Anda di halaman 1dari 13

BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT JANUARI 2014

INFLAMMATORY BOWEL DISEASE (IBD)

OLEH Sharifah Faseha Abd Halim C111 08 773 PEMBIMBING dr.Irwandi dr.Riyai dr. Erfina SUPERVISOR Prof. Chairuddin Rasjad, MD. Ph.D

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU BEDAH KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2014

INFLAMMATORY BOWEL DISEASE

PENDAHULUAN Inflammatory Bowel Disease (IBD) merupakan kondisi dimana terjadinya proses inflamasi pada dinding usus yang bersifat idiopatik. Yang termasuk sebagai IBD itu adalah ulcerative colitis (UC) dan Crohns disease (CD).1,2,3 Dan bila sulit membedakan kedua hal tersebut, maka dimasukkan dalam kategori indeterminate colitis. Keduanya terjadi akibat reaksi imun lokal yang abnormal terhadap flora normal di usus, dan kemungkinan juga terjadinya proses autoimun pada individu dengan pengaruh genetiknya.2 Kondisi lain seperti infective atau ischaemic colitis atau enteritis tidak termasuk sebagai IBD. Walaupun telah ada populasi genetik dan biologi molecular, yang banyak membantu ilmuan kedokteran dalam memahami pathogenesis penyakit inflamasi usus ini, penyebab dari kedua kondisi tersebut tetap belum diketahui.1,2,3

ETIOPATOGENESIS Hingga saat ini, etiologi pasti IBD belum sepenuhnya dimengerti. Banyak teori diajukan namun belum ada kausa tunggal yang diketahui sebagai penyebab IBD. Salah satu teori yang diyakini adalah peranan mediasi imunologi pada individu yang memang rentan secara genetis. IBD diyakini merupakan hasil respons imun yang menyimpang dan berkurangnya toleransi pada flora normal usus yang berakibat terjadinya inflamasi kronik pada usus. Kondisi ini didukung dengan adanya temuan antibodi terhadap antigen microbial dan diidentifi kasinya gen CARD15 sebagai gen penyebab kerentanan terjadinya IBD.7 Secara genetis, disebutkan bahwa adanya mutasi pada gen NOD2 (gen IBD1) atau CARD15 (gen NOD2) di kromosom 16 dapat dikaitkan dengan terjadinya IBD (terutama untuk PC). Meski demikian, gen gen ini tidak disebutkan bersifat kausal terhadap IBD. Secara konsep, patogenesis IBD dapat digambarkan seperti pada gambar 1.

Gambar 1 GAMBARAN KLINIS Secara umum, keluhan IBD berupa diare kronik dengan atau tanpa darah, dan nyeri perut. Selain itu, kerap dijumpai manifestasi di luar saluran cerna (ekstraintestinal), seperti artritis, uveitis, pioderma gangrenosum, eritema nodosum, dan kolangitis. Sedangkan secara sistemik, dapat dijumpai gambaran sebagai dampak keadaan patologis yang ada seperti anemi, demam, gangguan nutrisi. Satu hal yang penting diingat adalah pola perjalanan klinis IBD bersifat kronik-eksaserbasi-remisi atau secara umum ditandai oleh fase aktif dan fase remisi. Pemahaman atas proses inflamasi yang terjadi pada patogenesis IBD akan membantu kita mengenali gambaran klinis untuk masing-masing entitas IBD. Misalnya kita akan menemui keluhan yang lebih seragam pada UC dibandingkan CD karena distribusi anatomis saluran cerna yang terlibat pada UC adalah kolon sedangkan pada CD lebih bervariasi. Perbedaan gambaran klinis dan patologis antara UC dan CD disajikan dalam tabel 1 dan tabel 2. Namun perlu diingat bahwa terkadang sulit membedakan gambaran IBD dengan penyakit lain yang kerap ditemukan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia yakni kolitis infeksi dan tuberculosis usus. Secara umum, terdapat kriteria klinik sebagai gambaran aktivitas penyakit untuk keperluan pedoman keberhasilan pengobatan maupun penetapan fase remisi yakni Disease Activity Index (DAI) yang didasarkan pada frekuensi diare, ada

tidaknya perdarahan per anum, penilaian kondisi mukosa kolon pada pemeriksaan endoskopi serta penilaian keadaan umum pasien.

Ulcerative Colitis Ulcerative colitis (UC) adalah penyakit kronik mengenai mukosa colon dan rectum, sebabnya tidak diketahui tetapi diduga berhubungan dengan kelainan sistem imunitas di dalam saluran cerna. Penyakit ini cenderung mengalami remisi dan eksaserbasi.3 UC terbatas pada mukosa dan submukosa, dimulai dari rectum ke proksimal sampai di ileoceacal junction.1,2,3 Sama seperti Chrons disease (CD), UC juga merupakan gangguan sistemik yang didapatkan pada sesetengah orang dengan disertai dengan polyarthritis, ankylosing spondylitis, uveitis, erythema nodosum dan penyakit yang melibatkan hepar (pericholangitis dan sclerosing cholangitis primer).

Epidemiologi Di Amerika dan negara negara barat yang lain, didapatkan ulcerative colitis (UC) adalah lebih sering terjadi dibanding dengan Chrons disease (CD). Insidens yang terjadi adalah 7 per 100,000 populasi. Tetapi, jarang didapatkan di Negara Negara Asia, Afrika, dan Amerika Timur.

Etiologi Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun faktor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus, diduga berperan dalam terjadinya kolitis ulserativa. Selain itu ada juga beberapa fakor yang dicurigai menjadi penyebab terjadinya colitis ulseratif diantaranya adalah : hipersensitifitas terhadap factor lingkungan dan makanan, interaksi imun tubuh dan bakteri yang tidak berhasil (awal dari terbentuknya ulkus), pernah mengalami perbaikan pembuluh darah, dan stress.

Patogenesis Pada kondisi yang fisiologis sistem imun pada kolon melindungi mukosa kolon dari gesekan dengan feses saat akan defekasi, tetapi karena aktifitas imun yang berlebihan pada colitis maka system imunnya malah menyerang sel-sel dikolon sehingga menyebabkan terjadi ulkus

Ulkus terjadi di sepanjang permukaan dalam (mukosa) kolon atau rectum yang menyebabkan darah keluar bersama feses. Darah yang keluar biasanya bewarna merah, karena darah ini tidak masuk dalam proses pencernaan tetapi darah yang berasal dari pembuluh darah didaerah kolon yang rusak akibat ulkus. Selain itu ulkus yang lama ini kemudian akan menyebabkan peradangan menahun sehingga terbentuk pula nanah (pus). Ulkus dapat terjadi pada semua bagian kolon baik, pada sekum, kolon ascenden, kolon transversum maupun kolon sigmoid.

Tanda dan Gejala Gejala yang sering timbul pada penyakit colitis ulseratif ini adalah : 1. Nyeri perut 2. Diare berdarah,berlendir dan bernanah 3. Anemia 4. Turunnya berat badan Diagnosa Untuk mengetahui pasti diagnosis penyakit ini adalah dengan cara melakukan beberapa tes.

Tes pertama yang dilakukan adalah anamnesis dan pemeriksaaan fisik tentunya, pada pemeriksaan fisik , periksalah kekauan dari otot-otot abdominal kemudian perhatikan Apakah pasien demam dan dehirasi jika ya, kemungkinan pasien mengalami gejala awal ulkus

Pemeriksaan feses (berdarah, lender dan nanah) Pada pemeriksaan laboratorium terlihat anemic dan malnutrisi Sigmoidoskopi, cara yang paling baik yaitu dengan cara memasukan kamera kedalam saluran cerna, dan tampaklah bagian mana yang telah menganai ulkus

Penyakit Crohn Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan menahun pada dinding usus. Enteritis regional, ileokolitis, atau Penyakit Crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomatosa kronik pada saluran cerna yang sering terjadi berulang. Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.

Etiologi Etiologi Penyakit Crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga kemungkinan penyebabnya, yaitu : 1. Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh. 2. Infeksi. 3. Makanan. Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional diduga merupakan reaksi hipersensitivitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketahui. Teori-teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang dtemukan pada jamur dan tuberkulosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menrik antara enteritis regional dan kolitis ulseratif. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi di luar saluran cerna yaitu uveitis, artritis dan lesi-lesi kulit yang identik.

Patofisiologi Enteritis regional umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi dapat terjadi kapan saja selama hidup. Keadaan ini sering terihat pada populasi 50-80 tahun. Meskipun ini dapat terjadi dimanasaja disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum yang serin terkena adalah ilium distal dan kolon. Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan subkutan yang meluas keseluruh lapisan dimding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan fistula, fisura, dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi kedalaman peritonium, lesi (ulkus) tidak pada kontak terus menerus, granuloma terjadi pada setengah kasus. Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan Coblestone. Dengan

berlanjutnya penyakit, dinding usus menebal dan menjadi tibrotit, dan lumen usus menyempit.

Patogenesis Ileum terminal terserang pada sekitar 80% kasus enteritis regional. Pada sekitar 35% kasus lesi-lesi terjadi pada kolon. Esofagus dan lambung lebih jarang terserang. Dalam beberapa hal terjadi lesi melompat yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah-daerah usus normal sepanjang beberapa inci atau kaki. Lesi diduga mulai pada kelenjar limfe dekat usus halus yang akhirnya menyumbat aliran saluran limfe. Selubung submukosa usus jelas menebal akibat hiperplasia jaringan limfoid dan limfedema. Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal sedemikian rupa sehingga kaku seperti slang kebun, lumen usus menyempit, sehingga hanya sedikit dilewati barium, menimbulkan string sign yang terlihat pada radiogram. Seluruh dinding usus terserang. Mukosa seringkali meradang dan bertukak disertai eksudat yang putih abu-abu.

Tanda Dan Gejala Para penderita mengeluh mengenai sakit perut yang berulang-ulang, sering mendapat serangan diare, atau sebaliknya, susah buang air besar, kadang-kadang panas, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan. Perdarahan per anum sering disebabkan radang pada kolon.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses). Bila Penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran

pencernaan, penderita juga bisa mengalami :

1. peradangan sendi (artritis). 2. peradangan bagian putih mata (episkleritis). 3. luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa). 4. nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum). 5. luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum). Jika Penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita masih bisa mengalami : 1. peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa). 2. peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis). 3. peradangan di dalam mata (uveitis) . 4. peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer). Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali. Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari Penyakit Crohn, Gejala-gejala Penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu : 1. Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan 2. Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus, pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah 3. Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan kelemahan menahun 4. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan. Komplikasi

Pada kasus yang menahun, timbul striktura yang menyebabkan obstruksi, fistel-fistel antara usus dan usus kecil atau antara usus dan kandung kemih atau fistel antara usus dan kulit. Di sekitar anus terdapat fistel-fistel, fisur-fisur dan abses-abses. Perdarahan yang banyak atau perforasi jarang terjadi. Begitupula jarang terjadi dilatasi akut. Karsinoma kolon dulu diduga tidak begitu sering akan tetapi sekarang kasus. Karsinoma lebih sering ditemukan pada kolitis Crohn. Kadang-kadang timbul hiperoxaluria dan batu oxalat. Proses radang dapat menjalar ke ureter yang menyebabkan pyelonefritis yang berulang, stenosis pada ureter dan hidronefrosis.

Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit. Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi Penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya : 1. anemia. 2. peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih. 3. kadar albumin yang rendah 4. tanda-tanda peradangan lainnya. Barium enema bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk Penyakit Crohn pada usus besar. Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Pengobatan Pada dasarnya pengobatan medis-konservatif dengan diit dan obat-obat lebih baik daripada pembedahan. Diit :

Makanan sebaiknya lunak, tidak merangsang, rendah lemak dan tinggi serat. Dahulu dianjurkan rendah serat, akan tetapi kemudian ternyata bahwa tinggi serat lebih baik. Rendah serat hanya diberikan bila ada steatorea atau ada striktura. Obat-obat : Kortikosteroid baik pada penyakit yang aktif. Dosis sama dengan kolitis ulserosa. Salazopyrin juga baik untuk penyakit yang aktif akan tetapi kurang memuaskan untuk pengobatan "maintenance". Azathioprine dapat dicoba pada mereka yang tidak menunjukkan perbaikan atau kambuhlagi dengan obat-obat lain. Metronidazole dapat memberikan hasil yang baik bila adasepsis. Laporan-laporan yang terakhir menyebutkan hasil yang memuaskan pada kasus dengan fistula. Fistula tersebut menutup setelah pengobatan dengan metronidazole. Dahulu,adanya fistel merupakan indikasi untuk operasi akan tetapisekarang metronidazole merupakan alternatif yang lebih baik. Pembedahan : Indikasi untuk pembedahan adalah : 1. 2. 3. 4. 5. kelainan-kelainan perianal obstruksi. bila ada perdarahan yang banyak. adanya keganasan. bila pengobatan dengan obat-obat dan diit tidak memberikan hasil yang baik. Pada pembedahan selalu dikerjakan suatu end-to-end anastomosis dan reseksi harus dibatasi pada bagian yang perlu diangkat saja. Tindakan bypass harus dihindari karena sering menimbulkan residif dan disertai dengan timbulnya banyak kumankuman dan malabsorpsi. Tiap tindakan pembedahan harus dilindungi oleh kortikosteroid

DAFTAR PUSTAKA 1. Williams N.S, Bulstrode C.J.K, OConnell P.R. Inflammatory Bowel Disease. In: Bailey & Loves Short Practice of Surgery 26th Edition; Taylor & Francis Group; 2013. p. 1144-1155 2. Kumar V, Abbas A.K, Fausto N, Mitchell R.N. Inflammatory Bowel Disease. In: Robbins Basic Pathology 8th edition; Saunders Elsevier; 2007. p. 611 616 3. Djojoningrat D. Inflammatory Bowel Disease: Alur Diagnosis dan Pengobatannya di Indonesia. Dalam: Sudoyo AW dkk, editor: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam JIlid I. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006.Hal 386-90. 4. Judge TA, Lichtenstein GR. Inflammatory Bowel Disease. In: Friedman SL, McQuaid KR, Grendell JH, editors. Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology. 2nd ed. International ed. McGraw-Hill; 2003. p. 108-30. 5. Avunduk C. Inflammatory Bowel Disease. Manual of Gastroenterology: Diagnosis and Therapy. 3rd ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2002. p. 239-56. 6. Yamada T. Inflammatory Bowel Disease. Handbook of Gastroenterology. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005. p. 357-73

Anda mungkin juga menyukai