Anda di halaman 1dari 12

Gambar Vegetasi Mangrove di Segara Anakan Gambar 1.

Acanthus ebracteatus

Daun Gambar 2. Acanthus ilicifolius

bunga

buah

Daun

bunga

buah

Gambar 3. Aegiceras corniculatum

Daun Gambar 4. Avicennia alba

bunga

buah

Daun Gambar 5. Ceriops tagal

bunga

buah

Gambar 6. Rhizopora apiculata

Gambar 7. Derris trifoliata

Gambar 8. Nypa fruticans

PEMBAHASAN Ekosistem mangrove di segara anakan memiliki kekhasan tersendiri, terbentang di daratan estuaria mulai dari sebelah barat dengan batas sungai Citanduy, ke timur dengan batas sungai donan dengan dua muara di bagian barat dan bagian timur (Erftmeijer et al., 1988). Berdasarkan hasil praktikum kelompok 3 rombongan I ditemukan delapan jenis tumbuhan mangrove pada dua stasiun di Segara Anakan maka diperoleh hasil vegetasi mangrove yang ditemukan di stasiun A1 yaitu spesies Rhizopora apiculata, Ceriops tagal, Avicennia alba, Nypa fruticans dan Aegiceras corniculatum, sedangkan vegetasi mangrove yang ditemukan di stasiun B1 adalah Achantus ebracteatus, Rhizopora apiculata, Aegiceras corniculatum, Ceriops tagal, Achantus ilicifolius, Nypa fruticans dan Derris trifoliata. Klasifikasi dan deskripsi vegetasi mangrove adalah sebagai berikut: 1. Aegiceras corniculatum (L.) Aegiceras corniculatum merupakan tumbuhan mangrove dengan nama setempat teruntun, gigi gajah, perepat tudung, perpat kecil, tudung laut, duduk agung, teruntung, kayu sila, kacangan, klungkum, gedangan, kacang-kacangan. Aegiceras corniculatum merupakan semak atau pohon kecil yang selalu hijau dan tumbuh lurus dengan ketinggian pohon mencapai 6 m. Akar menjalar di permukaan tanah. Kulit kayu bagian luar berwarna abu-abu hingga coklat kemerahan, bercelah, serta memiliki sejumlah lentisel. Daunnya berkulit, terang, berwarna hijau mengkilat pada bagian atas dan hijau pucat di bagian bawah, seringkali bercampur warna agak kemerahan. Kelenjar pembuangan garam terletak pada permukaan daun dan gagangnya. Unit & Letak daun sederhana & bersilangan. Bentuk daun bulat telur terbalik hingga elips. Ujung daun membundar. Ukuran daun 11 x 7,5 cm. Tumbuhan mangrove Aegiceras corniculatum dalam satu tandan terdapat banyak bunga yang bergantungan seperti lampion, dengan masing-masing tangkai/gagang bunga panjangnya 8-12 mm. Letak bunga di ujung tandan/tangkai bunga. Formasi bunga payung. Daun mahkotanya berjumlah 5; berwarna putih, ditutupi rambut pendek halus hingga mencapai 5-6 mm. Kelopak bunga berjumlah 5; berwarna putih - hijau. Buahnya berwarna hijau hingga merah jambon (jika sudah matang), permukaan

halus, membengkok seperti sabit, didalam buah terdapat satu biji yang membesar dan cepat rontok. Ukuran panjangnya 5-7,5 cm dan diameter 0,7 cm. Aegiceras corniculatum memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas, tanah dan cahaya yang beragam. Umumnya tumbuh di tepi daratan daerah mangrove yang tergenang oleh pasang naik yang normal, serta di bagian tepi dari jalur air yang bersifat payau secara musiman. Perbungaan terjadi sepanjang tahun, dan kemungkinan diserbuki oleh serangga. Biji tumbuh secara semi-vivipar, dimana embrio muncul melalui kulit buah ketika buah yang membesar rontok. Biasanya segera tumbuh sekelompok anakan di bawah pohon dewasa. Buah dan biji telah teradaptasi dengan baik terhadap penyebaran melalui air. Penyebaran Aegiceras corniculatum terdapat di Sri Lanka, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Cina selatan, Australia dan Kepulauan Solomon. Kelimpahan Aegiceras corniculatum umumnya tumbuh di beberapa daerah agak melimpah, seringkali tumbuh dalam kelompok besar (Rusila Noor, dkk., 1999). Klasifikasi Aegiceras corniculatum menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut: Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Primulales : Myrsinaceae : Aegiceras : Aegiceras corniculatum (L.) Blanco

2. Ceriops tagal (Perr.) Ceriops tagal merupakan tumbuhan mangrove dengan nama setempat tengar, tengah, tangar, tingih, tingi, palun, parun, bido-bido, lonro, mentigi, tengar, tinci, mange darat, wanggo. Ceriops tagal merupakan pohon kecil atau semak dengan ketinggian mencapai 25 m. Kulit kayu berwarna abu-abu, kadang-kadang coklat, halus dan pangkalnya menggelembung. Pohon seringkali memiliki akar tunjang yang kecil. Daun hijau mengkilap dan sering memiliki pinggiran yang melingkar ke dalam.

Unit & Letak daun sederhana & berlawanan. Bentuk daun bulat telur terbalik-elips. Ujung daun membundar. Ukuran daun 1-10 x 2-3,5 cm. Bunga mengelompok di ujung tandan. Gagang bunga panjang dan tipis, pada ujung cabang baru atau pada ketiak cabang yang lebih tua. Letak bunga di ketiak daun. Formasi bunga berkelompok (5-10 bunga per kelompok). Daun mahkota berjumlah 5; berwarna putih dan kemudian jadi coklat. Kelopak bunga berjumlah 5; berwarna hijau, panjang 45mm, tabung 2mm. Tangkai benang sari lebih panjang dari kepala sarinya yang tumpul. Buah panjangnya 1,5-2 cm, dengan tabung kelopak yang melengkung. Hipokotil berbintil, berkulit halus, agak menggelembung dan seringkali agak pendek. Leher kotilodon menjadi kuning jika sudah matang/dewasa. Ukuran buah Hipokotil, panjang 4-25 cm dan diameter 8-12 mm. Ceriops tagal membentuk belukar yang rapat pada pinggir daratan dari hutan pasang surut dan/atau pada areal yang tergenang oleh pasang tinggi dengan tanah memiliki sistem pengeringan baik, juga terdapat di sepanjang tambak. Menyukai substrat tanah liat, dan kemungkinan berdampingan dengan C.decandra. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Penyebaran Ceriops tagal dari Mozambik hingga Pasifik Barat, termasuk Australia Utara, Malaysia dan Indonesia. Kelimpahannya Umum (Rusila Noor, dkk., 1999). Klasifikasi Ceriops tagal menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut : Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Myrtales : Rhizophoraceae : Ceriops : Ceriops tagal (Perr.) C.B. Rob.

3. Nypa fruticans Nypa fruticans merupakan tumbuhan mangrove dengan nama setempat nipah, tangkal daon, buyuk, lipa. Nypa fruticans merupakan palma tanpa batang di permukaan, membentuk rumpun. Batang terdapat di bawah tanah, kuat dan menggarpu. Tinggi dapat mencapai 4-9 m. Daun seperti susunan daun kelapa.

Panjang tandan/gagang daun 4 - 9 m, terdapat 100 - 120 pinak daun pada setiap tandan daun, berwarna hijau mengkilat di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Bentuk daun lanset. Ujung daun meruncing. Ukuran daun 60-130 x 5-8 cm. Bunga berbentuk tandan dengan bunga biseksual, tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang sepanjang 1-2 m. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm. Bunga jantan kuning cerah, terletak di bawah kepala bunganya. Buah berbentuk bulat, warna coklat, kaku dan berserat. Setiap buah terdapat satu biji berbentuk telur. Ukuran buah berdiameter kepala buah: sampai 45 cm. Diameter biji: 4-5 cm. Nypa fruticans tumbuh pada substrat yang halus, pada bagian tepi atas dari jalan air. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi, jarang terdapat di luar zona pantai, biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Memiliki system perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan masukan air, dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat Drosophila. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu penyebaran mereka melalui air dan kadang-kadang bersifat vivipar. Distribusi Nypa fruticans adalah kawasan Asia Tenggara, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea, Filipina, Australia dan Pasifik Barat. Kelimpahannya umum (Rusila Noor, dkk., 1999). Klasifikasi Nypa fruticans menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut : Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida : Arecales : Arecaceae : Nypa : Nypa fruticans Wurmb

4. Rhizophora apiculata Rhizophora apiculata merupakan tumbuhan mangrove dengan nama setempat bakau minyak, bakau tandok, bakau akik, bakau puteh, bakau kacang, bakau leutik,

akik, bangka minyak, donggo akit, jankar, abat, parai, mangi-mangi, slengkreng, tinjang, wako. Rhizophora apiculata merupakan pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Daun berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit & Letak daun sederhana & berlawanan. Bentuk daun elips menyempit. Ujung daun meruncing. Ukuran daun 7-19 x 3,5-8 cm. Bunganya tipe biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Letak bunga di ketiak daun. Formasi bunga berkelompok (2 bunga per kelompok). Daun mahkota berjumlah 4; berwarna kuning-putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga berjumlah 4; berwarna kuning kecoklatan, melengkung. Benang sari berjumlah 11-12; tak bertangkai. Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir, warna coklat, panjang 2-3,5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil silindris, berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran buah Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Rhizophora apiculata tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Rhizophora apiculata tersebar di Sri Lanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia (Rusila Noor, dkk., 1999). Klasifikasi Rhizophora apiculata menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut : Kingdom : Plantae

Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies

: Magnoliophyta : Magnoliopsida : Myrtales : Rhizophoraceae : Rhizophora : Rhizophora apiculata

5. Acanthus ilicifolius L. Acanthus ilicifolius atau nama setempatnya jeruju hitam, daruyu, darulu. Jeruju tumbuh liar di daerah pantai, tepi sungai, serta tempat-tempat lain yang tanahnya berlumpur dan berair payau. Tergolong semak tahunan, berbatang basah, tumbuh tegak atau berbaring pada pangkalnya, tinggi 0,5-2 m, berumpun banyak, memiliki batang bulat silindris, agak lemas, permukaan licin, berwarna kecokelatan, berduri panjang dan runcing. Bentuk daunnya tunggal, bertangkai pendek, letak daun berhadapan bersilang. Helaian daun berbentuk memanjang, pangkal dan

ujungnya runcing, tepi menyirip dengan ujung-ujungnya berduri tempel, panjang 930 cm, lebar 4-12 cm. Bunganya majemuk, berkumpul dalam bulir yang panjangnya 6-30 cm, keluar dari ujung batang, mahkota bunga berwarna ungu kebiruan. Buahnya berupa buah kotak, bulat telur, panjang 3 cm, berwarna cokelat kehitaman. Biji berbentuk ginjal, jumlahnya 2-4 buah. Akarnya berupa akar tunggang, berwarna putih kekuningan. Jeruju dapat diperbanyak dengan biji (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009). Klasifikasi Acanthus ilicifolius menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut : Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Dicotyledonae : Solanales : Acanthaceae : Acanthus : Acanthus ilicifolius L.

6. Acanthus ebracteatus Nama lokal Acanthus ebracteatus yaitu jeruju putih. Acanthus ebracteatus hampir sama dengan Acanthus ilicifolius. Pinggiran daun umumya rata kadang bergerigi, bentuk lanset, ujungnya meruncing dan ukurannya mencapai 7-20 x 4-10 cm. Bunga Acanthus ebracteatus memiliki mahkota berwarna biru muda hingga ungu lembayung cerah. Buah dari Acanthus ebracteatus saat masih muda berwarna hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat, bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ekologi : Ketika tumbuh bersamaan dengan A. ilicifolius keduanya memperlihatkan adanya karakter yang berbeda sebagaimana diuraikan dalam deskripsi, akan tetapi sering sekali membingungkan. Berbunga pada bulan Juni. Distribusinya terdapat di seluruh Indonesia dan mulai dari India sampai Australia Tropis, Filipina, dan Kepulauan Pasifik Barat. Klasifikasi Acanthus ebracteatus menurut Rusila Noor, dkk. (1999) sebagai berikut : Divisi Sub divisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Solanales : Acanthaceae : Acanthus : Acanthus ebracteatus

7. Avicennia alba Avicennia alba merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung, juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut, serta di sepanjang garis pantai. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar, dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Penyebarannya ditemukan di seluruh Indonesia. Dari India sampai Indo Cina, melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke

Filipina, PNG dan Australia tropis. Kelimpahan Avicennia alba melimpah dan memiliki manfaat unyuk dijadikan kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah dan getahnya dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Buhnyaah dapat dimakan (Rusila Noor, dkk., 1999).

Klasifikasi Avicennia alba menurut Cronquist (1981) adalah sebagai berikut : Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Lamiales : Acanthaceae : Avicennia : Avicennia alba

8. Derris trifoliata

DAFTAR PUSTAKA Erftmeijer, P., Bas Van Balen and Edy Juharsa. 1988. The Importance of Segara Anakan or Nature Conservation with special Reference to its Avivauna. PHPA-AWB/interwader Report No. 6. Bogor. Rusila Noor, Y., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP, Bogor. Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering Plants. New York : Columbia University Press. Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2009. Identifikasi Mangrove di Taman Nasional Alas Purwo. Balai Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi.