Anda di halaman 1dari 9

Katarak Diabetik BAB I PENDAHULUAN Diabetes adalah sekumpulan penyakit endokrin yang ditandai dengan hiperglikemia yang merupakan

manifestasi dari defek pada sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya !"#$,%,&' Diabetes memiliki banyak sekali komplikasi yang ditimbulkannya, baik itu ter(adi se)ara akut seperti hiperglikemik hiperosmolar non#ketotik, ketoasidosis yang dapat memba*a kematian, atau komplikasi yang ber(alan se)ara kronik seperti diabetik neuropati, makroangiopati, mikroangiopati, dan sebagainya Dalam bidang oftalmologi, komplikasi yang terpenting adalah retinopati diabetik dan peningkatan progresifitas katarak yang telah ter(adi Adapun bentuk katarak diabetik murni namun ke(adiannya (arang Pada makalah ini yang dibahas adalah pengaruh diabetes terhadap katarak yang telah ada Beberapa studi telah menun(ukkan korelasi yang kuat antara progresifitas katarak dengan diabetes yang mendasari seperti yang telah dilakukan +im, dkk !,--.' yang menyimpulkan durasi diabetes adalah faktor yang sangat signifikan untuk katarak pada penderita diabetes Efek yang terakumulasi dari hiperglikemia terkait dengan ke(ernihan lensa pada diabetes !,' +atarak adalah suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya (ernih dan bening men(adi keruh !/,""' Pada dasarnya katarak dapat ter(adi karena proses kongenital atau karena proses degeneratif Proses degeneratif pada lensa disebut (uga katarak senilis yang dibagi men(adi empat stadium0 Insipien, Immatur, 1atur dan Hipermatur Begitu banyak yang faktor yang mempengaruhi timbulnya katarak ini, diabetes adalah salah satu faktor penyakit sistemik yang memper)epat proses timbulnya katarak ini Dari ,-- pasien dengan katarak senilis yang dilakukan tes toleransi glukosa oleh Dukmore dan 2un !"&%-' ditemukan dan disimpulkan bah*a intoleransi glukosa sering di(umpai pada katarak senilis yang tidak menun(ukkan glikosuria dan gula darah puasa yang normal pada pemeriksaan rutin !"3' 2erdapat beberapa teori yang hendak men(elaskan patofisiologi progresifitas katarak pada penderita diabetes, serta penelitian#penelitian yang telah berhasil membuktikan korelasi antara a*itan usia menderita katarak dengan lamanya menderita diabetes !"#/,&#",

LEN4A DAN +A2A5A+ Lensa +ristalina Normal Lensa +ristalina adalah sebuah struktur yang transparan dan bikon6eks yang memiliki fungsi untuk mempertahankan ke(ernihan, refraksi )ahaya, dan memberikan akomodasi Lensa tidak memiliki suplai darah atau iner6asi setelah perkembangan (anin dan hal ini bergantung pada a7ueus humor untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya serta membuang sisa metabolismenya Lensa terletak posterior dari iris dan anterior dari korpus 6itreous Posisinya dipertahankan oleh 8onula 9innii yang terdiri dari serat#serat yang kuat yang menyokong dan melekatkannya pada korpus siliar Lensa terdiri dari kapsula, epitelium lensa, korteks dan nukleus !.' +utub anterior dan posterior dihubungkan dengan sebuah garis ima(iner yang disebut aksis yang mele*ati mereka :aris pada permukaan yang dari satu kutub ke kutub lainnya disebut meridian Ekuator lensa adalah garis lingkar terbesar !.' Lensa dapat merefraksikan )ahaya karena indeks

refraksinya, se)ara normal sekitar ",/ pada bagian tengah dan ",$. pada bagian perifer yang berbeda dari a7ueous humor dan 6itreous yang mengelilinginya Pada keadaan tidak berakomodasi, lensa memberikan kontribusi "3#,- dioptri !D' dari sekitar .- D seluruh kekuatan refraksi bola mata manusia 4isanya, sekitar /- D kekuatan refraksinya diberikan oleh udara dan kornea !.' Lensa terus bertumbuh seiring dengan bertambahnya usia 4aat lahir, ukurannya sekitar .,/ mm pada bidang ekuator, dan $,3 mm anteroposterior serta memiliki berat &- mg Pada lensa de*asa berukuran & mm ekuator dan 3 mm anteroposterior serta memiliki berat sekitar ,33 mg +etebalan relatif dari korteks meningkat seiring usia Pada saat yang sama, kelengkungan lensa (uga ikut bertambah, sehingga semakin tua usia lensa memiliki kekuatan refraksi yang semakin bertambah Namun, indeks refraksi semakin menurun (uga seiring usia, hal ini mungkin dikarenakan adanya partikel#partikel protein yang tidak larut 1aka, lensa yang menua dapat men(adi lebih hiperopik atau miopik tergantung pada keseimbangan faktor#faktor yang berperan !.'

+apsula lensa +apsula lensa memiliki sifat yang elastis, membran basalisnya yang transparan terbentuk dari kolagen tipe I; yang ditaruh di ba*ah oleh sel#sel epitelial +apsula terdiri dari substansi lensa yang dapat mengkerut selama perubahan akomodatif Lapis terluar dari kapsula lensa adalah lamela 8onularis yang berperan dalam melekatnya serat#serat 8onula +apsul lensa tertebal pada bagian anterior dan posterior preekuatorial dan tertipis pada daerah kutub posterior sentral di mana m +apsul lensa anterior lebih tebalmemiliki ketipisan sekitar ,#/ dari kapsul posterior dan terus meningkat ketebalannya selama kehidupan !.' 4erat 8onular Lensa disokong oleh serat#serat 8onular yang berasal dari lamina basalis dari epitelium non#pigmentosa pars plana dan pars plikata korpus siliar 4erat#serat 8onula ini memasuki kapsula lensa pada regio ekuatorial se)ara kontinu 4eiring usia, serat#serat 8onula ekuatorial ini beregresi, meninggalkan lapis anterior dan posterior yang tampak sebagai bentuk segitiga pada potongan melintang dari )in)in 8onula !.' Epitel lensa 2erletak tepat di belakang kapsula anterior lensa, lapisan ini merupakan lapisan tunggal dari sel# sel epitelial 4el#sel ini se)ara metabolik aktif dan melakukan semua akti6itas sel normal termasuk biosintesis DNA, 5NA, protein dan lipid 4el#sel ini (uga menghasilkan A2P untuk memenuhi kebutuhan energi dari lensa 4el#sel epitelial aktif melakukan mitosis dengan aktifitas terbesar pada sintesis DNA pramitosis yang ter(adi pada )in)in di sekitar anterior lensa yang disebut 8ona germinati6um 4el#sel yang baru terbentuk ini bermigrasi menu(u ekuator di mana sel#sel ini melakukan diferensiasi men(adi serat#serat Dengan sel#sel epitelial bermigrasi menu(u bo* region dari lensa, maka proses differensiasi men(adi serat lensa dimulai !.' 1ungkin, bagian dari perubahan morfologis yang paling dramatis ter(adi ketika sel#sel epitelial meman(ang membentuk sel serat lensa Perubahan ini terkait dengan peningkatan massa protein selular pada membran untuk setiap indi6idu sel#sel serat Pada *aktu yang sama, sel#sel kehilangan organel# organelnya, termasuk inti sel, mitokondria, dan ribosom Hilangnya organel#organel ini sangat menguntungkan, karena )ahaya dapat melalui lensa tanpa tersebar atau terserap oleh organel#

organel ini Bagaimana pun, karena serat#serat sel lensa yang baru ini kehilangan fungsi metaboliknya yang sebelumnya dilakukan oleh organel#organel ini, kini serat lensa terganting dari energi yang dihasilkan oleh proses glikolisis !

+orteks dan Nukleus 2idak ada sel yang hilang dari lensa sebagaimana serat#serat baru diletakkan, sel#sel ini akan memadat dan merapat kepada serat yang baru sa(a dibentuk dengan lapisan tertua men(adi bagian yang paling tengah Bagian tertua dari ini adalah nukleus fetal dan embrional yang dihasilkan selama kehidupan embrional dan terdapat pada bagian tengah lensa Bagian terluar dari serat adalah yang pertama kali terbentuk dan membentuk korteks dari lensa !.' Peningkatan Protein#protein yang 2idak Larut Air 4eiring Usia 2ergantung dari kelarutan dalam air, sebuah hipotesis memperkirakan bah*a seiring dengan ber(alannya *aktu, protein lensa men(adi tidak larut air dan beragregasi untuk membentuk partikel#partikel yang sangat besar yang dapat meme)ahkan )ahaya yang akhirnya mengakibatkan kekeruhan lensa Beberapa peneliti berusaha untuk mengkaitkan prosentase yang lebih tinggi terhadap protein tidak larut air ini dengan peningkatan kekeruhan lensa, tetapi hipotesis ini masihlah kontro6ersial Haruslah diperhatikan bah*a fraksi protein tak larut air meningkat dengan *aktu sekalipun lensa masih tetap (ernih +on6ersi protein larut air men(adi tak larut air tampak sebagai proses yang normal pada maturasi serat lensa, tetapi dapat men(adi lebih )epat hingga berlebih pada lensa katarak tertentu !<,",' Pada katarak dengan pen)oklatan nukleus lensa !katarak brunesen', peningkatan kadar protein tak larut air berkorelasi dengan dera(at kekeruhan Pada katarak brunesen yang (elas, sebanyak &-= protein inti adalah tak larut air Perubahan#perubahan terkait dengan oksidasi (uga ter(adi termasuk protein#protein dan formasi ikatan disulfida protein#glutation, penurunan glutation terreduksi dan peningkatan glutation disulfida 1ethionin terkait membran dan sistein (uga ikut teroksidasi !<' Pada lensa yang muda, kebanyakan protein tak larut dapat larut dalam urea Dengan usia dan se)ara nyata pembentukan katarak brunesen, protein inti men(adi tidak larut dalam urea 4ebagai tambahan pada peningkatan ikatan disulfida, protein#protein inti ini berikatan silang dengan ikatan#ikatan non disulfida >raksi protein tak larut ini mengandung protein kuning#)oklat yang ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi pada katarak nuklear !<' Penurunan +onsentrasi Protein Lensa 4eiring Usia 4ekali pun usia memba*a penurunan se)ara alami dari (umlah protein absolut dalam lensa, reduksi ini tampak semakin (elas pada katarak 4ebagaimana disebutkan pada permulaan, prosentase protein larut (uga menurun, dari sekitar

%"= pada lensa tranparan de*asa hingga 3",/= pada lensa katarak Hilangnya protein dari lensa mungkin dikarenakan lolosnya kristalin intak melalui kapsula lensa Peneliti telah menemukan bah*a, pada katarak kortikal, kadar kristalin alpha dan gamma dalam a7ueous humor meningkat, pada katarak nuklear, kadar kritalin alpha meningkat sedangkan kristalin gamma menurun !<,",' +eseimbangan Air dan +ation Lensa Aspek fisiologi terpenting dari lensa adalah mekanisme yang mengatur keseimbangan air dan elektrolit lensa yang sangat penting untuk men(aga ke(ernihan lensa !%,",,"$' +arena ke(ernihan lensa sangat tergantung pada komponen struktural dan makromolekular, gangguan dari hidrasi

lensa dapat menyebabkan kekeruhan lensa 2elah ditentukan bah*a gangguan keseimbangan air dan elektrolit bukanlah gambaran dari katarak nuklear Pada katarak kortikal, kadar air meningkat se)ara bermakna !%' Lensa manusia normal mengandung sekitar ..= air dan $$= protein dan perubahan ini ter(adi sedikit demi sedikit dengan bertambahnya usia +orteks lensa men(adi lebih terhidrasi daripada nukleus lensa 4ekitar 3= 6olume lensa adalah air yang ditemukan diantara serat#serat lensa di ruang ekstraselular +onsentrasi natrium dalam lensa dipertahankan pada ,-m1 dan konsentrasi kalium sekitar ",- m1 +adar natrium dan kalium disekeliling a7ueous humor dan 6itrous humor )ukup berbeda0 natrium lebih tinggi sekitar "3- m1 di mana kalium sekitar 3 m1 !%' Epitelium Lensa0 2empat 2ransport Aktif Lensa bersifat dehidrasi dan memiliki kadar ion kalium !+?' dan asam amino yang lebih tinggi dari a7ueous dan 6itreus di sekelilingnya 4ebaliknya, lensa mengandung kadar ion natrium !Na?' ion klorida !@l#' dan air yang lebih sedikit dari lingkungan sekitarnya +eseimbangan kation antara di dalam dan di luar lensa adalah hasil dari kemampuan permeabilitas membran sel#sel lensa dan aktifitas dari pompa !Na?, +?#A2Pase' yang terdapat pada membran sel dari epitelium lensa dan setiap serat lensa >ungsi pompa natrium beker(a dengan )ara memompa ion natrium keluar dari dan menarik ion kalium ke dalam 1ekanisme ini tergantung dari peme)ahan A2P dan diatur oleh en8im Na?, +?#A2Pase +eseimbangan ini mudah sekali terganggu oleh inhibitor spesifik A2Pase ouabain Inhibisi dari Na?, +?#A2Pase akan menyebabkan hilangnya keseimbangan kation dan meningkatnya kadar air dalam lensa Aalaupun Na?, +?#A2Pase terhambat pada perkembangan katarak kortikal masih belum (elas, beberapa studi telah menun(ukkan penurunan aktifitas Na?, +?#A2Pase, sedangkan yang lainnya tidak tidak

menun(ukkan perubahan apa pun Dan studi#studi lain telah memperkirakan bah*a permeabilitas membran meningkat seiring dengan perkembangan katarak !%' 2eori +ebo)oran Pompa +ombinasi dari transport aktif dan permeabilitas membran seringkali dihubungkan dengan sistem kebo)oran pompa pada lensa 1enurut teori ini, kalium dan molekul#molekul lainnya seperti asam#asam amino se)ara aktif ditransport ke anterior lensa melalui epitelium +emudian berdifusi keluar dengan gradien konsentrasi melalui belakang lensa di mana tidak ada sistem transport aktif +ebalikannya, natrium mengalir melalui belakang lensa dengan sebuah gradien konsentrasi yang kemudian se)ara aktif diganti dengan kalium melalui epitelium 4ebagai pendukung teori ini, gradien anteroposterior ditemukan untuk kedua ionB kalium terkonsentrasi pada anterior lensa, dan natrium pada bagian posterior lensa +ondisi seperti pendinginan yang menginaktifasi pompa en8im tergantung energi (uga mengganggu gradien ini +ebanyakan aktifitas dari Na?, +?#A2Pase ditemukan dalam epitelium lensa 1ekanisme transport aktif akan hilang (ika kapsul dan epitel yang menempel dilepaskan dari lensa, tetapi tidak ter(adi (ika hanya kapsul sa(a yang dilepaskan melalui degradasi en8imatik dengan kolagenase 2emuan#temuan ini mendukung hipotesis yang menyatakan bah*a epitel adalah tempat primer untuk transport aktif pada lensa Natrium dipompakan keluar menu(u a7ueous humor dari dalam lensa, dan kalium masuk dari a7ueous humor ke dalam lensa Pada permukaan posterior lensa !lensa#6itreus', perpindahan solut ter(adi se)ara difusi pasif 5an)angan asimetris ini bermanifestasi dalam gradien natrium dan kalium sepan(ang lensa dengan konsentrasi kalium lebih tinggi pada depan

lensa dan lebih rendah di belakang lensa Dan kebalikannya konsentrasi natrium lebih tinggi di belakang lensa daripada di depan Banyak dari difusi#difusi ini ter(adi pada lensa melalui sel ke sel dengan taut antar sel resistensi rendah !%' +eseimbangan kalsium (uga penting untuk lensa +adar normal intrasel dari kalsium dalam lensa adalah sekitar $- m1 di mana kadar kalsium di 1 Besarnya gradien transmembran kalsium dipertahankanluar mendekati , se)ara primer oleh pompa kalsium !@a,?#A2Pase' 1embran sel lensa (uga se)ara relatif tidak permeabel terhadap kalsium Hilangnya homeostasis kalsium akan sangat mengganggu metabolisme lensa Peningkatan kadar kalsium dapat berakibat pada beberapa perubahan meliputi tertekannya metabolisme glukosa, pembentukan agregat protein dengan berat molekul tinggi dan akti6asi protease yang destruktif !%'

2ransport membran dan permeabilitas (uga termasuk perhitungan yang penting pada nutrisi lensa 2ransport aktif asam#asam amino mengambil tempat pada epitel lensa dengan mekanisme tergantung pada gradien natrium yang diba*a oleh pompa natrium :lukosa memasuki lensa melalui sebuah proses difusi terfasilitasi yang tidak se)ara langsung terhubung oleh sistem transport aktif Hasil buangan metabolisme meninggalkan lensa melalui difusi sederhana Berbagai ma)am substansi seperti asam askorbat, myo#inositol dan kolin memiliki mekanisme transport yang khusus pada lensa !%' +atarak senilis +atarak senilis adalah penyakit gangguan penglihatan yang di)irikan oleh penebalan yang ber(alan se)ara lambat dan progresif Ini adalah penyebab utama dari kebutaan di dunia saat ini Namun tidak begitu adanya, mengingat morbiditas 6isual ini diba*a oleh katarak terkait usia yang re6ersibel Dengan deteksi dini, pengamatan seksama dan *aktu inter6ensi bedah dapat dilakukan untuk katarak senilis dan tatalaksananya !/' Perkins !"&%/' dalam penelitiannya menyimpulkan bah*a katarak lebih sering di(umpai pada *anita daripada pria !".' Patofisiologi +atarak 4enilis Patofisiologi dibalik katarak senilis adalah kompleks dan perlu untuk dipahami Pada semua kemungkinan, patogenesisnya adalah multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara proses fisiologis yang berma)am#ma)am 4ebagaimana lensa berkembang seiring usia, berat dan ketebalan terus meningkat sedangkan daya akomodasi terus menurun Dengan lapisan#lapisan kortikal yang baru ditambahkan dalam pola konsentrik, nukleus sentral tertekan dan mengeras pada sebuah proses yang disebut sklerosis nuklear !/' Berma)am mekanisme memberikan kontribusi pada hilangnya ke(ernihan lensa Epitelium lensa diper)aya mengalami perubahan seiring dengan pertambahan usia, se)ara khusus melalui penurunan densitas epitelial dan differensiasi abberan dari sel#sel serat lensa 4ekali pun epitel dari lensa katarak mengalami kematian apoptotik yang rendah di mana menyebabkan penurunan se)ara nyata pada densitas sel, akumulasi dari serpihan#serpihan ke)il epitelial dapat menyebabkan gangguan pembentukan serat lensa dan homeostasis dan akhirnya mengakibatkan hilangnya ke(ernihan lensa Lebih (auh lagi, dengan bertambahnya usia lensa, penurunan ratio air dan mungkin metabolit larut air dengan berat molekul rendah dapat memasuki sel pada nu)leus

lensa melalui epitelium dan korteks yang ter(adi dengan penurunan transport air, nutrien dan antioksidan !/' 4en, dkk !,--%' melakukan penelitian dengan mengukur kadar homosistein plasma, folat dan 6itamin B", pada penderita katarak senilis Ia mendapatkan hasil turunnya kadar folat (ika dibandingkan dengan kontrol !pC-,--"' Penelitian ini didasarkan pada pemikiran peningkatan kadar homosistein yang terlihat pada berbagai ma)am penyakit mata seperti eDfoliation syndrome, glaukoma, dan katarak Di mana telah diusulkan bah*a homosistein adalah oksidan yang penting dalam patogenesis perlukaan sel#sel endotelial dan penyakit atherosklerotik 6askular ;itamin B", dan folat terlibat dalam metabolisme metilasi homosistein men(adi metionin 4en dkk menyimpulkan peningkatan plasma homosistein terkait dengan menurunnya kadar plasma dari folat dan 6itamin B", di mana sangat mungkin me(adi akar permasalahan penyebab dari patogenesis katarak !"/' +emudian, kerusakan oksidatif pada lensa pada pertambahan usia ter(adi yang mengarahkan pada perkembangan katarak senilis Berbagai ma)am studi menun(ukkan peningkatan produk oksidasi !)ontohnya glutation teroksidasi' dan penurunan 6itamin antioksidan serta en8im superoksida dismutase yang menggaris#ba*ahi peranan yang penting dari proses oksidatif pada kataraktogenesis !/' 1ekanisme lainnya yang terlibat adalah kon6ersi sitoplasmik lensa dengan berat molekul rendah yang larut air men(adi agregat berat molekul tinggi larut air, fase tak larut air dan matriks protein membran tak larut air Hasil perubahan protein menyebabkan fluktuasi yang tiba#tiba pada indeks refraksi lensa, menyebarkan (aras#(aras )ahaya dan menurunkan ke(ernihan Area lain yang sedang diteliti meliputi peran dari nutrisi pada perkembangan katarak se)ara khusus keterlibatan dari glukosa dan mineral serta 6itamin !/' +atarak senilis dapat diklasifikasikan men(adi tiga bentuk utama0 katarak nuklear, katarak kortikal, dan katarak subkapsular posterior +atarak nuklear merupakan hasil dari sklerosis nuklear yang berlebih dan penguningan dengan konsekuensi pembentukan opasitas lentikular sentral Pada beberapa keadaan, nukleus dapat men(adi sangat padat dan )oklat, yang disebut sebagai katarak brunesen Perubahan katarak komposisi ionik pada korteks lensa dan perubahan hidrasi pada serat lensa menghasilkan katarak kortikal Pembentukan kekeruhan seperti plak dan granular ter(adi pada korteks sub#kapsular posterior yang seringkali mengarah pada katarak sub kapsular

BAB I; DIABE2E4 DAN +A2A5A+ 1etabolisme +arbohidrat pada Lensa 2u(uan utama dari metabolisme lensa adalah untuk mempertahankan ke(ernihannya Pada lensa, energi yang diperoleh bergantung pada metabolisme glukosa :lukosa memasuki lensa dari a7ueous baik melalui difusi sederhana dan melalui difusi terfasilitasi +ebanyakan glukosa ditranportasi ke dalam lensa dalam bentuk terfosforilasi !:lukosa . fosfat E:.P' oleh en8im heksokinase 5eaksi ini adalah <-#"--- kali lebih lambat dari en8im#en8im lainnya yang terlibat dalam proses glikolisis lensa dan ke)epatan terbatas pada lensa +etika terbentuk, :.P memasuki satu dari dua (alur metabolismeB glikolisis anaerobik atau heksosa monofosfat shunt !H1P shunt' !$,<' Falur yang lebih aktif dari antara kedua metabolisme ini adalah glikolisis anaerobik yang menyediakan ikatan fosfat energi tinggi terbanyak yang dibutuhkan untuk metabolisme lensa

>osforilasi terkait substrat dari ADP men(adi A2P ter(adi pada dua langkah sepan(ang (alan menu(u laktat Langkah dengan ke)epatan yang terbatas pada (alur glikolitik sendiri ada pada tahap en8im fosfofruktokinase yang diatur melalui umpan balik oleh produk metabolik dari (alur glikolitik Falur ini lebih sedikit efisiensinya dibandingkan dengan glikolisis aerobik yang menghasilkan $. molekul A2P dari setiap molekul glukosa yang dimetabolisme dalam siklus asam sitrat !metabolisme oksidatif' +arena tekanan oksigen yang rendah dalam lensa, hanya sekitar $= dari glukosa lensa yang mele*ati siklus asam sitrat +rebs untuk memproduksi A2P0 bagaimana pun, *alau hanya dengan metabolisme aerobik yang rendah ini menghasilkan ,3= dari A2P lensa Bah*a lensa tidak tergantung pada oksigen telah didemonstrasikan dengan kemampuannya untuk men(aga metabolisme normal dalam lingkungan nitrogen Dengan diberikan se(umlah glukosa, lensa in 6itro yang anoksik tetap (ernih dan utuh, memiliki kadar normal dari A2P serta mempertahankan akti6itas pompa asam amino dan ion Bagaimana pun, ketika glukosa menurun atau kekurangan, lensa tidak dapat mempertahankan fungsi#fungsi ini dan men(adi keruh pada beberapa (am sekalipun terdapat oksigen

Falur yang kurang aktif untuk utilisasi :.P dalam lensa adalah heksosa monofosfat shunt !H1P shunt', yang dikenal (uga dengan istilah (alur pentosa monofosfat 4ekitar 3= dari glukosa lensa dimetabolisme melalui (alur ini sekalipun (alur ini distimulasi oleh peningkatan kadar glukosa Aktifitas H1P shunt lebih tinggi pada lensa dibandingkan dengan (aringan lain dalam tubuh namun perannya masih belum bisa ditetapkan 4ebagaimana pada (aringan lain, dapat menghasilkan NADPH !sebuah bentuk terreduksi dari ni)otinamide#adenine dinu)leotide phosphate !NADP'' untuk biosintesis asam lemak dan biosintesis ribosa untuk nukleotida Fuga dihasilkan pula NADPH untuk aktifitas glutation reduktase dan aldose reduktase dalam lensa Produk karbohidrat dari H1P shunt memasuki (alur glikolisis dan dimetabolisme men(adi laktat Aldose reduktase adalah en8im kun)i pada (alur lain metabolisme karbohidrat pada lensa, yaitu (alur sorbitol En8im ini telah ditemukan memainkan peranan yang penting dalam pembentukan katarak GgulaH !<' 4ebagaimana ditekankan sebelumnya, reaksi heksokinase memiliki keterbatasan dalam memfosforilasi glukosa dalam lensa dan dihambat oleh mekanisme umpan balik dari produk glikolisis 1aka, ketika kadar glukosa meningkat dalam lensa sebagaimana ter(adi pada keadaan hiperglikemia, (alur sorbitol teraktifasi lebih daripada glikolisis dan ter(adi akumulasi dari sorbitol 4orbitol dimetabolisme men(adi fruktosa oleh en8im polyol dehidrogenase 4ayangnya en8im ini memilii affinitas yang rendah yang berarti sorbitol akan terakumulasi sebelum mengalami metabolisme labih lan(ut +arakteristik ini, dikombinasikan dengan kurangnya permeabilitas lensa terhadap sorbitol berakhir dengan retensi sorbitol dalam lensa !<' 2ingginya rasio NADPHINADH mendorong reaksi ke arah tersebut, akumulasi dari NADP yang ter(adi sebagai konsekuensi terakti6asinya (alur sorbitol dapat menyebabkan stimulasi H1P shunt yang ter(adi pada peningkatan glukosa lensa !&,"-' Berdasarkan bukti#bukti yang ada, stress oksidatif yang ter(adi pada diabetes terkait dengan penurunan kadar glutation dan penurunan kadar NADPH, dengan demikian peningkatan sorbitol dehidrogenase terkait dengan terganggunya kadar NAD? yang bermanifestasi sebagai modifikasi protein oleh glikosilasi non#en8imatik pada protein lensa !&,"$' Penelitian yang dilakukan oleh 1urya, dkk !,--.' menun(ukkan bah*a kadar +atalase pada pasien dengan katarak diabetik ".,/, unitIml sedangkan pada katarak senilis

3<,,< unitIml +adar 4uperoksida dismutase pada katarak diabetik &,"& unitIml dan kadarnya pada katarak senilis adalah ,3,$- unitIml Penelitian ini menyimpulkan penurunan kadar superoksida dismutase dan katalase yang lebih rendah se)ara nyata dan bermakna pada pasien dengan katarak diabetik dibandingkan dengan katarak senilis 1aurya menyimpulkan peran dari en8im#en8im antioksidan yang penting dalam melindungi (aringan dari perusakan oksidatif serta stress oksdatif termasuk faktor penting yang berperan dalam patogenesis katarak diabetik Penggunaan antioksidan akan menghambat atau men)egah pembetukan katarak !"$' 4e(alan dengan sorbitol, fruktosa (uga terbentuk pada lensa dengan kadar tinggi glukosa Bersamaan, kedua gula tersebut meningkatkan tekanan osmotik di dalam lensa dan menarik air Pada mulanya pompa tergantung energi pada lensa mampu mengkompensasi, tetapi akhirnya kemampuan tersebut terle*ati Hasilnya adalah pembengkakan serat, rusaknya arsitektur sitoskeletal normal dan kekeruhan lensa !$' Diabetes 1ellitus dan +atarak Diabetes 1ellitus dapat mempengaruhi ke(ernihan lensa, indeks refraksi dan amplitudo akomodatifnya Dengan peningkatan kadar gula darah, (uga diikuti dengan kadar glukosa pada a7ueous humor +arena kadar glukosa darah yang meningkat pada a7ueous humor dan glukosa masuk ke dalam lensa melalui difusi, kadar glukosa dalam lensa akan meningkat Beberapa molekul glukosa akan diubah men(adi sorbitol oleh en8im aldose reduktase yang tidak dimetabolisme namun menetap di dalam lensa !$' Bersama dengan itu, tekanan osmotik akan menyebabkan influks dari air ke dalam lensa yang menyebabkan pembengkakan dari serat#serat lensa +eadaan hidrasi lentikular dapat mempengaruhi kemampuanIkekuatan refraksi lensa Pasien dengan diabetes dapat menun(ukkan perubahan kekuatan refraksi berdasarkan perubahan pada kadar glukosa darah yang dialami Perubahan miopik akut dapat mengindikasikan diabetes yang tidak terdiagnosa atau diabetes yang tidak terkontrol 4eorang dengan diabetes memiliki amplitudo akomodasi yang menurun dibandingkan dengan kontrol pada usia yang sama, dan presbiopia dapat ter(adi pada usia yang lebih muda pada pasien dengan diabetes (ika dibandingkan dengan yang tidak mengalaminya !$' Bukti#bukti eksperimental memperkirakan bah*a glikosilasi dari protein lensa terlibat dalam proses pembentukan katarak :likosilasi dari protein lensa, di mana glukosa atau gula#gula terreduksi lainnya bereaksi dengan grup e#amino dari residu lisin atau amino terminal dari protein yang mengakibatkan pembentukan basa s)hiff Basa s)hiff ini akan mengalami perombakan se)ara Amadori melalui reaksi 1aillard yang akan menghasilkan ketoamin yang lebih stabil dari produk Amadori !produk glikosilasi a*al' Pada tahap akhir, produk Amadori mengalami dehidrasi dan perombakan kembali untuk membentuk lintas silang antara protein terkait, menghasilkan agregat protein atau Ad6an)ed :ly)o)ylated End Produ)ts !A:Es' !""' Fansirani !,--/' melakukan eksperimen dengan mengumpulkan nukleus#nukleus lensa dari setiap operasi E@@E !EDtra @apsular @atara)t EDtra)tion' dengan membandingkan kadar glukosa, protein dan protein terglikosilasi antara dua populasi0 katarak senilis dengan diabetes, dan katarak senilis non#diabetik dari berbagai stadium Dan hasil yang ditemukan adalah kadar protein terglikosilasi tertinggi ditemukan pada katarak senilis hipermatur !pC-,-"' ketika dibandingkan dengan katarak tipe lainnya termasuk dengan yang diabetik Fansirani dkk menyimpulkan bah*a kadar glukosa yang tinggi bukanlah satu#satunya faktor penentu dalam glikosilasi protein lensa !""' +atarak adalah penyebab tersering dari gangguan penglihatan pada pasien dengan diabetes 4ekali pun terdapat dua tipe dari katarak yang telah ditemukan, pola#pola yang lain dapat pula di(umpai +atarak diabetik se(ati, atau sno*flake )atara)t, terdiri dari perubahan bilateral tersebar pada subkapsular lensa se)ara tiba#tiba, dan progresi akut yang se)ara tipikal terdapat

pada usia muda dengan diabetes mellitus yang tidak terkontrol +ekeruhan multipel abu#abu putih subkapsular dengan penampilan seperti serpihan#serpihan sal(u terlihat pada korteks anterior superfisial dan korteks posterior lensa ;akuol#6akuol dapat tampak pada kapsula lensa dan )elah#)elah terbentuk pada korteks Intumesensi dan maturitas dari katarak kortikal akan mengikuti setelahnya Para peneliti per)aya bah*a perubahan metabolik yang mendasari terkait dengan katarak diabetik se(ati pada manusia sangat dekat sekali dengan katarak sorbitol yang dipela(ari pada binatang per)obaan 4ekalipun katarak diabetik se(ati (arang sekali ditemukan pada praktek klinis saat ini, segala ma)am bentuk maturitas progresif dari katarak bilateral kortikal pada anak atau de*asa muda harus mengingatkan para dokter akan kemungkinan diabetes mellitus 5esiko tinggi pada katarak terkait usia pada pasien dengan diabetes dapat merupakan akibat dari akumulasi sorbitol dalam lensa, perubahan hidrasi lensa, dan peningkatan glikosilasi protein pada lensa diabetik +lein, dkk menyimpulkan dalam penelitiannya, bah*a diabetes mellitus terkait dengan insidens selama dari 3 tahun dari katarak kortikal dan subkapsular posterior dan dengan progresi dari beberapa kekeruhan minor kortikal dan subkapsular posterior lensa Perubahan#perubahan ini terkait dengan kadar glukosa darah 4edangkan Perkins !"&%/' mendapatkan selisih prosentase sedikit lebih banyak pada subkapsular posterior dengan diabetes sebanyak "",$= dan ""= pada non#diabetik

BAB ; +E4I1PULAN +atarak adalah suatu keadaan di mana lensa mata yang biasanya kernih dan bening men(adi keruh Pada dasarnya katarak dapat ter(adi karena proses kongenital atau karena proses degeneratif Proses degeneratif pada lensa disebut (uga katarak senilis yang dibagi men(adi empat stadium0 Insipien, Immatur, 1atur dan Hipermatur Begitu banyak yang faktor yang mempengaruhi timbulnya katarak ini, diabetes adalah salah satu faktor penyakit sistemik yang memper)epat proses timbulnya katarak ini Dasar patogenesis yang melandasi penurunan 6isus pada katarak dengan diabetes adalah teori akumulasi sorbitol yang terbentuk dari aktifasi kalur polyol pada keadaan hiperglikemia yang mana lebih lan(ut akumulasi sorbitol dalam lensa akan menarik air kedalam lensa sehingga ter(adi hidrasi lensa yang merupakan dasar patofisiologi ternetuknya katarak Dan yang kedua adalah teori glikosilasi protein, dimana adanya A:E akan mengganggu struktur sitoskeletal yang dengan sendirinya akan berakibat pada turunnya ke(ernihan lensa Jperasi katarak dengan diabetes bukanlah suatu kontraindikasi (ika terdapat retinopati diabetik non#proliferatif Didasarkan dari penelitian#penelitian yang ada, didapatkan bah*a teknik fakoemulsifikasi memberikan hasil yang lebih baik dengan komplikasi post operasi yang lebih ke)il Pada adanya retinopati diabetik lan(ut, pasien perlu di(elaskan akan kemungkinan hasil postoperasi yang tidak optimal