Anda di halaman 1dari 17

Kecukupan Modal Minimum Untuk Risiko Kredit

Sesuai dengan rekomendasi Basel Committee on Banking Supervision , yang tertuang dalam dokumen New Basel Capital Accord 2001, disebutkan bahwa perhitungan kecukupan modal bank mengalami penyempurnaan dengan mempertimbangkan lebih dalam perhitungan charge /provision pada credit risk, market risk dan operational risk. Formula rasio kecukupan modal menurut N !" 2001 tersebut adalah # Sesuai dengan rekomendasi asle !ommittee, terdapat dua model pendekatan yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran risiko kredit dalam perhitungan Credit Risk Charger untuk pemenuhan rasio kecukupan modal $!"%/&'((), yaitu #

a. Standardized Approach *alam metode ini seluruh komponen pengukuran risiko di+set oleh regulator. *asar perhitungan risiko kredit adalah dengan menentukan "ktiva ,ertimbang (enurut %isiko $",(%), yaitu hasil kali antara e-posure asset berisiko dengan bobot tertentu. obot risiko yang digunakan dalam pengukuran credit risk didasarkan pada hasil rating yang dikeluarkan oleh .!"/ $External Credit Assesment Institution). $perhitungan standar model dan internal rating keduanya mengacu kepada sistim rating)

b. Internal Rating-Based Approach (IRB) asle !ommittee memberi pilihan kepada ank untuk mengembangkan model sendiri, dengan pertimbangan bahwa melalui pengembangan internal model#

esarnya modal yang harus disediakan oleh ank akan lebih sensiti0 terhadap risiko. ank akan memperoleh incentive yaitu ank akan mendapatkan man0aat dengan terus berusaha mengembangkan internal model yang sesuai dengan kondisi ank.

/n0rastruktur utama dalam internal model adalah internal rating system, olehnya internal model disebut dengan Internal Rating Based approach (IRB . (elalui pendekatan ini, ank menetapkan komponen pengukuran risiko berdasarkan sistem rating yang dikembangkan sendiri sesuai dengan karakteristik produk, sistem perkreditan yang dimiliki, karakteristik debitur dan parameter spesi0ik lainnya yang dianggap penting oleh bank. "da dua model /% , yaitu #

1.

oundation IRB, dimana seluruh komponen pengukuran risiko $kecuali de0ault probabilities) nantinya di+set atau diatur oleh regulator $ ank /ndonesia) 2. Ad!anced IRB, dimana seluruh komponen pengukuran risiko di+set oleh ank, dengan menggunakan 1enis+1enis model pengukuran risiko yang dikembangkan oleh ank itu sendiri. ank dapat memilih salah satu diantara dua model pengembangan credit risk measurement seperti diatas, namun harus berdasarkan persetu1uan regulator.

"rinsip "engendalian Risiko Kredit 'rinsip 'engendalian %isiko &redit mencakup hal+hal sebagai berikut #

#er$inan%a Kepedulian #erhadap Risiko Kredit 'engendalian risiko kredit memerlukan komitmen semua pihak dari level mana1emen tertinggi hingga credit o00icer maupun sta00 operasional yang berada pada 1a1aran terdepan di kantor cabang/ kantor cabang pembantu. 'engendalian risiko kredit akan optimal apabila ada kesamaan bahasa dan ditu1ukan untuk melindungi kepentingan bank. *ireksi melalui unit pengendalian risiko harus memastikan bahwa seluruh kebi1akan dan strategi pengendalian risiko yang ditetapkan telah mere0leksikan tingkat risiko yang dapat diterima $ risk tolerance! risk appetite) dan secara berkala dilakukan review" Secara khusus unit pengendalian risiko kredit bertanggung 1awab terhadap implementasi strategi pengendalian risiko kredit, pengembangan credit risk tools, perumusan kebi1akan dan prosedur credit risk bagi level individual debitur maupun pada level port0olio.

"roses Kredit $erdasarkan proses %ang sehat 'rosedur rangkaian proses permohonan kredit harus mematuhi ketentuan mana1emen perkreditan yang berlaku dan diperlakukan sama. 2al tersebut berlaku untuk debitur lama maupun debitur baru. %angkaian proses se1ak analisa, persetu1uan, pemantauan maupun penyelamatan harus tercantum dalam Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank. Seluruh loan / credit o00icer harus berusaha mematuhi dan diupayakan untuk tidak memberlakukan pengecualian $exception) atas ketentuan yang ditetapkan. *alam hal ter1adi pengecualian, maka harus ditentukan 1enis pengecualiannya batas waktu maksimal

pengecualian tersebut diberlakukan dan harus dilakukan pemantauan serta pelaporan secara khusus $exception report). Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank harus secara terus menerus dilakukan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan bisnis, perubahan regulasi / atau hal lain yang dianggap perlu seperti perubahan organisasi, pengembangan produk, perubahan tools perkreditan baru dan lain+lain.

"enataan &ang Memadai Atas Aspek Administrasi' (asil "engukuran )an "roses "emantauan. ank harus memiliki sistem administrasi yang memadai yang memastikan bahwa seluruh dokumentasi kredit dan proses administrasi yang menyertainya tersimpan dengan baik sesuai ketentuan batas waktu penyimpanan dokumen yang ditetapkan. 2al ini men1adi penting, untuk memastikan bahwa bank memiliki pencatatan dan bukti apabila dikemudian hari ter1adi permasalahan hukum $credit#$ased law en%orcement) 2asil pengukuran atas risiko kredit yang timbul dan atau yang akan timbul harus dilakukan pencadangan dan diharuskan untuk memperhitungkan dampaknya terhadap kemampuan modal bank. ank harus mengembangkan sistem in0ormasi risiko kredit sebagai bagian dari pengembangan In%ormation &echnology (/, secara keseluruhan. *ukungan /, diperlukan agar proses pemantauan risiko kredit dapat dilakukan dengan lebih cepat sehingga dapat meminimalisir potensi kerugian yang lebih besar.

Memastikan pengendalian %ang memadai terhadap risiko kredit Sistem pengendalian risiko kredit bank harus independen, dilakukan dengan perhitungan dan analisa yang memadai, %air dan dapat dipertanggung 1awabkan. ank harus memastikan bahwa seluruh e-posure telah dikelola dengan baik, konsisten dengan standar dan prosedur yang ditetapkan serta dalam batasan tingkat risiko yang dapat diterima $accepta$le risk) ank 1uga harus memiliki sistem yang memadai guna mengambil langkah penting terhadap memburuknya kualitas pin1aman individu debitur dan penanganan terhadap pin1aman bermasalah. 2al+hal tersebut hendaknya diatur khusus dalam Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank.

Resiko kredit dalam $asel II

Sebagaimana diketahui, pada tahun 1344 /S mengeluarkan suatu konsep kerangka permodalan yang lebih dikenal dengan Basel Capital Accord I (Basel I yang mencakup hanya risiko kredit dan hubungan antara risiko dan modal dengan menggunakan pendekatan standard. *engan pendekatan standard, perhitungan kecukupan modal dilakukan dengan mengalikan 0aktor $disebut 1uga bobot risiko $risk weights)) untuk setiap 1enis kredit kepada pemerintah, kredit kepada bank lain, dan kredit korporasi 5 personal, kemudian men1umlahkan seluruhnya untuk kemudian dikalikan dengan 46 sebagai rasio modal minimum $target capital ratio). Se1alan dengan semakin berkembangnya produk+produk yang ada di dunia perbankan, $setelah mempublikasikan the (arket %isk "mendment ,ahun 1337), asel !ommittee mengembangkan Capital Accord $aru (New BCA yang disebut Basel II yang diadopsi tahun 2008 dan diimplementasikan mulai tahun 2007/9. *okumen asel // terdiri dari : 'ilar yaitu 'ilar 1 # 'erhitungan permodalan yang berbasis risiko, 'ilar 2 # Supervisory Review 'rocess, dan 'ilar : # (arket )iscipline. *okumen ini mencakup %isiko 'asar, %isiko &redit, %isiko ;perasional dan %isiko lain+lain $<;ther= %isks). &husus risiko kredit, asel // memperkenankan penggunaan 2 $ dua) pendekatan dalam penentuan bobot risiko asset, yaitu # *" *" Standardised Approach 2. Internal Ratings Based Approach ! IRBA $yang dalam prakteknya terbagi 2 metode yaitu +oundation , Advanced). %isiko &redit $Credit risk) dide0inisikan sebagai potensi kerugian akibat kemungkinan kegagalan counterparty memenuhi kewa1ibannya ketika 1atuh tempo $pemin1am tidak membayar hutangnya).

"endekatan Standardized Approach dalam Risiko Kredit

S" dikembangkan dari pendekatan risiko kredit dalam asel /. *alam pendekatan ini, kelompok aset dalam neraca akan dikalikan dengan bobot risiko yang disebut "ktiva ,ertimbang (enurut %isiko $",(%) untuk kemudian dirasiokan dengan 1umlah modal, dengan batas minimum 46. %asio minimum capital 46 ini tetap dipertahankan dalam asel //. *alam perhitungan ",(%, setiap aset neraca dikelompokkan men1adi > $lima) kategori utama berdasarkan perkiraan kualitas debitur selama 1angka waktu kontrak atau 1angka waktu pin1aman ?ersi singkat dari kelompok aset 5 bobot risikonya adalah sebagai berikut # BASEL I:

+ + +

&as, bobot risiko # 06 'emerintah domestik dan pemerintah pusat negara ;.!*, bobot risiko 06 'in1aman pemerintah negara ;.!*, bobot risiko 06

+ Sektor publik pemerintah domestik dan negara ;.!* serta pemerintah daerah, bobot risiko 06 s.d >06. + + + + + + /nterbank $;.!*) dan bank pembangunan internasional, bobot risiko 206 @tang pemerintah non+;.!*, bobot risiko 1006 ank non+;.!* A 1 tahun, bobot risiko 206 ank non+;.!* B 1 tahun, bobot risiko 1006 'in1aman mortgage $kredit perumahan) , bobot risiko 1006 &redit korporasi dan utang individu yang tidak di1amin, bobot risiko >06

BASEL II erikut ini revisi terhadap asel / mengenai pembobotan risiko atas eksposur # @ntuk menentukan bobot risiko dengan standardised approach, bank dapat menggunakan penilaian dari lembaga pemeringkat eksternal yang memenuhi persyaratan otoritas pengawas nasional untuk keperluan perhitungan modal dan eksposur harus dikenakan bobot risiko setelah dikurangi cadangan khusus. 1. ,agihan pada pemerintah ,agihan pada pemerintah dan bank sentral akan dikenakan bobot risiko sebagai berikut# C + + + + + %ating """ to ""+, bobot risikonya adalah 06 %ating "D to "+, bobot risikonya adalah 206 %ating %ating D to +, bobot risikonya adalah >06

D to + , bobot risikonya adalah 1006

%ating + to de0ault, bobot risikonya adalah 1>06 @nrated / ,idak berperingkat, bobot risikonya adalah 1006

erdasarkan diskresi nasional, bobot risiko yang lebih rendah dapat diberikan pada eksposur bank pada pemerintahnya $atau bank sentral) dalam mata uang domestik dan sumber pendanaannya 1uga dalam mata uang yang sama. @ntuk tu1uan pembobotan risiko tagihan pada pemerintah, pengawas dapat mengakui country risk score yang ditetapkan .-port !redit "gencies $.!"). %isk scores .!" ini akan dikaitkan dengan kategori bobot risiko sebagaimana dirinci di bawah ini# C C C C C .!" risk scores 0+1 bobot risikonya adalah 06, .!" risk scores 2 bobot risikonya adalah 206, .!" risk scores : bobot risikonya adalah >06, .!" risk scores 8+7 bobot risikonya adalah 1006, .!" risk scores 9 bobot risikonya adalah 1>06,

C ,agihan pada ank 0or /nternational Settlement, /nternational (onetary Fund, .uropean !entral ank, dan .uropean !ommunity diberikan bobot risiko 06.

2. ,agihan pada Eembaga 'ublik Non+'emerintah 'usat/public sector entities $'S.) ,agihan pada 'S. domestik akan diberikan bobot risiko berdasarkan diskresi nasional, sesuai dengan opsi 1 atau opsi 2 tagihan pada bank $lihat bagian 8. ,agihan pada bank). Fika opsi 2 yang dipilih, pilihan ini akan diterapkan tanpa memberikan perlakuan khusus untuk tagihan 1angka pendek. erdasarkan diskresi nasional, tagihan pada 'S. domestik tertentu 1uga dapat diperlakukan sebagai tagihan pada pemerintah pada yurisdiksi dimana 'S. tersebut didirikan. :. ,agihan pada bank pembangunan multilateral $(* ) obot risiko terhadap tagihan pada (* secara umum akan didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat eksternal sebagaimana pada opsi 2 tagihan pada bank tetapi tanpa perlakuan khusus untuk tagihan 1angka pendek. obot risiko 06 akan diberikan terhadap tagihan pada (* yang memiliki peringkat tinggi yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh asel &omite . $saat ini yang memenuhi syarat untuk memperoleh bobot risiko 06 adalah Gorld ank Hroup). 8. ,agihan pada bank ,erdapat dua opsi perlakuan atas tagihan pada bank. 'engawas nasional hanya dapat menerapkan satu opsi bagi seluruh bank dalam yurisdiksinya. obot risiko atas tagihan pada

bank yang tidak berperingkat tidak boleh lebih rendah daripada bobot risiko atas tagihan kepada pemerintahnya. 'ada opsi pertama, semua bank yang berbadan hukum di suatu negara akan diberikan bobot risiko satu kategori lebih rendah dibandingkan kategori bobot risiko tagihan pada pemerintahnya. ,etapi bobot risiko untuk tagihan pada bank di negara berperingkat D sampai + dan di negara yang tidak berperingkat dibatasi setinggi+tingginya sebesar 1006. ;psi kedua menggunakan pembobotan risiko yang didasarkan pada penilaian lembaga pemeringkat kredit eksternal terhadap bank itu sendiri dimana tagihan pada bank yang tidak berperingkat mendapat bobot risiko sebesar >06. 'ada opsi ini, suatu bobot risiko yang lebih baik yaitu yang memiliki satu kategori lebih tinggi dapat diberikan pada tagihan dengan 1atuh tempo awal selama tiga bulan atau kurang, tunduk pada batas bawah 206. 'erlakuan ini dapat diterapkan baik untuk bank yang berperingkat maupun untuk bank yang tidak berperingkat, tapi tidak untuk bank dengan bobot risiko sebesar 1>06 &edua opsi tersebut dirangkum dalam tabel berikut ini# ;'S/ S",@ # C C C C C C %ating """ to ""+, bobot risikonya adalah 206 %ating "D to "+, bobot risikonya adalah >06 %ating %ating D to +, bobot risikonya adalah 1006

D to + , bobot risikonya adalah 1006

%ating + to de0ault, bobot risikonya adalah 1>06 @nrated, bobot risikonya adalah 1006

;'S/ *@"# ,"H/2"N F"NH&" '.N*.& $,agihan 1angka pendek sebagaimana pada opsi 2 dide0inisikan memiliki 1angka waktu awal : bulan atau kurang) C C C C C %ating """ to ""+, bobot risikonya adalah 206 %ating "D to "+, bobot risikonya adalah 206 %ating %ating D to +, bobot risikonya adalah 206

D to + , bobot risikonya adalah >06

%ating + to de0ault, bobot risikonya adalah 1>06

@nrated, bobot risikonya adalah 206

;'S/ *@" # ,/*"& ,.%("S@& &",.H;%/ ,"H/2"N F"NH&" '.N*.& # C C C C C C %ating """ to ""+, bobot risikonya adalah 206 %ating "D to "+, bobot risikonya adalah >06 %ating %ating D to +, bobot risikonya adalah >06

D to + , bobot risikonya adalah 1006

%ating + to de0ault, bobot risikonya adalah 1>06 @nrated, bobot risikonya adalah >06

>. ,agihan pada perusahaan sekuritas ,agihan pada perusahaan sekuritas dapat diperlakukan seperti tagihan pada bank sepan1ang perusahaan sekuritas tersebut tunduk pada mekanisme pengaturan dan pengawasan yang setara dengan mekanisme sebagaimana terdapat dalam asel // $khususnya persyaratan modal berbasis risiko). Fika tidak, tagihan pada perusahaan sekuritas akan mengikuti ketentuan yang berlaku untuk tagihan pada perusahaan. 7. ,agihan pada perusahaan/korporasi ,abel di bawah ini menggambarkan pembobotan risiko atas tagihan pada perusahaan yang berperingkat termasuk tagihan pada perusahaan asuransi. Standar bobot risiko untuk tagihan pada perusahaan yang tidak berperingkat adalah sebesar 1006. ,agihan pada perusahaan yang tidak berperingkat tidak diperkenankan memperoleh bobot risiko lebih rendah daripada tagihan pada pemerintahnya. C %ating """ to ""+, bobot risikonya adalah 206 C %ating "D to "+, bobot risikonya adalah >06 C %ating C *i bawah D to +, bobot risikonya adalah 1006

+ , bobot risikonya adalah 1>06

C @nrated, bobot risikonya adalah 1006 ;toritas pengawas harus meningkatkan standar bobot risiko untuk tagihan tidak berperingkat 1ika secara historis tagihan+tagihan tersebut memiliki kemungkinan wanprestasi/gagal bayar

yang lebih tinggi. Sebagai bagian dari supervisory review process, pengawas 1uga dapat memberikan standar bobot risiko lebih tinggi daripada 1006 terhadap tagihan pada perusahaan setelah mempertimbangkan kualitas kredit dari tagihan tersebut. erdasarkan diskresi nasional, pengawas dapat mengiIinkan bank untuk memberikan bobot risiko sebesar 1006 atas seluruh tagihan pada perusahaan tanpa mempertimbangkan hasil pemeringkatan eksternal, namun bank wa1ib menerapkan satu pendekatan secara konsisten, yaitu menggunakan hasil pemeringkatan yang tersedia atau mengabaikan hasil pemeringkatan. 9. ,agihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam porto0olio ritel ,agihan+tagihan yang sesuai dengan criteria tertentu dapat digolongkan sebagai tagihan ritel untuk perhitungan regulatory capital dan termasuk dalam porto0olio ritel sesuai ketentuan. .ksposur porto0olio tersebut dikenakan bobot risiko sebesar 9>6 kecuali untuk tagihan kredit yang telah melewati 1atuh tempo $past due loans). ,agihan yang berdasarkan ketentuan termasuk dalam porto0olio ritel harus memenuhi empat kriteria berikut#

&riteria ;rientasi # eksposur terhadap perseorangan atau sekelompok orang atau perusahaan kecil. &riteria 'roduk # eksposur dalam bentuk sebagai berikut# revolving credit dan 0asilitas kredit $termasuk kartu kredit dan cerukan), kredit perseorangan $ personal term loans) dan sewa guna usaha $misalnya pin1aman cicilan, pin1aman dan sewa guna usaha kendaraan, pin1aman pendidikan, kredit konsumsi) serta 0asilitas dan komitmen bagi usaha kecil. .0ek $misalnya obligasi dan saham), baik yang tercatat di bursa atau tidak, dikecualikan dari kategori ini. 'in1aman hipotek perumahan tidak termasuk kriteria ini selama lebih memenuhi kriteria sebagai tagihan beragunan rumah tinggal $residential property). &riteria Hranularity # 'engawas harus meyakini bahwa porto0olio ritel sudah cukup terdiversi0ikasi hingga dapat mengurangi risiko dalam porto0olio dan dapat diberikan bobot risiko 9>6. Satu cara untuk mencapainya adalah dengan menentukan suatu limit dimana secara agregat tidak ada eksposur bagi satu pihak yang boleh melebihi 0,26 dari keseluruhan porto0olio tagihan ritel. .ksposur individual bernilai rendah. Fumlah maksimum tagihan ritel secara agregat yang diperbolehkan bagi satu pihak tidak boleh melebihi 1umlah absolut sebesar J1 1uta.

4. ,agihan yang beragun rumah tinggal

'in1aman yang sepenuhnya beragun rumah tinggal yang ditempati atau yang disewakan memperoleh bobot risiko sebesar :>6. *alam menerapkan bobot :>6 ini, otoritas pengawas perlu mempertimbangkan aturan pembiayaan perumahan di masing+masing negara, bahwa bobot yang diiIinkan ini diterapkan terbatas hanya untuk yang ditempati dan dengan memperhatikan prinsip kehati+hatian yang ketat, misal adanya suatu mar1in substansial sebagai 1aminan tambahan yang melampaui 1umlah pin1aman berdasarkan proses penilaian yang ketat.

'ara pengawas perlu meningkatkan standar bobot risiko apabila kriteria tersebut tidak terpenuhi. ;toritas pengawas nasional perlu mengevaluasi apakah bobot risiko sebagaimana dimaksud di atas tergolong terlalu rendah berdasarkan pengalaman wanprestasi untuk 1enis eksposur ini di negaranya. 3. ,agihan yang di1amin dengan real estate komersial

erdasarkan pengalaman di beberapa negara menun1ukkan bahwa pin1aman properti komersial sering men1adi penyebab timbulnya aset bermasalah dalam industri perbankan pada beberapa dekade terakhir, karena itu asel &omite berpandangan bahwa bobot risiko atas pembiayaan properti komersial tersebut harus sebesar 1006. 10. ,agihan yang telah 1atuh tempo 'orsi yang tidak di1amin dari setiap pin1aman $selain yang memenuhi kuali0ikasi sebagai pembiayaan rumah tinggal) yang telah 1atuh tempo lebih dari 30 hari, setelah dikurangi cadangan khusus $termasuk write+o00s sebagian), akan diberi bobot risiko sebagai berikut#

obot risiko 1>06 bila cadangan khusus kurang dari 206 outstandingpin1aman. obot risiko 1006 bila cadangan khusus tidak kurang dari 206 outstanding pin1aman. obot risiko 1006 bila cadangan khusus tidak kurang dari >06 outstanding pin1aman, tetapi dengan diskresi pengawas dapat berkurang men1adi >06.

'ada kasus pembiayaan rumah tinggal yang telah memenuhi kuali0ikasi pin1aman 1atuh tempo yang telah melampaui 30 hari akan diberi bobot risiko sebesar 1006 setelah dikurangi cadangan khusus. "pabila pin1aman tersebut telah 1atuh tempo tetapi memiliki cadangan khusus tidak kurang dari 206 outstanding pin1aman, bobot risiko atas sisa pin1aman dapat diturunkan men1adi >06 berdasarkan diskresi nasional 11. &ategori %isiko yang Eebih ,inggi ,agihan+tagihan berikut akan diberi bobot risiko sebesar 1>06 atau lebih#

,agihan pada pemerintah, 'S., bank, dan perusahaan sekuritas dengan peringkat di bawah +. ,agihan pada perusahaan dengan peringkat di bawah +. ,agihan yang telah 1atuh tempo . &elas aset yang disekuritisasi $securitisation tranches) dengan peringkat antara b akan diberi bobot risiko sebesar D dan :>06.

'engawas nasional dapat menerapkan bobot risiko 1>06 atau lebih agar mencerminkan

risiko yang lebih tinggi terhadap beberapa 1enis aset misalnya investasi pada modal ventura dan penyertaan melalui penawaran terbatas $private eKuity investment).

12. "set+"set Eainnya Secara umum, bobot risiko standar untuk aset lainnya adalah sebesar 1006 dan investasi pada ekuitas atau regulatory capital instrument yang diterbitkan oleh bank atau perusahaan sekuritas akan diberi bobot sebesar 1006. 1:. 'os + 'os ;00+balance sheet &omponen rekening administrati0 berdasarkan standardised approach akan dikonversikan men1adi setara dengan eksposur kredit melalui penggunaan 0aktor konversi kredit $credit conversion 0actors+!!F). Faktor &onversi kredit berdasarkan asel / adalah sebagai berikut # + *irect credit substitutes, bobot risikonya L 1006

+ &omponen kontin1ensi tertentu yang terkait dengan transaksi tertentu, bobot risikonya L >06 + &omponen &ontin1ensi yang terkait perdagangan yang dapat dilikuidasi sendiri dalam 1angka pendek, bobot risikonya L 206 + Sale and repurchase agreements $=repos=) dan pen1ualan aset dengan recourse, dimana risiko kredit tetap ada pada bank, bobot risikonya L 1006 + Forward asset purchase, 0orward 0orward deposits dan partly paid shares and securities, yang mempresentasikan komitmen dengan penarikan tertentu, bobot risikonya # 1006 + + Fasilitas note issuance dan 0asilitas revolving underwriting, bobot risikonya L >06 &omitmen lain dengan 1atuh tempo awal lebih dari satu tahun, bobot risikonya L >0

+ &omitmen serupa $seperti di atas) dengan 1atuh tempo awal sampai dengan satu tahun, atau yang dapat dibatalkan dengan tanpa syarat kapan sa1a, bobot risikonya L 06 'erbedaan utama conversion %actors dalam asel //, adalah# + + + &omitmen yang bisa dibatalkan dengan tanpa syarat L 06 &omitmen sampai dengan 1 tahun L 206 &omitmen lebih dari satu tahun L >06

+ Semakin rendah pembobotan komitmen itu sendiri $lihat di atas) atau pembobotan item o00+ balance sheet itu sendiri, $misalnya, garansi) + + Securities lending $termasuk pemberian pin1aman sebagai kolateral) L 1006 Eetters o0 credit perdagangan $sebagai bank penerbit atau con0irming bank) L 206.

#u*uan "engendalian Risiko Kredit ,u1uan utama dari pengendalian risiko kredit adalah men1aga agar semua aktivitas kredit ank tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuan ank atau membahayakan kelangsungan usaha ank. @ntuk menghindari hal tersebut diatas, maka diperlukan langkah+langkah sebagai berikut # a. (enyediakan (odal Mang !ukup @ntuk (enutup %isiko. (elalui pengendalian risiko kredit yang e0ekti0, ank dapat menyediakan modal baik dalam rangka memenuhi peraturan rasio kecukupan modal $!apital "deKuacy %atio), maupun dalam meng+cover risiko secara keseluruhan. ank wa1ib melindungi besarnya modal yang dimiliki serta mengupayakan untuk meningkatkan 1umlah modal melalui peningkatan bisnis yang sehat. esarnya ekspansi yang dilakukan harus sudah memperhitungkan potensial risiko kredit yang timbul serta kecukupan modal yang dimiliki serta kelangsungan usaha bank.

b. (emelihara &ualitas "ktiva 'rodukti0. Salah satu ukuran kiner1a bisnis bank diukur dari kualitas aktiva produkti0 yang dimiliki. Sesuai dengan 'eraturan ank /ndonesia, kualitas pin1aman ditetapkan dalam > $lima) golongan yaitu # N &olektibiliti 1 C Eancar $'ass) N &olektibiliti 2 C *alam 'erhatian &husus $Special (ention) N &olektibiliti : C &urang Eancar $Substandars) N &olektibiliti 8 C *iragukan $*oubt0ul) N &olektibiliti > C (acet $Eoss) c. (eningkatkan .0isiensi 'roses (ana1emen &redit

"pabila risiko kredit dapat diidenti0ikasi, diukur, dan dimonitor dengan lebih baik, maka proses mana1emen perkreditan akan lebih cepat dan e0isien d. (eningkatkan udaya &redit Mang Sehat $2ealthy !redit !ulture) 'roses peningkatan budaya kredit yang sehat antara lain dilakukan melalui kampanye Osadar risiko kreditP sehingga proses pemberian kredit se1ak analisa kredit, persetu1uan kredit, pemantauan kredit dilakukan berdasarkan prinsip pro0essionalisme dan men1un1ung tinggi %airness dan good corporate governance. Salah satu aspek penting diberlakukannya sistem rating sebagai bagian dari alat/ tools dalam credit risk management adalah meningkatkan healthy credit culture karena seluruh proses dapat dilakukan terbuka dan terukur. e. (emberikan %espon isnis *engan Eebih !epat (emperhatikan kondisi persaingan yang semakin meningkat, maka diperlukan respon yang cepat terhadap perkembangan bisnis yang ada. *engan mengetahui se1ak dini tingkat risiko yang akan muncul pada debitur, maupun pada level port0olio maka langkah antisipati0 dapat segera dilakukan sehingga kiner1a dan kelangsungan usaha bank dapat terus dipertahankan.

Prinsip Pengendalian Pengendalian Risiko Kredit

'rinsip 'engendalian %isiko &redit mencakup hal+hal sebagai berikut #

a. ,erbinanya &epedulian ,erhadap %isiko &redit 'engendalian risiko kredit memerlukan komitmen semua pihak dari level mana1emen tertinggi hingga credit o00icer maupun sta00 operasional yang berada pada 1a1aran terdepan di kantor cabang/ kantor cabang pembantu. 'engendalian risiko kredit akan optimal apabila ada kesamaan bahasa dan ditu1ukan untuk melindungi kepentingan bank. *ireksi melalui unit pengendalian risiko harus memastikan bahwa seluruh kebi1akan dan strategi pengendalian risiko yang ditetapkan telah mere0leksikan tingkat risiko yang dapat diterima $risk tolerance/ risk appetite) dan secara berkala dilakukan review. Secara khusus unit pengendalian risiko kredit bertanggung 1awab terhadap implementasi strategi pengendalian risiko kredit, pengembangan credit risk tools, perumusan kebi1akan dan prosedur credit risk bagi level individual debitur maupun pada level port0olio.

b. 'roses &redit berdasarkan proses yang sehat 'rosedur rangkaian proses permohonan kredit harus mematuhi ketentuan mana1emen perkreditan yang berlaku dan diperlakukan sama. 2al tersebut berlaku untuk debitur lama maupun debitur baru. %angkaian proses se1ak analisa, persetu1uan, pemantauan maupun penyelamatan harus tercantum dalam Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank. Seluruh loan/ credit o00icer harus berusaha mematuhi dan diupayakan untuk tidak memberlakukan pengecualian $e-ception) atas ketentuan yang ditetapkan. *alam hal ter1adi pengecualian, maka harus ditentukan 1enis pengecualiannya batas waktu maksimal pengecualian tersebut diberlakukan dan harus dilakukan pemantauan serta pelaporan secara khusus $e-ception report). Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank harus secara terus menerus dilakukan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan bisnis, perubahan regulasi / atau hal lain yang dianggap perlu seperti perubahan organisasi, pengembangan produk, perubahan tools perkreditan baru dan lain+lain.

c. 'enataan Mang (emadai "tas "spek "dministrasi, 2asil 'engukuran *an 'roses 'emantauan. ank harus memiliki sistem administrasi yang memadai yang memastikan bahwa seluruh dokumentasi kredit dan proses administrasi yang menyertainya tersimpan dengan baik sesuai ketentuan batas waktu penyimpanan dokumen yang ditetapkan. 2al ini men1adi penting, untuk memastikan bahwa bank memiliki pencatatan dan bukti apabila dikemudian hari ter1adi permasalahan hukum $credit+based law en0orcement) 2asil pengukuran atas risiko kredit yang timbul dan atau yang akan timbul harus dilakukan pencadangan dan diharuskan untuk memperhitungkan dampaknya terhadap kemampuan modal bank. ank harus mengembangkan sistem in0ormasi risiko kredit sebagai bagian dari pengembangan /n0ormation ,echnology $/,) secara keseluruhan. *ukungan /, diperlukan agar proses pemantauan risiko kredit dapat dilakukan dengan lebih cepat sehingga dapat meminimalisir potensi kerugian yang lebih besar.

d. (emastikan pengendalian yang memadai terhadap risiko kredit Sistem pengendalian risiko kredit bank harus independen, dilakukan dengan perhitungan dan analisa yang memadai, 0air dan dapat dipertanggung 1awabkan.

ank harus memastikan bahwa seluruh e-posure telah dikelola dengan baik, konsisten dengan standar dan prosedur yang ditetapkan serta dalam batasan tingkat risiko yang dapat diterima $acceptable risk) ank 1uga harus memiliki sistem yang memadai guna mengambil langkah penting terhadap memburuknya kualitas pin1aman individu debitur dan penanganan terhadap pin1aman bermasalah. 2al+hal tersebut hendaknya diatur khusus dalam Sistem dan 'rosedur 'erkreditan ank.

Mana*emen Risiko Kredit Sebagai lembaga %inancial intermediary yang menerima dana masyarakat, dan selan1utnya menyalurkan kembali dalam bentuk kredit, menyebabkan bank harus menerapkan prinsip kehatian+hatian dalam melakukan aktivitas operasionalnya agar bank tetap men1adi lembaga yang dipercaya oleh masyarakat $prudential $anking activity). 'enerapan prinsip kehati+hatian oleh bank diantaranya diimplementasikan melalui kemampuan bank untuk mengelola port0olio kredit yang dimiliki sehingga risiko yang berpotensi untuk ter1adi $credit risk) dapat diukur dan dikontrol. (engingat saat ini kredit merupakan asset yang paling besar yang dikelola bank, dan 1uga merupakan konstributor yang paling dominan terhadap pendapatan bank.

Pengertian Risiko Kredit "dalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewa1iban keuangannya sesuai kontrak /kesepakatan yang telah dilakukan. *e0inisi ini dapat diperluas yaitu bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul dikarenakan kualitas kredit semakin menurun. (emang penurunan kualitas kredit dimaksud belum tentu berimplikasi pada ter1adinya de0ault, namun paling tidak kemungkinan ter1adinya de0ault akan semakin besar.

2al+hal yang termasuk dalam %isiko &redit adalah # Lending %isk, yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi 0asilitas yang telah diberikan oleh bank, baik berupa 0asilitas kredit langsung maupun tidak langsung $cash loan maupun non cash loan) Counterparty Risk, risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewa1ibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan. Issuer Risk, risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank se1umlah nilai surat berharga yang dimiliki bank.

Ruang Lingkup Risiko Kredit Dengan Jenis Risiko Lainnya %uang lingkup risiko kredit tidak dapat dipisahkan secara 1elas dan tegas dengan 1enis risiko lainnya $risiko operasional, risiko pasar dan risiko likuiditas) dan keempat 1enis risiko ini saling terkait. %isiko kredit dapat timbul dikarenakan telah ter1adinya risiko pasar terlebih dahulu. Sebagai contoh, nilai kredit nasabah men1adi sangat besar, dikarenakan kredit diberikan dalam dominasi valas dan nilai tukar %upiah melemah. %isiko kredit dapat timbul dikarenakan telah ter1adinya risiko operasional terlebih dahulu. Sebagai contoh, petugas ank telah lalai dalam melaksanakan taksasi 1aminan dan pengikatannya.

+redit Risk Management Credit Risk (anagement merupakan suatu proses dimana risiko kredit diidenti0ikasi, diukur, dan dikelola $termasuk monitoring, controlling dan communication). 'roses dimaksud si0atnya cyclical, dan dimulai se1ak aplikasi kredit diterima oleh dianalisa, persetu1uan, pemantauan, dan penyelamatan. ank,

"gar proses pengelolaan risiko kredit tersebut dapat ber1alan secara e0isien diperlukan in0rastruktur pendukung, yaitu# &ebi1akan, ;rganisasi, Sistem /n0ormasi, dan %isk (odelling.

"engukuran Risiko Kredit )alam Basel II 'ada tahun 1344 /S mengeluarkan suatu konsep kerangka permodalan yang lebih dikenal dengan asel !apital "ccord / $ asel /) yang mencakup hanya risiko kredit dan hubungan antara risiko dan modal dengan menggunakan pendekatan standard. *engan pendekatan standard, perhitungan kecukupan modal dilakukan dengan mengalikan 0aktor $disebut 1uga bobot risiko $risk weights)) untuk setiap 1enis kredit kepada pemerintah, kredit kepada bank lain, dan kredit korporasi 5 personal, kemudian men1umlahkan seluruhnya untuk kemudian dikalikan dengan 46 sebagai rasio modal minimum $target capital ratio). Se1alan dengan semakin berkembangnya produk+produk yang ada di dunia perbankan, $setelah mempublikasikan the (arket %isk "mendment ,ahun 1337), asel !ommittee mengembangkan !apital "ccord baru $New !") yang disebut asel // yang diadopsi tahun 2008 dan diimplementasikan mulai tahun 2007/9.

*okumen asel // terdiri dari : 'ilar yaitu 'ilar 1 # 'erhitungan permodalan yang berbasis risiko, 'ilar 2 # Supervisory %eview 'rocess, dan 'ilar : # (arket *iscipline. *okumen ini mencakup %isiko 'asar, %isiko &redit, %isiko ;perasional dan %isiko lain+lain $<;ther= %isks). &husus risiko kredit, asel // memperkenankan penggunaan 2 $ dua) pendekatan dalam penentuan bobot risiko asset, yaitu Standardised "pproach dan /nternal %atings ased "pproach / /% " $yang dalam prakteknya terbagi 2 metode yaitu Foundation 5 "dvanced). %isiko &redit $!redit risk) dide0inisikan sebagai potensi kerugian akibat kemungkinan kegagalan counterparty memenuhi kewa1ibannya ketika 1atuh tempo $pemin1am tidak membayar hutangnya).