Anda di halaman 1dari 9

ARTIKEL ILMIAH Pengembangan Materi Pembelajaran Ikatan Kimia Menggunakan Kerangka Kerja TPACK Untuk Meningkatkan HOTS Siswa

Kelas X DI SMA Negeri 1 Kota Jambi

Oleh : Fitrie Wulandini A1C108031

PRODI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI Januari 2013

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 1

Pengembangan Materi Pembelajaran Ikatan Kimia Menggunakan Kerangka Kerja TPACK Untuk Meningkatkan HOTS Siswa Kelas X DI SMA Negeri 1 Kota Jambi Oleh Fitrie Wulandini Pembimbing : Prof. Drs. H.Sutrisno, M.Sc, Ph.D dan Lince Muis, ST, MT Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguuan dan Ilmu Kependidikan Universitas Jambi ABSTRAK Menurut para guru dan siswa materi ikatan kimia dianggap sebagai salah satu materi yang sulit difahami. Kesulitan utamanya adalah siswa hanya bisa mengulangi definisi dari istilah-istilah yang ada dalam materi ikatan kimia, namun tidak benar-benar memahami arti sebenarnya, atau daapt dikatakan siswa belum mampu untuk menerapkan konsep ikatan kimia. Untuk mengatasi permasalahan pada materi pembelajaran ikatan kimia, maka diperlukan suatu pengembangkan materi yang menghasilkan produk berupa bahan ajar serta perangkat pembelajaran kimia berbasis Technology, Pedagogy and Content Knowledge (TPACK). Kemudian perangkat pembelajaran ini diterapkan dengan metode yang sesuai yaitu metode problem solving. Materi ini dikembangkan sesuai dengan kerangka kerja TPACK dimana capaian pembelajaran ingin ditingkatkan menuju High Order Thinking Skill (HOTS) dan dalam penerapan materi ini digunakan media pembelajaran yang akan menunjang materi agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Adapun perangkat pembelajaran ikatan kimia ini terdiri dari bahan ajar, Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap hasil pembelajaran ikatan kimia siswa, diperoleh 85,18% untuk topik kestabilan atom, 50% untuk ikatan ion, 80% pada topik ikatan kovalen. Ini artinya materi dan metode penerapannya yang dilakukan telah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka guru mata pelajaran kimia sebaiknya menggunakan bahan ajar dan perangkat pembelajaran kimia berbasis TPACK ini pada saat mengajar kimia terutama pada materi ikatan kimia, karena akan membuat siswa lebih tertarik dalam mempelajari kimia sehingga siswa lebih mudah memahami konsep materi yang diajarkan sehingga hasil belajar pun meningkat. Kata Kunci : Pengembangan Materi, TPACK, High Order Thinking Skill, Ikatan Kimia.

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 2

Pendahuluan Para guru kimia dan siswa memberikan tanggapan bahwa materi ikatan kimia dan konsep yang berhubungan dengan itu adalah salah satu topik yang sulit untuk di fahami (Goh and Chia, 1989). Walaupun siswa mampu dalam mengulangi definisi dari istilah-istilah yang ada dalam topik ikatan kimia, mereka mengalami masalah yaitu untuk benar-benar memahami arti fisis dari istilah tersebut sehingga muncul masalah dalam menerapkan konsep-konsep ikatan kimia itu dengan tepat. Hasil penelitian Ifa Rusdiana (2010) tentang kesulitan belajar materi ikatan kimia yang diperoleh menunjukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan cukup besar pada konsep kestabilan unsur (41,77%), struktur Lewis (43,77%),. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan pada konsep ikatan ion (63,66%), ikatan kovalen tunggal, rangkap dua dan rangkap tiga (68,66%), ikatan kovalen koordinasi (70,90%), pada konsep sifat-sifat kepolaran senyawa sebesar 27,62%, dan ikatan logam dan hubungannya dengan sifat fisik logam (43,78%). Hal ini menunjukkan bahwa topiktopik yang ada dalam materi ikatan kimia masih sulit difahami oleh siswa secara keseluruhan. Berdasarkan observasi dengan guru kimia di SMA N 1 Kota Jambi, materi ikatan kimia memang materi yang dapat dikatakan sulit di fahami oleh siswa dibandingkan dengan materi lainnya. Selain siswa kesulitan untuk benar-benar memahami konsep-konsep yang ada dalam ikatan kimia dan menerapkan konsep tersebut dengan tepat, siswa juga mengalami kesulitan ketika menuliskan notasi ketika atom melepas dan menerima elektron. Mereka cenderung menuliskan notasi yang sama untuk atom yang menerima dan melepas elektron. Kemudian siswa juga tidak menguasai ketika menggambarkan struktur lewis dari suatu atom dan atom-atom yang berikatan. Misalnya pada topik ikatan ion untuk menggambar struktur lewis dari senyawa. Sulit bagi mereka untuk menentukan kedudukan elektron terutama jika atomatom tersebut saling berikatan untuk mengikuti aturan oktet dan duplet. Selain itu siswa masih sulit membedakan ikatan kovalen dengan ikatan ion. Masalah-masalah yang muncul disebabkan oleh beberapa faktor, baik itu datangnya dari siswa, guru maupun dari proses belajar itu sendiri. Termasuk metode pembelajaran dikelas yang dianggap membosankan bagi siswa. Cara pembelajaran seperti ini, dapat kita ubah dengan memasukkan media dalam proses pembelajaran. Misal untuk materi kestabilan atom, dapat digunakan animasi yang dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan membuat siswa tidak hanya membayangkan bagaimana elektron-elektron itu bergerak untuk mencapai kestabilan, namun juga dapat melihat secara visualisasi bagaimana kedudukan atom dengan electron-elktronnya pada saat stabil atau mencapai kestabilan. Pembelajaran menggunakan perangkat seperti komputer (media pembelajaran) dikatakan pembelajaran berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dimana di dalam pembelajaran dapat mendorong timbulnya komunikasi, kreativitas, dan mampu memecahkan masalah masalah yang dihadapi peserta belajar (Ramsay, 2001). Penerapan TIK dalam pembelajaran di kelas memberi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan High Order Thinking Skill (HOTS) yang bermakna yang diingat sepanjang hayat (Bass dan Perkins 19840029, Natasi dan Clements 1992, Linn 1998). Setiap siswa perlu menggunakan HOTS dimana termasuk didalamnya kreativitas, berfikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Adapun HOTS berupa tahapan aplikasi, analisis, evaluasi dan sintesis. Keempat aspek pedagogi inilah yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran.

I.

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 3

Pengembangan materi ikatan kimia yang disusun dengan kerangka kerja TPACK ini di buat dalam bentuk bahan ajar termasuk di dalam nya modul dan Rancangan Pembelajaran (RPP). Rancangan pembelajaran yang akan diterapkan di kelas untuk menyampaikan materi juga memerlukan suatu strategi. Strategi yang dipilih untuk penerapannya adalah metode problem solving. Metode problem solving ini cocok dalam untuk materi ikatan kimia, karena metode ini mendukung pembelajaran yang berbasis pada masalah, dan menuntut siswa untuk benar-benar menguasai konsep sehingga mampu mererapkan konsep dengan baik dalam contoh yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan, 2002 : 123). Maka untuk menunjang materi yang telah disusun dengan kerangka kerja TPACK yang akan meningkatkan HOTS ini perlu penerapan nya dengan strategi problem solving. II. Tinjauan Pustaka

Berpikir tingkat tinggi atau lebih dikenal dengan nama higher order thinking skills (HOTS) merupakan wilayah berpikir dalam tataran menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi dalam struktur taksonomi Bloom. Domin (1999) menyatakan bahwa HOTS dapat menumbuhkan sikap-sikap kritis siswa untuk berpendapat, mengambil kesimpulan, merencanakan, menilai. Marland, Patching, dan lebih jauh pendapat itu didukung oleh Putt (1992) membahas pembelajaran jarak jauh berbasis TIK juga menciptakan HOTS dalam sikap menganalisis, mengantisipasi, membandingkan, mengkonfirmasi hubungan, meta kognisi, mengingat kembali, merencanakan strategi, dan transformasi. Adapun HOTS berupa tahapan application (C3), analysis (C4), synthesis (C5), dan evaluation (C6). Konsep dasar TPACK (Mishra dan Koehler, 2008) dan Harris dkk (2009), lebih menekankan hubungan antara materi pelajaran, teknologi, dan pedagogi. Interaksi antara tiga komponen tersebut memiliki kekuatan dan daya tarik untuk menumbuhkan pembelajaran aktif yang terfokus pada peserta belajar. Intinya, TPACK, memberikan ruang untuk berkreasi kepada guru/perancang pembelajaran dalam mengkombinasikan dan memanfaatkan teknologi dan pedagogi secara efektif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Peserta belajar dapat belajar secara menyenangkan, berpikir kritis, analisis dan dapat melakukannya secara berkolaborasi. Pembenahan dalam meningkatkan kinerja dan mutu pendidikan meliputi process, content, dan resources. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembelajaran harus mendapat perhatian lebih karena secara langsung berpengaruh kepada output pendidikan itu sendiri. Penyiapan content berupa penyusunan kurikulum/GBPP dan satuan agenda pembelajaran. Tujuan dan kompetensi proses pembelajaran dijabarkan pada bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan yang harus diberikan. Untuk pembelajaran yang mampu meningkatkan struktur berfikir siswa ini diperlukan media pembelajaran (TIK) untuk menunjang tercapainya HOTS. Dan metode yang dipilih dalam penerapan dikelas adalah metode problem solving. Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151).

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 4

III.

Prosedur Pengembangan
Problem Solving Animas i dan

Analisis permasalahan dalam materi ikatan kimia

Kerangka kerja TPACK


Analisis karakteristik siswa kelas XD di SMA N 1 Kota Jambi

HOTS

Merumuskan tujuan pembelajaran ikatan kimia

Bahan Ajar

Aktifitas pembelajaran ikatan kimia

Ikatan kimia

Hasil pembelajaran ikatan kimia

Tahapan pengembangan materi

Evaluasi

DEFINE

DESIGN Gambar 3.2.Skema model 4D dimodifikasi

DEVELOP

Langkah-langkah proses penelitian dan pengembangan menunjukkan suatu siklus, yang diawali dengan adanya kebutuhan, permasalahan yang membutuhkan pemecahan dengan menggunakan suatu produk tertentu. Kemudian produk diuji keefektifannya. Prosedur pengembangan yang dibuat dalam penelitian ini adalah langkahlangkah yang dikembangkan oleh (Thiagaran, Semmel, dan Semmel, 1974) (Trianto, 2007: 65). Pada penelitian ini pengembang tidak sampai pada tahap penyebaran (dessiminate) dikarenakan waktu penelitian yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan tahap tersebut. Prosedur yang dilakukan dalam pengembangan materi pembelajaran ikatan kimia mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Tahap Pendefinisian (define) Tahap ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran diawali dengan analisis tujuan yaitu menetapakan masalah dasar yang dihadapi dalam pembelajaran ikatan kimia. Selain itu dilakukan analisis karakteristik siswa di SMA N 1 Kota Jambi yang mana siswa memiliki usia, kebiasaan, latar belakang pengetahuan yang rata-rata sama dalam satu kelas.Kemudian analisis komponen yang akan dianalisis antara lain Standar Kompetensi (SK), Kompetensi

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 5

Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, sumber/bahan/alat untuk materi ikatan kimia SMA kelas X. Analisis konsep yang dilakukan dimulai dari konsep kestabilan unsur yang cenderung mengikuti gas mulia hingga ikatan logam dengan bantuan media yang cocok dan tepat untuk materi tersebut. Selanjutnya tujuan pembelajaran yang terintegersi dengan TPACK dapat dibuat sebagai berikut : Menjelaskan kestabilan suatu unsur dengan cara berikatan dengan unsur lain Menuliskan notasi atom yang mencapai kestabilan Menggambarkan susunan elektron mengikuti aturan duplet dan oktet serta elektron valensi bukan gas mulia Mendefinisikan konsep ikatan ion dari video ikatan ion Mendefinisikan konsep ikatan kovalen dari video ikatan kovalen Membedakan antara ikatan ion dan ikatan kovalen Membandingkan antara ikatan kovalen tunggal, rangkap dua, dan rangkap tiga Melakukan simulasi kepolaran beberapa senyawa melalui macromedia flash Menganalisis perbedaan ikatan polar dan nonpolar dengan senyawa polar dan nonpolar dari video ikatan kovalen polar Menyimpulkan proses terbentuknya ikatan koordinasi dari video Mendefiniskan konsep ikatan logam dari video ikatan logam Mengklasifikasikan jenis ikatan berdasarkan sifat fisisnya Menerapkan konsep ikatan kimia dalam kehidupan sehari-hari Membuat contoh ikatan ion, macam-macam ikatan kovalen, serta ikatan logam 2. Tahap Perencanaan (Design) Tahap ini terdiri atas penyusunan tes untuk mengukur kompetensi siswa, pemilihan media sesuai topik yang ada dalam materi ikatan kimia. Media pendukung pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop dan infokus. Dan aplikasi yang akan digunakan adalah animasi dan video serta macromedia flash (simulasi). Dan tahap pemilihan format yaitu tahap-tahap dalam pengembangan materi itu sendiri. Dimulai dengan analisis tujuan, analisis sumber belajar, analisis pebelajar, menetapkan sasaran dan isi pembelajaran sesuai indikatornya. Kemudian menetapkan strategi pengorganisasian pembelajaran dimana dimulai dari pembentukan konsep kestabilan atom dan struktur lewis. Lalu, interpretasi dalam hal ini siswa sendiri yang akan menyampaikan hasil diskusi mereka mengenai pembentukan dan penerapan konsep ikatan ion,kovalen dan logam dari video, dan yang terakhir aplikasi prinsip nya mereka akan memberikan contoh baru tentang ikatan ion dan kovalen yang akan dikaitkan dengan konsep ikatan kimia tersebut. Struktur pembelajaran untuk menerapkan materi yang telah dikembangkan akan dilakukan secara berdiskusi. Setelah guru menjelaskan konsep-konsep penting, kemudian siswa akan berdiskusi tentang masalah atau peristiwa yang mengalami ikatan kimia didalam kehidupan sehari-hari yang sudah disajikan dalam power point dan mengevaluasi jawaban mereka setelah melihat video pembelajaran dan menentukan jenis ikatannya (Lembar Kerja Siswa). Strategi pengelolaan menggunakan metode problem solving. Strategi ini dipilih karena model pembelajaran ini didasarkan pada permasalahan nyata dan memungkinkan siswa memahami konsep bukan menghafal konsep.

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 6

3. Tahap Pengembangan (Develop) Validasi dilakukan oleh tim ahli terhadap produk yaitu terhadap modul dan rancangan pembelajaran dilakukan oleh dosen pembimbing Prof.Drs.Sutrisno,M.Sc., Ph.D dan untuk validasi aspek praktikalitas dilakukan oleh guru kimia sebagai pengguna produk yaitu Dra.Sri wahyuningsih. Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari lembar respon siswa terhadap pembelajaran materi ikatan kimia yang diajarkan oleh guru, lembar penilaian guru selama mengajar oleh pengamat, lembar aktivitas siswa yang dinilai oleh guru dan pengamat, serta hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran. IV. Hasil dan Pembahasan Hasil pengembangan materi yang dibuat dalam bentuk bahan ajar (modul) khusus untuk materi ikatan kimia. Adapun modul yang telah dirancang dengan kerangka kerja TPACK ini telah memenuhi standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan indikator yang yang ada didalam kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini. Materi diorganisasikan berdasarkan urutan yang sesuai dengan materi ikatan kimia mulai dari kestabilan unsur, lalu membahas setiap ikatan mulai dari ikatan ion, ikatan kovalen , kepolaran dan ikatan logam. Modul ini juga mendukung siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan yaitu mencapai berfikir tingkat tinggi dan mempermudah guru dalam penyampaian materi. Adapun kesulitan dalam menyusun modul ini adalah ketika memilih gambar yang benar-benar mewakili keadaan atom seperti sebenarnya, karena gambar tersebut memang harus memiliki makna sehingga mempermudah pemahaman siswa. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Penelitian dilakukan sebanyak empat kali pertemuan sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat berdasarkan kerangka kerja TPACK. Pertemuan pertama dimulai dengan memberikan konsep kestabilan atom dan struktur lewis yang akan mengantarkan siswa kepada materi ikatan ion dan ikatan kovalen. Pertemuan kedua membahas tentang ikatan kovalen dan macam-macam ikatan kovalen. Pertemuan ketiga menyampaikan materi tentang kepolaran senyawa, skovalen polar dan kovalen nonpolar. Lalu pertemuan keempat membahas konsep ikatan logam. Menurut respon dari siswa kelas XD SMA N 1 Kota Jambi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran ikatan kimia yang diterapkan dari pengembangan materi yang telah dilakukan adalah mereka lebih termotivasi dan terbantu dengan adanya media animasi dan video. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa dalam kelompok yang dinilai oleh guru kimia SMA N 1 yang bertindak sebagai pengamat dan oleh peneliti. Bahwa animasi dan video lebih meningkatkan pemahaman mereka, aktivitas pembelajaran menjadi tidak monoton, dan siswa dapat menjawab permasalahan yang diberikan dengan menganalisis video dalam kelompoknya masing-masing. Selain dari respon siswa, hasil pembelajaran siswa dapat dilihat dari LKS kelompok yang telah mereka kerjakan. Semua kelompok dapat mengerjakan dan menjawab soal dengan baik sebagaimana nilai yang mereka dapatkan memenuhi standar ketuntasan, walaupun ada kelompok yang tidak mencapai nilai tersebut. Namun secara keseluruhan pembelajaran ini dapat diterima dengan baik oleh siswa.

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 7

Berdasarkan penilaian aktivitas siswa selama pembelajaran ikatan kimia ini maka capaian HOTS yang mampu ditingkatkan mulai dari aktivitas menerapkan, mengevaluasi, dan mengkreasi maka didapat persentase capaiannya sebagai berikut : Capaian HOTS topik ikatan ion dan kovalen

Persentase capaian HOTS


menurut pengamat 75% 75% 75% menurut peneliti 75% 75%

62,50%

Menerapkan

Mengevauasi

Mengkreasi

Capaian HOTS topik kepolaran dan ikatan logam

Persentase capaian HOTS


120% 100% Axis Title 80% 60% 40% 20% 0% menurut pengamat menurut peneliti Menerapkan 75% 75% Mengevauasi 75% 50,00% Mengkreasi 100% 62,50%

V.

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Dalam pengembangan materi ini akan dikolaborasikan antara isi materi ikatan kimia dengan capaian pembelajaran yang diinginkan dimana akan dibantu dengan media yaitu berupa video dan animasi. Kemudian selanjutnya akan didapat tujuan pembelajaran yang ingin dicapai untuk materi ini. Dilanjutkan dengan validasi oleh pakar. Setelah itu pengembangan materi dilanjutkan ke tahap ujicoba produk. Ujicoba kelompok besar dilakukan pada kelas XD di SMA N 1 Kota Jambi. Tahap terakhir yang dilakukan adalah produksi produk produ hasil pengembangan. Penerapan materi eri ikatan kimia ini dikelas XD SMA N 1 Kota Jambi menggunakan metode problem solving. Berdasarkan Berdasarkan hasil penilaian tes hasil belajar yang menunjukkan siswa yang mencapai ketuntasan 85,18% pada topik kestabilan atom yang tergolong dalam kategori sangat tinggi, dan untuk topik ikatan ion dan kovalen masing-masing masing persentase siswa yang mencapai ketuntasan adalah 50% dan 80%,
Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi Page 8

artinya secara keseluruhan materi ini dikuasai oleh siswa. Maka materi yang dikembangkan dan diterapkan dengan metode problem solving terhadap siswa kelas XD SMA Negeri 1 Kota Jambi dapat dikatakan memiliki efektifitas terhadap hasil belajar siswa. Saran Ketersediaan bahan ajar yang berkualitas dapat membantu jalannya proses pembelajaran dan dapat pula meningkatkan hasil pembelajaran. Penulis menyarankan kepada guru mata pelajaran kimia untuk menggunakan bahan ajar kimia berbasis TPACK pada saat mengajar kimia terutama pada materi ikatan kimia, dan pembelajaran dilakukan dengan metode problem solving, karena akan membuat siswa lebih tertarik dan lebih mudah memahami konsep materi yang diajarkan sehingga tingkat berfikir siswa dapat mencapai HOTS. Selain itu, penelitian ini dapat sebagai acuan untuk membuat penelitian selanjutnya misalkan dengan kerangka kerja TPACK ini dapat mereduksi miskonsepsi dalam pembelajaran ikatan kimia.

DAFTAR PUSTAKA
Sukardjo. 2009. Kimia SMA Kelas X. Jakarta : Bumi Aksara Sutrisno. 2011. Pengantar Pembelajaran Inovatif. Jakarta : GAUNG PERSADA Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka Farida Ch. Pendekatan Pembelajaran Konsep Ikatan Kimia Yang Sesuai Dengan Pendekatan Ilmiah Dan Pedagogi. http://faridach.wordpress.com/2009/12/15/pengembangan-pendekatanpembelajaran-baru-untuk-konsep-ikatan-kimia-yang-sesuai-dengan-pendekatanilmiah-masa-kini-dan-pengetahuan-pedagogi/ diakses tanggal 5 Juli 2012 http://oryza-sativa135rsh.blogspot.com/2011/01/metode-penelitian-research-and.html Rusdiana, Ifa. Identifikasi kesulitan belajar dan pemahaman konsep siswa dalam materi ikatan kimia kelas X semester 1 SMA Negeri 6 Malang. http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/identifikasi-kesulitanbelajar-dan-pemahaman-konsep-siswa-dalam-materi-ikatan-kimia-kelas-xsemester-1-sma-negeri-6-malang-ifa-rusdiana-41486.html. Diakses tanggal 7 Juli 2012 Purba, Michael. 2006. KIMIA untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga

Fitrie Wulandini:Mahasiswa FKIPUniversitas Jambi

Page 9