Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan. Pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Manceaux tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus Gundi di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil.6 Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini juga dapat menyerang hewan lain seperti babi, sapi, domba, dan hewan peliharaan lainnya. Walaupun sering terjadi pada hewan-hewan yang disebutkan di atas penyakit toxoplasmosis ini paling sering dijumpai pada kucing dan anjing.4 Untuk tertular penyakit toxoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga bisa terjadi pada orang lainnya yang suka memakan makanan dari daging setengah matang atau sayuran lalapan yang terkontaminasi dengan agent penyebab penyakit toxoplasmosis.4 Infeksi yang terjadi selama trimester pertama, 17% dari bayi akan mendapat toxoplasmosis bawaan dan tingkat keparahan penyakit lebih besar. Jika infeksi yang diperoleh selama trimester ketiga, 65% dari bayi akan menderita toksoplasmosis congenital, namun banyak yang asimtomatik. Temuan yang paling umum dalam toxoplasmosis bawaan adalah retinokoroiditis.3 Prevalensi terjadinya toksoplasmosis di Amerika Serikat terjadi sekitar 30 % pada seluruh populasi orang dewasa. Sebanyak 70% 80% merupakan wanita usia reproduksi. Kejadian infeksi Toxoplasmosis pada wanita hamil terjadi sekitar 1,25 % dari jumlah populasi per tahunnya.9

Dalam kasus toxoplasmosis kongenital prevalensinya antara 5.000 sampai 10.000 kasus per tahun di Perancis, tingkat penularan transplasenta dari toxoplasmosis bervariasi dari 6% pada 13 minggu kehamilan sampai 72% pada 36 minggu kehamilan.5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI MATA DAN RETINA

Gambar 2.1.1 Anatomi mata

Gambar 2.1.2 Lapisan-lapisan retina

2.2 TOXOPLASMOSIS OCULAR 2.2.1 Definisi Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliharaan.6

2.2.2 a)

Etiologi Toxoplasmosis kongenital

Ketika wanita dengan pertahanan tubuh yang lemah terinfeksi saat kehamilan, terjadi tranmisi transplacenta dari T. gondii kepada fetus dan menyebabkan terjadinya congenital toksoplasmosis

b) Toxoplasmosis didapat 1. Memakan kista jaringan yang berasal dari daging sapi, daging kambing, atau daging babi yang mentah atau setengah matang. 2. Memakan ookista yang berasal dari susu, air, atau sayuran. 3. Menghirup ookista 4. Transfuse darah yang terkontaminasi, transplantasi organ, dan inokulasi yang tidak disengaja saat berada di laboratorium.

2.2.3 Patofisiologi Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3 7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Dapat ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan

membelah secara lambat dan disebut bradizoit. Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10 100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 1012 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing.4 Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni. Yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleha hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut.4 Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa,

tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerjad dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii.4 Infeksi akut ditandai oleh tachyzoit yang menginvasi dan berproliferasi pada hampir semua tipe sel mamalia kecuali eritrosit yang tidak mempunyai inti. Saat organism mencapai mata melalui aliran darah, tergantung pada status imun host, akan dimulai fase klinis atau subklinis yang terjadi di retina. Jika imun host memberi respon maka takizoit akan merubah dirinya menjadi bradizoit dan terbentuklah kista. Kista sangat resisten terhadap pertahanan tubuh host, dan akan terjadi infeksi laten yang menjadikannya kronis.4 Jika terjadi infeksi subklinis, tidak ada perubahan yang terjadi pada pemeriksaan funduskopi. Kista akan menetap pada retina yang nampaknya normal. Saat status imun host menurun oleh karena sebab apapun, dinding kista akan hancur, melepaskan organism-organisme tersebut ke retina, dan proses inflamasi pun dimulai kembali. Jika terjadi lesi klinis aktif, terjadi proses penyembuhan dan terbentuk chorioretinal scar. Kista seringkali tetap inaktif diantara atau menempel pada scar. Parasit toxoplasma jarang teridentifikasi pada sampel aqueous humor dari pasien dengan ocular toxoplasmosis aktif. Hal ini menunjukkan bahwa proliferasi parasit terjadi hanya pada fase awal infeksi.4

Gambar 2.2.1 Penularan Toxoplasma Gondii

2.2.4 Gejala Klinis Gejala klinis pada pasien dengan Toxoplasmosis Ocular, yaitu: 1. Penurunan tajam penglihatan 2. Floaters 3. Tidak nyeri 4. Fotopsia

2.3 TOXOPLASMOSIS OCULAR KONGENITAL 2.3.1 Definisi Toxoplasmosis congenital adalah infeksi yang didapatkan melalui transplacenta dari ibu yang terinfeksi terhadap janinnya.5

2.3.2 Etiologi Toxoplasmosis kongenital terjadi ketika seorang ibu hamil diduga terinfeksi selama kehamilannya, dapat terjadi transmisi transplasental toxoplasma gondii ke dalam tubuh janin, yang pada akhirnya dapat menyebabkan toxoplasmosis kongenital.5 Jika seorang ibu terinfeksi selama trimester pertam kehamilannya, 17% bayi mengalami toxoplasmosis kongenital, akan tetapi tingkat keparahan penyakitnya lebih tinggi. Jika infeksi terjadi pada trimester ketiga, 65% bayi menderita toxoplasmosis kongenital, tetapi kebanyakan dari mereka asimptomatis. Sedangkan infeksi maternal kronis tidak berhubungan dengan terjadinya toxoplasmosis kongenital.3

2.3.3 Gejala Klinis Gambaran klinis toxoplasmosis kongenital adalah retinochoroiditis, kalsifikasi serebral, dan kejang. Penemuan lainnya meliputi hidosefalus, mikrosefalus, organomegali, ikterus, ruam, demam, dan retardasi psikomotor. Penemuan tersebut didapatkan pada sedikit kasus, akan tetapi menunjukkan infeksi akut dan fatal.1

Gambar 2.2.2 Macular scar sekunder akibat toxoplasmosis kongenital

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hingga 75% pasien dengan toxoplasmosis kongenital memiliki chorioretinal scar saat lahir. Sebaliknya, lesi okular pada pasien yang terinfeksi toxoplasma setelah lahir jarang ditemukan. Oleh karena itu pasien dengan chorioretinitis aktif yang memiliki chorioretinal scar merupakan reaktifasi dari infeksi sebelumnya.1

Gambar 2.2.3 Chorioretinal scar inaktif 2.3.4 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis yang tampak dengan funduskopi dan hasil pemeriksaan pada pemeriksaan penunjang. 9

Hasil laboratorium a) Serology 1. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis pada pemeriksaan fundus. Pemeriksaan serology hanya sebagai pemeriksaan tambahan. 2. Serum titer antibody antitoksoplasma dapat ditemukan dengan beberapa tehnik : a) Enzyme-Linked immunosorbent assay (ELISA) b) Indirect fluorescent antibody test c) Indirect hemagglutination test d) Complement fixation e) Sabin-feldman dye test 3. Temuan serology penting untuk menentukan apakah infeksi ini termasuk akut atau kronik. Infeksi akut didiagnosis dengan seroconversion. Titer IgG menunjukkan 4-fold dan akan memuncak pada 6-8 minggu setelah terjadinya infeksi, dan dapat bertahan selama lebih dari 2 tahun selanjutnya. Antitoxoplasma IgM akan muncul pada minggu pertama infeksi. Selain IgM yang akan muncul, pada infeksi yang akut juga akan ditemukan peningkatan IgA dan IgA dapat bertahan hingga 1 tahun.8 b) Imaging Studies 1. Flourescein angiography (FA) dari lesi yang aktif akan menunjukkan hypoflourescent selama infeksi, dan diikuti dengan kebocoran yang progresif. 2. USG diiindikasikan untuk memeriksa media penglihatan terutama badan vitreous. Temuan yang paling banyak ditemukan adalah intravitreal punctiform echoes, penebalan dari hyaloids posterior, parsial atau total vitreous detachment, dan penebalan fokal retinokoroid.7,8

c) Pemeriksaan Histopatologi 1. Pemeriksaan ini adalah kriteria standar untuk diagnosis. Pada pemeriksaan ditemukan, tachyzoite tampak oval atau bulan sabit. Pewarnaan tachyzoite

10

dengan menggunakan pewarnaan Giemsa. Pada pewarnaan akan tampak sitoplasma berwarna biru dan nucleus berwarna merah dan berbentuk sferis. 2. Pada bentuk kista, pada dindingnya ditemukan eosinofil, argyrophilic dan PAS positif. Bentuk kista terdiri dari 50-3000 bradyzoit. 3. Peradangan tampak nyata pada retina, vitreous dan koroid. Koroid yang berdekatan dengan retina menunjukkan inflamasi granulomatosa. Retina mengalami parsial nekrosis dengan batas yang jelas. Setelah menyembuh, area retina yang terinfeksi hancur dan terdapat adhesi corioretina.8, 10

2.3.5 Tatalaksana A. Terapi Medikamentosa Karena kondisi ini merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri, sehingga tatalaksana sistemik dari toksoplasmosis didapat tidak direkomendasikan. Terjadinya retinokoroiditis tidak selalu merupakan indikasi pengobatan. Pada umumnya, lesi yang kecil di perifer dapat menyembuh dengan spontan. Tetapi lesi pada arcade pembuluh darah, lesi dekat optic disk, lesi dekat papil optic harus diberikan pengobatan. Sedangkan pada Ocular toxoplasmosis, beberapa regimen terapi telah direkomendasikan: a) Terapi Triple drug antara lain pyrimethamine (dosis inisiasi 75-100mg pada hari pertama dan diikuti 25-50mg pada hari selanjutnya), sulfadiazine (dosis inisial 2-4 g selama 24 jam dilanjutkan dengan 1 g q.i.d) dan prednison. b) Terapi Quadruple adalah pyrimethamine, sulfadiazin, klindamycin dan prednison. Pemakaian pyrimethamine seharusnya dikombinasikan dengan asam folad untuk menghindari komplikasi hematologi. Lama pengobatan tergantung pada respon dari tiap individu, tetapi pada umumnya 46 minggu. Pemberian trimetoprim 60 mg dan sulfametoksazole 160mg selama 3 hari digunakan sebagai profilaksis toksoplamosis retinokoroiditis. Setelah observasi selama 20 bulan, 6,6 % dari pasien mengalami infeksi rekuren.2,8 Selama kehamilan, spiramycin dan sulfadiazine dapat dikonsumsi selama trimester pertama. Sedangkan untuk trimester kedua spiramycin, sulfadiazine,

11

pyrimethamine dan asam folat direkomendasikan. Spiramycin, pyrimethamine dan asam folat dapat digunakan hingga trimester ketiga. Penggunaan kostikosteroid adalah sebagai berikut : a) Kortikosteroid topikal digunakan apabila terdapat reaksi pada bilik mata depan b) Terapi depot steroid dikontaraindikasikan untuk terapi Ocular toxoplasmosis. Steroid dosis tinggi yang diberikan pada jaringan mata akan menekan sistem imun dari host, sehingga akan menimbulkan nekrosis jaringan yang tak terkendali dan potensial menimbulkan kebutaan. c) Kostikosteroid sistemik digunakan sebagai terapi tambahan untuk

meminimalkan reaksi peradangan. Pemberian terapi sikloplegik juga dapat diberikan apabila terjadi peradangan pada bilik mata depan dan mengurangi nyeri serta mencegah terjadinya sinekia posterior. Obat antitoksoplasma adalah sebagai berikut : 1. Sulfadiazine 2. Klindamycin a) Terapi intraviteal klindamycin (0,1 mg/0,1 ml) dilaporkan menguntungkan pada individu yang tidak berespon pada pengobatan oral b) Pemberian intraviteal klindamycin (1mg) dan intraviteal dexamethasone (400g) dibandingkan dengan terapi triple drug dari sulfadiazine (dosis inisial 4g/hari untuk dua hari diikuti dengan 500mg qid), pyrimethamine (dosis inisial 75mg untuk 2 hari dan diikuti 25 mg/hari), asam folat (5mg qd) dan prednisolon (1 mg/kg dimulai pada saat hari ketiga) selama 6 minggu pengobatan retinokoroiditis toksoplasma. Hasil yang didapatkan pada kedua pengobatan adalah pengecilan ukuran lesi, inflamasi pada vitreous berkurang dan peningkatan kemampuan penglihatan. Sedangkan intraviteal klindamycin dan dexamethasone lebih menguntungkan pada retinokoroiditis toksoplama dengan efek samping yang lebih aman. c) Pyrimethamine d) Atovaquone (750 mg qid) : obat ini digunakan untuk terapi lini kedua

12

e) Azithromycin (250 mg/hari atau 500mg pada hari pertama

dengan

pyrimethamine 100mg pada hari pertama diikuti dengan 50mg/hari pada hari selanjutnya) dapat juga digunakan sebagai alternatif. f) Kombinasi dari trimethropim (60mg) dan sulfamethoxsazole (160mg) dapat mengurangi ukuran lesi.8

B. Terapi bedah 1. Dapat dilakukan fotokoagulasi atau cryoterapi. 2. Komplikasi yang dapat timbul adalah perdarahan intraretina, perdarahan badan vitreous, dan ablasio retina. 3. Pars plana vitrectomy dapat diindikasikan pada ablasio retina sekunder dari traksi vitreous.10

2.3.6 Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi akibat okular toxoplasmosis antara lain: a) Katarak b) Glaukoma c) Oklusi vena retina d) Oklusi arteri retina e) Tractional retinal detachment

2.3.7 Pencegahan Dalam hal pencegahan toxoplasmosis yang penting ialah menjaga kebersihan, mencuci tangan setelah memegang daging mentah, menghindari feces kucing pada waktu membersihkan halaman atau berkebun. Memasak daging minimal pada suhu 66oC atau dibekukan pada suhu 200C. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang rumah atau serangga. Wanita hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala akan kemungkinan infeksi dengan toxoplasma gondii.6

13

BAB III KESIMPULAN


1. Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Toxoplasmosis kongenital yaitu infeksi yang didapatkan melalui transplacenta dari ibu yang terinfeksi terhadap janinnya

2. Dalam hal pencegahan toxoplasmosis yang penting ialah menjaga kebersihan, mencuci tangan setelah memegang daging mentah, menghindari feces kucing, serta menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang rumah atau serangga.

14

DAFTAR PUSTAKA

1.

Asyari, Fatma dan Lembah Redati. 2011. Management of Toxoplasmosis. Vol 32 : 2 2001. Jakarta.

Ocular

2.

Bosch-Driessen LH, Plaisier MB, Stilma JS, et al. 2002. Reactivations of ocular toxoplasmosis after cataract extraction. Ophthalmology. Vol 109 : 41 45.

3.

Brezin AP, Thulliez P, Couvreur J, et al. 2003. Ophthalmic Outcomes After Prenatal And Postnatal Treatment Of Congenital Toxoplasmosis. Am J Ophthalmol Vol 135: 779784.

4.

Crosier, Yan Guex. 2009. Update on the Treatment of Ocular Toxoplasmosis. International Journal of Medical Science. Vol 6(3):140-142.

5.

Elisabeth Robert. 2003. Congenital Toxoplasmosis. Orphanet Encyclopedia. http://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-toxo.

6.

Holland, Gary N. 2003. Ocular Toxoplasmosis: A Global Reassessment Part II: Disease Manifestations and Management. American Journal Of Ophthalmology Vol. 137(1).

7.

Labalette P, Delhaes L, Margaron F, et al. 2002. Ocular Toxoplasmosis After The Fifth Decade. Am J Ophthalmol. Vol 133 : 506515.

8.

NG Paul. 2002. Treatment of ocular toxoplasmosis. Australian Prescriber. Vol 25(4). Perry MD, Dwight D. 1993. Congenital Ocular Toxoplasmosis. Journal of the national medical association. Vol 75(2).

9.

10.

Soheilian, Masoud et al. 2011. How To Diagnose And Treat Ocular Toxoplasmosis. Online Ophtalmologi, Vol 11(12). 15