekuritas khususnya saham di pasar modal apabila
akan melakukan investasi pada saham tidak boleh hanya ikut-ikutan , akan
tetapi perlu menganalisa secara detail fundamental perusahaan. Hal penting
yang harus diperhatikan adalah earning perusahaan. Karena earning akan
menentukan besarnya dividen dan pertumbuhan dividen yang akan
menentuakan nilai intrisik saham. Nilai intrinsik saham dapat digunakan
sebagai cut of point untuk memutuskan belu atau menjual saham apabila sudah
dimiliki saham tersebut.

Kedua yang tidak kalah penting adalah perlu memperhatikan laverage


perusahaan, karena akan mempengaruhi tingkat suku bunga yang harus
dibayarkan perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi ROE yang
akan dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA

Bodie, Kane and Marcus, Investment, 2006, Irwin,Homewood

Burton G.Malkiel, A Random Walk Down Wall Street, W.W Norton &
Company, New York-London 1990

237
DAFTAR ISI

Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi


Resiko Saham
Oleh :

A. Zubaidi Indra11

ABSTRAK

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih
memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko
pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan
kemakmuran bagi stakeholders. Faktor-faktor fundamental seperti DER, ROE, EPS,
PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. Hal ini terjadi
karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat
ROE nya rendah.

Keywords : faktor fundamental, stakeholder, rasio

A. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk mempercepat pembangunan
suatu negara. Melalui pasar modal dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat
menggalang penyerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke
sektor-sektor produktif. Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu meningkatkan
dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan kriteria pasarnya secara efisien
yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan.

Sumber pembiayaan yang sudah sangat populer adalah bank yang digolongkan sebagai
sumber pembiayaan tradisional. Satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal
dibandingkan bank adalah bahwa untuk mendapatkan dana sebuah perusahaan tidak
perlu menyediakan agunan, sebagaimana dituntut oleh bank. Dengan menunjukkan
prospek yang baik, maka surat berharga perusahaan tersebut akan laku dijual di pasar
modal. Di samping itu, dengan memanfaatkan dana dari pasar modal perusahaan tidak
perlu menyediakan dana tiap bulan atau setiap tahun untuk membayar bunga. Sebagai
gantinya perusahaan harus membayar dividen pada investor, jika memang perusahaan
memperoleh untung.

Kegiatan investasi yang dilakukan investor adalah kegiatan untuk menempatkan dana
pada suatu atau lebih suatu aset selama periode tertentu dengan harapan dapat
memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Biasanya para pemodal
11
Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung
DAFTAR ISI

tidak akan menempatkan seluruh dana yang tersedianya pada satu jenis aset. Hal ini
menunjukkan bahwa ada factor yang harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis
investasi yang akan dimasuki seperti risiko yang akan ditanggung.

Sumber risiko dapat dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu risiko sistematis yang
merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan dan resiko tidak
sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi atau (sekelompok kecil)
perusahaan. Risiko sistematis menurut Beaver, Kettle dan Scholes (1970) :
“A, systematic component reflects common movement of a single security’s return
with the average return of all other securities in the market, the larger the value,
the greater the riskiness of the security a β of the implies an averages riskiness”
dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa beta atau risiko sistematis suatu saham
merupakan indikator yang menunjukkan sensitivitas pergerakan return saham terhadap
pergerakan return saham-saham lainnya di pasar. Adanya kaitan antara saham individual
dengan pasar membawa pemikiran bahwa besarnya risiko sistematis suatu saham
seharusnya dapat diperkirakan dari aspek fundamental perusahaan dengan karakteristik
pasar. Jika kaitan antara aspek fundamental tersebut diketahui maka akan sangat
membantu investor dalam menganalisa kepekaan pergerakan return saham terhadap
pergerakan saham. Faktor-faktor fundamental adalah merupakan data akuntansi berupa
ratio-ratio yang dapat membantu investor untuk memprediksi risiko suatu saham.
Penggunaan data akuntansi juga dapat menghasilkan peningkatan kualitas pengambilan
keputusan pada setiap lini dari pembuat keputusan individu.
Hasil penelitian Suad Husnan, Mahduh, M., Hanafi dan Ari Wibowo (Kelola, 1997),
menunjukkan bahwa pengumuman laporan keuangan perusahaan emiten juga
mempunyai pengaruh terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat
keuntungan. Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut :
1. Laporan keuangan yang diumumkan tampaknya dipergunakan oleh investor dalam
kegiatan di bursa, ini terlihat dari relatif tingginya perdagangan di hari pengumuman
dibanding dengan kegiatan diluar hari pengumuman tersebut.
2. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara perdagangan pada saat sebelum
dan sesudah pengumuman laporan keuangan.
3. Laporan keuangan Desember mempunyai dampak yang lebih besar dibanding
dengan bulan Maret.
Dari hasil penelitian ini bisa dikatakan bahwa peranan laporan keuangan sudah sangat
penting, dan investor sudah sangat sadar untuk memperhatikan faktor fundamental
perusahaan. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian lainnya oleh
Hanafi (Kelola, 1997) yang tetap menyatakan bahwa pengumuman informasi laporan
keuangan perusahaan emiten menunjukkan dampak yang besar terhadap aktivitas
perdagangan saham di pasar modal Indonesia.
Dari latar belakang di atas maka permasahan yang diangkat adalah bagaimanakah
pengaruh faktor-faktor fundamental keuangan perusahaan terhadap risiko saham.
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih

240
DAFTAR ISI

memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko


pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan
kemakmuran bagi stakeholders.

B. TINJAUAN TEORITIS
1. Keputusan Investasi

Dalam teori manajemen keuangan modern disebutkan bahwa tujuan perusahaan adalah
untuk memaksimumkan kekayaan para pemegang saham. Untuk dapat mewujudkan
tujuan tersebut manager keuangan harus mampu memanfaatkan dana yang tersedia untuk
investasi pada suatu investasi yang menguntungkan. Pendapat lain dari Jogiyanto (1998),
investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di
dalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu.

Untuk dapat memilih investasi yang aman, diperlukan satu analisis yang cermat, teliti,
dan mendukung dengan risiko yang akurat. Pemilihan teknik yang benar dalam analisis
akan mengurangi risiko investor dalam investasi. Salah satu analisis yang dapat
digunakan oleh calon investor adalah analisis fundamental. Analisis ini sangat
berhubungan dengan kondisi perusahaan. Data yang dipakai sebenarnya adalah data
historis yaitu risiko yang telah lewat. Alat yang dipakai untuk melakukan analisis adalah
rasio keuangan yang pada dasarnya melihat hubungan antar pos dalam laporan keuangan
perusahaan yang mencerminkan keadaan keuangan serta hasil operasional perusahaan.

Proses keputusan investasi berkenaan dengan bagaimana seharusnya seorang investor


membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas, seberapa ekspansi investasi yang
dilakukan dan kapan investasi seharusnya dilaksanakan. Investor terlebih dahulu harus
mengetahui bagaimana konsep dasar investasi yang menjadi dasar pijakan dalam setiap
tahap pembuatan keputusan investasi yang akan dibuat. Hal penting dan mendasar dalam
setiap proses keputusan investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang
diharapkan dengan risiko suatu investasi.

2. Konsep Model Security Market Line

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa risiko total terdiri dari risiko dan risiko tidak
sistematis, sementara itu risiko tidak sistematis atau sering disebut risiko financial adalah
risiko yang berhubungan dengan risiko usaha yang ditunjukkan oleh variabilitas ini akan
semakin besar jika penggunaan hutang semakin besar yang pada akhirnya akan
mempengaruhi risiko financial. Untuk mengukur nondiversifiable risk ini dapat
menggunakan koefisien beta untuk mengukur Nondiversifiable risk.

Formula CAPM dapat ditulis sebagai berikut : Ri = RF + (RM – RF) βi

241
DAFTAR ISI

Keterangan:
Ri = Tingkat return yang diucapkan
RF = Tingkat bunga bebas risiko
βi = Koefisien beta saham
RM = Tingkat Keuntungan portofolio pasar

Dari formula di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi risiko, semakin tinggi
return yang diharapkan, dan sebaliknya semakin rendah risiko semakin rendah pula
return yang diharapkan. Jika hubungan antara beta dan return digambarkan dalam
sebuah gambar, maka akan diperoleh gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Hubungan Antara Beta dengan Return yang Dinyatakan Sebagai


Security Market Line

Return

17

15

Rz =13

Rm=11 Asset Z’s


Risk Premium
(6%)
9 Market Risk
Premium
Rf = 7 4%

Beta

0 .5 1.0 1.5 2.0


brf br bz

Gambar di atas menunjukkan adanya hubungan yang linier antara return dan beta atau
risiko. Garis yang menghubungkan return dan beta ini disebut sebagai Security Market
Line. Makin besar beta maka return yang diharapkan juga semakin besar.

242
DAFTAR ISI

3. Risk dan Return

Pengertian risiko pada umumnya sering dikaitkan dengan memperoleh hasil yang tidak
sesuai dengan yang diharapkan. Menurut William (1997) risiko didefinisikan sebagai
berikut : “Risk can be defined as the chance of financial loss. Assets with greater
chances of loss are viewer as more risky than those with lesser chance of loss”.Dari
definisi tersebut di atas risiko dipandang sebagai peluang menderita kerugian keuangan.
Menurut Jogiyanto, (1998): Dalam membuat keputusan investasi, sebenarnya investor
belum mengetahui tingkat return (rate of return) karena return yang diharapkan
(expected return) memang belum terjadi, sehingga belum diketahui dengan tepat berapa
nilainya. Ketidakpastian tingkat return (rate of return) ini berkaitan dengan risiko.
Semakin besar risiko suatu sekuritas, maka tingkat return yang diharapkan juga semakin
besar, ataupun sebaliknya. Hubungan positif antara tingkat return yang diharapkan
dengan risiko dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2. Hubungan Positif antara Return Ekspektasi dengan Risiko


Return
Ekspektasi

opsi

Saham
Waran
Obligasi
Pemerintah

RBR Obligasi
Perusahaan

Risiko

243
DAFTAR ISI

Dari pengertian di atas dapat disebutkan bahwa risiko merupakan kemungkinan


perbedaan antara return yang sebenarnya diterima dengan return yang diharapkan.
Semakin besar kemungkinan perbedaannya berarti semakin besar risiko investasi
tersebut.

Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi
menurut Tandelin (2001) yaitu :

1. Risiko suku bunga dimana perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga
saham secara terbalik, artinya jika suku bunga meningkat maka harga saham
akan turun, ceteris paribus, demikian sebaliknya jika suku bunga turun harga
saham akan naik.
2. Risiko pasar. Fluktuasi pasar biasanya ditunjukkan oleh berubahnya indeks
pasar saham secara keseluruhan. Perubahan pasar dipengaruhi oleh banyak
faktor serta munculnya resesi ekonomi, kerusuhan, ataupun perubahan politik.
3. Risiko inflasi. Risiko inflasi biasa disebut sebagai risiko daya beli, jika inflasi
meningkat biasanya menuntut tambahan premium inflasi untuk
mengkompensasikan penurunan daya beli yang dialaminya.
4. Risiko financial. Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk
menggunakan pinjaman dalam pembiayaan modalnya. Semakin besar proporsi
utang yang digunakan, semakin besar risiko financial yang diahadapi
perusahaan.
5. Risiko likuiditas. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu saham yang
diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder, semakin cepat
suatu saham bisa diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut.
6. Risiko nilai tukar mata uang. Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata
uang domestik terhadap nilai mata uang Negara lain dan sering disebut sebagai
currency risk atau exchange rate risk.
7. Risiko Negara atau country risk. Risiko ini berkaitan dengan kondisi stabilitas
politik suatu negara.
Dalam manajemen investasi modern dikenal pembagian risiko total investasi ke dalam
dua jenis risiko, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis
merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara keseluruhan
dimana perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return atas suatu
investasi. Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko yang tidak terkait dengan
perubahan pasar secara keseluruhan tetapi lebih terkait pada perubahan kondisi mikro
perusahaan penerbit saham. Risiko tidak sistematis bisa diminimalkan dengan
melakukan diversifikasi investasi pada setiap jenis saham.

Return atau hasil investasi merupakan tujuan utama bagi investor. Investasi saham akan
memberikan keuntungan atau return dalam dua cara, yaitu menjual saham hingga
harganya menguat, sering disebut sebagai capital gain atau menunggu dividend, yaitu
bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Menurut Jogiyanto,
(1998) menyatakan bahwa: return total merupakan return keseluruhan dari suatu

244
DAFTAR ISI

investasi dalam suatu periode tertentu, return total sering disebut return saja. Return
total terdiri dari Capital gain dan yield

Return = Capital gain (loss) + Yield

Capital gain (loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga
periode yang lalu. dan yield dianggap tidak diperhitungkan sehingga dengan demikian,
return total dapat di nyatakan sebagai berikut :

Pt − Pt −1
Return =
Pt −1
Pt = Harga saham sekarang (periode t)
Pt-1 = Harga saham periode lalu (periode t-1)

Dengan cara yang sama, tingkat pengembalian pasar (rate of market return). Jika
digunakan IHSG adalah :

IHSG t − IHSG
Rmt = t -1
IHSG
t -1
Rmt = Return pasar untuk periode t
IHSG t = merupakan indeks pasar periode t
IHSG t-1 = merupakan indeks pasar periode t-1

Return ekspektasi (expected return) dapat dihitung dengan mengalikan masing-masing


hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan menjumlah semua
produk perkalian tersebut, secara matematik, return ekspektasi dapat dirumuskan sebagai
berikut (Jogiyanto, 1998).

n
E (Ri) = ∑R P
i =t
i i

Keterangan :
E (Ri) = Perolehan diekspektasi suatu aktiva atau sekuritas
Ri = Hasil masa depan ke-i
Pi = Probabilitas hasil masa depan ke-i
n = jumlah dari hasil masa depan

Disamping mengestimasi return yang diharapkan dari suatu investasi saham, investor
juga perlu menghitung berapa besarnya risiko yang terkait dengan investasi pada saham
yang bersangkutan. Risiko sebagai sisi lain dari return menunjukkan kemungkinan
penyimpangan return yang diharapkan dari return actual yang diperoleh. Banyak

245
DAFTAR ISI

metode yang tersedia untuk mengukur risiko, meskipun tidak ada metode yang standar,
tetapi secara umum risiko diukur dalam bentuk probabilistik atau dalam bentuk varians
(standar deviasi). Alat ukur yang paling umum digunakan untuk menjelaskan sejauh
mana penyimpangan expected return dari actual return adalah dengan varians atau
standard deviasi. Varians maupun standar deviasi merupakan besarnya penyebaran
variabel random diantara rata-ratanya, semakin besar penyebarannya, semakin besar
varians atau standar deviasi investasi tersebut. Secara matematis rumus untuk
menghitung varians atau standar deviasi adalah sebagai berikut :

( ) ∑ ⎛⎜⎝ [Ri − E (Ri)]2 . pi ⎞⎟⎠


M
Var R =
i
i =1

C. PEMBAHASAN

C.1. Faktor-faktor Fundamental


Beta merupakan ukuran risiko yang dinyatakan dalam “Sensitivity to market” yaitu
ukuran risiko yang didasarkan pada sensitivitas pergerakan return suatu saham terhadap
market return. Menurut Beaver, Kettler dan Scholes (Grubber:1995) menyatakan :
“Beta is risk measure that arises from the relationship between the return on a stock and
the return on the market, however, we should know that the risk a firm should be
determined by some combination on the firm’s fundamental of the firm’s stock. If these
relationship could be determined, they would help us to understand betas and to better
forecast betas”.

Lebih lanjut Beaver, Kettler dan Scholes menyatakan jika data akuntansi dapat
digunakan untuk meramalkan risiko, hal itu akan merupakan peningkatan dalam
pengambilan keputusan bagi investor untuk keperluan analisis portofolio. Meskipun
tidak ada standar untuk menetapkan variabel-variabel mana yang diduga memiliki
pengaruh terhadap risiko sistematis (beta saham) namun variabel-variabel yang
digunakan Beaver, Kettler, dan Scholes yaitu beberapa variabel fundamental dapat
digunakan sebagai dugaan awal untuk penelitian tesis ini. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko pasar, dengan hanya
membatasi variabel-variabel penelitian sebagai berikut :

1. Debt Equity Ratio (DER)

Setiap sumber dana selalu mempunyai biaya masing-masing yang biasa disebut cost of
funds. Pada saat akan digunakan, dana dari luar perusahaan dalam bentuk hutang atau
obligasi dan biasanya akan timbul biaya-biaya (cost of debt) yang minimal harus
ditanggung adalah sebesar biaya bunga. Sementara jika dari modal sendiri (equity), akan
timbul biaya yang tidak kelihatan yang merupakan opportunity cost dari modal tersebut.
Mengingat begitu bervariasinya biaya dari luar maupun dari dalam perusahaan, maka

246
DAFTAR ISI

perlu dipertimbangkan dengan seksama sebaiknya dari sumber dana mana investasi yang
harus dibiayai, karena akan berpengaruh terhadap harga saham di bursa. Formulasi
struktur modal itu sendiri adalah sebagai berikut :

Long Term Debt


DER =
Equity

DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin
tinggi. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin
tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Penggunaan hutang dalam valuta
asing juga akan menimbulkan currency risk dimana risiko ini berkaitan dengan fluktuasi
nilai mata uang domestik terhadap mata uang Negara lain. Investor biasanya selalu
menghindari risiko, maka semakin tinggi DER akan mengakibatkan saham perusahaan
tersebut semakin dihindari investor, sehingga harga saham akan semakin rendah. Dengan
kata lain dapat dikatakan bahwa hubungan DER dengan beta saham adalah positif
artinya semakin tinggi tingkat DER akan mengakibatkan semakin tinggi risiko pasar dan
sebaliknya tingkat DER yang rendah akan mengakibatkan risiko sahamnya rendah.

2. Return On Equity (ROE)

Return on equity menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan


laba yang tersedia bagi pemegang saham (earning available for common stockholder’s)
agar bisa terlihat seberapa besar kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba,
maka diperlukan perhitungan laba bersih yang sudah dikurangi dengan biaya bunga dari
modal asing (cost of debt) dan pajak perseroan (income tax). Sedangkan modal yang
dihitung adalah modal sendiri yang bekerja dalam perusahaan, ROE bisa dihitung
dengan formula sebagai berikut :
Earnings after Tax and Interest
Return On Equity (ROE) =
equity

Dari sudut pandang investor ROE merupakan salah satu indikator penting untuk menilai
prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan mengetahui tingkat ROE, investor
dapat menilai prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan mengetahui tingkat ROE,
investor dapat melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Indikator
ROE sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana investasi yang akan
dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan
tingkat yang diharapkan investor, ROE akan berubah jika EAT atau equity mengalami
perubahan.

Dalam menentukan pilihannya, investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan


yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. Bagi investor semakin
tinggi ROE menunjukkan risiko investasi kecil. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa

247
DAFTAR ISI

semakin tinggi ROE akan mengakibatkan beta saham tersebut semakin rendah
sebaliknya bila ROE rendah akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi.

3. Earning Per Share (EPS)

Informasi earning per share suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih
perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. Besarnya EPS
suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. Meskipun
tidak semua perusahaan mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam
laporan keuangannya, besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan
laporan rugi laba perusahaan. Rumus untuk menghitung EPS suatu perusahaan adalah
sebagai berikut :
Earning after Tax (EAT) and Interest
Earning Per Share (EPS) =
Number of Share
EPS = ROE X Book Value per Share
Earning after Tax and Investment Equity
EPS = x
Equity Number of share

4. Price Earning Ratio

Informasi PER mengindikasikan besarnya Rupiah yang harus dibayarkan investor untuk
memperoleh satu Rupiah earnings perusahaan atau dengan kata lain, PER menunjukkan
besarnya harga setiap satu Rupiah earning perusahaan. Dengan demikian bisa dikatakan
bahwa PER juga merupakan ukuran harga relatif dari saham perusahaan. Rumus PER
juga dapat ditulis sebagai berikut :

D1 / E1
PER =
k−g

Keterangan :
D1/E1 = Tingkat dividend payout ratio yang diharapkan
k = Tingkat return yang diharapkan
g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan

Dari persamaan di atas, ada tiga komponen untuk menghitung PER, yaitu :

a. Dividend payout ratio (DPR) yang diharapkan yang menunjukkan besarnya


dividen yang akan dibayarkan perusahaan dari total earning yang diperoleh
perusahaan

248
DAFTAR ISI

b. Tingkat return yang diisyaratkan (k) yang menunjukkan tingkat return yang
diisyaratkan investor atas suatu saham, sebagai kompesasi atas risiko yang harus
ditanggung investor. Secara matematis tingkat return yang diisyaratkan adalah :

k = R f + Rp

Keterangan:

K = tingkat return bebas risiko + premi risiko

c. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g), yang merupakan fungsi dari
besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaan.

5. Operating Profit Margin (OPM)

Operating profit margin mengukur presentase setiap penjualan setelah semua cost and
expenses diluar biaya bunga dan pajak. OPM menunjukkan laba murni (pure profit) yang
diperoleh dari setiap penjualan. Bagi investor yang diinginkan tentunya adalah operating
profit margin. Formula untuk menghitung operating profit margin sudah dikenal luas
sebagai berikut :

Operating Profit
Operating Profit Margin =
Sales
OPM adalah salah satu alat untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan. Tanpa
profit, perusahaan tidak akan menarik bagi investor. Oleh karena itu rasio ini sangat
penting bagi investor untuk menilai masa depan perusahaan. Dalam memilih investasi
saham, investor akan memilih perusahaan yang memiliki OPM yang lebih tinggi
dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memiliki OPM rendah. Bagi investor
perusahaan yang memiliki tingkat OPM yang tinggi memberikan indikasi bahwa risiko
pada perusahaan tersebut adalah rendah. Dapat dikatakan semakin tinggi OPM akan
semakin rendah beta sahamnya, sebaliknya semakin rendah OPM akan mengakibatkan
beta sahamnya semakin tinggi.

C.2. Beta

Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio relatif
terhadap risiko pasar. Mengetahui beta suatu sekuritas atau beta suatu portofolio
merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio tersebut.Beta
suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematiknya yang tidak dapat dihilangkan dengan
diversifikasi. Untuk menghitung beta portofolio, maka beta masing-masing sekuritas
perlu dihitung terlebih dahulu. Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari beta
masing-masing sekuritas. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna untuk
pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut kedalam portofolio yang akan dibentuk
(Jogiyanto, 1998).

249
DAFTAR ISI

Beta sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang menggunakan data histories.
Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini selanjutnya dapat digunakan untuk
mengestimasi beta masa mendatang. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa beta
histories mampu menyediakan informasi tentang beta masa depan (Elton dan Gruber :
1994). Beberapa beta historis berdasarkan jenis data yang akan digunakan yaitu:
1. Beta pasar
Dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai histories return dari sekuritas
dan return dari pasar selama periode tertentu, misalnya 60 bulan untuk return
bulanan atau 200 hari untuk return harian.
2. Beta akuntansi
Beta akuntansi dapat dihitung dengan menggunakan data histories yang berupa data
akuntansi seperti laba perusahaan dan laba indeks pasar. (Jogiyanto, 2000).
3. Beta fundamental
Dapat diestimasi dengan menggunakan data histories berupa variabel-variabel
fundamental perusahaan (Dividen pay out, asset growth, leverage, dan lainnya)
(Jogiyanto, 2000).
Bagian dari risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang
well-diversified disebut dengan risiko yang dapat didiversifikasi (diversifiable risk) atau
risiko perusahaan (company risk) atau risiko spesifik (specific risk) atau risiko unik
(Unique risk) atau risiko yang tidak sistematik (unsystematic risk). Karena risiko ini unik
untuk suatu perusahaan, yaitu hal yang buruk terjadi di suatu perusahaan dapat
diimbangi dengan hal yang baik terjadi diperusahaan lain, maka risiko ini dapat
didiversifikasi di dalam portofolio. Contoh dari diversifiable risk adalah pemogokan
buruh, tuntutan dari pihak lain, penelitian yang berhasil atau tidak berhasil dan lain
sebagainya.
Sebaliknya, risiko yang tidak dapat didiversifikasikan oleh portofolio disebut dengan
nondiversifible risk atau risiko pasar (market risk) atau risiko umum (general risk) atau
risiko sistematik (systematic risk). Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian di luar
kegiatan perusahaan, seperti inflasi, resesi, dan lain sebagainya. Risiko total (total risk)
merupakan penjumlahan dari diversifiable dan nondiversifiable risk sebagai berikut :

Risiko total = Risiko dapat di-diversifikasi + Risiko tidak dapat di-diversifikasi


= Risiko perusahaan + risiko pasar
= Risiko tidak sistematik + risiko sistematik
= Risiko spesifik (unik) + risiko umum

Gambar 3. berikut ini menunjukkan risiko total dan komponennya yang berupa risiko
yang dapat di-diversifikasi dan risiko yang dapat didiversifikasi.

250
DAFTAR ISI

Gambar 3. Risiko Total, risiko yang dapat di-diversifikasi dan yang tidak dapat

risiko fortofolio (%) Risiko dapat di-diversifikasi


Atau risiko perusahaan
Atau risiko spesifik
Atau risiko unik
Atau risiko tidak sistematik

Risiko
total Risiko tidak dapat di-diversikfikasi
Atau risiko pasar atau risiko umum
Atau risiko sistematik

Jumlah
saham

Estimasi Nilai Beta

Metode yang paling banyak digunakan untuk menetukan beta adalah cara penaksiran
dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta masa itu, yang kemudian
dipergunakan sebagai taksiran beta masa datang. Dengan menggunakan persamaan
regresi dari single indeks model maka beta untuk tiap saham dapat dihitung seperti
tampak pada Gambar 4. Beta saham tidak akan merupakan kemiringan (scope) garis
regresi tersebut. Beta menunjukkan pergerakan vertikal (stock return) per unit
pergerakan horizontal (market return). Semakin besar beta, menunjukkan semakin peka
pergerakan harga saham tersebut terhadap pergerakan haraga saham di pasar, sehingga
semakin tinggi risikonya.

251
DAFTAR ISI

Gambar 4. Garis Regresi Untuk Mengukur Beta Saham

Rit

α
Rmt

Alpha merupakan intersep dari garis regresi, nilai alpha merepresentasikan return saham
yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar pergerakan pasar atau dikenal sebagai
independent component. Nilai alpha dan beta dapat bernilai positif, negatif atau nol.
Jerome (1987).

Saham-saham dengan beta lebih besar dari satu (β > 1) digolongkan sebagai saham-
saham agresif (aggressive stock) karena saham melonjak lebih cepat daripada pasar
dalam situasi boom (bull market) sebaliknya jatuh lebih tajam daripada pasar pada
situasi lesu (bear market), saham-saham jenis ini lebih peka sehingga mempunyai risiko
yang tinggi. Saham-saham dengan beta kurang dari satu (β < 1) digolongkan sebagai
saham-saham defensive (defensive stocks), keuntungan saham ini berfluktuasi kurang
dari kondisi pasar secara keseluruhan. Saham-saham dengan beta sama dengan satu,
merupakan saham-saham netral karena pergerakan return saham sejalan dengan market
return. Estimasi besarnya risiko sistematis (β) dihitung dengan menggunakan formula
standar (Elton/Gruber: 1995) sebagai berikut :

∑ [(Rit − R it )(Rmt - R mt )]
N

σ im t =1
βi = =
∑ [(R ]
σ 2m
- R mt )
N
2
mt
t =1

252
DAFTAR ISI

Keterangan;
βi : Resiko sistematis untuk saham i
σ im : kovarian antara return saham Ri dengan market return RM.

σ 2
im : varian market return.
Rit : Rata-rata dari return on security
Rmt : rata-rata dari market return

Penggunaan konsep model indeks tunggal dalam menaksir, beta memerlukan penaksiran
beta dari saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Cara lain adalah
dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta waktu lalu yang
dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang. Secara sistematis, model
indeks tunggal adalah sebagai berikut :

Ri =αi + βiRm + ei
Keterangan:
Ri : return saham i
Rm : return indeks pasar
αi : bagian return saham i yang tidak dipengaruhi kinerja pasar
βi : ukuran kepekaan return saham i terhadap perubahan return saham
ei : kesalahan residual

Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham menjadi dua
bagian, yaitu yang independent dari perubahan pasar dan yang dipengaruhi oleh pasar.
Persamaan di atas juga merupakan persamaan regresi linier sederhana yang dihitung
dengan Ri sebagai variabel dependent dan Rm sebagai variabel independent.

Penggunaan model indeks tunggal menghasilkan tingkat keuntungan yang diharapkan,


deviasi standar tingkat keuntungan dan covariance antar saham sebagai berikut :

- Tingkat keuntungan yang diharapkan,

E (Ri) = αi + βi E (Rm)
- Variance tingkat keuntungan,

σi2 = βi2σm2 + σei2


- Covariance tingkat keuntungan saham i dan j,

σei = βiβjσm2

253
DAFTAR ISI

Model indeks tunggal menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan terdiri
dari dua komponen yaitu αi dan bagian yang berhubungan dengan pasar yaitu βiE(Rm).
Demikian juga variance tingkat keuntungan terdiri dari dua bagian. Yaitu risiko yang
unik (σei2) dan risiko yang berhubungan dengan pasar βi2σm2, sebaliknya covariance
semata-mata tergantung pada risiko pasar.

Salah satu alasan penggunaan model indeks tunggal adalah untuk mengurangi jumlah
variabel yang perlu ditaksir karena untuk portofolio model indeks tunggal mempunyai
karakteristik yaitu bahwa beta portofolio (βp) merupakan rata-rata tertimbang dari beta
saham-saham yang membentuk portofolio tersebut.

βp = ∑ X i βi

Demikian juga alpha portofolio (αp) adalah,

α p = ∑ X iα i
Untuk variance portofolio rumusnya adalah sebagai berikut:

α p 2 = β p 2σ m 2 + ∑ X i 2σ ei 2
Resiko yang tidak bisa dihilangkan kalau bentuk portofolio merupakan risiko yang
berkaitan dengan βp. kalau resiko residual dianggap nol, maka risiko portofolio akan
mendekati :

σ p = β p 2σ m 2 = βpσm = σm [ ∑ X i β i ]

D. KESIMPULAN DAN SARAN

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih
memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko
pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan
kemakmuran bagi stakeholders. Faktor-faktor fundamental seperti DER, ROE, EPS,
PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. Hal ini terjadi
karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat
ROE nya rendah. Pada masa krisis juga diduga banyak perusahaan yang memiliki
tingkat earning per share yang rendah karena kemampuan menghasilkan laba yang
rendah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini menganalisis variabel-
variabel yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental yang diperkirakan dapat
menjelaskan risiko sistematis.

254
DAFTAR ISI

Alasan yang lain pada penggunaan variabel-variabel fundamental adalah karena dalam
berbagai studi literatur menunjukkan masih kurangnya penelitian yang mengkaitkan
antara risiko sistematis saham dengan faktor-faktor fundamental yang dapat
menjelaskannya. Di lain pihak telah banyak studi dan penelitian yang dilakukan kurang
meneliti hubungan faktor-faktor makro ekonomi terhadap risiko sistematis seperti
perubuhan tingkat inflasi dan tingkat suku bunga terhadap risiko sistematis. Berbagai
alasan dikemukakan terhadap kurangnya penelitian yang menitikberatkan pada pengaruh
faktor-faktor fundamental terhadap risiko sistematis (risiko pasar) diantaranya adalah
masih dalam dugaan bahwa faktor-faktor tersebut kurang memberikan penjelasan yang
berarti pada risiko sistematis suatu saham.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti. 1995. “Pengantar Pasar Modal”. PT. Rineka Cipta.
Jakarta.

Baridwan, Zaki dan H.M. Salno. 2000. “Analisis Perataan Penghasilan (Income
Smoothing) : Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan kinerja
Saham Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia
Vol.3 No.1 Ikantan Akuntan Indonesia.

Beaver, P.Kettler, dan M. Scholes, “The Association Between Market Determined and
Accounting Determined Risk Measures”, Accounting Review 45, (October
1970), Hal 654-682.

Bildersee, J.S, “The Association Between Market Determined Measure of Risk and
Alternative Measure of risk” Accounting Review 50 (January 1975).

Brealey, Richard.A, - Steward C. Myers, “Fundmental of corporate Finance” Fifth


Edition, Mc Graw Hill, New York, 1998.

Elton, Edwin J. and Gruber, Martin J.” Modern Portfolio Theory and Investment
Analysis”, 5th Edition, New York, Jhon Wiley & Sons, Inc. 1995.

Eskew, R.K, “The Forecasting Ability of Accounting Risk Measure Some Additional
Evidence”. Accounting Review 54. (Januari 1979).

Gitman, Lawrence J, “Principles of Managerial Finance”, 9th Edition, USA, 2000.

Hargitay, Stephen E, and Ming Yu Shi, “Investment Decision – A Quantitative


Approach”, London, E&FN Spon, 1993.

Helfert, A Erich, “Teknik Analisis Keuangan”, Edisi Kedelapan, Alih Bahasa, Herman
Wibowo, Penerbit Airlangga, Jakarta. Indonesia,1997.

255
DAFTAR ISI

Institude for Economic and Financial Research, “Indonesia Capital market Directory
2000, 2003”, Prasetio Utomo.

Jogiyanto, 2000. Teori Portfoliodan Analisis Investasi”. Edisi ke-2. BPFE. Yogyakarta.

Jones, Charles P, 1998. “Investment”. Sixth Edition. John Wiley & Sons.

Kasali, Rhenald. 2001. “Membidik Pasar Indonesia, Segmentasi, Targeting,


Positioning,”. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Keown, Arthur J. Scott, David F, JR, Martin, John D,, Petty, J. William, “Basic
Financial Management” 7th New York, Prentice Hall, Inc, 1996.

Megginson, L.William, “Corporate Finance Theory”, 1st edition, Addison-Wesley


Educational Publisher Inc, 1997.

Munawir, S, “Analisa Laporan Keuangan”, Edisi Keempat, Penerbit Liberty,


Yogyakarta, 1997.

Po. Haryanto, “Pengaruh Operating And Financial Leverage Terhadap Risiko


Sistematis Pada Beberapa Perusahaan Unggulan di Bursa Efek Jakarta
Periode 1998—2001” Tahun 2004.

Santoso, Singgih, “SPSS / Statistical Product and Service Solution” Elex Media
Komputindo, Jakarta.

Suad Husnan DR, MBA, “Dasar-dasar Teori Portfolio dan analisa sekuritas”, Edisi
kedua, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 1994.

Sembel, Roy, 2001, “Berfikir Ekonomis di Masa Krisis”, Edisi Pertama, Elex Media
Komputindo, Jakarta.

Van Horne, James, “A Financial Management and Policy”, 7th edition, New York,
Prentice Hall International, 1986.

Tandellilin, Eduardus, “Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio”, Edisi Pertama,


Yogyakarta, BPFE-Yogyakarta,2001.

Weston, J. Fred, Copeland, Thomas E., “Manajemen Keuangan”, Edisi Kedelapan.


Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996.

256