Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERKULOSlS PARU-PARU
A. Konsep Dasar Medis
l. Pengertian
1 Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Kuman batang tanhan asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun
saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen , tettapi hanya strain bovin dan human yang
patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 m, ukuran ini
lebih kecil dari satu sel darah merah (Sylvia A. Price & Wilson,2006).
1 Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Arief Mansjoer, dkk, 2002)
1 Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim
paru. (Smeltzer & Bare, 2002)
2. Anatomi Fisiologi
Jalan napas yang menghantarkan udara ke paru-paru adalah :
- Hidung
- Pharynx
- Larynx
- Trachea
- Bronchus dan bronchiolus.
Saluran pernafasan dari hidung sampai ke bronchiolus dilapisi oleh membran mukosa
bersilia, ketika udara masuk melalui rongga hidung, maka dari itu ; disaring, dihangatkan,
dilembabkan.
Ketiga proses ini merupakan fungsi utama dari mukosa respirasi yang terdiri dari epitel
toraks bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Permukaan epitel dilapisi oleh lapisan mukus
yang disekresi oleh sel goblek dan kelenjar serosa. Partikel-partikel debu yang kasar dapat
disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan partikel yang
halus akan terjerat dalam lapisan mukus. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke
posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior dalam sistem pernapasan bagian bawah
menuju ke faring. Dari sinilah lapisan mukus akan tertelan atau di batukkan keluar.
Air untuk kelembaban diberikan untuk lapisan mukus, sedangkan panas yang disuplay ke
udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya akan pembuluh darah.
Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedimikian rupa sehingga bila udara mencapai faring
hampir bebas debu, bersuhu mendekati suhu tubuh, dan kelembabannya mencapai l00 %.
Udara mengalir dari faring menuju laring atau kotak suara. Larynx merupakan rangkaian
cincin tulang rawan yang dihubungkan untuk otot dan mengandung pita suara. Di antara pita
suara terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara ke dalam trachea dan dinamakan
glotis. Glotis merupakan pemisah antara saluran pernapasan bagian atas dan saluran
pernapasan bagian bawah.
Meskipun laring merupakan dianggap berhubungan fungsi, tetapi fungsinya sebagai organ
pelindung jauh lebih penting. Pada waktu menelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis
dan fungsi seperti pintu pada aditus laring dan epiglotis yang berbentuk daun, berperan
untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Namun jika benda
asing masih mampu masuk melalui glotis, maka larynx yang mempunyai fungsi batuk akan
membantu menghalau benda asing dan sekret keluar dari saluran pernapasan bagian
bawah.
Trachea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentu seperti sepatu kuda yang
panjangnya 1 5 inchi. Struktur trachea dan bronchus dianalogkan dengan sebuah pohon,
dan oleh karena itu dinamakan pohon tracheal bronchial.
Tempat percabangan trachea menjadi cabang utama bronchus kiri dan cabang utama
bronchus kanan dinamakan Karina. Karena banyak mengandung saraf dan dapat
menimbulkan broncho spasme hebat dan batuk, kalau saraf-saraf terangsang.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri tidak simetris. Bronchus kanan lebih pendek lebih
besar dan merupakan lanjutan trachea, yang arahnya hampir vertikal.
Baliknya bronchus kiri lebih panjang, lebih sempit dan merupakan lanjutan trachea yang
dengan sudut yang lebih paten, yang mudah masuk ke cabang utama bronchus kanan kalau
udara tidak tertahan pada mulut atau hidung. Kalau udara salah jalan, maka tidak masuk ke
dalam paru-paru kiri, sehingga paru-paru akan kolaps.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang-cabang lagi menjadi segumen bronchus.
Percabangan ini terus menerus sampai pada cabang terkecil yang dinamakan bronchioulus
terminalis yang merupakan cabang saluran udara terkecil yang mengandung alveolus.
Semua saluran udara di bawah tingkat bronchiolus terminalis disbut saluran penghantar
udara ke tempat pertukaran gas-gas di luar bronchiolus terminalis. Terdapat asinus yang
merupakan unit fungsional paru-paru tempat pertukaran gas.
Asinus terdiri dari bronchiulus respiratorius yang kadang-kadang memiliki kantong udara
kecil atau alveoli yang berhasil dari dinding mereka, puletus alviolaris yang seluruhnya
dibatasi oleh alveolus dan saccus alveolus hanya mempunyai satu lapisan sel saja yang
tebal garis tengahnya lebih kecil dibandingkan dengan tebal garis tengah sel darah
merah.Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan
seluas lapangan tenis.
Tetapi alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein yang dinamakan surfakton, yang dapat
mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan
inspirasi, mencegah kolaps pada alveolus pada waktu ekspirasi.
Paru-paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut yang terletak di dalam rongga
thoraks. Setiap paru-paru mempunyai apex dan basic. Pembuluh darah paru-paru dan
bronchial, syaraf dan pembuluh limfe memasuki tiap paru-paru pada bagian hilus dan
membentuk akar paru-paru
Pleura ada 2 macam :
- Pleura parietal yang melapisi rongga dada/thoraks sedangkan
- Pleura viceral yang menutupi setiap paru.
Diantara pleura parietal dan pleura viceral, terdapat cairan pleura seperti selaput tipis yang
memungkinkan kedua permukaan tersebut bergesekan satu sama lain selama respirasi, dan
mencegah pemisahan thoraks dan paru-paru.
Paru-paru mempunyai 2 sumber suplay darah yaitu :
l.) Arteri bronkhialis.
2.) Arteri pulmonalis.
Sirkulasi bronchialis menyediakan darah teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi
memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan paru-paru. Arteri pulmonalis yang berasal dari
ventrikel kanan mengeluarkan darah vena campuran ke paru-paru di mana darah itu
mengambil bagian dalam pertukaran gas
3. Etiologi/factor predisposisi
Penyebabnya adalah kuman microorganisme yaitu basil mycobacterium tuberculosis tipe
humanus dengan ukuran panjang l 4 um dan tebal l,3 0,6 um, termasuk golongan
bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap
gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid).
lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.
Tuberculosis ini ditularkan dari orang ke orang oleh trasmisi melalui udara. lndividu yang
terinfeksi, melalui bicara, batuk, bersin, tertawa atau bernyanyi, melepaskan droplet besar
(lebih besar dari l00 u) dan kecil (l sampai 5u). droplet yang besar menetap, sementara
droplet kecil tertahan di udara dan terhirup oleh individu yang rentan.
4. Patofisiologi
Tempat masuk kuman M. tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan
luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (airborne),
yaitu melalui inhalasi droplet yang mendukung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal
dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama bagi jenis
bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel
efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya limfosit T) adalah sel
imunosupresifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan makrofag yang
diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya . Respon ini disebut sebagai reaksi
hipersensitivitas.
Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobakterium tuberkulosis dapat
menetap dalam udara bebas selama l-2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam
saluran pernapasan, masuk ke alveoli, tempat dimana mereka berkumpul dan mulai
memperbanyak diri. Basil juga secara sistemik melalui sistem limfe dan aliran darah ke
bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paru-paru lainnya (lobus atas)
(Sylvia A. Price & Wilson,2006).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan
makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis (menghancurkan) basil dan jaringan
normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli,
menyebabkan bronkopneumonia. lnfeksi awal biasanya terjadi 2 sampai l0 minggu setelah
pemajanan.
Massa jaringan baru, yang disebut granulomas, yang merupakan gumpalan basil yang
masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding
protektif. Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa
fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik,
membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar
kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena
gangguan atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga
terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon
memecah, melepaskan bahan seperti keju ke dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi
tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah
menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak,
mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan
selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke
bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses
mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya
supaya diikuti dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar l0% individu yang
awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif . (Smeltzer & Bare, 2002)
5. Klasifikasi
a. Pembagian secara patologis :
Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
Tuberkulosis Paru BTA positif.
Tuberkulosis Paru BTA negative
c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
Tuberkulosis non aktif .
Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu
paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih
dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila
bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi
keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun l974 American Thorasic Society
memberikan klasifikasi baru:
Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak
pernah, tes tuberculin negatif.
Kategori l, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat
kontak positif, tes tuberkulin negatif.
Kategori ll, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
Kategori lll, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
Kategori l : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru
dengan batuk TB berat.
Kategori ll : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA
positf.
Kategori lll : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak
luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori l.
Kategori lV : ditujukan terhadap TB kronik.
6. Manifestasi Klinis
Menurut Jhon Crofton (2002) gejala klinis yang timbul pada pasien Tuberculosis
berdasarkan adanya keluhan penderita adalah :
a. Batuk lebih dari 3 minggu
Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru.
Mengingat Tuberculosis Paru adalah penyakit menahun, keluhan ini dirasakan dengan
kecenderungan progresif walau agak lambat. Batuk pada Tuberculosis paru dapat kering
pada permulaan penyakit, karena sekret masih sedikit, tapi kemudian menjadi produktif.
b. Dahak (sputum)
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi
mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila sudah
terjadi pengejuan.
c. Batuk Darah
Batuk darah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah
besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada
pembuluh darah paru dan bronchus sehingga pecahnya pembuluh darah.
d. Sesak Napas
Sesak napas berkaitan dengan penyakit yang luas di dalam paru. Merupakan proses lanjut
akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.
e. Nyeri dada
Rasa nyeri dada pada waktu mengambil napas dimana terjadi gesekan pada dinding pleura
dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
f. Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret,
peradangan jaringan granulasi dan ulserasi.
g. Demam dan Menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses
infeksi.
h. Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan merupakan manisfestasi toksemia yang timbul belakangan dan
lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
i. Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
j. Berkeringat Banyak Terutama Malam Hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit Tuberculosis paru.
Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.
7. Komplikasi
Menurut Depkes Rl (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
a. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
b. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial.
c. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat
pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
d. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1 Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
1 Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) :
Positif untuk basil asam-cepat.
1 Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi l0 mm atau
lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa
lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi
bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berani bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan
atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
1 Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster; urine dan cairan
serebrospinal, biopsi kulit) : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis.
1 Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa
menunjukkan nekrosis.
1 Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh
hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru
kronis luas.
1 Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara residu
dan kapasitas paru total, dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi
parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (Tuberkulosis paru kronis
luas).
b. Pemeriksaan Radiologis
Foto thorak : Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium
lesi sembuh primer, atau effusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat
termasuk rongga, area fibrosa.
9. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan TBC adalah harus kombinasi, tidak boleh terputus-putus dan jangka
waktu yang lama. Di samping itu maka perkembangan ekonomi tersebut dikenal 2 (dua)
macam alternatif pengobatan.
l.) Paduan obat jangka panjang dengan lama pengobatan l8 24 bulan, obat relatif
murah.
a.) Pengobatan intensif : setiap hari l 3 bulan lNH +, Rifampicin + Streptomicyn dan
diteruskan dengan.
b.) Pengobatan intermitten dua kali seminggu sampai satu tahun : lNH + Rifampicin atau
Ethambutol.
2.) Paduan obat jangka pendek dengan lama pengobatan 6 9 bulan obat relatif murah.
a.) Pengobtan intensif : tiap hari selama l 2 bulan lNH + Rifampicin + Streptomicyn
atau Pirazinamid, dan diteruskan dengan
b.) Pengobatan intermitten 2 3 kali seminggu selama 4 7 bulan : lNH + Rifampicin
atau Ethambutol atau Streptomycin.
l0. Pencegahan
Program-program kesehatan masyarakat sengaja dirancang untuk mendeteksi kasus-kasus
dan menemukan sumber infeksi secara dini. Terapi pencegahan TBC dengan obat
antimikroba merupakan sarana yang efektif untuk mengontrol penyakit. Hal ini merupakan
tindakan preventif yang ditujukan baik untuk mereka yang sudah terinfeksi maupun
masyarakat pada umumnya.
Eradikasi TBC dilakukan dengan menggabungkan kemoterapi yang efektif, identifikasi
segera dan tindak lanjut pada orang yang mengalami kontak dengan penyakit ini , dan terapi
kemoprofilaktik pada kelompok-kelompok dalam populasi yang beresiko tinggi
Obat-obat kemoterapi untuk pengobatan Tuberkulosis
Nama Obat Dosis Efek samping
utama Pemantauan Keterangan
Harian Dua kali/minggu
Obat-obatan unruk pengobatan awal :
lsoniasid
Rifampicin
Ethambutol hidroklorida
Pyrazinamide
Streptomycine
Obat-obat pilihan kedua
Capreomyecine
Cycloserine
Kanamicine
300 mg PO atau lM (l0 20 mg/kgBB)
600 mg PO (l0-20 mg/kg)
l5-25 mg/kgBB PO
2 g PO (l5 30 mg/kg BB)
0,75 l gr lM ( l5-20 mg/kg BB)
l g lM (l5-30 mg/kg BB)
l g PO(l5-20 mg/kg BB)
l g lM (l5 30 mg/kg BB)
l5 mg/kg BB PO atau lM
600 mg PO
50 mg/kg BB
50 70 mg/kg BB
25 30 mg/kg BB
Neuritis perifer, hipersensitivitas dan hepatitis
Peningkatan enzim-enzim hati.
Gangguan saluran pencernaan (Anoreksia, mual, muntah, diare) hepatitis dan penekanan
kekebalan.
Neuritis optika(reversible bila obat segera dihentikan), ruam pada kulit
Hjepatotoksik, hiperurisemia, atralgia, ruam kulit.
Ototoksik
Nefrotoksik, ototoksik
Perubahan personalitas, psikosis, kejang, ruam
Toksisitas Auditori, nefrotoksik
AST/ALT (tidak rutin)
AST/ALT
AST/ALT, as. Urat
Audiogram fungsi vestibular, BUN dan Kreatinin
Sda
Tes psikologis
Audiogram fungsi vestibular, BUN dan krestinin
Untuk neuritis : piridokain l0 mg sebagai pencegahan 50 l00 mg untuk pengobatan.
Dpt `perlu penyesuaian obat yg dap dipakai dgn kontrasepsi oral, antikoagulan,
kortikosteroid
Tdk dianjurkan diberikan pd wanita hamil. Hrs diberikan secara hati-hati pd penderita dgn
insufisiensi ginjal.
Allopurinol atau probenesid untuk mengurangi as. Urat serum.
Berikan dgn hati-hati pd individu yg lebih tua. Hindari penggunaan obat ini pd penderita dgn
insufisiensi ginjal.
Sda
Obati neurotoksisitas dgn piridoksin l00-200 mgf setiap hari
Sama dgn streptomicine.
B. Asuhan Keperawatan
l. Dasar data pengkajian klien
Data tergantung pada tahap poenyakit dan derajat yang terkena.
l. Aktivitas/istirahat
O Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan, nafas pendek karena kerja, kesulitan tidur pada
malam atau demam pada malam hari, menggigil atau berkeringat, mimpi buruk.
O Tanda : Takhikardia, takhipnu/dispnea pada kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap
lanjut).
2. lntegritas EGO
O Gejala : Adanya /factor stress lama, masalah keuangan, rumah, perasaan tdk berdaya/
tdk ada harapan.
O Tanda : Menyangkal, ansietas, ketakutan dan mudah terangsang.
3. Makanan/cairan
O Gejala : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan berat badan.
O Tanda : Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.
4. Nyeri/kenyamanan
O Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
O Tanda : Berhati-hati pada area sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5. Pernapasan
O Gejala : Batuk produktif atau tidak, nafas pendek, riwayat TBC/terpajan pada individu
terinfeksi.
O Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan, pengembangan pernapasan tidak simetris,
perkusi pekak dan penurunan fremitus, karakteristik sputum (hijau,/purulen, mukoid kuning
atau bercak darah), deviasi tracheal, tdk perhatian, mudah terangsang yang nyata,
perubahan mental (tahap lanjut.
6. Keamanan
O Gejala : Adanya kondisi penekanan imun.
O Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut.
7. lnteraksi social
O Gejala : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa
dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisikuntuk melaksanakan peran.
8. Penyuluhan/pembelajaran
O Gejala : Riwayat keluarga TB, ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk, gagal
untuk membaik, tidak berpartisipasi dalam terapi.
ll. Pemeriksaan Diagnostik
l. Kultur sputum
2. Tes kulit.
3. Elisa/Western Blot
4. Foto thorak
5. Histologi atau kultur jaringan
6. Biopsi jarum pada jaringan paru
7. Elektrosit
8. GDA
9. Pemeriksaan fungsi paru.
lll. Diagnosa Keperawatan
l). Risiko tinggi infeksi (penyebaran/aktivasi ulang) berhubungan
dengan:
- Pertahanan primer tdk adequate
- Kerusakan jaringan/ tembahan infeksi
- Penurunan pertahanan/penekanan proses inflamasi
- Malnutrisi
- Terpajan lingkungan
- Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
- Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi.
- Menunjukkan teknik/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan
lingkungan yang aman.
lntervensi :
l. Kaji patologi penyakit
Rasional : membantu klien menyadari/menerima perlunya mematuhi program pengobatan
untuk mencegah pengaktifan berulang/komplikasi.
2. ldentifikasi orang lain yang beresiko
Rasional : Orang ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya
infeksi.
3. Anjurkan klien untuk batuk dan bersin dan mengeluarkan pada
tissue dan menghindari meludah disembarang tempat..
Rasional : Perilaku ini diperlukan untuk mencegah penyebaran
infeksi..
4. Awasi suhu sesuai indikasi
Rasional : Reaksi demam merupakan indicator adanya infeksi
lanjut.
5. Kolaborasi dalam pemberian pengobatan antiinfeksi sesuai
indikasi.
6. dan lain-lain.
2). Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
- Sekret kental/darah
- Kelemahan, upaya batuk buruk
- Edema tracheal/faringeal
Ditandai dengan :
- Frekuensi pernapasan, irama, kedalam tidak normal
- Bunyi nafas tidak normal dan dispnea.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
- Mempertahankan jalan nafas klien
- Mengeluarkan secret tanpa bantuan
- Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki/mempertahankan bersihan jalan nafas
- Berpartisipasi dalam program pengobatan
- Mengidentifikasi potensial komplikasi dan melakukan tindakan tepat.
lntervensi :
l. Kaji fungsi pernafasan
Rasional : Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan Atelektasis
dan kelainan bunyi nafas lainnya.
2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif
Rasional : Pengeluaran sulit bila secret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah
cerah diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronchial dan dapat memerlukan
evaluasi/intervensi lanjut.
3. Berikan klien posisi semi atau Fowler tinggi. Bantu klien untuk
batuk dan latihan nafas dalam.
Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernafasan.
4. Kolaborasi dalam pemberian udara lembab/oksigen inspirasi
Rasional : mencegah pengeringan membran mukosa, membantu
pengenceran secret.
5. Kolaborasi dalam pemberian obat mukolitik, bronkhodilator dan
kortikosteroid
Rasional : Mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan
secret paru untuk memudahkan pembersihan.
Bronkhodilator untuk meningkatkan ukuran lumen percabangan trakheobronkhial dan
kortikosteroid berguna pada adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia dan bilarespon
inflamasi mengancam hidup.
6. dan lain-lain.
3). Resiko terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
:
- Penurunan permukaan efektif paru, atelektasis
- Kerusakan membran alveolar-kapiler
- Secret kental, tebal dan adanya edema bronchial.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
- Melaporkan tidak adanya/penurunan dispnea
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan
- Bebas dari gejala distress pernapasan.
lntervensi :
l. Kaji adanya gangguan bunyi /pola nafas dan kelemahan
Rasional : TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronchopneumonia
sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi pleura dan fibrosis luas.
2. Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan Bantu aktivitas
perawatan diri sesuai keperluan.
Rasional : Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernafasan
dapat menurunkan beratnya gejala.
3. Berikan tambahan oksigen yang sesuai.
Rasional : Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap
penurunan ventilasi/menurunnya penurunan alveolar paru.
4. dan lain-lain.
4). Perubahan pola nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan :
- Kelemahan
- Sering batuk/produksi sputum
- Anoreksia
- Ketidakcukupan sumber keuangan
Ditandai dengan ;
- Berat badan dibawah l0 20% ideal untuk bentuk tubuh dan berat.
- Melaporkan kurang tertarik pada makanan
- Tonus otot buruk
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
- Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratorium
normal dan bebas tanda malnutrisi.
- Melakukan prilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau
mempertahankan berat yang tepat.
lntervensi :
l. Catat status nutrisi klien
Rasional : berguna dalam mendefenisikan derajat/luasnya masalah dan piliha intervensi
yang tepat.
2. Pastikan pola diet biasa klien yang disukai dan yang tidak
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/kekuatan khusus.
3. Dorong makan sedikit dan sering dengan diet TPK
Rasional : Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu.
4. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi
dengan klien kecuali kontra indikasi.
Rasional : Membuat lingkungan social lebih normal selama makan dan membantu
memenuhi kebutuhan personal dan cultural.
5. Kolaborasi dengan ahli diet untuk menentukan komposisi diet
Rasional : Memeberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adequate untuk
kebutuhan metabolic dan diet.
6. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik tepat sesuai indikasi.
Rasional ; Demam meningkatkan kebutuhan metabolic dan juga konsumsi kalori.
7. dan lain-lain.
5). Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi,
aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan :
- Kurang terpajan pada/salah interpretasi informasi
- Keterbatasan kognitif
- Tidak akurat/tidak lengkap informasi yang ada.
Ditandai dengan :
- Permintaan informasi
- Menunjukkan kesalahan konsep tentang status kesehatan
- Kurang atau tidak akurat mengikuti instruksi/perilaku
- Menunjukkan atau memperlihatkan perasaan terancam.
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi, klien akan :
- Menyatakan pemahaman prosespenyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan
- Melakukan prilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan
menurunkan resiko pengaktifan ulang TB
- Mengidentifikasi gejala yang membutuhkan evaluasi/intevensi
- Menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adequate.
lntevensi :
l. Kaji kemampuan klien untuk belajar
Rasional : Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik serta ditingkatkan pada
tahapan individu.
2. ldentifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat
Rasional : Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat
yang memerlukan evaluasi lanjut.
3. Tekankan pentingnya mempertahankan nutrisi dan cairan adekuat
Rasional :Memenuhi kebutuhan metabolic membantu meminimalkan kelemahan dan
meningkatkan penyembuhan. Cairan dapat mengeluarkan/mengencerkan secret.
4. Dorong untuk tidak merokok
Rasional : Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB, tetapi meningkatkan
disfungsi pernapasan/bronchitis.
5. dan lain-lain.
REFERENSl
Brunner & Suddarth, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume l & 2.
Jakarta : Penerbit buku kedokteran : EGC.
Crofton, John. 2002. Pedoman penanggulangan Tuberkulosis, Widya Medika : Jakarta.
Departeman Kesehatan. Republik lndonesia. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Jakarta.
Doenges, ME at.all., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi lll, Cetakan l, EGC, Jakarta.
Price, S., & Wilson. (2003). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Proses Penyakit, Edisi.2.
Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Mansjoer, Arif, dkk.(2000). Kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid l. Jakarta : FKUl.
http://patriani-gift.blogspot.com/2009/04/askep-tuberculosis-paru.html
http://referensikita.com/hidup-sehat/56-Tuberkulosis/527l-Asuhan-Keperawatan-
Tuberkulosis.html
Laporan pendahuluan TBC
Laporan Pendahuluan
A. Pengertian
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru.
Dapat juga ditularkan kebagian tubuh lain. Termasuk meningen, ginjal, tulang dan nodus
limfe, agen infeksius terutama adalah batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan
lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet. (Brunnner & Suddarth, 2002).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis
dengan gejala yang sangat bervariasi ( Mansjoer , l999).
B. Etiologi
Penyebab tuberculosis adalah Myobakterium tuberkulosa, sejenis kuman berbentuk batang
dengan ukuran panjang l-4/Um dengan tebal 0,3-0,6/Um dan tahan asam . Spesies lain
kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah M.bovis, M.kansasii, M.
intracellulare, sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak(lipid) lipid inilah yang membuat
kuman lebih tahan terhadap asam dam lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Di dalam
jaringan kuman hidup sebagai parasit intrasellular, yakni dalam sito plasma magrofak. Sifat
lain kuman ini adalah aerop. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan
yang tinggi kandungan oksigennya ( Mansjoer , 2000).
C. Patofisiologi
D. Tanda dan Gejala
l. Gejala Umum
Batuk terus menerus dan berdahak 3 (tiga) minggu atau lebih.
Merupakan proses infeksi yang dilakukan Mycobacterium Tuberkulosis yang
menyebabkan lesi pada jaringan parenkim paru.
2. Gejala lain yang sering dijumpai
a. Dahak bercampur darah
Darah berasal dari perdarahan dari saluran napas bawah, sedangkan dahak adalah hasil
dari membran submukosa yang terus memproduksi sputum untuk berusaha mengeluarkan
benda saing.
b. Batuk darah
Terjadi akibat perdarahan dari saluran napas bawah, akibat iritasi karena proses batuk dan
infeksi Mycobacterium Tuberkulosis.
c. Sesak napas dan nyeri dada
Sesak napas diakibatkan karena berkurangnya luas lapang paru akibat terinfeksi
Mycobacterium Tuberkulosis, serta akibat terakumulasinya sekret pada saluran pernapasan.
Nyeri dada timbul akibat lesi yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, serta nyeri dada juga
dapat mengakibatkan sesak napas.
d. Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan
(malaise), berkeringat malam walau tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.
Merupakan gejala yang berurutan terjadi, akibat batuk yang terus menerus mengakibatkan
kelemahan, serta nafsu makan berkurang, sehingga berat badan juga menurun, karena
kelelahan serta infeksi mengakibatkan kurang enak badan dan demam meriang, karena
metabolisme tinggi akibat pasien berusaha bernapas cepat mengakibatkan berkeringat pada
malam hari
(Departemen Kesehatan Republik lndonesia, 2006)
E. Penatalaksanaan
Panduan OAT dan peruntukannya
l. Kategori -l(2 HRZE / 4H3R3)
Diberikan untuk pasien baru
- pasien barui TB paru BTA positif
- Pasien TB paru BTA negatif thorak positif
- Pasien TB ekstra paru
2. Kategori 2 (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3)
Diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnyaq
- Pasien kambuh
- Pasien gagal
- Pasien dengan pengobatan 3 tahun terputus ( Default)
3. OAT sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti panduan paket untuk taha kategori -l yang
diberikan selama sebulan ( 28 hari)
Jenis dan dosis obat OAT
l. lsoniasid (H)
Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif. Dosis harian yang
dianjurkan 5 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 X semingggu diberikan
dengan dosis l0 mg / kg BB.
2. Rifamisin (R)
Dapat m,embnunuh kuman semi dormanf yang tidak dapat dibunuh isoniasid. Dosis l0 mg /
kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 X seminggu.
3. Pirasinamid (Z)
Dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian
dianjurkan 25 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 X seminggu
4. Streptomisin (S)
Dosis harian dianjurkan l5 mg / kg BB, sedeangkan untuk pengobatan intermiten 3 X
seminggu diberikan dengaqn dosis yang sama. Penderita berumur sampai 60 tahun
dosisnya 0,75 gr/ hari. Sedangkan untuk berumur 60 th atau lebih diberikan 0,50 gr/ hari.
(Departemen Kesehatan Republik lndonesia, 2006)
F. Kemungkinan data fokus
Batuk berdahak selama 4 minggu, Hasil foto thorak TB Paru duplet, AL 3,52 ribu/mmk, BTA(
-) , Kandida (+).
G. Wawancara
Klien mengeluh batuk-batuk berdahak selama 4 minggu sulit tidur dan beraktifitas selama
sakit, terasa sesak, klien juga hanya bisa berbaring di tempat tidur segala aktifitas dibantu
keluarga dan perawat, klien terpasang O2 sebanyak 5 liter/menit. TTV: TB=90/60, DN=75,
N=28 kali/menit saat di alkulstasi didada kiri dan kanan terdengar suara ronchi, SaO2= 93%.
BB=50 kg,
H. Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas / lstirahat
Gejala : kelelahan umum dan kelemahan
Napas pendek karena kerja
Kesulitan tidur pada malam atau demam malam hari, menggigil dan /atau berkeringat
Mimpi buruk
Tanda : Takikardia, Takipnea / dispnea pada kerja
Kelelahan otot, nyeri dan sesak (tahap lanjut)
b. lntegritas Ego
Gejala : adanya / faktor stres lama
Masalah keuangan, rumah
Perasaan tak berdaya / tak ada harapan
Populasi budaya / etnik : Amerika asli atau imigran dari Amerika Tengah,
Asia
Tanda : Menyangkal
Ansietas, ketakutan, mudah terangsang
c. Makanan / Cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan
Tak dapat mencerna
Penurunan berat badan
Tanda : Turgor kulit buruk, keringat / kulit bersisik
Kehilangan otot / hilang lemak subkutan
d. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi, gelisah.
e. Pernapasan
Gejala : Batuk produktif atau tidak produktif
Napas pendek
Riwayat tuberkulosis / terpajan pada individu terinfeksi
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan
pleura)
f. Keamanan
Gejala : Adanya kondisi penekanan imun, contoh; AlDS, Kanker
Tes HlV Positif
Tanda : Demam rendah atau sakit panas akut
g. lnteraksi Sosial
Gejala : Perasaan isolasi / penolakan karena penyakit menular
Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab / perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran
h. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga TB
Ketidakmampuan umum / status kesehatan buruk
Gagal untuk membaik / kambuhnya TB
Tidak berpatisipasi dalam terapi
( Marilynn E. Doenges, 2000)
l. Pemeriksaan Diagnostik
l. Kultur sputum
Positif untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
2. Ziehl Nelsons
Pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk asupan cairan dalaqm darah, positif untuk
basil asam.
3. Test kulit ( PPD, Mantoux, potongan volmel)
Reaksi positif ( area indurasi l0 mm / lebih besar terjadi 48 72 jam setelah injeksi intra
dermal antigen)
4. Elisa (Western)
Dapat menyatakan adanya HlV.
5. Foto thorak
Dapat menunjukkkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh
primer. Perubahan menunjukkkan lebih luas TB dapat termasuk ronggga, area fibrosa.
6. Histologi / kultur jaringan
Termasuk pembersihan gaster, urine, cairan serebrospinal, biopsi kulit. Positip untuk
mycobacterium tuberkulosis
7. Biopsi jarum pada jaringan paru
Positip untuk granuloma TB, adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis
8. Elektrosit
Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi.
9. GDA
Dapat norma tergantung pada lokasi dan beratnya kerusakan ruang mati.
l0. Pemeriksaaan fugsi paru
Penurunan kapasitas vital, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleura ( TB paru kronis
paru luas )
( Marilynn E. Doenges, 2000)
l0. Analisa Data
No. Data Masalah Penyebab
lklien mengatakan sulit bernapas bila
dahak tidak bisa dikeluarkan
DO :
Terdengar suara ronchi pada lapang
paru kanan dan kiri
RR 28 X/ mnt
Pasien batuk berdahak
Bersihan jalan
napas tidak efektif
Akumulasi sekret
pada bronkus
2 DS :
Klien mengatakan sesak bertambah jika
beraktifitas
DO :
Klien dimandikan oleh keluarga dan
perawat
RR 28 X / mnt
Terpasang O2 5 lt / mnt
SaO2 93%
lntoleransi aktifitas lnsufisiensi O2
3 DS : -
DO :
Batuk berdahak
Hasil foto thorak TB Paru duplet
AL 3,52 ribu/mmk
BTA - , Kandida +
Resiko infeksi
pada bronkus
Menetapnya secret
pada bronkus
ll. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
l. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumul;asi secret pada bronkus
2. lntoleransi aktifitas berhubungan dengasn insufisiensi O2
3. Resiko infeksi pada bronkus berhubungan dengan menetapnya secret pada bronkus
L. Rancangan Asuhan Keperawatan
N
o
Diagnosa Keperawatan
Rencana keperawatan
Rasional
Tujuan dan kriteria hasil lntervensi
l
Bersihan jalan napas tidak
efektif berhubungan dengan
akumulasi secret pada bronkus
ditandai dengan
DS : klien mengatakan sulit
bernapas bila dahak tidak bisa
dikeluarkan
DO :
Terdengar suara ronchi pada
lapang paru kanan dan kiri
RR 28 X/ mnt
Pasien batuk berdahak
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 X 24
jam, bersihan jalan napas
efektif dengan kriteria
Tidak sesak napas
Dapat batuk efektif
RR = l6 24 X / mnt
Suara vesikuer pada lapang
paru
Tidak terdapat sekret
l. Kaji frekwensi,
kedalaman pernaasan
dan gerakan dada.
2. Atur posisi semi fowler
3. Melatih untuk batuk
efektif
4. Berikan obat sesuai
indikasi OBH 3 X 2 cth
l. Takipnea, pernapasan dangkal,
gerakan dada tidak simetris karena
jalan napas terganggu
2. Meningkatkan ekspansi parui dengan
bantuan gaya grtavitasi bumi
3. Mengeluarkan dahak yang
meningkatkan bersihan jalan napas
4. Ekspektoran gangguan batuk disertai
dahak yang berlebih
2
lntoleransi aktifitas
berhubungan dengasn
insufisiensi O2 ditandsai
dengan
DS :
Klien mengatakan
sesak bertambah jika
beraktifitas
DO :
Klien dimandikan oleh keluarga
dan perawat
RR 28 X / mnt
Terasang O2 5 lt / mnt
SaO2 93 %
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 X 24
jam klien mampu
Mengidentifikasi factor
menurunnya toleransi
aktifitas
Nadi : 60 l00 X / mnt
Respirasi : l6 24 X / mnt
l. Observasi tingkat
toleransi dalam
beraktivitas
2. Anjurkan relaksasi
3. Anjurkan beristirahat bila
ada keluhan seseg nafas
4. Bantu klien beraktivitas
5. Anjurkan keluarga untuk
membantu aktivitas klien
l. Menentukan intervensi selanjutnya
Mengurangi ketidaktoleransian klien
Mencegah kekurangan O2
Memenuhi kebutuhaqn klien
Meningkatkan peranserta keluarga
3 Resiko infeksi pada bronkus
berhubungan dengan
menetapnya secret pada
bronkus
DS : -
DO :
- Batuk berdahak
- Hasil foto thorak TB Paru
duplet
AL 3,52 ribu/mmk
Setelah dilakukan tindakan
keerawatan selama 3 X 24
jam infeksi tidak terjadi
dengan criteria
Suhu 36,5C 37,5C
Tidak terdapat tanda tanda
infeksi
Pemeriksaan kultur negatif
l. Pertahankan tanda vital
2. Pantau tanda - tanda
infeksi observasi warna,
karakteristik, bau sputum
3. Latih psien batuk efektif
4. kolaborasi pemeriksaan
laboratorium
Peningkatan suhu meruakan salah
satu tanda terjadi infeksi
Sekret berbau, warna kuning /
kehijauan menunjukkkan adanya
infeksi
Mengeluarkan dahak yang
meningkatkan bersihan jalan napas
Mengetahui lebih dini jika terjadi
infeksi
Daftar Pustaka
Arif Mansjoer, (2000). Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 2 , FK Ul: Jakarta.
, (l999). Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK Ul: Jakarta.
Brunner dan Sudarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah ( Vol-2), EGC:
Jakarta
Doenges, M.E, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan ; Jakarta : EGC
Departemen Kesehatan Republik lndonesia, (2006). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis:
Jakarta
. DEFlNSl
Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe
humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran
napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan
paru melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer
(ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer
kompleks (ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).
Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan
gejala yang sangat bervariasi.
B. ETlOLOGl
Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk
batang denagn ukuran panjang l-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman
terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap
gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-
tahan dalam lemari es).
C. PROSES PENULARAN
Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang
dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk
dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan
dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar
matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab
dapat bertahan sampai beberapa jam.
D. ANATOMl FlSlOLOGl
E. PATOFlSlOLOGl
Port de'entri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran
pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui
udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil
tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu
sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan
cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang
alveolus biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah
atau paru-paru tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan
reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit
bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka
leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan
timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya
sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri
terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah
bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian
bersatu membentuk sel tuberkel epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya
membutuhkan waktu l sampai l0 hari.
F. MANlFESTASl KLlNlS
Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu
Sesak napas dan nyeri dada
Badan lemah, kurang enak badan
Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun (Penyakit
infeksi TB paru dan ekstra paru, Misnadiarly)
G. JENlS-JENlS PENYAKlT TBC
Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :
l. TB paru ( TB pada organ patu-paru )
2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )
a. Tuberkulosis milier
b. Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )
c. Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula
d. Tuberkulosis Pericarditis
e. Tuberkulosis Skelet / Tulang
f. Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih
g. Tuberkulosis Peritonitis
h. Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)
i. Tuberkulosis lymphadenitis
j. Tuberkulosis Catan / Kulit
k. Tuberkulosis Laringitis
l. Tuberkulosis Otitis

H. KOMPLlKASl
l. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial
2. Pleuritis tuberkulosa
3. Efusi pleura
4. Tuberkulosa milier
5. Meningitis tuberkulosa
l. PEMERlKSAAN PENUNJANG
l. Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit
2. Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi l0-l5 mm terjadi 48-72
jam)
3. Poto Thorak adalah lnfiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak
gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan,
berupa cincin : pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas
tinggi.
4. Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb
paru
5. Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)
6. Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun
J. PENATALAKSANAAN
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase lntensif (2-3 bulan) dan Fase
Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat
tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah
Rifampisin, lNH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan
adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat,
derivat rifampisin / lNH.
K. DlAGNOSA KEPERAWATAN
l. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.
Kriteria hasil :
Mempertahankan jalan nafas pasien
Mengeluarkan sekret tanpa bantuan
lntervensi :
Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan
penggunaan otot aksesori
Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah
sputum, adanya emoptisis
Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan
napas dalam
Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan
Rasionalisasi :
Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis
Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah
diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi
Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan
Mencegah obstruksi / aspirasi
2. Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi
sputum meningkat.
Kriteria hasil :
BB meningkat
lntervensi :
Catat status nutrisi pasien
Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai
Berikan makanan sedikit tapi sering
Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien
kecuali kontra indikasi
Kolaborasi dengan ahli gizi
Rasionalisasi :
Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang
tepat
Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet
Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan
Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan
dengan tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.
Kriteria hasil :
Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan
lntervensi :
Kaji kemampuan pasien untuk belajar
ldentifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat
Berikan instruksi dan informasi tertulis
Anjurkan klien untuk tidak merokok
Kaji bagaimana TB ditularkan
Rasionalisasi :
Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan
individu
Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang
memerlukan evaluasi lanjut
lnfomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar
informasi
Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi
pernapasan
4. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk
menghindari pemajanan patogen.
Kriteria hasil :
Menurunkan resiko penyebaran infeksi
lntervensi :
Kaji patologi penyakit
ldentifikasi orang lain yang berisiko
Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari
meludah
Kaji tindakan kontrol infeksi
Awasi suhu sesuai indikasi
Kolaborasi dengan tim medis
Rasionalisasi :
Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan
Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran
/ terjadinya infeksi
Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien
Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut
Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan
penyebaran infeksi
LAPORAN PENDAHULUAN TUBERKULOSIS ( TBC )
A. Pengertian
Tuberculosis merupakan penyakit kronis akut dan sub akut yang diseabkan oleh
baksilus tuberculosis, mycobacterium tuberculosis yang kebanyakan mengenai alveoli paru.
Penyebaran infeksi tuberculosis dapat sampai ke limpa, hepar, meningen, tulang, dan organ
lainnya ( Tucker, l998 ).
Menurut Price ( 2005 ) tuberculosis ( TB ) adalah suatu penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang penyebarannya melalui saluran
pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit.
Sedangkan menurut Hanikamioji ( 2009 ) Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang tahan asam ini dapat
merupakan organisme patogen maupun saprofit. Ada beberapa mikrobakteria patogen ,
tetapi hanya strain bovin dan human yang patogenik terhadap manusia. Basil tuberkel ini
berukuran 0,3 x 2 sampai 4 m, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh
manusia melalui udara (pernapasan) kedalam paru-paru, kemudian kuman tersebut
menyebar dari paru-paru ke organ yang lain melalui peredaran darah, yaitu : kelenjar limfe,
saluran pernapasan atau penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes Rl, l998).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Tuberculosis
( TBC) adalah penyakit infeksi kronis dan akut yang disebabkan oleh mycobacterium
tuberculosis yang penyebarannya bias sampai ke lsaluran pernafasan, saluran pencernaan,
luka terbuka pada kulit, kelenjar limfe, dan penyebaran langsung ke organ tubuh lain.
B. Etiologi
Tuberculosis paru disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman
berbentuk batang dengan ukuran l - 4/ m dan tebal 0,3 - 0,6/ m. Sebagian kuman terdiri
atas lemak ( lipid). Lemak inilah yang membuat kuman tahan asam dan lebih tahan terhadap
gangguan fisik da kimia, kuman juga mampu hidup dalam udara kering maupun dingin ,
bahkan bias bertahan hidup bertahun- tahun dalam lemari es. Hal ini terjadi karena kuman
berada dalam sifat dormant. Dan sifat lain dari kuman ini adalah aerob, sehingga kuman ini
hidup pada jaringan yang kaya oksigen. Dimana bagian apical paru- paru merupakan tempat
predileksi penyakit tuberculosis paru ( Suyono, 2003 ).
Penyebab tuberculosis adalah mycobacterium tuberculose, sejenis kuman yang
berbentuk batang dengan ukuran panjang l - 4/ m dan tebal 0,3 - 0,6/ m. Yang tergolong
dalam mycobacterium tuberculose complex adalah :
l. M. Tuberculosae
2. Varian Asian
3. Varian African
4. Varian African ll
5. M. Bovis
Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat
kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut asam bakteri tahan
asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan
hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam
lemari es). Hal ini terjadi karena kuman bersifat dormant, tertidur lama selama bertahun-
tahun dan dapat bangkit kembali menjadikan tuberkulosis aktif lagi.
Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma
makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena
banyak mengandung lipid ( Bahar, 200l).
Menurut Bahar ( 200l )pada tahun l974, American Thoracic Society memberikan
klasifikasi baru Tuberculosis yang diambil berdasarkan aspek kesehatan masyarakat yaitu :
l. Kategori 0 : tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak negatif, tes tuberculin
negatif.
2. Kategori l : terpajan tuberkulosis, tapi tidak terbukti ada infeksi. Riwayat kontak positif, tes
tuberculin negatif.
3. Kategori ll : terinfeksi tuberkulosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberrkulit positif, radiologis dan
sputum negatif.
4. Kategori lll : terinfeksi tuberculosis dan terasa sakit.
Di lndonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah berdasarkan kelainan klinis,
radiologis, dan mikrobiologis :
l. Tuberkulosis paru
2. Bekas tuberculosis paru
3. Tuberkulosis paru tersangka, yang terbagi dalam :
a.Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. Di sini sputum BTA positif, tapi tanda- tanda
yang lain negatif.
b.Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Disisni sputum BTA negatif dan tanda-
tanda yang lain juga negatif.
C. Patofisiologi
l. Tuberkulosis Primer
Tuberkulosis primer ialah penyakit TB yang timbul dalam lima tahun pertama setelah
terjadi infeksi basil TB untuk pertama kalinya (infeksi primer) (STYBLO,l978 dikutip oleh
Danusantoso,2000:l02).
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan
keluar menjadi droplet dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas
selama l- 2 jam. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai
berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini dapat terhisap oleh orang sehat ia akan menempel
pada jalan napas atau paru-paru. Bila menetap di jarigan paru, akan tumbuh dan
berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Kuman yang bersarang di jaringan paru-paru
akan membentuk sarang tuberkulosa pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek
primer dan dapat terjadi di semua bagian jaringan paru.
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfangitis
regional) yang menyebabkan terjadinya kompleks primer.
Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :
a. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.
b. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (kerusakan jaringan paru).
c. Berkomplikasi dan menyebar secara :
l) Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya.
2) Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Dapat juga
kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus.
3) Secara linfogen, ke organ tubuh lainnya.
4) Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya (Bahar, l999:7l6)
2. Tuberkulosis Post-Primer (Sekunder)
Adalah kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun
kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post-primer).
Hal ini dipengaruhi penurunan daya tahan tubuh atau status gizi yang buruk. Tuberkulosis
pasca primer ditandai dengan adanya kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas
atau efusi pleura. Tuberkulosis post-primer ini dimulai dengan sarang dini di regio atas paru-
paru. Sarang dini ini awalnya juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Tergantung dari jenis
kuman, virulensinya dan imunitas penderita, sarang dini ini dapat menjadi :
a. Diresorbsi kembali tanpa menimbulkan cacat
b. Sarang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dengan sembuhan jaringan fibrosis
c. Sarang dini yang meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan
sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk
jaringan keju
d. Bila tidak mendapat pengobatan yang tepat penyakit ini dapat berkembang biak dan
merusak jaringan paru lain atau menyebar ke organ tubuh lain (Bahar, l999:7l6)
D. Manifestasi Klinis
Menurut Suyono ( 2003 : 824 ) keluhan yang dirasakan klien dengan tuberculosis dapat
bermacam-macam, ada juga yang ditemukan tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak dari penderita tuberculosis adalah :
l. Demam
Biasanya sub febris menyerupai demam influenza tetapi kadang- kadang panas badan
mencapai 40
0
C 4l
0
C. Serangan demam pertama kali dapat sembuh sebentar, tetapi
kemudian dapat timbul kembali.
2. Batuk / batuk darah
Batuk terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-
produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama. Sifat
batuk dimulai dari batuk kering ( non produktif ), kemudian setelah timbul peradangan
menjadi produktif ( menghasilkan sputum). Keadaan lanjut berupa batuk berdarah yang
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah.
3. Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan/ baru, sesak nafas belum terasa. Sesak nafas akan ditemukan
pada penyakit yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru- paru.
4. Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis. Gesekan kedua pleura, terjadi saat inspirasi atau ekspirasi.
5. Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan
turu, sakit kepala, nyeri otot, keringat di malam hari. Gejala malaise ini makin lama makin
berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
Tuberkulosis sering dijuluki "the great imitator" yaitu suatu penyakit yang mempunyai
banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah
dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan
bahkan kadang-kadang asimtomatik.
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
l. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan.
Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah
ada kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak-
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak
terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari
besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak a!as
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. N"er# dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila
sistem persarafan di pleura terkena.
$. %e&a'a s#ste(#k) (e'#!ut#*
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip
demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa
bebas serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan
akut dengan batuk, panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai
gejala pneumonia.
%e&a'a k'##s Hae(+!t+e*
K#ta harus (e(ast#ka bah,a !erdaraha dar# as+-ar#. de.a cara (e(bedaka c#r#/c#r# seba.a# ber#kut *
0. Batuk darah
a. Darah d#batukka de.a rasa !aas d# te..+r+ka
b. Darah berbu#h berca(!ur udara
c. Darah se.ar ber,ara (erah (uda
d. Darah bers#-at a'ka'#s
e. Ae(#a kada./kada. ter&ad#
-. Be1#d# test e.at#-
$. 2utah darah
a. Darah d#(utahka de.a rasa (ua'
b. Darah berca(!ur s#sa (akaa
c. Darah ber,ara h#ta( karea berca(!ur asa( 'a(bu.
d. Darah bers#-at asa(
e. Ae(#a ser#a. ter&ad#
-. Be1#d# test !+s#t#-
3. E!#staks#s
a. Darah (eetes dar# h#du.
b. Batuk !e'a kada. ke'uar
c. Darah ber,ara (erah se.ar
d. Darah bers#-at a'ka'#s
e. Ae(#a &ara. ter&ad#
Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes Rl. 2002) :
l. Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan
kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.