Anda di halaman 1dari 8

EVALUASI PEMBELAJARAN DALAM PENJASORKES (Muh Ramli Buhari.

Dosen PJKR FKIP UNMUL Samarinda Kaltim)

A. Pendahuluan Dalam pendidikan jasmani, evaluasi merupakan bagian integral dalam suatu proses pembelajarannya. Evaluasi yang dilakukan tersebut berbeda dari mata pelajaran lainnya, yang sebagian besar hanya mengukur ranah pengetahuan (kognitif) saja. Sedangkan evaluasi dalam penjas, disamping ranah kognitif dan ranah afektif, ranah psikomotor pun merupakan sasaran utamanya. Demikian halnya dalam bidang olah raga, apalagi pada berbagai cabang olah raga yang tingkat kompetensinya tinggi, pengukuran dan evaluasi keterampilan menjadi bagian yang begitu penting, karena dengan dilakukannya pengukuran tersebut akan diperoleh informasi yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan, seperti: untuk menyeleksi, menentukan status, klasifikasi, menentukan bahan atau program latihan, menentukan metode dan alat yang diperlukan untuk latihan, di samping untuk memotivasi serta menentukan alat evaluasi (test) yang tepat. B. Pengertian Evaluasi Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggeris yaitu evaluation yang berarti penilaian. Evaluasi, tentu bukan merupakan istilah yang asing bagi guru penjas dan bagi guruguru lainnya. Mereka tentu mengetahui dan menyadari bahwa evaluai harus dilakukan, agar dapat mengetahui kemajuan belajar siswanya. Pelaksanaan evaluasi ini agar dapat berlangsung dengan lebih baik, manakala guru memahami makna dan fungsinya. Karena itu, dalam bagian ini, dikemukakan penjelasan yang berhubungan dengan evaluasi untuk mengetahui, memahami dan menilai proses kemajuan hasil belajar pendidikan jasmani. Pengertian evaluasi menurut Gronlund & Linn (1990), adalah suatu proses yang sistematis dari kegiatan mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran. Sementara itu, dalam buku Pedoman Perencanaan, Pengelolaan, dan Evaluasi Pengajaran (Depdikbud, 1993) dikemukakan bahwa pengertian evaluasi atau penilaian adalah suatu proses mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh, tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa melalui kegiatan belajar-mengajar yang ditetapkan sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya. Sedangkan Nana Sudjana (1999) mengartikan evaluasi sebagai suatu proses untuk memberikan atau menentukan nilai kepada obyek tertentu.

Evaluasi berbeda dengan pengukuran (measurement). Pengukuran akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan how much, sedangkan evaluasi akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan what value. Jadi, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa evaluasi penjas merupakan suatu proses yang sistematis dan berkesinambungan untuk menentukan atau pemberian nilai terhadap sejauhmana proses dan hasil kemajuan belajar yang dicapai seseorang peserta didik dalam rangka pengambilan keputusan pendidikan, khususnya dalam penjas. C. Beberapa Istilah Dalam Evaluasi Beberapa istilah pokok dalam evaluasi meliputi: asesmen, instrumen, tes dan pengukuran, asesmen otentik, portopolio, dan grading. Dalam bagian berikut ini akan dipaparkan pengertian beberapa istilah tersebut. 1. Asesmen Menurut Dali S. Naga (2003) asesmen adalah proses untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan pada evaluasi. Dalam asesmen dapat menggunakan pengukuran dan non-pengukuran. Asesmen berfungsi untuk membantu siswa dalam belajarnya. Bukan hanya sekedar pengumpulan informasi untuk keperluan penilaian. Data yang dihimpun melalui asesmen, dapat secara langsung dipakai sebagai umpan balik bagi perbaikan atau peningkatan pembelajaran berikutnya. Pelaksanaan asesmen ini lebih bersifat alamiah (tidak dilaksanakan secara resmi). Jenis informasi yang dikumpulkan melalui asesmen banyak ragamnya, bergantung pada kebutuhan. Antara lain berupa skor, deskripsi kegiatan, atau kualitas suatu subjek. Di antara aneka instrumen, asesmen sering digunakan guru berupa daftar cek dan borang. Dengan demikian guru dapat lebih mudah memantau kemajuan belajar siswanya, dan menetukan materi yang harus diberikan sesuai dengan tingkat kemajuan belajar siswa. Jadi, asesment adalah proses untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam evaluasi. Istilah asesmen dan pengukuran keduanya mengandung pengertian yang hampir sama. Adang Suherman (2001) mengemukakan kesamaan ciri-ciri dari kedua istilah ini, yaitu: 1. Keduanya merupakan proses pengumpulan informasi; 2. Keduanya merupakan salah satu tahap dalam proses evaluasi; 3. Keduanya sering kali diikuti oleh proses penilaian; Karena kedua istilah ini banyak persamaannya, maka dalam kasus tertentu penggunaannya sama. Misalnya dalam kasus tes lari 100 meter. Data yang diperoleh

melalui tes ini berupa skor, misalnya 9 menit. Jadi untuk menentukan nilai data ini tidak perlu dikuantifikasikan lagi. Yang terpenting apa makna skor 9 menit tersebut?. Apa bedanya dengan skor 7 menit?. 2. Instrumen Instrumen adalah alat unutk memporoleh informasi. Instrumen ini banyak ragamnya, sesuai dengan jenis informasi yang akan dikumpulkannya. Suatu syarat yang penting harus diperhatikan adalah suatu instrumen itu harus sahih (valid) dan dapat dipercaya (reliable). Kesahihannya, bergantung pada keseuaian fungsinya untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Keterandalannya pun tergantung kepada sejauhmana informasi yang diungkap melalui suatu instrumen dapat dipercaya. Bila data yang ingin dikumpulkan berupa ukuran panjang, maka instrumen yang dibutuhkan adalah meteran. Bila data ukuran berat, tentu instrumen yang dibutuhkan adalah timbangan. Beberapa contoh instrumen yang sering digunakan dalam aspek pembelajaran, antara lain adalah tes, pedoman observasi, daftar cek, wawancara, angket, dan bentuk lainnya untuk menghimpun data tentang sifat suatu objek atau sifat/perilaku manusia. 3. Tes dan Pengukuran Cronbach (1970) mengartikan testing sebagai prosedur yang sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan mendeskripsikannya dengan bantuan sistem numerik atau sistem kategori. Fernandes (1984) mengartikan tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi perilaku seseorang dan menggambarkannya dalam bentuk skala numerik atau sistem kategori. Kirkendall, dkk (1980) mengartikan tes sebagai sebuah instrumen untuk memperoleh informasi tentang individu atau subyek-subyek tertentu. Menurut Scriven (1981) tes adalah apapun yang digunakan untuk melakukan pengukuran. Gronlund & Linn (1990) mengartikan tes sebagai sebuah instrumen atau prosedur yang sistematis untuk melakukan pengukuran terhadap perilaku seseorang. Senada dengan itu, Kerlinger (1995) mengartikan tes sebagai prosedur yang sistematis ketika individu yang diuji dihadapkan pada sehimpunan rangsang atau stimuli untuk ditanggapinya; dari tanggapan-tanggapan itu akan memungkinkan penguji memberikan angka atau sehimpunan angka bagi pihak yang diuji dan angka-angka tersebut dapat menjadi sumber inferensi tentang pemilikan pihak yang diuji terhadap sifat apapun yang diukur melalui tes tersebut. Definisi ini pada intinya menyatakan bahwa suatu tes adalah instrumen pengukur.

Tes adalah alat untuk mengukur dalam rangka memperoleh informasi berupa sampel sifat sesuatu objek atau manusia. Untuk memperoleh data prestasi belajar, guru misalnya memakai tes prestasi belajar. Selanjutnya Scriven (1981) mengartikan pengukuran sebagai determinan atau perbedaan dari besaran atau pentingnya sebuah kuantitas. Menurut Gronlund (1985), pengukuran adalah suatu kegiatan atau proses untuk memperoleh deskripsi numerik dari tingkatan atau derajat karakterisitik khusus yang dimiliki oleh individu. Menurut Hopkins & Stanley (1981), pengukuran adalah suatu proses yang menggunakan peralatan yang berbeda-beda. Sedangkan Moh. Nazir (1988) mengartikan pengukuran sebagai prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Sutrisno Hadi (1987) mengartikan pengukuran sebagai suatu kegiatan yang dutujukan untuk mengedentifikasikan besar-kecilnya obyek atau gejala. Dikatakan pula, bahwa untuk mengidentifikasikan besar kecilnya obyek atau gejala dapat dilakukan melalui alat-alat yang telah ditera atau tanpa menggunakan alat yang ditera. Menurut Safrit & Wood (1989), pengukuran adalah proses pemberian angka-angka dari suatu obyek seseorang atau lainnya dengan mengikuti berbagai aturan. Senada dengan itu, Singarimbun & Effendi (1995) mengartikan bahwa pengukuran merupakan proses pemberian angka-angka pada variabel menurut aturan yang telah ditentukan. Kerlinger (1995) mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka pada obyek-obyek atau kejadian-kejadian menurut suatu aturan tertentu. Daryanto (1999) mengartikan pengukuran sebagai suatu proses untuk memberikan angka (biasanya disebut skor) kepada suatu sifat atau karaktersitik seseorang sedemikian rupa sehingga mempertahankan hubungan senyatanya antara seseorang dengan orang lain sesuai dengan sifat yang diukur tersebut. Arti ini menyiratkan makna bahwa aspek terpenting dari pengukuran adalah angka-angka (skor) yang diberikan tersebut tetap mempertahankan hubungan antara variabel yang diukur. Misalnya, Andra lebih cekatan dari Dava dalam berlari, maka skor lari cepat yang dicapai Andra lebih cepat daripada skor lari cepat yang dicapai Dava. Jadi, pengukuran adalah tindakan atau proses untuk menetukan keluasan atau kuantitas dari pada suatu objek tertentu. Dengan kata lain, pengukuran adalah suatu proses pemberian bilangan kepada suatu atribut dari suatu objek (berupa makhluk, benda, peristiwa) menurut aturan tertentu. Hasil pengukuran dapat dijadikan suatu data dan informasi dalam evaluasi, sehingga pengukuran menghasilkan informasi berupa skor. Berdasarkan skor inilah, guru biasanya dapat menafsirkan kemajuan belajar siswanya.

4. Asesmen Otentik Schiemer (2000) mengklasifikasikan asesmen itu ke dalam asesmen otentik dan asesmen alternatif. Asesmen dikatakan otentik manakala siswa mendemonstrasikan perilaku yang diharapkan dalam situasi nyata misalnya bermain sepakbola dengan teman-temannya atau bermain lempar tangkap dengan keluarganya. Pada kasus ini guru dapat menghimpun informasi tentang (1) bagaimana penerapan pengetahuan dan keterampilan pada situasi nyata dalam melakukan aktivitas fisik atau olahraga dan (2) bagaimana penerapan konsep kerjasama dan teknik menendang pada situasi nyata bermain sepak bola, dsb. Namun demikian menyediakan situasi nyata untuk keperluan asesmen sangatlah menantang atau tidak mudah. Para guru perlu mengembangkan asesmen otentik yang menyebabkan penampilan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari siswa secara alami terungkap dengan demikian, diharapkan perilaku yang terungkap tersebut, merupakan cerminan kehidupan nyata, baik di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Sedangkan asesmen alternatif menjadi asesmen otentik manakala diterapkan dalam situasi nyata. Lebih lanjut Schiemer (2000) menjelaskan bahwa asesmen alternatif menuntut siswa menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi misalnya keterampilan memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dalam kasus ini, siswa dituntut mendemonstrasikan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dalam situasi dan kondisi yang terkendali. Contoh asesmen yang diuraikan dalam buku ini lebih mencerminkan asesmen otentik, tetapi dapat dikembangkan menjadi asesmen alternatif. (Adang Suherman, 2001) 5. Portopolio Schiemer (2000) mengartikan istilah portopolio sebagai suatu koleksi karya siswa yang mencerminkan tingkat keberhasilan belajarnya di kelas, atau di sekolah, bahkan karya siswa yang diperlombakan pada berbagai tingkat. Koleksi karya siswa yang dimaksudkan di sini dapat bersifat: 1. Subjek khusus (misalnya Penjas saja) atau koleksi karya siswa dari berbagai subjek (semua bidang studi) 2. Periode tertentu (misal catur wulan atau satu tahun) atau secara keseluruhan karir siswa selama menempuh pendidikan pada sekolah tersebut. 3. Karya siswa secara individu atau keseluruhan.

Apabila dilihat dari tipenya portopolio dapat diklasifikasikan ke dalam (1) portopolio karya dan (2) portopolio keseluruhan. portopolio karya siswa berisikan catatan hasil belajar siswa sehari-hari, misalnya kuis, borang, catatan belajar, catatan pengawasan keterampilan. portopolio karya siswa harus juga meliputi masukan yang mencerminkan kemampuan siswa tersebut. Untuk kepentingan ini asesmen awal dan akhir dapat juga digunakan. portopolio kumulatif merupakan koleksi karya yang mencerminkan perkembangan belajar siswa dari setiap tahun dalam beberapa bidang studi termasuk pendidikan jasmani. portopolio kumulatif penjasharus menghimpun data atau informasi yang berhubungan dengan hasil belajar pendidikan jasmani. Misalnya kemampuan menampilkan ketrampilan gerak, pemahaman tentang konsep dan keterampilan gerak dan penggunaan keterampilan sosial dan tanggung jawabnya. Portepolio kumulatif ini dapat memberi kesempatan siswa untuk melakukan penilaian terhadap perkembangan belajarnya sendiri. 6. Penentuan nilai Penentuan nilai atau sering disebut juga grading adalah proses pemberian nilai terhadap informasi yang diperoleh melalui asesmen dan pengukuran. Sebagai contoh si Andra memperoleh skor 45 dalam tes kesehatan. Apa artinya skor tersebut ? Skor itu tentu tidak bisa berbicara apa-apa, manakala tidak diberi makna. Jika di kelas penjas misalnya sering menggunakan rentang nilai 1 10, atau 1-5 (A, B, C, D, dan E), berapa nilai si Andra yang memperoleh skor 45 tersebut ? Penentuan nilai berarti juga penafsiran data atau informasi yang diperoleh melalui asesmen, baik pengukuran maupun non-pengukuran. Pada tahap ini terjadi proses membandingkan informasi yang diperoleh dengan suatu criteria pembanding. Misalnya dengan patokan tertentu yang telah ditetapkan, seperti tujuan pembelajaran khusus yang diturunkan dari tujuan pembelajaran umum. Atau mungkin juga untuk melihat posisi siswa dalam kelompoknya, misalnya digunakan acuan norma kelompok sebagai pembandingnya. Pada dasarnya proses inilah yang disebut proses penentuan nilai atau proses penilaian. D. Prinsip Dasar Pelaksanaan Evaluasi Penjas Evaluasi pada dasarnya merupakan upaya atau suatu proses yang sistematis untuk melakukan pertimbangan nilai tentang sesuatu objek tertentu (misalnya produk, kinerja, tujuan, proses, prosedur, program, pendekatan, dan fungsi). Dalam evaluasi penjas, yang menjadi objeknya adalah proses dan hasil pembelajaran penjas. Dalam konteks ini guru penjas melakukan evaluasi dengan maksud untuk melihat apakah usaha yang dilakukan melalui proses pembelajaran penjas telah mencapai tujuan yang diharapkan.

Apabila sekolah diumpamakan sebagai tempat mengolah sesuatu dan calon siswa sebagai bahan mentah, maka dengan sendirinya lulusan yang dihasilkan dapat disamakan dengan hasil olahan yang diharapkan siap pakai. Istilah yang terkait dengan uraian singkat tersebut adalah input, transformasi, dan output. Input merupakan bahan mentah yang dimasukan ke dalam transformasi. Dalam pendidikan, maka yang dimaksud bahan mentah adalah calon siswa yang akan memasuki sekolah. Sebelum memasuki suatu tingkat pendidikan atau pembelajaran (kelas), maka calon siswa dievaluasi terlebih dahulu kemampuannya. Melalui evaluasi tersebut, akan diketahui apakah kelak ia akan mampu mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang terkait dengan pembelajaran yang diberikan kepadanya. Transformasi, merupakan suatu mesin atau proses yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Dalam pendidikan, maka yang dimaksud dengan transformasi adalah sekolah dengan segala sistem pendidikan atau pembelajaran yang diberlakukan. Bahan jadi yang diharapkan melalui pendidikan adalah lulusan yang dihasilkan dan sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang terkait dengan proses pembelajaran, baik terikat secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor tersebut, antara lain meliputi: guru, bahan pelajaran, metode dan alat pembelajaran, sistem administrasi serta evaluasi. Output, merupakan bahan jadi yang dihasilkan melalui suatu proses transformasi. Dalam bidang pendidikan, maka output yang dihasilkan adalah lulusan yang dihasilkan oleh setiap jenjang penyelenggara pendidikan (pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi). Umpan balik (feed back), merupakan suatu informasi, baik yang menyangkut output maupun proses transformasi, yang sangat diperlukan bagi perbaikan kedua aspek tersebut. Lulusan (output) yang kurang berkualitas, akan menggugah semua pihak yang terkait untuk mengambil tindakan konstruktif yang berhubungan dengan penyebab timbulnya keadaan tersebut. Penyebab-penyebab tersebut antara lain adalah input yang kurang baik kualitasnya, guru yang kompetensi atau kualifikasinya rendah, bahan pelajaran yang kurang cocok, metode dan alat pembelajaran yang tidak tepat, sistem administrasi serta alat evaluasi yang kurang memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, untuk mengurangi berbagai isu dalam melaksanakan evaluasi, baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran penjas di sekolah, dan agar evaluasi dapat memenuhi fungsinya untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar, maka

pelaksanaan evaluasi seyoyanya mempertimbangkan beberapa prinsip sebagai berikut: a. Evaluasi harus menyeluruh dan terpadu meliputi banyak segi, seperti calon siswa, proses pembelajaran (transformasi) dan lulusan yang dihasilkan Evaluasi harus mencakup seluruh aspek pendidikan sebagai sebuah system baik menyangkut raw input, instrumental input, environmental input, proses tranformasi, maupun output secara terpadu. Karena suatu proses dan hasil pembelajaran akan banyak dipengaruhi oleh berbagai factor, komponen dan dimensi yang mengitarinya. Seperti dalam aspek rawinput, karakteristik calon siswa pun turut mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran penjas. Bagaimana kurikulum, materi, metode pembelajaran, dan fasilitas, sarana dan parasarana yang digunakan juga turut mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula halnya dengan aspek environmental input, seperti lingkungan keluarga yang mendukung atau tidak, lingkungan social budaya setempat, agama, dan bahkan politik pun turut mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran penjas. b. Proses pengumpulan data dilakukan melalui kerjasama secara alami Untuk meningkatkan aktivitas belajar dan memotivasi siswa, hindarkanlah penggunaan standar yang baku atau perbandingan dengan teman. Sebagai penggantinya, lakukanlah kerjasama antara guru dengan siswa secara individu untuk mendiskusikan tujuan belajar yang ingin dicapai. Bimbinglah dan doronglah siswa untuk menentukan tujuan-tujuan yang maksimal, akan tetapi realistic, sesuai dengan tingkat kemampuannya. Para siswa akan lebih menjadi termotivasi untuk melakukan tes serta tekun belajar dengan baik manakala mereka bekerja sama dengan gurunya. c. Proses pengumpulan data dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan Bukti kemajuan belajar siswa ada diantaranya yang secara langsung dilihat hasilnya dalam tempo waktu relatif singkat. Ada juga belajar siswa yang hanya dilihat hasilnya setelah menempuh program yang panjang, misalnya satu tahun atau lebih. Karena itu, kemajuan belajar siswa harus dicatat dan didokumentasikan agar dapat diperhatikan peningkatannya kepada siswa, orang tua siswa atau kepada pihak pimpinannya sekolah yang membutuhkan. Proses pengumpulan data yang dilakukan hanya satu kali kurang cocok untuk melihat keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Anda mungkin juga menyukai