Anda di halaman 1dari 6

Minggu, 26 Februari 2012

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: KAJIAN TEORI AKOMODASI KOMUNIKASI


Vinsen gande

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: KAJIAN TEORI AKOMODASI KOMUNIKASI A !en"a#u$uan Komunikasi antara masyarakat yang berbeda budaya merupakan fenomena yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena-fenomena tersebut salah satunya adalah fonomena lingual. Fenomena lingual dapat kita amati langsung komunikasi yang terjadi antara seorang penutur (speaker) yang berasal dari daerah Ngada dengan mitra bicara (listener) yang berasal dari daerah Manggarai. Identitas kultural speaker identik dengan bahasa Ngada yang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Ketidakmampuan speaker dalam memahami keragaman kultural menimbulkan persoalan-persoalan komunikasi antarbudaya. alam konteks ini perlu kita memahami pentingnya cross cultural! yaitu mampu berkon"ergen dengan masyarakat yang berbeda budaya. #erbedaan budaya akan berimplikasi pada perbedaan bahasa yang digunakan. alam proses pengungkapan diri (self disclosure) terhadap identitas kultural! para penutur tidak melakukannya dengan leluasa kepada semua orang dan pada semua situasi. $da beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengungkapan diri tersebut! di antaranya adalah% setting of communication, faktor kedalaman hubungan! faktor jenis kelamin dan faktor asal daerah. #erbedaan bahasa dapat berupa logat! tata cara! perilaku non"erbal! atau simbol-simbol lain yang digunakan. &alah satu yang membedakan dari cara mereka berkomunikasi adalah latar belakang budaya yang berbeda ($nugrah! '(()*+,). Menurut -iles! .oupland! dan .oupland! (,//,*0) perbedaan bahasa dapat berupa utterance length, posture, gesture, head nodding and facial affect, self disclosure, vocal intencity, information density, dan pausing frequencies and length. #erbedaan bahasa tersebut mengisyaratkan kita agar adanya upaya penyesuaian diri terhadap mitra tutur (listener) dengan tujuan untuk menciptakan hubungan asosiatif (kon"ergensi) maupun hubungan disasosiatif (di"ergensi). 1ntuk mengkaji fenomena bahasa tersebut diperlukan pengkajian secara komprehensif melalui 2eori $komodasi Komunikasi (2$K). 2$K dapat menemukan regularitas termasuk communicative interchanges and identify, prediction, contextual configuration yang berhubungan secara sistematis satu dengan yang lainnya. 3ang dimaksud konteks dalam hal ini mencakupi motivational, strategic, behavioral, attributional, dan evaluative yang interactants satu sama lain tergantung pada communication experiences dan the way in which the social practices misalnya tujuan! identitas! dan struktur sosial. alam hal ini! 2$K berfokus pada elaborasi sejumlah proses kontekstual seperti code, style! dan strategy. In the view of some commentators, it may even be considered the predominant theory at the interface between language, communication, social psychology

(4radac! 5opper dan 6iemann ,/)/% Messick dan Mackie ,/)/ dalam -iles! .oupland! dan .oupland! (,//,*0)). i satu sisi! 2$K dapat dilihat sebagai organisasi yang multiply organized and contextually complex set of alternatives! face to face talk. Ini berfungsi untuk index, and achieve solidarity atau dissociation from a conversational partner reciprocally dan dynamically. i sisi lain! 2$K dapat dilihat pada krakteristik pola code! dan language selection. #aradigma 2$K! adalah (,) social consequences (attitudinal, attributional, behavioral, dan communicative (') ideological dan macro-societal factors, (+) intergroup variable and processes! (7) discursive practices in naturalistic settings (8) individual life span and group language shifts. 2elaahan ini menjelaskan suatu proses adaptasi bahasa dengan adanya bentuk akomodasi komunikasi. $komodasi diartikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan! memodifikasi! atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain (6est dan 2urner! '(()*',0). 2$K memberikan perhatian pada interaksi memahami antara orang-orang dari kelompok yang berbeda dengan menilai bahasa! perilaku non"erbal dan penggunaan paralinguistik indi"idu (-udykunst dan Moody! '(('*77). Melalui 2$K pemahaman bahasa antar penutur dari kelompok yang berbeda menjadi bagian penting untuk terciptanya tujuan komunikasi.2ujuan inti dari 2$K! untuk menjelaskan strategi penutur berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain selama berkomunikasi. B Da%a &I21$&I* (#ercakapan di salah satu rumah) $ * abe! ite 4 $ 4 $ 4 $ 4 $ 4 $ 4 $ 4 $ 4 $ 4 * Mai ga om! silakan duduk * 2erima kasih * abe, Mai ce9e ite rebaong: * Io.. * $pa na perlu hitu om ga: * oe da! daku mau perlu dengan bapanya nono.

* ;h! nggitu na. 2oe mek cai na! mungkin toe cekoen tau cai e. Nunduk kat agu aku lite ra om. * ! da! nunduk kat daku. "ao dia itu hari! mungkin ada jual rua. #o$o %ao gaku <aktu itu e da daku ma lelo di rumah. 5o9o mai daku ga! jadi atau tidak beli rua itu. * =ng om kami memang perlu ruha lima-n. $da om punya: * Io! ada. 5arga sebutir >p'(((. * Kalau gitu! ba<a besok padi ;m! * Io.. * Ini sudah 4apaknya. * &e getok na! dari mana saja kraeng: * #ulang dari besuk teman. 1dah dari tadi: * Io rebao daku ga. 'eba da ite ho9o ro: * $h! ada-ada saja.

& !e'ba#a(an ?eksikon tabe @selamat9, dan io @ya9 dalam kalimat di atas memiliki fungsi penggunaan yang berbeda. abe dipakai untuk menyapa mitra bicara dan io dipakai untuk menyatakan persetujuan atau menjalin kontak antara pembicara (speaker) dan mitra bicara (listener). ?eksikon tabe dan io merupakan fitur bahasa khusus (specific linguistic features) yang mencirikan keunikan bahasa Manggarai (bM). #emakaian leksikon tabe dalam bM misalnya! dapat dibedakan atas beberapa fungsi di antaranya (,) menyampa tuan rumah! (') menyapa tamu! (+) meminta bicara! (7) meminta permisi! (8) menyapa orang yang dianggap dihormati. 4eberapa fungsi tabe tersebut dapat dijelaskan fitur-fitur kon"ergen (convergent features) seperti yang dianjurkan oleh -iles! .oupland! dan .oupland! (,//,*0)! yaitu utterance length, posture, gesture, head nodding and facial affect, self disclosure, vocal intencity, information density, dan pausing frequencies and length. abe terdiri atas +>* 'is @menyapa9, 'aes @merasa bersaudara9! dan 'aos @tujuan pembicaraan9. Ke-+> tersebut merupakan sebuah tradisi Manggarai yang sangat sulit dipisahkan dari kehidupannya. &ebab tanpa ris tamu merasa tidak raes! apalagi raos. alam tradisi orang Manggarai! tamu didahulukan dengan ris baru tamu dengan tuan rumah merasa raes dan raes. alam hal ini! tamu dengan tuan rumah sudah dianggap keluarga! sahabat sehingga tidak perlu lagi ada perasaan malu. Aika ada sesuatu yang akan disampaikan dipersilakan. Aika raes, dan raos didahulukan! maka tamu menganggap dirinya tidak berterima di rumah itu! <alaupun disuguhkan dengan makanan yang enak! atau disuguhkan serba ada. &ehingga ris merupakan sebuah tradisi yang <ajib dilakukan oleh orang Manggarai terhadap tamu! sebelum raes! dan raos. a. (tterance length abe dalam kalimat di atas diujarkan agak panjang misalnya tabe). Fitur suprasegmental BeCD merupakan syllabic timing. 4unyi "okal BeD berubah menjadi durasi panjang BeCD atau intensitas "okal (vocal intencity) berdurasi panjang dan intonasi datar. #engucapan syllabic timing oleh mitra bicara dalam teks di atas diujarkan dengan "okal panjang Be)D. Ini menunjukkan bentuk kon"ergensi mitra bicara terhadap penutur asli bM. *yllabic timing BeCD pada tabe merupakan fitur khusus untuk menyapa 2uhan! menyapa tuan rumah pada saat bertamu! menyapa orang tua atau orang-orang yang dihormati! baik di luar rumah maupun di dalam rumah. #ada prinsipnya bah<a leksikon tabe digunakan untuk menyapa 2uhan dan orang-orang yang dihormati. &elain itu! io juga diujarkan agak panjang misalnya io). Fitur suprasegmental BoCD merupakan syllabic timing. 4unyi "okal BeD berintensitas panjang BoCD tanpa tekanan atau intensitas "okal (vocal intencity) berdurasi panjang dan intonasi datar. 4unyi panjang tersebut merupakan ciri pembeda khusus untuk 2uhan! leluhur atau kepada mitra bicara yang dihormati. &edangkan untuk tamu biasa diujarkan agak pendek BioED. #engujaran io dalam konteks kalimat di atas agak pendek. Mitra bicara berusaha menggunakan io untuk menunjukkan solidaritas terhadap tuan rumah yang dikunjunginya. b. +osture, gesture, head nodding and facial affect abe dan io diujarkan dengan lebih santun kepada mitra bicara. i samping itu! aspek posture, gesture, head nodding, and facial affect pun tidak dapat diabaikan karena bagaimanapun beberapa aspek tersebut dapat memberikan sensible atau make sense. alam tradisi Manggarai pengujaran tabe, dan io untuk mitra bicara yang dihormati atau 2uhan harus terlebih dahulu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan pembicara terhadap mitra bicara. abe ,' tidak hanya aspek lingual yang diperhatikan tetapi juga aspek nonlingual! seperti posture, gesture, head nodding, and facial affect misalnya posisi duduk! posisi tangan saat berjabat tangan! dan posisi kepala! serta pandangan mata. Itu semua harus diperhatikan dalam tabe dan io.

4eberapa leksikon dalam teks di atas yang berkaitan dengan sapaan a<al pembicaraan terhadap mitra bicara dengan tujuan untuk mengekspresikan bentuk kon"ergensi! di antaranya tabe @selamat9 dan io @ya9. abe diujarkan agak panjang dan intonasi rata. 4iasanya terjadi perbedaan dalam penggunaannya oleh bukan penutur asli bahasa Manggarai. #erbedaanya terletak pada unsur suprasegmental. #enggunaan tabe dalam teks di atas merupakan syllabic timing yang berintensitas "okal panjang BeCD sedangkan io diujarkan agak pendek BioED. c. "okes, ekspressing, dan solidarity 1jaran seperti oe lae @maki laki9, kraeng @tuan9 dan reba @ganteng9 dalam teks di atas merupakan bentuk %okes, ekspressing,dan solidarity. 1ntuk kepentingan kon"ergensi! #embicara (speaker) sangat penting menggunakan ujaran-ujaran tersebut agar dia dapat diterima dalam lingkungan penutur bM. Karena ada suatu asumsi bah<a bahasa dapat menciptakan solidaritas antarpenuturnya. Meskipun ujaran berupa kata-kata makian! tetapi dalam konteks tertentu dimaknai sebagai %okes dan bentuk solidaritas. #engujaran oe lae misalnya! dapat menimbulkan kemarahan bagi mitra bicaranya apabila keduanya belum saling kenal. alam konteks teks di atas! pengujaran oe lae dimaknai sebagai %okes! dan solidarity bukan bermakna makian. #enggunaan oe lae lebih diarahkan pada bentuk kon"ergensi pembicara terhadap mitra bicara. 4egitu pula ujaran kraeng @tuan9 oleh speaker terhadap mitra bicara lebih menunjukkan suatu kon"ergensi. #engujaran lesksikon kraeng merupakan salah satu fitur bahasa khusus (specific linguistic features) yang melambangkan keetnisan Manggarai. Fitur bahasa khusus juga terjadi pada daerah lain! yaitu orang 4aja<a disapa lame, orang =nde disapa bele, dan orang Maumere disapa mo$at. Kesemuanya ini merupakan bentuk solidaritas pembicara (speaker) terhadap mitra bicara dengan suatu tujuan agar lebih dekat! akrab! dan bersahabat. #engujaran reba @ganteng9 oleh speaker dalam teks di atas merupakan salah satu bentuk kon"ergensi untuk menciptakan solidarity! jokes! dan ekspressing terhadap mitra bicara. Meskipun kenyataan bah<a mitra bicara tidak ganteng! tetapi hal ini tidak diungkapkan kenyataan yang sebenarnya. #engujaran reba pertanda adanya kon"ergen speaker dengan mitra bicara. d. Information density alam teks di atas terdapat sejumlah information density, yaitu toe da @tidak9, %ao @mengatakan9, go$o %ao @dikatakan demikian9, rua @marah9! reba da @ganteng sekali9! e da daku @ya saya punya9. 4eberapa contoh tersebut ada beberapa fonem yang dilesapkan atau dihilangkan baik pada fonem akhir maupun pada fonem a<al kata. Fonem yang dihilangkan atau dilesapkan di antaranya* BnD pada toe da, reba da% fonem BngD pada e da daku, jao! go$o jao, dan fonem BhD pada rua. 4ahasa Manggarai cukup kaya dengan fonem prenasalize seperti nda, nggo$o, dan %aong. &edangkan bahasa Ngada tidak produktif dengan bunyi prenasalize.;leh karena itu! penutur bahasa Ngada sangat sulit berkon"ergensi dengan bunyi prenasalize. Ini berimplikasi pada penghilangan fonem nasal baik pada a<al kata maupun akhir kata. emikian pula pada fonem BhD terjadi pelesepan. #elesapan fonem BhD dipengaruhi oleh bahasa Ngada yang tidak mengenal bunyi BhD di antara "okal. &ehingga fonem BhD pada ruha dalam bM dilesapkan menjadi rua. 4eberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bah<a densitas prenasaliFe! dan fonem BhD terjadi pelesapan karena dipengaruhi oleh bahasa Ngada yang minim terhadap konsonan prenasalize dan fonem BhD di antara "okal.

DAFTAR !USTAKA

$nugrah! adan. '((). -omunikasi .ntarbudaya. Aakarta * Aala #ermata -iles! 5. .oupland! A and .oupland! N.,//,. .ccomodation theory/ 0ommunication, 0ontext, and 0onsequence. .onteGts of $ccomodation* &tudies =motion H &ocial Interaction. =dited by -iles 5! .oupland A and .oupland N. 1&$* .ambridge 1ni"ersity #ress. -udykunst! 6illiam 4. and Mody ed! 4ella. '(('. 1andbook of International and Intercultural 0ommunication. Ne< 3ork * &age 6est! >ichard dan 2urner! ?ynn 5. '((). +engantar eori -omunikasi .nalisis dan .plikasi. Aakarta * #enerbit &alemba 5umanika
http://vinsen-gande.blogspot.com/2012/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Teori Akomodasi Komunikasi


By humasunri anuary 1!" 201#

2eori $komodasi Komunikasi dikembangkan pada tahun ,/0, oleh 5o<ard -iles! profesor komunikasi! di 1ni"ersitas .alifornia! &anta 4arbara . 2eori $komodasi Komunikasi menjelaskan beberapa alasan kognitif untuk kode-s<itching dan perubahan lain dalam sambutannya sebagai indi"idu berusaha untuk ketika penutur menekankan atau meminimalkan perbedaan sosial antara diri mereka dan lawan bicara mereka.. -iles berpendapat bah<a meminta persetujuan dalam situasi sosial yang mereka cenderung untuk berkumpul ucapan mereka dengan yang mereka la<an. 5al ini dapat termasuk! namun tidak terbatas pada pilihan bahasa! aksen ! dialek dan paralinguistik fitur yang digunakan dalam interaksi. 4erbeda dengan kon"ergensi! speaker juga dapat terlibat dalam pidato berbeda. alam pidato berbeda! indi"idu menekankan jarak sosial antara diri mereka dan la<an bicara mereka dengan menggunakan fitur linguistik karakteristik kelompok mereka sendiri. 2eori Komunikasi $komodasi 2eori $komodasi Komunikasi berfokus pada peran percakapan dalam kehidupan kita. 2eori ini telah tergabung dalam sejumlah studi yang berbeda. Misalnya! akomodasi telah dipelajari di media massa! dengan keluarga! dengan mahasis<a .ina! dengan orang tua! pada pekerjaan! dalam <a<ancara! dan bahkan dengan pesan tertinggal di mesin penja<ab telepon 2idak ada keraguan bah<a teori ini heuristik. 2eori ini cukup ekspansif sangat lengkap! dan telah didukung oleh penelitian dari penulis yang beragam. &elain itu! inti teori proses kon"ergensi dan di"ergensi membuatnya relatif mudah dimengerti! menggarisba<ahi kesederhanaan teori.

Kekuatan teori mungkin cukup signifikan karena teori telah menimbulkan kritik ilmiah sedikit. Namun! sebuah beberapa kekurangan perhatian merit teori. ! misalnya! pertanyaan bingkai kon"ergensi-perbedaan terlebih dahulu oleh -iles. Mereka percaya bah<a percakapan terlalu rumit untuk dikurangi hanya untuk proses ini. Mereka juga menantang gagasan bah<a akomodasi rakyat dapat dijelaskan hanya dengan dua praktek.

In%i(ari Te)ri A*)')"a(i K)'uni*a(i 5o<ard -iles! profesor komunikasi! di 1ni"ersitas .alifornia! &anta 4arbara .adalah tokoh yang mengembangkan teori akomodasi komunikasi menurut pendapatnya 2eori $komodasi Komunikasi berfokus pada peran percakapan dalam kehidupan kita. menekankan atau meminimalkan perbedaan sosial antara diri mereka dan lawan bicara mereka.. .. -iles berpendapat bah<a meminta persetujuan dalam situasi sosial yang mereka cenderung untuk berkumpul ucapan mereka dengan yang mereka la<an. 5al ini dapat termasuk! namun tidak terbatas pada pilihan bahasa! aksen ! dialek dan paralinguistik fitur yang digunakan dalam interaksi. 4erbeda dengan kon"ergensi! speaker juga dapat terlibat dalam pidato berbeda. alam pidato berbeda! indi"idu menekankan jarak sosial antara diri mereka dan la<an bicara mereka dengan menggunakan fitur linguistik karakteristik kelompok mereka sendiri. +)n%)# apa yang terjadi jika orang baik menyatu dan menyimpang dalam percakapan: $pakah ada konsekuensi pembicara:: pendengar: $pa pengaruh-jika ada-tidak memainkan ras atau etnis dalam proses simultan. &alah satu mungkin juga mempertanyakan apakah teori terlalu banyak bergantung pada cara rasional berkomunikasi.$rtinya! meskipun teori itu mengakui konflik antara komunikator! juga terletak pada standar yang memadai konflik.