Anda di halaman 1dari 4

TRAUMA HIDUNG

Dengan meningginya kecelakaan lalu lintas atau traffic accident, ditambah dengan sifat khusus dari hidung yang merupakan bagian tubuh yang paling menonjol serta tak ada bagian tubuh yang lain melindunginya, maka dalam setiap kecelakaan lalu lintas dengan trauma capitis, kemungkinan besar disertai dengan trauma nasi. Atau dapat dikatakan trauma nasi sering bersamaan dengan trauma muka (maxillo facial trauma). Gambaran Klinik Trauma hidung dapat mengenai hidung, jaringan subcutis, mukosa yang meliputi cavum nasi, kerangka tulang dan tulang rawan yang membentuk hidung itu sendiri. Trauma kulit, jaringan subcutis dan mukosa, dapat berupa contusio jaringan atau tanpa hematoma, laserasi, abrasi, vulnus, corpus allienum yang tertinggal di tempat trauma atau hilangnya bagian-bagian hidung tersebut. Trauma kerangka tulang dan tulang rawan dapat dibagi atas: a. Fraktura os nasalis b. Trauma naso-orbital Sedangkan menurut arah traumanya dapat dibagi pula atas: a. Trauma lateral b. Trauma frontal Penggolongan menanggulanginya. Diagnosis Penderita atau pengantar biasanya sudah memberikan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. Pada waktu pemeriksaan penderita dalam keadaan sadar atau setengah sadar atau dalam keadaan tak sadar atau coma (pada contussio cerebri). Kadang-kadang masih ditemui darah yang mengalir dari hidung atau adanya bekuan darah dalam cavum nasi. Hampir pada setiap trauma nasi terdapat pembengkakan, oedema, tanpa atau disertai hematoma. Penanggulangan Dalam menghadapi kasus-kasus trauma nasi tujuan kita adalah untuk: a. Life saving. b. Mengembalikan fungsi normal serta mencegah terjadinya komplikasi. c. Kosmetik. ini sangat penting dalam menentukan sikap kita untuk

Pertama-tama yang harus diperhatikan ialah jalan pernapasan, hidung dan tenggorok dibebaskan dari bekuan darah atau corpus allienum yang menghalangi jalan pernapasan. Kalau terdapat obstruksi larynx dilakukan tracheotomi. Keadaan umum penderita harus diawasi dengan saksama; kalau terdapat tanda-tanda shock, maka kita segera berusaha mengatasinya. Kalau perdarahan masih ada, segeralah mencari sumber perdarahan tersebut dan cobalah mengatasinya; perdarahan (lihat epistaxis). Trauma terbuka kulit dan mukosa Luka dibersihkan dan dilakukan debridement. Pada luka-luka yang kotor diberi A.T.S. Kulit yang hilang dapat dicoba dengan jahitan, kalau tak mungkin dapat dilakukan skin graft. Epistaxis dihentikan dengan pemasangan tampon. Fraktura Kerangka Tulang Hidung Prinsipnya tindakan reposisi dilakukan secepat mungkin, kalau keadaan penderita memungkinkan. Waktu penderita tiba di rumah sakit biasanya sudah oedema, hebat atau tidaknya oedema itu bergantung pada berat tidaknya trauma. Oedema yang terjadi dapat menyukarkan palpasi sehingga sukar menentukan dislokasi dan sukar menilai kedudukan tulang yang telah direposisi. Demikian juga kalau diadakan fixasi pada hidung yang ada oedema, fixasi ini akan jadi longgar setelah dua tiga hari karena oedemanya menurun. Karena itu cukup bijaksana bila kita menunggu sampai oedema hilang, sehingga kita dapat membuat diagnosa dengan tepat dan dapat menilai tindakan kita, apakah sudah mencapai sasarannya serta dapat mengadakan fixasi dengan baik. Biasanya oedema tersebut akan hilang pada hari keempat atau hari kelima. Callus yang terbentuk pada tempat fraktur makin lama makin mengeras. Callus yang mengeras tersebut akan menyukarkan kita melakukan reposisi; maka sebaiknya reparasi dilakukan pada hari ke-5 7. Reposisi yang dilakukan setelah dua minggu memberikan hasil yang kurang memuaskan, kecuali dilakukan open reposisi atau pada fraktur lama sebaiknya dilakukan medial lateral osteotomi. Setelah itu fragmen-fragmen tulang disusun kembali. Trauma lateral Trauma ini memberikan gejala-gejala sebagai berikut: a. Terjadi dislokasi ke satu sisi. b. Pangkal hidung biasanya masih berada di garis tengah. c. Deviasi septi ke satu sisi. d. Nyeri waktu palpasi.

e. Kadang-kadang os nasalis mudah digerakkan dengan adanya krepitasi. Trauma frontal Gejala-gejalanya adalah: a. Hidung terletak di garis tengah, tetapi lebih mendatar atau cekung. b. Pada trauma yang hebat bagian-bagian tulang hidung terpisah satu sama lain, serta hilangnya kesatuan dengan processus frontalis ossia maxillae, menyebabkan pula hilangnya bentuk hidung itu sendiri. c. Terdapat krepitasi serta os nasalis mudah digerakkan. Trauma naso orbital Trauma ini mengenai organ-organ intercanthus dengan tulang-tulang ethmoid di bawahnya. Gejala-gejalanya sebagai berikut: a. Jarak kedua canthus medialis akan bertambah. b. Terdapat krepitasi. c. Pada trauma hebat terjadi commuted fracture yang mungkin menyebabkan tersumbatnya duktus lakrimalis, sehingga penderita akan mengeluh hyperlakrimasi, dan sering ditemukan gangguan pergerakan bola mata, diplopia karena terlepasnya ligament canthus medialis. Pemeriksaan Radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan dalam posisi lateral, occipitomental 30 60 derajat. Dari gambaran radiologik dapat ditentukan fraktur, kedudukan tulang, tetapi tak dapat menentukan derajat dislokasi. Pada trauma lateral tak banyak faedahnya, sedangkan pada trauma frontal berguna bila terdapat oedema yang hebat, karena kita tak dapat melakukan palpasi dengan baik. Tindakan pada trauma lateral Kedudukan os nasalis yang mengalami dislokasi, dapat kita reposisi dengan respatorius, Whalsam forceps, sedangkan septum yang deviasi dapat diluruskan dengan Aches forceps. Tindakan pada trauma frontal Walau tindakan reposisi dilakukan seperti yang telah diterangkan os nasalis akan tetap miring ke satu sisi karena adanya dislokasi septum nasi. Oleh karena itu sub mukosa reseksi harus dilakukan lebih dahulu.

Tindakan pada trauma naso-orbital Untuk dapat menyusun lagi tulang-tulang yang membentuk pangkal hidung tersebut dilakukan open reduction, serta dengan fixasi dengan lempeng logam. Fixasi. Untuk mempertahankan posisi bentuk yang telah diperoleh dengan jalan reposisi dan untuk menghindarkan dislokasi kembali karena kedudukannya masih labil, maka diperlukan fixasi. Fixasi ada dua macam yakni: a. Fixasi dalam. Berupa tampon hidung yang dibuat dengan kain kasa yang diberi boor zalf atau kemycetin zalf atau dengan solfratule. Tampon ini dipasang 2 x 24 jam, dan kalau perlu boleh dipasang tampon baru. b. Fixasi luar. Dapat digunakan gips seperti plaster of paris atau metal plate, fixasi ini kita pertahankan selama 10 12 hari. Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi adalah: a. Cerebrospinal rhinorrhoe, akibat adanya fraktur pada dinding posterior sinus frontalis atau pada lamina cribrosa, sehingga ada hubungan langsung dengan dasar dari fossa cranii anterior. b. Meningitis c. Anosmia.

Anda mungkin juga menyukai