Anda di halaman 1dari 8

BAB V ETIKA PROMOSI KESEHATAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Promosi Kesehatan

Oleh: WASRI SUDAMULYA 029BB12204

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN POLTEKES YAPKESBI SUKABUMI 2014

BAB III MODEL DAN NILAI DALAM PROMOSI KESEHATAN

MODEL KEYAKINAN KESEHATAN (HEALTH BELIEF MODEL)

Aplikasi model keyakinan kesehatan Kelemahan model keyakinan kesehatan Tahapan perubahan

TRANSTEORITI CAL MODEL (TTM)

Proses perubahan Keseimbangan putusan Keberhasilan diri percobaan

MODEL MODEL DALAM PROMOSI KESEHATAN

TEORI SEBAB AKIBAT

Prinsip pertama Prinsip kedua Prinsip ketiga

MODEL TRANSAKSIO NAL STRES dan KOPING

Aplikasi model transaksional stres dan kopiing

THEORY OF REASONED ACTION ( TRA)

Aplikasi TRA Keuntungan TRA Kelemahan TRA

MODEL DAN NILAI DALAM PROMOSI KESEHATAN

Model adalah sebuah gambaran deskriptif dari sebuah praktik bermutu yang mewakili suatu hal yang nyata. Model dalam kebidanan adalah aplikasi struktur kebidanan yang memungkinkan seorang bidan untuk menerapkannya sebagai cara mereka bekerja. Nilai adalah keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharg, kebenaran, keyakinan mengenai ide-ide, objek, atau prilaku. Model dalam promosi kesehatan antara lain : model keyakinan kesehatan ( health belief model ), transteoritical model (TTM), teori sebab akibat, model transaksional stres dan koping, theory of reasoned Action (TRA), serta health field concept.

MODEL KEYAKINAN KESEHATAN (HEALTH BELIEF MODEL) Model keyakinan kesehatan merupakan model kognitif yang digunakan untuk meramalkan prilaku peningkatan kesehatan. Menurut model keyakinan kesehatan, tindakan pencegahan yang mungkin dilakukan seseorang mempengaruhi secara langsung dari hasil dua keyakinan atau penilaian kesehatan antara lain ancaman yang dirasakan serta penilaian terhadap keuntungan dan kerugian. Misalnya ancaman yang dirasakan dari sakit atau luka ( perceived threat of injury or illness) mengacu pada sejauh mana seseorang berpikir bahwa penyakit atau rasa sakit benar-benar mengancam dirinya. Jika ancaman meningkat maka perilaku pencegahan juga akan meningkat. Penilaian tentang ancaman berdasar pada kerentanan dan derajat keparahan yang dirasakan, mungkin dapat menciptakan masalah kesehatan sendiri sesuai dengan kondisi. Ancaman dan pertimbangan keuntungan dan kerugian dipengaruhi oleh berbagai variabel, yaitu variabel demografi, variabel sosiopsikologis dan variabel struktural. Aplikasi model keyakinan kesehatan yaitu perilaku pencegahan yang berkaitan dengan dunia medis dan mencakup berbagai perilaku. Model keyakinan

kesehatan melingkupi kebiasaan seseorang dan sifat-sifat yang dikaitkan dengan perkembangan, termasuk gaya hidup tertentu seperti merokok, diet, olahraga, perilaku keselamatan, penggunaan alkohol, penggunaan kondom untuk penderita HIV/AIDS, dan gosok gigi. Adapun kelemahan dari model kayakinan kesehatan yaitu, Model keyakinan kesehatan lebih didasarkan pada penelitian terapan dalam dalam permasalahan pendidikan kesehatan daripada penelitian akademis. Model keyakinan kesehatan didasarkan pada beberapa asumsi yang dapat diragukan,seperti pemikiran bahwa setiap pilihan perilaku selalu berdasarkan pertimbangan rasional. Model keyakinan kesehatan hanya memperhatikan keyakinan kesehatan. Analisis model ini menunjukan bahwa prediktor dapat berubah sewaktuwaktu Contoh dari model keyakinan kesehatan ini yaitu pemeriksaan pencegahan dan imunisasi, dalam imunisasi ini memberi kesan bahwa orang yang mengikuti program imunisasi percaya terhadap hal-hal berikut: 1. Kemungkinan terkena penyakit tinggi ( rentan penyakit ) 2. Jika terjangkit, penyakit tersebut membawa akibat serius 3. Imunisasi merupakan cara paling efektif untuk pencegahan penyakit 4. Tidak ada hambatan serius untuk imunisasi, tetapi hasil beberapa penelitian model ini menunjukkan kebalikannya.

TRANSTEORITICAL MODEL (TTM) Model transteoritikal adalah suatu model yang diterapkan untuk menilai kesiapan seorang individu untuk bertindak atas perilaku sehat yang baru dan memberikan strategi atau proses perubahan untuk memandu setiap individu melalui tahapan perubahan untuk bertindak dalam pemeliharaan kesehatan. Ada lima konstruksi yaitu tahapan perubahan, proses-proses perubahan, keseimbangan putusan, keberhasilan diri, dan godaan/ percobaan.

1. Tahapan perubahan Tahapan perubahan ini adalah sebuah proses yang melibatkan kemajuan melalui enam tahap yaitu prekontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, pemeliharaan, dan pemutusan. 2. Proses-proses perubahan Prose perubahan adalah kegiatan rahasia dan terbuka yang digunakan orang untuk maju melalui beberapa tahap, yaitu proses kesadaran dan evaluasi lingkup kembali, diantara kontemplasi dan prekontemplasi, evaluasi diri kembali, diantara kontemplasi dan persiapan, pembebasab diri, diantara persiapan dan tindakan, sangat ditekankan, antara tindakan dan pemeliharaan kontingensi manajemen,dan kontrol stimulus

ditekankan. 3. Keseimbangan putusan Pada tahap ini mencerminkan individu relatif menimbang pro dan kontra dari perubahan. 4. Keberhasilan diri Pada tahap ini orang percaya bahwa situasi khusus mereka dapat mengatasi situasi risiko tinggi tanpa risiko kekambuhan untuk kebiasaan yang tidak sehat. 5. Percobaan Pada tahap ini mencerminkan intensitas mendesak untuk terlibat dalam kebiasaan tertentu ketika di tengah-tengah situasi yang sulit.

TEORI SEBAB AKIBAT Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan. Pada teori sebab akibat apa yang dialami manusia pasti ada

penyebabnya, pengetahuan tentang sebab akibat mendorong seseorang untuk bertindak hati- hati dan fokus pada tujuan yang terbentuk akibat. Teori ilmiah dari berbagai lapangan ilmu secara umum sangat bergantung pada hukum sebab akibat

(kuasalitas), melalui cara tersebut, ilmu pengetahuan dapat ditemukan. Sejatinya kausalitas terkait erat dengan prinsip-prinsip senagai berikut. 1. Prinsip pertama : prinsip kausalitas meniscayakan setiap setiap kondisi (akibat) pasti mempunyai sebab. Misalnya sesuatu benda pasti ada yang membuatnya, setiap bergerak pasti ada penggeraknya. 2. Prinsip kedua :menjelaskan bahwa akibat tidak mungkin terpisah dari sebab; jika ada sebab maka ada akibat dan begitu pun sebaliknya. Misalnya, jika orang tidak makan diniscayakan lapar atau jika orang lapar pasti belum makan. 3. Prinsip ketiga :hukum keselarasan antara sebab dan akibat yang meniscayakan setiap himpunan secara esensial harus selaras dengan sebab akibat di alam. Prinsipnya adalah menjelaskan keselarasan suatu kondisi yang bergantung pada sebab akibatnya. Jika kita memahami teopri sebab akibat maka promosi kesehatan akan mejadi jelas, contohnya jika kita mempunyai perilaku konsumsi lemak berlebih mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol, dan kebiasaan merokok dapat menyebabkan kanker paru. Upaya promosi kesehatan pada teori sebab akibat lebih ditekankan pada upaya promotif dan preventif yang mencegah masalah kesehatan pada individu, kelompok atau masyarakat.

MODEL TRANSAKSIONAL STRES DAN KOPING Stres adalah suatu kondisi atau keadaan tubuhyang terganggu karena tekanan psikologis. Stres juga dapat memprngaruhi penyakit fisik karena dengan kejiwaan yang terganggu maka daya tahan tubuh pun akan lemah dan rendah. Banyak hal yang memicu stres diantaranya rasa khawatir, kesal, keletihan,frustasi dll, hal ini biasanya dapat diatasi dengan konsultasi ke psikiater. Setresor adalah keadaan yang diakibatkan oleh lingkungan internal dan eksternal sehingga mempengaruhi tindak kesejahteraandan membutuhkan kesehatan fisik maupun psikologis unyuk mengembalikan keseimbangan. Koping (kemahiran bertahan) adalah menstabilkan faktor yang dapat membantu individu mempertahankan adaptasi psikososial selama periode

menegangkan. Ada dua cara atau strategi menghadapi stres, cara pertama adalah respons berfokus pada masalah (problem focus responses )yaitu respons diarahkan pada peristiwa eksternal, stres dihilangkan dengan memecahkan atau

mengendalikan masalah, cara kedua adalah respons berfokus pada emosi ( emotion focus), yaitu respon diarahkan pada reaksi emosional individu / internal, stres dapat dihilingkan dengan cara mengatur konsekuensi stres emosional dari peristiwa dan cenderung digunakan untuk menangani masalah yang tidak terkendali. Model transaksional stres dan koping adalah suatu kerangka kerja untuk mengevaluasi proses mengatasi peristiwa stres. Hal ini dimediasi oleh penilaian pertama orang tentang stresor dan penilaian kedua pada sumber daya sosial atau budaya sekitarnya, penilaian primer yaitu penilaian seseorang tentang makna dari suatu peristiwa sebagai stres, positif, terkendali menentang, atau relevan. Penilaian kedua menghadapi stresor adalah evaluasi menghadapi stresordan

sumber daya yang dimiliki untuk menghadapinya. Aplikasi model transaksional stres dan koping ini berguna untuk promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, pengaruh stres pada orang tidak semuanya sama, stres dapat mennyebabkan penyakit dan pengalaman negatif.faktor penting dalam mengatasi stres adalah apakah hal itu mempengaruhi dan bagaimana orang mencari perawatan medis atau dukungan sosial pada orang profesional. Contohnya pemahaman gaya hidup pasien kanker yang mencari berbagai perawatan.

THEORY OF REASONED ACTION (TRA) TRA merupakan teori perilaku manusia secara umum, yang mana teori ini digunakan dalam berbagai perilaku manusia khususnya berkaitan dengan masalah sosiopsikologis. Teori ini banyak digunakan untuk menentukan faktor yang berkaitan dengan perilaku kesehatan. Teori ini menghubungkan antara keyakinan, sikap, kehendak (intention) dan perilaku. Kehendak merupakan prediktor terbaik unntuk perilaku, artinya cara terbaik mengetahui apa yang akan dilakukan seseorang adalah mengatahui kehendak orang tersebut. Konsep penting dalam

teori ini adalah fokus perhatian (salience), yaitu mempertimbangkan sesuatu yang dianggap penting. Komponen sikap merupakan hasil pertimbangan untung rugi dari prilaku tersebut dan pentingnya konsekuensi-konsekuensi bagi individu. Aplikasi TRA adalah untuk meramalkan perilaku preventif dan telah digunakan dalam berbagai jenis perilaku sehat yang berlainan, misalnya penggunaan alat kontrasepsi. TRA juga banyak digunakan untuk memenuhi persyaratan tindakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), misalnya tindakan keselamatan dalam pertambanga batubara, ketidakhadiran karyawan, dan perilaku konsumen. Keuntungan TRA adalah memberiksn pegangan untuk menganalisis komponen perilaku dalam hal-hal yang bersifat operasional, fokus sasaran adalah prediksi dan pengertian perilaku yang dapat diamati secara langsung dan berada dalam kendali seseorang. Pada model ini harus diketahui nilai dan norma kelompok sosial yang diselidiki, misalnya terdapat nilai dan norma di masyarakat bahwa diare bukan suatu penyakit, tetapi sebagai hal yang dialami dari tumbuh kembang anak. Kelemahan TRA adalah bahwa kehendak dan perilaku hanya berkolerasi sedang, kehendak tidak selalu menuju perilaku itu sendiri, terdapat hambatanhambatan yang mencampuri atau mempengaruhi kehendak dan perilaku. TRA tidak mempertimbangkan pengalaman sebelumnya dengan perilaku dan mengabaikan akibat-akibat jelas dari variabel eksternal.hal ni berarti keputusan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tidak dibatasi pertimbanganpertimbangan kesehatan.