Anda di halaman 1dari 18

Pembimbing : dr. REINHARD J. D.

HUTAHAEAN, SH, SpF

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan Rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan paper ini dengan judul STRANGULASI (PENJERATAN). Paper ini kami buat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program Kepanitraan Klinik Senior (KKS) dibagian KEDOKTERAN FORENSIK RSUD. DJASAMEN SARAGIH P.SIANTAR. Kami mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN SH. SpF yang telah memberikan bimbingan dan juga kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan paper ini. Kami menyadari bahwa paper ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran.

Pematangsiantar, Maret 2011

Penulis

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ ISI DEFENISI.......................................................................................... 1-2 SEBAB KEMATIAN ........................................................................ 3-12 PEMERIKSAAN POST-MORTEM ................................................. 12-13 JERAT ............................................................................................... 13-14 CARA KEMATIAN .......................................................................... MEDIKOLEGAL .............................................................................. PERBEDAAN MATI GANTUNG DAN PENJERATAN ............... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 14 14 15 16 i ii

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

PENJERATAN
Asfiksia yang terjadi pada penjeratan berbeda dengan asfiksia pada penggantungan. Pada penjeratan ikatan yang terjadi sewaktu penjeratan berlangsung merupakan faktor yang terpenting yang mengakibatkan terhalangnya jalan nafas; dengan demikian faktor yang terpenting ada pada alat penjerat, hal mana berbeda dengan penggantungan, di mana berat badan korban merupakan faktor yang dominan.(1) Penjeratan dapat pula dilakukan dengan tangan, satu tangan atau dengan dua tangan; penjeratan dengan tangan ini dikenal dengan nama manual strangulation,atau pencekikan. Penjeratan dengan tangan tidak perlu tangan tersebut melingkari leher, seperti yang terjadi pada Palmar strangulation, dimana tangan kanan pelaku ditekankan secara horisontal pada mulut korban dan tangan kirinya membantu menekan dengan posisi vertikal sehingga telapak tangan kiri menekan leher korban pada bagian depannya.(1) Bentuk lain dari penjeratan yang dikenal adalah: Garroting,dimana korban diserang dari belakang, kemudian dilanjutkan dengan menjeratnya dengan alat penjerat. Penjeratan dapat juga dilakukan dengan mempergunakan lengan,korban diserang dari belakang, leher korban dijepit di antara lengan atas dan lengan bawah si pelaku, leher korban berhadapan dengan lipat siku pelaku penjeratan.(1)

Defenisi
Penjeratan adalah terhalangnya udara masuk ke saluran pernafasan akibat adanya tenaga dari luar. Disini tidak ada pengaruh berat badan seperti pada hanging.(1) Terdapat beberapa tipe : 1. Penjeratan dengan alat penjerat (tali, kawat ,dll ) Alat penjerat ( tali,kawat dan lain-lain), biasanya berasal dari pelaku; alat penjerat yang berasal dari korban sendiri biasanya dasi, stocking, selendang atau kain yang dipakai, Jumlah lilitan umumnya satu, dengan simpul mati,

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

Alat penjerat berjalan mendatar, luka lecet tekan di bawahnya umumnya melingkari leher secara keseluruhan, bentuk alat penjerat seringkali tampak tercetak pada leher,

Dapat ditemukan luka lecet berbentuk bulan sabit yang disebabkan oleh kuku, baik kuku sipenjerat atau kuku korban sewaktu berusaha melepaskan jeratan tersebut,

Resapan darah dalam otot dan jaringan ikat leher serta kelenjar gondok dapat ditemukan, tergantung dari besarnya tekanan alat penjerat dan luas permukaan alat penjerat itu sendiri,

Patah tulang lidah ( os.Hyoid), tidak lazim,kecuali dibarengi atau didahului oleh pencekikan, atau alat penjerat mempunyai bagian yang keras menonjol, dan tonjolan tersebut tepat menekan tulang lidah,

Bila mekanisme kematiannya asfiksia, maka baik pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan dalam akan ditemukan kelainan yang sesuai dengan kelainan karena mati lemas; lebam mayat yang lebih gelap dan luas, sianosis, bintik-bintik perdarahan di mata, busa halus putih keluar dari mulut dan hidung, darah tetap cair, serta sembabnya alat-alat dalam tubuh korban,

Bila mekanisme kematiannya refleksi vagal, maka kelainan yang ditemukan terbatas pada alat penjerat dengan luka lecet tekan akibat alat penjerat ( jejas jerat ).(1,2)

2. Dicekik (Manual Strangulation) Pencekikan atau manual strangulation merupakan cara membunuh yang dipakai bila korbannya itu lebih lemah dari si pelaku, anak-anak atau orangtua dan wanita yang bertubuh gemuk; juga sering dilakukan pada kasus pembunuhan anak, Ciri khas adalah adanya luka lecet berbentuk bulan sabit yang disebabkan oleh tekanan kuku pencekik; dimana dari distribusi luka tersebut dapat diketahui apakah korban dicekik dengan tangan kanan, tangan kiri atau keduanya, Patahnya tulang lidah yang disertai dengan resapan darah pada jaringan ikat dan otot disekitarnya, dapat merupakan petunjuk yang hampir pasti bahwa korban mati dicekik,

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

Selain patah tulang lidah, yaitu pada bagian cornunya, tulang rawan thyroid ( cartilago thyroidea ), dapat juga patah pada korban yang mengalami pencekikan,

Sembabnya katup pangkal tenggorok ( epiglottis ), dan jaringan longgar disekitarnya yang disertai dengan bintik-bintik perdarahan sering dijumpai,

Jika mekanisme kematiannya asfiksia , maka pada korban akan didapatkan tandatanda asfiksia yang jelas,

Jika kematiannya karena inhibisi vagal,kelainan hanya terbatas pada daerah leher tanpa disertai tanda-tanda asfiksia,

Pada beberapa kasus korban dapat tetap hidup setelah dicekik , ini tergantung dari kuatnya tekanan dan lamanya tekanan pada leher,

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pencekikan yang fatal tidak dapat ditentukan secara pasti, kecuali bila dokter menyaksikannya; yaitu sekitar 30 detikbeberapa menit.(1,2)

3. Ditekan leher dengan bahan selain tali ( misalnya potongan kayu, lengan )(2) 4. Mugging, leher ditekan dengan lutut atau siku(2) Dua jenis pertama sering di jumpai, sementara yang lain jarang.

SEBAB KEMATIAN
1. ASFIKSIA.(2,3)
DEFINISI Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea).Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipokasik) dan terjadi kematian.(4)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

Asfiksia karena sumbatan jalan napas, adalah satu dari beberapa penyebab kegagalan oksigenasi jaringan yang biasanya karena kekerasan(4) Asfiksia berasal dari bahasa yunani yang artinya tidak berdenyut, pengertian ini sering salah digunakan sehingga sering menimbulkan kebingungan untuk membedakan dengan status anoksia lain pada defisiensi Hb, racun sianida, sirkulasi darah yang terganggu dimana ambilan oksigen oleh jaringan terganggu.(4) ETIOLOGI Asfiksia Mekanik 1. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti laringtis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru. 2. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral; sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya. 3. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan misalnya barbiturat, narkotika.(4) POLA CEDERA ASFIKSIA 1. Serangan jantung Dicurigai ketika sedikit atau tidak ada temuan yang abnormal pada pemeriksaan kematian asfiksia mendadak.Kematian biasanya disebabkan oleh hambatan jantung karena tekanan mendadak dileher.Mekanisme yang terjadi mirip dengan syncope sinus karotikus.(4) Kerah yang ketat akan menyebabkan bradikardi berat dan hilang kesadaran.Tanda ptekie hemorragis dan tanda lain terkadang tidak ditemukan pada kematian asfiksia karena proses gangguan sirkulasi yang sangat cepat sehingga tidak memberi waktu yang cukup terjadinya tahapan asfiksia pada umumnya.(4) Ptekie hemorragis Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam 4 fase, yaitu:
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

Fase dispnea.Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma akan merangsang pusat pernapasan di medula oblongata, sehingga amplitudo dan frekuensi pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.(4)

Fase konvulsi.Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf pusat sehingga terjadi konvulsi, yang mula-mla kejang klonik tetapi kemudian menjadi kejang tonik dan akhirnya timbul spasme opistotonik.Pupil dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga turun.(4)

Fase apnea.Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan dapat berhenti .Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan sperma, urin dan tinja.(4)

Fase akhir.Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap.(4)

Sering terdapat di kelopak mata, dibelakang telinga dan konjungtiva.Tidak selalu karena hipoksia atau meningkatnya tekanan intrakapiler.Betul bahwa ptekie lebih sering terjadi pada kulit yang dijerat karena tekanan vena yang meningkat, tapi kenyataaannya ptekie dapat ditemukan pada tempat yang tidak berkaitan dengan penjeratan.Sebagai contoh sekelompok ptekie dapat terjadi pada kaki orang gantung diri yang terjadi mungkin karena gerakan tubuh yang terjadi sebelum kematian, tungkai yang menabrak benda keras.(4) Hipoksia dan hiperkapnea terjadi secara bersamaan pada asfiksia, kemudian diikuti peningkatan tekanan darah, curah jantung dan katekolamin (norepinefrin) dimana norepinefrin akan meningkatkan permeabilitas endotel pembuluh darah.(4) Distribusi ptekie pada orang dewasa biasanya pada kulit retroaurikuler, konjungtiva, thymus, subpleura dan atrioventrikular.sedangkan kematian infant mendadak menimbulkan ptekie di pleura visceralis dan parietal, thymus, perikardium.(4) Distribusi intrathotax biasanya karena asfiksia sentral yang disebabkan karena kegagalan pusat pernapasan.Ptekie hemorragis dikonjungtiva biasanya tidak ada pada infant, kalo ada harus dicurigai kemungkinan asfiksia mekanik harus diperhatikan.Ptekie dan perdarahan luas juga bisa terjadi pada kasus dimana asfiksia bukan penyebab utama,

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

distribusi disepanjang aorta thorakalis dan konjungtiva bisa karena kegagalan jantung akut pada penyakit pambuluh darah koroner.(4) Masalah lain adalah adanya artefak hemorragis postmortem yang dapat dihasilkan dikulit kepala akibat pembukaan kulit kepala untuk melihat tengkorak akibat sobekan pembuluh darah kecil.(4) 3. Sianosis dan kongestif Asfiksia tidak selalu menimbulkan sianosis sehingga faktor sianosis tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk menentukan kematian asfiksia.Sianosis tidak kelihatan jika kadar Hb < 5 g%.Terdapatnya dilatasi vena besar dan sisi kanan jantung merupakan indikasi kematian asfiksia tapi tidak semua kematian asfiksia disertai hal ini.(4) Adanya cairan darah dijantung pada post mortem menunjukan meningkatnya aktifitas antitrombin dan fibrinolitik.(4) 4. Penemuan jalan napas Inhalasi berbagai material sering terjadi, lebih sering menimbulkan perdebatan karena sulitnya membuktikan sebab kematiannya.(4) Inhalasi isi perut merupakan fase terminal asfiksia ketika pernapasan tidak teratur dna megap-megap, hilang kesadaran.Isi perut terkadang ditemukan pada pemeriksaan makro dan mikroskopik paru anak yang mati mendadak tanpa suatu kejelasan.Regurgitasi antemortem dikenali ketika ditemukan asam digesti dan nekrosis jaringan paru.(4) POLA CEDERA LARING Investigasi organ laring merupakan hal yang penting untuk mengetahui penyebab kematian akibat violent asphyxial. Hal ini biasanya disebabkan karena rusaknya batang tenggorok akibat trauma, Mugging (pencekikan menggunakan lengan bawah), penjeratan dan bahkan kecelakaan saat melakukan hubungan seksual yang disertai hasrat menggebu-gebu. Trauma laring ini jarang sekali ditemukan pada kasus gantung diri.(4) Kerusakan laring pada violent asphyxial deaths jarang sekali ditemukan pada anakanak. Karena pada anak-anak tulang hyoidnya masih lunak yang disebabkan adanya tulang rawan antara corpus hyoid dan cornu majus. Pada anak-anak cartilago thyroid dan cornu

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

superior dan inferiornya juga tidak patah karena osifikasi atau kalsifikasi belum terjadi. Kalsifikasi pada cartilago thyroid terbentuk lebih awal pada pria dibandingkan dengan wanita dan terjadi pada dekade ke 3. pada kasus violent asphyxial, tulang cornu superior lebih sering patah walaupun hanya dengan tenaga yang sedikit saja. Konsekuensinya, pada saat otopsi penting sekali untuk menghindari patahnya tulang cornu superior ini pada saat mengeluarkan organ-organ thorak. Trakhea dan paru-paru dibebaskan dengan cara menginsisi posterior pleura parietal sepanjang garis vertebra kemudian organ-organ thorak diangkat dengan memegang bagian tengah trakea atau dengan cara menarik secara perlahan-lahan pada daerah sekitar lidah.(4) Fraktur cartilago thyroid jarang disebabkan oleh pukulan dari depan leher. Tenaga yang dibutuhkan untuk mematahkan ala thyroid sekitar 18 Kg (40 Lb). Fraktur juga dapat terjadi pada Mugging dimana leher dikonstriksikan dengan menggunakan lengan bawah. Pada kondisi tertentu kita bisa menemukan fraktur cartilago cricoid walaupun hal ini jarang ditemukan. Fraktur cartilago cricoid biasanya disebabkan oleh penekanan langsung yang mengenai cartilago cricoid, misalnya pada kasus pencekikan dimanapada pencekikan ini menggunakan bagian pinggir dari tangan atau berasal dari penekanan oleh ibu jari dan kedua tangan mencengkeram leher dari arah depan. Memar pada laring sering dalam bentuk yang luas. Hal ini mudah terlihat jika organ organ tersebut masih in situ dan mengindikasikan perlunya tindakan penanganan secara hati-hati dan juga pemeriksaan radiologi untuk

mengetahui letak trauma laring secara tepat. Pemeriksaan laring yang hanya menggunakan cara palpasi tidak dapat dibenarkan dan cara diseksi juga tidak sepenuhnya memuaskan karena dapat menyebabkan fraktur artefak; lebih jauh, jika pergerakan laring dan hyoid anakanak yang tidak sewajarnya dapat dicurigai adanya fraktur jika tanda-tanda yang lain tidak ada. Fraktur yang tidak disertai adanya rembesan darah di daerah yang mengalami fraktur maka harus dicurigai terjadinya kerusakan laring pada saat postmortem pada waktu

memeriksa laring. Juga hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah hemoragik pada mukosa laring tidak selalu mengindikasikan adanya fraktur. Voigt telah membuktikan bahwa fraktur laring tidak hanya terjadi pada pencekikan atau karena trauma lainnya tetapi juga bisa disebabkan karena keracunan obat sedativa, setelah intubasi, tenggelam, asfiksi traumatik yang disebabkan penekanan dada dan juga dapat disebabkan oleh penyakit jantung iskemi. Paparo dan Siegel juga menekankan bahwa hemoragik mukosa cricoarytenoid posterior tidak selalu disebabkan oleh karena trauma tapi juga karena disebabkan oleh kematian karena sebab yang macam-macam termasuk karena penyakit, obat-obatan dan physical agent.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

Mucosa cricoarytenoid ini terletak pada posterior laring di atas mukosa faring, posisi inilah yang menyebabkan laring membentur tulang belakang servikal saat adanya penekan dari luar yang kemudian terjadinya ruptur vena yang berasal dari pleksus laringofaringeal. Fraktur tulang hyoid lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan faktur tulang cornu thyroid. Ada dua mekanisme yang menyebabkan fraktur tulang hyoid.Fraktur tulang cornu majus bisa disebabkan oleh penekanan yang kuat dari samping leher. Sebagai contoh adalah pada kasus pencekikan dimana tangan terletak pada sisi samping leher dibawah sudut rahang. Kemungkinan yang lain timbul akibat adanya tekanan laring ke arah bawah. Traksi pada ligamen stylohyoid atau thyrohyoid mencegah pergerakan tulang hyoid ke bawah dan akhirnya menyebabkab patahnya bagian depan.(4) Sebagai tambahan, kemungkinan terjadinya fraktur artefak yang menyebabkan darah postmortem keluar ke dalam jaringan leher sehingga menimbulkan kesan memar yang tidak tepat. Maka akan lebih baik jika mengeringkan darah di leher terlebih dahulu sebelum didiseksi. Diseksi ini akan lebih baik jika dilakukan secara in situ daripada setelah mengangkatnya dari tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan mengangkat jantung dan otak terlebih dahulu sebelum menginsisi bagian leher. Cara yang terbaik menginsisi leher adalah dengan cara menginsisi secara transversal melewati clacicula dan kemudian diteruskan incisi secara vertikal di tepi posterior dari sternocleidomastoideus diikuti dengan insisi scalp untuk mengangkat otak. Kulit yang sudah dilepaskan akan memperlihatkan jaringan bawah kulit wajah, dagu dan mukosa bibir bawah. Memar dan laserasi pada bibir dapat mudah dilihat dengan cara ini. Luka tipe ini sering terjadi pada kasus violent asphyxia. Hal ini dikarenakan karena pukulan pada muka yang menyebabkan robeknya bibir akibat berbenturan dengan gigi. Penting sekali untuk mengawasi arteri karotis secara hati hati pada saat melakukan diseksi leher. Pada kasus gantung diri arteri teregang dan robek melintang di bawah arteri karotis. Robeknya arteri bisa terjadi pada kasus penjeratan. Jika korban masih hidup, robekan arteri dapat menyebabkan komplikasi neurologi baik karena trombosis yang berbarengan dengan embolisasi atau karena trauma diseksi yang menyebabkan oklusi. Tekanan pada sinus karotis menyebabkan hilangnya kesadaran dan kematian dan hal ini akan terlihat sedikit memar pada daerah tersebut pada saat dilakukan otopsi.(4) Penampilan paru-paru Oedema paru adalah hal yang tersering terjadi pada kasus asfiksi. Hal ini disebabkan dari efek hipoksia pada pusat vasomotor dengan berbagai macam derajatnya, bila udem paru berat maka akan tampak buih berwarna merah muda keluar dari hidung dan mulut dan bila

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

udem paru ringan maka pemeriksaan hanya dapat dilihat dengan pemeriksaan histologi paru. Pada kasus traumatic asphyxia dimana dada tertekan, bronkus dan trakea terdapat darah, hal ini biasanya terjadi pada koban kecelakaan lalu lintas. Kondisi ini sering terjadi pada tulang dada yang lentur yaitu pada anak-anak dimana dadanya tertekan tanpa menimbulkan patah tulang iga yang kemudian kembali ke bentuk semula. Pada keadaan ini, hemoragi terjadi akibat dari benturan dan laserasi internal paru-paru dan sering menjadi hemoragi yang luas tanpa menyebabkan robekan pleura. Yang perlu diperhatikan pada korban kecelakaan adalah perdarahan asfiksi, dimana darah terhisap dari luka yang ada di hidung, bibir dan rahang. korban bisa diselamatkan jika hal ini diketahui dengan cepat. Dengan cara aliran udara dilancarkan dengan penghisapan.(4) TANDA DAN LUKA LAIN PADA KEMATIAN ASFIKSIA Tanda pada kepala dan leher sering ditemukan pada asphyxia karena kecelakaan, bunuh diri, pembunuhan. Paling sering kematian disebabkan oleh penjeratan. Kerusakan beberapa jaringan di luar dan organ dalam sangat erat kaitannya dengan posisi dan tekanan konstriksi daripada tipe penjeratannya. Sebagai contoh, tanda pengikatan yang luas seperti stocking, menyebabkan kerusakan yang ringan pada struktur leher, dibandingkan dengan tali yang kurang lebar.(4) Penjeratan yang sering tidak disengaja sering terjadi pada bayi dan balita, biasanya disebabkan oleh kerah baju yang terlalu ketat. Biasanya pakaian yang tersangkut pada mesin sering menyebabkan asphyxia pada orang dewasa.(4) Green menemukan pada kasus penjeratan sering menimbulkan jejas pada leher dan bila jejas pada leher tidak ada, maka biasanya terjadi karena pembekapan dengan tangan. Sering juga ditemukan kerusakan arteri karotis,berupa perdarahan di bawah tunika intima, sobekan pada tunika intima di bagian atas arteri karotis komunis, pecahnya plak atheroma pada karotis.(4) Mungkin kasus yang paling penting pada penjeratan, hampir selalu didukung oleh tanda dan posisi dari pola penjeratan. Tidak hanya untuk mengetahui kemungkinan apakah kejadian itu merupakan suatu kecelakaan, pembunuhan maupun bunuh diri, tetapi juga jenis dari jejas pada penjeratan. Sebagai tambahan, posisi dari tanda penjeratan dapat memastikan

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

10

waktu kejadian antara waktu konstriksi sampai terjadinya kematian.Periode waktu kejadian tergantung dari besar konstriksi dan posisi dari jeratan.(4) Rentoul dan Smith melakukan percobaan untuk menentukan efek dari posisi jerat terhadap kecepatan kematian. Jika simpul diletakkan diantara rahang dan tulang hyoid dan kekuatan sedang, pernafasan dipengaruhi tapi masih bisa bernapas. Waktu yang diperlukan untuk melepaskan jerat yaitu lebih dari 2 menit. Jika simpul terletak di atas larynx, diperlukan waktu 1-5 menit untuk melepaskannya. Jika terletak lebih bawah, di atas kartilago krikoid, simpul harus dilepaskan sesegera mungkin dalam beberapa detik agar bisa diselamatkan.(4) Efek penekanan pada struktur leher, yaitu terjadi oklusi sirkulasi sereberal, tekanan vagal dan nervus phrenicus dan terjadi obstruksi saluran pernafasan. Yang terakhir ditemukan pada penggantungan bunuh diri, ketika tali terikat diantara larynx dan tulang hyoid atau diantara tulang hyoid dan dibawah jakun. Hal ini menyebabkan lidah keluar ke atas dan ke depan. Dan dalam prosesnya lidah terjepit diantara gigi, tanda gigi sering ditemukan pada lidah. Pada beberapa kasus, ini dapat memberi indikasi yang bermanfaat pada kecurigaan gantungan pada saat hidup dan memberi penilaian termasuk kemungkinan kecurigaan penggantungan tubuh post mortem. Penampilan oral yang dicurigakan pada kematian kekerasan akibat asphyxia yaitu penemuan gigi yang berwarna merah muda.(4) Tanda tali pada leher memerlukan pengamatan yang teliti. Rekaman fotografi mendetail, termasuk skala ukuran, pemakaian tali tunggal atau ganda penting dilakukan. . Percobaan bunuh diri seringkali gagal pada pertama kali karena talinya putus,jika percobaan kedua sukses maka akan meninggalkan beberapa tanda di leher.Hal ini mungkin juga terjadi pada percobaan bunuh diri dengan cara lain, seperti pada membacok diri.(4) Tanda simpul, penebalan irregular, ukuran tali dan lain-lain dapat dikenali dengan mudah, lebarnya dapat diukur. Tanda sekitar leher biasanya tunggal pada bunuh diri, kecuali tali ganda digunakan pada beberapa kasus atau tali tergelincir ke atas setelah aplikasi pertama.(4) Bentuk Lekukan seperti perkamen kuning dan lekukan terdalam di titik berat tubuh yang ditopang tali. Terdapat lipatan kulit disisi superior lekukan tersebut.Pembunuhan dicurigai jika terdapat tanda secara horizontal melewati leher dan lebih dari satu.Pada

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

11

keadaan itu, tanda jari penyerang sering ada di sisi atau punggung leher. Abrasi kuku jari korban ditemukan di depan telinga, menunjukkan perlawanan untuk menyingkirkan tali.(4) Tanda yang tidak disengaja pada leher mungkin dihasilkan oleh pakaian yang ketat pada anak-anak dan pada obesitas dan oedema.Tanda yang sama juga dapat karena kain yang digunakan untuk menutup mulut pada mayat.Tanda itu biasanya ringan dan tidak menimbulkan kerusakan struktur leher.Disisi lain tanda tali sulit dikenali pada mayat yang busuk atau tenggelam dalam waktu lama.Pemeriksaan makro dan mikroskopik terhadap kulit dan struktur leher akan membantu pada kasus itu.(4) Pada kasus penjeratan, tali yang digunakan kadang-kadang telah dipotong atau dipindahkan.Ini tidak ada pembuktian yang jelas.Secara ideal, talinya tergelincir diatas kepala si korban..Posisi dan tipe simpul memberikan bukti yang berharga apakah seseorang itu mungkin telah diikat.Ini juga penting bahwa tali seharusnya tidak teregang ketika mereka memegang talinya atau dipindahkan dari mayat.Bahan-bahan dari pakaian dapat digunakan untuk menekan leher. Serabut-serabut sintetik pada stoking, dasi atau bagian dari bahan nylon mungkin dapat mengindikasikan bahan-bahan yang digunakan sebagai tali sewaktu leher di tekan sebagai bukti yang bagus untuk menentukan apakah kematian disebabkan kecelakaan atau pencederaan. Salah satu kasusnya, seorang suami mengaku bahwa dia telah mencoba mencekik leher istrinya dengan bahan nylon(kain).Derajat dari deformitas serabut-serabut sangat dianjurkan karena seberapa jauh paksaan yang digunakan pelaku untuk mencekik.(4) Luka tambahan di leher sering terlihat pada kasus penjeratan pada leher di mana pencekikan dengan tangan.Biasanya menunjukkan rupa aberasi dari kuku jari yang menekan pada kulit leher dan memar disebabkan jari atau buku jari.Secara umum, memar lebih mudah terlihat pada kulit yang tipis pada bagian depan leher. Bentuk lengkungan dari aberasi jika disebabkan dari kuku jari meskipun susah dikatakan dimana jari yang menyebabkan luka tersebut.Aberasi dan memar sering berbarengan dan dapat menunjukkan dimana sebuah tangan digunakan pada leher.Ukuran, bentuk dan distribusi dari luka harus dicatat secara hatihati dengan pengukuran dan foto dengan pemakaian lampu ultraviolet.Tanda sebuah jari mungkin dapat ditemukan pada percobaan resustisasi, biasanya berbentuk sirkuler yang berkelompok melingkari hidung dan mulut dan seharusnya tidak membingungkan dengan tanda yang disebabkan penekanan pada leher. Kemungkinan pembunuhan seharusnya dipikirkan jika menemukan tanda memar, tanda tali dan aberasi.Bagaimanapun, tanda kuku jari dapat ditemukan pada pencekikan dengan bunuh diri jika kuku korban terjepit di antara
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

12

hidung dan kulit leher.Aberasi mugkin dapat membingungkan jika tali sudah dilepaskan dari leher.Sekelompok aberasi bukan menunjukkan hasil aktivitas heteroseksual dan homoseksual yang berulang-ulang.Biasanya mereka sedikit hubungan dengan penyebab kematian dan tanda kemiripan mungkin ditemukan di mana saja di kaki di antara lutut dan pangkal paha, alat kelamin dan dinding abdomen ketika pemeriksaan yang detail dilakukan.(4) Asfiksia Traumatik dan Penekanan Ini merupakan hasil dari penekanan yang terus-menerus pada dada dan abdomen oleh kejatuhan sesuatu, kendaraan yang berat, tekanan kerumunan orang dan sebagainya.Bentuk Post mortem sering dramatis yaitu kongesti yang intense pada jaringan diatas area penekanan dan petekie perdarahan yang banyak di kulit dan konjuctiva juga oedem dan dipenuhi dengan darah.Meskipun tanda-tanda yang dramatis yang terlihat pada asfiksia traumatik, ini merupakan tanda diperhatikan yang dapat hilang.(4)

2. VASO-VAGAL REFLEX, perangsangan reseptornya pada carotid body.


Pada gantung diri pembuluh darah arteri di leher seluruhnya tersumbat, sedangkan pada penjeratan pembuluh darah arteri vertebralis tetap paten. Hal ini disebabkan kekuatan/beban yang menekan tidak besar. Beban seberat 3,5kg akan menyumbat a.karotis, sedangkan beban seberat 16kg akan menyumbat pula a.vertebralis. Sehingga pada penjeratan seperti pula pencekikan, maka perbendungan sebelah atas ikatan/muka lebih hebat, dengan petechiae pada kulit muka dan conjuctiva serta sianosis pada bibir.(2,3)

3. VENOUS CONGESTION, aliran arteri masih masuk ke otak, sementara aliran vena tertutup(2) 4. ISKEMI OTAK, darah arteri tidak mengalir lagi ke otak.(2)

Pemeriksaan post-mortem
Pemeriksaan luar
Bekas jeratan di leher berwarna merah kecoklatan, bersambung ( continous )di bawah atau setentang cartilago thyroid, lecet di sekitar jeratan karena perlawanan korban, kadangKEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

13

kadang ada vesikel halus. Ini menunjukkan korban masih hidup waktu dijerat. Warna bekas jeratan terlihat kemerahan karena tali segera dilepas atau longgar setelah korban dijerat. Bila tetap terjerat dalam waktu lama, bisa didapati warna bekas jeratan kecoklatan seperti kertas perkamen. Kematian biasanya berlangsung lebih lama dari hanging, karena korban memberi perlawanan dengan menegangkan leher, sehingga proses kematian berlangsung lama. Itu sebabnya tanda-tanda asfiksia pada penjeratan lebih jelas terlihat. Muka terlihat bengkak dan membiru, mata melotot, begitu juga lidah menjulur. Bintik perdarahan pada kening, temporal, kelopak dan bola mata lebih jelas. Bisa didapatikeluar faeces dan urine. Karena strangulasi umumnya karena pembunuhan maka sering didapati tanda-tanda perlawanan. Bila terdapat kejang mayat, maka perhatikan apakah ada benda yang digenggam seperti rambut, kancing atau robekan baju pelaku, hal ini penting untuk mengetahui siapa pelaku kejahatan.(2)

Pemeriksaan Dalam
Paling penting pemeriksaan daerah leher di mana terdapat lebam di setentang dan sekitar penjeratan. Dijumpai fraktur tulang krikoid dan tulang rawan trachea lainnya. Mucosa laring dan trachea menebal dan berwarna merah, kadang disertai perdarahan kecil. Paru-paru congested dengan tanda-tanda perbendungan, Tardieus spot, begitu juga tanda perbendungan pada organ lain.(2)

JERAT
Jerat dapat masih ditemukan melingkari leher, jerat harus disimpan dengan baik, sebab merupakan benda bukti dan dapat diserahkan pada polisi bersama-sama dengan visum et repertumnya ( VeR ).(3) Simpul jerat ada dua macam, dapat simpul hidup atau simpul mati, simpul harus diamankan dengan mengikatnya agar tidak berubah pada waktu kita mengangkat jerat. Untuk membuka jerat dari leher, harus digunting pada tempat yang berlawan dengan simpul, guntingan harus secara serong agar dapat direkonstruksikan kembali. Kedua ujung dari jerat harus diikat, sehingga bentuknya tidak berubah.(3) JEJAS JERAT Jejas jerat biasanya mendatar ( horizontal ) dan melingkari leher dan letaknya lebih rendah dibandingkan jejas jerat pada gantung diri, biasanya terletak pada atau di bawah rawan gondok.(3)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

14

Keadaan jejas jerat pada leher sangat bervariasi, bila jerat lunak dan lebar seperti handuk, selendang sutera, jejas dapat tidak ditemukan dan pada otot-otot leher sebelah dalam dapat/tidak ditemukan sedikit memar jaringan. Tali yang tipis seperti kaus kaki nylon meninggalkan jejas yang lebarnya tidak lebih dari 2-3mm. Dapat dilihat dengan membuat polanya pada slide, pola dibuat dengan menempelkan transparan Scoth tape pada daerah jejas di leher, kemudian ditempelkan pada slide mikroskop dan dilihat di bawah mikroskop cahaya atau dengan sinar ultraviolet.(3) Bila jerat kasar seperti tali, dan tali bergesek-gesek pada waktu korban melawan, maka jejas jerat tampak jelas di kulit berupa kulit yang mencekung berwarna coklat, perabaan seperti kertas perkamen ( luka lecet tekan ), tali yang kasar mengakibatkan luka-luka lecet yang hebat disertai dengan perdarahan. Pada otot-otot sebelah dalamnya tampak banyak resapan darah.(3)

CARA KEMATIAN
1. Bunuh diri ( suicide, self stranggulation) Jarang dan menyulitkan diagnosis pengikatan dilakukan sendiri oleh korban simpul hidup, atau bahkan hanya dililitkan saja dengan lilitan lebih dari satu. 2. Pembunuhan (homocide) ikatan biasanya dengan simpul mati sering terlihat bekas luka pada leher 3. Kecelakaan ( accidental ) orang bekerja dengan memakai selendang yang dililitkan pada leher, salah satu ujungnya masuk ke mesin.(3)

MEDIKOLEGAL
Umumnya karena pembunuhan. Dapat juga terjadi karena bunuh diri dengan melilitkan tali beberapa kali sampai ia kehilangan kesadaran dan akhirnya mati karena ia tidak bisa lagi melepaskan ikatan. Atau pakai kawat waja yang tetap terbentuk seperti waktu dililitkan atau setelah dililit dengan tali beberapa kali kemudian diperketat dengan mengunci dengan sepotong kayu.(2)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

15

Kecelakaan sering pula terjadi karena leher terbelit oleh dasi yang terjerat oleh mesin yang berputar. Bayi terbelit leher oleh tali pusat waktu dilahirkan bukanlah hal yang jarang. Demikian juga usaha mencapai kepuasan seks dengan membuat partial asfiksia.(2) Perbedaan mati gantung dan penjeratan

OBSERVASI Motif Tanda asfiksia Tanda jeratan di leher Letak jeratan Bekas tali

MATI GANTUNG Bunuh diri Kurang jelas Miring,tidak kontiniu Antara dagu dan laring Keras, kering, coklat tua seperti kulit disamak

PENJERATAN Pembunuhan Jelas Horizontal dan kontinuiu Dibawah tiroid Lunak dan kemerahan

Lecet setentang tali Tanda perlawanan Fraktur laring dan trachea Fraktur os hyoid Dislokasi vertebra

Jarang dijumpai Tidak ada Jarang Sering Ada pada juridicial hanging

Umumnya ada Sering ada Sering Jarang Jarang

Perdarahan pada saluran pernafasan Air ludah

Sangat jarang

Ada, bersama buih dari mulut dan hidung

Mengalir dari salah sisi sudut mulut

Tidak ada

Tardieus spot Muka

Jarang Pucat

Sering Sianosis dan kongesti

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH

Pembimbing : dr. REINHARD J. D. HUTAHAEAN, SH, SpF

16

DAFTAR PUSTAKA

1. IdriesA. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. PT Binarupa Aksara. Jakarta Barat. 1989. Hal 150-152. 2. Amir A. Ilmu Kedokteran Forensik .Edisi 2. Cetakan ke-7. Percetakan Ramadhan. Medan. 2009. Hal 133-136 3. Gani M. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan. 2003. Hal 79-80. 4. www.google.com/penjeratan/tanda-tandaasfiksiapadapenjeratan.

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR RSUD.DJASAMEN SARAGIH