Anda di halaman 1dari 3

----------------KANVAS TUA Mohammed Hanz

(hanznova@gmail.com)

(Dedicated for my sweet memory Re) Kepulan kretek membumbung, menari bersama suram dan hening, menyeret lemah jari-jari berdebu dalam penggalan-penggalan episode. Seperti tarian bayang-bayang tanpa nada. Tentang aku, tentang kamu, tentang kita, dan tentang mereka. Seolah hingar ceriamu masih menyelimutkan kehangatan semerbak kembang di pembaringan sepi. Jemari ini masih terasa basah oleh perih kemarin sore yang kau ceritakan dengan senyum yang begitu manis. Dan..apakah kau masih tersenyum manakala jingga di ufuk barat berlari? 360 hari yang lalu aku masih memelukmu, menyelimuti kedinginan kita dengan asa yang ku punya, yang sesungguhnya memang tak akan mampu menghangatkan perapian yang kita nyalakan sore itu. Dan seakan kau tak peduli. Kau tetap bernyanyi dan menari. Meski kadang kau harus berdendang dalam gelegak samudra luka dan kesedihan. Senja itu, 360 hari yang lalu, kau duduk di sisiku, memainkan bara perapian yang hampir mati. 1000 monolog bisu telah berdebat semenjak satu jam yang lalu. Entah kenapa aku selalu tak sanggup memulai dan lebih suka mengasingkan kalimatku di ruang-ruang ketidak-berdayaanku. Kau raih tanganku. Aku hanya punya kertas putih dan mimpi Lang, Gumamnya. Tentang fajar yang hangat, tentang senja yang elok, atau tentang malam yang pekat. Dan aku ingin kau lukiskan mimpiku di satu-satunya kertas yang ku punya. Dengan tanpa menoleh, datar, seakan tak ingin ucapannya terwakili keheningan. Aku mendesah. Ku dapati keramaian pemberontakan dari ucapannya yang datar dan sunyi. Kepulan asap kretek semakin pekat memenuhi ruangan. Tanganku menggapai meraih gelas kopi yang satu jam kedepan tentu akan tinggal ampas. Bersyukurlah Re, kau masih punya mimpi, mimpi yang penuh warna, hingga aku terus bertanya-tanya, bagaimana aku bisa melukiskan keindahan mimpimu jika aku hanya punya satu kanvas usang dan satu pewarna yang hampir habis?.. Tidak Tidak Lang Kenapa kau berfikir keindahan harus tercipta dengan banyak warna? Kenapa?.. Kenapa kau senaif itu Lang? Bukankah kau pernah berkata bahwa warna bukanlah subtansi satu-satunya dari keindahan? Bukankah kau yang mengajariku bahwa keindahan adalah rasamu sendiri yang bahkan akan tercipta dengan satu warna sekalipun? Jemariku menggapai pelan. Kupeluk tubuh mungil mu dengan degup jantung yang gamang. Kudengar kau mulai terisak lirih. Dan aku semakin membenamkan tubuhmu ke pelukanku yang semakin bimbang. Aku tahu kau pasti akan berontak dengan jawabanku. Tahukah kau Re, aku tahu kebenaran yang kau ajukan, akupun tak menolak hal yang bahkan sudah menjadi keyakinan ku desah ku dalam monolog. Tapi Re.. tahukah kau, jalan ini terlalu mendaki, gelap dan dingin untuk kita tapaki. Mengertikah kau Re, kanvas

usang dan lukisan satu warnaku tak akan pernah berharga di hadapan mereka yang memperjual-belikan mimpi, atau di hadapan mereka yang mengkamuflase cinta menjadi sebuah komoditas yang layak ditukar dengan nominal?.. Tidak Re.. Kau tak akan tau itu, kau bahkan terlalu lembut untuk tertetesi embun Bisikku dalam perdebatan bathin yang hampir mati. Re, Aku berbisik lirih seakan takut terdengar batu2 tempat kita duduk. mendongak dengan sembab. Kau

Jangan membodohiku dengan tembang kemuskilan yang sebenarnya adalah sebuah keputus-asaan Lang, aku benci.. Kau semakin terisak dan memelukku erat. Ku tarik nafas pelandalamhingga menyentuh relung-relung bathinku. Dengar Re, hakikatnya, kehidupan ini tak pernah berikan pilihan, kita hanya berjalan dalam koridor takdir, terlahir dengan selembar kertas putih dan mimpi, dan kau bebas mewarnainya sesukamu, itu adalah kertasmu Re, itu mimpimu, dan harus kau sendiri yang mewarnainya. Bukan aku re, bukan!... Sepi menyeruak diantara ketidak-berdayaan aku dan Re. Aku juga punya kertas dan mimpi sendiri yang harus ku warnai. Mungkin aku yang mengajari mu mewarnai dan menorehkan kanvas untuk nantinya kau bingkai dengan indah. Tapi Re.. Mimpi-mimpi itu, kertas-kertas itu.. itu adalah milikmu, yang menjadi tanggung jawabmu untuk menjadikannya sebuah lukisan indah. Kau terdiam, menatapku dengan pertanyaan-pertanyaan dan pemberontakan yang menusuk ketegaran pembelaanku. Dentang tiga kali dari jam dinding tua di ruang depan seolah berusaha menyadarkan ku dari perbin cangan sepiku. Aku beringsut, menyulut rokok kretek kedelapan dari kesendirian menyakitkan. Hening semakin memeluk ku dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataanpernyataan yang tak bertepi. Kau mengecup bibirku lembut dan menggenggam tanganku. Dingin. Lang, jika saja kehidupan bisa diwakilkan. Atau jika saja kehidupan tidak meminta untuk dipertanggung-jawabkan.. Kau menerawang, dan membiarkan angan-anganku tersentak, menggantung dan menerka-nerka yang akan kau ucapkan. Jika saja kehidupan ini mempunyai lorong untuk kembalidan jika kehidupan menyediakan pilihan, tentu aku meminta untuk tak terlahir dan menyaksikan hal yang menyebabkan aku lahir di dunia menjadi pengingkaran. Aku tak pernah mengharapkanmu menyerah Re, tapi aku mengangap sebagai sebuah kebodohan untuk mereka yang mencaci takdir, meski aku tak sepenuhnya menyalahkannya. Sanggahku. Kau tak meneruskan kalimatmu seolah ingin aku sendiri yang menjawab pendapatku. Lama kita terdiam, aku begitu merasa begitu bodoh dengan semua yang ku ucapkan dan ku pikirkan. Kau tak pernah memintaku apalagi memaksaku Re. Bahkan hingga saat seperti inipun aku tak bisa membuat mu memaksakan inginmu atas diriku. Kau beranjak, menabiri perih di matamu dengan senyum, memelukku dan kemudian mengecup bibirku lama.

Lang, sudah sore, kau tidak ingin ketinggalan kereta kan? Dia melepaskan pelukannya. Aku tidak memintamu untuk selalu mengingatku Lang, cuma andai saja esok masih berpihak padaku, aku hanya berharap, saat aku kembali lagi kesini entah kapan, semoga aku masih bisa mendapati bekas perapian yang kau nyalakan untukku ini. Dia mendekat, mencium bibirku sekali lagi dan berbalik, melangkah cepat dan membiarkan kebodohan ku dalam perdebatan jiwa yang dahsyat. Senja berlalu seenaknya seolah tak ingin bertemu gelap. Dan aku tahu, itu adalah pelukan dan ciuman terakhirmu, untuk sebuah kekakuan dan keakuan prinsip, melemparku dalam pojok sesal gelap tak berwarna. Re, mungkin aku bisa menyayangimu, sangat menyayangimu, dengan tulus. Kau terlalu menyayangiku, Re, hingga kau tak sempat memberi kesempatan pada hatiku untuk belajar menyayangimu dengan tulus. Cintamu terlalu besar Re, hingga menutupi cintaku yang ingin tumbuh. Kuraih sisa kopi ku dan menuntaskannya. Kusulut rokok terakhir, dan beranjak. Meninggalkan jiwaku yang teronggok beku di kursi malas dan sebuah undangan merah jambu darimu. Pergi. ---Selesai--Published By: http://zheraf.xtgem.com Thanks to: Indonesia, mas kuncung, handhi, my Bos (mas Alif), zheraf, jamhari, aziz, bokir, domak, Komunitas Marginal (http://wap.koma.web.id) and all my friends on mig33 Trenggalek. My schoolmate; mas anam, ochi, malik, devy, feny, erny, cuwi, eve, de el el. Thanks all, youre meaningfull for me... -----------------