Anda di halaman 1dari 13

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

Tinjauan Khusus Terhadap Metode Pelaksanaan Bored Pile Gedung Promenade


4.1 Definisi Bored pile Seiring dengan perkembangan zaman,pembangunan di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Dalam pembangunan tersebut banyak bangunan besar seperti gedung, jembatan, menara dan bangunan lain didirikan. Untuk menahan beban bangunan yang berat tersebut tentunya diperlukan pondasi yang kokoh. Apabila kondisi tanah di permukaan tidak mampu menahan bangunan tersebut, maka beban bangunan harus diteruskan ke lapisan tanah keras di bawahnya. Untuk itu sering dipakai konstruksi pondasi dalam berupa tiang pancang. Pondasi tiang pancang sering dipakai pada lahan yang masih luas dan kosong, dimana getaran yang ditimbulkan pada saat aktifitas pemancangan berlangsung tidak mengganggu lingkungan sekitarnya, Namun jika bangunan tersebut didirikan di lokasi yang telah padat penduduknya atau pada tempat dengan mobilitas tinggi seperti bandar udara, maka getaran yang ditimbulkan akan menimbulkan masalah karena sangat mengganggu dan dapat merusak bangunan di sekitarnya. Dalam hal ini pemakaian pondasi bored pile merupakan pilihan pondasi yang tepat. Pada proyek dimana sarana transportasi dan lokasinya mendukung, dalam pembuatan bored pile sering digunakan alat berat berupa crane seperti pada proyek Pengembangan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Paket 2 ini. Namun, pada beberapa titik pancang pada proyek gedung promenade alat berat ini tidak dapat digunakan disebabkan lahan pada beberapa pancang terlalu sempit,sehingga crane ini tidak mampu dioperasikan. Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, dapat digunakan bored pile dengan memakai peralatan bor mini yang sangat ringkas dan mudah mobilisasi maupun pengoperasiannya.

65

Gambar 4.1 Alat bor pile

Peralatan ini mempunyai keunggulan sebagai berikut : 1. Ringkas dan praktis sehingga mudah dan murah dalam mobilisasinya. 2. Mudah dioperasionalkan pada medan-medan yang sulit seperti : a) Daerah berpasir atau dekat dengan pantai b) Daerah rawa-rawa c) Di atas sungai dan laut. d) Daerah yang berbukit atau pegunungan. 3. Tidak menimbulkan getaran. Hal ini sangat penting, terutama untuk pembuatan pondasi di daerah perkotaan yang bangunannya cukup rapat dan tidak memungkinkan dipakainya tiang pancang.

66

Sedangkan kekurangan dari alat ini antara lain: 1. Dalam pelaksanaan pengeboran sangat bergantung pada tenaga manusia 2. Dalam satu hari alat ini hanya mampu mengerjakan satu lubang pile. Tidak seperti alat hummer jack yang satu harinya mampu mengerjakan 4 lubang pile.

Kemampuan mesin ini secara umum adalah sebagai berikut : 1. Dapat melakukan pengeboran mulai dari diameter 30 cm sampai dengan 100 cm 2. Kedalaman pengeboran dapat mencapai 30 meter atau bahkan lebih (sesuai kondisi tanah dan kedalaman tanah keras di daerah tersebut).

3. Dapat dioperasionalkan dengan dua cara, baik sistem wash boring maupun dry drilling tergantung kedalaman air tanah di daerah tersebut. Kedalaman pengeboran dapat mencapai 30 meter atau bahkan lebih (sesuai kondisi tanah dan kedalaman tanah keras di daera tersebut). 4. Kapasitas pengeboran per unit mesin bor, jam kerja normal (8 jam kerja) dapat menyelesaikan pekerjaan pengeboran dan pengecoran dalam ukuran volume beton sebanyak 2-5 M3 dengan sistem wash boring dan 1-3 M3 dengan sistem dry drilling. 5. Kecepatan pelaksanaan pekerjaan tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut: a) Kondisi lapisan tanah setempat b) Lokasi kerja c) Kelancaran pasokan material d) Cuaca dll.

4.2 Spesifikasi Teknis Alat Bor : Adapun spesifikasi teknis alat bor dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Rangka Mesin Rangka mesin ini mempunyai lebar 1,20 meter dengan panjang 3,00 meter terbuat dari besi kanal UNP yang berfungsi sebagai dudukan winch dan diesel penggerak. Menara bor yang ditempatkan pada ujung rangka, terbuat dari pipa besi galvanis berdiameter 3-4 inch dengan ketebalan medium SII, berfungsi sebagai line / pengarah gear box terutama untuk pelurus vertikal pada saat pengeboran. Panjang menara bor ini bervariasi antara 6 sampai 9 meter tergantung kondisi lapangan. Kadang menara bor dipotong pendek 67

apabila harus dioperasikan di dalam ruangan yang tingginya terbatas. Menara bor ini berfungsi juga sebagai penahan kerangka tulangan bored pile saat akan dimasukkan ke lubang bor. Kerangka tulangan bored pile yang dapat ditarik panjang maksimumnya 12 meter.

2. Penggerak Bor Rotasi pengeboran digerakkan oleh elektromotor kapasitas 7,50 HP dengan kecepatan rotasi 1.500 rpm. Rotasi ini diperlambat dengan speed reducer dengan ratio 1 : 40 sehingga diperoleh out put 90 kgm pada 37,50 rpm. Sumber listrik penggerak elektro diperoleh dari pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 10 sampai dengan 15 KVA.

3. Pipa Bor / Rod Pipa / Rod bor terbuat dari pipa besi galvanis / baja diameter 2,50 dengan ketebalan medium SII, yang mempunyai kekuatan moment torsi > 90 kgm.

4. Mata bor Jenis mata bor yang dipakai disesuaikan dengan kondisi tanah yang dibor. Ada 2 jenis mata bor yang sering dipakai, antara lain : Cross bit Digunakan pada pengeboran dengan sistem wash boring, disini air berfungsi sebagai media pengangkut / pendorong tanah hasil pengeboran. Bor Spiral Digunakan pada saat pengeboran dengan sistem dry drilling

5. Katrol / Diesel Winch Diesel winch yang dipakai, dilengkapi dengan tambang baja (wire rope) yang mempunyai kekuatan angkat 2 ton dengan kecepatan 8 meter / per menit

68

6. Pompa Pompa hanya digunakan pada sistem wash boring. Dalam hal ini sering dipakai pompa sentrifugal yang berdiameter isap 3 dan mempunyai tekanan 1,1 kg/cm2 yang dihubungkan ke stang bor menggunakan selang tekan berdiameter 2.

7. Corong Cor Corong cor digunakan sebagai penampung adukan beton yang akan dimasukkan ke dalam pipa tremi. Corong cor ini terbuat dari plat besi tebal 3 mm dan ber diameter 60 cm. Penyambungan corong cor dengan pipa tremie memakai sistem drat.

8. Pipa Tremi Pipa tremi sebagai penghantar adukan beton terbuat dari pipa galvanis berdiameter 6 dengan ketebalan medium SII, panjang setiap pipa 2 meter yang disambung dengan sistem drat

9. Alat Bantu Alat bantu yang sering diperlukan dalam pekerjaan pengeboran antara lain : Kunci pipa dan kunci rantai Kunci pas dan kunci inggris Cangkul, linggis, ember Travo las, gerinda potong Gegep dll.

10. Roller / Perakit Baja Tulangan : Roller adalah alat untuk menggulung tulangan spiral jarak / sengkang spiral. Biasanya yang digunakan untuk spiral adalah tulangan polos karena baja tulangan ini memiliki sifat elastis. Diameter roller dibuat lebih kecil dari diameter bored pile sehingga didapat selimut / penutup beton yang tebalnya sekitar 5 7,5 cm. Untuk pemotongan dan pembengkok baja tulangan biasa digunakan mesin potong atau gunting tulangan konvensional. Untuk mengikat baja tulangan digunakan kawat beton dengan memakai alat gegep atau tang.

69

4.3 Material Bored Pile Material bored pile terdiri dari

1. Beton : Cement Portland type 1. Aggregate kasar dari batu pecah / crushed stone ukuran 1 - 2 cm dan 2 - 3 cm. Aggregate halus / pasir ukuran 0,1 - 4 mm dan bergradasi baik.

Gambar 4.2 Truk beton ready mix PT. Sinar Bali

Pada proyek gedung ini digunakan beton ready mix dengan mutu beton K350 dengan penyedia PT. Sinar Bali.

2. Baja Tulangan : Untuk tulangan pokok digunakan besi ulir D 25, dengan membentuk diameter tiang pancang 30 cm dan panjang 12 m. Untuk spiral / sengkang digunakan besi D 13

70

3. Lumpur Fungsi lumpur disini adalah untuk memberikan lekatan pada mata bor pile karena pengerjaannya terletak pada tanah berpasir.

4. Air : Air yang digunakan adalah air bersih sesuai ketentuan Peraturan Beton Indonesia .

4.4 Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan pekerjaan bored pile secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pekerjaan Persiapan : Persiapan lahan untuk merakit dan mendirikan mesin bor pada titik yang akan di bor Pengadaan bak sirkulasi (untuk pengeboran dengan sistem wash boring). Pengadaan material Perakitan baja tulangan.

2. Pengeboran: Pengeboran dengan sistem dry drilling : tanah dibor dengan menggunakan mata bor spiral dan diangkat setiap interval kedalaman 0,5 meter. Hal ini dilakukan berulangulang sampai kedalaman yang ditentukan. Pengeboran dengan sistem wash boring : tanah dikikis dengan menggunakan mata bor cross bit yang mempunyai kecepatan putar 375 rpm dan tekanan +/- 200 kg. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan air lewat lubang stang bor yang dihasilkan pompa sentrifugal 3. Hal ini menyebabkan tanah yang terkikis terdorong keluar dari lubang bor. Setelah mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata bor dibiarkan berputar tetapi beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap berlangsung terus sampai cutting atau serpihan tanah betul-betul terangkat seluruhnya. Selama pembersihan ini berlangsung, baja tulangan dan pipa tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor. 71

Setelah cukup bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan bersihnya lubang bor diharapkan hasil pengecoran akan baik hasilnya.

Gambar 4.3 Pekerjaan pengeboran pada gedung CRB

3. Pemasangan kerangka Baja Tulangan dan Pipa Tremie. Kerangka baja tulangan yang telah dirakit diangkat dengan bantuan diesel winch dalam posisi tegak lurus terhadap lubang bor dan diturunkan dengan hati-hati agar tidak terjadi banyak singgungan dengan lubang bor. Baja tulangan yang telah dimasukan dalam lubang bor ditahan dengan potongan tulangan melintang lubang bor. Setelah rangka baja tulangan terpasang, pipa tremi disambung dan dimasukkan kedalam lubang dengan panjang sesuai kedalaman lubang bor. 72

Pada saat pembersihan dilakukan, pengadukan beton bisa mulai dilakukan.

4. Pekerjaan Pengecoran : Setelah pembersihan lubang bagian akhir selesai, head kombinasi dibuka dan diganti corong cor yang disambung dengan pipa tremi. Pengecoran awal : Pengecoran adalah bagian akhir dari pekerjaan bored pile dimana langkah pengecoran awal adalah bagian terpenting dari pekerjaan ini.

Gambar 4.4 Pekerjaan pengecoran bor pile dengan beton ready mix Prosedur pengecoran yang biasa dilaksanakan pada pekerjaan bored pile adalah sebagai berikut : 1. Untuk memisahkan adukan beton dari lumpur bor pada pengecoran awal, digunakan kantong plastik yang telah diisi adukan beton dan diikat dengan kawat beton yang digantung di bagian dalam lubang tremi. 2. Setelah tenaga cor siap, beton ditampung di dalam corong cor dan ditahan oleh bola-bola beton pada kantong plastik. Setelah cukup penuh, bola kantong plastik dilepas sehingga 73

terdorong beton yang ada di dalam lubang tremi. Selanjutnya penuangan beton dilakukan dengan cepat sehingga cukup untuk mendorong air lumpur bor yang ada di dalam lubang tremi. Slump adukan beton untuk bored pile tidak boleh terlalu rendah (minimal 16 cm) sehingga mudah mengalir dan mendorong lumpur yang ada di dalam lubang bor. 3. Pengecoran selanjutnya dilakukan secara kontinyu dan tidak terputus lebih dari 10 menit. Dengan sistem tremi ini pengecoran dimulai dari dasar lubang dengan mendorong air / lumpur dari bawah keluar lubang. 4. Setelah pipa tremi penuh dan ujung pipa tremie tertanam beton biasanya beton tidak dapat mengalir karena ada tekanan dari bawah. Untuk memperlancar adukan beton didalam pipa tremi, dilakukan hentakan hentakan pada pipa tremi. Pipa tremi harus selalu terbenam dalam adukan beton dan pengisian di dalam corong harus dijaga terus menerus agar corong tidak kosong. 5. Pipa tremi dilepas setiap 2 meter dan dilakukan setelah pipa tremi naik ke permukaan lubang lebih dari 2 meter. 6. Pengecoran dihentikan setelah adukan beton yang naik ke permukaan telah bersih dari lumpur. Bila pengecoran dihentikan di bawah permukaan tanah (karena perhitungan adanya galian tanah), maka tinggi pengecoran minimal harus 0,5 meter di atas level rencana bagian atas bored pile (sampai beton pada rencana bagian atas tidak tercampur Lumpur lagi). 7. Pembersihan dan pemasangan kembali. Setelah pekerjaan pengecoran selesai, semua peralatan dibersihkan dari sisa beton dan lumpur dan disiapkan kembali untuk dipakai pada titik bor berikutnya. Sebagai gambarannya akan dideskripsikan dalam gambar berikut.

74

Gambar 4.5 Metoda pelaksanaan bored pile

75

4.5 Testing Material Dalam pelaksanaan pekerjaan, seluruh material yang digunakan harus dilakukan pengujian,agar hasil yang didapatkan dapat sesuai seperti yang direncanakan. Adapun testing material yang dilakukan pada proyek Pengembangan Bandar Udara Ngurah Rai Paket 2 ini adalah sebagai berikut: 1. Semua material yang digunakan seperti : semen, air, aggregat kasar, agregat halus dan besi beton dapat ditest di laboratorium untuk memeriksa kualitasnya. 2. Slump test : pengujian slump biasa dilakukan untuk mengetahui workability adukan beton yang ada.

Gambar 4.5 Slump Test

4.6 Personil Pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan bored pile harus dilakukan oleh tenaga kerja yang ahli dan berpengalaman dalam bidang bored pile.

76

Kesimpulan: Berdasar penjelasan yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Bored pile merupakan peralatan yang alat bor yang ringkas praktis karena dapat digunakan pada kondisi dimana tanah tidak memiliki lahan yang cukup luas dan berada pada daerah berawa atau berpasir seperti pada proyek ini. 2. Pengeboran pada proyek pembangunan gedung promenade memiliki diameter lubang antara 30 cm dengan kedalaman lubang dapat mencapai 12 m. 3. Testing material dilakukan berdasar jenis material yang digunakan dan slump test yaitu test beton yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan kerja beton.

77